Fillers Heart

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : Sasuke U x Hinata H

Genre : Romance, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya,


Sequel

Sekarang, dapatkah kau mendengar semuanya ?

Nafasmu, aromamu yang menggema di hatiku

Dapatkah kau mendengarnya sekarang ?

Cinta akan datang pada waktu dan pemiliknya dengan tepat, tanpa keraguan, tanpa alasan, tanpa aturan. Jika sudah saatnya, cinta akan datang seperti itu, menembus bilik hatimu dan bersemayam disana selamanya.

Sasuke Uchiha,

Sang pioneer dari klan Uchiha, yang terbaik di angkatannya, menasbihkan hatinya pada seorang gadis mungil bermagra Hyuga, cinta pertamanya… dan belahan jiwanya.

Siang itu…

Sasuke menggengam erat tangan kekasihnya, dan menandakan hanya ia yang berhak memegang tangan wanitanya, dan sedikit lagi… yah, hanya tinggal satu langkah mudah lagi, ia akan secara resmi memiliki pengisi hatinya, mengikatnya dan menghilangkan nama Hyuga di belakang namanya.

"Jadi, apakah benar kau adik Itachi Uchiha?" pertanyaan penuh selidik keluar dari bibir dingin Hyuga yang lain.

"Benar, saya… Sasuke Uchiha."

"Jadi, ada hubungan apa orang seperti mu dengan adikku?" Lagi, Hyuga Neji bertanya penuh curiga pada pria yang duduk tepat di hadapannya ini.

"Saya kekasih Hinata Hyuga, dan saya kesini ingin meminta ijin pada anda untuk menikahinya." jawab Sasuke to the point.

"Huuuh…" Neji mendengus penuh ejek, melihat arogansi dan kepercayaan diri yang ditampilkan pria dihadapnnya, yah… memang benar sifat Uchiha melekat 100% padanya.

"Ni- nisan…" ucap Hinata gugup.

"Hn, Aku masih belum mengerti kenapa bisa seorang Itachi Uchiha kemari dan mencarimu, dan sekarang kau mengenalkan seorang Sasuke Uchiha pada nii-san sebagai kekasihmu, Hinata?" tanya Neji pada Hinata yang duduk tepat di sebelah Sasuke Uchiha.

"A-ano…" jawab Hinata gugup.

"Padahal, sejak dulu aku selalu berharap kau akan menikah dengan Gaara, melihat bagaimana kau sangat dekat dengannya sejak dulu serta kepribadian dia yang baik, aku selalu berfikir kau akan bahagia menikah dengannya Hinata." ucap Neji datar.

'Sabaku Gaara?' Sasuke mendengus perlahan, ia disini meminta ijin dan memberikan penghormatan pada Hyuga Neji tapi kenapa harus pria brengsek itu yang diharapkan?

Dadanya bergemuruh, moodnya benar-benar berubah menjadi buruk jika mendengar nama Sabaku Gaara apalagi, sampai dibandingkan dengan situasi seperti ini? Sasuke tidak terima, tentu saja.

Ia yang mencintai Hinata sampai ketulang rusuknya, kenapa harus Sabaku Gaara yang diharapkan menjadi pendamping pemilik hatinya?

Tangan Sasuke yang terkepal erat, serta aura yang berubah menjadi hitam melingkupinya membuat Hinata gelisah… ia perlahan menggenggam erat tangan kekasihnya… Sasuke Uchiha.

Dan, Sasuke Uchiha…

Hanya bisa meredam amarah yang saat ini bergejolak di dadanya.

Neji mengarahkan pandangannya pada imouto-nya, byakugannya mengisyaratkan untuk mendekat padanya "Kemari…" titah Neji sambil menepuk-nepuk tempat yang tersedia disebelahnya.

Hinata mendekat, dan duduk tepat disebelah Neji.

"Hm… aku tidak pernah membayangkan, hal seperti ini akan datang secepat ini Hinata." ucap Neji sambil memeluk erat satu-satunya keluarga yang ia punya.

"Nii-san…" ucap Hinata lirih, sambil menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Hyuga Neji.

"Kau tenang saja, nii-san pasti akan selalu mendukungmu, apapun itu keputusan mu…" ucap Neji kemudian "Dan, nii-san ijinkan kau untuk menikah dengan lelaki manapun pilihanmu, termasuk Uchiha ini." sambung Neji sambil mengangkat wajah adiknya dan perlahan menghapus air mata Hinata.

Sasuke tersenyum lembut, ia sangat lega… satu langkah lainnya sudah ia lewati, tinggal menunggu hari –H untuk mengikat gadis Hyuga-nya resmi menjadi miliknya seorang.

"Terima kasih banyak Hyuga-san…" ucap Sasuke sambil menundukkan kepalanya tanda memberi hormat pada seseorang yang mau tidak mau harus ia terima sebagai kakak iparnya.

"Hemmm… tapi, pernikahan kalian hanya bisa dilakukan di awal musim gugur nanti." ucap Neji.

Senyum Sasuke seketika memudar perlahan.

"Ta-tapi… orang tua ku sudah mengaturnya di bulan depan Hyuga-san?" tanya Sasuke sedikit menuntut pada Neji.

"Tidak bisa." ucap Neji datar "Oka-san ku yang artinya ibu dari Hinata pernah meminta padaku untuk melakukan upacara pernikahan Hinata di awal musim gugur, itu bagus untuk kebahagiannya kelak." sambung Neji.

