Jam 12 siang.

Terik matahari tak terlalu menyengat, tetapi tetap saja kehangatannya membuat seisi sekolah kepanasan.

"Terima kasih kau mau meluangkan waktumu yang berharga demi kami."

Reiji Suwa, bersama anggota lain Galaxy Standard berada didalam ruangan yang paling adem di sekolah. Ya, ruangan kepala sekolah. Reiji yang duduk manis di sofa tersenyum kepada kepala sekolah yang sudah mau bekerja sama dengannya. Sedangkan anggota Gal-Stan yang lain berdiri dibelakang sofa.

"Tak masalah. Kami senang memilikimu disini. Kalian adalah tamu kehormatan kami."

"Kami tersanjung mendengar hal itu."

"Lalu, apa yang bisa kubantu?"

Semua anggota Gal-Stan tersenyum dan melihat satu sama lain sebelum melihat ke ketua mereka yang duduk sendiri di sofa didepan mereka. Kecuali Reiji, yang mengeluarkan senyuman terlebarnya.

"Aku ingin berbicara dengan Takeru Fujiwara."


Be My Wife

Prince of Stride © Shuuji Sogabe, Kadokawa

Pair(s) Reiji Suwa/Takeru Fujiwara

Warn Sadist!Reiji (just a lil bit), Takeru is being a lil bitch and a sinnamon roll at the same time, foul and rude words, sarcasm, ultimate OOC-ness, crazy and mad OCs, etc.


"Perhatian untuk Takeru Fujiwara, kelas 1-C, untuk segera melapor ke kepala sekolah di ruangan kepala sekolah. Diulangi. Perhatian untuk Takeru Fujiwara, kelas 1-C, untuk segera melapor ke kepala sekolah di ruangan kepala sekolah. Terima kasih."

Speakers itu sama sekali tidak baik untuk telinga siswa. Suara nyaringnya menusuk gendang telinga. Terlebih lagi Takeru yang sedang menyantap daging putihnya bersama Sakurai dan Yagami di atap sekolah.

"Eh? Kau dipanggil? Ada apa, kira-kira?" tanya Sakurai yang sedang memakan bentonya.

"Entahlah."

"Kau memakai gedung sekolah untuk latihan stride tanpa izin lagi?" Riku yang sudah sering bersama Takeru juga tahu, dia itu aneh, tetapi tidak pernah Takeru membuat masalah besar sampai-sampai di panggil kapala sekolah.

Takeru membungkus bentonya kembali.

"...tidak. Tidak juga."

Membersihkan debu yang sempat menempel di celananya, dan meminta bantuan Sakurai untuk menyimpankan kembali bentonya, ia bergegas masuk ke gedung sekolah.


Ia berjalan di lorong yang sepi, dilantai paling atas, dimana ruang kepala sekolah berada.

TOK TOK

"..."

Tidak ada jawaban.

TOK TOK

"...silahkan."

Itu bukan lah suara kepala sekolahnya yang seperti oom pedo berjiwa anak kecil. Melainkan suara bagai perempuan yang siap menceritakannya dongeng sebelum tidur. Itu suara yang lembut, seperti alunan musik.

Takeru yang sama sekali tak terhipnotis dengan suara tersebut langsung masuk ke ruangan dengan sopan, tak lupa dengan salam yang hampir tak terdengar.

Dan dia sama sekali tidak tercengang. Tidak, terima kasih.

Dia sama sekali tidak tercengang dengan kehadiran Reiji Suwa di ruangan kepala sekolahnya, duduk manis dengan cangkir teh terangkat oleh jari-jari lentiknya.

Ya, dia sama sekali tidak kaget.

Mungkin.

"Speak of the devil. There you are!"

Akhirnya, tujuan ia kesini sudah datang. Sang kepala sekolah tercinta, Rei Hirose-sama. Ah, dengan wajahnya yang minta ditampar itu.

"Aku lihat kau sudah bertemu dengan Reiji Suwa. Silahkan duduk dulu."

Takeru tidak mematuhi apa yang disuruh olehnya. Sama sekali.

"Aku kesini untuk memenuhi panggilan Anda. Jika ada perlu, tolong diselesaikan sekarang."

Tidak terdengar satupun gentar di suara Takeru.

Reiji memberikan tawa kecil, bereaksi dengan balasan Takeru. Sedangkan si Leg Maniac hanya melontarkan tatapan 'apa-yang-lucu?' ke Leader dari Galaxy Standard.

