Disclaimer : Bukan punya saya. Kalau punya saya kapal ini sudah canon. /heh

Title : The Knight of the Night

Rating : T saja lah, untuk bahasanya.

Summary : Jika cinta itu buta, maka tidak salah bukan jika Optimus Prime dan Mikaela Barnes saling mencintai? Optimus akan melakukan apapun untuk melindungi Mikaela-nya. #MakeThemHappy

Setting : 2 tahun Setelah Transformer Dark of the Moon, beberapa tahun sebelum Transfomer: Age of Extinction.

Warning : tata bahasa kacau, OOC, dan mungkin banyak sekali tipo yang kurang berkenan.

.

.

.

"Savoy!" Terdengar suara Attinger sedang marah dari kantornya. Ia memanggil tangan kanannya, James Savoy, yang mana merupakan pemimpin salah satu tim di Cemetery Wind.

Savoy tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekat kearah Attinger dengan wajah pembunuh-berdarah-dingin yang sudah melekat didalam dirinya. Ia-beberapa tahun terakhir sejak pertarungan yang terjadi di Chicago, mendapatkan tugas untuk memburu semua transformer; terutama Autobot untuk digunakan oleh KSI. Saat ini, ia tengah mencari Optimus Prime, sang pemimpin Autobot yang berkharisma.

"Kau sudah dapat informasi tentang Prime?" Attinger bertanya kepada bawahannya.

"Belum, ia hilang tanpa jejak. Aku menduga dia pasti sudah mati," jawabnya dingin, penuh dengan tekanan.

"Tidak. Jika dia mati, aku pasti sudah mendapatkan bangkainya." Savoy mengangkat kepalanya seraya Attinger menyahut perkataan Savoy sebelumnya. "Aku harus mendapatkan dia, atau client ku tidak akan memberikan Seed untuk Galvatron," ia menyambung, sedikit cemas.

Savoy menyeringai, lalu bertanya, "bagaimana dengan anak itu? Witwicky."

Attinger menggeleng. "Witwicky tidak menyembunyikan apapun kecuali Camaro tua. Kupikir Camaro itu adalah Bumblebee, tapi ternyata itu hanya mobil rongsokan biasa."

"Lalu kau sudah menelusuri kekasihnya? Dia terlibat saat pertarungan di Chicago," tangkas Savoy. Ia adalah orang kepercayaan Attinger.

"Sama saja, tidak ada tanda-tanda Prime." Attinger menegaskan, walaupun nadanya agak frustasi.

"Lalu, kenapa kau tidak membunuh Witwicky dan pacarnya itu?"

"Savoy, dia mempunyai banyak informasi yang bisa kita berikan kepada klien kita. Aku tidak akan membiarkan informasi itu sia-sia dengan terbunuhnya Witwicky itu," Attinger menegaskan, sementara Savoy hanya mengangguk saja, belum memutuskan apa yang akan ia katakan.

Savoy menarik nafas panjang, lalu menyilangkan kedua tangannya setinggi dada dan berkata, "Baiklah. Itu berarti tinggal satu orang lagi." Attinger mendengar Savoy berkilah lagi, seakan-akan baru mengucapkan kalimat yang paling ingin didengar oleh Attinger.

"Kau tahu orangnya?" Attinger bertanya, namun Savoy hanya diam dengan seringainya, pertanda ia tahu. "Kalau begitu, cari dia. Dan ingat, jangan tinggalkan saksi," tambahnya dengan kilatan senang diwajahnya.

"Dengan senang hati," jawabnya dingin. Matanya terbakar semangat untuk berburu. Ia mencintai pekerjaannya, sungguh. Kau tidak akan mendapatkan pekerjaan memburu alien di tempat lain.

Attinger mengangguk, melihat Savoy melangkah keluar. Laki-laki itu memerintahkan bawahannya untuk segera bersiap, dan mengikutinya ke suatu tempat. Tempat yang menurut Savoy merupakan tempat dimana Optimus Prime bersembunyi selama ini.

