Little Sequel of Silent and Blind

-Oh My Family-

Happy reading yeoreobun...

.

.

.

GS, OOC

DON'T LIKE, DON'T READ

NO BASH AND NO PLAGIARISM PLEASE ^^,

Sorry for typo

.

.

.

I hope you'll like my story

.

.

.

Oh My Family

Cast : Kim Jongin&Do Kyungsoo (GS)

CHAPTER 10

LOVE, HURT

Previous chapter

Jongin mengecup bibir Kyungsoo lalu menarik tangan istrinya dan mengajaknya untuk pulang. Kyungsoo tersipu malu saat ia mengerti maksud suaminya.

"Jongin-ah, tapi bukan begini caranya."

"Lalu? Kau mau melakukan itu disini?"

"Apa kau gila? Melakukan disini?"

"Kalau begitu ayo kita pulang dan selesaikan ini."

Jongin menarik tangan Kyungsoo dan mengajak istrinya sedikit berlari untuk mempersingkat waktu. Sesampainya mereka di rumah. Jongin benar-benar menyelesaikan apa yang dia maksud.

Dia raih tengkuk Kyungsoo, mencium istrinya lembut. Sebelah tangannya sibuk membuka satu per satu kancing kemeja Kyungsoo. Perlahan mengarahkan Kyungsoo untuk naik ke atas ranjang. Setelah berhasil membuka kemeja Kyungsoo sekarang ia sibuk menghirup wangi tubuh Kyungsoo dengan terus mencium leher Kyungsoo.

"Jongin-ah… eughh… apa kita harus laku—euggh—kan ini?"

"Kau tidak mau?"

"Bukan begitu. Hanya saja…"

"Diamlah dan menurut padaku."

Kyungsoo tersenyum, "baiklah… aku akan menurut."

.

.

.

.

Ini masih pukul 6 pagi. Matahari pun masih enggan untuk menunjukkan setitik sinarnya. Sehun duduk seorang diri di rumah kaca. Segelas kopi yang mulai dingin menjadi temannya. Semalaman ia diam di tempat ini seorang diri. Menatap kosong ke sembarang arah. Ada alasan mengapa Sehun seperti ini. Sekarang ini, pria ini sedang merutuki dirinya sendiri—bagaimana bodohnya dia. Rasa sayang yang teramat membuatnya buta. Sekarang dia sadar, betul-betul sadar. Semua yang orang lain katakana padanya jika ada seseuatu yang salah dengan hubungannya dengan Soonil itu benar. Kekasihnya—Soonil—menghilang tanpa ia tahu kemana dia pergi. Ingin rasanya Sehun mengubur dirinya sendiri, tak ingin menunjukkan wajahnya di depan mereka yang selalu mengingatkan Sehun untuk berpisah dengan Soonil.

Semalam…

"Eomma, aku akan keluar sebentar. Tidak perlu menungguku jika aku belum pulang," ucap Sehun sambil sibuk mencari kunci mobilnya.

Ibunya menunjukkan barang yang Sehun cari tepat di depan wajah anak lelakinya itu.

"Eomma memang yang terbaik," Sehun pergi setelah memberi kecupan pada ibunya.

"Kau tidak akan makan malam lebih dulu?"

"Aku akan makan ini di jalan, aku pergi," pamit Sehun mengambil satu buah apel.

Sehun mengemudikan mobilnya dengan cepat. Ini sudah 1 minggu Soonil tak bisa dihubungi. Dia memang selalu tak bisa dihubungi, tapi kali ini dia benar-benar menghilang. Selalu nona operator yang menjawab panggilan Sehun dan mengatakan jika nomor Soonil tidak bisa dihubungi. Antara khawatir dan kesal. Dua perasaan itu yang Sehun rasakan. Jadi, mala mini Sehun berencana untuk datang menemui Soonil langsung di rumahnya.

Tak perlu waktu lama, karena Sehun mengemudi dengan cepat. Dia menghela nafas lalu memencet bel. Tak ada jawaban. Dia lakukan itu lagi. Masih tak ada jawaban. Lalu…

"Maaf, kau mencari seseorang?" tanya seorang ibu paruh baya.

Sadar seseorang bertanya padanya, Sehun membungkuk memberi salam kepadanya dan menjawab pertanyaannya.

"Ah, iya. Aku ingin bertemu Soonil."

"Mereka semua sudah pindah dari rumah ini sejak seminggu yang lalu."

"Pindah?" tanya Sehun bingung.

"Iya, semua orang yang tinggal di rumah besar itu sudah pindah."

"Baiklah kalau begitu, terima kasih," Sehun kembali membungkuk memberi salam dan pergi.

Segala pertanyaan sekarang muncul satu persatu di dalam kepala Sehun. Soonil pindah dan tidak berkata apapun pada Sehun. Dia tak bisa bertanya pada Soonil kemana dia pindah, karena nomor kekasihnya tak bisa dihubungi dan hanya nomor itu yang Sehun simpan.

.

.

.

.

Back to story…

Seseorang mengagetkan Sehun dengan menempelkan gelas yang panas ke pipinya.

"Ahh!" keluh Sehun seraya mengusap pipinya menghilangkan rasa panas.

"Eomma bilang kau diam di sini semalaman. Terjadi sesuatu?" tanya Kyungsoo serius.

"Apa yang lakukan sepagi ini disini?" Sehun bertanya balik.

"Eomma menyuruhku dan Jongin untuk sarapan bersama disini."

Kyungsoo menatap Sehun kesal karena adik laki-lakinya ini berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Ya! Jawab pertanyaanku, jangan coba-coba kau untuk berbohong atau menghindar, karena aku tahu ada sesuatu terjadi padamu."

"Aku harus mandi."

Sehun tersenyum malas, menghela nafas, lalu pergi meninggalkan Kyungsoo.

"Kau tahu aku teman terbaik untuk mendengar semua masalahmu, Oh Sehun,"

.

.

.

.

Pagi ini semua orang berkumpul di meja makan, rencana ibu Kyungsoo memintanya untuk datang tak merubah suasana hati Sehun. Tak ada obrolan apapun di meja makan. Hanya ada obrolan kecil tentang acara makan malam nanti bersama keluarga besar Jongin.

"Aku pergi," pamit Sehun setelah ia selesai dengan sarapannya.

"Baiklah, hati-hati," sahut ibunya.

"Sehun-ah, sore nanti kau ikut dengan appa—"

Belum sempat ayahnya menyelesaikan maksudnya mengajak Sehun untuk ikut dengannya sore nanti, Sehun sudah memberikan jawaban setuju.

