Main Cast : Kim Xiao Lu /Luhan,

Other cast : Tuan Kim Young Woon (Appa Xiao Lu, Xiao Yi)

Nyonya Kim/ Han Kyu Kyung (Eomma Xiao Lu, Xiao Yi)

Kim Xiao Yi (saudara kembar Xiao Lu) (OC)

Kim Junmyeon (sepupu / sahabat Xiao Lu)

Bibi dan Paman Choi (pengurus mansion Kim)

Cast lainnya akan bermunculan beriringan dengan berlanjutnya ff ini

Length: Chaptered

Genre : family, Crime, Friendship, sad and hurt

Summary: Hidup bagai kita bermain taruhan, antara dimakan dan dimakan, karena hidup dengan mempercayai seseorang maka engkau telah siap akan jatuh dalam kegelapan atau bahagia dalam cahaya

Rated : T

Note: Cerita ini murni dari otak milik saya. Cast beserta lainnya milik Orang tuanya saya hanya meminjam nama. Jika ada kesamaan jalan cerita, mungkin hanya kebetulan semata. Yang tidak disengaja.^_^

Happy Reading

O…O…O…O…O…O…O…O…O

Cerita sebelumnya

"Brugh"

tiba- tiba badan Xiao Yi ambruk di atas tanah sambil memegang dadanya. Melihat hal itu, Xiao Lu langsung berlari memanggil Paman dan Bibi Choi untuk menolongnya. Tidak lama, paman membawa Xiao Yi kerumah sakit. Ternyata penyakit asmanya kumat. Tak lupa mereka juga menghubungi Tuan dan Nyonya Kim mengenai hal ini.

Sedangkan Bibi Choi dan Xiao Lu menunggu sambil berdoa dirumah besar itu. Berharap keadaan Xiao Yi baik- baik saja.

…..

"Brakk"

Tuan Kim membuka pintu dengan kasar, berjalan kearah Xiao Lu. Tuan Kim mengenggam tangan Xiao Lu menyeretnya masuk kedalam kamarnya dan menguncinya.

Appanya melemparnya kelantai dengan keras. Xiao Lu meringis. Ia menatap appanya takut.

"Appa maafkan aku." ia mengggit bibirnya menahan tangis

"Buka bajumu dan berbaliklah!" perintah Tuan Kim. Tuan kim melepaskan ikat pinggangnya dan Xiao Lu dengan benci.

"Ctarr." punggungnya terasa perih

"Ctarr." satu cambukan lagi mengenai badannya

"Ah." ringis Xiao Lu

"Appa maafkan aku, aku tidak mengajak xiao yi bermain, tapi keinginan Xiao Yi sendiri bermain." Ucap Xiao Lu

"Kau berbohong, tidak mungkin Xiao Yi bermain kalau tidak kamu ajak." Geram ayahnya.

"Ctarr, ctarr, ctarr, ctarr, bugh, dugh, dugh." selain di cambuk Xiao Lu juga dipukul dan ditendang.

"Maaf Appa, ampun, argh! Maaf, Argh." mohon Xiao Lu.

"Bugh."

"Seharusnya kamu mati saja."

"Dugh"

"Tidak ada yang menginginkanmu."

"Bugh. "

"Kamu ingin membunuh anakku ya?!"

"Bugh."

"Dasar pembawa sial, karena kamu Xiao Yi harus berbaring dirumah sakit."

Disaat itu ia mengerti mengapa orangtuanya tak menyukainya. Karena ia anak pembawa sial. Kata- kata itu mulai tertanam di otak jeniusnya. Membuat ia merasakan sakit dihatinya, mendengar perkataan ayahnya.

Seluruh tubuhnya dipenuhi luka yang berdarah. Cambukan dan pukulan terus dilayangkan oleh sang ayah. Tak ada air mata, serta suara rintihan. Yang ada hanyalah sepasang mata yang memandang kosong yang menyiratkan kekecewaan mendalam. Ia tak berniat menghentikan apapun yang dilakukan ayahnya sebab ayahnya tak akan pernah iba dan tak akan pernah berhenti sebelum sang ayah puas.

"Kenapa kamu tak sadar juga!" Ucap tuan Kim geram.

