Defluentibus Foliis

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : Shikamaru N X Hinata H

Genre : Romance

Warning : Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya,

Chap X

Dunia pun seakan bersikap tidak perduli

Tentang perasaanku padanya

Aku jelas ingin memiliki nya

Tapi untuk diriku sendiri…

Taman Konoha

Sesuai yang Hinata katakan, dia akan menemuiku disini tepat jam 10 pagi, dan demi bertemu Hinata… aku yang biasanya selalu datang terlambat untuk setiap pertemuan kali ini aku bertindak lagi-lagi mengabaikan logika.

Baru jam 08.00 Pagi, dan aku sudah stay duduk dibangku taman, aku yang selalu malas bangun entah kenapa pagi tadi mendadak jadi pemuda yang rajin, Kami-sama… kali ini saja bantu aku untuk menormalkan detak jantungku jika berdekatan dengan Hinata, sangat tidak elit jika nanti aku duduk berdua dengannya dan dia mendengar setiap detakan jantungku yang bekerja lebih cepat jika bersamanya. Mondokusai ne…

Naruto, bantu aku…

Lagi dan lagi aku lirik jam tangan yang ada dipergelangan kiri, ini masih jam 09.00 lewat, sigh. Aku duduk bersandar, mataku lurus menatap langit… benar-benar musim panas… awan bahkan tidak bersedia menemani biru nya langit, kedua tanganku kulipat dibelakang kepala dan kujadikan sandaran pada bangku taman ini, mataku perlahan tertutup… pikiranku terbang entah kemana… sampai ketika ingatkanku kembali pada 6 bulan yang lalu, beberapa jam sebelum Naruto menghembuskan nafas terakhirnya, saat Naruto masih bisa bernafas dan dengan bodohnya dia menceritakan segala hal yang disukai dan dibenci Hinata padaku, waktu demi waktu aku hanya bisa menunduk dan menemaninya di kamar rumah sakit.

Dalam ruangan itu, ada aku yang terus menerus menunduk dan tidak bisa melakukan apapun, Minato-Ojisan, Tou-san, Ka-san yang terus menerus menangis dan memohon pada Naruto untuk berhenti berbicara, tapi Naruto bebal… dia terus berbicara bahkan dengan terbata-bata, dia bahkan melepas semua peralatan medis yang tadinya terpasang di sekujur tubuhnya, menceritakan semua hal tentang Hinata, apa yang Hinata suka, apa yang Hinata benci aktivias apa yang biasa dilakukan Hinata dari pagi sampai malam, hal-hal yang bisa membuat Hinata merona… segala hal… segala hal tentang Hinata dia ceritakan tanpa henti, sapphire nya menyiratkan kesakitan tapi dia mengabaikannya dan terus menerus hingga berjam-jam menceritakan tentang Hinata padaku dihadapan kami.

Sapphire nya terus memutih, dia terus menerus menahan batuk dan memukul-mukul dadanya untuk mengurangi sakit, darah jelas terlihat mengalir dari hidungnya… Ka-san ku memekik melihatnya… dia menangis dan berusaha menggapai sang putra Uzumaki tapi Naruto lagi-lagi menolak.

"Tolong jangan potong perkataanku ! Ini penting oba-san, hanya ini yang terbaik yang bisa aku lakukan !"

Sampai dia menemui akhirnya,

"Aku titip Hinata ku padamu Shikamaru… "

Lalu, bagaimana caranya menjaga Hinata, Naruto ? jika didekatnya saja aku sudah tidak bisa befikir dengan jernih ?

Mengingat Naruto, mau tidak mau membuat mataku memanas. Ini menyedihkan, jika melihat siapa aku sebenarnya… rasanya aku ingin membuang semua piala, piagam, sertifikat, mendali yang sudah aku dapat selama ini karena kemampuan ku dalam meracik obat atau menemukan komposisi terbaru dalam dunia farmasi semua percuma… aku merasa ilmu yang aku punya tidak berguna sama sekali, bahkan untuk membuat obat pengurang rasa sakit saja untuk Naruto aku tidak bisa !

Naruto, Gomenasai… aku benar-benar tidak berguna.

"Nara-san ?" Bagai melodi dalam setiap lantunan lagu klasik, suara Hinata… tanpa membuka mata pun aku tahu ini suaranya.

Perlahan aku membuka retina mataku, samar bayangan Hinata yang tertangkap lengkap dengan senyumnya, ah… andaikan saja jika setiap aku membuka mata… dia yang selalu pertama kali terlihat oleh mata. "Hn." respon ku setenang mungkin.

"Gomenne, Nara-san… kau sudah lama menunggu ?" Tanya Hinata dengan raut wajah penuh permintaan maaf.

Nara-san ? tanya ku pada diri sendiri. "Ehmm… " sambil sedikit berdeham, aku rapihkan posisi duduk ku, "Nara-san ?" tanyaku padanya… "Kau lupa perjanjiannya Hinata-chan?" sambungku sambil terus menatapnya tajam.

