Fillers Heart

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : Sasuke U x Hinata H

Genre : Romance, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya,

.

FINAL CHAP

.

.


Chap VIII

"Aku rasa ini percuma Mikoto-san, tubuh Sasuke seperti bereaksi menolak semua alternatif pengobatan yang kami berikan, Sasuke-kun sepertinya sudah tidak mempunyai alasan untuk mempertahankan jantungnya agar tetap berdetak."

Tes… tes… tes…

Bunyi tetesan air infuse yang terdengar menambah kesedihan yang dirasakan Mikoto Uchiha, sudah lebih dari 6 bulan ia harus merasakan sakit di dadanya karena melihat anak tersayangnya hanya bisa terbujur kaku, badannya yang senantiasa tegap dan gagah kini tampak pucat dan kurus.

"Sasu-chan… bangunlah sayang." lirih Mikoto berbisik di telinga anaknya.

Fugaku Uchiha…

Wajah senjanya, yang biasanya tenang dan bersahaja, kini terlihat sayu dan penuh perasaan luka, yah… anak kebanggaan-nya, refleksi dirinya, jati dirinya kini terbujur kaku, yang kehidupannya bahkan bergantung pada alat-alat medis yang menempel di seluruh tubuhnya.

"Jugo… kemana Itachi? dari tadi siang ponselnya sulit dihubungi?" sambung Fugaku pada Jugo yang sejak mereka datang sudah berdiri tegap di samping Sasuke.

"Itachi-sama dan Konan-sama siang ini pergi ke Cina." ucap Jugo perlahan penuh kesopanan di setiap suku katanya.

"Cina?" tanya Mikoto penuh keheraan "Untuk apa Itachi-kun kesana?" sambungnya.

"Itachi-sama ingin menemui teman dekat Hyuga-san sewaktu di universitas yang mungkin saja tahu dimana alamat Hyuga-san yang sebenarnya." ucap Jugo menjelaskan

Seketika onyx lembut Mikoto Uchiha bersinar, raut kesedihan tadi mendadak terkikis walau hanya sedikit.

Mikoto menggengam erat tangan dingin Uchiha Sasuke "Sasu-chan… kau dengar? Itachi-Aniki pasti akan membawa Hinata-chan padamu, kau harus bertahan sayang, kau harus bangun." ucapnya sendu.

Dan Fugaku.

Ia yang benar-benar merasa tidak tahan melihat situasi ini mundur perlahan menghilang keluar ruangan, ia benar-benar butuh udara segar.


I guess love is difficult

CINA

Konan mengecek kembali ponselnya yang menampilkan pesan alamat yang dikirim oleh Jugo, rumah besar yang kental bergaya cina klasik dengan aksen kayu dan warna merah yang membawa keberuntungan "Kau yakin ini rumahnya anata?" tanya-nya pada Itachi.

Dan Itachi membalas dengan senyum lembut pada istri di sampingnya ini "Hn, yah… sesuai dengan alamat, ini kediaman yang dimaksud Jugo."

Skip time

"Mencari kediaman seseorang di Jepang, sampai harus jauh-jauh pergi ke Cina?" tanya Tenten memastikan.

Tenten jelas saja terkejut dengan kedatangan 2 konglomerat pemilik Uchiha Corporation yang bahkan salah satu anak perusahaannya sukses mengembangkan sayap bisnis nya di dataran Cina.

"Yah… karena hanya anda satu-satunya harapan kami untuk menemukan dimana kediaman Hinata Hyuga." Jawab Itachi penuh wibawa, wajahnya menegang… ia melafalkan do'a disetiap suku katanya, berharap kedatangganya ke Cina membuahkan hasil yang pasti.

Tenten terdiam.

Seseorang seperti Itachi Uchiha yang bahkan tidak pernah terlintas dalam mimpinya untuk bertemu secara langsung, apalagi sampai berkunjung ke rumahnya hanya untuk mencari sahabatnya?

"Ano… saya tidak tahu dimana alamat rumah Hinata-chan, saya benar-benar minta maaf Uchiha-sama." Jawab Tenten berbohong.

Ya, ia jelas berbohong…

Karena selama masa kuliah ia sudah beberapa kali berkunjung ke kediaman Hyuga Hinata sahabat terdekatnya.

Ya, Tenten hanya merasa ia harus berbohong, ia harus melindungi Hinata, karena… seorang Uchiha mencari sahabatnya jelas mereka memiliki alasan tertentu karena mencari Hinata.

Dengan nada sendu Konan menggengam erat jemari suaminya yang terlihat bergetar "Tolong jangan menutupinya Tenten-san, kami sangat membutuhkan Hinata." Ucap Konan.

"Ta-tapi… kenapa?" tanya Tenten heran.

"Tidak… bukan kami, tapi -tapi Sasuke sangat membutuhkan Hinata, jika tidak… jika kami tidak menemukan Hinata Hyuga secepatnya… Sasuke akan… a-akan…" jawab Konan bergetar, matanya memancarkan aura penuh pengharapan pada gadis dihadapannya ini.


Ini bukan obyek cinta tak berbalas…

Dulu…

Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu...

Yang kumulai sendiri dan akan kuakhiri sendiri.

"Aw…" Hinata mengaduh, jari kakinya tersandung kerikil kecil "Hujan lagi?" tanyanya pada diri sendiri.

Dengan payung yang digenggaman tangan kanannya, Hinata sedikit berlari untuk mencapai rumahnya, senja memang sudah mengambil alih waktu di hari ini, di tambah dengan air hujan yang semakin deras menambah alasan Hinata untuk berlari, secepat mungkin sampai di rumahnya dan merasakan hangatnya teh herbal buatan Ni-san tersayangnya.

Yah…

Sudah beberapa bulan ini,

Sejak ia meninggalkan Tokyo dengan semua kenangan yang ia lepasakan.

Hinata berusaha melupakan semuanya, ia menyibukkan dirinya dengan menjadi salah satu pengajar di satu-satunya sekolah yang tersedia di desa ini.

Desa dengan sejuta keindahan alam yang di tawarkan.

Jauh dari hiruk pikuk kemacetan ibukota.