"Ta-tapi, musim gugur, itu artinya aku harus menunggu untuk 3 bulan lebih?" tanya Sasuke.

"Ya." ucap Neji dengan sedikit senyum sinis, ia merasa sedikit tidak rela adik tersayangnya harus secepat ini menjadi milik orang lain "Jika kau ingin menikah dengan Hinata tunggu sampai musim gugur tiba, tapi jika tidak… aku tidak memaksa padamu, menikah saja dengan yang lain."


Jika ada seseorang yang menunggu mu..

Jelas, itu hanya aku... dan selalu aku..

Sasuke bersandar diteras rumah Hinata, angin malam yang dingin seakan menusuk pori-pori kulitnya, walaupun ia saat ini menggunakan mantel tebal, tetap saja angin malam pegunungan mengusik suhu tubuhnya. Matanya terpejam, berusaha menahan emosinya yang sejak siang ini merangsak dan memaksa untuk dilampiaskan.

Berada di dekat Hinata memang membuat Sasuke kehilangan otak cerdas-nya, tapi… bukan berarti ia juga harus kehilangan logika-nya bukan? Jika ia mengikuti hawa nafsunya, amarahnya dan egonya agar dapat mengikat Hinata secepat mungkin, itu bisa saja terjadi… tanpa persetujuan dari Hyuga Neji sialan menurut Sasuke, ia bisa saat ini juga mengikat Hinata menjadi miliknya. Tapi, apa yang akan terjadi setelahnya? apakah Hinata akan tetap bahagia bersamanya jika ia melakukan ini semua? atau yang terburuk… Hinata akan memberontak pada-nya dan berakhir meninggalkannya lagi, Tidak… sama sekali tidak, bahkan dalam mimpi-nya pun… ketakukan akan kehilangan Hinata Sasuke tidak berani memimpikannya, dan bagaimana jika terjadi kembali?.

3 bulan lagi,

Yah, itu berarti lebih dari 2160 jam lagi dia harus menunggu, jantung Sasuke terasa sedikit berdenyut, bagaimana jika dalam rentan waktu 2160 jam itu hati Hinata berubah haluan? Sasuke menggeleng perlahan, berusaha menghilangkan semua pikiran-pikiran negatife-nya, Hinata bilang dia juga mencintainya bukan? Jadi, untuk apa guna-nya semua kekhawatiran Sasuke ini.

"Sa-sasuke-kun?" tanya Hinata.

Onyx Sasuke terbuka seketika, harum Hinata yang beberapa hari ini mendominasi indra penciuman Sasuke selalu membuat hatinya menghangat "Ya, Hime." jawab Sasuke dengan penuh perasaan bahagia.

"Udara di luar dingin, kenapa masih duduk disini?" lagi, Hinata bertanya dengan suara lembut-nya sambil meletakan secangkir teh hangat di depan Sasuke, dan setiap gerakannya tidak pernah terlepas dari pandangan Sasuke, gerakan lembutnya sangat sempurna menurut Sasuke.

Sasuke tersenyum, akhir-akhir ini bibir yang biasanya berekpresi dingin selalu tertarik membentuk sebuah senyuman, ia menarik tangan Hinata menggengamnya dan mengecup punggung tangannya perlahan "Dulu, aku berfikir… jika kau sudah menerima ku, perasaanku akan damai dan tenang, tapi ternyata aku salah." ucap Sasuke datar, onyx-nya memancarkan perasaan hangat yang hanya bisa dirasakan oleh wanita di hadapannya ini.

Hinata sedikit bergetar, otaknya menerjemahkan perkataan Sasuke saat ini adalah bentuk kekecewaan terhadap dirinya "Maafkan aku Sasuke-kun." ucap Hinata terbata.

Sasuke berubah panik, menangkap ekpresi yang di tunjukan dari Hyuga-nya di hadapan ini ia merasa telah melakukan suatu kesalahan "Hei, kenapa meminta maaf?" tanya Sasuke sambil menarik dagu Hinata dan memaksanya untuk beradu pandang "Aku belum selesai berbicara." sambung Sasuke, ibu jari tanganya perlahan mengusap pipi pulam Hinata "Dulu aku berfikir jika kau sudah menerima ku dan berada di sampingku, hati dan perasaanku akan terasa nyaman dan damai, tapi ternyata aku salah, saat kau sudah menerima ku dan berjanji untuk selalu berada di sampingku, aku… aku justru merasa ribuan kali jauh lebih takut dibanding sebelumnya, aku takut perasaan bahagia ini hanya mimpi sesaat, aku takut dengan sikapku yang tanpa sengaja melakukan kesalahan padamu dan berakhir kau meninggalkanku, aku takut… perasanmu berubah seiring waktu berlalu, aku takut Hinata… semakin aku merasa kau menjadi milik-ku justru aku merasakan perasaan yang lebih takut dari sebelumnya." ucap Sasuke panjang lebar, gengaman tangannya pada Hinata semakin kuat.

Hinata merona,

Pipi pulamnya memerah, dan ekpresi ini sangat di sukai oleh kekasihnya "Hei, kenapa tersipu seperti itu?" tanya Sasuke jahil.

Dan Hinata hanya bisa mencubit pinggang kekasihnya, berusaha menghilangkan rona merah di pipinya "Awww…" Sasuke mengaduh kesakitan.

