A/N : hai, akhirnya saya bisa update yha! Okay, pertama-tama saya mau bilang kalau saya sengaja bikin OC untuk kelancaran fic ini. bukan tokoh mayor atau main pairing, tapi sebagai pelngkap untuk konfik pada final chapter dari fic ini. Yah, selain itu saya sendiri masih bingung mau bikin sekuel atau enggak dari point of view nya Mikaela pas TF: AOE.

Terus, saya juga mau bilang kalau ini mungkin chapter terpanjang yang pernah saya buat eehehe.. so, happy reading aja deh. *ngumpet dibelakang mas Optimus*

WolfShad'z

.

..

.

Disclaimer : Bukan punya saya, ok?!

Title : The Knight of the Night

Rating : T saja lah, untuk bahasanya.

Summary : Jika cinta itu buta, maka tidak salah bukan jika Optimus Prime dan Mikaela Barnes saling mencintai? Optimus akan melakukan apapun untuk melindungi Mikaela-nya karena beda species bukan berarti mereka harus berpisah. #MakeThemHappy dan untuk Festival Fandom Barat II.

Setting : 2 tahun Setelah Transformer Dark of the Moon, beberapa tahun sebelum Transfomer: Age of Extinction.

Warning : tata bahasa kacau, OOC, dan mungkin banyak sekali tipo yang kurang berkenan.

.

.

.

Happy Reading!

Optimus berhenti didepan sebuah restoran cepat saji, dua puluh menit dari tempat mereka bersembunyi. Mikaela turun, namun meninggalkan M16A1 didalam truk, lagipula ia yakin tidak akan ada serangan dari Cemetery Wind ditempat umum seperti ini. Selain itu juga, Optimus berada diluar, dan ia tidak perlu merasa khawatir. Semua akan baik-baik saja, pikirnya. Truk itu terparkir disebelah mobil Humvee dan Ford sport besar.

Restoran cepat saji itu memiliki halaman parkir yang luas, namun tanpa adanya tenda hingga panasnya matahari pagi menjilat langsung kap-kap mobil yang mengkilat. Mikaela membenarkan pakaiannya yang berantakan, mengecek kembali apakah uang 10 dollar miliknya masih ada. Ia menganggukkan kepalanya setelah bisa memastikan uangnya berada dikantong. Namun, sebelum ia melangkah turun dari truk, ia berkata kepada Optimus. "Aku akan segera kembali, dan jangan kemana-mana," ujar Mikaela kepada Optimus.

Mikaela melangkah turun, lalu menutup pintu truk tersebut. Mikaela dapat merasakan Optimus memandanginya tatkala ia turun dengan angin sepoi-sepoi yang menerbangkan rambutnya. Dan lagi, Optimus semakin mengagumi kecantikan Mikaela Banes. Apalagi mata biru yang begitu jernih—sejernih lautan di kepulauan Karibia—memancarkan keindahan jiwanya. Selain perdamaian di dunia, memiliki Mikaela Banes adalah impian dan cita-cita yang akan ia kejar meskipun sampai keujung dunia.

"Aku tahu. Aku tidak bisa meninggalkanmu. Bisa saja Cemetery Wind berada disekitar sini," jawab Optimus, melalui radio.

Mikaela terkekeh, "aku tidak akan lama." Ia menarik nafas panjang, ekspresinya menjadi serius, agak dingin dan tidak tebaca. Sensor Optimus mengatakan jika Mikaela sedang memikirkan sesuatu. "Selain itu, aku ingin berbicara denganmu. Berdua."

Optimus baru akan memberikan tanggapan untuk ucapan Mikaela, sosok pria tua yang sejak tadi duduk tidak jauh dari mobil Humvee, menyela. Mikaela tidak menyadari kehadiran laki-laki itu sampai akhirnya ia berbicara. Dan sebaiknya mereka—Mikaela dan Optimus berharap jika pria itu tidak mendengar pembicaraan mereka.

"Apa kau berbicara dengan sebuah truk, nona?" Priaitu bertanya, mengenakan pakaian khas Texas berupa topi cowboy, rompi dan kemeja. Celana ketat dan sepatu berhak yang menutupi mata kakinya.

Baik Mikaela maupun Optimus memandang laki-laki itu. Tentu Optimus tidak bisa menjawab pertanyaan laki-laki itu, jadi ia membiarkan Mikaela yang mengatasi laki-laki tersebut. "Uh, tentu saja berbicara dengan pacarku," ujarnya tanpa berpikir.

"Oh fuck." Satu detik kemudian, Mikaela menyadari apa yang dikatakannya. Parahnya lagi, ia mengatakan itu dihadapan Optimus yang benar-benar masih dalam keadaan online. Kini Mikaela hanya bisa mengutuk dirinya sembari menahan rasa malu.

"Benarkah?" Pria itu bertanya skeptis.

"Eh..." Mikaela menjadi gugup sendiri.

"Ya. Dia berbicara denganku." Suara seseorang yang familiar terdengar ditelinga Mikaela.

Ia pun memberanikan diri untuk memandang kearah jendela truk yang perlahan-lahan terbuka. Pupil mata Mikaela membesar begitu melihat Optimus menunjukkan holoform-nya, yang kali ini si holoform menggunakan kaca mata hitam untuk menutupi mata biru yang masih berkesan seperti alien. Mikaela melihat Optimus memandangnya.

"Dia pacarmu?" Ucap si laki-laki kepada Mikaela.

Eh...semacam itu," jawab Mikaela. Ia tidak berani memandang Optimus sama sekali, yang ada ia hanya memainkan kakinya sembari mencari carauntuk kabur dari percakapan yang mengerikan itu. "Kurasa, aku harus segera membeli sesuatu sebelum tempat ini ramai," Mikaela berkata dengan cepat. Hampir sama cepatnya sampai akhirnya ia sudah tidak berada diantara Optimus dan orang asing itu.

Mata holoform Optimus mengikuti langkah kaki Mikaela yang perlahan-lahan menjauh. Ia mungkin bukan dokter dan tidak pandai menggunakan sensor untuk membaca status manusia seperti Ratchet, tapi ia bisa mendeteksi peningkatan detak jantung yang meningkat dari Mikaela. Baiklah, tidak mudah untuk menjelaskan apa yang Optimus rasakan. Tapi, sebelum mereka kehabisan waktu, Optimus harus membicarakan sesuatu yang mengganjal ini.

Optimus tidak berharap jika perasaannya akan terbalas. Tetapi setidaknya setelah ia mengatakan perasaannya nanti, dan kemudian ia tidak mempunyai kesempatan untuk melihat Mikaela seumur hidupnya, maka setidaknya ia tidak lagi memiliki beban didalam spark-nya. Optimus tidak akan lebih, karena melihat Mikaela tersenyum saja sudah membuatnya bahagia. Meskipun Optimus berpikir senyuman Mikaela tidak akan pernah menjadi miliknya.

"Dia benar-benar seksi." Sanggah laki-laki asing yang tiba-tiba membuat lamunannya buyar. Mendengar ucapan laki-laki itu, holoform Optimus melepaskan kacamata hitam yang ia kenakan. Optimus melemparkan pandangan tajam kepada laki-laki itu, seakan-akan ia tidak menyukai nada nakal yang keluar dari mulutnya saat memberikan pujian kepada Mikaela. Mata biru ke-alien-annya langsung menusuk tajam kedalam mata cokelat pria itu, membuatnya merasa tidak enak sendiri.

Optimus cemburu? Ya. Semacam itu.

Laki-laki itu menyadari pandangan tidak suka dari Optimus, lalu membuatnya mengangkat kedua tangannya setinggi dada. Ia memberikan mimik wajah yang mengatakan dirinya tidak mempunyai niat untuk menggoda pacar orang, walaupun ia memang bermaksud demikian. Ia memberikan seringai aneh dan berkata, "M-Maksudku, kau beruntung mempunyai kekasih sepertinya."

Optimus memandang Mikaela dari kejauhan lagi, dengan senyuman tipis. "Ya..." ujarnya, kemudian menutup jendea truknya tanpa mempedulikan pria asing itu. "...I wish."

Mikaela melangkah masuk, dan melihat restoran itu cukup ramai. Ia berjalan menuju meja kasir untuk memesan beberapa potong roti isi dan segelas kopi panas. Setelah ia memesan makanannya, ia memilih tempat paling dekat dari pintu masuk, yang paling pojok namun juga tidak begitu terlihat. Optimus terlihat sedang dalam mode waspada, seakan-akan siap untuk menghajar musuh yang datang tiba-tiba.

Ia sudah duduk selama beberapa menit, namun ia menyadari ada yang aneh dari pengunjung restoran cepat saji itu. Sebagian besar adalah laki-laki dengan pakaian rapi, membuat Mikaela merasa agak gugup. Bukan gugup dalam artian lain, melainkan gugup karena terlalu banyak laki-laki berjas dengan badan tegap berjas dan berkacamata. Maksudnya, apa yang dilakukan pria berjas rapi di restoran cepat saji pinggiran kota seperti ini?

Ia tidak ingin berburuk sangka, tapi ia tidak ingin mengambil resiko. Jadi Mikaela pun bangkit dari duduknya, berjalan agak cepat menuju meja kasir, mengatakan jikaia akan membungkus makanan dan minuman yang ia pesan. Mungkin Mikaela terdengar seperti gadis muda paranoid, tap lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Dua menit berlalu, hingga seorang pelayan muda seumuran dengan Mikaela mengantarkan satu bungkus burger dangin sapi, dan segelas kopi hitam panas. Mikaela meninggalkan uang 5 dollar di meja kasir, tak mengambil kembaliannya. Dengan langkah selebar mungkin, Mikaela berjalan keluar untuk kembali kedalam truk Optimus.