-ooOOoo-

Nampaknya, akhir pekan yang melelahkan sudah menjadi semacam kebiasaan dari Mikaela Barnes sejak 2 tahun terakhir ini. Sejak ia putus dengan Sam Witwicky beberapa saat setelah pertarungan di Mesir, Mikaela pindah dari Los Angeles menuju San Diego. Ia meninggalkan ayahnya karena ia ingin hidup mandiri, tanpa merepotkan sang ayah. Selain itu, ia juga sedang ingin memulai hidup baru, hidup dimana ia bisa menjadi dirinya sendiri dengan pekerjaan berbau otomotif yang ia cintai. Tenang, tanpa Sam ataupun teman-teman aliennya. Sam sudah memulai hidup barunya dengan Carly, rumornya mereka sudah bertunangan sesudah kejadian Chicago, dan Bumblebee sebagai saksinya.

Sementara Mikaela, ia masih sendirian. Ia sudah menemukan pengganti Sam, karena hatinya telah direbut oleh dia yang lain. Yah, walaupun faktanya ia mungkin tidak akan bertemu dengan cintanya itu lagi. Bagaimanapun menurut Mikaela, hidupnya sudah jauh lebih tenang. Pemilik bengkel ditempat ia bekerja memberinya upah cukup besar daripada saat ia bekerja di Los Angeles dulu. Yang amat disayangkan adalah, ia cukup banyak omong dan sangat-sangat bossy. Dan dua hal ini kadang membuat Mikaela ingin pindah,walaupun ia tidak benar-benar melakukannya.

"Barnes, bisa kau tinggal untuk malam ini? Aku harus pergi ke Manhattan untuk membeli beberapa spare-part," sang bos berkata.

Mikaela berhenti mengelas mobil Ford tua, membuka pelindung wajahnya dan mematikan api biru yang bisa melelehkan logam itu. Ia berdiri, dan melihat kearah bos-nya. "Kau menyuruhku tinggal lagi?" Mikaela protes lagi.

Bosnya mengangkat bahu, lalu menjawab dengan malas. "Yah, kau tahu pelanggan dari Michigan itu ingin Ford-nya segera diselesaikan minggu ini. Jadi kupikir akan lebih baik kau tinggal disini untuk malam ini, dan membantuku menyelesaikan beberapa bagian di dashboard nya."

"Aku ada janji dengan teman malam ini, sir," Mikaela membantah-berbohong. Ia tidak punya janji dengan siapapun, karena satu-satunya janji yang ia miliki adalah dengan ranjangnya, dan tidur dengan damai. Sendirian.

Sang bos terkekeh. "Kau tidak punya teman selain mobil-mobil rongsokan itu. Jadi, sebaiknya kau membantuku atau gajimu akan kupotong." Mikaela hampir mengumpat saat bos-nya mulai mengancamnya lagi.

"Fine." Gadis berambut hitam itu menyerah, tidak ingin berargumen lagi. Lantas, ia bertanya, "yang lain akan tinggal, kan?"

"Tidak, mereka akan ikut denganku. Ini adalah distribusi besar-besaran, aku tidak bisa menanganinya sendiri."

Mikaela menyeringai, lalu mengangguk. "Bagus, sendirian bersama mesin. Just like the old days," ia bergumam kepada dirinya sendiri.

Mikaela teringat saat-saat paling mengesankan dalam hidupnya dimana ia ikut bertarung bersama Sam dan para Autobot melawan Decepticon. Rasanya sulit saat harus melupakan itu semua-kenangan-kenangan indah itu. Ia teringat betul bagaimana rasanya melihat robot-robot raksasa itu datang. Ia juga ingat betul bagaimana rasanya jantung yang berdegup dengan keras karena hampir mati terjatuh dari ketinggian sekian kaki.

Ia juga ingat betul betapa indahnya mata yang dimiliki oleh dia. Bagaimana senyumnya yang jarang sekali terjadi menghantui pikirannya, dan juga suara berat nan dalam yang terus bergema didalam kepalanya seperti sebuah melodi yang indah. Dan ini adalah perasaan teraneh yang pernah ia miliki selama puluhan tahun ia hidup. Lebih aneh dari perasaan aneh yang ia miliki kepada Sam Witwicky, laki-laki yang juga aneh.

Ia ingat betul bagaimana perasaannya terhadap alien robot itu.

Terhadap sang pemimpin Autobot, Optimus Prime.

"Mikaela?" Bosnya memanggil lagi, kali ini disertai tangannya yang melambai-lambai didepan wajah Mikaela yang baru saja melamun. Ah, ya tepat sekali. Ia sedang melamun tentang Optimus Prime yang tampan itu.