"Sasuke-kun, apa yang harus kita sampaikan pada Mikoto Ka-sama?" tanya Hinata tiba-tiba.

Alis Sasuke berkerut, ia menarik Hinata dan memeluknya dari belakang, menyadarkan dagunya di pundak Hinata "Tentang apa?" Sasuke balik bertanya padanya.

"Mikoto Okaa-sama sudah mengatur semuanya di bulan depan, dan bagaimana kita menjelaskan pada beliau tentang permintaan Neji nii-san?" tanya Hinata panjang lebar.

Dan Sasuke hanya bisa mendengus geli, melihat ekpresi kepanikan dari Hinata dan bagaimana Hinata berbicara membuat sesuatu dalam jantungnya berdebar-debar, bahkan dulu… dalam mimpinya pun, moment seperti ini tidak pernah Sasuke bayangkan akan terjadi, tapi hari ini… malam ini, kenyataanya memang terjadi seperti ini.

Dan Sasuke entah sudah berapa puluh kali mengucapkan terima kasih pada Kami-sama yang sudah memberikan Hinata hanya untuknya beserta semua perasaan kebahagiannya ini "Tenang saja Hime, Neji nii-san bilang ini permintaan almarhum orang tua mu dan okaa-sama pasti akan sangat mengerti." cuppp ucap Sasuke sambil mencuri ciuman tepat di bibir mungil kekasihnya.

Dan Hinata hanya bisa mengerucutkan bibirnya tanda kesal akan tingkah kekasih hatinya.

"Hime, tentang akses jalan ke daerah ini aku sudah meminta Jugo mengurusnya, tidak perlu menunggu dana dari pemerintah daerah, aku yang akan bertanggung jawab untuk semuanya." tutur Sasuke sambil terpejam merasakan sentuhan tangan Hinata yang mengusap surai raven.

"Be-benarkah Sasuke-kun?" tanya Hinata sedikit terkejut.

"Ya, ini keinginan mu sejak dulu bukan." jawab Sasuke sambil terus memeluk Hinata erat "Sekolah yang ada di tepian sungai itu aku juga sudah meminta Jugo memperbaiki semua fasilitasnya."

Amethyst Hinata berkaca-kaca, ia mengusap perlahan lengan Sasuke yang melingkari pinggannya "Te-terima kasih banyak Sasuke-kun, sungguh aku benar-benar mengucapkan terima kasih banyak." jawab Hinata sambil sedikit menahan getaran tangis bahagia yang terasa mengalir keluar.

"Jangankan hal seperti ini, kau meminta seluruh yang aku punya pun aku bersedia dengan senang hati memberikannya padamu, asalkan kau selalu bersama ku, seperti ini… yah, memilikimu aku merasa seperti memiliki seluruh dunia dan isinya." tutur Sasuke sambil memutar wajah kekasihnya dan mencium kembali bibir mungil miliknya, tidak… sekarang bibir ini dan beserta pemiliknya hanya miliknya Sasuke Uchiha.

Nafas berduanya terengah, dinginnya udara malam rasanya tidak berarti untuk mereka berdua "Bibirmu sudah bengkak Hime." sahut Sasuke jahil.

"Kau yang membuatnya seperti ini." ucap Hinata sedikit menggerutu.

Dan Sasuke hanya bisa tertawa lepas melihat ekpresi dari kekasihnya ini, ia bangga dan bahagia… karena hanya ia yang bisa merasakan aroma Hinata.


Bahkan pesonamu mengalahkan gemerlap bintang di langit malam.

Bukan tentang mu dan bukan tentang keberadaanmu.

Arti dirimu untukku bahkan melebihi keberadaanku sendiri.

Badai, gemerlapnya petir, bahkan deburan ombak, jika bersamamu aku akan bisa melalui itu semua.

Uchiha Building

05.00 PM

Tuk… tukk…

Suara pintu yang di ketuk perlahan.

"Masuk…" jawaban datar yang merupakan balasan dari pemilik ruangan ini.

Aroma yang sangat khas memenuhi ruangan executive ini, pemilik ruangan pun berseri sumringah, ia reflex berdiri dari kursi besarnya dan menghampiri tamu hatinya, tapi tidak lagi… sekarang ia menjadi tuan rumah di hatinya "Hime, aku rindu sekali padamu?" ucap Sasuke dengan intonasi manja dan memeluk erat tubuh mungil kekasihnya ini.

"Nani?" jawab Hinata sambil ikut membalas pelukan Sasuke "Kita berangkat bersama pagi tadi Sasuke-kun."

"Tetap saja aku rindu, memangnya tidak boleh?" jawab Sasuke sambil merajuk pada wanita yang bahkan tingginya hanya sampai batas dagu Sasuke "Kau kejam sekali, bahkan meninggalkan ku makan siang sendiri." sambung Sasuke sambil melepas pelukannya dan menarik lengan Hinata untuk mengikutinya.

"Maaf, banyak yang harus ku kerjakan hari ini." jawab Hinata.

"Sebanyak apa sih pekerjaan divisi audit?" tanya Sasuke sedikit menuntut sambil mengambil kunci mobil di meja-nya dan tetap menggengam lengan Hinata perlahan meninggalkan ruangan ini "Kita pulang sayang." titah Sasuke kemudian.

Dan Hinata hanya tersenyum lembut, yah… sudah menghabiskan banyak waktu dengan bungsu dari klan Uchiha ini membuat Hinata mengetahui banyak hal dari pengisi hatinya ini, salah satunya sifat manjanya sama berbahaya-nya jika Uchiha dalam mode marah.