Ia membuka pintu, dan ternyata holoform tampan itu belum juga dihilangkan oleh Optimus. Mungkin karena masih ada laki-laki asing itu disana, jadi Optimus tidak berani mengambil resiko penyamarannya akan ketahuan. Yah, meskipun ia hanya manusia biasa, tapi ada harga yang mahal untuk kepala Optimus dari berbagai pihak. Manusia yang tidak tahu mungkin akan tergiur dengan hadiah yang ditawarkan KSI maupun Cemetery Wind, tapi beruntung sekali Mikaela sama sekali tidak tertarik dengan uang.

"Aku tidak menyangka akan secepat ini," komentar Optimus, seraya berjalan perlahan-lahan menjauh dari restoran itu.

Mikaela meletakkan kopi yang ia pesan diatas dashboard yang agak rata agar tidak tumpah. Lalu membuka bungkus burger keju yang masih hangat, mengeluarkan aroma sedap yang menggairahkan rasa lapar. "Ah, pengunjung disana mencurigakan. Aku tidak ingin mengambil resiko," jawabnya. Mikaela menawarkan burger keju itu kepada holoform Optimus, namun ia menggeleng.

Tentu saja! Transformers hanya mengkonsumsi energon.

"Itu langkah yang bagus. Apa mereka bersenjata?"

Mikaela menggeleng, mengunyah burger itu perlahan-lahan. "Aku tidak tahu. Mungkin saja mereka FBI atau CIA," jawab Mikaela. "Kita benar-benar buronan," sambungnya.

"Atau pacar," ujar Optimus.

Tunggu, apa ia mencoba bercanda atau tengah berusaha meledek Mikaela? Atau, itu hanya sebagai guyonannya agar Mikaela kembali tersipu-sipu lagi? Mikaela berhenti mengunyah makanannya, ia agak kesulitan menelannya karena ucapan Optimus membuat tenggorokan serta kalenjar ludahnya menjadi kering. Rasanya Mikaela tercekik.

"Sialan!" batinnya.

"Diamlah!" Ia menyembur, namun tidak marah sama sekali. "Hanya itu yang terlintas dibenakku," sambung Mikaela. Ia melihat kearah holoform Optimus, nampak menahan senyumnya.

Kecepatan truk Optimus bertambah, Mikaela tidak tahu kemana Optimus akan membawanya mengingat ini berlawanan dari arah tempat persembunyian awal mereka. Mikaela melihat Optimus menarik nafas panjang, lalu berbicara lagi kepada Mikaela setelah menghembuskan nafas. "Jadi, bagaimana kehidupanmu setelah peperangan di Mesir? Kita tidak pernah bertemu sejak saat itu, sampai saat ini,"

"Benar." Mikaela mengangguk, disertai senyuman yang ia tahan. Ia memandang Optimus dari ujung mata indahnya, dengan senyuman manis. "Hidupku sedikit sulit—jika harus kukatakan demikian. Aku berpisah dengan Sam, berusaha melupakan semua kegilaan yang pernah terjadi diantara kami dan memulai hidup baru." Mikaela menjelaskan, matanya menerawang jauh kedepan seakan-akan ledakan dari masalalu tergambar dengan jelas didepan mukanya. "Tapi aku tidak pernah bisa. Apalagi, Bumblebee berkunjung beberapa kali walaupun aku lebih mengharapkan kau yang datang," tambah Mikaela, mengalihkan senyumnya dari Optimus menuju kaki.

"Aku?"

"Ya. Tapi akhirnya kau datang, dan harapanku terpenuhi. Dan itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku," jawab Mikaela.

Optimus tersenyum, ia ingin menyentuh pipi Mikaela dengan tangannya. Tapi Holoform-nya belum sepenuhnya sempurna, jadi masih tidak bisa menyentuh apapun. Lantas, ia hanya tersenyum simpul. "Jadi, bagaimana kehidupanmu yang baru? Bumblebee berkata kau tidak menjalin hubungan dengan siapapun sejak berpisah dengan Sam."

Miikaela mengangkat alisnya sebelah dengan tinggi. Agak aneh mendengar Optimus berkata demikan, seakan-akan ia ingin menanyakan kehidupan percintaannya dengan cara tidak langsung. Mikaela tidak ingin berbohong, namun juga tidak ingin terlalu jujur. Jadi ia pun tersenyum. Entah senyum itu hanya untuk menutupi kegundahan hatinya, atau Mikaela benar-benar tersenyum.

"Sebenarnya, Optimus," ujar Mikaela sembari menarik nafas panjang. "Aku menemukan yang lain, yang mampu membuatku begitu jatuh cinta. Dan jujur saja, aku benar-benar ingin memilikinya. Tapi, ia pernah berkata dia bukan milik siapapun, jadi kupikir aku tidak punya hak."

"Apa dia...mempunyai perasaan yang sama denganmu?" Optimus bertanya, tanpa menyadari jika Mikaela membicarakan tentang Optimus sendiri. Bisa dibilang, Mikaela memberikan kode. Yah, kalian tahu sendiri jika kode menggunakan logika, dan logika cukup familiar dengan bahasa pemrograman, yang ada sangkut pautnya dengan robot seperti Optimus. Jadi, Mikaela jelas tahu ini mempunyai delapan puluh persen bekerja, dan bila gagal setidaknya ia punya rencana cadangan.

Mikaela mendengus dengan suara aneh, agak mengganggu. Ia menggeleng dan berkata, "aku tidak tahu. Dia mempunyai hal yang lebih penting daripada sebuah hubungan asmara." Mikaela mengangkat bahunya tinggi, lalu menurunnya dengan sebuah hembusan nafas pasrah. "Dia sosok yang fokus dengan cita-cita dan tujuannya; itu pula-lah yang membuatku semakin jatuh cinta terhadapnya. Dia punya tujuan hidup."

Optimus merasakan ada nada terbakar didalam spark-nya, seakan-akan ada kemarahan tanpa alasan. Ia merasa tidak menyukai dengan cara Mikeala menceritakan sosok 'yang lain' itu kepadanya, seakan-akan Optimus bisa mendengar kesungguhan dari setiap nada dan intonasinya. Apapun nama perasaan yang ia alami ini, ia tidak menyukainya. Ia benci cara Mikaela menyatakan kekaguman dirinya terhadap sosok ini. Satu hal yang pasti, Optimus harus tahu siapa dia.

Mikaela terus bercerita tentang sosok yang dicintainya itu, sementara Optimus hanya diam. Ia mendengarkan dengan perasaan tidak menentu, ia ingin marah tetapi tidak tahu kepada siapa ia harus marah. Ia ingin mengatakan perasaannya, tapi tidak tahu darimana ia harus memulai. Tapi Optimus tahu ia harus memanfaatkan kesempatan yang ada, sebelum ia ditikung oleh itu seseorang yang dimaksud Mikaela itu.

Optimus berhenti disebuah tebing, terdapat hamparan bukit berbatu yang indah. Diatas bukit berbatu itu, terdapat sebuah bangunan yang telah ditinggalkan, seperti sudah bertahun-tahun terbengkalai. Pemandangan yang disajikan tempat itu indah, dan nampak damai meskipun agak gersang. Bisa dikatakan, tempat itu merupakan tempat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati. Ada beberapa kaktus dan semak belukar yang tumbuh disana, menandakan tempat itu sudah ditinggalkan.

"Kenapa berhenti, Optimus? Apa ada sesuatu?"

"Aku ingin berbicara denganmu sebentar," jawab Optimus tanpa intonasi.

Optimus membiarkan Mikaela turun, kemudian ia berubah menjadi wujud aslinya. Terdapat pandangan bingung dimata Mikaela yang tidak bisa ia ungkapkan dengan mudah. Tapi Mikaela merasa, pasti Optimus merasa, mungkin, tersinggung oleh perkataannya. Atau, Optimus hanya merasa tidak menyukai cara Mikaela membicarakan sosok yang lain itu. Grrr, melawan armada Decepticons lebih mudah daripada melawan pergolakan batin.

Mikaela tidak dapat menyimpulkan lebih lanjut, tetapi ia tahu jika mungkin apapun yang dikatakan Optimus ada hubungannyya dengan perkataannya tadi. Sebaiknya, Mikaela mempersiapkan kata yang tepat untuk menjawab apapun itu. Dan mungkin ini juga saat yang tepat untuk Mikaela mengungkapkan perasaannya kepada Optimus. Harus. Bagaimanapun caranya, Mikaela tidak peduli. Ia menyimpan perasaan aneh ini terlalu lama, membuatnya merasa gila.

Tapi, langkah pertama, ia akan diam dan berpura-pura sebagai korban tidak berdosa. Ia mungkin akan bertanya beberapa pertanyaan, tapi ia akan membiarkan Optimus mendominasi pembicaraan untuk saat ini. Disamping ia tidaktahu cara memulainya, Mikaela juga harus menahan gejolak api yang terus membara didalam dirinya. Ia hanyalah manusia, tidak bisa menahan sesuatu selamanya. Ia punya batas.

"Siapa seseorang itu, Mikaela? Seberapa jauh hubungan kalian?" Tepat seperti dugaan Mikaela tanpa menambah rasa 'terlalu percaya diri' dalam dirinya.

