Fillers Heart

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : Sasuke U x Hinata H

Genre : Romance, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya,


Chap II

Bagaimana caranya menunjukan pada dunia jika aku mencintai mu Hinata ?

Bagaimana caranya menunjukan pada setiap musim jika aku tidak bisa bernafas jika jauh darimu ?

Bagaimana caranya menunjukan pada semua jika hati dan jiwaku bukan lagi milikku ?

Senja menjelang, warna langit biru perlahan digantikan oleh megahnya mega terbenam, sang Uchiha masih setia menghabiskan waktunya di lapangan belakang kampus, sudah hampir 3 jam dia menghabiskan waktunya di lapangan yang di fungsikan untuk bermain basket outdoor.

Tuuk Tuukk

Terus menerus seperti itu, dia memantulkan berkali-kali bola, mendribblenya dan membawanya menuju ring. Peluh bercucuran dari setiap pori-pori kulitnya, ravennya basah karena keringat, dia melepaskan kaos olahraganya dan hanya menggunakan celana training pendek, bahkan dalam keadaan seperti ini saja Sasuke malah terlihat sangat menarik, otot-otot di tangannya, dadanya yang bidang dan perutnya dengan otot-otot yang mengeras bermandikan keringat dia terlihat sangat seksi.

Pikirannya kacau, aura hitam serasa melingkupinya, dia menyalurkan setiap emosinya pada bola basket yang dia pantulkan, dalam mode seperti ini jangan sampai ada yang berani mengusiknya apalagi menyentuh sang Prodigy Uchiha jika kau masih sayang nyawamu.

Hinata Hyuga.

Yah, dia penyebabnya… sudah 3 hari sang Uchiha tidak bisa melihat eksistensinya. Ini sudah hampir 72 jam sejak terakhir Sasuke melihat Hinata, Sasuke merasa sulit bernafas… padahal tidak melihat Hinata satu hari saja sudah bisa membuat dia menghancurkan 1 tempat club malam, saat itu rindu membelenggu jiwanya, dia tidak bisa menemukan Hinata-nya dikampus satu hari itu, awalnya dia berniat menenangkan dirinya dengan menerima ajakan Naruto untuk minum di club milik Orochimaru, tapi saat itu dia tidak sengaja tersiram air oleh salah satu pengunjung disana, Sasuke yang memang tidak dalam kondisi stabil, dia naik darah, dia memukul dan berkelahi bahkan dengan seluruh pengunjung yang membuat club itu hancur lebur. Yah… hanya gara-gara dia tidak bisa melihat Hinata satu hari saja, lalu bagaimana saat ini … sudah tiga hari dia tidak bisa melihat Hinata.

Sasuke kacau, jelas dia kacau...

Dia sudah berusaha mengumpulkan keberaniannya, mendatangi apartemen sang Hyuga untuk melihat keadaanya secara langsung, tapi nyalinya hanya bisa mengantarkan dia untuk sampai gerbang apartemennya.

Lankahnya terhenti,

Dadanya bergemuruh, dia berbalik langkah dan hanya bisa memandangi jendela apartemen Hinata dari kejauhan.

Tuukk… Tukkkk… Tukkkk

Lagi dan lagi, Sasuke memantulkan bolanya dengan seluruh emosi dalam hatinya, nafasnya terengah… hingga ketika onyx-nya menangkap bayangan pujaaan hatinya sedang berlari-lari kecil di koridor kampus.

Sasuke menahan nafasnya, onyx-nya membesar tak percaya, Hinata-nya… yah itu Hinata-nya, dia disini, berada dalam jangkauannya dengan celana jeans, kaos berlengan sampai siku dan ransel besar di belakangnya, indigonya di ikat dan digulung rapi. Senyum Sasuke mengembang… dia tersenyum geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa dia jadi sebodoh ini ? padahal dia sudah tahu, lebih dari seminggu yang lalu dia sudah tahu perihal kabar ini, Hinata akan mewakili universitas nya untuk mengikuti olimpiade di prefektur Osaka selama 3 hari dan kenapa selama 3 hari ini sang Uchiha malah kehilangan pikiriannya.