Ya, seluruh penghuni gedung sudah tau siapa itu Hyuga Hinata, gadis manis dengan kepribadian yang baik sudah melekat padanya, ia dikenal selalu tersenyum jika bertemu siapapun, dan… itu pula lah yang menyebabkan kekasih hatinya selalu uring-uringan jika melihat Hinata yang seperti memancarkan pesonanya tanpa henti.

Sasuke hanya takut, ada yang terjerat pada pesona Hinata dan akan merebut Hinata dari sisinya, padahal… jika dipikirkan menggunakan logika, lagi pun siapa yang berani melakukan itu pada tunangan direktur Uchiha Corporation.

Tunangan?

Yah… pesta pernikahan yang sudah dirancang bulan ini akhirnya dialih fungsikan menjadi pesta pertunangan, seluruh pegawai Uchiha Corporation bahkan seluruh Jepang mungkin sudah tau perihal kabar yang sempat menjadi headline di beberapa surat kabar untuk beberapa hari.

Dan itu membawa dampak pada Hyuga Hinata.

Ia yang seumur hidupnya selalu menghindar dari setiap kejadian yang membuatnya harus jadi pusat perhatian, dan saat ini mau tidak mau ia harus menerima posisinya saat ini.

Menjadi pasangan dari seorang Uchiha terlebih Uchiha Sasuke, jelas membuat banyak spekulasi tentang dirinya baik yang bersifat positif maupun negatife.

Karena itu pula-lah yang membuat Hinata kembali ingin tinggal di apartemennya, bukan di mansion besar Uchiha. Ia tidak ingin menambah list berita negatife tentang dirinya, dan Sasuke jelas menolak permintaan Hinata, Sasuke hanya tidak ingin berjauhan dari pengisi hatinya walau beberapa jam, rasanya menyesakkan jika Hinata tidak berada di sekitarnya, dan Sasuke tidak ingin situasi seperti ini.

Ia selalu menghindar dari setiap perbincangan tentang permintaan Hinata, tapi pada akhirnya… melihat Hinata murung beberapa hari itu lebih membuat sesak dada Sasuke, ia berjanji akan selalu membuat Hinata bahagia, tapi kenapa permintaan sepele seperti ini Sasuke tidak bisa mengabulkannya?

Dan pada akhirnya, mau tidak mau Sasuke harus merelakan beberapa jam dalam setiap harinya tanpa berdekatan dengan Hinata.

Demi Hinata-nya…

Yah, demi Hinatanya segalanya akan Sasuke lakukan, asalkan itu bisa membuat Hinata-nya terus berada disampingnya.

Ckiiitttt

Suara halus dari rem mobil yang berhenti di depan gerbang apartemen Hinata "Aku ingin menginap malam ini." ucap Sasuke perlahan sambil melepaskan sabuk pengamannya.

"Tapi tadi malam kau baru menginap Sasuke-kun?"

Sasuke memberenggut sebal, sambil membantu Hinata melepaskan sabuk pengaman "Memangnya kenapa? aku kekasih mu jadi wajar jika aku menginap." ucap Sasuke dengan nada sedikit menuntut pada Hinata.

"Tapi saat ini, Fugaku Otou-sama dan Mikoto Okaa-sama sedang ada di Jepang, kau harusnya lebih memperhatikan mereka Sasuke-kun." jawab Hinata "Hubungi aku jika kau sudah sampai di rumah, dan selamat beristirahat Sasuke-kun." sambung Hinata sambil mencuri ciuman di pipi Sasuke.

Dan bergegas pergi meninggalkan Sasuke yang termangu.

"Cih, ia bahkan tidak menawari ku untuk sekedar mampir ke apartemennya?" gumam Sasuke, sambil terus tersenyum dan merasakan rasa hangat yang mengalir di pipinya akibat tindakan kekasihnya.


Dulu, dalam kehidupannya yang sempurna, Sasuke tidak pernah memiliki rasa untuk mempertahankan sesuatu, terlahir dari marga besar Uchiha dan memiliki keluarga yang utuh, serta kakak laki-laki yang selalu mengutamakan kepentingannya, membuat Sasuke terbiasa dengan kebahagian.

Melimpahnya kebahagian yang ia rasakan, baik dari keluarga, teman yang selalu ada untuknya, materi… membuat rasa kebahagian itu menjadi hambar bagi Sasuke, lambat laun dunia sempurnanya memudar menurut dirinya, ia menjalani kehidupan yang mengalir seperti biasa monoton dan membosankan, dan ia pun sama sekali tidak memiliki alasan untuk kehidupannya.

Sampai akhirnya, siang itu… ia bertemu dengan tujuan hidupnya, Hinata Hyuga… yah, gadis asing yang merangsak masuk kedalam hidupnya yang datar, membuatnya merasa hangat dan berwarna dalam waktu yang bersamaan.

Entah sudah berapa banyak jumlahnya yang harus Sasuke korbankan untuk bisa memiliki kekasih hatinya, pengorbanan, rasa sakit, bahkan keputus-asaan sudah Sasuke lewati, tapi… pada akhirnya Kami-sama memberinya kebahagian yang luar biasa.

Hinata menjadi miliknya, hanya tinggal beberapa minggu untuk mengikatnya menjadi seorang Uchiha.