Aliran sungai yang jernih, ditambah dinginnya hawa perbukitan semakin menambah kelengkapan yang ditawarkan di desa ini.

Desa yang jauh dari perbatasan Wabaya* dan prefektur Mi*, butuh waktu lebih dari 3 jam untuk menuju jalan raya, dan semuanya hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki, yah… tidak ada akses kendaraan yang bisa melewati daerah ini.

Bahkan aliran listrik pun hanya ada di malam hari.

Yah…

Desa terpencil yang menawarkan sejuta keindahan.

Desa Kizaru*

"Tadaima… Neji-nisan… sepertinya ni-san sedang kedatangan banyak tamu?" teriak Hinata sambil menyampirkan payung yang digunakannya, ia melepaskan sandal luarnya dan merapihkannya ke rak yang ada di sebelahnya, mengganti alas kakinya dengan alas kaki khusus di rumah.

Alis Hinata berkerut.

Tapi… siapa memang tamu Ni-san nya ini, kenapa dari sepatu yang tergeletak di teras pintu masuk, terlihat merek-merek sepatu branded, apa pasien ni-san nya kali ini orang kaya?

Tanpa berfikiran apapun Hinata mengendikkan bahunya, ia melangkah masuk.

Perlahan kaki mungilnya membawanya menuju ruang tamu.

Dengan senyum ceria ia bersiap untuk menyapa tamu ni-sannya, dan mungkin membantunya seperti biasa.

Tapi,

"Ni-san…" Suaranya yang ceria seketika turun beberapa oktaf.

Amethyst nya beradu pandang dengan Onyx kelam yang selalu ia hindari bahkan dalam mimpinya, mengunci pandangannya dan membawanya kembali pada luka yang ia tinggalkan.

Lututnya melepas.

Seluruh badannya bergetar.

"U-Uchiha-sama?" tanyanya dengan lirihan, berusaha memastikan bahwa yang terpantul dalam byakugannya bukan fatamorgana.

Neji mendekat pada adik tersayangnya.

Ia yang benar-benar tidak mengerti dengan alasan kedatangan dua orang dari marga yang terkenal datang mengunjungi desanya, bahkan rumahnya!.

Perlahan ia mengusap surai indigo Hinata yang saat ini panjangnya sudah mencapai punggung "Hinata… ni-san tidak mengerti kenapa kau bisa berhubungan dengan konglomerat seperti mereka, tapi yang harus kau lakukan adalah selesaikan masalahmu dengan mereka, dan jika kau butuh bantuan ni-san pasti akan membantumu, selesaikan masalah mu apapun itu karena ni-san tidak pernah mengajarkan mu untuk lari dari masalah." Ucap Neji sedikit berbisik pada Hinata.

"Uchiha-sama kutinggal sebentar… dan ini Hinata silahkan berbicara dengannya." jawab Neji sambil sedikit membungkukan kepalanya dan berlalu pergi meninggalkan Hinata dan Uchiha sulung beserta istri-nya.

Ya,

Setelah mendapatkan alamat dari Tenten, tanpa pertimbangan apapun Itachi dan istri langsung terbang kembali ke Jepang, ia benar-benar tidak ingin membuang waktu untuk bertemu Hinata Hyuga dan membawa nya kehadapan adik tersayangnya, sehingga penderitaan yang Sasuke rasakan akan segera berakhir, karena hanya itu yang ada di pikiran Itachi Uchiha.

Dengan perlahan Hinata duduk di hadapan Itachi Uchiha, ia benamkan wajahnya dengan surai indigo panjangnya, ia benar-benar tidak ingin melihat Onyx yang menurutnya sangat berbahaya.

"Hi-hinata?" tanya Itachi "Kau benar kan Hinata Hyuga?" sambungnya kemudian.

Dan Hinata hanya bisa mengangguk sebagai respon.

Dengan air mata yang sudah membanjiri pelupuk matanya, melihat Itachi Uchiha seakan membuka kembali luka lama yang sudah mati-matian ia tutupi, membuka kembali keran bayangan masa lalu bayangan kebersamaanya dengan lelaki harapannya dan itu jelas membuat dadanya semakin sesak, semakin sesak dan terasa sulit bernafas.

Ia, dilingkupi rindu pada Sasuke Uchiha.

"A-ano… a-da perlu apa U-Uchiha-sama mencariku?" tanya Hinata bergetar.

Itachi tersenyum, ya… lebih dari 6 bulan lalu Itachi merasa sulit sekali untuk membentuk senyuman lebar seperti yang biasa ia lakukan, adik tersayangnya terbujur kaku membuat ia tidak mempunyai alasan lagi untuk tersenyum.

Dan saat ini,

Alasan kebahagian Sasuke Uchiha ada di hadapannya, ia bisa memenuhi janji pada kedua orang tuanya untuk membawa Hinata Hyuga, janji kepada otoutou-nya, dan… harapan untuk membuat Sasuke hidup kembali.

"Hinata-chan…" Konan perlahan menggeser posisi duduknya, ia mendekat pada gadis pujaan Sasuke adik iparnya "Hinata-chan, bagaimana kabarmu?" tanya Konan kemudian, ia meraih jemari hinata yang terlihat bergetar.

Dan Hinata, ia semakin gugup.

Ini pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan Uchiha lain selain Sasuke.

Dan yang Hinata akhirnya tahu, semua Uchiha punya aura yang bisa membuat orang di sampingnya bergetar.

"Sa-saya baik Uchiha-sama…" jawab Hinata, sambil terus menundukkan pandangannya, yah… Hinata hanya merasa Uchiha Itachi sedari tadi terus memandangnya… menatapnya dengan onyx tajamnya.

Konan tersenyum lembut pada gadis di depannya ini "Jangan terlalu formal begitu, panggil saja aku Konan nee-chan." titahnya "Dan begitupun pada Itachi, panggil saja ia Itachi-nii." tuturnya kemudian.

Jantung Hinata berdetak lebih cepat, seorang Uchiha mencarinya hingga ke desanya? apa ia berbuat kesalahan hingga sampai prodigy Uchihaturun langsung mencarinya? atau… yang terburuk apa… terjadi sesuatu pada lelaki pujaanya?