"Kamu hampir membunuh kakakmu, sekarang ia harus mendapatkan penanganan serius." Ucap Tuan Kim meluapkan emosinya. Kembali tubuh itu mendapatkan pukulan serta tendangan. Tuan Kim menatap tajam kearah Xiao Lu, sedangkan sang anak hanya menatap kosong kearah ayahnya. Tuan Kim sangat benci menatap bocah itu.

"Aku tahu kenapa kami tak menyukaimu, karena kamu memang hanya anak pembawa sial." Tukas Tuan Kim dengan murka lalu pergi dari ruangan itu.

"Brakk." Tuan Kim membanting pintunya. Tak lama kemudian terdengar suara deru mesin mobil meninggalkan rumah itu.

"Brukk." Xiao Lu terduduk setelah sendiri diruangan itu. Matanya memandang kosong tampa ada binar cahaya, hanya gelap segelap malam kelam tampa bintang.

Tak lama kemudian sang Bibi Choi datang mencoba untuk membantu Tuan Mudanya yang tampa perlu ditanya sudah dalam hancur remuk redam baik fisik maupun Pisikisnya.

"Bangunlah Xiao Lu, bibi akan mengobati lukamu." Ucap Bibi Choi miris.

"Bibi, apa benar yang Appa dan Eomma katakan selama ini kalau aku hanya anak pembawa sial?" Tanya Xiao Lu.

"Itu tidak benar, mereka hanya belum mengerti bahwa mereka beruntung mendapatkanmu." Ujar Bibi Choi tersenyum mencoba menenangkan Tuan mudanya.

"Argh" Xiao Lu mencoba untuk berdiri tapi terjatuh lagi akibat luka cambukan yang dilakukan ayahnya.

Bibi Choi tak kuasa menahan air mata yang keluar dari bola matanya akibat melihat Tuan Muda yang selama ini selalu disiksa oleh orang tuanya sendiri. mereka berjalan kearah kamar Xiao Lu. Setelah membantu Xiao Lu untuk duduk diatas kasurnya. Selanjutya Bibi Choi kedapur mengambil air hangat dalam baskom, handuk serta kotak kesehatan untuk mengobati Xiao Lu. Setelah sampai, sang istri kepala pelayan langsung membersihkan darah bekas cambukan dan pukulan itu. Ia meringis melihat luka- luka disekujur tubuh sang bocah. Dia membersihkan dengan hati-hati serta sangat pelan. Setelah itu ia membalut luka cambukan itu dengan plester dan mengolesi salep pada luka lebam. Seandainya orang biasa pasti akan menangis kesakitan akibat perih yang dihasilkan oleh obat, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulut Xiao Lu. Ia hanya memandang kosong. Entah ia sudah tak merasakan sakit lagi. Karena sakit di hatinya lebih besar daripada sakit dibadannya.

Sepeninggal Bibi Choi, Xiao Lu merebahkan badannya sambil merenungi dan memikirkan nasib yang selama ini menimpanya. Tak berapa lama ia pun terlelap berharap esok hari semua akan lebih baik.

Keesokan harinya

Xiao Lu sedang bersiap-siap untuk berangkat kesekolah setelah didesak oleh Bibi Choi, sebenarnya Xiao Lu tak ingin masuk sekolah sebelum mendengar kabar dari Xiao Yi, perasaannya belum tenang. Karena menurutnya, penyakit Xiao Yi kambuh karena salahnya juga walau secara tak langsung. Ia merasa menyesal mengiyakan ajakan saudara kembarnya itu. Setelah selesai bersiap-siap ia ke dapur membuat bekal untuk dirinya nanti disekolah, tapi ternyata Bibi Choi telah membuatkannya bekal. Xiao Lu pun langsung berangkat kesekolah.

Sepanjang perjalanannya menuju sekolah, hatinya masih memikirkan keadaan Xiao Yi. Walaupun mereka tidak terlalu dekat, tetapi mereka mempunyai ikatan yang kuat karena mereka adalah kembar walau tidak terlalu identik.