"Seberapa hubungan kami?" Mikaela bersuara, tapi itu bukanlah pertanyaan maupun pernyataan. "Aku tidak tahu hubungan apa yang kumiliki dengannya. Sangat jauh jika dikatakan sebagai kekasih, dan perasaanku terlalu jauh untuk sekadar pertemanan. Dan tentu saja ini lebih dari sekadar kenal." Mikaela menjabarkan dengan detail, menggunakan sebuah analoginya. "Apapun yang terjadi, aku telah bersumpah untuk tidak pernah meninggalkannya, meskipun banyak perbedaan diantara kami." Mikaela mempertegas pernyataannya.

"Mikaela, perbedaan itu hanya ada didalam pikiranmu saja," tutur Optimus. Ia berkata dengan lembut, seakan-akan sedang menahan getaran dahsyat didalam didalam dirinya. Optimus mengatakan itu untuk menenangkan pikirannya sendiri, yang bernasib...sama dengan Mikaela?

"Begitukah?" Mikaela bertanya, menuntut penjelasan.

"Ya." Optimus menjawabnya, disertai anggukan.

Mikaela tersenyum mendengarnya, seakan-akan mendengar sebuah kepastian yang memberinya sebuah harapan untuk terus terbang setinggi yang ia bisa. "Aku bisa melihat dari matanya ada keraguan untuk mengatakan sesuatu padaku. Caranya memandangku seperti aku ini seorang ratu dihatinya, dan kuharap itu bukanlah sebuah khayalan imajinasiku yang terlampau tinggi."

"Apa yang membuatmu begitu yakin?"

Mikaela diam penuh misteri, lalu ia memanjat disebuah bangunan tua itu hingga ia bisa melihat wajah Optimus dengan begitu jelas. Optimus duduk disebelah tempat Mikaela berdiri, menunggu jawaban yang diberikan Mikaela.

Disaat Mikaela telah berhasil berdiri dengan kaki-kakinya yang jenjang layaknya seorang model internasional, ia memandang optik biru Optimus. Raut wajahnya tidak terbacam, tapi Optimus tahu jika Mikaela berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan Optimus. Optimus tahu Mikaela tidak akan membiarkan pertanyaan itu tak terjawab.

Mikaela memandang wajah Optimus, kali ini lebih tajam, lebih dalam dan lebih serius kedalan optik biru yang begitu indah itu. Pandangan mereka terkunci satu sama lain, saling mengagumi dalam diam, dengan harapan 'telekinesis' atau semcamnya itu benar-benar nyata, jadi mereka tidak harus saling menunggu untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Meskipun faktanya, mereka sama-sama mempunyai rencana untuk berbicara dari hati ke hati. Sebuah percakapan yang dalam, penuh arti.

"Karena aku bisa melihatnya dimatamu, Optimus. Kau tidak pernah memandang manusia atau bot lain seperti caramu memandangku. Itu yang membuatku—setidaknya—berharap masih ada harapan untukku, dihatimu," Mikaela akhirnya bersuara setelah beberapa saat dihajar oleh kediaman. Ia memberikan jawaban dengan tegas dan jelas. ia tahu ini mungkin terlalu jujur dan frontal, tapi siapa peduli? Ia tidak tahu apa kapan Lockdown dan Cemetery Wind akan menyerang, bisa saja mereka menyerang satu menit dari sekarang atau lebih. Dan bisa saja, menit-menit itu adalah menit-menit terakhir didalam hidupnya untuk melihat Optimus.

Mikaela tidak ingin mati dengan membawa rasa menyesal.

FUCK IT AND DO WHAT YOU LOVE!

Optimus mengangkat wajahnya, meningkatkan fokus pada optiknya untuk bisa melihat wajah Mikaela yang cantik meskipun terlihat berantakan. Jujur saja, Optimus tidak menyangka Mikaela memiliki getaran yang sama dihatinya untuk Optimus. Robot alfa itu mengangkat tangannya yang besar, menyentuh wajah Mikaela dengan buku-buku jarinya yang besar. Optiknya memancarkan sebuah cahaya yang lebih terang tatkala optiknya dan mata Mikaela bertemu. Meskipun bersinar, cahaya optiknya begitu teduh saat dipandang.

"Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu, Mikaela, saat kau datang dan memberikan sesuatu yang membuatku merasa begitu hidup?" kata Optimus dengan lembut, dengan suara berat yang menggetarkan batin. "You complete me, Mikaela Banes," tambah Optimus.

Sebuah senyuman yang belum pernah dilihat Mikaela terbentuk dibibir Optimus. Ia—Mikaela pernah melihat Optimus tersenyum beberapa kali, tapi untuk senyuman ini, ia hampir tidak pernah melihatnya. Senyuman yang begitu hangat, tulus dan penuh rasa kasih, lebih dari yang pernah diberikan orang-orang satu rasnya kepada dirinya. Senyuman itu membuat Mikaela jatuh terlalu dalam kedalam pesona robot tampan kharismatik ini.

Mikaela melangkahkan kakinya mendekat kearah Optimus. Ia memandang Optimus, tanpa ia sadari tetesan-tetesan air mata meluncur bebas dipipinya, membuat matanya dipenuhi bulir-bulir bening. Mikaela menangis ketika mendengar Optimus mengatakan itu, bukan tangisan karena ia sedih. Itu adalah tangisan karena ia merasa bahagia. Sebab, tak hanya karena Optimus akhirnya mengatakan perasaannya kepada Mikaela, namun karena itu adalah perkataan termanis yang pernah dikatakan seseorang kepadanya.

Ya, Mikaela memang seorang gadis idaman yang selalu dikejar-kejar oleh pria dari berbagai kalangan. Tapi, tak satupun dari mereka mengatakan itu dengan serius. Mereka mengatakan itu hanya untuk mendapatkan perhatian Mikaela, dan menjadikannya sebagai 'teman tidur' semata. Mikaela tahu itu. Itu pula-lah yang menjadi alasannya untuk menutup hati sampai seseorang bisa membuktikan jika dirinya layak untuk Mikaela. Tidak hanya secara fisik, namun juga secara emosional.

Kenyataannya adalah, Mikaela tidak melihat itu di Sam atau siapapun. Melainkan ia melihatnya didalam sosok Optimus Prime. Sosok pemimpin robot alien setinggi belasan meter yang terbuat dari logam. Namun Mikaela tahu, meskipun mereka robot, mereka mempunyai jiwa, kepribadian, sifat dan hati seperti manusia. Lalu apa yang membuat mereka berbeda selain fisik dan masalalu mereka?

Absolutely nothing!

Optimus memandang Mikaela, tidak mengerti kenapa Mikaela menangis. Apa Optimus menyakiti perasaan gadis itu? Apakah ada sesuatu yang salah? Dia tidak yakin.

"Kenapa kau menangis, Mikaela?" Optimus bertanya lagi, "Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"

Mikaela menggeleng, masih memanang optik Optimus yang indah dengan air mata dimatanya. "Tidak, Optimus. Itu adalah hal terindah yang pernah diucapkan seseorang untukku," ujarnya.

Optimus tersenyum. Ia mengangkat tangannya, menghapus air mata Mikaela perlahan-lahan dengan jarinya. Ia tahu jika tangannya yang besar, terbuat dari logam mungkin akan menyakiti Mikaela, namun ia menyentuhnya dengan cara sehalus mungkin. Ia bisa merasakan kandungan garam dari air mata Mikaela, membuat jarinya terasa aneh. Namun Optimus tidak mempedulikan itu, dan berkata, "You're perfect in every way, Mikaela. Itu yng membuatku jatuh cinta padamu."

"Aku mencintaimu, Optimus Prime." Mikaela menjawabnya dengan senyuman dan tangis bahagia. Ia menyentuh pelat wajah Optmus yang hangat terkena paparan sinar matahari. Ia—Mikaela mengusap wajah Optimus yang masih terdapat luka akibat perkelahian tempo hari, menyentuh bekas luka tanpa ada rasa jijik, geli ataupun takut kotor. Senyuman di wajah Mikaela menjadi begitu teduh saat dipandang, mengangkat kepala alisnya keatas tanpa merubah ekspresi.

Mikaela perlahan-lahan sudah mendekatkan kepalanya diwajah Optimus. Saat itu pula, Optimus melihat Mikaela memejamkan matanya, yang reflek ia ikuti. Optimus bisa merasakan hembusan nafas Mikaela menerpa permukaan pelat wajahnya. Nafas yang membuat suhu dingin yang ada di dalam diri Optimus menjadi hilang.

Sedetik kemudian, Optimus dapat merasakan bibir Mikaela sudah berada diwajahnya. Rasanya aneh saat harus mencium sebuah robot raksasa. Dan sebaiknya kalian tidak bertanya bagaimana rasanya, atau mungkin seperti mencium kaleng? Mikaela tidak peduli.

Fuck it!

Mikaela menekannya perlahan-lahan, merasakan hal aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini adalah kali pertama bagi Mikaela mencium robot raksasa, jadi agak aneh jika harus dijelaskan dengan bahasa manusia. Mikaela adalah ciuman pertama Optimus jika harus dikatakan demikian. Mereka mungkin sudah mencintai satu sama lain sejak lama, hanya saja mereka baru menunjukkannya beberapa puluh menit yang lalu.

Optimus membuka matanya begitu menyadari ciuman itu berakhir dengan singkatnya. Ia masih bisa merasakan aroma kopi yang membekas. Mikaela memberanikan dirinya untuk menyentuh wajah robot yang masih mencoba untuk menikmati kebersamaan mereka. Matanya kembali terpejam saat tangan Mikaela mengusap pelat wajahnya.

"I will always on your side. Always."