Deggg…

Rasanya ada ribuan jarum yang menusuk hati Hyuga Hinata, membawanya pada kenangan yang tidak akan mungkin ia lupakan sampai kapanpun.

Dan kedatangan mereka berdua,

Jelas menambah luka yang semakin membesar.

"Hinata… bisakah kau ikut kami kembali ke Tokyo?" tanya Itachi to the point.

"U-untuk apa?" Hinata balik bertanya "A-apa aku melakukan kesalahan Uchiha-sama?" lagi Hinata bertanya pada sulung Uchiha di depannya ini.

Itachi berkata "Tidak ada kesalahan yang kau lakukan Hinata, tapi… bisakah kau ikut kami kembali ke Tokyo?"

"Ta-tapi… untuk apa? A-aku merasa sudah tidak memiliki urusan di Tokyo." tanya Hinata heran.

"U-untuk… " Itachi tercekat, ia sangat ingin berhati-hati dalam berkata, Itachi hanya tidak ingin ia salah berucap dan berujung pada penolakan Hinata untuk kembali ke Tokyo.

Dan… Jika hal itu sampai terjadi, bagaimana dengan adiknya?

"Adik ku membutuhkan kehadiran mu." ucap Itachi penuh penekanan.

Deggg

Hinata tersentak!

Jantungnya seakan berhenti beberapa detik.

Adiknya? itu artinya Sasuke kan?

Karena selama yang publik tahu, satu-satunya adik Itachi Uchiha adalah Sasuke Uchiha.

Amethyst nya menatap lurus Itachi Uchiha.

Meminta penjelasan lebih tentang apa yang barusan diucapkannya.

"Adik ku, Sasuke Uchiha membutuhkan mu." sambung Itachi.

Seperti jiwa yang melayang tapi tiba-tiba tertarik kembali ke raga awalnya, Hinata pun tersentak.

Genggaman erat tangan Konan Uchiha mengembalikan kesadarannya.

"Tolong, bantu keluarga kami Hinata-chan… kau satu-satunya harapan kami, tolong ikut kami kembali ke Tokyo dan tengoklah Sasuke walau hanya sebentar."

Wajah lembut Hinata berubah menjadi sayu, air mata memenuhi pelupuk matanya dan sebagian mengalir dari sudut matanya, ia menangis tanpa suara.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan pengisi hatinya?

Kenapa sampai Itachi Uchiha memintanya secara langsung untuk melihatnya?

Bu-bukankah seharusnya yang terjadi saat ini adalah kebahagian yang memenuhi keluarga Uchiha tentang perjodohan yang di sebarkan oleh media setiap harinya? Lalu… kenapa raut wajah Itachi menyatakan sebaliknya?

Bukankah Hinata sudah mengorbankan hatinya untuk kebahagian Sasuke Uchiha? Lalu, kenapa situasi seperti ini yang terjadi akhirnya?.

Ia bergetar, tautan di jemarinya semakin erat "A-ano… sebenarnya apa yang terjadi pada Sasuke-san?" tanya Hinata kemudian, air mata mengalir dari bola matanya yang indah.

Hinata hanya merasa, sesuatu yang buruk sudah terjadi semenjak ia pergi, jadi… apakah ini semua karena ia penyebabnya?

Perlahan Konan membawa Hinata dan memeluknya erat, walau Itachi maupun Konan tidak menjawab pertanyaan yang Hinata tanyakan, tapi raut wajah mereka sudah jelas menyatakan sesuatu yang buruk sedang terjadi pada belahan jiwanya… Sasuke Uchiha.

Ia terisak dalam pelukan Konan Uchiha, seluruh tubuhnya bergetar.

Dan Konan hanya menatap lurus suaminya serta tersenyum lembut.


Sama seperti hari-hari kemarin, bahkan musim semi yang seharusnya menawarkan sejuta keindahan, kelopak sakura yang berguguran seakan di permainkan angin. Tunas-tunas muda perlahan menampakkan kehidupannya, tapi tidak untuk keluarga Uchiha.

Bau khas rumah sakit memenuhi seluruh ruangan VVIP, ruangan dengan isi serta luasnya terlalu berlebihan jika di fungsikan hanya untuk seseorang yang sudah terbujur kaku selama 2 musim ini.

Sasuke Uchiha.

Memang di jaringan otaknya sedikit ada kerusakan akibat benturan yang terjadi saat kecelakaan, tapi biasanya yang terjadi pada beberapa kasus seharusnya tidak sampai menyebabkan penderitanya tak sadarkan diri hingga berbulan-bulan seperi Sasuke.

Dan jantungnya masih berdetak berirama, darahnya masih lancar mengalir di seluruh tubuhnya, seluruh organ tubuhnya masih berfungsi dengan baik dan seluruh hasil laporan medis menyatakan raganya baik-baik saja, tapi… kenapa sampai lebih dari 6 bulan ia masih belum juga membuka onyx-nya? seluruh pengobatan modern serta alternatif sudah dilakukan oleh tim medis yang khusus menangani pewaris dari Uchiha Corporation, tapi kenapa hasilnya selalu nihil?

Badannya kurus dan pucat, selang infuse serta peralatan-peralatan yang entah apa fungsinya menempel sempurna di tubuh Sasuke. Ia yang biasanya dimanapun berada selalu memancarkan aura yang menyilaukan kini aura-nya meredup, seakan mempertegas alasan onyx-nya tertutup hingga detik ini.

Sasuke Uchiha.

Hanya tidak ingin terbangun di dunia yang menurutnya sudah berakhir.

Dunia yang hanya memberinya perasaan sakit yang luar biasa.

Dunia yang senang sekali mempermainkan perasaanya.

Dunia-nya tanpa Hinata Hyuga.

Dan Sasuke Uchiha sama sekali tidak mengiginkannya.

Itulah alasannya kenapa ia masih menutup matanya, menerbangkan jiwanya entah di mana, mencari peralihan dari perasaan sakitnya.

Hinata-nya… Hidupnya.

Jika Hyuga-nya tidak ingin bersamanya, untuk apa ia melanjutkan kehidupannya.