Tapi sepertinya beberapa hari ini, Hinata-nya terkesan seperti menghindar darinya. Ia selalu mencari-cari alasan jika Sasuke mengajaknya untuk menghabiskan waktu berdua.

Sasuke sedikit takut…

Apa mungkin hati Hinata berubah tidak lagi miliknya?

Drrrtt… drrrttt

Getaran panggilan masuk dari ponsel yang Hinata letakkan di atas meja kerjanya menarik atensinya sesaat.

"Ya, Gaara-kun?" jawab Hinata.

'Ne,ne… kau semangat sekali menjawabnya Nata-chan?' jawab si penelpon diujung panggilan sana.

"Ya, karena jika kau menelpon ku pasti ada sesuatu yang baik bukan?" lagi, Hinata bertanya dengan senyum yang bertengger manis di wajahnya.

'Ya, coba check email mu, tadi aku mengirimi mu gambar… dan Jika kau tidak datang lebih dari 30 menit ke apartemen mu, barang yang ada dalam gambar, sudah bukan milik mu lagi Nata-chan… hahahahaha, gambatte yah.'

Tuuuuttt

Panggilan telpon di putus sepihak,

Dan Hinata memeriksa emailnya, seketika senyum di wajahnya memekar sempurna "Gaara-kun kau luar biasa, itu benar kalungnya." jawab Hinata dengan gembira, ia mematikan komputer miliknya dan bergegas merapihkan tumpukan laporan di mejanya, Hinata ingin segera sampai di apartemenya.

Ya, sebuah kalung yang pernah Sasuke berikan pada malam itu, Jika saja beberapa hari yang lalu Sasuke tidak menanyakan perihal kalung itu, mungkin sampai saat ini Hinata tidak akan pernah tahu perihal kalung pemberian Sasuke.

Yah, faktanya kalung yang Sasuke kenakan pada Hinata terlepas dan menghilang sebelum Hinata menyadarinya.

Dan saat Sasuke menanyakan perihal kalungnya, Hinata merasa sungguh buruk di hadapan Sasuke, Sasuke sudah mempercayakan sebuah benda yang berharga untuk dirinya, tapi Hinata malah menghilangkannya.

Itulah alasan mengapa Hinata beberapa hari ini berusaha menghindari dari Sasuke, walaupun rasanya mustahil… setiap pulang kerja Hinata tetap mencari keberadaan kalungnya, berharap ada keajaiban untuknya.

Dan pencariannya yang beberapa hari ini tidak membuahkan hasil, terpaksa ia meminta bantuan sahabatnya Sabaku Gaara yang kebetulan saat ini sedang ada di Jepang beberapa hari ini.

##

Langkah Hinata berhenti mendadak, ia menepuk keningnya… ia sudah sampai lobby dan ia lupa meminta ijin kekasihnya, apa jadinya nanti jika tiba-tiba saja Hinata pulang terlebih dahulu tanpa memberi tahu Sasuke Uchiha.

Hinata menggeleng dan tersenyum geli, pastinya… hal-hal buruk yang akan terjadi nantinya, ia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor yang ada di daftar teratas kontak nomor ponselnya "Ne, moshi-moshi Sasuke-kun?" sapa Hinata.

'Ya, Hime? kau dimana? aku masih ada pertemuan sampai jam 7 ini, tunggu saja di ruanganku sayang.' jawab Sasuke langsung pada intinya.

"Ehm, ada yang harus ku kerjakan di rumah, apakah aku boleh pulang lebih dulu?" tanya Hinata ragu.

Hening sesaat, yang terdengar hanya suara desahan berat dari penerima telpon di ujung sana 'Lagi, Ke-kenapa?' tanya Sasuke akhirnya.

"Ti-tidak, aku tidak kenapa-kenapa, apakah boleh Sasuke-kun?" lagi, Hinata bertanya pada nya.

'Huh, Baiklah, tapi jangan pulang dengan kendaraan umum, aku akan meminta Jugo mengantarmu, tunggulah sebentar di lobby.'


Bukan tanpa alasan seorang Sasuke Uchiha berdiri tegap mematung di ruang tamu apartemen kekasihnya ini, tangannya terkepal sangat erat menandakan betapa gejolak amarah yang ia rasakan saat ini.

"Inikah alasannya kau menghindariku beberapa hari ini Hinata Hyuga?"

Onyx-nya memicing tajam seakan mampu menembus jantung yang melihatnya "Jadi, bisa kau jelaskan padaku HINATA kenapa bisa ada pria lain yang kau ijinkan masuk kedalam apartemen mu?" tanya Sasuke terasa dingin dan membuat Hinata sedikit bergetar takut.

"A-ano, itu…" jawab Hinata acak, ia tidak pernah melihat ekpresi seperti ini dari tunanganya, dan Hinata sangat takut, hingga mulutnya pun terasa sulit mengucapkan beberapa kata.

Sabaku Gaara…

Ya, lelaki bersurai merah yang saat ini mau tidak mau harus ada di posisi yang kurang menyenangkan malam ini.

Gaara yang tersadar apa yang sebenarnya terjadi mendengus geli "Kau Sasuke Uchiha kan benar?" tanya Gaara berusaha mengurangi aura pekat di ruangan ini "Aku Sabaku Gaara." sambung Gaara memperkenalkan dirinya sambil menawarkan jabatan tangan pada Sasuke.