"Baiklah. Aku hanya akan bertemu Prof. Lee membicarakan tugas akhirku. Aku pergi."

Semua tertegun melihat sikap Sehun. Diam bukanlah hal yang biasa Sehun lakukan. Kecuali jika ada sesuatu yang terjadi.

"Kau sudah bertanya padanya?" tanya ibu Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk.

"Lalu?"

"Tak ada. Untuk saat ini biarkan saja dia, eomma."

"Baiklah."

Ibu Kyungsoo melanjutkan bicaranya, "Kyungsoo-ya, bagaimana? Apa usahamu dengan Jongin berhasil?"

Seketika Kyungsoo terdiam. Dia merasa malu mendengar pertanyaan ibunya yang tiba-tiba. Tapi itu bukan yang terpenting. Hal yang terpenting adalah bagaimana ibunya tahu tentang ini?

"Apa maksud eomma?" tanya Kyungsoo gugup.

"Eomma bertemu Jongsu beberapa hari yang lalu dan dia menceritakan tentang kau yang sedang berusaha keras dengan Jongin."

Kim Jongsu—Kyungsoo tahu jika Jongsu akan menceritakan tentang hal itu pada orang lain. Meskipun dia menceritakan hal pada ibunya, tetap saja itu memalukan bagi Kyungsoo.

"Ah… eomma, yang benar saja. Nanti Jongin dan appa mendengar," protes Kyungsoo.

"Ada apa? Biarkan jika mereka mendengar, ini hal baik."

Kyungsoo menghela nafas. Ia lalu mulai menceritakan yang perlu ia ceritakan.

"Itu bagus. Cepat periksakan itu. Wah… eomma tidak sabar ingin menggendong cucu," ucap ibunya senang.

"Ini belum pasti, eomma. Itu hanya perhitunganku."

"Semoga kau memberi kabar baik, Kyungsoo-ya, putriku yang cantik."

"Doakan aku, eomma."

"Pasti."

.

.

.

.

Jongin kembali mengantarkan Kyungsoo pulang. Hari ini sudah masuk hari libur sekolah, jadi Kyungsoo tak ada kegiatan apapun. Tapi, hari ini ada hal penting yang akan ia lakukan. Menurut perhitungan Kyungsoo, dirinya sudah telat datang bulan. Jadi, hari ini dia ingin memastikan apakah dia hamil tau tidak. Sebenarnya Kyungsoo tidak yakin, karena dia tidak merasakan ciri-ciri wanita hamil seperti yang ia baca di internet. Entah ada yang salah dengan dirinya atau artikel yang dia baca, yang jelas satu hal yang membuat Kyungsoo ingin memeriksakan tentang itu hanyalah karena dia yang sudah telat datang bulan. Hanya itu.

Kyungsoo duduk di ujung kasurnya. Menghentak-hentakan sebelah kakinya, menunjukkan betapa gugupnya dia. Sambil terus menatap test pack di tangannya.

"Kenapa aku begitu gugup? Seharusnya aku senang, karena jika benar aku akan memiliki seorang anak," ucap wanita berambut hitam ini.

Dengan langkah ragu Kyungsoo melangkah masuk ke dalam kamar mandi membawa test pack.

.

.

.

.

Jongin merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang kerjanya. Dia baru saja memulai melakukan pekerjaannya 3 jam yang lalu, tapi tubuhnya sudah berontak memintanya untuk beristirahat.

TOK… TOK…

Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Jongin meminta izin untuk masuk.

"Masuklah," jawab Jongin masih berbaring di sofa.

"Maafkan aku Tn. Kim, ada beberapa berkas yang harus di periksa dan anda tanda tangani," ucap pegawainya.

"Bisakah aku lakukan itu nanti? Aku ingin berbaring sebentar saja."

"Maafkan aku, Tn. Kim, tapi semua dokumen ini akan di gunakan untuk meeting setelah makan siang."

Dengan terpaksa Jongin bangun kemudian duduk di kursi kerjanya, memakai kembali kacamatanya yang baru saja ia lepas 1 menit yang lalu. Tim produksi Jongin dipercaya untuk menjadi tim yang mengerjakan proyek game baru. Ini yang membuat Jongin tak bisa tidur dan istirahat dengan tenang. Karena beberapa atasan mempercayakan ini pada Jongin, dan Jongin tidak ingin membuat mereka kecewa.

"Baiklah, kau boleh kembali," perintah Jongin sambil tersenyum.

Jongin kembali memanggil pegawainya yang baru saja pamit keluar dari ruangan Jongin.

"Ah, Sunmi-ssi, bisa kau buatkan aku segelas kopi?" pinta Jongin sambil tersenyum.

Pegawainya tersenyum membalas senyuman Jongin dan memberi jawaban, "Iya, Tn. Kim, saya ajan buatkan."

"Terima kasih," balas Jongin.

Beberapa menit kemudian, Sunmi kembali ke ruangan Jongin. Membawa segelas kopi dan sepotong cheese cake. Sambil memeriksa dokumen-dokumen Jongin menikmati setiap suapan cheese cakenya. Sesekali matanya menatap tablet yang terus ia pegang di tangan kirinya, dan tangan kanannya memegang lembaram dokumen.

TOK… TOK…

Sunmi—pegawai Jongin kembali datang. Kali ini bukan segelas kopi dan sepotong cheese lainnya yang ia bawa. Tapi sebuah kotak berwarna biru.

"Untukku?" tanya Jongin bingung.

"Iya, Tn. Kim, jasa pengiriman barang yang mengantarkan ini," jawab Sunmi.

"Baiklah. Simpanlah itu di meja, nanti akan aku lihat. Terima kasih, Sunmi-sii."

"Baiklah, saya permisi. Apa saya perlu membuatkan kopi untuk anda lagi, Tn. Kim?"

Sambil tersenyum Jongin menjawab, "kau ingin aku terjaga sepanjang hari? Tidak perlu, kau boleh kembali bekerja."

Jongin menatap kotak berwarna biru yang baru saja Sunmi berikan padanya. Ada rasa penasaran dalam diri Jongin, tapi semua pekerjaannya membuatnya harus menunda rasa penasarannya dan menyelesaikan semuanya.

.

.

.

.

Kyungsoo duduk di ayunan kayu yang ada di halaman rumahnya. Sambil terus memeriksa handphone.

"Apa yang dia lakukan?" gumamnya kesal.

Tak lama, handphone Kyungsoo bordering. Wajah antusiasnya berubah saat mendengar suara di telepon. Itu Sehun.