"Bagaimana sensei? apa… apa sudah ada perubahan?" tanya Mikoto pada Shizune yang saat ini sedang melakukan pemeriksaan rutin pada pasien VVIP nya ini.

Dan, hanya gelengan kepala yang bisa diberikan sebagai jawaban. "Bersabarlah Mikoto-san, yang terbaik semuanya sedang kami lakukan untuk Sasuke-kun."

Tangan Mikoto yang bergetar kini digengam erat suaminya, mata senjanya sayu dan penuh luka.

"Jugo, apakah sudah ada kabar dari Itachi?" Tanya Fugaku

"Belum ada Fugakau-sama, bahkan ponsel Itachi sulit di hubungi." ucap Jugo menjelaskan.

Krieetttt

Suara pintu kamar inap yang terbuka perlahan mengubah seluruh antensi manusia yang berada di ruangan ini, perlahan sosok yang tinggi menjulang dengan raut wajah yang penuh kharisma menampakkan dirinya.

"Itachi-kun, kau sudah kembali nak?" tanya Mikoto.

Dan Itachi merespon dengan senyumnya "Kami menemukannya Oka-sama." sahutnya.

Nada suaranya terasa bergetar "Si-siapa?" lagi Mikoto bertanya pada anak sulungnya.

Ya,

Seketika seluruh ruangan berubah aroma menjadi bunga lavender, harum wanita yang dipapah Konan Uchiha menebar kebahagian pada para Uchiha di ruangan ini, onyx lembut Mikoto bersinar, wajah senja Fugaku tersenyum, dan…

Sasuke Uchiha seperti menahan nafasnya.

Detakan jantung di layar monitor merespon kehadiran pemilik aroma ini dengan degupan yang lebih cepat dari normalnya.

"Ini Hyuga Hinata, Oka-sama… kami berhasil membawanya." jawab Konan.

Tadinya...

Aku berharap bisa menyakini sesuatu yang baru

Melepas perasaanku dan pergi meninggalkan dirimu,

Padahal aku sangat tahu...

Aku tak mampu bertahan hidup tanpamu

Jika saja aku memiliki kuasa akan waktu

Aku ingin mengembalikan sesuatu yang ku buang percuma

Akan ku lakukan apapun...

Untuk menghapuskan luka yang kubuat

Hinata terkesiap.

Ia menutup mulutnya, menahan getaran tangis yang terasa merangsak keluar, amethyst nya berair jelas saja!

Lututnya melemas.

Kenapa jadi seperti ini akhirnya?

Kenapa bukan kebahagian yang menyelimuti kekasih hatinya.

Kenapa belahan jiwanya harus terbujur kaku seperti ini?

Ia terisak tertahan, seluruh badannya bergetar, bola matanya terus menerus mengeluarkan air mata membasahi pipinya dan menambah sesak di dadanya.

Lalu…

Mikoto Uchiha mendekap padanya,

Merengkuh tubuh yang bergetar dalam pelukannya "Hinata-chan… kemari sayang, Sasu-chan sudah lama menunggu mu, mendekatlah padanya sayang." ucap Mikoto sambil perlahan membawa Hinata mendekat pada Sasuke.

Mikoto Uchiha menarik kursi dan memposisikannya tepat di samping tempat tidur Sasuke "Duduklah disini Hinata-chan." titahnya, lalu setengah menunduk ia pun berbisik di telinga Sasuke "Sasu-chan, Hinata-chan sudah datang untukmu, dia terlihat lebih manis aslinya dari pada yang oka-san lihat di foto… pantas kau jatuh cinta padanya, dia kembali untuk mu Sasuke, bangunlah nak."

Hinata merasa tubuhnya mati rasa,

Melihat pujaan hatinya dengan tubuh yang terbujur kaku didepan matanya membuat ia hilang kesadaran.

Bukan kebahagian,

Tapi kenapa luka yang ia tinggalkan pada Sasuke Uchiha.

Flashback

"Tolong ikut kami kembali ke Tokyo, Hinata…"

"Ta… tapi" ucap Hinata ragu.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan otouto ku, tapi yang aku tahu… Adik ku itu sudah jatuh hati padamu."

Deggg

Amethyst nya membesar seketika.

Jantung Hinata terasa dihunus tombak, ada perasaan nyeri yang luar biasa menyebar di seluruh organ tubuhnya "Ma-mana mungkin Uchiha-sama, ka-kami ka-kami hanya teman semasa di universitas, hanya itu." sanggah Hinata dengan kegugupan yang menjadi ciri khasnya.

"Jika hanya teman, tidak mungkin adikku mempunyai ribuan foto dirimu Hyuga." jawab Itachi.

Hinata terus menunduk, remasan pada roknya semakin kuat, ia takut dan gugup jelas sekali terlihat "I-itu mustahil Uchiha-sama, bu-bukan kah Sasuke-san akan bertunangan dengan Uzumaki-san."

"Pertunangan? Heh…" Itachi mendengus "Tidak pernah ada rencana pertunangan antara Sasuke dan Karin, memang pihak Uzumaki pernah mengajukan lamaran untuk Sasuke tapi Sasuke menolaknya dan media sepertinya terlalu melebih-lebihkan sesuatu ." sambung Itachi.

"Sampai saat ini pun aku tidak mengerti dengan situasi yang kalian berdua alami Hinata, tapi… yang aku tahu… otouto ku menyimpan perasaan yang luar biasa terhadap dirimu, dan dia mengalami kecelakan tunggal saat hari dimana kau meninggalkan Tokyo, Sasuke sudah tidak sadarkan diri semenjak hari itu, ku mohon… atas nama Uchiha, aku meminta mu kembali ke Tokyo, apapun yang kau minta akan aku kabulkan, tapi… kembalilah sebentar saja untuk Sasuke." pinta Itachi

Flashback Off

Dan disinilah Hinata berada.

Ia tertunduk dan menangis tersedu.

Menyesali keputusannya dulu, menyesali pemikirannya, menyesali logikanya, hingga akhirnya nafas cintanya harus berada dalam ruangan ini."

"Sa-sasuke-san… ma-maafkan aku… hikkkss" lagi, hanya permohonan maaf yang bisa di ucapkan Hinata.

Rasa-rasanya ia pun kehilangan kemampuan berbicara.