Hinata merona, merah dipipinya jelas terlihat, oh Kami-sama itu bahkan membuatnya jauh lebih cantik, aku perhatikan dia dari bawah ke atas, Hinata menggunakan flat shoes merah marun, dipadukan dengan simple dress lengan pendek berwarna putih dengan aksen bordiran bunga di sekeliling sisinya, dan tas laptop berwarna hitam yang dia gengam di depan dadanya, rambutnya digelung rapi dengan hiasan jepit di tengahnya. Demi apapun, Hinata sangat sempurna.

"A-ano, gomenne S-Shika-kun." ucap Hinata gugup.

"Hahahahaha Daijobu Hinata-chan, aku hanya bercanda tadi." sambungku.

"Shika-kun sudah lama menunggu ?"

"Hn, tidak baru saja." Jawabku berbohong.

"Aah… souka." ucap Hinata sambil mengangguk.

"Baiklah, apa yang harus kita bicarakan hari ini ?" tanyaku lagi, mataku tidak bisa lepas dari pipi gembilnya yang merona.

Hinata tersenyum, matanya menyipit karena senyumnya, dia lalu berdiri dan menarik tangan kananku.

Kami-sama !

Hinata apa yang kau lakukan ?! jeritku dalam hati.

Tangannya yang lembut jelas menyentuh kulitku, memberikan rangsangan pada setiap sel darah untuk mengalir ke inti jantungku lebih cepat. Dan aku hanya bisa mendongak melihatnya berdiri.

"Kita akan ke Universitas ku Shika-kun, semua panitia berkumpul disana, ayo cepat… nanti kita terlambat." Ucap Hinata sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

Kami-sama, aku merasa melayang… tubuhku rasanya seringan kapas. Aku hanya menganguk dan ikut berjalan di belakangnya. Ini bukan mimpi kan ? Hinata yang mengengam tanganku dan berjalan tepat di depanku… lavender yang menguar dari tubunya jelas terasa olehku yang tepat berjalan di belakangnya. Jika pun ini mimpi, siapapun tolong jangan bangunkan aku.


Ada sekitar 30 panitia yang mungkin sebagian berasal dari Universitas ku, aku tidak ingat namanya, tapi wajah mereka jelas familiar.

Aku merasa canggung berada disana, dan mereka terus menerus menatapku, apalagi yang bergender wanita, terus menerus menatapku seolah aku ini mangsa yang akan hilang jika mereka melepaskan pandangannya sebentar saja dariku. Jelas, sejak dulupun aku tidak suka pada atensi yang berlebihan seperti ini.

Sampai ketika, Seorang pemuda berwajah datar dengan tato kanji di keningnya dan rambut berwarna merah mencolok masuk kedalam ruangan rapat dan mengubah semua antensi yang tadinya di berikan padaku beralih padanya.

Hn, mungkin dia ketua panitianya… ucapku dalam hati.

"Ohayo Mina, aku Sabaku Gaara, pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya pada Shikamaru Nara yang sudah bersedia menjadi pembicara di event ini." Ucapnya kemudian sambil membungkukan badannya padaku,.

Akupun membungkukan sedikit kepala tanda responku padanya.

"Aku yakin, dengan ikut sertanya Nara-san dalam event ini akan membuat event ini jauh lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya, maka dari itu mohon kerjasamanya dari kalian semua." Ucapnya lantang mengawali pembukaan rapat kali ini.

Dan aku pun hanya bisa menguap, mendengarkan orang lain berbicara panjang lebar dengan bahasa formal, selalu membuatku mengantuk itu sebabnya aku tidak pernah mengikuti seminar atau apapun itu.

Dan saat ini aku harus menjadi pembicara didepan ribuan mahasiswa, entah jadi apa acara itu nanti, jika bukan karena Hinata, jelas aku tidak akan bersedia.

Aku berkali-kali menguap, sedangkan Sabaku Gaara terus menerus berbicara ini itu mengenai rundown acara.

Tanpa sadar saat aku sedang menguap, Hinata yang duduk tepat didepanku melihatnya. Dia menutup mulutnya, menahan tawanya karena melihat ku terus menerus menguap. Ah sial ! Dan aku hanya bisa menundukkan wajahku serta menggaruk tengkukku. Entah sudah semerah apa muka ku saat ini.

-Defluentibus Foliis-

Taman belakang Universitas ini ternyata lebih luas dari halaman depan gedung Universitas nya, tapi sayangnya tidak begitu banyak pohon-pohon besar yang bisa dijadikan tempat meneduh seperti taman belakang Universitas yang aku punya.

Setelah hampir 2 jam rapat pun selesai, Hinata mengajakku untuk makan siang di kantin universitasnya, tempatnya juga lumayan… tidak jauh berbeda dengan kantin universitas ku, mungkin bedanya disini… pilihan makanannya jauh lebih banyak. Kami makan dan duduk di sudut ruangan disebelah jendela besar yang terbuka sepenuhnya, udara yang masuk sedikit membuat pikiranku teras sejuk, sebelumnya dia yang membawakan 2 porsi kare untukku dan Hinata sendiri.

"Hinata-chan …" ucapku datar

"Na-ni ?" Jawabnya sambil mengelap ujung bibirnya menggunakan tissue.