Sesampainya disekolah, Xiao Lu langsung menuju kelasnya. Murid-murid masih sedikit yang datang. Setelah menyampirkan tasnya, ia langsung duduk dibangkunya. Ia duduk dengan wajah menghadap jendela, membiarkan angin semilir menerpa wajahnya. Tak lama kemudian jumnyeon datang memasuki kelas. Jumnyeon menuju bangku yang ada disebelah Xiao Lu, mereka memang selain sebagai sahabat, sepupu, mereka juga teman sebangku. Jumnyeon memperhatikan Xiao Lu yang sepertinya melamun tak menyadari kehadirannya. Junmyeon paham keadaan Xiao Lu selama ini. Ia juga tahu bagaimana perlakuan kedua orangtua Xiao Lu kepada anaknya. Karena tak sengaja waktu ia mengantar Xiao Lu kerumahnya akibat tidak enak badan, ia melihat ayahnya membentak serta memukulinya, padahal ia dalam keadaan sakit. Jumnyeon yang melihatnya ingin menolong, tapi sahabatnya itu melihatnya dengan tatapan 'tidak apa-apa' sambil menggelengkan kepala. Ia hanya berdiri sambil pintu rumah didepannya tertutup. Ia beranjak pulang dengan kepala yang penuh dengan pikiran keadaan sahabatnya. Keesokan harinya disekolah ia mendesak Xiao Lu untuk menceritakan apa yang terjadi. Awalnya sahabatnya itu tidak ingin menceritakan kejadian sebenarnya, tapi karena Junmyeon mendesak akhirnya Xiao Lu menceritakan apa yang selama ini terjadi pada dirinya. Mendengar hal itu airmata Junmyeon mengalir membasahi pipinya, ia tak menyangka bahwa hidup sahabatnya sangat menderita. Ia tak menyangka bahwa tuan Kim yang terkenal dengan kekayaannya serta kebijaksanaannya di lingkungan perusahaannya, bisa melakukan hal itu kepada anak kandungnya sendiri. Pantas selama ini jika ada pesta yang dilakukan oleh sebuah perusahaan, ia tak pernah melihat Xiao Lu, ia hanya melihat Xiao Yi yang selalu dibawa. Jangan bertanya mengapa Junmyeon tahu hal itu. Jangan lupa kalau Junmyeon juga seorang Kim. Orangtunya juga salah satu pengusaha yang tekenal di Korea Selatan walau tidak sebesar perusahaan ayahnya Xiao Lu. Pernah Junmyeon memaksa sepupunya itu untuk pindah kerumahnya saja, karena ia sudah tak tahan melihat keadaan Xiao Lu yang saat itu babak belur, tapi jawaban Xiao Lu membuat ia terperangah. Kalian ingin tahu apa jawaban Xiao Lu?, Sepupunya itu tersenyum sambil mengatakan bahwa ia sangat menyanyangi keluarganya. Tidak apa-apa ia tersiksa, asal keluarganya bahagia. Ia akan tetap bertahan walau menderita. Ia percaya, bahwa suatu saat nanti keluarganya akan berubah menyayanginya. Mendengar hal itu Junmyeon hanya bisa terdiam. Ia merasa bahwa sepupunya itu jelmaan malaikat karena dengan ringannya memaafkan kelakuan orangtuanya. Sejak saat itu Junmyeon berjanji akan menjaga sepupunya itu dengan segenap jiwanya. Ia hanya berdoa agar Tuhan segera membukakan mata hati kedua orang tua Xiao Lu, agar mereka tahu bahwa anak yang selama ini mereka sia-siakan merupakan seorang malaikat.

"Kringg"

"Kringg"

"Kringg"

Bunyi bel sekolah membuat dua orang yang sedang melamunkan hal berbeda itu tersentak. Butuh beberapa saat untuk mebuat mereka kembali sadar akan keadaan sekitar mereka. Mereka saling memandang, tak lama kemudian seongsaenim yang mengajar sudah masuk.

SKIP

"Kringg"

"Kringg"

"Kringg"

Bel istirahat berbunyi. Junmyeon mengajak Xiao Lu ke kantin untuk makan siang, tapi sepupunya itu menolak karena tadi pagi Bibi Choi telah memberikannya bekal makan siang. Ia akan memakannya di atap Sekolah, sebab ia tidak ingin ditatapi oleh orang-orang seakan Ia makhluk asing. Mereka pun akhirnya menikmati makan siang mereka setelah sebelumnya junmyeon kekantin sebentar untuk membeli makan siang untuknya serta minuman untuk mereka berdua.