Dengan gemetar perlahan ia meraih tangan besar Sasuke.

Sentuhan tangan pertama sejak lebih dari 6 bulan yang lalu, Hinata bergetar… tangan Sasuke tidak lagi hangat sejak terakhir kali ia tak sengaja menyentuhnya, tangan besar ini menjadi dingin "Sa-sasuke-san." lirihnya.

Tangan kanan Hinata terus mengenggam erat telapak tangan kiri Sasuke.

Lagi, tetesan air mata mengalir melewati pipi pulamnya, menegaskan betapa rasa sakit yang ia rasakan saat ini.

Deggg

Jantungnya tersentak !

Bahkan Hinata menahan nafasnya.

Ya, Sasuke merespon genggamannya.

Urat-urat di tangan kiri Sasuke terlihat mengeras, ia membalas erat genggangam tangan Hinata.

Ini lebih dari keajaiban! entah energi yang berasal darimana.

Hinata menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

Bahkan bukan hanya Hinata yang terkesiap.

Mikoto Uchiha, Fugaku Uchiha, Itachi Uchiha, Konan Uchiha, Shizune Sensei bahkan Jugo yang sedari tadi berada di ruangan itu seakan ikut menahan nafasnya.

"Kami-sama…!" ucap Shizune terkejut.

Genggaman tangan Sasuke semakin erat, ia seakan tidak ingin melepasnya.

Perlahan…

Kelopak matanya bereaksi.

Terbuka perlahan dan membuka onyx yang selama ini tertutup rapat.

Cahaya lampu ruangan menembus bola mata hitam Sasuke, bayangan atap kamar inap memenuhi penglihatan Sasuke Uchiha.

Ia perlahan menolehkan pandangannya pada sesosok gadis, bukan dia wanita-nya.

Matanya sembab, hidungnya memerah dan menutup mulutnya, menahan isakan yang hendak keluar dari bibir mungilnya.

Sasuke tau, wanitanya sedang menangis.

"Hi-Hinata, jangan menangis… aku benci melihatmu menangis." ucap Sasuke terbata-bata.

"Oh, ya Tuhan…" Shizune berteriak histeris,

Ia lalu mendekat pada tubuh Sasuke, memencet tombol panggilan yang ada di pinggir kasur untuk meminta beberapa perawat datang ke ruangan ini.

"Ini anugerah, Sasuke-kun… akhirnya kau tersadar." lagi, Shizune berteriak panik, mungkin diruangan itu hanya Shizune yang bisa bereaksi atas sadarnya Sasuke Uchiha.

Dan Uchiha yang lain, hanya bisa berdiri mematung, seakan lambat memproses apa yang terjadi.

Pintu ruangan terbuka kasar, beberapa perawat panik masuk dan langsung mendekat pada tubuh Sasuke dan mereka tanpa perlu di jelaskan oleh Shizune sudah mengerti tugas apa yang harus mereka lakukan.

Mereka meminta Hinata untuk berdiri dan sedikit menjauh dari Sasuke, karena mereka akan melakukan beberapa pemeriksaan.

Hinata yang memang belum menyadari apa yang terjadi refleks berdiri.

Tapi,

Genggaman tangan Sasuke semakin erat menggengam tangannya, seakan tidak sudi berpisah dari kulit lembut Hinata.

Sasuke menggeleng lemah, onyx nya memancarkan perasaan luka.

"Ja-jangan… jangan pergi lagi Hinata." lirih Sasuke.

Mikoto yang sudah tersadar mendekat pada Hinata "Sasu-chan, lepaskan sebentar tangan Hinata-chan sayang, dia tidak akan pergi, Oka-san akan menjaga Hinata, lepaskan dulu sebentar sayang, Shizune sensei harus melakukan sesuatu terhadapmu." rayu Mikoto pada anak bungsunya.

Dan Sasuke hanya menggeleng lemah, perasaan penuh luka tergambar jelas di raut wajahnya "Tidak, Oka-sama… Hinata selalu seperti ini, ia tiba-tiba datang untuk ku dan pada akhirnya selalu meninggalkan ku lagi." jawab Sasuke sendu.

"Sa-sasuke-san, ma-maafkan aku." lirih Hinata.

"Ti-tidak Hinata, kau tidak boleh meminta maaf padaku, bukan kata maaf yang ingin aku dengar, biarkan permintaan maaf itu menjadi tugas ku."

Dan Shizune hanya bisa tersenyum simpul, ia mengangguk memberi tanda pada anak buahnya untuk terus melakukan tugasnya.

Sretttt

Tirai hijau ditutup mengelilingi Sasuke dan Hinata serta beberapa perawat.

Mikoto menatap suaminya penuh haru, kemudian memeluknya "Anata… Sasu-chan kita sudah kembali." lirihnya dalam dekapan suaminya.

Dan Konan ikut meneteskan air mata.

"Hei, kenapa menangis?" tanya Itachi sambil perlahan menghapus buliran air mata yang mengalir di pipi istrinya.

"A-aku bahagia anata." jawabnya

"Ya, aku pun bahagia dan kita semua disini bahagia, jadi jangan lagi ada air mata oke?" titah Itachi lembut "Coba perhatikan Jugo." sambung Itachi.

Dan Konan mengarahkan pandangannya pada lelaki tegap, yang biasanya tanpa ekpressi sedang menutup wajahnya dengan tangannya, Jugo menangis tersedu-sedu "Ternyata Jugo bisa menangis juga." sahut Konan disusul gelak tawa keduanya.


I Can see you again

Tes… tes… tes…

Bunyi tetesan air infuse koloid menimbulkan suara di ruangan yang sunyi ini.

Seluruh peralatan medis sudah di lepas dari tubuh Sasuke, dan hanya menyisakan infuse-an yang masih setia merekat pada tubuhnya.

Hanya Sasuke dan Hinata di ruangan ini.

Sasuke bersandar diatas ranjang rumah sakit, onyx-nya terlihat sedikit bersinar saat ini, aura wajah rupawannya kembali.

Ia terus menerus menatap Hinata yang duduk di samping tempat tidurnya, genggaman tangannya tidak pernah Sasuke lepaskan sedetikpun, bahkan saat perawat mengganti pakaiannya Sasuke tetap tidak ingin melepaskan tangan Hinata.

