.

.

Distorsi selalu terjadi di manapun kau berada. Satu orang duduk di sebuah kursi, di depanya dua orang saling berhadapan dengan posisi berlutut terikat rantai, sementara satu lainya terkurung dalam sangkar besi hitam dalam keadaan berbaring pingsan. Udara di ruangan gelap serupa goa sana begitu dingin mencekam, menembus daging berbungkus kulit penuh luka di sekujur tubuh kedua orang yang terbelenggu. Selang dengan ukuran sebesar jari telunjuk orang dewasa yang memiliki ujung menyerupai jarum di tusukkan ke punggung Natsu dan Lucy. Jarum tersebut cukup panjang hingga tusukannya dapat mereka rasa hampir menembus ari jantung, pusat dari ethernano. Tak memiliki daya keduanya pun hanya melenguh kesakitan.

"Prosesnya akan segera di mulai. Tuan dan nyonya… apa kalian siap?" Jacob memasang seringai licik. Selang penghubung dari Natsu dan Lucy juga terpasang di punggungnya, lalu satu selang lagi yang di pasangkan pada lenganya menjadi penghubung dengan lacrima berisi jasad Zeref yang akan di bangkitkan. Prosedur singkronisasi telah siap di laksanakan, lalu—

"INILAH HARI YANG KU TUNGGU-TUNGGU!—"

"—KEBANGKITAN ZEREF-SAMA!"

.

.

.

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fanfiction by me

Genre : Family, Supernatural, Hurt/Comfort, Mystery, Action, etc.

Warning! Cerita ini murni hasil imajinasi author sendiri dan tidak ada kaitanya dengan cerita di canon. OOC, Typos, Alur kecepetan, Flat, Kaku, Abal, Borring, etc. Harap di maklumi.

Enjoy this last chapter~

.

.

.

'Lock ethernano'

Gulp… Gulp… Gulp…

"Ugh… HUWAAAAAAAAAAA!"

"KYAAAAAAAAAAAAHH!"

Setelah mantra di rapal oleh Jacob dalam hati, seketika selang tersebut menyedot ethernano dari Natsu dan Lucy. Teriakan pilu dari keduanya mengiringi rasa sakit yang mendera, tak tanggung-tanggung rasanya persis seperti tertusuk puluhan katana.

"HAHAHAHA! Luar biasa! Kekuatannya sampai terasa mengalir ke seluruh tubuhku." Di samping mereka yang kesakitan, sebaliknya sang pengendali tertawa puas. Ia merasakan ethernano hebat yang mereka miliki benar-benar mengalir ke setiap inchi pembuluh darahnya. 'Memang berbeda' Batinya terkagum-kagum.

"Sial… tu-buhku sera-sa di remas… ke-kuatan—ku…" Natsu meringis. Tubuhnya semakin lemah, pandangan matanya mulai kabur. Ia mendongak, menatap nanar Lucy di depannya. Sedang dirinya tak dapat banyak bergerak, fisiknya terkekang. Bukan hanya itu, hatinya pun ikut tersayat menyaksikan wajah lusuh sang istri begitu tersiksa menahan rasa sakit. Namun apa yang bisa ia perbuat sekarang hanyalah berdo'a dalam hati, berharap keajaiban datang. Rasa sakit itu tak se-level dengan penderitaan yang melumpuhkanya selama sepuluh tahun. Tapi Natsu tak berniat menyenangkan hati penculiknya dengan mengemis, meminta belas kasihan untuk hidup mereka bertiga. Tidak—pasti masih ada harapan.

'Kami-sama, sejatinya aku hanya seorang iblis. Dan iblis selalu mendapat tempat yang buruk di sisimu. Terkecuali aku… Seorang iblis yang amat memohon akan kebaikanmu. Kumohon Kami-sama, berikan kami pertolongan!"

.

"Ugh… uhuk-uhuk!" Lucy terbatuk-batuk disertai butiran darah keluar dari mulutnya. Tubuh ringkihnya semakin terlihat lemah sekarang. Benar-benar memprihatinkan.

"Lu..cy… Arghh!"