"Ada apa?" jawab Kyungsoo kesal.

"…"

"Tidak. Cepat katakan ada apa?"

"…"

"Sekarang?"

"…"

"Kenapa kau tidak masuk?"

"…"

"Baiklah."

Kyungsoo segera masuk ke dalam rumahnya. Dia bersiap untuk pergi. Sehun tiba-tiba menghubunginya dan memintanya ikut dengannya. Sehun sudah sampai rumah Kyungsoo, dan menunggu kakaknya di mobil.

Sehun hanya ingin bertemu Kyungsoo. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada kakanya, tapi dia terlalu takut. Tak lama Kyungsoo keluar, lalu masuk ke dalam mobil dengan wajah bingungnya.

"Apa eomma menyuruhku datang ke rumah lagi?" tanya Kyungsoo kemudian.

"Tidak," jawab Sehun singkat.

"Lalu?"

"Aku hanya ingin minum kopi denganmu."

Kyungsoo terdiam. Dia tak ingin bertanya lebih jika Sehun sudah memberikan reaksi seperti ini. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran adiknya. Kyungsoo memilih diam, tak bicara atau berusaha mencari topic pembicaraan. Karena dia tahu itu akan oercuma dan tidak akan membuat suasana hati Sehun lebih baik. Kyungsoo melihat papan petunjuk arah jalan. Di papan petunjuk tertulis Asan. Kyungsoo mengangkat sebelah alisnya. Heran dengan Sehun. Sebelumnya tidak pernah adiknya ini mengajaknya pergi ke tempat yang jauh hanya untuk bercerita. Kyungsoo pun memberanikan diri untuk bicara di tengah keheningan mereka.

"Kau begitu jauh mengajakku minum kopi, Sehun-ah."

"Apa kau tidak bosan selalu mendengar suara bising kendaraan di kota?" balas Sehun.

Kyungsoo kembali diam. Dia mengambil handphonenya, berusaha mengirim pesan pada suaminya. Senyum Kyungsoo muncul begitu dia lihat nama suaminya yang berubah. Jongin merubah namanya di kontak Kyungsoo tanpa sepengetahuan istrinya. Sebelumnya Kyungsoo hanya memberi nama Jongin dengan emoticon hati di kontaknya. Tapi—sekarang—itu berubah menjadi—My Love Jongin.

To: My Love Jongin

Aku suka namamu di kontakku ^^

Jongin-ah, aku pergi bersama Sehun. Sepertinya dia sedang kacau. Pergilah makan malam bersama Jongsu, karena aku takut tidak bisa menyiapkan makan malam untukmu

Tak lama Jongin membalas pesan Kyungsoo mengirimkan foto dirinya dengan wajah yang mulai lusuh dengan dokumen-dokumen yang berserakan di meja kerjanya. Kyungsoo tertawa kecil melihat suaminya yang begitu terlihat kelelahan. Diam-diam matanya mencari sesuatu di foto yang Jongin kirim. Kyungsoo mengerucutkan bibirnya kesal karena tidak bisa menemukan apa yang ia cari dalam foto yang Jongin kirim.

"Apa-apaan dia! Apa dia belum melihat itu?" gumam Kyungsoo pelan.

Sehun mendengar Kyungsoo bergumam sesuatu.

"Kenapa noona?" tanya Sehun.

"Tidak, tidak apa-apa."

Mereka kembali diam. Kyungsoo selalu bingung jika adik lelakinya sudah bertingkah seperti ini. Dia hanya bisa menunggu sampai Sehun mulai terbuka padanya.

Setelah 2 jam perjalanan mereka sampai di sebuah kedai kopi kecil. Kyungsoo tertidur selama perjalanan dan Sehun sama sekali tidak membangunkannya.

"Noona, bangunlah. Kita sudah sampai," ucap Sehun sambil sedikit mengguncamg tubuh Kyungsoo.

Kyungsoo membuka sebelah matanya. Berusaha menyadarkan dirinya sendiri dari tidur lelapnya. Meregangkan otot lehernya yang kaku karena tidur dengan posisi yang salah.

"Ahh… leherku," keluh Kyungsoo sambil memijat pelan lehernya.

Sehun hanya tertawa kecil, "bangunlah. Ayo turun, kita sudah sampai."

Kyungsoo turun masih dengan terus memijit pelan lehernya yang terasa sakit. Mengikuti langkah Sehun masuk ke dalam sebuah kedai kopi yang tak begitu ramai. Ada papan kayu yang menggantung bertuliskan Pyeonghwa di pintu masuk kedai ini. Hanya ada 6 meja di dalam kedai, 2 dari meja tersebut sudah terisi. Sehun memilih bangku yang berada di sudut kedai. Tepat di bawah fentilasi udara, ada bias sinar matahari yang memancar dari fentilasi udara itu.

"Kopi disini enak," ucap Sehun begitu mereka duduk.

"Dari mana kau tahu tempat ini?"

"Aku punya banyak waktu untuk tahu tempat-tempat seperti ini."

"Kau ingin memesan apa?" tanya Sehun.

"Apa saja, pilihkan aku menu yang terbaik disini."

"Baiklah. Tunggu sebentar, noona."

Sehun pergi untuk memesan cemilan dan minuman untuk mereka. Kedai ini tidak memiliki pegawai seperti kedai kopi yang berada di pusat kota. Hanya ada pemiliknya, sepasang suami istri paruh baya.

"Kau kembali datang ke sini?" tanya ahjumma pemilik kedai.

"Iya," jawab Sehun sambil tersenyum.

"Siapa dia? Kekasihmu?"

Sehun tidak menjawab, hanya tertawa kecil lalu kembali ke mejanya.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Kyungsoo heran dan ikut tersenyum melihat Sehun tertawa.

"Ahjumma pemilik kedai mengira kau adalah kekasihku."

"Ya! Kenapa kau tidak katakana aku ini kakakmu?"

"Akan teedengar menyedihkan jika dia tahu aku datang bersama kakakku," jawab Sehun jahil.

"Ya!" protes Kyungsoo sambil memukul tangan Sehun.

Setelah menunggu beberapa menit pesanan mereka tiba. Dua gelas kopi hangat dan sepiring cookies coklat. Mereka berdua diam, menikmati wangi khas kopi dan suasana tenang.

"Sayang tempat ini terlalu jauh, aku tidak bisa pergi seorang diri ke sini," ucap Kyungsoo.

"Kopi di kedai Lu itu yang terbaik, noona," sahut Sehun lalu menggigit cookies coklatnya.