Hinata… Hinata...

Sasuke mendengus geli, kemana otak jenius nya pergi, dia kemudian memakai kaosnya dan merapihkan barang-baranya lalu pergi mengikuti Hinata, yah… hanya sampai batas mengikuti dari belakang seperti biasa dan memastikan ia baik-baik saja sampai tiba di apartemen.


Angin yang berhembus di sekitar mu kini mengarah padaku, membuatku jauh lebih dalam untuk mencintai-mu.

Jam istirahat, Kantin jelas ramai… dan Sasuke sama sekali tidak suka itu, Seharusnya sebagai sahabat terdekatnya Naruto tahu itu, bukan malah menyeret Sasuke untuk makan siang di kantin, bersama dengan Shikamaru pemuda bermarga Nara yang juga ditarik paksa oleh Naruto untuk makan di kantin.

"Jika kau lapar, kenapa tidak kau order saja dan makan di tempat biasa, kenapa malah memaksaku menemanimu ke kantin dobe !" Ucap Sasuke

"Hehehehe, ramen itu enak di makan langsung teme, bukan di bungkus yang ada ramennya sudah tidak enak dan dingin, sudahlah kita sudah ada di kantin, dan ini tidak terlalu ramai kok, kau mau pesan apa ? biar kupesankan –ttebayo ?" Jawab Naruto dengan cengiran khasnya.

"Ck, Mondokusai." Sambung Shikamaru melihat sekeliling kantin kini memfokuskan pandangannya pada mereka bertiga.

Bukan hanya karena ramai, tempat yang seperti ini Sasuke selalu merasa risih, bagaimana tidak sejak masuk ke kantin setiap mata mahasiswi terus menerus menatapnya, baik kouhai maupun mahasiswi seangkatannya.

Baru saja, Sasuke duduk dan menyandarkan punggunya di kursi yang ada di kantin, wangi lavender menyerbak masuk kedalam hidungnya, tubuhnya menegang… onyx-nya bergerak liar mencari asalnya aroma tersebut. dan bayangan Hinata tertangkap dalam retinanya 'Hinata' ucapnya dalam hati.

Onyx-nya terus menatapnya, seakan tidak rela kehilangan satu detik waktu saja untuk melepaskan pandangannya dari sang Hyuga. Hari ini dia merasa sangat beruntung, dia bisa melihat Hinata untuk yang kedua kalinya, saat pagi tadi sebelum kelas di mulai dan saat siang ini.

"Ck, jika kau tidak segera mengambil langkah kau akan sangat menyesal Sasuke." Ucap Shikamaru.

"Hn." Sahut Sasuke tanpa minat menanggapi, onyx nya masih terpaku pada Hinata.

"Mondokusai, sampai kapan kau akan terus mengagumi nya dari kejauhan ? apa kau tidak ingin memilikinya untuk dirimu sendiri ?" Tanya Shikamaru kemudian.

Mungkin didunia ini hanya Shikamaru saja yang tahu bagaimana gilanya Sasuke terhadap Hinata, padahal Sasuke tidak pernah bercerita terhadap siapapun tentang perasaannya pada Hinata, yaah… mungkin karena pemuda Naara adalah orang-orang jenius jadi masalah seperti ini jelas dia sangat tahu.

"Hn." respon Sasuke.

Dan Shikamaru hanya bisa mengendikkan bahu sebagai respon "Aku hanya tidak ingin kau menyesal Uchiha, sebentar lagi angkatan kita akan lulus dari kampus ini dan mungkin saja kau tidak akan bertemu kembali dengan Hinata-mu itu." Lalu dia berdiri dan menepuk perlahan pundak sang Uchiha lalu berlalu pergi "Oh, ya bilang pada Naruto, aku mengantuk dan ingin tidur."

