Main Cast : Kim Xiao Lu /Luhan,

Other cast : Tuan Kim Young Woon (Appa Xiao Lu, Xiao Yi)

Nyonya Kim/ Han Kyu Kyung (Eomma Xiao Lu, Xiao Yi)

Kim Xiao Yi (saudara kembar Xiao Lu) (OC)

Kim Junmyeon (sepupu / sahabat Xiao Lu)

Bibi dan Paman Choi (pengurus mansion Kim)

Cast lainnya akan bermunculan beriringan dengan berlanjutnya ff ini

Length: Chaptered

Genre : family, Crime, Friendship, sad and hurt

Summary: Hidup bagai kita bermain taruhan, antara dimakan dan dimakan, karena hidup dengan mempercayai seseorang maka engkau telah siap akan jatuh dalam kegelapan atau bahagia dalam cahaya

Rated : T

Note: Cerita ini murni dari otak milik saya. Cast beserta lainnya milik Orang tuanya saya hanya meminjam nama. Jika ada kesamaan jalan cerita, mungkin hanya kebetulan semata. Yang tidak disengaja.^_^

Happy Reading

O…O…O…O…O…O…O…O…O

Cerita sebelumnya

Xiao Lu mendengar perkataan saudara kembarnya sungguh terkejut mendengar hal itu. Ia tak pernah menyangka bahwa Xiao Yi akan berbohong. Ia sangat kecewa saudara kembarnya tega melakukan hal itu. Selama ini ia kira Xiao Yi berbeda dengan orang tuanya tapi kejadian tadi telah meruntuhkan kepercayaannya. Ia merasa terkhianati. Raganya terasa hampa dan hatinya merasa sakit. Ia berjalan tampa tahu arah, pandangannya kosong.

Junmyeon yang berada disampingnya hanya bisa terdiam ia juga cukup terkejut mendengar pernyataan Xiao Yi. Ia juga merasa kecewa tapi ia sadar ada yang lebih kecewa. Ia mengikuti kemana Xiao Lu melangkah. Tapi saat melihat langkah sepupunya itu tak terarah ia manarik Xiao Lu menuju arah taman rumah sakit. Mereka duduk di bangku dibawah pohon ginko ang sedang berguguran. Ia melihat Xiao lu hanya terdiam dengan dengan binar mata kosong. Manik mata itu tak menunjukkan binary terangnya hanya gelap kelam tampa batas. Ia sedih melihat keadaan Xiao Lu, mengapa cobaan terus datang silih berganti kepada sepupunya.

"Mengapa?"

"Mengapa?"

"Mengapa ia melakukan itu kepadaku? Apa salahku? Mengapa ia tega sekali Junmyeon?!" ungkap Xiao Lu dengan suara yang sangat lirih. Junmyeon yang mendengar itu langsung mendekap Xiao Lu, membiarkan Xiao Lu mengeluarkan bebannya. Ia juga merasa sangat sedih dengan nasib sepupunya itu. tak terasa air matanya juga mengalir membasahi pipi putihnya.

…..

Tak berapa lama ia merasakan deru nafas teratur. Xiao lu tertidur karena lelah hati. Junmyeon akhirnya membawa Xiao Lu pulang kerumahnya diantar oleh Han Ahjussi. Mereka hanya terdiam dalam mobil, sebenarnya Junmyeon ingin membawa Xiao Lu kerumahnya, tapi ia tidak ingin Xiao Lu mendapatkan masalah lagi dengan orangtuanya. Junmyeon duduk dengan kepala Xiao Lu dipahanya tertidur, sedangkan Junmyeon hanya memandang langit mendung diluar. Sesampainya dirumah Xiao Lu, junmyeon membunyikan bel, menunggu orang didalam untuk membuka pintu. Tak berapa lama pintu terbuka menampakkan Bibi Choi yang terkejut dengan situasi di depannya.

"Tuan muda Junmyeon? apa yang terjadi?" Tanya Bibi Choi khawatir. Junmyeon tersenyum dan menyapa sebentar pengurus rumah Xiao Lu.

"Anyeong Bibi Choi. Xiao Lu hanya tertidur Bibi. Nanti aku jelaskan setelah aku mengantar Xiao Lu kekamarnya dahulu. Bibi dimana Tak berapa lama ia merasakan deru nafas teratur. Xiao lu tertidur karena lelah hati. Junmyeon letak kamar Xiao Lu?' Ujar Junmyeon. Bibi Choi pun memberitahu letak kamar Tuan muda bunsunya. Setelah mengetahui letaknya Junmyeon meminta tolong kepada Han Ahjussi untuk mengantar Xiao Lu kekamarnya. Bibi Choi mengikuti mereka sampai dikamar Xiao Lu, ia ingin meminta penjelasan kepada Junmyeon mengenai hal yang menimpa Xiao Lu..