"Oh." Mikaela secara reflek langsung bersuara dengan kaget. "Ada apa?"

"Kau tidak menolak, kan?" Bos-nya bertanya lagi.

Mikaela belum menjawab, ia hanya mendesah dengan keras seakan-akan banyak sekali uap air yang keluar. "Ugh, baiklah-baiklah aku akan lembur lagi malam ini. Tapi dengan satu syarat," ia berkata, namun belum selesai.

"Apa?"

"Bawakan aku dua kotak pizza." Ia menjawab dengan sarkasme.

"Kuberikan tiga kotak pizza." Bos-nya berkata, lalu melihat Mikaela tertawa dengan kemenangan diwajahnya. "Aku akan pergi dulu. Ayo, Murph, Jack!" Sambungnya.

"Aye aye, sir!" Mereka berteriak bersamaan, kemudian mengikuti sang bos untuk keluar dari bengkel tempat ia bekerja.

Disaat mereka sudah menaiki truk mobil semi-truck itu mulai berangkat dan berjalan menjauh dari bengkel. Mikaela menghela nafas, lalu berbalik menuju tempat ia berada sebelumnya. Seperti yang diperintahkan oleh bos-nya, ia akan menyelesaikan mobil Ford yang belum sempat ia las pintunya. Jadi dapat dipastikan, ia akan duduk disana selama beberapa jam sampai mobil itu terlihat seperti baru. Atau ia bisa menyelesaikan bagian mudahnya, seperti membenarkan radiatornya.

Ia membuka bumper mobil Ford keluaran 99 itu dengan kedua tangannya. Melihat mesin yang masih baik meskipun harus diperbaiki di beberapa bagian. Ia mengerang lagi begitu teringat jika obeng bintang yang digunakan untuk membuka mobil itu tertinggal di mobil bututnya. Jelas ini membuat Mikaela langsung bergegas ke mobilnya, lalu menyelesaikan pekerjaannya dan bersantai setelahnya.

Malam ini begitu dingin, membuat gadis muda ini menggunakan jaket yang agak tebal. Angin malam bergerak masuk melalui pintu geser yang merupakan pintu masuk. Bintang-bintang bertaburan diangkasa, berkelap-kelip seakan-akan memberikan kode morse kepada siapapun yang melihatnya. Ia pernah melewati malam yang dingin seperti ini sebelumnya, hanya saja malam ini ia melewati malam ini sendirian. Hanya dirinya, dan dirinya. Cukup menyedihkan, seperti kehidupan cintanya.

Mikaela masuk kedalam mobilnya, mengambil peralatan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tangannya meraba-raba dasboard, lalu menarik sesuatu yang ia sentuh. Rasanya tidak seperti obeng ataupun peralatan bengkel, namun lebih seperti benda digital berbentuk segi empat. Lantas, Mikaela menariknya keluar.

Itu adalah kamera digital yang ia ambil sesaat sebelum dirinya menjadi buronan oleh FBI. Awalnya ia akan menggunakan itu untuk memotret mobil-mobil di pameran otomotif Los Angeles, namun semuanya berubah ketika Megatron menyerang. Hanya Optimus yang dapat menghentikannya, namun saat dibutuhkan ia menghilang.

Bagus, sekarang malah terdengar seperti cerita tentang bocah pengendali udara.

Mikaela memencet tombol power, dan melihat-lihat apa isi dari kamera itu. Ia sudah agak-agak lupa.

Foto pertama adalah ketika ia sedang berfoto bersama Sam. Laki-laki itu tersenyum dengan polos, dan dia nampak berusaha mengalihkan lensa kamera menjauh karena wajahnya terlihat kotor. Lalu yang kedua adalah fotonya, sedang sedang makan malam, diambil oleh Sam. Dan foto yang ketiga adalah yang paling membuat hatinya mencelos. Ia melihat foto dirinya bersama Optimus, dimana robot itu nampak sedang tersenyum saat berbicara kepada Mikaela. Ia ingat betul jika saat itu dirinya sedang duduk tidak jauh dari robot alfa itu, ia menceritakan masa-masa damai di Cybertron. Dan lagi, foto itu diambil oleh Sam secara dadakan, hingga memberikan kesan seperti senyuman alami tanpa drekayasa.