-OOOO-

Dua jam berlalu, Optimus dan Mikaela kembali ke tempat dimana para Autobot berada. Adalah Drift yang pertama kali melihat mereka datang dari kejauhan, dan semakin mendekat sedikit demi sedikit namun pasti. Alasan Optimus cepat kembali adalah ia menerima pesan dari Ratchet jika ada transmisi aneh yang mencoba menerobos masuk kedalam saluran mereka. Crosshair sudah mencoba memperbaikinya, namun tingginya sistem enkripsi transmisi aneh itu membuat Crosshair hanya mendapat sedikit sekali celah.

"Dia datang," ujar Drift. Ia memberitahukan ini kepada seluruh teman-teman Autobotnya.

"Aku harap dia mempunyai berita bagus untuk kita semua, atau kita akan berakhir seperti Autobot yang lainnya. Dia sedikit meragukan," celetuk Crosshair tanpa ada rasa hormat kepada Optimus.

Drift yang paling menghormati Optimus merasa tidak terima dengan ucapan Crosshair yang menurutnya tidak pantas diucapkan seorang prajurit kepada pemimpinnya. "Beraninya kau menghina sensei dihadapanku!" Drift tidak terima, membuat sifat ke-Decepticon-annya menjadi muncul sedikit.

Ratchet yang bertugas megawasi mereka, melerai perkelahian sebelum itu terjadi. karena ia tahu jika membuat Drift marah bukanlah hal yang bagus, terutama disaat-saat genting seperti ini. Yah, marahnya Drift atau Deadlock, sangat tidak enak untuk dilihat, dan bisa dibilang amat sangat mengerikan. Ia akan marah seperti monster yang akan menghancurkan apa saja dihadapannya tanpa ampun. Dia adalah mantan Decepticon, dan Drift tidak selalu Autobot. Adakalanya ia lepas kendali.

Adalah tugas Ratchet untuk menghentikan mereka selama Optimus tidak berada disekitar. "Sebaiknya kau menjaga ucapanmu, Crosshair. Aku tidak ingin ada kekerasan yang tidak perlu," omel Ratchet seperti orang tua yang memarahi anak-anaknya.

"Aku hanya mengatakan pendapatku, Ratch." Crosshair menjawab dengan santai, tanpa intonasi apapun selain nada yang rendah. Crosshair bangkit dari duduknya setelah menunggu Optimus dan Mikaela kembali selama lima menit, ia melihat Optimus melaju dengan kecepatan yang amat tinggi.

Ratchet memimpin mereka berjalan menuju Optimus yang sudah mengurangi kecepatan truknya. Ia berhenti beberapa langkah didepan Ratchet, membiarkan Mikaela turun sembari membawa senjata yang sudah ia siapkan. Ia—Mikaela bisa menyimpulkan dari pandangan cemas para Autobor, ada sesuatu yang tidak beres. Optimus sama sekali tidak memberitahukan apapun kepada Mikaela selama perjalanan, jadi Mikaela mengira semua baik-baik saja.

"Bos, mereka mendapatkan lokasi kita." Hound bersuara lebih dulu, membuka pembicaraan.

Optimus memandang Hound, lalu kepada teman-temannya penuh dengan ambisi dimatanya. "Aku tahu," jawabnya singkat. Pandangannya berhenti kepada Bumblebee, ia nampak sedang menunggu perintah dengan ekspresi menggemaskan. "Aku tahu ada beberapa diantara kalian meragukanku. Aku akan menerima itu, karena adalah wajar jika kalian meragukanku. Aku yang membuat kalian kemari, yang akhirnya membuat nyawa kalian dalam bahaya." Prime berpidato dengan penuh wibawa.

Ia menghela nafas lagi, melempar pandangan kepada semua teman-teman Autobot-nya termasuk Mikaela. "Untuk itu, aku akan memerintah kalian untuk membuat keputusan untuk diri kalian sendiri. Kalian kembali ke Cybertron yang sudah setengah hancur dengan membawa rasa malu, menjadi buronan seumur hidup kalian, atau ikut bersamaku menghancurkan tirani dan berjuang mengambil perdamaian yang kita impikan," tawar Optimus. Ia berbicara dengan suara dalam tanpa getaran, serius dan penuh wibawa. Mikaela selalu menyukai saat Optimus berbicara seperti ini.

"Aku tidak bisa berjanji akan membuat kita hidup lama dan merasakan perdamaian serta kebebasan yang kita capai nantinya. Tapi ingatlah ini, Autobots: untuk tujuan inilah kita diciptakan. Kita diciptakan untuk menghapuskan ketidakadilan, tirani dan mewujudkan perdamaian. Tanpa tujuan itu, kita bukanlah apa-apa selain logam tua berkarat yang tidak mempunyai tujuan hidup." Suaranya menggelegar, tangan kanannya menunjuk kebawah seakan-akan mempertegas ucapannya. Mikaela tersenyum tipis melihatnya, berpikir jika Optimus benar-benar tipe pemimpin idaman.

"Kau pikir aku akan meninggalkanmu, my old friend?" Ratchet berkata. Bumblebee tidak berkata apa-apa, namun ia sudah pasti akan mengikuti langkah apapun yang akan diambil Optimus.

Drift melangkah maju, ia membungkukkan badannya kepada Optimus. "Aku telah membuat keputusan," ujar Drift. Ia kembali tegak, memandang Optimus yang menunggu perkataan Drift berikutnya. "Cahaya Kehormatan akan bersinar bersama lentera kesetiaan. Aku selalu merasa terhormat bisa berjuang bersamamu, sensei." Drift mengatakan itu penuh nada hormat dan sopan kepada Optimus. Mikaela menyukai semangat Drift dan keanehannya. Menurut Mikaela, ia—Drift bisa menjadi teman berbicara yang baik, mengingat ia lebih seperti serigala bijak.

Hound melangkah maju, mengokang senjata mesin yang ia pegang. Ia memandang Drift, kemudian ia lemparkan kepada Optimus. "Weirdbot ini benar. Aku menemukan petunjuk didalam diriku. Kesetiaan itu seperti bunga kokoh yang yang diterjang badai mengerikan. Benar begitu, Drift?" Hound berkata, mencoba untuk bijak.

Drift memandang Hound tidak mengerti apa yang ia katakan, tetapi paham maksudnya. Ia hanya kurang bisa menggunakan tata bahasa yang lembut dan puitis seperti dirinya. Ia masih belum bisa menghilangkan pandangan bingung diwajahnya, kemudian berkata, "ya, garis besarnya."

"Bee, bawa ketempat aman dimana Cemetery Wind tidak akan pernah menemukannya." Bumblebee yang merasa namanya dipanggil langsung membuat sikap hormat. Ia selalu menuruti perintah Optimus, walaupun ia kadang memberontak untuk beberapa alasan.

Mikaela tidak terima karena ia dibuang jauh-jauh begitu saja oleh Optimus. Bukan dibuang secara harafiah, tetapi tetap saja membuatnya tidak terima. Optimus dan Mikaela baru saja berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain, tapi sekarang ia malah mengusirnya begitu saja. Apa dia bercanda? Apa dia belum pernah dipeluk Devastator? Ya, Mikaela tahu itu untuk kebaikannya sendiri, tetapi ia bisa sedikit membantu dengan menghajar beberapa bokong.

"What? Kau tidak bisa menyuruhku pergi begitu saja, Optimus." Mikaela menyembur, benar-benar menolak mentah perintah Optimus.

"Ini bukan pertarunganmu. Ini pertarungan kami," jawab Optimus, bersikeras.

Mikaela mengokang M16A1 dan pelontar granatnya, memandang tidak terima kearah Optimus. Optik birunya memandang Mikaela, seakan-akan ia memohon agar Mikaela tidak melibatkan dirinya dipertarungan antar robot. Mikaela tidak mempedulikan Optimus yang keras kepala, dikarenakan dirinya sendiri juga keras kepala. Tidak ada satupun diantara mereka yang mau mengalah.

"Ya, itu pertarungan kalian, aku terseret kedalamnya. Lalu kalian menyuruhku pergi disaat seluruh Amerika, bahkan seluruh dunia sedang MEMBURUKU?" Mikaela berteriak, Optimus mengalihkan pandangannya jauh dari mata Mikaela.

"Kita akan ma—" Crosshair akan memulai mencemooh lagi, tetapi Drift menepukkan tangannya dipundak robot berjubah hijau itu. Crosshair memiringkan kepalanya tidak paham, menuntut penjelasan dari Drift yang selalu mencegahnya mencemooh Optimus.

Drift menggeleng sembari berkata, "Just enjoy the show." Sebuah isyarat yang cukup membuat Crosshair akhirnya mengalah dan menghambur keluar dari gerombolan Autobot. Ia mungkin akan mengisi ulang meriam peledak dan senjata-senjatanya. Ia berjalan menjauh sembari mengatakan 'slag it' pelan, namun cukup keras untuk ditangkap olehtelinga Mikaela.

"Aku tidak ingin melihatmu terluka, Mikaela. Dan aku minta maaf telah membawamu kedalam peperangan kami," ujar Optimus, lebih keras dari suara Mikaela. "Bee," panggil Optimus kepada bawahannya. Bumblebee tidak memprotes, namun ia langsung bertransformasi menuju alternatte mode. Pintu mobil berwarna kuning dengan garis hitam terbuka, seakan mempersilakan Mikaela masuk

"Oh fuck that shit, Optimus!" Mikaela berdecak kesal diiringi umpatan yang kasar yang ditujukan oleh lawan bicaranya, namun diacuhkan oleh Optimus. "Demi Tuhan! Pasukan pemburu itu berada tidak jauh dari tempat kita berdiri! Tidak bisakah kita menghadapi ini bersama seperti dulu?" Mikaela membentak, otot-otot diwajah Mikaela terlihat begitu jelas. Ia menggunakan seluruh tenaganya untuk menggoyahkan keputusan Optimus Prime.