Sesampainya dikamar Xiao Lu, Paman Han meletakkan pelan-pelan tubuh Xiao Lu diatas kasur tipisnya. Setelah itu Paman Han pamit keluar dan memberitahu bahwa ia menunggu tuan mudanya di mobil. Setelah Paman Han pergi Junmyeon duduk disamping Xiao Lu sambil memakaikan selimut menutupi tubuh Xiao Lu hingga sebatas dada.

"Apa yang terjadi tuan muda Junmyeon? Kenapa tuan muda Xiao Lu bisa tertidur? Tanya Bibi Choi khawatir yang sedari tadi berdiri di belakang Junmyeon. Junmyeon mengalihkan pandangannya kepada Bibi Choi.

"Bibi tak usah khawatir, dia tidak apa-apa, hanya kelelahan." Ungkap Junmyeon. Ia tak ingin menambah beban Bibi Choi. ia tahu perempuan paruh baya dibelakangnya ini sangat menyanyangi sepupunya. Mendengar jawaban Junmyeon, Bibi Choi menghela nafas lega. ia sangat menyayangi sibungsu kembar.

"Aku pamit pulang dulu Bibi, jika ada apa-apa dengan Xiao Lu hubungi aku saja. Aku pasti akan datang, kapanpun itu." Ujar junmyeon. Sekali lagi ia melihat Xiao Lu yang tertidur dikasurnya.

"Aku akan antar sampai depan pintu tuan muda Junmyeon." Ucap Bibi Choi. Sesampainya di pintu utama Junmyeon membungkukkan badannya kepada Bibi Choi tak lupa menitip salam untuk Paman dan Bibinya (orangtua Xiao Lu) serta pada paman Choi. Bibi Choi menunggu sampai Junmyeon menaiki mobilnya dan meninggalkan mansion Kim.

Setelah mengantar tuan muda Junmyeon, istri dari kepala pelayan itu menuju kekamar Xiao Lu. ia memperhatikan tuan muda bungsunya yang tertidur dengan agak gelisah dahinya berkerut. Bibi Choi mengelus kepala tuan mudanya dengan perlahann mencoba menenangkan tuan mudanya itu. Entah sang tuan muda sedang bermimpi apa. ia kasihan dengan nasib tuan mudanya. Berangsur-angsur tidur Xiao Lu tenang. Melihat hal itu Bibi Choi kembali memperbaiki selimut Xiao Lu. dan bersiap-siap untuk membuat makan malam bagi tuan dan nyonya majikannya sekalian bubur buat Xiao Lu. karena jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.

Sekitar pukul 18.30 KST. Tuan dan Nyonya Kim pulang. Mereka pulang hanya untuk membersihkan diri dan makan malam setelah itu kerumah sakit lagi untuk menjaga Xiao Yi. Bibi Choi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka . kadang ia bertanya apa majikannya itu mengingat bahwa mereka masih mempunyai anak yang lain yang masih membutuhkan kasih sayang mereka.

Saat itu jam sudah menujukkan puluk 21.30 KST langit yang sedari sore mendung kini mulai mengeluarkan tujuannya. Hujan yang disertai suara gemuruh petir bersahut-sahutan. Mansion Kim terlihat sepi karena Tuan dan Nyonya rumah sudah berangkat kerumah sakit sedari tadi. Paman dan Bibi Choi telah beristirahat dikamarnya. Mari kita coba tengok keadaan sang bocah yang mendiami satu kamar kecil didekat dapur. Kamar itu terlihat remang dan hanya cahaya kilat yang yang terkadang meneranginya. Bocah kecil yang bernama Xiao Lu terduduk dikepala ranjangnya terdiam memandangi jendela. Tak ada binar dalam kedua netranya. Kosong dan kelam. Ia mengingat kejadian tadi sore dan semua kejadian-kejadian yang menimpanya. Rasa kecewa, marah, sedih membuat sakit dan sesak memenuhi hatinya. Untuk apa ia hidup jika tak diharapkan, dibuang dan disalahkan atas kesalahan yang bukan diperbuat olehnya. Rasa sakit dihatinya sudah mencapai puncaknya. Ia berharap agar bisa tidur selamanya agar tidak merasakan rasa sakit seperti ini lagi.