"Sepertinya kau sering datang ke kedai kopi miliknya."

"Begitulah…"

"Bagaimana kabar Rahui?"

"Dia baik, dan aku yakin dia akan selalu baik. Dia sedang sibuk kursus untuk ujian persamaannya."

"Ada yang ingin kau katakana padaku?" tanya Kyungsoo tanpa basa-basi lagi.

Sehun seketika itu terdiam. Ingin rasanya ia berkata jika dia tak memiliki hal yang harus ia katakan pada kakaknya. Tapi, Sehun sangat yakin jika kakaknya sudah menduga ada sesuatu yang terjadi.

"Kenapa kau diam? Ini tentang Soonil eonni?"

Sehun menyunggingkan sudut bibirnya. Tersenyum dengan terpaksa.

"Sekarang aku mulai berpikir apa yang kau katakan padaku akhir-akhir ini tentang dia—semua itu benar, meski pikiranku tetap ingin percaya padanya, apapun yang terjadi," jawab Sehun kemas.

"Sesuatu terjadi?"

"Dia menghilang. Aku tidak tahu dimana dia saat ini. Aku tak bisa menghubunginya, aku ingin menanyakan tentang dia pada temannya—tapi—aku bahkan tak tahu nomor telepon temannya—satu pun—."

Sehun melanjutkan lagi perkataannya.

"Dan kemarin malam, aku datang ke rumahnya. Noona tahu apa yang terjadi? Seorang tetangganya memberitahu jika keluarga Soonil sudah tak lagi tinggal di rumah itu," suara Sehun terdengar begitu lirih.

Kyungsoo bisa tahu—tidak—bahkan orang lain pun akan tahu bagaimana begitu sedih dan bingungnya Sehun tidak tahu pujaan hatinya berada. Kyungsoo berusaha mengerti perasaan Sehun. Dia pun merasa sedih melihat adiknya seperti ini. Sama sekali tidak ada di pikiran Kyungsoo jika Soonil akan melakukan ini pada Sehun.

"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Kyungsoo.

"Entahlah."

"Kau akan tetap mencari dimana dia?"

"Entahlah."

"Kau tidak akan melakukan apapun?"

"Entahlah."

"Berhentilah menjawab dengan jawaban yang sama!" ucap Kyungsoo kesal.

"Aku hanya ingin menghabiskan kopi ini," jawab Sehun asal.

.

.

.

.

Jongin melangkah lemas menuju ruangannya. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Bahkan dia tidak yakin jika tidur akan membuatnya lebih nyaman. Jongin membuka jasnya, melonggarkan dasinya. Duduk dengan tenaga yang hanya tersisa 10%. Mata Jongin tertuju pada kotak berwarna biru yang dikirim untuknya.

Dia duduk di sofa yang berada di ruang kerjanya. Melihat semua sisi kotak tersebut. Berharap ada suatu petunjuk atau apapun itu yang memberitahunya siapa yang mengirim kotak ini untuknya. Tidak ada apapun. Sebuah benda berwarna putih dengan 2 garis merah. Jongin tidak mengerti benda apa itu. Kemudian, dia lihat secarik kertas berwarna kuning. Ada tulisan di kertas itu.

"Halo, appa…"

Jongin mengerutkan keningnya tak mengerti sama sekali. Sampai akhirnya dia tahu maksud dari apa yang dia lihat dan baca.

"Kyungsoo hamil?"

Semangat Jongin tiba-tiba muncul. Dengan cepat dia raih handphonenya untuk menghubungi istrinya. Tapi, Kyungsoo tidak bisa di hubungi. Demi apapun, Jongin ingin memeluk istrinya dengan erat saat ini. Kyungsoo benar-benar hamil? Tak ada nama siapa pengirim kotak berisi test pack itu. Tetapi Jongin sangat yakin jika itu Kyungsoo. Karena Jongin sangat yakin pula dia hanya memiliki seorang istri, dia hanya tidur dengan istrinya—Kyungsoo, juga dia hanya akan melakukan 'itu' dengan istrinya—Kyungsoo.

"Kemana dia, kenapa aku tidak bisa menghubunginya."

Dengan segera Jongin mengambil jasnya, membereskan meja kerjanya asal, dan segera pulang. Dia ingin segera bertemu Kyungsoo. Semua rasa lelahnya hilang dalam hitungan detik.

.

.

.

.

Sehun dan Kyungsoo dalam perjalanan pulang. Sehun sebenarnya masih ingin berkeliling, dia tidak ingin diam di rumah. Tapi kakaknya memaksa untuk pulang karena dia tidak ingin pulang larut ke rumah. Kyungsoo sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya.

"Apa yang kau cari?" tanya Sehun, dengan mata yang tetap fokus menatap jalan.

"Power bank," jawab Kyungsoo singkat.

"Sebentar lagi kita sampai."

"Jongin pasti menghubungiku. Apa dia tidak menghubungimu?"

"Handphoneku mati sejak aku pergi denganmu."

Jongin langsung pulang menuju rumahnya. Kyungsoo masih belum sampai karena rumah masih sangat sepi. Hari mulai gelap dan Jongin kini mulai khawatir. Dia tidak bisa menghubungi istrinya, juga tidak bisa menghubungi Sehun. Kabar terakhir yang dia terima hanya pesan yang Kyungsoo kirim siang tadi saat dia mengatakan akan pergi dengan Sehun.

"Kenapa dia belum juga pulang?" tukas Jongin resah.

Jongin menunggu Kyungsoo di luar rumah. Dia tidak bisa tenang menunggu istrinya. Terus menghentakan sebelah kakinya. Melihat ke jalan arah datang mereka. Sudah 30 menit Jongin menunggu tapi Kyungsoo belum juga tiba.

5 menit kemudian…

10 menit kemudian…

15 menit kemudian…

Silau lampu mobil membuat Jongin sedikit memejamkan matanya. Sekarang dia yakin jika itu adalah Kyungsoo. Semua rasa khawatir Jongin yang sejak tadi mengganggunya saat seseorang memanggil namanya.

"Jongin-ah."

Jongin menghela nafas lalu segera menghampiri istrinya dan memakaikan jaket.

"Sedang apa kau di luar?" tanya Kyungsoo.

"Kenapa aku tidak bisa menghubungimu?" tanya Jongin kesal.

"Maafkan aku. Baterai handphoneku habis, dan aku lupa membawa power bank."

Sehun mengekor langkah Jongin dan Kyungsoo yang lebih dulu masuk ke dalam rumah. Pria muda ini selalu iri jika melihat kakaknya bermesraan dengan kakak iparnya. Tidak pernah sekali pun ia melihat kakaknya bertengkar dengan Jongin.