Sasuke termangu, ucapan Nara memang benar, jika terus seperti ini dan jika dia terus mengharapkan Hinata yang sadar akan perasaanya, Hinata yang sadar dengan keberadaanya dan jika dia tidak membuang egonya, hubungan dia dengan Hinata tidak akan pernah ada dalam cerita, lalu… tidak akan bertemu kembali dengan Hinata ? yang benar saja ? satu hari tidak bertemu saja Sasuke sudah kesulitan bernafas bagaimana jika selamanya ? Dia jauh lebih memilih mengakhiri hidupnya dari pada tidak bisa melihat Hinata-nya… toh buat apa juga dia hidup ? jika tujuan hidupnya saja jauh dari jangkauannya.

"Loh, Shikamaru kemana teme ?" tanya Naruto pada Sasuke, dengan membawa seporsi penuh ramen dan segelas kopi di tangannya.

"Hn" jawab Sasuke, dia menerima kopi dari Naruto dan meminum kopinya perlahan… walau jika di perhatikan matanya tetap bergerak mencuri pandang pada Hinata yang saat ini sedang tertawa dan menghabiskan karage nya dengan teman-teman perempuannya.

Melihat Hinata tertawa hatinya menghangat, namun ucapan Shikamaru jelas membawa dampak pada sang Uchiha, tubuhnya bergetar, berbagai spekulasi memenuhi otak jeniusnya, Sasuke hanya merasa dia sangat takut.


Shikamaru benar, jika ia terus bersikap seperti ini, bukan hal yang mustahil jika Hinata akan benar-benar hilang dari pandangannya. Sasuke ketakutan, rasa takut menyelimuti dirinya… setiap kali dia melihat Hinata-nya, ia sangat ingin mendekatinya... mendekap tubuh mungilnya dalam pelukannya, menghirup aroma lavender dari setiap sel tubuhnya.

Dan… Mengecup bibirnya menengguk setiap rasa yang ada padanya, dan ia ingin menguasai Hinata baik tubuh dan hatinya.

20 Juli.

Ya, hari ini 20 juli, 3 hari lagi sang bungsu Uchiha akan bertambah umur, dan hal-hal yang merepotkan akan terjadi.

Padahal sama seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap tanggal 23 juli banyak dari mahasiswi yang tidak punya malu atau mungkin sudah terlanjur cinta pada sang cassanova kampus, berlomba-lomba menyerahkan kado ulang tahun terbaik untuk sang Uchiha yang padahal Sasuke sudah jelas akan menolak tanpa perasaan hadiah dari mereka, kadang ia menerimanya lalu membuangnya ke tempat sampah, atau bahkan lebih kejam hanya melirik dan tanpa berkata apapun berlalu meninggalkan para fans nya yang sudah mengantri untuk memberikan hadiah ulang tahun, tapi itu tetap tidak membuat mereka jera dan terus menerus begitu setiap kali Uchiha Sasuke berulang tahun.

Padahal yang Sasuke butuhkan saat ia berulang tahun hanya keberadaan Hinata di sekitarnya. Bahkan Sasuke sengaja berada di sekitar fakultas Hinata saat hari ulang tahunnya, berharap do'anya di kabulkan Kami-sama dan Hinata yang melihatnya akan mengucapkan selamat ulang tahun padanya, tapi realitanya….

Poor Sasuke…

Sebenarnya apa yang kurang darinya ? sehingga sang Hyuga tanpa minat sedikitpun untuk sekedar mengubah atensinya pada nya ?

Dan karena itu pula, Sasuke mengubah rencanya…

Jika setiap tahun ia menolak untuk perayaan ulang tahunnya, tahun ini ia akan meminta pada Ka-sannya untuk di buatkan perayaan ulang tahun yang paling mewah… ya, Sasuke akan mengundang seluruh mahasiswa di universitas yang satu angkatan dengannya.

Ya… Seluruh mahasiswa, berarti itu termasuk Hinata Hyuga…

Ya, memang itu tujuannya untuk membuat Hinata melihatnya dan berbicara dengannya.

Tapi, lagi-lagi ego masih menguasai dirinya…

Ia terlalu yakin Hyuga Hinata akan datang ke pesta, dalam hayalannya Hinata akan datang dengan malu-malu serta rona merah di pipinya mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.

