SORROW GAZE
(Sekuel dari SLUMBER, saat ia telah kembali)

~.o0O0o.~

Sudah satu purnama ia kembali. Namun ada satu hal yang ia keliru tebak. Tak ia temukan wajah kemarahan, kekesalan, atau wajah terkhianati terlukis di wajah orang-orang yang dahulu ia tinggalkan. Wajah penuh kasih sayang dan kerinduan yang terpancar dari mereka. Dengan tangan hangat, memeluknya kembali, selalu mengajaknya pulang. Sepasang manic biru laut menatapnya dengan berkaca-kaca, tanpa mengucapkan kata dengan bibir mungil mengulas senyum.

Tapi ia mengerti. Dan kali ini, ia mengiyakan ajakan mereka untuk pulang.

~.o0O0o.~

Beberapa kali ia coba untuk memejamkan mata, namun kesadarannya membuatnya tetap terjaga. Ditatapnya tirai pembungkus tempat tidur besar berwarna merah dan putih, dirabanya permukaan seprai pembungkus kasur dibawahnya yang bertabur kelopak bunga mawar merah segar. Entah setelah semua ini… Semuanya terasa hampa. Lelah.

Diangkatnya telapak tangan kanannya, jarimanisnya yang telah terlingkar oleh sebuah cincin. Putih berkelip samar, mencerminkan kesucian dan ketulusan kata mereka. Namun ia tidak merasa begitu. Jarimanisnya sama sekali terasa kaku. Sama seperti saat ia mengucapkan sumpah setia di depan semua orang yang hadir di hari pelepasan lajangnya, di pelaminannya.

Saat ia menangkap senyum ganjil di wajah melamun bermanik biru langit itu. Senyum ganjil yang terpatri diwajah itu membuatnya lidahnya kelu. Sakit itu bertambah saat melihat sekali lagi, orang yang ditatapnya membiarkan telapak tangannya digenggam erat oleh perempuan cantik berambut violet gelap yang setia disampingnya. Dan ia membiarkan egonya menang, lalu dengan dingin, diucapkan sumpah itu.

Diantara suara tepukan tangan dan sorak kebahagiaan saat itu, ia menangis dalam hati.

Dirematnya seprai putih bersih, penuh sakit. Ia menarik kasar kimono piyama satin berwarna cobalt biru tipis yang membalut tubuh telanjangnya, tanpa sengaja disentuhnya sebelah lengan dari orang yang berb aring terlelap nyaman disampingnya. Gadis yang telah menjadi wanitanya setelah sumpah setia penuh ego itu. Gadis ini juga yang benar-benar memaafkan segala kebrengsekan yang sudah ia lakukan pada tanah kelahirannya dan tetap mencintainya dengan tulus. Kepala berambut sewarna bunga ceri terbaring nyaman di perutnya menggelung tubuhnya dengan lembut.

Bahkan ia tak terlihat terbebani. …Saat ia menolak halus permintaan pertamanya di malam intim mereka, dengan alasan kelelahan. Dan Sakura hanya tersenyum, memaklumi dan mengajaknya langsung beristirahat dengan anggapan suaminya sangat lelah.

Ya, suaminya lelah. Lelah dengan segala kepura-puraan yang ia limpahkan padanya.

Ciuman itu, pelukan itu, bahkan sumpah setia itu, hanya kepura-puraan yang manis sekaligus pahit. Ia memang brengsek. Tetap brengsek dan akan selalu brengsek. Hanya untuk memenuhi hasrat ego …Menutupi rasa sakit di ujung hati kecilnya yang menjerit saat ia tahu ia tak bisa mendapatkan si manic biru laut itu. Hubungan mereka yang ia tahu tak akan pernah sama lagi.

Ia memang brengsek.

Saat ia mengingat manic biru laut itu menatapnya dalam dengan berkaca-kaca ia tahu hatinya terguncang kuat saat itu. Ia mengira-ngira, apa yang akan dilakukannya ini akan berdampak baik atau tidak. Ia serasa ingin membatalkan semuanya, hatinya memberontak kuat. Matanya terasa panas, …Ingin rasanya ia lari. Menghilang seperti beberapa tahun yang lalu.