"Mengapa?" Guman Xiao Lu

" Mengapa harus aku? Guman Xiao Lu lagi

"MENGAPA HARUS AKU, ARRGGHHHH…. MENGAPA AKU YANG MENGALAMINYA…. AKU BENCI,,,,,, AKU MEMBENCI KALIAN" Xiao Lu mengeluarkan segala bebannya dengan berteriak. Ia sudah tak dapat menahan rasa sakit dihatinya lagi.

Mata yang kosong dan kelam itu sekarang berubah ada kilatan kebencian didalamnya. Bibit kebencian yang dulu tersembunyi dan tertanam jauh dihatinya kini mulai menampakkan eksistensinya dan mulai berkembang. Wajah yang dulunya terlihat sendu kini hanya menampakkan raut yang tak terbaca. Bagai makhluk tampa jiwa, tak memiliki emosi. Hujan dan suara petir menjadi saksi malam itu bagaimana hati seorang anak yang awalnya putih polos bak malaikat mulai tenoda titik hitam.

SKIP TIME

Beberapa hari kemudian Xao Yi akhirnya diijinkan pulang, setelah beberapa kali merengek meminta dipulangkan, akhirnya dokter mengijinkan dengan catatan ia diharuskan beristirahat total dirumah selama seminggu. Ia pulang di jemput oleh Tuan dan Nyonya Kim. Sesampainya dirumah ia memperhatikan suasana rumah yang sepi hanya ada Paman dan Bibi Choi yang menyambutnya sedangkan maid yang lain sedang berada di belakang melakukan aktivitasnya. Ia tidak melihat Xiao Lu, mungkin karena waktu masih menunjukkan jam sekolah jadi adik kembarnya itu pasti sedang berada disekolah. Ia merasa iri dengan Xiao Lu karena ia bisa beraktivitas tampa perlu mengkhawatirkan kondisi tubuhnya. Berbeda dengan dirinya yang harus dibatasi oleh kesehatannya.

Setelah puas memperhatikan seisi rumah yang seminggu tak dilihatnya, ia menuju kekamarnya yang berada dilantai dua. Ia ingin istirahat sampai makan malam tiba, ia merasa tubuhnya agak lelah setelah perjalanan dari rumah sakit. Sedangkan sepasang suami istri Kim setelah memastikan Xiao Yi sudah tertidur dikamarnya, mereka langsung mengerjakan aktivitas seperti biasanya. Tuan Kim menuju kekantornya untuk menghadiri rapatnya sedangkan nyonya Kim langsung menuju butiknya.

SKIP TIME

Saat waktu menunjukkan pukul 15.30 KST pintu belakang mansion yang langsung berhubungan dengan dapur terbuka menampilkan bocah dengan seragam elementary school. Sang bocah langsung menuju kamarnya. Tapi ditengah jalan menuju kamarnya, ia di hentikan oleh suara seseorang yang menanyakan kepulangannya.

"Xiao Lu, sudah pulang? Mau kusiapkan makan?" Tanya orang itu. Xiao Lu hanya menggelengkan kepalanya.

"Tidak usah Bi, Terima kasih!" Jawab Xiao Lu. ia melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya yang tepat berada disamping dapur. Seseorang itu yang ternyata Bibi Choi hanya menghela nafas pelan, dan memandang Xiao Lu dengan sendu. Sudah hampir seminggu tuan muda bungsunya itu terlihat berbeda. Xiao Lu jadi pendiam walau ia memang pendiam tapi intensitasnya makin bertambah. Biasanya Xiao Lu masih menyempatkan duduk berbincang sambil bersenda gurau dengannya saat mereka melakukan pekerjaannya didapur. Tapi sekarang jangankan berbincang, saling menyapa saja hampir tak pernah dilakukan jika ia tak memulainya duluan. Tuan Muda bungsunya itu sudah jarang sekali tersenyum. Bahkan sekarang sepertinya Xiao Lu menutup diri. Wanita paruh baya itu mengerti bagaimana perasaan Xiao Lu, tidak mungkin ada seseorang yang bisa tersenyum disaat keadaan sekelilingnya hanya ada penderitaan dimana orang tua yang harusnya menyanyangi dan mencintainya malah hanya dianggap anak pembawa sial dan tak pernah ada. Dimana rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk menenangkan diri dari segala beban hidup malah menjadi tempat yang selalu menyiksanya. Mungkin jika itu terjadi padanya ia akan memilih menjadi gelandangan diluar daripada tinggal dirumah yang terlihat indah dan mewah serasa surga diluar tapi neraka didalamnya. Tapi itulah Xiao Lu, seorang bocah kecil berumur 7 tahun yang tetap bertahan demi mendapatkan kasih sayang orangtuanya walau itu hanya sebatas memanggil namanya. Tak terasa air mata Bibi Choi menetes ikut merasakan penderitaan Tuan Muda bungsunya.