Sigh,

Sasuke mendengus penuh ejekan "Sedang apa kau di rumah tunangan ku?!" tanya Sasuke nada suaranya naik beberapa oktaf.

"Cih," sahut Gaara "Aku hanya berkunjung ke rumah teman lama, memang ada yang salah?" tanya Gaara mengejek, ia menyandarkan punggunya pada sofa di ruangan ini.

Dan Gaara, sepertinya menikmati moment dimana ia bisa membuat seorang Uchiha lepas dari imaje-nya selama ini.

"Jadi, ini yang membuatmu pulang lebih awal?!" lagi, pertanyaan penuh selidik Sasuke lontarkan, "Setelah ini apa lagi? kau akan meninggalkan ku begitu? Pergi bersamanya? Menyakitiku begitu HINATA?!" bentak Sasuke.

Amarah Sasuke benar-benar menguap, sikap Hinata yang beberapa hari ini terasa seperti menjauhinya benar-benar membuatnya takut, terlebih orang yang paling Sasuke takutkan ada di rumah kekasih nya, yah… Sasuke hanya takut jika Hinata berpaling pada Sabaku Gaara, Hinata mengenal Gaara lebih dari Hinata mengenal dirinya, dan Sasuke benci membayangkan hal itu.

Dan salah satu kenyataanya Hinata sudah menghabiskan jauh lebih banyak waktunya bersama Gaara dibanding dirinya, Sasuke takut… jelas ia takut.

"Hei, hei hei… jangan membentaknya seperti itu Uchiha!" ucap Gaara sedikit emosi.

"Apa urusanmu, Sabaku?!" onyx nya melirik tajam pada lelaki di hadapannya ini "Kau harus tahu batasan mu sekarang Sabaku, Hinata milikku, dan aku tidak mengijinkannya berteman dengan mu."

"Cih, kau hanya tunangannya Sasuke Uchiha, dia belum resmi menjadi milikmu." sahut Gaara.

Brengsek!

Sabaku sialan di hadapannya ini benar-benar menguji emosinya. Terlebih melihat sikap Hinata yang terkesan diam dan seperti tanpa minat menjelaskan apa yang terjadi padanya.

Padahal faktanya, Hinata sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Ia takut… yah, melihat ekpressi Sasuke saat ini Hinata benar-benar takut.

Bruuughhhh

Satu tinju melayang tepat mengenai wajah Sabaku Gaara, ia tersungkur ke sofa, hidung dan mulutnya seketika berdarah.

"Sasuke-kun!" Hinata menjerit takut.

"Jaga ucapan mu brengsek!" Bruggghhhh Lagi, satu pukulan mengenai wajah stoic Sabaku Gaara.

Dan kali ini bukan hanya area wajah Gaara yang mengeluarkan darah, buku-buku tangan Sasuke pun sedikit mengeluarkan darah akibat pukulan yang terlalu keras yang dilakukan Sasuke.

Gaara tersungkur kembali, ia meringis dan menghapus darah di sudut bibirnya "Cih, orang bertempramental buruk seperti dirimu sama sekali tidak cocok disandingkan dengan Hinata Hyuga." sahut Gaara penuh ejek.

Sementara Hinata, seluruh badannya bergetar karena takut, ia terlalu takut dan bingung untuk melakukan apapun, pikiran dan mulutnya terasa terkunci.

"Tutup mulutmu sialan!" hardik Sasuke, amarah melingkupi dirinya. Seluruh ototnya mengeras, matanya jelas memerah "Hinata milik ku sampai kapan pun!" Duuuughhh Dan kali ini bukan dengan tangannya, Gaara lagi-lagi tersungkur akibat Sasuke menendang dirinya.

Tapi, lagi-lagi Gaara hanya membalasnya dengan senyum sinis yang membuat api amarah di dada Sasuke semakin bergejolak.

Sungguh Sasuke ingin sekali membunuh Gaara Sabaku saat ini juga, melenyapkannya sekarang juga.

Tapi,

"Hentikan Sasuke Uchiha!" teriak Hinata.

Ia mendekat pada Gaara Sabaku dan membantunya untuk berdiri "Kau tidak apa-apa? Maafkan aku, semua salahku Gaara." tanya Hinata panik.

Denyutan di dada Sasuke semakin menggila, apa-apaan tingkah kekasihnya saat ini "Kau membentak ku hanya gara-gara laki-laki ini Hinata?" tanya Sasuke dengan penuh emosi, walau sebenarnya jauh di hatinya ia merasa takut dengan reaksi yang ditampilkan kekasihnya.

"Kau sudah sangat keterlaluan Sasuke, seharusnya sebelum bersikap kau tanya dulu apa yang sebenarnya terjadi, sikapmu yang seperti ini, sungguh aku tidak bisa menerimanya, sebaiknya kau pulang dan istirahatlah." sahut Hinata ada nada penuh kekecewaan yang dirasakan Sasuke.

"Hi-hinata…" sahut Sasuke.

"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang Gaara-kun." ucap Hinata sambil memapah Gaara keluar dari apartemennya.

Dan Sasuke,

Ia seperti terhempas pada badai gelombang beberapa tahun yang lalu, hari dimana ia pertama kali merasakan sakit hati.

Hinata melewatinya begitu saja.

Dadanya berdenyut nyeri, ia lagi-lagi membuat kesalahan pada belahan jiwanya.

"Hi-hinata, tunggu… tunggu apa maksudnya ini?" tanya Sasuke panik, ia menarik lengan Hinata dan memaksanya untuk menatapnya.