"Maafkan aku, hyung. Seharusnya aku menghubungimu lebih dulu sebelum aku mengajaknya pergi," seru Sehun.

"Tidak. Tidak apa-apa. Bukan dengan siapa dia pergi dan kemana dia pergi yang membuatku khawatir."

Jongin lalu menunduk. Menempelkan telinganya di perut Kyungsoo. istrinya yang mengerti maksud Jongin tersenyum melihat apa yang dilakukan suaminya.

"Dingdong-ah… apa kau baik-baik saja pergi dengan ibumu? Kau lelah?"

Sehun menatap Jongin heran. Keningnya berkerut tanda dia berpikir. Apa yang dilakukan kakak iparnya?

"Kau hamil?" tanya Sehun.

"Kau akan memiliki seorang keponakan dalam 9 bulan," ucap Jongin.

Sehun melangkah mendekat kea rah Kyungsoo berdiri. Kemudia dia menunduk dan melakukan hal sama seperti yang Jongin lakukan sebelumnya.

"Di dalam sini ada seorang bayi mungil yang akan memanggilku paman?" ucap Sehun senang.

"Ada yang mengirimku ini siang tadi," ucap Jongin kemudian sambil menunjukkan kotak biru berisi test pack.

Sehun lalu melihat isi kotak yang Jongin tunjukkan. Matanya membulat, takjub dengan apa yang dia lihat.

"Maafkan aku. Hari ini aku sangat sibuk jadi aku baru melihat isi kotak itu sore hari," jelas Jongin sambil merangkul Kyungsoo.

"Pantas kau tidak menghubungiku sama sekali. Kau senang?"

"Kau bertanya apa aku senang?"

CHU~

Jongin mencium bibir Kyungsoo menjawab pertanyaan istrinya.

"Apa eomma dan appa sudah tahu?" tanya Sehun.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya.

"Aku ingin dia tahu lebih dulu," jawab Kyungsoo sambil membelai pipi Jongin.

"Berhentilah bermesraan di depan orang lain," protes Sehun.

"Pulanglah. Terima kasih sudah mengajakku pergi hari ini," ucap Kyungsoo.

"Aku yang berterima kasih. Selamat, noona. Jaga baik-baik keponakanku."

"Jangan beritahu eomma dan appa tentang ini, ok? Biar aku yang beritahu mereka."

Sehun mengangguk, "iya, aku pulang."

Setelah Sehun pamit untuk pulang, Kyungsoo lalu membersihkan diri. Walau dia menghabiskan waktunya hari ini di dalam mobil, tapi tubuhnya terasa begitu lengket. Jongin sedang menyelesaikan pekerjaannya yang belum ia selesaikan di kantor.

"Kau masih bekerja?" tanya Kyungsoo.

"Hmmm, hanya memeriksa beberapa dokumen."

Kyungsoo lalu naik ke atas kasur, menyandarkan kepalanya di bahu Jongin. Menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhnya.

"Wangi tubuhmu. Aku selalu suka," ucap Kyungsoo sambil melingkarkan tangannya ke tangan kiri Jongin.

Jongin menghentikan kegiatannya. Dia melihat istrinya, memberikan senyum manis, lalu mengecup bibir Kyungsoo.

"Kapan kau akan memberitahu yang lain tentang Dingdong?" tanya Jongin lalu kembali menatap layar laptopnya.

"Akhir minggu ini? Atau besok saja? Kita makan malam dengan mereka."

"Besok? Baiklah. Besok aku akan hubungi abeoji dan eomma."

"Jongsu?"

"Kau tidak pernah lupa dengannya, hmm?" ucap Jongin sambil mencubit dagu Kyungsoo gemas.

Kyungsoo hanya tersenyum manis menanggapi ucapan Jongin.

"Iya, aku akan hubungi dia juga," kata Jongin kemudian.

"Yeayy… aku akan menghubungi eomma, appa, dan Sehun."

Jongin menyimpan laptopnya yang sejak tadi ada di pangkuannya. Sekarang dia menundukkan kepalanya dan menempelkan pipinya di perut Kyungsoo.

"Dingdong-ah, kau tidak lelah? Cepatlah besar di sana agar aku bisa menggendongmu."

Kyungsoo tersenyum mendengar Jongin memanggil calon bayi mereka dengan nama Dingdong.

"Dingdong? Kau memanggilnya Dingdong?" tanya Kyungsoo sambil terkekeh.

"Kau tidak suka?"

"Aku suka. Itu lucu. Dingdong-ah…"

"Tidurlah."

Jongin membelai rambut Kyungsoo mesra, memberinya kecupan di kening, kemudian membantu istrinya mengatur bantal agar tidurnya nyaman.

"Selamat malam, sayang."

"Jangan tidur terlalu larut," Kyungsoo memgingatkan.

"Tidak akan, pekerjaanku akan selesai sebentar lagi."

.

.

.

.

Sehun baru saja pulang dari kampusnya, baru saja bertemu denga profesor pembimbing tugas akhirnya. Dia kembali ke rumah, menunggu waktu makan malam dengan kakaknya nanti. Akhir-akhir ini Sehun seperti orang tak jelas. Selalu melihat handphonenya. Di dalam pikirannya selalu berpikir dan bertanya kemana Soonil. Pria muda ini sadar, mungkin Soonil bukan untuknya atau dia lelah menjalani hubungan dengan pria yang lebih muda darinya. Sehun hanya ingin bicara dengan Soonil, tidak ingin hubungannya berakhir dengan hal yang tidak jelas.

Ratusan pesan, puluhan pesan suara, beribu-ribu kali Sehun coba untuk menghubungi Soonil. Terakhir orang-orang di tempatnya bekerja pun tidak tahu kemana Soonil. Dia tidak mengatakan apapun, hanya mengatakan jika dia akan mengundurkan diri.

Panggilan seseorang membuyarkan pikiran Sehun. Ibunya memanggil namanya tanpa Sehun hiraukan sejak tadi.

"Apa yang kau lakukan, Sehun-ah?" tanya ibunya sedikit kesal.

"Maafkan aku eomma, tadi aku memakai earphone."

"Eomma akan pergi ke tempat kakakmu, diamlah di rumah."

"Eomma akan pergi seorang diri?"

"Iya. Eomma akan naik taksi."

"Tidak perlu ku antar?"

"Tidak perlu. Tunggu di rumah, dan periksa ini. Jika airnya sudah habis, matikan kompornya," ucap ibu Sehun sambil tersenyum.