Dikuasainya semua rasa sakit itu, dan disinilah ia sekarang.

Perlahan, ia memindahkan tubuh gemulai istrinya, dan menempatkannya tepat di tengah tempat tidur lalu diselimutinya dengan apik. Ia tak sanggup, sungguh, menyentuh seujung jaripun kulit istrinya. Ia merasa kotor pada dirinya. Ia telah kembali, namun ia merasa tak ada artinya kembali, kalau pada akhirnya ia membiarkan dirinya terbawa.

Tubuhnya gemetaran, dengan terseok ia membuka pintu kamar mandi, dan dibiarkan kakinya melemas, dan lututnya membentur bathtube kamar mandi. Tubuhnya tremor hebat, ia memeluk lututnya yang terasa melemas, dan menggigit lidahnya kuat-kuat.

Ia tak ingin siapapun tahu, garis basah dibawah kelopak matanya, melembab.

"Maaf…maaf… di hari ini pun… aku tak bisa menjaga hatiku tetap berbohong seperti bibirku, saat mengucapkan kasih padamu. Maaf… aku tetap tak bisa… Mata biru itu, selalu menelanjangiku, menelusuri lorong terdalam, dan memaksaku jujur pada perasaanku. Maafkan aku yang brengsek ini…"

~.o0O0o.~

Naruto membiarkan dirinya diterpa angin malam diatas atap kediamannya. Jam yang telah menunjukkan waktu dua dini hari, membuatnya ingin keluar dari kamarnya dan istrinya yang terlelap. Dilonggarkannya baju kemeja putih yang ia bawa ke upacara sakral dua sahabat baiknya.

Ia merasakan entah kenapa… matanya kembali berkaca-kaca. Saat ia melihat Sahabat laki-lakinya dengan mantap mengucap janji.

Ia bahagia, sungguh. Ia bahagia, bila mereka akhirnya bersatu. Sakura bisa bahagia dan mewujudkan keinginannya. Namun di hati kecilnya, bukan karena bahagia itu ia meneteskan air mata. Tapi…

Setetes kembali lolos dari kelopak matanya, disekanya cepat-cepat dengan ujung lengan kemejanya. Ia meringis, betapa bodohnya ia.

Akankan semua sama? Seperti… dulu?

Setitik air menetes kembali. Kali ini ia biarkan. Angin malam menerpa kulit berwarna hangatnya, mengeringkan garis basah itu perlahan. Namun, sebelum titik sebelumnya mengering, air matanya jatuh lagi, lebih deras. Dirabanya perlahan pipinya.

Sentuhan hangat hampir berbulan-bulan lamanya, masih terasa hangat diatas epidermisnya. Terasa kasih dan rindu dalam setiap inchi kulit pria pucat itu saat menyentuhnya. Kenapa… baru ia sadari…?

Dirapatkannya dua lututnya, lalu memeluknya. Ia merasa malu, dan menyembunyikan wajahnya yang pilu dan teriakan hatinya dibalik lututnya yang gemetar hebat.

"Bodoh… aku bodoh… Bahkan sampai terakhirpun aku tak tahu perasaanku sendiri…"

Purnama menatapnya dalam diam.

End…?

A.N:Kinda sequel for the first one, Slumber, dengan plot setelah si anak hilang kembali. I don't know, this is my imagination for their "plot", that I twisted from the original. Apa yang Sasuke rasakan ya, ketika dia pulang, si Naruto sudah punya anak…? Hahaha, this is pure my imagination :D

If you don't mind, would you let me read your review, comment and favs? Mungkin kamu bisa juga kasi saran buatku, ide-ide cerita berikut nya di Fandom ini, mungkin setelah Naruto-side, Sasuke-side, kali aja kamu mau Hinata-side story? :D

READ AND REVIEW MY FELLOW READERS!