Sang prodigy menyebar undangan…

Tanpa satupun yang terlewat, setiap mahasiswa baik itu di fakultas yang berbeda, setiap yang satu angkatan dengannya ada dalam list undangannya, dan ini jelas menjadi hot news trending topic di kampus.

Bagaimana tidak, Sasuke yang biasanya akan menolak segala atensi yang diberikan padanya di saat hari ulang tahunnya dan saat ini ia malah mengadakan perayaan untuk membuat seluruh atensi tertuju padanya.

Setiap mahasiswi maupun mahasiswa sibuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk acara nanti, mereka berharap ada keajaiban di acara tersebut, berharap bungsu Uchiha melihatnya dan mungkin tertarik padanya, yaahhh… dan para kouhai-nya yang memuja sang Uchiha hanya bisa gigit jari karena tidak mungkin bisa untuk hadir di acara tersebut walaupun mereka menginginkannya.

Lain halnya dengan Hinata…

"A-ano Tenten-san ?" tanya Hinata pada Tenten satu-satunya sahabatnya di universitas ini.

"Nani Hinata ?" Jawab tenten yang tepat ada di sebelahnya.

"Kau akan hadir di acara Uchiha-san ?" tanya Hinata lagi.

"Sepertinya tidak Hinata, tanggal 23 orang tuaku datang dari cina dan aku tidak mungkin kan meninggalkan mereka sendiri di jepang ? jawab Tenten sambil meminum jus jeruk kotaknya.

"Oh, souka…" jawab Hinata, tangannya menggenggam erat undangan yang baru dia dapat, dari undangannya saja jelas pesta ini terkesan sangat mewah. "Lalu, jika Tenten-san tidak bisa datang akupun tidak akan datang saja." ucap Hinata kemudian.

"Loh, memang kenapa ?"

Sambil memanyunkan bibirnya tanda ia sedang kesal "Jika tidak ada Tenten-san, aku dengan siapa disana ? tidak mau… tidak banyak yang aku kenal disana, aku tidak akan datang saja."

"hahahahahahahah…." dan Tenten tertawa mendengar jawabanya "Disana kan ada Ino, Hinata… kau bisa bersamanya ?" tawar Tenten

"Tidak… Ino dia pasti akan sibuk dengan Sai."

"ya… yasudah terserah kau saja Hinata, tapi apa kau tidak akan menyesal ? hal yang langka bisa menghadiri pesta dari keluarga inti Uchiha, aku yakin pestanya pasti sangat menarik."

"tidak, lagi pula… Uchiha-san mengundang seluruh mahasiswa dikampus aku yakin jika ada yang tidak datang satu atau dua orang dia tidak akan tahu kan ?" tanya Hinata, dan Tenten hanya mengganguk sebagai jawabannya.


23 Juli

Mansion utama uchiha sudah ramai sejak kemarin pagi, beberapa pekerja berlalu lalang, sibuk mendekorasi dan memperindah kediaman Uchiha yang akan di gunakan sebagai tempat perayaan ulang tahun sang bungsu Uchiha, rumah yang sejak awalnya memang sudah sangat mewah di tambah dengan dekorasi yang indah jauh menambah kesan mewah untuk kediaman utama dari klan uchiha, mansion nya disulap bagaikan istana kerajaan, setiap sudut di tata dengan bunga, lantai marmernya dipoles agar lebih mengkilap, setiap sudut ruangan di beri pencahayaan yang gemerlap.

Taman belakang mansion Uchiha yang lebarnya bahkan melebihi ukuran lapangan sepak bola, dengan kolam renang di tengah taman dan air mancur buatan di setiap sudut taman.

"Sasu-chan, kau sudah coba jas yang baru saja ka-san simpan di kamar mu ?" tanya Mikoto Uchiha yang tak lain adalah ibu dari Uchiha Sasuke, saat Sasuke meminta untuk diadakan pesta ulang tahun, dia yang sangat excited mendengarnya, bagaimana tidak, biasanya setiap tahun ia yang selalu memaksa Sasuke untuk mengadakan perayaan dan hasilnya selalu di tolak Sasuke tapi tahun ini Sasuke sendiri yang meminta, dan itu jelas membuat istri dari Fugaku senangnya bukan main.