"Eomma menyuruhku menunggu masakan ini?"

"Iya. Eomma pergi."

"Ah… eomma. Malam nanti kita akan bertemu noona, untuk apa pergi ke rumahnya?"

"Jangan lupa matikan itu," ibunya kembali berpesan.

"Eomma…"

Rengekan Sehun tak di gubris. Ibunya tetap pergi dan meninggalkan Sehun seorang diri. Sehun tak bisa berbuat apapun. Ia duduk di sofa ruang tengah. Menunggu hingga saatnya dia mematikan kompor dan bisa melakukan hal lain. Akhirnya setelah menunggu selama setengah jam tugas Sehun selesai menyelesaikan perintah ibunya.

KRING… KRING…

Handphone Sehun bordering, ada panggilan masuk. Itu ibunya. Dengan cepat Sehun menerima panggilan telepon itu.

"Halo, eomma."

"…"

"Di kamar? Sebentar. Biar aku cari."

"…"

Sehun berjalan menuju kamar ibunya. Karena dia diminta untuk mencari sebuah kotak berisi kalung.

"Eomma. Aku menemukannya."

"…"

"Baiklah. Aku akan bawa saat menjemput eomma nanti."

"…"

"Baiklah, eom-"

Mata Sehun tertuju pada sebuah benda. Sepertinya itu sebuah undangan. Bukan karena benda itu adalah sebuah undangan. Tapi karena dia melihat nama yang tertulis di undangan tersebut.

Soonil & Minho

Sehun yakin, bahkan sangat yakin jika matanya masih berfungsi dengan baik dan dia bisa membaca dengan baik. Setelah ia selesai bicara dengan ibunya, Sehun dengan ragu mengambil undangan itu. Dengan semua ketidakyakinannya dia buka undangan itu. Seketika rasa dingin menerpa, bahkan hingga hati Sehun terasa sangat dingin. Bagai membuka sebuah kotak Pandora, satu per satu semua pertanyaannya tentang kekasihnya terjawab. Sehun hanya tersenyum getir.

Sehun pergi dari rumahnya tak lama setelah dia membaca undangan Soonil. Semua keluarganya sibuk menghubunginya karena Sehun mendadak mengatakan jika dia tidak akan hadir dalam acara makan malam dengan kakaknya. Sudah tahu pasti, kakaknya pasti akan mudah membaca apa yang terjadi dengannya. Lebih baik untuk tidak hadir, dari pada dia hanya membuat orang di hadapannya khawatir. Dia mengatakan jika mendadak harus mengerjakan tugas akhirnya, karena harus segera dia kirimkan pada profesor pembimbingnya.

Sehun berjalan dengan langkah lunglai. Seseorang memperhatikannya dari kejauhan. Setelah yakin pria yang dia lihat adalah seseorang yang ia kenal, dengan cepat ia berlari untuk menyusul.

"Oppa!" teriak Rahui mengejutkan Sehun.

"Astaga. Kau ini!"

"Oppa, kau melamun?"

"Tidak," jawab Sehun lemas.

"Kau bohong. Kau kemari pasti karena ada yang kau pikirkan dan membiarkan Lu eonni untuk membantumu kembali normal."

Sehun menjitak kepala Rahui.

"Ahhh! Sakit."

"Apa yang kau bicarakan, huh? Cepatlah pulang!"

"Aku sedang berjalan untuk pulang," jawab Rahui sambil menjulurkan sedikit lidahnya menggoda Sehun.

Pria jangkung, memakai kaos berwarna hitam dengan leher V. Tersenyum pada Luhan yang sedang membuang sampah. Berjalan menju Luhan sambil melepas jaket kulitnya.

"Bukankah seharusnya kau tidak di sini?" komentar Luhan begitu Sehun mendekat.

"Aku rindu padamu," jawab Sehun asal lalu berjalan masuk lebih dulu.

Luhan mengekor di belakang Sehun. Segaris senyum tipis muncul di bibirnya. Entah Sehun mengatakan itu hanya untuk menggodanya atau bukan, yang terpenting dia senang dengan apa yang dikatakan Sehun. Berjalan menyamakan langkah kakinya dengan langkah Sehun. Tanpa diminta, Sehun duduk di salah satu kursi yang belum Luhan rapikan.

Sehun memang tak pernah memiliki alasan pasti jika dia datang ke kedai. Sesering apapun itu. tapi kali ini Luhan tahu ada sesuatu yang membuat pria itu enggan tersenyum.

"Aku ingin yang lain, selain kopi," pinta Sehun.

Pagi tadi Sehun mengatakan jika dia akan makan malam dengan keluarga besarnya. Lalu, sekarang pria ini tiba-tiba datang dengan wajah lusuhnya. Luhan tak bertanya kenapa. Meski dia tahu ada sesuatu terjadi pada Sehun. Jelas, Luhan pun tidak ingin bertanya alasan kenapa Sehun lebih memilih menghabiskan malamnya di kedai kopinya, dibandingkan hadir di acara keluarganya. Ini bukanlah Sehun. Juga, tak biasanya pria muda ini memesan minuman lain selain kopi di kedainya. Dia memang baru mengenal Sehun, tapi Luhan tahu jika Sehun bukan tipe orang yang senang minum. Luhan biarkan Sehun menyendiri. Dia yakin ada sesuatu dan lebih baik Luhan tak campur tangan tentang hal itu jika Sehun tak meminta.

"Eonni, ada apa dengan Sehun oppa?" tanya Rahui sedikit berbisik.

"Tidak tahu. Aku tidak bertanya apapun."

"Aigoo... lihatlah dia. Eonni sebaiknya kau ganti soju itu dengan air putih. Dia sudah mabuk."

Luhan mengambil segelas teh hangat untuk ia berikan pada Sehun.

"Sehun-ah, cukup dengan soju itu, hmmm. Minumlah ini. Ini bisa membantumu merasa lebih baik," kata Luhan.

Dengan kepala tertunduk Sehun memegang tangan Luhan menahan Luhan pergi.

"Temani aku," ucap Sehun pelan.

"Huh?"

"Duduklah. Temani aku."

Tanpa bertanya lagi Luhan menuruti permintaan Sehun. Dia duduk di hadapan Sehun. Menatap pria muda yang sedang tertunduk dan enggan menunjukkan wajahnya. Ingin rasanya dia bersuara dan bertanya apa yang dia lakukan di sini? Dan ada apa dengannya? Sekali lagi, Luhan tidak ingin semakin membuat suasana hati Sehun semakin buruk.