"Kasian Tuan Muda Xiao Lu, entah apa yang dipikirkan Tuan dan Nyonya yang membenci dan menyia-nyiakan anak seperti Tuan Muda Xiao Lu." ujar salah satu maid perempuan yang tiba-tiba telah herdiri disamping Bibi Choi.

"Hati-hati bicaramu Lee Seulgi, kau tidak ingin dipecatkan?" Ujar Bibi Choi sambil memandang sang maid yang bernama Seulgi itu dengan tajam.

"Mianhae Bibi, aku hanya kasian dengan Tuan Muda Xiao Lu yang diperlakukan seperti itu. Padahal ini rumah dan keluarganya tapi ia tidak mendapatkan apa yang harus sudah menjadi haknya." Ucap Seulgi lirih.

"Sebaiknya kamu pura-pura tak melihat saja, karena jika kamu ikut campur akan berbahaya bagimu dan pasti akan berimbas pada tuan muda Xiao Lu. Hanya kerjakan apa yang sudah menjadi pekerjaanmu." Ujar Bibi Choi pelan.

"Lanjutkan pekerjaanmu, dan segera bantu aku menyiapkan makan malam buat Tuan, Nyonya serta Tuan Muda Xiao Yi." Lanjut bibi Choi sambil berjalan meninggalkan Seulgi menuju meja dapur untuk menyiapkan alat-alatnya.

"Iya Bibi." Ucap Seulgi langsung menuju lemari pendingin mengambil bahan-bahan yang akan diolah untuk makan malam penghuni mansion Kim.

Sementara di dalam kamarnya Xiao Lu setelah memasuki kamarnya, ia hanya terduduk menghadap jendela, dengan mata yang memancarkan kekosongan sesuai dengan hatinya yang kosong. Berbeda dengan suasana diluar jendela kamarnya dimana langit cerah. Ia berdiam diri cukup lama hingga langit biru sudah memulai berubah warna jingga , dimana matahari mulai menuju peraduannya. Ia memperhatikan burung-burung dilangit yang mungkin pulang menuju sangkarnya setelah seharian mencarikan makan untuk anaknya yang menunggu mereka membawa makan.

"Hewan saja masih punya perasaan, tapi kenapa mereka yang seorang manusia yang lebih sempurna dari hewan bisa melakukan hal itu?" guman Xiao Lu. Tak lama kemudian ia menuju kamar mandi yang berada disebelah kamarnya. Kamar mandi itu digunakan bersama-sama dengan pembantu lainnya. Ia memasuki kamar mandi dan menyalahkan showernya, membiarkan air dingin itu menyiram kepalanya berharap dinginnya air dapat mengurangi beban yang ada dipikirannya. Ia melihat cermin yang terpasang didinding kamar mandi ia memperhatikan tubuh kurus polosnya yang ternoda dengan bekas luka yang lumayan banyak ditubuhnya, bekas 'kasih sayang mereka' padanya. Ia menelusuri jejak-jejak itu dengan jarinya setelah itu menggosoknya berharap semua tanda itu hilang, ia menggosok sampai kulitnya kemerahan tapi hal itu tak mau hilang dari tubuhnya. Ia membenci bekas luka itu.

"Arghttt,,,," ia berteriak frustasi, marah dengan semua hal ini, melihat bekas-bekas luka itu makin menambah kadar kebenciannya pada mereka. Ia menundukkan kepalanya, Ia sudah lelah dengan semuanya, ia tak mau lagi berharap untuk hal-hal yang sekarang menurutnya adalah sia-sia belaka, walau ia menangis, bahkan sampai berlutut memohon kepada mereka untuk sekedar memanggil namanya hal itu tak akan menggugah hati mereka. Hatinya sudah beku dikelilingi oleh tembok es yang sangat tebal, membuatnya tak terjangkau, kosong dan dingin.

Ia keluar kamar mandi mengenankan kaos putih polos dengan celana training hitam pudar, saat akan menuju kamarnya, tak sengaja matanya melihat Xiao Yi yang sedang minum di dapur. ia terus melanjutkan langkahnya menuju kamarnya seakan- akan Xiao Yi tak tampak oleh matanya.

"Xiao Lu!" Panggil Xiao Yi, saat melihat saudara kembarnya berjalan melewatinya.