"Sudah." Jawab Sasuke singkat. "Bagaimana, apa kau suka ? apa terlalu kecil ukurannya ?" Tanya Mikoto lagi.

Dan Sasuke hanya mendelik dan mengerutkan alisnya tanda tak suka pada statmen ibunya. "Berat badanku tidak naik." Jawab Sasuke dengan kesal. Dan Mikoto hanya bisa tertawa sambil berlalu meninggalkan Sasuke ke arah taman belakang, Mikoto Uchiha hanya ingin melihat dan memastikan semua persiapan untuk pesta nanti malam sudah sempurna.


Waktupun berganti malam, 23 Juli adalah hari kelahiran dari sang Cassanova kampus, satu persatu undangan datang memenuhi kediaman utama Uchiha, mobil-mobil mewah terparkir rapih berjejer bagaikan di tempat showroom.

Jam 08.00 malam, lagi dan lagi Sasuke mengecek alroji mahalnya, dia mendengus ini sudah lewat dari satu jam sejak acara di mulai, dan mana Hinatanya ? Jangankan bayangannya… wanginya saja belum tercium hadir di sekitarnya.

tuk.. tukkk

Ia menjentikkan jari telunjuknya pada meja.

Ia mulai kesal, waktu menunjukan pukul 08.45. Raut wajah Sasuke mulai mengeras, aura hitam jelas serasa melingkupinya.

Mana Hinatanya ? iya yakin ia meminta Naruto untuk mengundang semua mahasiswa ke pesta ini, bahkan undangan Hinata ia sendiri yang menuliskan namanya menggunakan ballpoint sedangkan undangan yang lain tercetak otomatis oleh mesin print.

Pukul 10.00

'Brengsek ! brengsek !' maki Sasuke dalam hati, ia kesal sudah lebih dari 3 jam sejak acara dimulai dan Hinata sama sekali belum datang, ia mendengus dan marah, mendelik dan memacarkan aura membunuh yang kuat, ia mengabaikan setiap tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukknya bahkan hadiah yang mereka bawa pun tidak Sasuke sentuh sama sekali.

Yang ia butuhkan hanya Hinata, yang ia inginkan hanya hadiah dari Hinata dan mana dia ? berani sekali dia tidak datang padahal sang Uchiha sudah mengundangnya secara resmi.

Pukul 11.00 malam

Perlahan undangan mulai meninggalkan kediaman inti keluarga Uchiha, pesta pun berlangsung dengan meriah, walaupun hati sang pemilik pesta benar-benar merasa sepi, ia marah dan sakit hati.

Dengan emosi, sang prodigy kembali ke kamarnya, mengacak bahkan menghancurkan apa yang terlihat di matanya, ia kembali ke dunianya yang sepi, setiap imajinasi nya yang sudah ia bangun 3 hari terakhir tentang pesta ini menguap entah kemana, sang pujaan hati yang ia nantikan kehadirannya sampai pesta berakhir sama sekali tidak Nampak batang hidungnya.

Hei Sasuke, jika saja kau mau secara langsung meminta Hinata untuk menjadi milikmu, mungkin tidak akan pernah ada cerita yang seperti ini.


Pagi hari, parkiran kampus masih sangat sepi, hanya beberapa penjaga kampus yang hilir mudik terlihat sibuk membersihkan pekarangan kampus, tapi Lamborghini hitam sudah rapi terparkir di tempatnya.

Uchiha Sasuke

Ya, pemiliknya tak lain adalah Uchiha Sasuke, ia sudah stand by berdiri menyandar di kap mobil depannya, ya… ia memang sedang menunggu seseorang, ia akan menunggu Hinata dan menanyakan secara langsung kenapa ia tidak datang saat pesta tadi malam.

Lalu waktu pun perlahan berganti,

Sang hime yang dinanti terlihat di matanya, Sasuke tersenyum, walau hatinya masih terasa panas akibat perasaan yang memburuk sejak semalam, tapi melihat kehadiran Hinata jelas menjadi obat penawar untuknya.