Optimus memandangi Mikaela, melihat kilatan-kilatan penuh semangat didalam manik biru yang indah itu. Optimus belum berkata apa-apa, hanya melemparkan pandangannya kepada seluruh teman-teman Autobot-nya. Mereka nampak menunggu perintah apapun dari sang pemimpin. Pandangannya semakin tajam begitu melihat mobil SUV hitam dengan pelat khusus berjalan mendekat kearah mereka. Agak jauh dibelakang kendaraan orang-orang Cemetery Wind, ada sebuah pesawat luar angkasa bernama The Knight Ship.

"Mereka datang." Sang pemimpin menginformasikan kepada teman-teman Autobot dan kepada Mikaela jika Cemetery Wind beserta Knight Ship mulai terlihat. Optimus melepaskan nafas berat, penuh amarah dan mengeluarkan pedang dan kapak panas. Mikaela meneropong melalui lensa pembidik dari M16A1 yang ia bawa, melihat apa yang dikatakan Optimus itu memang benar.

Mereka datang.

"Oh, shit!" Mikaela mengumpat. "Optimus, ada warga sipil," ujarnya.

Optimus memperluas jangkauan optiknya, memindai adanya tanda-tanda manusia yang berada didekat sana. Mereka nampak baru saja tiba beberapa menit sebelum Autobot tiba disana. Optimus melihat mereka—warga sipil itu adalah wanita muda dengan bayi, bersama dengan pria tua yang Optimus duga adalah sang kakek yang juga ayah dari wanita muda itu. Mereka pasti berencana untuk berakhir pekan di Texas bersama.

Ide yang buruk.

"Meeh, biarkan saja mereka mati." Suara Hound menggema. "Mereka harus membayar apa yang mereka lakukan kepada kita," celoteh Hound. Ia masih menggigit peluru tajam yang ia alih fungsikan sebagai rokok.

"Yeah. Potong leher mereka, dan ambil spark-nya keluar." Crosshair berkomentar tanpa berpikir.

Mikaela merasa jengkel mendengar ucapan itu. Ya, memang manusia ikut ambil andil dalam perburuan Autobot. Tapi bukan berarti semua manusia itu buruk. Sama artinya seperti tidak semua Decepticon itu buruk. Contohnya, Wheelie, dan Drift. Sisi ke-Decepticon-an mereka mungkin bisa keluar kapan saja, tapi setidaknya mereka telah mencoba untuk menjadi baik.

Sama seperti halnya manusia. Didunia ini, manusia tidak hanya dipisahkan oleh baik dan buruk. Tetapi banyak hal yang membuat mereka terpisah seperti ras, warna kulit, pandangan politik, dan sebagainya. Dan seharusnya manusia bisa saling menghargai satu sama lain, tanpa saling melempar ejekan, kebencian yang menjijikkan. Manusia tentu tidak ingin Bumi berakhir seperti Cybertron, bukan?

Jika masih sayang dengan planet ini, maka bantu merawatnya! Jangan hanya bisa merusak! Jangan membuang sampah sembarangan! Jadilah manusia yang bermartabat!

"Kalian maniak. Jika kalian membunuh manusia yang tidak bersalah, maka kalian tidak ada bedanya dengan mereka." Ratchet menyelamatkan Mikaela dari Hound dan Crosshair yang sedikit agak sensi dengan manusia. Mereka tidak ikut bekerja dengan NEST saat itu, jadi mereka tidak tahu jika tidak semua manusia itu buruk.

"Slag it, Ratch." Hound mengutuk.

"Autobots, kita disini bukan untuk diburu maupun memburu. Tapi adalah tugas kita menghentikan kegilaan ini, dan mengkahiri permusuhan antara makhluk selamanya. Hari ini, kita akan membuktikan bahwa kita adalah pejuang, bukan penjajah." Optimus berpidato lagi, lalu menyambung. "Mikaela, let's kick some butt," perintahnya kepada Mikaela. Ia tidak terdengar seperti Optimus yang ia kenal.

Gadis itu tidak memprotes Optimus. Yang ada, ia mengangkat senjatanya, menyandarkan laransya di pundaknya. Ia menyeringai kepada Optimus sampai mencapai puncak dimana dirinya mendapatkan momentum merasa keren. Ia merasa seperti Sarah Connor dari Film Terminator. Hanya saja, Mikaela sedikit lebih beruntung daripada Sarah Connor; ia tidak harus melihat sosok yang ia cintai mati. Dan ia—Mikaela tidak terperangkap dalam permainan waktu.

"Itu baru perintah, sir." Mikaela mengatakan itu dengan penekanan. Optimus mengangguk, menyebarkan pandangannya kepada para Autobot.

"Autobots, let's roll out!"

-ooo-

Lockdown menambah kecepatan The Knight begitu melihat Autobot sedang melaju cepat kearah mereka. Desingan suara kendaraan dengan mesin yang bagus menghiasi udara, sementara terdapat juga sebuah helikopter berlambang Autobot—Alternate mode Drift melayang diatas mereka. Bagaimanapun, perintah dari Prime Terakhir sudah diucapkan, itu berarti tidak ada kata mundur, ataupun menyerah tanpa alasan. Kecuali Optimus memerintahkan untuk mundur.

Lockdown duduk di kursi kapten. Tangannya mengepal dengan wajah penuh amarah ketika masih ada Autobot yang tersisa. Ia benar-benar mengira jika Optimus adalah Autobot terakhir yang masih hidup. Namun sayangnya, ia harus menelan kekecewaan itu bulat-bulat.

"Blackhorn!" Lockdown memanggil salah satu bawahannya. Sebuah robot raksasa, empat meter lebih tinggi dari Optimus berjalan mendekat. Ia berwarna hitam dan perak, bermata merah ala Decepticon yang tajam dan mengerikan. Di pelat wajahnya terdapat banyak sekali luka bekas pertarungan yang pastilah amat sangat sengit. Ia mempunyai gigi-gigi yang tajam dan besar, serta tiga buah tanduk yang tumbuh berjajaran rapi dari depan hingga kebelakang seperti rambut seorang punk. Ia memiliki tangan berupa cakar yang tajam, dengan lubang besar didada seperti Galvatron, tetapi milik Blackhorn dapat menembakkan sebuah meriam.

"Ya?" Ia berkata dengan suara berat, serak dan mengerikan.

"Kirim pasukan yang kita punya untuk membunuh Autobot yang menjijikkan itu," ujarnya penuh amarah. "Tapi Prime adalah targetku, aku yang akan menyeretnya sendiri," ia berkata lagi seraya bangkit dari duduknya.

Blackhorn mengangguk, ia langsung berbaik meninggalkan ruangan pilot untuk melaksanakan tugas dari Lockdown. Sementara itu, Lockdown sudah siap untuk menembakkan sebuah rudal kearah Autobot untuk membuka serangan pertama; memulai pertarungan sebelum Autobot semakin dekat dan mencapai The Knight Ship. Tangan Lockdown mendorong sebuah tuas, hingga empat buah rudal berukuran besar meluncur tepat kearah Optimus dan Autobot yang lain.

Para Autoot menghindari empat rudal itu dengan melaju secara zig-zag, rudal-rudal itu meleset dan menghantam jalan beraspal. Sebuah lubang besar, dan batuan-batuan yang terlempar keudara menghujani mereka. Mikaela berpegangan erat di kemudi, ia menahan dirinya agar tidak mengalami benturan yang hebat dengan dasbor Optimus. Ia mengumpat, antara senang dan menyesal sudah menceburkan kedalam pertarungan ini.

Orang-orang Cemetery Wind yang saat ini dipimpin oleh Giussepe—menggantikan Savoy yang masih menjalani perawatan intensif, berhenti sembari menodongkan RPG dan bazooka kearah Autobot. Mereka menunggu hingga Giussepe memberi perintah. Ia adalah sosok pria besar, berotot memiliki rambut pirang yang ia cat hitam dikanan dan kirinya. Wajahnya lebih dingin dari Savoy, ditambah ia mempunyai luka bekas operasi menyilang dari kepala alisnya, sampai ke pipi. Ia mengenakan kacamata hitam yang menutupi mata hitam haus darah.

Cemetery Wind membawa senjata-senjata yang canggih, cukup untuk membuat Autobot terluka parah hanya dengan beberapa kali tembakan saja. Bahkan M16A1 yang dibawa oleh Mikaela bukanlah apa-apa dibandingan dengan senjatta api paling mematikan tersebut. Sementara itu Mikaela berusaha untuk mengstabilkan duduknya di atas kemudi Optimus, mengingat dirinya sejak tadi terlempar kekanan dan kekiri.

"Hei, what the f—" Optimus mendengar Mikaela mengumpat begitu ia merasakan sesuatu melintang—menahan tubuhnya dari terjatuh. Ia merasakan Optimus memasangkan sabuk pengaman ditubuh Mikaela. Hal ini membuat Mikaela merasa jika Optimus tengah memeluknya erat, melindunginya. ia—Mikaela sendiri juga merasa bodoh karena sampai lupa memasangkan sabuk pengaman.

"Keamanan saat berkendara itu penting, Mikaela. Jangan lupakan itu," komentar Optimus dari radionya.

Selama mereka berbicara, Cemetery Wind kemudian menembakkan bazooka dan RPG kearah Optimus. Ia tertembak, namun tidak mengenai bagian inti darinya, hanya tergores tepatnya. Ia tidak melihat serangan itu datang karena rudal-rudal dari The Kinght Ship terus berdatangan menghujani mereka. Secara spontan, ia bertransformasi ke bipedal mode, hingga Mikaela kaget dan terlempat beberapa puluh meter di udara.