Namun senyuman yang jarang itu, membuat hati Mikaela bergetar lagi. Betapa dirinya merindukan Optimus Prime saat ini.

"Aku akan mencetak ini nanti." Ia tersenyum seraya menaruh kamera itu di kantongnya.

Jika boleh berkata, Mikaela berharap untuk bertemu Optimus lagi. Yah, tidak ada maksud untuk terlibat pertempuran yang melelahkan lagi, namun lebih karena ingin sekadar berbicara dengannya. Ia juga khawatir tentang Optimus, karena rumor yang beredar mengatakan jika ada organisasi khusus yang dibuat untuk memburu robot-robot itu, dan mengincar Optimus Prime. Dan jelas hal ini menarik perhatiannya, meskipun ia sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka.

"Mikaela Barnes," seseorang memanggilnya. Ia bisa merasakan sebuah benda metal dingin dikepalanya, tengahnya berlubang. Ia menduga, itu adalah pistol. "Mantan kekasih Sam Witwicky, dua kali terlibat pertarungan bersama Autobot, benar?" pria itu bersuara, sementara Mikaela masih menahan nafasnya.

"Oh ini buruk."

Mikaela mengangkat kedua tangannya sejajardengan kepala, lalu berputar secara perlahan untuk melihat siapa tamu tidak diundang ini. Ketika ia berbalik, ia melihat seorang pria dengan dengan kepala plontos, ditambah dengan seringai yang mematikan. Ia mengenakan pakaian serba hitam, menunjukkan lencana Cemetery Wind. Dibelakangnya terdapat dua orang bersenjata lengkap, siap memberinya headshot kapan saja.

"Siapa kau? Ada apa kau kemari?" Mikaela dengan berani bertanya, situasi semacam ini sudah semancam kebiasaan. Ia tidak terlihat takut sama sekali. Ia pernah hampir mati ditangan Decepticon, lalu kenapa ia harus takut dengan manusia?

"James Savoy, dari Cemetery Wind. Aku datang mencari truk itu, dimana dia?" ia langsung berbicara to-the-pont, tanpa titik maupun koma.

"Truk apa?" Mikaela mengerutkan keningnya, ia memang tidak tahu apa-apa tentang truk.

"Prime. Dimana dia?" Ia mengulangi pertanyaan lagi.

Ah, sudah Mikaela duga. Ia tahu jika cepat atau lambat Cemetery Wind akan mencarinya, dan memaksa memberi tahu keberadaan Optimus. Well, tidak secepat ini. Tapi ia mempunyai rencana cadangan jika sewaktu-waktu mereka datang mencari Mikaela. Ia sudah mempersiapkan separuhnya, cukup memberikan waktu dirinya beberapa detik untuk terlepas dari Cemetery Wind.

Faktanya, Mikaela tidak tahu dimana Optimus Prime ataupun Autobot yang lainnya. Ia sudah bertahun-tahun tidak melihat maupun bertemu secara langsung dengan mereka. Hal terakhir yang ia dengar hanyalah Optimus terluka berat akibat beberapa jebakan yang dipasang oleh manusia. Itu saja. Tapi ia mungkin mempunyai informasi yang berguna untuk KSI atau Cemetery Wind, dan ia yakin apapun yang dilakukan oleh KSI ataupun Cemetery Wind bukanlah hal yang benar.

"Aku tidak tahu apa-apa tentang Prime." Mikaela menjawab, mencoba terlihat setenang mungkin.

"Benarkah?" Savoy berkata, lalu menarik kokang pistol Glock hitam itu. "Sekarang, dimana dia?"

"Kalian semua, geledah tempat ini!" Pekiknya.

"Aku bersumpah, aku tidak tahu!" Mikaela berkata jujur, mengetahui mungkin pria ini tidak akan membiarkannya hidup.

"Katakan!" Savoy berteriak, menekankan pistolnya dikening Mikaela.

"I have no fucking idea!" Mikaela balik berteriak.

Savoy menamparnya, membuat Mikaela terhempas menghantam mobilnya sendiri. kepalanya membentur setir lumayan keras, cukup untuk membuatnya merasa pusing. Namun Savoy tidak berhenti sampai disitu, ia menarik Mikaela lagi dengan cara menjambak rambutnya yang panjang dengan kasar. Bukan tindakan yang bagus kepada seorang wanita.