Dan yang terpantul di amethyst nya, rasa kecewa dan perasaan luka terbaca jelas di sinar matanya.

Sasuke gugup, ia panik… benar-benar panik.

"Ma-maafkan aku Hinata, bu-bukan maksudku melakukan ini, tunggu… tunggu penjelasan ku dulu." dengan terbata Sasuke memohon pada wanitanya.

Tapi Hinata, seakan tidak memperdulikan keberadaan dirinya.

Ia tetap berlalu pergi, sambil memapah Gaara keluar dari apartemennya.

Dan Sasuke terus mengikuti Hinata "Tidak, kau tidak boleh melakukan ini padaku Hinata… jangan lakukan ini tolong, aku mohon jangan lakukan ini."

Dan Hinata terus mengabaikannya "Apa kau masih sanggup menyetir Gaara? jika tidak kita naik taxsi saja, bagaimana?"

"Dengan mobilku saja." jawab Gaara datar.

##

Kenapa jadi seperti ini akhirnya?

Hal-hal yang selalu Sasuke hindari kenapa harus terjadi?

Hinata-nya sudah kecewa padanya, ia bahkan mengabaikan keberadaan dirinya.

Kepalanya terasa ditusuk ribuan jarum, bayang-bayang wajah Hinata yang marah padanya terasa seperti mimpi buruk buatnya. Sasuke terus menerus menghubungi ponsel Hinata berharap Hinata sudi menjawab panggilanya, dan Sasuke akan melakukan apapun agar Hinata mau memaafkannya.

Braaakkkk

Ia melempar apapun benda yang terlihat di hadapannya, ruangan kamar pribadinya sudah tidak jelas bentuknya. Ia marah pada dirinya sendiri, ia kecewa pada dirinya sendiri, ia takut… ia takut Hinata nya pergi lagi meninggalkan dirinya.

Hari kebahagiannya sudah semakin dekat, kenapa jadi seperti ini akhirnya?

Cermin dikamarnya merefleksikan bayangan dirinya, Sasuke benci melihat dirinya sendiri Braaakkkk dan bukan hanya cermin yang akhirnya hancur berantakan, tangannya bergetar pecahan kaca tertancap di sela-sela jarinya.


Srekkkk

Suara gorden yang dibuka perlahan, sedikit menganggu tidur adik Itachi Uchiha, cahaya mentari pagi menembus lurus melalui jendela kamar yang di buka sempurna, angin sejuk pagi terasa segar memenuhi seluruh ruangan, dan… dan aroma lavender tercampur manis di dalamnya.

Pemilik khas aroma lavender duduk di tepian ranjang besar Sasuke "Sasuke-kun, bangunlah sebentar?" ucapnya lembut sambil menepuk perlahan bahu kekasihnya.

Onyx Sasuke terbuka seketika, pantulan wajah Hinata yang pertama kali tertangkap di matanya "Hi-hinata?" tanyanya "Mim-mipikah ini?" lagi, pertanyaan absurd keluar dari bibirnya.

Dan Hinata hanya tersenyum lembut "Bangunlah sebentar, minum ini dulu… aku menambahkan ginseng dalam teh nya, minumlah perlahan ini masih sedikit panas."

Sasuke terasa seperti terhipnotis, ia bangun dari posisi tidurnya dan perlahan meminum teh hangat yang disodorkan Hinata.

"Te-terima kasih." ucap Sasuke perlahan.

"Kenapa lukanya kau biarkan mengering Sasuke-kun? Bagaimana jika ada bakteri yang masuk?" sahut Hinata sambil memberenggut kesal, ia menarik tangan Sasuke dan mengoleskan alcohol untuk membersihkan luka di tangannya.

Sasuke menunduk "Ma-maafkan aku Hinata…"

Hening yang terasa sesaat, yang terdengar hanya suara tipuan Hinata di jari tangan Sasuke yang sedang ia obati, ia mengolesnya dan meniupnya kembali supaya obatnya menyerap sempurna.

"Tentang tadi malam, aku sungguh-sungguh minta maaf, aku berjanji untuk tidak mengulanginya kembali, sungguh maafkan aku." ucap Sasuke panjang lebar.

"Aku tidak akan memaafkan mu kembali jika kau melukai dirimu sendiri lagi seperti ini." jawab Hinata sambil terus mengobati jari-jari tangan Sasuke yang terluka.

"I-iya, aku berjanji." keheningan sesaat mengambil alih suasana "Hi-Hinata… terima kasih sudah kembali padaku Hinata, betapa takutnya aku tadi malam Hinata, aku pikir aku akan kehilangan mu lagi, sungguh aku tidak ingin mengalaminya lagi."

Hinata menarik tangan Sasuke kemudian mencium bekas lukanya "Aku tidak mungkin meninggalkan mu Sasuke-kun, dan masalah Gaara… aku hanya sedikit emosi malam itu, maafkan aku."

Dan Sasuke tersenyum lembut, senyum menawan yang hanya ia tunjukkan untuk bidadari hatinya "Sudah kubilang jangan pernah meminta maaf padaku Hime, biarkan selalu aku yang meminta maaf padamu, apapun itu kondisinya… biarkan aku yang selalu mengucapkan kata maaf itu."

"Kau tahu, kenapa Gaara ada di rumah tadi malam dan kenapa aku menghidarimu beberapa hari ini?" tanya Hinata sambil merapihkan kotak obat yang sudah ia selesai gunakan.