"Sehun-ah, kau baik-baik saja?"

Sehun mengangkat kepalanya. Melihat Luhan yang berada dihadapannya dengan pandangan yang sudah mulai kabur karena mabuk.

"Hmmm... iya, aku baik-baik saja."

"Kau yakin?"

Sehun terdiam. Pandangan sendu Sehun tunjukan. Kemudian dia menggeleng.

"Aku tidak tahu."

"Sehun-ah, lebih baik kau katakan tentang apa yang ingin kau katakan. Jangan buat dirimu sakit," ucap Luhan tiba-tiba.

Sehun tersenyum tipis.

"Lu-"

"Iya," sahut Luhan pelan.

"Apa aku terlihat bodoh?"

BUK!

Belum sempat Luhan menanggapi pertanyaan pria berkemeja di depannya, kepala Sehun tertunduk di atas meja. Dia tak lagi bertenaga karena mabuk. Rahui yang sejak tadi memperhatikan Sehun dan Luhan dari dapur langsung dengan cepat menghampiri meja tempat Sehun dan Luhan duduk. Segera Rahui ambil handphonenya, dan berusaha menghubungi Kyungsoo.

Sehun mencoba untuk membuka matanya perlahan. Bias sinar matahari begitu mengganggu pandangannya. Kepalanya terasa berat. Perutnya pun terasa mual. Sehun ingat jika semalam dia mabuk. Tapi dia tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Dengan mata yang masih dalam keadaan setengah tertutup, ia berusaha mengenali tempat dimana ia berada sekarang. Sehun menghela nafas begitu ia mendengar suara kakaknya.

Dengan tenaga yang belum terkumpul sempurna, Sehun turun dari atas kasur dan berjalan keluar.

"Kau sudah bangun? Duduklah, aku sudah buatkan kau sup agar kau merasa lebih baik."

Sehun lalu duduk. Menyendok sup buatan kakaknya untuk membuat dirinya lebih baik.

"Noona, apa kau semalam yang menjemputku?"

"Hmmm."

"Apa eomma tahu aku disini?"

"Hmmm."

"Kau marah padaku?" tanya Sehun kemudian.

"Sehun yang aku kenal tidak pernah seperti ini. Habiskan itu, aku harus pergi. Pulang lah setelah kau merasa lebih baik. Aku sudah katakan pada eomma jika kaupulang kemari karena kau baru menyelesaikan tugasmu tengah malam dan tidak mau mengganggu eomma dan appa."

Sehun tertegun. Diam tanpa berkata apapun.

"Jongin-ah, aku akan pergi," teriak Kyungsoo.

"Haruskah kau berteriak memanggil suamimu?" protes Sehun yang risih dengan teriakan Kyungsoo.

Kyungsoo terkekeh, "maafkan aku. Aku pergi."

Kyungsoo pergi meninggalkan Sehun pergi menuju kamar untuk berpamitan pada Jongin.

Sehun seperti mayat hidup. Dia bergerak, dia bicara, dia mendengar, melakukan apa yang manusia hidup lakukan. Tapi raganya kosong. Sebuah undangan pernikahan bisa membuat hidup Sehun seakan terkena angin topan. Tak karuan. Berantakan.

Dalam diamnya Sehun mengingat apa yang dia katakan semalam saat dia sedang bersama Luhan. Sampai dia ingat sesuatu yang Luhan katakan padanya.

"Mengatakan apa yang ingin aku katakan, dari pada membuat hatiku sakit," pekik Sehun dalam hati.

Awal musim panas berhasil membuat hidup Sehun tak kalah panas. Saat kemarin—tiba-tiba—ia menemukan sebuah undangan pernikahan dengan nama Soonil tertulis di atasnya. Dengan siapa? Tentu bukan dengan Sehun. Nama lelaki lain tertulis di sana. Entah siapa dia. Sakit. Hanya membaca nama kekasihnya yang akhir-akhir ini sering menghilang itu membuat hati Sehun hancur. Berbulan-bulan Sehun seperti orang bodoh, selalu menunggu kabar darinya. Lalu tiba-tiba dalam hitungan detik ia tahu jika kekasihnya akan menikah dalam waktu satu minggu. Sehun berharap ini hanya lelucon. Ini hanya mimpi. Dimana semua akan kembali normal. Tapi sayang, berkali-kali ia cubit lengannya sendiri, dan dia tetap merasakan sakit. Itu berarti bukanlah mimpi yang Sehun alami.

Kyungsoo diminta untuk datang ke rumah ibunya. Ibunya mengatakan jika ada undangan untuk Kyungsoo dan Jongin.

"Appa tidak akan pulang hingga besok?" tanya Kyungsoo sambil mengunyah apel.

"Hmmm, dia baru akan pulang lusa nanti."

"Kyungsoo-ya, apa Sehun menyulitkanmu? Pukul berapa dia datang ke rumahmu?"

"Tengah malam. Setelah dia lulus dia tidak akan lagi tidur larut malam karena tugas akhirnya, eomma."

Dalam hati Kyungsoo meminta maaf karena dia harus berbohong pada ibunya. Bagaimana bisa dia mengatakan jika Sehun mabuk berat semalam. Meski Kyungsoo masih belum tahu kenapa adiknya seperti itu.

"Bagaimana semalam? Kau bisa tidur nyenyak?" tanya ibu Kyungsoo.

"Aku selalu merasa gerah, padahal AC di kamarku menyala."

"Dingdong yang merasa gerah."

"Benarkah? Kau merasa gerah semalam, hmmm?" tanya Kyungsoo sambil mengusap-usap perutnya.

"Kapan kau akan memeriksakan kandunganmu?"

"Dua minggu lagi, eomma."

"Beritahu eomma jika kau perlu bantuan apapun."

"Siap!" jawab Kyungsoo melakukan gerakan hormat.

"Kyungsoo-ya, ada undangan pernikahan untukmu."

"Undangan? Siapa yang akan menikah, eomma?"

"Soonil. Kau ingat? Teman bekerjamu dulu."

"Huh? Siapa eomma bilang? Soonil?"

"Iya, Soonil."

"Eomma tidak bercanda?"

"Tidak. Undangan untukmu eomma simpan di laci meja di kamarmu."

Kyungsoo berlari menuju kamarnya. Dia perlu memastikan apa yang baru saja dia dengar dari ibunya. Benar. Nama Soonil tertulis di undangan itu. Dengan cepat Kyungsoo kembali keluar.

"Eomma, eomma, eomma..."

"Ada apa?"

"Apa Sehun tahu?"