"OPTIMUS!" Mikaela berteriak dalam rasa panik karena Optimus sama sekali tidak memberikan aba-aba sebelum bertransformasi. Padahal, beberapa detik lalu ia mengatakan jika kemanan itu penting. Tapi faktanya, ia malah melemparkan Mikaela beserta rifle yang ia selempangkan dibahunya juga ikut terlempar.

Mikaela terjun bebas tanpa pengaman dari belasan meter ketinggian, cukup untuk setidaknya menghancurkan kepalanya. Tetapi, karena rasa percaya dan saling melindungi Autobot yang begitu kuat, membuat salah satu diantara mereka langsung melakukan sesuatu sebelum Mikaela menghantam daratan yang keras berbatu dan mati.

Tanpa perintah, Drift yang berada di udara langsung menangkap Mikaela, kembali ke bipedal mode untuk menangkap Mikaela dengan tangannya baru kemudian gadis itu mendapati dirinya duduk di kursi pilot. Mikaela melindungi kepalanya dari hantaman begitu ia terlempar begitu saja di kursi pilot. "Holy fucking shit! Bokongku hampir saja hancur!" Mikaela mengumpat keras. "Thanks, Drift!" Mikaela menyambungkan.

Ia—Mikaela melihat Optimus menembakkan meriam kepada Cemetery Wind, membuat orang-orang itu terlempar. Sementara Drift mash menghindari tembakan-tembakan dari Lockdown yang berusaha menjatuhkannya. Oh tentu itu bukan hal mudah utnuk menjatuhkan Drift. Kalian tahu sendiri jika Drift adalah mantan Decepticon yang dikenal sebagai Deadlock. Dan tentu kalian tahu jika ada yang sampai membuat Drift marah, maka semua akan rata seperti tanah.

Mikaela merasa mabuk udara, mengingat ini adalah pertama kalinya ia naik helikopter. Namun ia tidak mempedulikan itu. ia menembakki orang-orang Cemetery Wind dari udara melalui riflenye. Giussepe tertembak di bagian bahu, lantas ia memerintah beberapa orang-orangnya untuk menjatuhkan paksa helikopter diatas mereka. Mikaela berteriak kepada Drift untuk turun dan menghindar karena ada dua RPG yang menunggu mereka.

"Drift, RPG dibawahmu!" Teriaknya, membuat Drift langsung menghindar dengan reflek. Mikaela pun melontarkan granat, meledakkan sebuah mobil milik orang-orang Giussepe. "Drift, behold!" Mikaela berteriak lagi begitu melihat ada sebuah pesawat keluar dari The Knight Ship, diikuti dengan puluhan makhluk aneh seperti anjing tetapi terbuat dari logam. Pesawat jet hitam itu menembakkan rudal hingga mengenai Drift. Ia oling selama beberapa kai, Mikaela terlempar kesana-kemari, membuat perutnya semakin mual

"Son of a bitch! Kita tertembak! Cobalah untuk menghindar sesekali," ujar Mikaela. Setelah mengatakan itu, membekap mulutnya karena merasakan ada gejolak aneh.

"Aku tahu!" Drift langsung menjawab. ia melihat sebuah pesawat jet berwarna hitam keluar dari Knight Ship. Ia tahu siapa yang mengirim pesawat jet besar dengan lambang Decepticon di bagian moncongnya. "Mikaela, bersiaplah untuk pendaratan darurat." Drift berkata.

"Pendaratan apa?" Mikaela bertanya lagi.

Drift tidak menjawab seraya ia semakin turun dataran berpasir. Baling-baling helikopternya menerbangkan tanah-tanah dibawahnya seraya berusaha mengendalikan dirinya yang agak oling. Begitu sudah beberapa meter dari tanah, Mikaela terlempar bersamaan dengan Drift yang kembali ke mode bipedal. Ia berguling-guling, lalu kembali bangkit dengan cara yang keren. Namun pendaratan Mikaela tidak begitu menyakitkan karena ia mendarat diatas dataran berpasir. Ia hanya merasa nyeri dibeberapa bagian tubuhnya.

Pertarungan semakin sengit, Mikaela melihat Crosshair, Hound, Ratchet, Bumblebee, bahkan Optimus bertarung habis-habisan melawan mesin-mesin suruhan Lockdown. Mikaela berlari menuju batu besar yang tidakjauh dari tempat ia mendarat tadi, sementara Drift sibuk menebas mereka tanpa ampun. Ia—Mikaela mengecek pelurunya, ternyata masih cukup banyak. Ia kembali memasukkan magazine dan mengokang rifle nya. Jari telunjknya menarik pelatuk, hingga suara rentetan peluru bekas berceceran dibawah Mikaela. Ia membidik orang-orang Cemetery Wind yang merecokki pertarungan antar Autobot dan robot-robot itu.

Ia memasukkan kembali granat kedalam pelontar, membuka kuncinya baru menarik pelatuknya tersebut. sebuah granat meluncur kearah orang-orang Cemetery Wind. Target Mikaela adalah pria berkacamata alias Giussepe. Namun, sebelum granat itu menabrak mobil Cemetery Wind, Giussepe memperingatkan orang-orangnya utnuk menghindar.

"Granat!" Pekiknya. Ia langsung melompat dan tiarap begitu granat Mikaela meledak. "Tangkap dan bunuh dia, sisanya bantu Lockdown menghabisi robot-robot sialan itu," pekiknya.

Crosshair menembakkan pistol peledaknya kepada Steeljaws yang sejak tadi mengganggu pertarungan mereka. Ratchet melakukan ha sama tetapi mereka seakan-akan tidak terhitung. Mikaela membantu dengan menembaki mereka sebanyak yang ia bisa. Peluru tajam M16A1 memang dapat menembus logam, tapi seakan-akan tidak berefek apapun kepada musuh yang ia lawan. Yang ia butuhkan sekarang adalah senjata baru.

Mikaela berlari, seraya dihujan tempakan oleh orang-orang Cemetery Wind. Ia berlari kearah Hound, yang nampaknya memliki banyak sekali senjata. Mungkin saja ia punya satu untuk seukuran manusia, atau ia bisa meminta kepada Crosshir. Lagi pula, ia sudah kehabisan granat.

"Hound, berikan aku sesuatu?" Teriak Mikaela. Ia bersembunyi dibaik batu besar, menunfuk. Tiga orang yang mengejarnya terus menembakkan pistol kearahnya.

"Seperti apa? Apa kau tidak lihat aku sedang berdansa?" Hound bersuara, seakan-akan dia benar-benar penggila perang yang menikmati perasaan dimana ia mengiris leher musuh.

"Hound!" Mikaela berteriak, kembali memberikan tembakan untuk menghabisi orang-orang yang mengejarnya. Suara rifle-nya bersatu dengan suara desingan pedang Optimus yang mengiris pasukan Lockdown satu persatu. "Sekarang!" teriaknya.

"Baiklah!" Hound berteriak. "Aku tidak tahu apa ini, tapi kupikir kau bisa menggunakan ini sebagai senjata," ujar Hound sembari melemparkan sesuatu dihadapan Mikaela. Hound kembali bersenang-senang dengan memisahkan helm dari tubuh musuhnya. Bisa diartikan dalam bahasa manusia sebagai pencabutan kepala secara paksa.

Mikaela mengambilnya, melihat sesuatu seperti pedang, memiliki dua ujung bilah dan mata pedang. Benda itu sepanjang, sekitar 150 sentimeter, memiliki pegangan ditengahnya, untuk digunakan sebagai pegangan. Ujung pertama memiliki dua mata pedang dengan panjang berbeda. Ujung yang satunya seperti pedang trisula, tetapi lebih panjang. Pedang aneh itu mempunyai corak-corak aneh yang tidak dimengertiinya. Mikaela memungutnya dipegangan bagian tengah, hampir sama beratnya dengan linggis. Ia merasakan sesuatu yang berputar saat tangannya memungut benda yang aneh tersebut. namun tanpa ia sangka-sangka, ssenjata itu terbuka—seakan-akan bertransformasi.

Ujung pedang itu terbelah, hingga mengeluarkan sebuah lubang untuk keluarnya peluru. Di pegangannya keluar sebuah pelatuk, yang dapat ditarik kapan saja. Mikaela sontak kaget dan menjatuhkan pedang dua ujung itu dengan sembarangan. Sebuah tembakan tidak sengaja keluar, mengenai Steeljaws yang tengah menggigit kaki Optims. Mikaela terkagum untuk beberapa saat, lalu memungutnya. Dengan ini, ia bisa menebas dan menghajar apapun.

"Hound, ini senjata paling keren yang pernah kulihat," teriak Mikaela.

Ia menembakkan tembakkan beruntun lagi kepada orang-orang yang mengejarnya. Mikaela tidak ingin membunuhnya, jadi ia menembak kaki-kaki mereka. Setelah itu, ia memungut pistol orang-orang itu dan ia selipkan dipinggangnya. Mikaela memberikan tendangan di kepala mereka dengan sepatu bootnya yang keras. Dua orang laki-laki itu menjadi setengah sadar, belum benar-benar pingsan.

Sementara itu, Lockdown melihat penuh kemarahan begitu pasukannya banyak yang tumbang. Ia memukulkan tangannya yang besar di kursi kemudi, lalu bangkit dari duduknya untuk menangani kekacauan itu sendiri. Ia akhirnya turun dari Knight Ship menggunakan pesawat tanpa awak yang biasa ia gunakan untuk turun kedaratan. Ia tidak punya pilihan lain, karena jika ingin melakukan sesuatu dengan benar, sebaiknya lakukan sendiri.