"DIMANA DIA?" Ia berteriak, tepat disamping telinga Mikaela. Pistol itu kali ini berada di dagu Mikaela. Savoy sudah siap untuk menembaknya kapan saja.

"Bahkan jika aku tahu, aku tidak akan memberit tahumu, you filthy old di-k!" Mikaela mengumpat, membuat Savoy menjadi marah. Dengan demikian, Savoy menyimpulkan jika Mikaela mengetahui keberadaan Optimus Prime.

Savoy menamparnya lagi lebih keras. Mikaela berhasil mendarat tidak jauh di depan serbuk besi, ia mencakupnya lalu melemparkannya tepat diwajah Savoy. Laki-laki paruh baya itu langsung berteriak kesakitan, dan berjalan oling untuk mencari air atau semacamnya demi membersihkan wajahnya. Orang-orangnya yang mendengar teriakan Savoy langsung menghampirinya, dan menerima perintah untuk mengejar Mikaela.

Mikaela yang sudah terbebas dari pandangan Savoy langsung masuk kedalam mobilnya, menyalakan starter dan mulai menjauh secepat yang ia bisa. Ia samar-samar bisa mendengar Savoy memerintah orang-orangnya untuk mengejar Mikaela yang sudah mengemudi menjauh dari bengkel tempat ia bekerja. Ia menarik tuas gear, lalu menginjak gas lebih dalam lagi. Ia tidak punya rencana untuk tertangkap dan mengulangi cerita lama.

"Tembak!" Savoy memerintah, seraya menuangkan air kewajahnya. Matanya memerah seperti orang kesurupan.

"Dammit!" Ia mengumpat lagi.

Jalanan tempat Mikaela bekerja sangat sepi, karena ini bukanlah di perkotaan pusat. Kalaupun sedang ramai, tidak akan sampai menyebabkan macet. Paling parah mungkin hanya seperti saat mobil berhenti di lampu merah, kemudian berjalan lagi seperti biasa.

Suara tembakan senjata M4A1 terdengar diudara, membuat beberapa orang yang tengah melintas langsung tiarap. Beberapa diantaranya langsung bersembunyi diruangan terdekat. Mereka tidak tahu jika ini adalah operasi berburu Optimus Prime. Peluru-peluru tajam itu menembus kaca belakang mobil Mikaela, hingga tembus kedepan. Beberapa kursi jok mobil ikut tergores.

"Son of a bitch!" Mikaela mengumpat, lalu membanting setir kekanan.

Ia masih dikejar oleh orang-orang Savoy, dan ini bukan zona aman tembakan. Karena jarak mereka sangat dekat. Mobil yang digunakan Cemetery Wind jelas lebih cepat daripada mobil tua yang digunakan Mikaela saat ini. Suara tembakan itu masih berbunyi, Mikaela semakin menunduk, tidak mau menerima resiko jika ia akan terkena headshot.

Mikaela membanting setir kekiri, kali ini mobilnya berjalan dengan kencang pinggiran San menoleh lagi, melihat seberapa jauh jarak yang berhasil ia buat. Namun nampaknya sopir Cemetery Wind lebih lihai daripada dirinya, jadi tidak merubah apapun selain jalan yang ia lalui didepan semakin sulit. Disebelah kanannya adalah jurang, ia harus berhati-hati.

Saat ia menoleh kembali kedepan, ia membuka matanya lebih lebar begitu melihat truk tua jelek hampir menabraknya. Reflek, Mikaela langsung membanting setir kekanan, membuatnya menabrak palang pembatas jalan dan terjun bebas menuju jurang. Pembatas jalan yang ia tabrak langsung hancur karena hantaman keras dari mobil Mikaela yang melaju dengan kencang. Dia sudah tahu bagaimana akhirnya.

Ia sekarang terjun bebas menuju jurang. Mikaela hanya bisa menutup matanya, menunggu saat-saat dimana bumper mobilnya akan menghantam tanah dengan keras. Kemungkinan selamat sangat kecil, ia tahu benar itu.

"Aku mati demi melindungi robot alien yang bahkan aku tidak tahu keberadaannya. Bagus sekali," ia membatin, merasakan momentum terakhir dalam hidupnya. "Fuck it. Inilah cinta." Ia masih membatin.