Mendengar namanya dipanggil Xiao Lu hanya menghentikan langkahnya tampa mengalihkan tubuh dan wajahnya kearah Xiao Yi. Tetapi setelah beberapa saat ia menunggu, tak ada satupun suara Xiao Yi keluar, ia lalu melanjutkan langkahnya.

"Xiao Lu tunggu!" Ujar Xiao Yi menahan tangan Xiao Lu yang ingin meninggalkannya. Sebenarnya ia ingin minta maaf mengenai kejadian dirumah sakit. Tapi ia bingung untuk mengutarakannya. Ia tahu ia sangat bersalah pada adik kembarnya karena telah berbicara bohong pada ayahnya tapi ia tak ingin ayahnya memarahinya.

Xiao Lu memandang tangannya yang dipegang oleh Xiao Yi. Tapi tak berapa lama ia menyetak tangannya. Lalu berniat melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.

"Xiao Lu, aku minta maaf." ucap Xiao Yi lirih. Mendengar hal itu Xiao Lu hanya bisa terdiam sesaat dan tak lama tersenyum miring. Ia merasa lucu mendengar hal itu. ia tertawa mendengarnya.

"Hahahahahaha, Minta maaf?" Ujar Xiao Lu dengan tawanya yang terdengar aneh.

"Hahahhaha, minta maaf katamu?!" Ucap Xiao Lu masih dengan tawa anehnya. Tapi setelah itu ia langsung terdiam.

"Minta maaf untuk apa? kamu tidak salah." ucap Xiao Lu tenang. Mendengar hal itu Xiao Yi tersenyum. Ia mengira Xiao Lu akan marah. Tapi senyum itu tak bertahan lama karena Xiao Yi kaget dengan lanjutan kata-kata dari Xiao Lu.

"Kamu tak perlu minta maaf karena kamu memang selalu benar, dalam segala hal apapun kamu pasti benar. Hanya aku (sambil menunjuk dirinya), hanya aku yang selalu dan selalu salah." Ujar Xiao Lu datar dan dingin dengan wajah tampa ekspresinya.

"Apapun yang terjadi, Mereka pasti akan membenarkanmu. Walau itu jelas-jelas salah. Sedangkan aku, apapun yang terjadi selalu salah, karena aku hanyalah anak pembawa sial dalam keluarga ini". Xiao Lu berbicara dengan nada dingin dan datarnya. Xiao Yi melihat wajah saudara kembarnya dengan lekat. Ia terhenyak melihat tatapan yang dilayangkan Xiao Lu kepadanya. Mata itu, mata itu memancarkan kilat kebencian yang mendalam. Xiao Lu kemudian mendekatkan mulutnya ketelinga sang kakak sulung. Berbisik Ditelinganya.

"Oh iya aku ucapkan selamat karena kamu telah membuatku sangat membencimu." Ujar Xiao Lu sangat pelan tapi Xiao Yi masih bisa mendengarnya.

"Kuharap kau jangan mempedulikan aku lagi. Jadi anggap saja aku tak tak pernah ada sama seperti mereka. Karena bagiku sekarang kau adalah orang asing Tuan Muda Xiao Yi". Ucap Xiao Lu pelan namun dingin.

Kata- kata itu pelan tapi entah mengapa Xiao Yi merasakan ada pisau yang merobek jantungnya ketika mendengar hal itu. Ia tak menyangka Xiao Lu akan mengatakan hal itu.

Melihat keterdiaman saudara kembarnya, Xiao Lu meninggalkannya menuju kamarnya. Ia berjalan dengan wajah yang tak menunjukkan ekspresinya. Memasuki kamarnya dan melakukan aktivitasnya memandangi langit hingga lelap menyapanya berharap esok lebih baik.

Ditinggalkan sendiri setelah mendengar hal yang menyakitkan dari saudara kembarnya, membuat ia hanya bisa terbungkam dengan pikiran yang kosong. Hingga tak terasa liquid bening mengalir dipipi Xiao Yi.

"Maafkan aku Xiao Lu." Guman Xiao Yi lirih.

To Be Continued

Hallo ketemu lagi dengan ff ini. Terima kasih buat yang masih membaca dan apalgi menunggu ff absurd ini..

Mian typo masih banyak. Sekali lagi maaf..

Maaf tidak sempat balas reviewnya. Tapi jangan pernah kapok review ya, karena review kalian buat aku semangat untuk lanjutin ff ini. Hehhehehe

Ya udah, sampai jumpa next chapnya, sayang selalu,.

Paipai..