Shikamaru benar, jika ia tiak mengambil langkah sekarang… bisa-bisa Hinata hilang dari pandangannya, lantas jika itu terjadi… bagaimana ia bisa melanjutkan hidupnya ?

Sasuke menahan nafasnya, berusaha mengatur ritme detak jantungnya.

"Hyuga ?!" panggil Sasuke padanya.

Pemilik marga pun seketika menolah, amethyst nya membesar… melihat siapa yang memanggilnya, seketika rasa takut menjalar dan melingkupi tubuhnya "Ha..hai?" jawab Hinata.

Sasuke terus maju, langkah lebarnya terus mendekat pada Hinata, dan Hinata ia berlaku sebaliknya, ia merasa takut tanpa sadar ia mundur perlahan, Hinata tercekat… tak ada lagi jalan lain di belakang tubuhnya, ia terhimpit di dinding parkiran kampus, dan Sasuke langkah demi langkah dengan sorot mata nya yang tajam terus menerus melihat Hinata dengan tatapan sarat luka menyakitkan.

Bagaimana tidak ?

Ia selalu menatap Hinata dengan pandangan memuja, dan saat ini Hinata yang terpantul dari mata nya adalah rasa ketakutan terhadap Sasuke.

Tubuhnya mungilnya terhimpit diantara dinding dan tubuh besar Sasuke, perlahan dengan tangan bergetar ia menarik dagu sang Hyuga yang terus menerus menunduk untuk meminta atensinya, amethyst nya berhasil mencuri satu detakan jantung Sasuke "Hyuga, kenapa kau tidak hadir di pesta tadi malam ?" tanya Sasuke padanya.

"A… ano, i-itu Uchiha-san, a-aku demam ta-tadi malam, jadi aku ti-tidak bisa datang." Ucap Hinata dengan terbata, dan jelas dia berbohong dan Sasuke tahu itu, bola matanya bergerak gelisah, dan jelas itu menunjukkan jika ia memang berbohong.

"Hn." Sasuke mendengus keras, ia melepaskan tangannya dari dagu Hinata serta berbalik pergi meninggalkan Hinata dengan seribu pertanyaan.

Ya, Sasuke memang harus pergi dari tempat itu, ia benar-benar emosi, ia takut Hinata akan melihatnya dalam kondisi seperti itu. Sasuke masuk kembali ke mobil kebanggannya lalu melajukan mobilnya keluar kampus dengan kecepatan seperti orang gila.

##

Mata kuliah terakhir hari itu pun sudah selesai, Hinata merapihkan jurnalnya dan memasukannya ke dalam ranselnya "ano, Tenten-san ?" tanya Hinata pada Tenten yang duduk di depanya.

"Nani Hinata-chan ?" jawab Tenten. "Kau semalam benar kan tidak hadir di pesta perayaan Uchiha-san ?" tanya Hinata kembali.

"iya, bukannya aku sudah menjelaskan itu melalui telpon kan semalam ?" jawab Tenten kebingungan "memangnya kenapa ?" tanyanya lagi pada Hinata.

Dan Hinata hanya menggelengkan kepalanya "ehm, apa Uchiha-san menegurmu karena kau tidak hadir di pestanya ?"

"Tidak !" Ucap Tenten, "Memang ada apa Hinata ?" tanyanyalagidan Hinata hanya menggelengkan kepalanya.


3 hari sudah terlewati sejak Sasuke menegurnya, dan itu jelas membawa dampak psikis untuk Hinata, ia jadi susah berkonsentrasi dalam segala hal, rasa bersalah meliputinya… ia merasa menjadi pribadi yang sangat tidak sopan karena mengabaikan undangan dari seseorang.

Dalam pikiran nya, bagaimana caranya untuk meminta maaf dengan Uchiha itu.

Dengan segala keberanian, ia perlahan melangkahkan kakinya menuju gedung fakultas sang pangeran kampus berada, langkah demi langkah terasa berat untuk Hinata, tapi bagaimana pun dia harus meminta maaf pada Sasuke.

Bingkisan yang dihiasi pita ungu dia genggam didepan dadanya, byakugannya bergerak liar mencari keberadaan sang Uchiha, dan bukan hal yang susah untuk menemukan prodigy Uchiha, karena dimanapun keberadaanya auranya jelas yang paling bersinar.