"Apa tidak ada tempat lain untuk makan selain di kantin ini ?" Tanyaku padanya

Dia menaruh sendok yang dia genggam lalu dia balik bertanya padaku. "Apakah kau tidak suka dengan makanannya Shika-kun ?"

"Bu-bukan… !" Jawabku gugup, jelas… bagaimana aku tidak gugup, Hinata menatapku dengan tatapan seperti itu, amethyst nya menyiratkan perasaan bersalah.

"Lalu ?" Tanyanya ragu

"I-ini… aku hanya tidak terbiasa, ya… kau tahu kan… " ucapku terbata sambil perlahan memijat pelipis ku. "Me-mereka… " Ucapku kemudian.

Hinata mengikuti arah pandang mataku yang tertuju pada segerombolan gadis-gadis yang sedari tadi terus menatapku sambil berbisik-bisik dengan teman-temannya.

Lantas, Hinata menoleh kearahku dan tersenyum.

Deg

Senyum Hinata seakan membawaku ke dimensi lain, dalam kilatan monokrom cahaya yang indah.

Oh- Kami-sama sampai kapan aku akan bersikap seperti ini jika melihat senyumnya ? Senyumnya memang menenangkan tapi jelas membawa perasaan luka untukku.

"Aku tidak berbohong kan ? Shika-kun memang punya banyak fans bahkan di Universitasku, Shika-kun tahu… saat aku bilang pada Gaara-san, kau bersedia menjadi pembicara satu universitas ini mendadak heboh, banyak perempuan yang mendaftarkan diri untuk jadi panitia di acara ini."

Aku hanya tertawa garing mendengar penuturannya "Ahahahaha, begitukah ?"

"Aku serius, bahkan Gaara-san dan yang lainnya sampai kewalahan menolak permintaan dari mereka, bahkan hari ini saja banyak yang sudah memesan tiket dan memaksa untuk membeli tiket untuk acara nanti, padahal tiketnya saja belum selesai di cetak… Hihihihi… ." Ucap Hinata lengkap dengan tawa lembutnya.

Aku terpaku melihat ekpresi di wajah Hinata, dia bisa tertawa begitu lepas, apa mungkin dia sudah bisa mengatasi luka kehilangannya 6 bulan yang lalu. Semoga saja begitu, karena aku hanya ingin melihat ekpresi seperti ini yang tersemat dalam wajah ayu-nya.

Lalu… waktu pun berlalu.

Semakin waktu aku semakin dekat dengannya, karena alasan event tahunan ini aku jadi memiliki alasan untuk terus bersamanya, makan siang bersama Hinata, menghabiskan waktu sepanjang hari bersamanya, mengantar dia pulang ke mansionnnya. Aku yang dulu hanya bisa melihatnya dari kaca jendela kamarnya, sekarang aku bisa duduk bersamanya, mengantar dia pulang dan melihat rona di pipinya dari jarak yang begitu dekat.

Dengan begini saja, aku sudah sangat bersyukur.

Aku memang mencintai-nya, malah aku teramat mencintainya… tapi akupun sadar, bagaimana pun aku mencoba… hati Hinata sudah terlampau penuh untuk Naruto dan tak menyisakan sedikitpun tempat untukku berada di dalamnya, tapi, walaupun aku hanya berada di dekatnya dan menjaganya aku sudah sangat bahagia.

Masa pun terus berputar

Seakan tak perduli dengan setiap hal yang di laluinya… Musim panaspun mulai perlahan meninggalkan waktunya, digantikan dengan musim gugur yang sangat aku nantikan. Musim yang membuat ku bertemu dengan Hinata.

Tapi kenapa.

Di musim ini, lagi-lagi hatiku patah berkali-kali…

Tanpa sengaja aku melihatnya, duduk berdua di sebuah café bersama dengan pria bersurai merah.

Ya,

Aku melihatnya…

Hinata duduk bersama dengan seseorang yang aku tahu bernama Sabaku Gaara. Dia tersenyum manis ke arahnya, kadang sedikit tersipu dengan rona merah diwajahnya, Sabaku berengsek itu bahkan membuat Hinata tertawa dengan riangnya.

Hatiku memanas, biasanya aku selalu bisa bersikap tenang memikirkan segala hal, tapi kenapa saat ini rasanya tidak ada yang bisa aku pikirkan. Lagi dan lagi hatiku mengalahkan logika, kaki ku melangkah mendekat pada mereka, kulihat amethyst Hinata membesar jelas dia terkejut karena dengan tiba-tiba aku menarikan pergelangan tangannya dan memaksanya untuk berdiri.

-tbc-

Ah, Gomenasai minna-

Saya tidak tahu kenapa alurnya jadi aneh seperti ini

. jujur ini fict sebenarnya sudah tamat, karena sesuatu hal fict ini harus saya ketik ulang, tapi kenapa hasilnya malah seperti ini.

Gommen ne, kalau tidak sesuai dengan ekspektasi. Sekali lagi,

sankyu arigatou buat yang sudah bersedia baca.