Bumper mobilnya sudah amat dekat dengan dasar jurang. Ia bisa merasakan tangannya bergetar hebat, untuk pertama kalinya Mikaela merasa sangat takut dalam hidupnya. Ia mungkin akan mati konyol. Konyol dari yang paling konyol.

Atau mati dengan dramatis sekaligus heroik dengan sebuah alasan konyol?

Fuck it.

Tiba-tiba, saat ia sudah akan membentur dasar jurang sesuatu yang besar menangkap mobilnya. Mobilnya bergerak seakan-akan sedang diangkat oleh sesuatu. Ia juga mendengar hantaman-hantaman keras sedang terjadi dibawah mobilnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, karena yang seharusnya terjadi adalah ia akan menghantam dasar jurang, meledak dan mati. Tapi kali ini tidak, ia tidak menghantam apapun. Yang ada ia malah nampak meluuncur bebas diatas sesuatu.

"Itu dia! Prime disana!" Samar-samar Mikaela mendengar Savoy memerintah.

Mikaela membuka matanya, ia melihat truk yang tadi hampir menabraknya malah menyelamatkan dirinya dari kecelakaan maut yang mematikan. Dekapan truk itu terhadap mobil Mikaela semakin erat, membuat logam-logam yang tadinya masih berbentuk simetris, menjadi penyok. Namun Mikaela masih utuh.

Mereka kemudian berguling-guling karena anak buah Savoy melemparkan RPG yang cukup untuk membuat Optimus terluka. Mikaela mencengkeram setir semakin erat, kepalanya terbentur beberapa kali meskipun sudah memasang sabuk pengaman. Mikaela setengah sadar, ia hampir pingsan karena benturan-benturan keras dikepalanya.

"Mikaela! Kau harus tetap sadar!" Optimus berteriak.

"Op...timus," ia memanggil lirih.

"Tetaplah terjaga!" Optimus berteriak.

Mikaela tidak berkata apa-apa lagi, ia tersenyum tipis lalu akhirnya tidak sadarkan diri. Optimus bisa merasakan dari sensornya jika tanda-tanda vital dari Mikaela menurun bersamaan dengan ia pingsan. Tembakan RPG dan Bazooka masih menghujani mereka. Optimus tidak punya pilihan lain, ia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan Savoy atau Mikaela akan tewas saat itu juga. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak akan membiarkan orang lain melukai Mikaela Barnes. Mikaela-nya.

Dengan terpaksa, Optimus melepaskan dua buah mortir yang berhasil meledakkan tiga mobil milik orang-orang Savoy. Dan sekarang, tembakan-tembakan itu terhenti. Mereka akhirnya berhenti disebuah dataran yang cukup jauh dari jangkauan Savoy. Optimus meletakkan mobil itu ditanah, lalu membuka kepala mobil itu dengan paksa. Optiknya melihat Mikaela tergeletak dengan kepala di atas setir.

Optimus melepaskan sabuk pengaman yang ukurannya amat sangat kecil itu dengan paksa dari Mikaela. Ia mengangkat Mikaela dari sana, lalu membaringkan Mikaela didalam dirinya yang bertransformasi di mode truk. Sensornya mengatakan, tidak ada luka eksternal atau internal yang membutuhkan perhatian khusus. Dapat dipastikan, Mikaela akan terbangun besok pagi.

TO BE CONTINUE..

A/N : Ehm, fanfiction Transformer pertama saya. Jujur saya gak terlalu paham sama dunia Transformer, tapi saya beneran jatuh cinta sama Optimus Prime. I mean, sejak saya lahir sampe besar, belum pernah lihat ada robot alien seganteng Optimus. Dan cinta itu muncul saat saya mulai ngikutin animasi seriesnya yang pernah main di TV lokal.

Setelah itu, ya ampun, saya lihat Bay verse nya di T4. OMG HE'S SO HANDSOME AF OMG OMG OMG OMG MZ PRIME QU CINTA QMU MZ

*tarik nafas*

As always, kesalahan selalu kepunyaan saya. Jika ada yang ingin disampaikan, monggo silakan jangan malu-malu. Akan saya terima dengan senang hati. Semoga ini memenuhi persyaratan yah :')

WolfShad'z xx