"Kami hanya ingin berbicara dengan tenang denganmu, Fujiwara-kun. Dan, bukankah tidak sopan untuk berbicara balik ke kepala sekolahmu sendiri?" ucap Reiji dengan mempertahankan suara lembut dan wajah santainya. Walaupun Takeru tahu, Reiji tidak tahan untuk menantangnya.

Dengan helaan nafas panjang, Takeru berjalan menuju sofa di seberang sofa yang diduduki Reiji. Masih ogah menatapnya dengan mata yang lembut, yang di balas senyuman termanis dari Reiji.

"Baiklah, jika kau sudah tenang. Kita lanjutkan percakapan kita."

Ah, sial.


"Jadi, Fujiwara-kun. Aku berharap kau bisa tenang sampai percakapan kalian berakhir. Reiji Suwa sudah jauh-jauh kesini untuk mengunjungimu. Kuharap kau dapat menghargainya."

Ya, yang benar saja.

Reiji tetap duduk tenang dan menatap Takeru yang duduk didepannya. Sama sekali tidak terlihat senang.

Ya, harusnya ia katakan sekarang. Daripada nanti ia akan benar-benar diterkam oleh Takeru.

Walaupun Reiji tidak terlalu keberatan.

"Ahem. Kepala sekolah. Mungkin, dari sini bisa kutangani."

Perhatian Takeru dan kepala sekolah langsung beralih ke Leader Gal-Stan yang masih setia memperhatikan Takeru.

"Baiklah. Saya mengerti. Sisanya, kuserahkan padamu, Reiji-kun."

"Terima kasih, Hirose-san."

Kepala sekolah langsung beranjak dari office chairnya. Perlahan berjalan menuju pintu setelah menepuk pundak Reiji, lalu keluar dari ruangannya.

Ah, mereka sepertinya menyembunyikan sesuatu. Tapi, ya. Terserah.

"Maaf ya, Fujiwara-kun. Membuatmu harus membuang waktu makan siang bersama temanmu."

"...tidak apa-apa. Ada hal lain yang ingin kau ucapkan sebelum aku pergi?"

"Sebenarnya, iya. Dan aku akan merasa lebih baik jika kau bersedia untuk bersamaku lebih lama lagi."

Takeru tidaklah bodoh. Dia tahu dibalik senyum manis itu ada sesuatu yang lebih berbeda. Walaupun ia sama sekali tidak mau melihatnya.

"Apa maksudmu?"

Senyuman itu kembali ke wajah terkenal Reiji Suwa. Ah, sialan. Takeru ingin sekali mengusir senyuman menyebalkan itu dari wajahnya.

Reiji berdiri dari sofa yang mungkin sudah setengah jam ia duduki. Mendekat ke hadapan Takeru yang benar-benar kebingungan dan waspada akan dirinya.

Reiji memasukkan tangannya ke saku sekolah Saisei yang ia pakai dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, dilapisi kain berwarna ungu tua. Cocok sekali dengan warna rambutnya. Sesaat ia membukanya, terlihat permata yang indah. Kecil dan elegan. Semua bernuansa silver. Walaupun kecil, Takeru tahu itu mahal.

Dan, ia sama sekali tidak tahu alasan Reiji menujukan benda itu dihadapannya.

"Kau tahu ini apa?"

Reiji bertanya kepada Takeru sambil berkali-kali memainkan kotak tersebut. Sesekali ia menaruhnya dihadapan Takeru.

"Perhiasan perempuan? Entahlah. Aku berasumsi kau yang membelinya. Kau harusnya tahu apa itu." Jawab Takeru, tidak peduli.

"Ahahaha. Kau pintar juga. Ya, benar aku membelinya."

Tuh, kan.

"Lalu, apa hubunganku dengan perhia—"

OK, ini beneran membuat Takeru kebingungan. Berlian itu ternyata sebuah cincin. Cincin yang kecil, dengan mata yang besar.

Bukan. Bukan itu yang ia bingungkan.

Tapi, kenapa Reiji Suwa, rival tim nya dalam hal stride dan seorang idola terkenal Galaxy Standard, berlutut dihadapannya, dan memasangkan cincin tersebut di jari manis tangan kirinya?

Takeru tak berkata apapun. Ia cengo saat tangan Reiji berada dibawah tangan kirinya. Melihat detail tangan Takeru layaknya seniman melihat hasil kerja kerasnya.

Tangan Takeru dingin, tetapi juga berkeringat. Reiji tidak keberatan dengan itu. Ia malah menyukainya. Ia menyukai reaksi Takeru yang tetap sok tenang walaupun tangannya sampai keringat dingin begini.

Imut.