"A-ano…" ucap Hinata memecah keheningan "Ma-maafkan aku Sasuke-san."

"Hinata." ucap Sasuke sendu "A-aku tidak ingin mendengar permintaan maafmu."

"Ta-tapi, semua terjadi karena diriku." jawab Hinata nadanya sedikit bergetar, Sasuke tahu… Hinata sedang menahan tangisnya.

Ia menarik tangan Hinata yang sedari tadi digenggamnya, meletakannya di depan degupan jantungnya, dan memaksa Hinata untuk menatapnya.

"Yang seharusnya meminta maaf adalah aku, Hinata." ucap Sasuke.

"Maafkan atas semua sikap pengecutku, maaf kan aku atas semua sikapku selama ini padamu, maafkan aku membuat luka pada malam itu padamu, maafkan aku yang tidak bisa jujur padamu, maafkan aku karena dirimu harus di cintai oleh orang seperti ku, dan maafkan aku yang setelah hari ini akan selalu memaksamu untuk terus berada di sisiku, dan… dan maafkan aku karena aku tidak bisa hidup tanpamu." sambung Sasuke, matanya menatap tajam bola mata Hinata.

Tessss…

Setetes liquid bening mengalir di pipi Hinata.

Sasuke panik, dengan tergesa ia menghapus air mata Hinata "Ja-jangan menangis Hinata, ku mohon… aku tidak suka melihatmu menangis."

"Sasuke-san… A-Aku… a-aku mencintaimu." ucap Hinata lirih di sela-sela isakan tangisnya.

Deggg

Raga Sasuke seakan melayang, mengawang dan terbang di udara.

Pendengarannya tidak bermasalah kan?

Laporan medis yang diberikan Shizune menyatakan seluruh organ tubunya baik-baik saja, jadi… ia tidak salah dengar bukan?

"Hi-hinata…"

Sasuke menggeleng cepat, ia tidak ingin mempercayai apa yang Hinata ucapkan, Hinata sudah sering memberinya kebahagian sebelum meninggalkannya, dan Sasuke tidak ingin mempercayai-nya lagi.

"Tidak perlu berbohong Hinata, aku tidak masalah jika kau tidak mencintaiku, cukup disampingku berada sedekat mungkin denganku dan aku sudah merasa cukup dengan semua itu." tutur Sasuke

Dan Hinata sedikit menampakkan wajah kecewanya.

Ia, mengungkapkan perasaannya… tapi kenapa Sasuke tidak mempercayainya.

"Sejak pertama kali aku bertemu dengan seorang lelaki di atap gedung kampus, dan ia memuji masakanku, entah kenapa aku merasa bahagia saat itu… bola mata hitamnya seakan memaksaku untuk terus menatapnya." tutur Hinata.

"Hi-hinata…" Sasuke tersentak, ucapan Hinata seperti membawanya pada kenangan manis beberapa tahun yang lalu.

"Ya, ia mengenalkan dirinya sebagai Uchiha Sasuke, dan untuk pertama kalinya aku merasakan patah hati pada cinta yang baru saja aku mulai." Sambung Hinata tangannya sedikit berkeringat karena gugup.

Hinata pun melanjutkan ceritanya "Ya, aku merasa patah hati terlalu awal, aku tahu dengan baik siapa itu Uchiha, marga terpandang dengan seluruh power yang dimiliki di dataran Jepang bahkan di luar negeri, terlebih lelaki itu Uchiha Sasuke… satu-satunya adik Itachi Uchiha pewaris inti Uchiha Corporation, dan aku merasa Sasuke-san terlalu sempurna."

"Ta-tapi…" sanggah Sasuke, ia hanya merasa sesak… kebahagian satu persatu merangsak memenuhi hatinya.

Hinata memberenggut tanda kesal "Tolong Uchiha-san, jangan memotong ceritaku!." sahutnya.

Dan Sasuke hanya bisa mengangguk gugup sebagai respon.

"Setelah hari itu, aku selalu berdo'a jika lelaki yang aku temui di atap itu bukan seorang Uchiha, aku selalu berdoa jika lelaki itu berbohong perihal marga yang disandangnya, sehingga aku bisa terus bersamanya… tapi… ternyata memang itu faktanya, lelaki itu memang Sasuke Uchiha."

"Tu-tunggu dulu, aku tidak percaya! kau bahkan sempat berpacaran dengan Sabaku brengsek itu!" Sahut Sasuke sedikit emosi, mengingat lelaki bersurai merah jelas membuat moodnya berubah.

"Tidak, aku tidak pernah berpacaran dengan Gaara-kun."

"Bohong, kau tau dulu… bagaimana hancurnya perasaanku setiap hari melihat kau menghabiskan waktu dengan Gaara Sabaku itu, seluruh kampus juga tahu… kau berpacaran dengannya, Hinata." ucap Sasuke kesal ia semakin erat menggengam tangan Hinata-nya.

Dan Hinata semakin berdegup kencang.

"Itu memang kebohongan yang sengaja di sebarkan Gaara, ia memintaku untuk berpura-pura menjadi pacarnya, supaya tidak akan ada gadis-gadis berisik yang mengelilinginya saat di kampus." jawab Hinata "Makanya ia memintaku membantunya, aku dan Gaara sudah saling mengenal sejak lama, Kankuro Ni-san adalah teman seangkatan Neji-nisan kakak ku, jadi wajar jika Gaara meminta bantuanku." ucap Hinata menjelaskan panjang lebar.

"Ja-jadi… " tanya Sasuke ambigu, ia benar-benar menampilkan sisi bodohnya didepan Hinata.

"Saat di Universitas, aku selalu berusaha keras agar bisa setidaknya sepadan denganmu, tapi… setiap kali aku memenangkan perlombaan kau itu selalu memenangkan lomba dengan skala yang jauh lebih tinggi dari pada yang aku berikan untuk kampus, kau terlalu tinggi untuk di gapai Sasuke."

"I-itu…" jawab Sasuke gugup, seumur Hidupnya… ia benar-benar tidak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini.