Di bawah suasana menjadi kacau. Bukit-bukit batu disekitar menjadi hancur tanpa bekas, namun ia tidak melihat adanya tanda-tanda militer yang datang membantu. Tapi lebih baik karena akan tinggi kemungkinannya jika militer akan membantu pihak Lockdown dan Cemetery Wnd. Kecuali jika Lennox dan Epps yang membantu, maka akan lain ceritanya.

Optimus masih bertarung habis-habisan dengan Blackhorn. Dioptik merah Blackhorn, Optimus melihat kemarahan dan kebencian Decepticon kepada Autobot. Ia melayangkan pedangnya, namun Blackhorn menangkisnya, lalu balik menusukkan pedang itu kedada Optimus. Robot berwarna merah-biru itu menghindar, menyayat kaki Blackhorn hingga ia kehilangan keseimbangan.

"Argh!" Optimus berteriak, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. ia bersiap untuk menghunuskan pedang panasnya kedada Blackhorn, dan menghancurkan spark-nya. Blackhorn berguling sebelum pedang itu menembus dadanya, Optimus mengejarnya. Blackhorn menembakkan meriam kearah Optimus, namun tidak sampai mengenai spark-nya. Ia terduduk, sembari berteriak menahan rasa sakit yang menjalas diseluruh tubuhnya. Optimus berdiri, namun Steeljaws dibawah terus menggigit kakinya hingga ia kesulitan untuk berdiri. Blackhorn menghajar Optimus habis-habisan.

"OPTIMUS!" Mikaela berteriak begitu melihat Optimus dihajar habis-habisan. Mikaela merasa tidak bisa tinggal diam, lantas ia pun menembakkan tembak yang diberikan Hound kepadanya kearah Blackhorn. Ia membidik optik merah Blackhorn sebaik yang ia bisa, ia tidak tahan melihat Optimus dihajar habis-habisan oleh Decepticon seperti itu. Dan Mikaela tidak akan pernah membiarkan itu terjadi selama ia masih hidup

"Mikaela, lari!" Optimus berteriak, memerintah Mikaela untuk lari.

"Aku tidak akan meninggalkanmu seperti itu, dasar keras kepala!" Teriak Mikaela balik. Ia menarik pelatuk tembak aliennya berkali-kali. Peluru-peluru khusus yang panas berwarna biru keluar dari moncong senjata alien yang dipegang oleh Mikaela. Peluru bercahaya itu menghantam kepala dan wajah Blackhorn. Ia menghindarinya dengan menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Ia juga menembak secara acak untuk membuat tembakan yang menyiksa itu berhenti.

Sebuah granat mendarat di sebelah Mikaela. Ia melihatnya, kemudian berlari secepat mungkin untuk menghindari ledakan besar dari granat yang besar. Ia berlari sekuat yang ia bisa, menerobos kaki-kaki besar Autobot yang tengah bertarung dengan pasukan Lockdown. Mikaela berlari melewati kaki Ratchet yang terangkat tinggi, tepat dibawahnya hingga ia bisa saja diinjak dengan mudah. Sementara Mikaela berlari, Blackhorn menusukkan pedangnya dilengan Optimus Prime. Ia menjerit kesakitan.

Mikaela berhenti begitu mendengar Optimus berteriak kesakitan. Ratchet menembakkan misil-misil kecil kearah Blackhorn untuk membantu, tetapi tidak begitu berpengaruh kepada Blackhorn. Ratchet kembali disibukkan oleh dua robot yang sama besarnya dengan dirinya, membuat kesempatannya untuk menolong Optimus menjadi hilang. Ia harus menyelesaikan pertarungannya karena dua makhluk ini sama sekal tidak memberinya celah untuk menolong Prime. Mikaela menyadari tidak ada satupun yang bisa menolong Optimus kecuali dirinya. Jadi akhirnya Mikaela nekat kembali, lebih dekat menuju granat yang akan meledak itu dalam waktu beberapa detik.

Mikaela melemparkan senjatanya begitu saja, lalu mengangkat granat itu dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Ia melangkahkan kaki-kakinya secepat yang ia bisa menuju kearah Blackhorn yang masih sibuk membuat Optimus menyerah. Kakinya terus berlari, melewati logam-logam Steeljaws yang sudah tewas. Sepatu bootnya menginjak darah energon, namun tidak menghentikannya.

Begitu ia sampai, Mikaela meletakkan granat itu dikaki Blackhorn yang bercelah. Kemudian setelah itu Mikaela untuk mengambil senjatanya kembali. Ia menembak kepala Blackhorn dengan tembak aliennya, untuk mengalihkan perhatiannya dan membawanya menjauh dari Optimus. "Hei, you motherfucker! Ayo tangkap aku, aku punya banyak energon untukmu!" Itu adalah kebohongan. Mikaela tidak pernah tahu seperti apa energon itu, tetapi ia tahu jika makhluk-makhluk Cybertron ini butuh energon untuk bertahan hidup.

Blackhorn tidak tergoda, ia mengabaikan Mikaela, membuat gadis itu kesal. "Mikaela...pergi dari sini.." Optimus berkata dengan lemah.

"Hei, jika kau menolak aku akan memberikannya kepada Tuanmu!" Kali ini Mikaela mendapatkan perhatian dari Blackhorn. Namun yang terlihat diwajah penuh luka itu hanyalah kemarahan, kebencian, ketidaksukaan dan lain-lain. Melihat itu, Mikaela hanya bisa menahan nafas, tidak jelas apa yang dirasakannya.

"I HAVE NO MASTER!" Blackhorn memekik marah. Lantas ia berhasil terpancing oleh Mikaela. Gadis itu kemudian berlari secepat mungkin setelah membuat jengkel robot pemarah. Blackhorn mengejarnya dengan mudah, meninggalkan Optimus yang tidak bisa bergerak karena sebelum Blackhorn pergi, ia melemparkan tembakan listrik yang membuat syaraf-syaraf Optimus lumpuh selama beberapa puluh menit. Jadi, ia tidak akan bisa berbuat apa-apa meskipun ia ingin.

Optimus menyadari hal gila yang dilakukan Mikaela, dan melihat adanya granat aktiv yang dapat meledak kapan saja. "MIKAELA! APA YANG KAU LAKUKAN! PERGI DARI SINI!"Optimus berusaha

Granat itu meledak, namun Mikaela terlempar kedepan karena masih dalam jangkauan. Ia terlempar cukup jauh, ia menghantam tanah dengan keras, senjata yang ia pegang terlepas dari genggamannya. Mikaela kehilangan kesadaran, ia bahkan tidak menyadari jika orang-orang Cemetery Wind berlari mendekat kearahnya. Bumblebee melihat apa yang terjadi sebenarnya, langsung memberikan satu tendangan terakhir sebelum ia berlari kearah Mikaela.

"MIKAELA!" Optimus melihat apa yang terjadi kepada Mikaela. Kemarahan menguasai diri Optimus, berusaha sekuat tenaga untuk mempercepat efek lumpuh yang menyiksa ini. Namun sia-sia saja, yang terjadi hanyalah Optimus hanya bisa bicara, dan menggerakkan sedikit jari-jarinya. Ia harus menghentikan Blackhorn sebelum granat itu meledak dan melukai Mikaela. Atau lebih buruk, membunuh.

Granat itu akhirnya meledak dua meter dibelakang Mikaela. Blackhorn kehilangan salah satu kakinya, namun Mikaela terlempar lima meter kedepan, dan mendarat dengan keras. Tembak alien yang ia bawa ikut terlempar lebih jauh, menghantam batu besar yang setengah hancur. Mikaela kehilangan kesadarannya, ia tidak bergerak dan tidak bernafas. Namun itu tidak menghentikan Blackhorn untuk mendekati Mikaela dan membunuhnya. Selain itu, orang-orang Cemetery Wind, Giussepe ikut mendekat kearah Mikaela. Ia sudah mengokang pistolnya, menempelkannya dikepala Mikaela yang mungkin tidak akan pernah bangun lagi.

"MIKAELA! NO!" Optimus semakin memberontak, membuat kesadaran syaraf-syarafnya langsung pulih. Ia tidak bisa membiarkan gadis yang ia cintai mati karena menolongnya. Ia—Optimus melepaskan sebuah tembakan yang mengenai Blackhorn. Blackhorn yang sama-sama sedang berusaha menembak Mikaela terkena tembakan dari Optimus hingga ia tanpa sengaja melepaskan tembakan. Meriamnya mengeluarkan sebuah suara boom cukup keras, dan mengenai Giussepe. Ia terlontar beberapa puluh meter, dengan lubang besar didadanya.

Optimus bangkit, mengambil pedangnya dan menusukkannya tepat di spark Blackhorn. Setelah itu, ia menginjak kaki Blackhorn yang terluka, dan menarik pedangnya secara horisontal kekanan, sementara kapaknya memenggal kepala Blackhorn dengan brutal. Darah energon yang keluar dari batang tubuh Blackhorn terlihat seperti air mancur. Namun Optimus tidak peduli, ia hanya ingin Mikaela-nya selamat.

Setelah membunuh Mikaela dengan brutal, Optimus menendang tubuh Blackhorn yang sudah tidak berjiwa jauh dari pandangannya. Harus diakui kemarahan Optimus benar-benar mengerikan, apalagi soal menyangkut pautkan tentang menyakiti orang-orang yang ia sayangi. Ia bisa menjadi pembunuh tak berhati dingin jika ada orang yang menyentuh Mikaela-nya.