"Apa ada sesuatu yang terjadi? Aku melihatmu hanya diam dan termenung saja." Ujar Junmyeon

"Kemarin sore penyakit Xiao Yi kambuhn dan harus dilarikan kerumah sakit. Aku belum mendengar kabarnya lagi. Aku jadi khawatir." Jawab Xiao Lu

"Bagaimana bisa kambuh? Bukannya sudah lama penyakitnya itu tidak kambuh? Tanya Jumnyeon terkejut.

"Kemarin aku dan ia bermain sepak bola, walau awalnya aku sudah melarangnya tapi aku tak sanggup melihat matanya yang penuh harap ingin bermain juga." Jawab Xiao Lu pelan. Junmyeong hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban Xiao Lu. Ia menebak pasti orangtuanya menganiaya Xiao Lu lagi akibat kejadian itu. Karena ia melihat ada memar di pipi dan tangan sepupunya itu.

"Dan jangan bilang luka yang ada ditangan dan wajahmu akibat dari siksaan ayahmu lagi?! Sudah berapa kali kukatakan untuk keluar dari rumah neraka itu. Mereka tak akan berhenti menyiksamu walau itu bukan salahmu sekalipun. Mereka menjadikanmu tempat pelampiasan kemarahan mereka." Ungkap Junmyeon dengan nada yang agak tinggi. Xiao Lu yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam dan menatap kearah depan.

"Aku juga sudah mengatakan walau mereka menjadikanku tempat pelampiasan, tak mengapa asal mereka bisa bahagia." Jawab Xiao Lu. Mendengar hal itu Junmyeon hanya bisa terdiam tak tahu ingin bicara apalagi. Ia tahu Xiao Lu sangat keras kepala percuma saja berbicara dengannya. Jadi ia pun mengalihkan wajahnya ikut memandang lurus kedepan.

"Tapi berjanjilah jika kamu sudah tidak sanggup bertahan, maka carilah aku. Aku akan selalu disampingmu." Ujar Junmyeon tulus. Xiao Lu tersenyum mendengar perkataan junnmyeon. Ia sungguh bahagia mempunyai Junmyeon disisinya.

"Iya. Aku berjanji. Oh iya apa kamu bisa menemani aku menjenguk Xiao Yi dirumah sakit setelah pulang sekolah? Aku sangat khawatir dengan keadaannya." Tanya Xiao Lu penuh harap. Junmyeon menatap Xiao Lu lalu menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu Xiao Lu makin melebarkan senyumnya. Dan Junmyeon berharap senyum itu tak akan pernah luntur apalagi sampai hilang dari Xiao Lu.

SKIP TIME

Mereka berdua sekarang menuju rumah sakit tempat Xiao Yi dirawat. Mereka berdua diantar oleh supir keluarga Kim (Kim Junmyeong selanjutnya kita panggil Han Ahjussi). Junmyeon sudah meminta izin kepada ibunya bahwa ia akan menjenguk Xiao Yi dirumah sakit setelah pulang sekolah. Sesampainya dirumah sakit, mereka bertanya kepada recepsionis rumah sakit dimana ruangan Xiao Yi berada. Setelah mendapat informasinya, dua bocah tersebut langsung menuju kamar Xiao Yi. Mereka berdua merasa lega karena ternyata Xiao Yi sudah siuman. Mereka melangkah dengan tergesa-gesa, Tetapi langkah mereka terhenti di depan pintu kamar rawat Xiao Yi. Mereka melihat orangtua sikembar sedang berbicara dengan sisulung Xiao Yi. Mereka pun tak sengaja mendengar percakapan didalam kamar itu.

"Katakan pada Appa, mengapa kamu bermain bola padahal kamu tahu bahwa penyakitmu tidak bisa mengizinkankamu bermain seperti itu?!." Tanya Appa sikembar. Xiao Yi yang sedang ditanya tak sengaja melihat Xiao Lu sedang berdiri didepan kamar rawatnya. Ia lalu kembali menatap ayahnya. Ia sebenarnya takut ayahnya marah. Dan ia tak ingin melihat muka kecewa serta mendengar suara lirih ayahnya. Ia tak ingin orangtuanya kecewa padanya.

"Maafkan aku appa." Mohon Xiao Yi lirih.

"Apakah kamu diajak oleh anak sial itu?" Tanya Appa sikembar. Xiao Yi gugup mendengar pertanyaan itu. Disatu sisi ia kasihan dengan adik kembarnya dan disisi lain ia tak ingin ayahnya memarahi serta kecewa padanya. Ia mengigit bibirnya bingung dengan jawaban apa yang harus ia berikan pada ayahnya.