"Jangan bilang kau ingin kembali bersamanya, Hinata?" jawab Sasuke penuh curiga.

"Cih,,, bukan seperti itu, kau tahu… saat kau bilang kau memberikan aku sebuah kalung aku benar-benar merasa buruk dihadapanmu saat itu juga, aku tidak menyadarinya sehingga aku menghilangkannya."

"Kalungnya hilang?" tanya Sasuke.

"Yah, aku berusaha mencarinya sepanjang jalan dari apartemen mu ke apartemenku setelah aku pulang bekerja, tapi hasilnya nihil."

"Jadi itu alasannya kau selalu menolak pulang bareng denganku?"

"Ya… dan akhirnya aku meminta bantuan Gaara, entah bagaimana akhirnya dia menemukannya, dan tadi malam Gaara menyerahkannya padaku, lihat… ini bukan kalungnya?" tanya Hinata sambil menyerahkan sebuah kalung kepada Sasuke.

"Iya, ini kalung yang kubuat khusus untukmu." jawab Sasuke sambil tersenyum penuh haru.

"Hi-hinata, sekali lagi… maafkan aku atas sikapku tadi malam, sungguh… aku menyesal melakukan itu."

"Baiklah, aku mengerti." jawab Hinata sambil tersenyum "Kau tidak ingin menciumku Sasuke-kun?" goda Hinata.

Sasuke mendengus geli, rasa hangat kembali mengalir di setiap aliran darahnya "Akan kubuat kau menyesal karena sudah menggoda ku Hime." jawab Sasuke seductive.

"Kalau begitu, coba buat aku menyesal?" ucap Hinata.

Tanpa pemberitahuan apapun, Sasuke langsung menarik Hinata dibawah pelukannya, ia mengecup bibir mungil kekasih hatinya, menariknya dan mendekapnya.

Aku ingin memberikan apa yang aku simpan.

Segalanya untukmu…

Kita berdua menjadi satu…

Hinata,

Aku berjanji satu hal padamu…

Apapun yang kau katakan, aku akan mengatakan hal yang seperti mu

Apapun yang kau inginkan, aku akan menginginkan hal yang sama seperti mu

Karena kita berdua telah menjadi satu.

Bahkan setelah kehidupan ini berakhirpun… kita akan tetap menjadi satu.

Hinata… Terima kasih.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bagaimana kabarmu hari ini jagoan?"

"Hn, biasa saja." jawaban datar dari bocah lelaki berumur 7 tahun ini.

"Baiklah, selamat tidur…" cuppp kecupan hangat diberikan sang ayah tepat di kening anak laki-lakinya. Ia beranjak meninggalkan kasur, mematikan lampu ruangan dan menutup pintu perlahan.

"Dia sudah tidur?" suara lembut sang istri membuat lekukan senyuman di wajah dinginnya.

"Ya, entah kenapa aku merasa berdosa padanya." jawab Sasuke tiba-tiba.

Alis Hinata berkerut tanda bingung "Apa ada sesuatu yang salah Sasuke-kun?"

"Ya, ia hampir mewarisi seluruh sifat yang aku punya, aku merasa berdosa saja." tutur Sasuke.

Yah, Shishui Uchiha… anak laki-laki berumur 7 tahun yang mewarisi hampir 90% sifat ayahnya ini, darah Uchiha melekat sempurna padanya.

"Hhahahaha, kau benar… ia benar-benar kloningan sempurna dirimu Sasuke-kun." ucap Hinata sambil tertawa geli.

"Hei, kau mengejekku Hime?"

Dan Hinata hanya menggelengkan kepalanya, ia tersenyum sambil menahan tawanya "Ti-tidak kok." ucap Hinata.

"Hei, bagaimana jika kita buat satu lagi… kali ini yang mirip dirimu, Hime?" tanya Sasuke penuh arti, onyx-nya menggerling perlahan penuh sejuta tanya untuk Hinata.

Dan Hinata hanya bisa memasang mode waspada jika suaminya sudah berexpressi seperti ini.

Dan yah, malam ini… bahkan jauh sebelum malam ini, dan malam-malam setelah ini, hanya akan ada kebahagian yang mereka rasakan dan selalu ada kata-kata yang sama untuk pengantar sebelum Sasuke terlelap dalam tidurnya, ia selalu berbisik manis di telinganya.

"Terima kasih untuk segalanya Hinata…"

-The end-

Ini beneran tamat loh yah…

Jangan minta sequel lagi yah, Hikkkss… .

Maaf yah, kalau sequelnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Intinya kan Sasuke sama Hinata bahagia.

Dan sekali lagi, terima kasih buat yang sudah review selama ini, support nya sangat saya hargai.

Yah, walaupun sequel ini terkesan saya paksakan, semoga sequelnya tidak mengecewakan. Dan jika mengecewakan, saya meminta maaf sebelumnya. Saya sangat menghargai jika ada yang mau memberikan saran tentang cerita yang saya buat, baik cara penulisan maupun alur ceritanya.

Kritik dan sarannya saya terima dengan senang hati.

Seharusnya sih, sabtu ini saya update FF baru GAAHINA tapi berhubung saya update sequel untuk FH ini, yah… tunggu sabtu depan yah buat FF GAAHINA nya.

Terima kasih banyak sebelumnya.

Oyasuminasai mina-san…

Intan.