Lockdown yang melihat kekalahan berada dipihaknya, langsung memberikan pesan kepada bawahannya untuk segera kembali ke Knight Ship dan menyusun rencana baru. Dugaannya jika Prime bisa dikalahkan oleh Blackhorn benar-benar salah besar. Adalah gilirannya untuk menghabisi Prime dengan tangannya sendiri. Tetapi tidak sekarang, mungkin setelah ia bisa menyusun rencana yang bagus. Kalaupun ia punya rencana yang bagus, ia tidak akan bisa mengalahkan Prime yang sedang dilanda kemarahan yang luar biasa besar. Ia tidak pernah meremehkan Optimus Prime, karena ia tidak bodoh.

"Mereka mundur!" Hound berteriak senang.

"Mereka akan menyerang kita lagi nanti. Tapi setidaknya aku bisa recharge dengan tenang malam ini." Crosshair menanggapi komentar Hound.

Setelah keadaan aman, Ratchet datang menghampiri Optimus yang berlutut dihadapan Mikaela yang tidak sadarkan diri. "Ratchet, lakukan sesuatu!" Drift memerintah begitu menyadari jika Optimus tidak akan bisa bersuara karena kesedihan yang melanda hatinya.

Ratchet mengeluarkan alat kejut listrik, lalu menempelkannya didada Mikaela. Kejutan itu terus meningkat, membuat Mikaela terangkat lalu kembali ke tanah lagi. Ratchet terus memberikan kejutan listrik, tetapi Mikaela tidak kunjung sadar. Ia sudah akan berhenti berusaha, namun saat ia melihat Optimus yang terlihat putus asa, Ratchet menjadi tergugah dan terus memberi kejutan listrik.

Optimus menyentuh Mikaela secara perlahan-lahan, membersihkan wajahnya dari rambut yang mengganggu pandangannya. Tangan besarnya yang dingin, menghangat akibat panas matahari yang membakar mereka. Optimus mengeluarkan holoform-nya, menyerupai sosok manusia tampan dengan mata biru yang masih terlalu berkesan alien.

"Mikaela, jika kau disana, dengarkan aku," ucap holoform Optimus kepada Mikaela. "Kau harus bangun, kau tidak boleh mati. Kau harus hidup. Kau harus hidup untuk menemaniku selamanya. Kau harus hidup, seperti janjimu untuk tetap berada disisiku selamanya. I need you, Mikaela!" Optimus secara terang-terangan mengatakan itu dihadapan para Autobot. Nampak hanya Drift dan Ratchet mengerti. Bumblebee hanya memandang Optimus dan Mikaela dengan mata sedih.

Mikaela berjalan disebuah tempat yang aneh, dipenuhi dengan pohon-pohon yang sama anehnya. Ini bukan seperti bumi. Tetapi, apakah ini surga...atau neraka? Mikaela tidak dapat menjawabnya. Tetapi disana, ia melihat sebuah cahaya yang amat terang. Lantas ia berjalan mendekat ke cahaya putih itu.

Namun ada suara yang memanggil-manggil namanya, membuatnya berhenti melangkah. Ia tidak tahu suara milik siapa itu, tetapi rasanya suara itu begitu dekat dan tak pernah jauh darinya. Tidak pernah jauh darinya meskipun Mikaela tidak tahu siapa itu.

"Kau harus bangun, kau tidak boleh mati. Kau harus hidup. Kau harus hidup untuk menemaniku selamanya. Kau harus hidup, seperti janjimu untuk tetap berada disisiku selama—" suara itu terpotong.

Mikaela berlari mengelelingi tempat itu untuk mencari pemilik suara yang indah itu. namun yang bisa ia temukan hanyalah tempat asing yang tidak ia kenal. Ia terus berjalan menuruti kemanapun hatinya ingin kakinya untuk melangkah. Namun langkah kakinya lagi-lagi berhenti begitu mendengar suara itu lagi.

"I need you, Mikaela!" suara itu lebih keras, lebih jelas.

"Tolong tunjukkan dirimu," ujar Mikaela lemah. Namun tidak ada siapa-siapa disana.

Optimus masih sangat terpukul melihat Mikaela yang sudah tidak lagi menjawab suaranya. Ia tidak mendengar peningkatan tanda-tanda vital dari Mikaela. Rasanya, harapan sudah tidak lagi ada disisinya. Ia kemudian memandang Mikaela lagi, Optimus menundudukkan kepalanya. Tangan hologramnya tidak mampu menyentuh Mikaela sepenuhnya, tetapi masih dapat merasakannya melalui sensor utama.

"Mikaela, tolong...jangan tinggalkan aku," bisik Optimus. "Aku mencintaimu," sambung Optimus.

"Aku mencintaimu." Seseorang itu bersuara.

Mikaela tidak tahu apa yang terjadi, tetapi ia kemudian merasa menemukan sesuatu yang hilang darinya. Ia melihat sebuah foto tergeletak diatas tanah yang ia injak. Ia jongkok, namun belumdirinya bersama dengan robot yang amat besar berwarna merah dan biru. Robot itu tersenyum kepadanya dengan senyuman yang membuat hatinya bergetar.

Mikaela memberanikan diri untukmengambil foto itu dengan satu tangannya, namun saat ia menyentuh foto itu rasanya ada sesuatu yang menariknya dari belakang. Anehnya, Mikaela tidak berteriak, ia justru merasa benar-benar aneh dengan arti yang tidak bisa dijellaskan dengan kata-kata. Rasanya, saat ia terseret itu, ia bisa melihat senyuman robot itu, membuat hatinya menjadi hangat. Ia mungkin tidaktahu siapa sosok robot itu, tetapi hatinya berkata ia mencintai robot itu.

Ia berharap bisa bertemu dengan robot itu dan mengatakan betapa Mikaela mencintainya.

"OPTIMUS!" Mikaela bangit secara tiba-tiba.

Optimus amat kaget jika harus dibilang demikian. Tetapi ia benar-benar tidak menyangka, Mikaela yang ia kira sudah meninggal kini terbangun dengan sehat wal afiat tanpa kurang suatu apapun. Optimus tidak bisa berkata apapun selain tersenyum, dan tertawa. Sebuah tawa yang sudah lama tidak didengar oleh teman-teman Autobot nya, dan sebuah tawa yang merupakan sebuah musik yang indah. Para Autobot bersorak, terutama Bumblebee dan Hound yang paling ceria diantaranya. Drift mengangguk ketika Mikaela memandangnya.

Optimus tidak bisa berhenti mengucapkan jutaan syukur karena Mikaela telah kembali kedalam pelukannya. Mikaela memandang optik biru Optimus, betapa ia merindukan optik itu meskipun kenyataannya ia baru pergi beberapa menit saja. Sungguh, Optimus-lah yang membawanya kembali, dan Mikaela tidak ingin pergi dari Optimus selamanya.

"I love you, Mikaela. I love you," ucap Optimus.

"I love you too, Prime." Mikaela bersuara dengan air mata yang membasahi pipinya. Ia—Mikaela mencium pelat wajah Prime tanpa peringatan. Bedanya dengan pagi tadi, untuk saat ini Mikaela mencium Optimus lebih lama. ia berharap mungkin bisa mencium holoform Optimus yang juga tengah memejamkan matanya.

Optimus membuka matanya lagi, lalu tersenyum. Air mata Mikaela sudah mengering, hanya saja matanya masih memerah. Luka-luka ditubuhnya nampak bukan apa-apa dibanding dengan kebahagiaan yang merangkul mereka saat ini. Lalu Optimus berdiri, mengambil Mikaela dengan tangannya. Mikaela memprotes, namun ia mengurungkan niatnya untuk protes begitu Optimus meletakkan Mikaela diatas pundaknya. Optimus merasakan spark-nya bersinar terang didalam dadanya, jadi ia benar=benar tidak bisa berhenti tersenyum.

Ratchet berjalan menghampiri Crosshair, yang mana merupakan sekutu dalam permainan mari-meledek-si-bos-dan-pacarnya. Ia berbisik-bisik, memastikan tidak ada bot lain yang mendengarkannya. "Sekarang aku mendeteksi feromon yang tinggi dari kedua belah pihak," bisik Ratchet kepada Crosshair. Mereka tertawa. "Aku tahu harus berbuat apa," sambung Ratchet.

Optimus memandang kedepan, melihat Knight Ship menghilang diudara. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia bisa melihat akan ada pertarungan-pertarungan yang mungkin lebih mengerikan daripada yang baru saja terjadi. ia tahu jika yang terjadi hari ini baru permulaan, Optimus telah siap untuk menghadapi jalan yang telah ambil. Maka, kali ini ia hanya harus memastikan satu hal saja.

"Apa yang terjadi hari ini barulah permulaan." Optimus mengajukan pernyaaan kepada Mikaela dan Autobot. Mereka diam, tidak menjawab. "Lockdown akan kembali dengan rencana yang lebih matang. Itu berarti, ini belum selesai."

Mikaela saling bertukar pandangan dengan para Autobot, dan mereka semua memiliki ekspresi yang sama dengannya. Lantas, Mikaela memutuskan untuk menimpali pernyataan Optimus, "Lalu?"

"Apa kalian siap untuk petualangan selanjutnya?" Ia bertanya, kali ini pandangan optiknya kepada Mikaela.

Mikaela tersenyum, memandang Optimus penuh dengan kemantapan didalam hati. "Aku akan selalu berada disampingmu. Selamanya."

THE END

.

.

.

.

.

A/N : PHEEEW! Akhirnya selesai juga! Serius saya sampe gak bisa tidur mikir ini dan akhirnya saya bisa selesei. Ah, untuk ketidak jelasannya, saya mohon maaf.

So, review? *ngumpet*