"Jawab saja. Jangan takut. Apa anak sial itu yang mengajak kamu bermain bola? Tanya appa sikembar sekali lagi. Dengan sedikit menaikkan nada suaranya.

"Iya Appa. Xiao Lu mengajak aku bermain. Padahal aku sudah mengatakan bahwa aku tak ingin bermain tapi ia mengatakan bahwa ia tak ingin menemaniku lagi jika aku tak ikut." Jawab Xiao Yi dengan suara bergetar. Ia akhirnya memilih berbohong. Walau hati kecilnya protes dengan apa yang ia lakukan tapi ia tak mau ayahnya kecewa padanya.

"Tenanglah, tidak apa-apa. Semua sudah teratasi." Ungkap ayahnya sambil memeluknya. Xiao Yi kembali melihat kearah pintu dimana Xiao Lu tadi berada tapi ia sudah tak melihatnya lagi. Biarlah Xiao Lu kecewa padanya asal jangan ayahnya. Tampa sepengetahuan mereka yang berada dalam ruangan itu, hal ini ternyata merubah hidup seseorang kedepannya.

Dilain tempat, Xiao Lu mendengar perkataan saudara kembarnya sungguh terkejut mendengar hal itu. Ia tak pernah menyangka bahwa Xiao Yi akan berbohong. Ia sangat kecewa saudara kembarnya tega melakukan hal itu. Selama ini ia kira Xiao Yi berbeda dengan orang tuanya tapi kejadian tadi telah meruntuhkan kepercayaannya. Ia merasa terkhianati. Raganya terasa hampa dan hatinya merasa sakit. Ia berjalan tampa tahu arah, pandangannya kosong.

Junmyeon yang berada disampingnya hanya bisa terdiam ia juga cukup terkejut mendengar pernyataan Xiao Yi. Ia juga merasa kecewa tapi ia sadar ada yang lebih kecewa. Ia mengikuti kemana Xiao Lu melangkah. Tapi saat melihat langkah sepupunya itu tak terarah ia manarik Xiao Lu menuju arah taman rumah sakit. Mereka duduk di bangku dibawah pohon ginko ang sedang berguguran. Ia melihat Xiao lu hanya terdiam dengan dengan binar mata kosong. Manik mata itu tak menunjukkan binary terangnya hanya gelap kelam tampa batas. Ia sedih melihat keadaan Xiao Lu, mengapa cobaan terus datang silih berganti kepada sepupunya.

"Mengapa?"

"Mengapa?"

"Mengapa ia melakukan itu kepadaku? Apa salahku? Mengapa ia tega sekali Junmyeon?!" ungkap Xiao Lu dengan suara yang sangat lirih. Junmyeon yang mendengar itu langsung mendekap Xiao Lu, membiarkan Xiao Lu mengeluarkan bebannya. Ia juga merasa sangat sedih dengan nasib sepupunya itu. tak terasa air matanya juga mengalir membasahi pipi putihnya.

To Be Continued

Hallo maaf baru update, terima kasih buat yang membaca dan menunggu ff ini (kalau ada, hahaha). Maaf ya, Chap ini kurang mengena di hati(lebayyy,,,,). Maaf juga jika masih banyak typo, aku udah usahain semampu aku jadi bila ada yang terlewatkan maaf ya.

8Lee JinAe : pertanyaanmu sudah mulai terjawabkan di chap ini, hehehehe, makasi ya, semangat…

Mr albino : ini udah di next, semangat ya

1Raein937: yupz, Xiao Yi itu OC, kalau penasaran tungguin aja lanjutannya ya,, semangat.

FujiwaraRara: makasi banget sarannya, aku akan lebih berusaha lagi, semangat.. hehehe

And terakhir buat Nikmah Jan2: makasi atas bantuannya.. Xie xie(kangen rusuhan kamu wkwkwk)..

Oh iya, Happy Birthday buat bias kesayanganku sang anak rusa, Little Deer, si imut yang ngegemesin LU HAN, semoga sukses selalu, makin tambah fansnya, makin disayang sama orang- orang dan apalagi ya… pokoknya semua yang terbaik.

Sampai jumpa next chapnya ya. Bye bye.