Mendengar pengakuan perasaan dari orang yang selama ini selalu kau puja, jelas… perasaan Sasuke tidak bisa dijabarkan oleh apapun.

"Apakah kau ingat Sasuke-san, saat malam itu kau terluka karena membantu ku, aku tidak bisa berfikiran apapun… aku panik dan takut, seharusnya aku sudah biasa menghadapi situasi seperti itu, tapi karena kau yang terluka… a-aku… aku tidak tahu harus bersikap bagaimana." ucap Hinata ia perlahan menarik tangannya dari genggaman Sasuke.

Tapi, Sasuke justru menggengamnya lebih erat "Jangan!" raungnya "Kau mau meninggalkan ku lagi?" tanya Sasuke panik.

Hinata menatapnya lembut… dan Sasuke seakan terhipnotis oleh byakugan Hinata, perlahan genggaman tangannya mengendur.

Dan sekarang,

Hinata dengan kedua tangannya menggenggam balik tangan besar Sasuke.

Amethyst nya meyebarkan ketulusan pada lelaki dihadapannya ini "Sasuke-san, apakah kau bersedia menjadi duniaku?" tanya Hinata lembut "Dunia yang penuh dengan perasaan hangat dan kebahagiaan?" lagi Hinata bertanya.

Dan Sasuke.

Ia terkejut, jelas saja…

Jangankan untuk menjawab pertanyaan Hinata, bernafas pun Sasuke seakan lupa melakukannya.

Ia terkesiap, dadanya berdegup ribuan kali dari biasanya.

Ini kah kebahagian yang Kami-sama janjikan untukknya?

Setelah penderitaan yang ia lalui apakah ini sudah akhirnya?

Tanpa sadar onyx Sasuke memanas dan berair, setetes liquid bening mengalir di pipi pucatnya.

"Sasuke-san, kau-… kau menangis?" tanya Hinata panik.

"Kau jahat Hyuga, seharusnya kalimat itu aku yang mengucapkannya, jika kau sudah memintaku menjadi dunia mu… lalu kata-kata apa lagi yang bisa lebih baik dari itu?" lirih Sasuke.

Hinata tersenyum lembut, melepas genggaman tangannya dan perlahan membawa tengkuk Sasuke mendekap padanya dan mengecup lembut bibir pucat Sasuke, pemilknya terkejut dan melebarkan bola matanya.

Hinata lagi-lagi menciumnya terlebih dahulu.

Manis,

Terasa ribuan kali jauh lebih manis dari yang dulu ia lakukan saat Hinata dalam keadaan mabuk.

Sasuke memejamkan matanya, ia menarik dagu Hinata dan membalas ciumannya, perlahan lumatan lembut nya menjadi sedikit panas, dan Hinata sama-sama meresponnya dengan baik, hatinya berbunga-bunga… kisah cintanya berakhir bahagia bukan?

Alasan kehidupannya ternyata juga menyimpan perasaan yang sama dengannya.

Ya, seandainya waktu dapat di putar, hal yang sangat ingin Sasuke lakukan pertama kali adalah mempunyai keberanian untuk berbicara jujur pada Hinata saat masih di universitas, serta memintanya untuk menjadi miliknya saat itu juga.

Tapi, Sasuke sadar…

Hal seperti itu tidak mungkin terjadi, ia pun tidak menyesali semua yang terjadi pada hidupnya selama ini.

Karena setelah penderitaan yang ia lalui, Kami-sama memberikan anugerah yang terindah hanya untuknya, perasaan cintanya terbalas… dan pengisi hatinya bersedia menghabiskan seluruh hidupnya untuk bersamanya.

Segalanya tentangmu…

Didalam pusat nafas cintaku…

Hinata, sayangku…

Maafkan aku yang harus membuatmu dicintai orang seperti aku.

Mereka berdua terengah, Sasuke melepaskan pagutannya, kebahagian mengambil alih logika mereka.

Wajah Hinata memerah sempurna, degupan jantung keduanya seakan berdetak beriringan.

"Daisuki, Hime…" bisik Sasuke

##

Seminggu setelahnya, setelah keadaan Sasuke membaik, ia keluar dari rumah sakit dan memaksa Hinata untuk tinggal di mansionnya, Hinata awalnya menolak ia ingin kembali ke apartemen lamanya, tapi Sasuke dengan segala sikap pemaksanya memaksa Hinata untuk tinggal di mansion Uchiha.

Dan sore ini…

Di belakang mansion, tepatnya taman belakang, Sasuke duduk sambil merangkul Hinata dari belakang, menyadarkan kepalanya pada bahu Hinata "Hime… rasa-rasanya aku masih belum percaya dengan situasi ini, kau disampingku dan aku bisa memelukmu seperti ini." gumam Sasuke.

Hinata menyentuh lembut surai Sasuke "Sasuke-kun, apakah aku boleh melanjutkan kuliah lagi?" tanya Hinata.

Cuppp

Sasuke mengecup bibir mungilnya dengan cepat "Tentu Hime, apapun yang kau inginkan aku akan selalu mengabulkannya, asalkan jangan meminta untuk berpisah dariku." jawab Sasuke sambil terus menghirup aroma wanita dalam pelukannya ini.

"Oka-sama bilang pernikahan kita akan dilakukan bulan depan, kau keberatan sayang?" tanya Sasuke kembali pada Hinata.

"Ya." jawab Hinata geli,

Sasuke terkejut, ia memutar tubuh kekasih hatinya dan memaksanya untuk berhadapan dengannya "Ma-maksudmu? Kau keberatan menikah denganku?" tanya Sasuke panik.

Hinata menutup mulutnya, ia menahan tawa karena melihat perubahan sikap dari pria dihadapannya ini, Sasuke Uchiha yang identik dan terkenal dengan wajah stoic ternyata memiliki berbagai ekpressi jika bersamanya dan Hinata merasa sangat bahagia "Ya…" jawab Hinata menggoda.

Sasuke merajuk "Hinata… kau tidak berniat meninggalkan ku lagi kan?!"

"Tidak." goda Hinata "Maksudku, aku mau menikah dengan mu asal kau sudah meminta ijin pada Ni-san ku." Hinata menjelaskan.