Tidak tahan dengan reaksi lucu Takeru, ia mencium tangannya. Ciuman lembut dari bibir Reiji berlangsung untuk beberapa saat. Ciuman tersebut berhasil membawanya kembali ke realita.

Refleks, Takeru langsung menarik tangan kirinya. Sisa ciuman Reiji masih terasa. Kulit tangannya terasa panas. Dan, tidak lupa dengan cincin perak yang terbalut cantik di jari manisnya memberikan sensasi sejuk.

Berlian kecil itu merefleksikan cahaya matahari yang masuk dari jendela kantor ke mata biru laut Takeru. Membuatnya beberapa kali harus menutup mata agar matanya tidak kaget dengan cahaya yang masuk ke matanya.

Reiji tetap melihat reaksi (imut) Takeru sambil menumpukan dagunya ke tangan dalam posisi tetap berlutut dihadapan putrinya. Mulut Takeru terbuka, tetapi tetap saja kata-kata tanya yang ingin keluar tercekat ditenggorokannya.

Takeru bersumpah, keringatnya berubah menjadi es.

Tawa kecil dari Reiji menyadarkan Takeru dari kegagapannya. Dan sontak ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya.

Nafas panas itu berhembus di wajah Reiji, dan lagi, ia menyukainya.

"Cukup main-mainnya. Aku kesini bukan untuk memenuhi peran sebagai perempuan. Jika hanya ini yang ingin kau sampaikan, aku akan pergi sekarang." Takeru tak sabaran mengeluarkan cincin itu dari jari manisnya. Ukurannya pas, tetapi karena terburu-buru, cincin itu seperti melekat dengan kulitnya. Reiji yang tidak senang akan pemandangan indahnya terganggu kembali menggenggam tangan Takeru sebelum memasukkan kembali cincin silver itu.

Mereka terdiam untuk beberapa saat. Mata Takeru terbelak tak percaya melihat Reiji yang dari tadi bersikap aneh dan… maniak. Mungkin dia terbentur sesuatu saat latihan stride? Apakah Gal-Stan tidak memeriksa kepala ketua mereka sebelum ini?

"Indah sekali." hanyalah kata-kata yang keluar dari Reiji. Suara yang rendah dan terdengar menarik itu membuat jantung Takeru yang sepenuhnya hanya untuk stride berdegup lebih cepat.

"..nnh..!" desahan kecil terdengar menggema di ruangan kepala sekolah setelah Reiji mencium tangan Takeru, ciuman yang basah. Hal itu membuat Takeru benar-benar malu, walau tubuhnya tahu cara untuk menutupinya.

That's it.

Sudah terlalu banyak kejutan konyol yang diberikan Reiji kepadanya. Ia tak mampu lagi membuat ekspresi. Wajahnya mungkin sudah memerah dan panas. Ia merasa tak pernah belajar untuk bernafas. Otaknya tak bekerja. Yang bisa ia dengar hanyalah degup jantung dan nafasnya yang terburu-buru.

Ah, tapi ia juga dapat mendengar suara tawa kecil dari Reiji sebelum ia melontarkan kalimat dengan suara terlembutnya.

"Istriku memang indah."

Dan, sepertinya Takeru perlu aspirin.


A/N:

Haaai~ Akhirnya hampir 2 tahun jadi reader, Ichi buat fic untuk anime sPORT PENUH DENGAN COWOK IKEMEN GAY ASTOGEH. Rencanannya mau Ichi jadiin fic English tapi apalah daya grammar inggris yang 80-an ((nangis saya)).

Belum apa-apa, fic Prince of Stride Ichi udah nyampe 5 (_ _'''). Salah satunya ada Ichi masukin self-OC Ichi, dan rencananya akan dipublish dalam waktu dekat ((kalau fic ini laku sih, sobs)). Fic ini juga akan diupload di AO3, rencananya lengkap dengan ilustrasi kejadian ((kalo Ichi mampu buat gambarnya aja sih sobs sobs))

OK, karena Ichi udah lama ga bikin fic, mungkin akan ada beberapa pemilihan kata dan grammar yang aneh dan mengganggu reader sekalian. Jangan sungkan konsultasi(?) sama Ichi ya~ Pasti Ichi betulin ( ^w^)b.

Dan juga berhubung Ichi lagi sibuk-sibuknya di kelas 10 ((anak dengan nilai below average)), fic ini MUNGKIN akan update agak lamaan ya. Tapi pasti Ichi usahain update cepat dan lanjutin ((ya kalo laku, sobs sobs)). Yang mau bagi-bagi ide, tangan ini terbuka lebar.

Feel free to R&R~

[3/5/2016]
one