"Eomma rasa belum, karena eomma menyimpan itu di dalam laci ada apa?"

"Eomma tidak tahu tentang Sehun dan eonni?"

"Bukankah mereka berdua sudah berpisah? Soonil yang menceritakan jika mereka sudah berpisah dan Soonil memutuskan untuk menikah dengan Minho, calon suaminya."

"Ini gila. Eomma, aku harus pulang."

"Kyungsoo-ya, kau tidak makan malam di sini?"

"Tidak, eomma. Terima kasih. Aku pulang."

"Hati-hati, jangan berlari seperti itu," teriak ibu Kyungsoo mengingatkan.

Kyungsoo harus segera pulang. Mendengar tentang undangan pernikahan Soonil, Kyungsoo teringat Sehun-adiknya-Kyungsoo curiga jika Sehun sudah tahu tentang ini. Jika benar karena ini penyebab Sehun mabuk, Kyungsoo harus mengingatkan Sehun agar dia tak melakukan hal aneh.

Sesampainya di rumah Kyungsoo menghela nafas lega. Sehun sedang duduk di ruang tengah. Menatap laptop dengan kening berkerut karena berpikir.

"Oh, noona. Kau sudah pulang? Cepat sekali. Apa eomma menanyakanku?"

"Kau baik-baik saja?" tanya Kyungsoo.

"Hmmm, terima kasih untuk sup pagi ini."

Kyungsoo perlahan mendekati Sehun. Duduk di samping adiknya. Tidak ada yang aneh dengan Sehun. Jika tahu tentang pernikahan Soonil, tidak mungkin Sehun begitu tenang duduk di rumahnya, tersenyum manis.

"Ah, noona. Aku pinjam laptopmu. Aku harus mengerjakan tugas akhirku. Karena besok profesor memintaku untuk menemuinya lagi."

"Kenapa semalam kau mabuk?" tanya Kyungsoo tanpa basa-basi.

"Karena ini."

Sehun menunjukan apa yang ada di layar laptop pada kakaknya. Kyungsoo melihat apa yang Sehun tunjukan. Apa Sehun benar tidak datang ke acara makan malam keluarga semalam karena tugas akhirnya?

"Ini benar-benar membuatku bingung. Semalam aku minum untuk menghilangkan sedikit rasa bingungku karena tugas akhir ini."

"Kau benar mengerjakan tugas akhirmu semalam?"

"Tentu saja. Menurutmu aku berbohong?"

.

.

.

.

Satu minggu kemudian…

Dengan semua rasa ragu, Sehun memantapkan hatinya untuk pergi. Pergi menemui seseorang yang seharusnya ia temui sejak lama. Bukan hari ini. Tapi, Sehun harus lakukan ini. Dia harus mengikuti kata hatinya. Katakan apa yang ingin ia katakan, seperti yang dikatakan Luhan. Akhirnya dia sampai. Tempat tujuannya sudah ramai. Banyak karangan bunga ucapan selamat berjajar rapi di depan gedung. Dengan rasa ragu yang masih Sehun rasakan ia keluar dari dalam mobilnya. Melangkah pelan masuk ke dalam gedung. Hatinya perih saat melihat nama di setiap karangan bunga ucapan selamat. Tertulis nama yang tak pernah Sehun harapkan tertulis di sana. Soonil. Sehun terus berjalan, menuju ruang tempat pengantin menunggu. Dia bisa mendengar suara tawa yang sudah lama ia rindukan. Seketika wajah riang gadisnya terbayang dalam benak Sehun. Dia datang ke acara pernikahan Soonil. Entahlah, Sehun sendiri tidak tahu kenapa dia menyeret dirinya sendiri ke tempat ini.

TOK… TOK…

Sehun melangkah masuk setelah mendapat izin untuk masuk. Dalam hitungan detik, suara tawa yang tadi Sehun dengar hilang begitu dirinya masuk. Soonil tertegun, dengan cepat dia meminta semua orang yang sebelumnya sedang bersamanya untuk meninggalkan mereka berdua.

"Hai," sapa Sehun lembut.

Ia tatap Soonil yang terkejut melihat sosoknya yang tiba-tiba datang. Datang dengan menunjukan senyumannya. Senyum tipis tapi begitu lembut.

"Sehun-ah."

Soonil hanya memanggil nama Sehun pelan dengan wajah bingung.

"Aku selalu ingin melihatmu memakai gaun pengantin, karena aku yakin kau akan sangat cantik."

"Sehun-ah."

"Maafkan aku karena aku tiba-tiba datang seperti ini."

Sehun menarik nafas. Berusaha mengatur emosinya sendiri.

"Jangan kau jelaskan apapun. Karena bagiku kau itu kenangan indah. Jangan rusak itu karena aku mendengar penjelasanmu."

Soonil hanya mematung. Menatap nanar pria yang berdiri di hadapannya. Tak ada kata apapun yang keluar dari mulut Soonil. Sehun melangkah, membuat jarak dirinya dan Soonil begitu dekat. Sehun tatap wajah wanita di depannya. Make up sederhana tapi begitu membuat dia terlihat begitu cantik. Dengan ragu Sehun sentuk tengkuk Soonil. Perlahan, dengan rasa ragu dan segala perasaan yang tak bisa di jelaskan, ia kecup kening Soonil. Satu kecupan penuh rasa sayang, rasa tidak ingin kehilangan, sebagai tanda perpisahan. Tanpa sadar air mata menetes di sudut mata Soonil.

"Selamat. Semoga kau bahagia dengannya. Ucapkan ini juga padanya."

Sehun hapus air mata yang membasahi pipi Soonil sambil mengucapkan salam perpisahannya.

"Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik."

Senyuman tipis tapi menghangatkan kembali Sehun tunjukan. Dia tak ingin ucapan selamat tinggalnya terkesan buruk bagi Soonil dan juga dirinya sendiri. Meski dalam hatinya—jauh di dalam hatinya—ia ingin berteriak, mengucapkan semua sumpah serapahnya pada wanita yang menyakitinya. Tapi, Sehun tahu itu sama sekali bukanlah sesuatu yang baik.

.

.

TBC

.

.

Halo… halo… apa kabar kalian semua? Aku kembali update setelah sekian lama

Sebenernya chapter ini bakal diupload waktu birthday Jongin atau Kyungsoo kemaren. Tapi, karena seribu hal jadi batal

Maafkan…

Semoga suka dengan apa yang aku tulis di chapter ini…

Tunggu kelanjutannya ya buat kalian yang masih mau menunggu…

Thank you…

*kisshug*

*XOXO*