Dan Sasuke mencubit gemas pipi kekasihnya ini "Hn, aku lupa… baiklah… besok kita akan mengunjungi Neji-nisan, dan ni-san mu setuju atau tidak setuju aku akan tetap menikahimu."

Dan Sasuke kembali menarik wajah kekasihnya, menghirup aroma yang memabukkan untuknya, dan mengecup kembali bibir mungil kekasihnya. Ia tersenyum disela-sela ciumannya dan berbisik lirih. "Kau adalah cahaya kehidupanku… Aku hanya ingin menghirup udara dari cinta yang kau berikan, cukup denganmu aku sudah merasa memiliki dunia, Hime… terima kasih sudah menerimaku."

-the end-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Owari…

"Hekh, kau akan menikah dengan Hinata? Hyuga Hinata teman seangkatan kita maksudmu?" tanya Naruto kaget, ia yang mendengar sahabatnya telah sadar dari tidur panjangnya langsung terbang kembali ke Jepang.

"Hn." jawab Sasuke datar

Setelah beberapa hari masa pemulihan, Sasuke sudah bisa beraktifitas seperti biasa, walau Hinata melarangnya untuk kembali ke Kantor, Sasuke tetap tidak melakukannya.

Ya, mana mungkin Sasuke rela berjauhan walau hanya beberapa jam dengan Hime-nya ini, Sambil menunggu tahun ajaran baru untuk memulai kembali perkuliah, Hinata memang mengajukan kembali lamaran pekerjaan di perusahaan Uchiha Corporation dan Sasuke selalu ingin mengawasinya, menjaganya dan akan Sasuke musnahkan seseorang yang berusaha mendekat pada belahan jiwanya.

"Kok-kok bisa, se-sejak kapan?" tanya Naruto heran.

"Sejak di universitas ! Aku mencintainya, dan Hinata mencintaiku tentu bisa!" sahut Sasuke marah.

"Ta-tapi… Hinata-chan, be-berati yang waktu itu" ucap Naruto, kalimatnya menggantung dan jelas membuat Sasuke kesal

"Hn, Hinata-chan…" Sasuke mendelik pada sahabat pirangnya ini "jangan gunakan suffix seperti itu dobe! lagi pula kenapa ib akas-menerus bertanya?!" tanya Sasuke kesal.

"Du-dulu, waktu di tingkat 5 perkuliahan, a-aku pernah memintanya menjadi kekasihku… tapi Hinata menolaknya, dia bilang sudah ada lelaki lain yang menempati hatinya, ja…jadi itu kau Teme?!"

Seketika aura hitam seakan melingkupi tubuh besar Sasuke, ia mendelik mendengar pengakuan sahabatnya ini, terlebih pintu ruangan kerja yang di ketuk perlahan dan terbuka menampilkan Hinata Hyuga dalam balutan pakaian formal membawa dua buah kotak makan untuknya dan Sasuke.

Dengan langkah besarnya, Sasuke merengkuh Hinata dalam pelukannya dan menebar hawa kebencian pada Naruto yang sedari tadi sudah bergidik ngeri melihat perubahan sikap sahabatnya ini.

"Hime… apakah benar dulu ib aka dobe ini memintamu menjadi kekasihnya?" tanya Sasuke pada Hinata yang terlihat kebingungan dalam pelukannya.

"I-iya, ta-tapi… itu sudah lama Sasuke-kun." Hinata berusaha menjelaskan.

Otot di tubuh Sasuke mengeras!

Ia cemburu jelas saja "Dobe, mulai sekarang jaga jarak mu 100 meter dengan Hinata dan kau tidak boleh memandangnya!" raung Sasuke.

"Hekh?" ucap Hinata dan Naruto bersamaan.

Ya,

Seorang Uchiha yang cemburu sama mengerikannya ketika mereka sedang marah.

Fillers Heart End Chap

Konbanwa Minna…

Finally,

Fict pertama yang berhasil saya tamatkan :D :D :D

For all reader, hounto ni sankyu arigatou, buat supportnya selama ini.

For all reviews membaca review dari kalian membuat saya senang dan merasa di terima, serta terima kasih… kritik dan sarannya saya terima dengan senang hati.

Ya, semoga setelah ini tidak ada halangan lagi dan masih dapat fell untuk nulis fict lagi supaya saya bisa up fict2 Naruto Entah Gaahina, Naruhina, atau Sasuhina… dengan meminjam character istrinya nanadaime Hokage lagi, karena jujur diantara character di Naruto yang paling saya suka adalah Hinata Hyuga.

To : Guest

Terima kasih buat sarannya, sedikit saya mau menjelaskan perihal perbedaan waktu di chap vi dan vii tentang Hinata yang mengajak bertemu Sasuke di sore hari, sebenarnya itu memang kesalahan ketik, dan saat chap vi saya publish saya belum sempat untuk check ulang alhasil jadi terasa ada yang ganjil perihal waktunya, karena memang saat chap vi di publish chap vii sudah rampung 80%, dan mengubah set waktu saya takutnya mengubah inti dari chap vii, ternyata ada yang sadar juga yah… kedepannya akan lebih saya perhatikan hehehehe, sarannya saya terima dengan senang hati.

To:sushimakipark

Perihal penggunaaan kata 'distraction' itu memang kendala yang saya alami, sepertinya memang perbendaharaan kata yang saya punya masih sedikit, dan saya kesulitan cari sinonim dari kata 'distraction' jadinya yah di gunakan berulang-ulang. next fict… pasti akan saya perhatikan kembali perihal kata yang saya gunakan, terima kasih juga buat sarannya dan salam kenal.

And thank's a lot for :

seman99i, Miyuchin2307, sasuhinaF, sasuhina69, Salsabilla12, JojoAyuni, GaaHinaSasu , Rei Sakureiru, sushimakipark,

himeichah, srilestari, ana, Guest, lovely sasuhina, ririn, yuma, nadya ulfa , baby3145

Semoga endingnya tidak mengecewakan.

Terima kasih buat review nya, saya senang membaca review dari kalian…

Sekali lagi,

Sankyu Arigatou ttebayo.

Oyasuminasai ^_^

.Intan