Seven Kings and A Girl

K

Oleh : GoRA X GoHands

Seven Kings and A Girl

Oleh : Kawaihana


Aku juga bahkan tak tahu apa yang baru saja kulakukan. yang pasti kusadari, bagiku api yang dikeluarkan oleh klan merah itu, secara bertahap semakin tak terasa panas olehku. Seperti saat aku menyentuh bola api itu yang rasanya tak lebih panas dari uap nasi yang baru matang.


Chapter 20

Megumi POV

Kuroh, Raja Merah dan juga Raja Biru kini sedang melihatku dengan tatapan yang aneh. Aku sendiri tak mengerti apa yang baru saja kulakukan. Bola api sebesar itu... Apa benar aku yang menghancurkannya? Ataukah Raja biru yang melakukannya?

Sekarang aku sedang bingung sendiri sampai-sampai tak tahu apa yang harus kukatakan.

"Hal yang mengejutkan darimu rupanya belum berakhir ya" Ucap Munakata Reisi sang Raja Biru sambil memanggul seseorang yang kelihatannya anggota klan merah. Selain itu, sepertinya Raja berkaca mata itu juga sedang terluka.

Raja merah sepertinya tertarik dengan kehadiran Raja biru itu. Dia mengalihkan pandangannya yang asalnya terus melihatku dengan tatapan penasaran menjadi melihat ke arah dimana Raja biru berdiri. Entah dia tertarik pada orang yang sepertinya adalah saingannya itu ataukah bawahannya yang sedang diangkut layaknya karung itu.

Setelah mengamati sesaat, Raja biru mengatakan kalau dia yang akan mengambil alih mulai saat ini.

Memanfaatkan keadaan dimana Raja merah dan Raja biru sedang saling tertarik, Kuroh melompat ke arah dimana Shiro, Neko, dan Kukuri berada. Aku juga sebetulnya sudah bersiap lari ke arah mereka, namun lagi-lagi kerah bajuku ditaring oleh si 'rambut merah berapi mirip singa' ini. Aku semakin yakin kalau di kehidupan sebelumnya, Raja merah ini adalah seekor singa liar...

"Megumi/Megumi-chan!" Shiro, Kuroh, dan Neko menyebut namaku saat melihat aku (lagi-lagi) tertangkap.

"Lepaskan aku! Aku ini bukan kucing!" Ucapku sambil meronta berusaha melepaskan tangannya dari kerah bajuku.

"Yang tadi itu. Apa yang kau lakukan?" Raja merah itu bertanya padaku singkat. Aku yang memang tak tahu apa yang sedang terjadi, tak tahu apayang harus kuberikan sebagai jawaban. Jadi aku secara jujur mengatakan kalau aku tak tahu apa yang baru saja terjadi, tapi tentunya Raja merah tak puas dengan jawabanku itu.

"Suoh Mikoto. Lepaskan gadis itu. Dia masih berada di bawah pengawasan Scepter 4 sebelum kau membawanya kabur" Kali ini raja biru yang mengklaim kalau aku masih berada di bawah pengawasan mereka. ya, tak salah sih. Aku ada di sini kan karena dibawa kabur Raja merah ini...

Kali ini kedua raja itu saling menatap, dan rasanya ada percikan api/es yang memancar dari tatapan mereka berdua. Selama mereka saling beradu tatap, aku terus meronta namun tak ada hasil, hingga tiba-tiba Raja merah melemparku ke atas. Lemparannya lumayan tinggi hingga aku berteriak takut.

Dengan cepat, Kuroh menggunakan kekuatannya dan melompat untuk menangkapku sebelum tubuhku jatuh membentur tanah. Kali ini aku kembali berhasil kabur. Kami semua kabur meninggalkan Raja merah dan Raja biru yang sedang beradu kekuatan.

.

.

.

kami berlima berlindung di dalam salah satu bangunan sekolah yang kini kosong untuk menghindari kedua Raja yang kini sedang berseteru. Kukuri terlihat sangan lelah sekali, namun rasa curigaku padanya belum luntur. Neko mengeluh katrena kekuatannya tak berpengaruh pada mereka adn dia ingin kabur bersana Shiro selagi kedua raja itu sibuk bertarung. Yah... Aku sendiri tak menyadari kapan Neko menggunakan kekuatannya... Dan sejujurnya aku juga ingin agar masalah ini segera berakhir.

"Megumi. Apa kau benar-benar tak tahu kenapa kau bisa menghancurkan bola api sebesar itu tadi?" Kuroh bertanya dengan serius.

"Sungguh. Aku tak tahu kenapa bisa. Aku hanya... tiba-tiba tertarik dan merasa bisa menghancurkan bola api itu. bahkan... Bola api itu tak sepanas kelihatannya... menurutku..." Ucapku berusaha menjelaskan apa yang aku tahu.

Sebelum Kuroh kembali menanggapi jawabanku, tiba-tiba Kukuri menyerang Shiro dan menusuknya dengan pecahan kaca. Tak ada yang sempat menghentikan kejadian yang sama sekali tak terpikir akan terjadi itu.

Sebelum Kukuri menusuk Shiro lebih dalam, Kuroh menghentikannya dan menahannya, membuat pecahan kaca yang tadi dipegangnya terlempar. Perasaan tak enak yang sejak tadi kurasakan pada Kukuri ternyata benar. Dia bukan Kukuri yang kukenal.

Selagi Kuroh menahan Kukuri, tiba-tiba sekeliling kami berubah menjadi dunia hitam putih. Seperti semua warna selain monochrome ditolak keberadaannya.

Saat itu juga, Shiro mendadak seperti kesadarannya diambil alih. Dia masih berdiri. Masih membuka matanya. Namun tak bergerak seperti sedang shock. Saat aku menyentuh bahunya, barulah dia kembali berkedip dan memperlihatkan ekspresi kesakitan karena luka yang didapatnya.

Begitu melihat Shiro yang kesakitan, Kuroh melepaskan Kukuri dan mendekati Shiro. Begitu pula Neko.

Saat itu juga, Kukuro kabur sambil tertawa dengan gaya yang menurutku mengerikan. Dia benar-benar bukan Kukuri temanku. Hanya wujud fisiknya lah yang sama.

Aku masih terus mengkhawatirkan Shiro sehingga tak sadar kapan Kukuri pergi menghilang.

Aku mengeluarkan sapu tanagn dari saku bajuku, berniat memberikan pertolongan pertama pada Shiro. Shiro masih menutupi luka yang didapatnya dari Kukuri, jadi aku berniat mengangkat tangannya itu untuk melihat lukanya.

Namun, saat tanganku menyentuk tangannya, tiba-tiba tubuh Shiro seperti mengeluarkan cahaya putih keperakan yang agak samar. Makin lama, aura keperakan itu semakin terlihat. Aku menjauhkan tanganku karena terkejut. Setelah itu pula, Shiro bangkit dan berdiri. Wajahnya memperlihatkan ekspresi wajah yang belum pernah kulihat darinya sebelumnya.

TBC


Chapter 20 Selesai

Mohon Reviewnya ya ^_^

Salam,

Kawaihana