Ia duduk bersandar pada pohon besar di taman fakulas bisnis dan management, matanya terpejam, semilir angin serasa membelai-belai ravennya. Hinata mendekat, Sasuke tercekat… ya, Sasuke menegang walau dengan mata terpejam ia merasakan kehadiran Hinata, wangi lavender Hinata tertangkap dalam indara penciumannya, sambil terpejam ia menggelengkan kepalanya dan membuang segala pikirannya yah… Sasuke hanya merasa tidak mungkin jika Hinata ada di fakutas ini.

"sumimasen Uchiha san ?"

Deg

Jantung Sasuke bertalu, walau ia jarang mendengar secara langsung suara Hinata, tapi ia sudah sangat hapal dengan suara ini, onyx nya terbuka dan membesar tidak percaya.

Hyuga Hinata

Ya, Hinata-nya disini, dengan pipi kemerahan ekpresi yang sangat di sukai olehnya berdiri di hadapannya dan memanggil namanya "Uchiha-san?" tanya Hinata kembali karena merasa Sasuke hanya diam tidak meresponnya.

"Ya" Jawab Sasuke, nafasnya tercekat oksigennya terasa hilang, Sasuke sulit bernafas.

Hinata memposisikan dirinya di depan Sasuke lalu perlahan duduk bersimpuh dan memberikan bingkisan yang sedari tadi ia genggam pada Sasuke.

Lagi, dan lagi.

Onyxnya tak percaya, mimpi apa dia semalam ? atau hal baik apa yang sudah ia lakukan hingga Hinata bisa bersikap seperti ini.

"Ano, Uchiha-san, aku benar-benar minta maaf tentang pesta itu, sungguh aku tidak bermaksud untuk tidak hadir saat itu." Ucap Hinata tulus.

Dan Sasuke hanya bisa mengangguk sebagai respon.

"Ini, kurasa aku memang sudah bersikap tidak sopan dengan tidak datang ke pesta ulang tahun mu, ini aku membuatnya sendiri." Hinata kembali menyodorkan bingkisannya pada sang Uchiha.

Dengan gemetar, Sasuke menerima bungkusan itu.

"Kuharap Uchiha-san suka dengan yang aku buat, sekali lagi maafkan aku." ucap Hinata kemudian dengan menundukkan kepalanya tanda permintaan maaf pada sang Uchiha.

"Te-terima kasih." Jawab Sasuke

Hanya ini kata yang bisa keluar dari mulutnya, Sasuke merasa sangat bahagia, ia seperti mendapatkan hadiah ulang tahun terbaik sepanjang hidupnya di tahun ini walaupun telat 3 hari tidak mengapa, Jika hadiahnya dari Hinata seumur hidupnya pun ia akan bersabar menunggu.

Hinata berdiri, dia kemudian menundukkan kepalanya sekali lagi pada sang Uchiha, lalu berpamitan padanya.

"Hyuga !"

"Ya ?" Hinata yang sudah memunggunginya perlahan berbalik dan menoleh pada sang Uchiha

"Ini, aku terima dan terima kasih" Ucap Sasuke sambil mengubah posisinya menjadi berdiri.

Dan Hinata ia, hanya tersenyum lalu menundukkan kepalanya untuk yang kesekian kali pada Sasuke, lalu perlahan bayangannya hilang dari pandangan sang Uchiha.

Kapan waktu mu untuk menyadari, bahwa aku satu-satunya yang memperhatikan hatimu.

-tbc-

Konbanwa Minna-san

Gomenne kalau chap ini mengecewakan, saya masih banyak belajar dan mohon bimbingannya.

Untuk review yang masuk, saya bingung bagaimana harus membalasnya lebih tepatnya tidak tau cara membalasnya… hehehehe yang jelas terima kasih banyak atas respon positifnya.

Fict ini pasti akan saya selesaikan sampai tamat kok.

Sekali lagi,

Sankyu Arigatou dan Oyasuminasi. ^-^

Intan.