"Tidak apa…, Natsu… Aku baik-baik saja…" ucap Lucy terbata-bata. Senyum kecil terukir di bibirnya mencoba meyakinkankan Natsu setenang mungkin. Karamelnya mulai bergulir melirik Nashi yang terkapar lalu berganti melirik Jacob yang sedang fokus. 'Inilah saatnya! Kekuatanku sudah hampir habis, sebelum itu… ku harap ini akan berhasil.'

"?" Natsu menyipitkan mata heran ketika Lucy tiba-tiba menutup karamelnya dengan mulut bergerak-gerak seperti tengah mengucapkan sesuatu."…Lucy?" Tanyanya memastikan.

Sadar ada yang aneh dengan sang penyihir bintang, Jacob menoleh dan bertanya dengan nada sinis. "Apa yang kau lakukan?"

Lantas Lucy pun membuka kedua bola matanya yang berbentuk lingkaran mantra surgawi, dan melempari tatapan dingin ke arah Jacob. "Jika aku tidak bisa melawanmu dari luar, maka aku akan melawanmu dari dalam, Jacob. Kau pikir, aku rela begitu saja menyerahkan nyawaku?"

"APA KAU BILANG!?" Teriak Jacob mulai tersulut emosi. Tangan kananya mengepal dan memukul kayu sandaran lengan di sampingnya. Konsetrasinya terganggu sehingga pengaliran ethernano dari selang Natsu dan Lucy langsung terhenti.

Lucy mendengus, pandanganya berubah serius "Benar, Kau yang bodoh, Jacob. Perkataanku itu hanya dalih saja. Aku menunggu waktu yang pas, inilah saat kau lengah. Kemudian aku bisa membunuhmu."

"Apa? SIALAN KAU, WANITA JALANG!" entah kesialan bagi Jacob sendiri atau keberuntungan bagi Lucy. Jacob hendak berdiri namun ia lupa keadaan badannya juga terkunci rantai.

"Jangan kau pikir selama ini aku tidak meneliti kelemahanmu. Kau salah. Aku sudah tahu, dan aku berusaha tetap hidup untuk menggagalkan usahamu, bukan membuatnya berhasil" Ucap Lucy tegas.

"Lucy…" Natsu merasa tak percaya dengan apa yang di katakan Lucy barusan, 'jadi ini strategi Lucy?' batinya terperangah.

Tiba-tiba, cahaya keemasan perlahan berpendar dari tubuh Lucy. Lingkaran sihir di matanya mulai berputar dan mulutnya kembali bergerak-gerak seperti tengah merapalkan mantra. Hal itu membuat secara ajaib ethernano yang beterbangan di sekitar terserap oleh energi dari tubuhnya.

Jacob pun panik bukan kepalang, "Ba-bagaimana kau bisa melakukan ini?! Bukankah kau tidak memegang spirit di tanganmu?! Bahkan kekuatanmu hampir habis?"

Seringai terpatri di wajah penyihir bintang berjuluk terkuat itu "Heh… Jangan meremehkan kekuatan dari sebuah ikatan, Jacob." Sindirnya. Bukan tanpa sengaja ia bisa melakukan ini. Pikiranya melayang teringat akan perkataan salah satu roh bintang miliknya.

"Lucy, di dunia ini terdapat banyak variasi dari seni sihir. Calestial magic adalah jenis sihir surgawi, yakni pembawa cahaya. Jika sihir tersebut dimiliki oleh orang yang tepat—dengan kata lain orang yang tidak tenggelam dalam kegelapan, maka ia akan jauh menjadi lebih kuat. Tapi yang mengendalikan semua itu tetaplah kekuatan perasaan dari penggunanya. Maka bukan tidak mungkin kau bisa mengeluarkan berbagai variasi sihir yang bahkan belum pernah kau coba sebelumnya dengan hal itu. Salah satunya akan ku ajarkan padamu, sihir yang terlihat sederhana namun luar biasa."

"Tengoklah perasaanmu. Dan pusatkan…"

'Terimakasih Aquarius...' Ungkapnya dalam hati. Sementara pikiranya masih tetap fokus merapal mantra. Cukup lama ia melakukan proses pengumpulan energi itu hingga semuanya terasa penuh, Dan di lepaskan—

"AQUA METRIA INJECTA!"

"!"

Syuuuuutttt….!

Seketika sihir Air dari tubuh Lucy mengalir melalui selang ke arah Jacob dengan tekanan tinggi. "AARRRRRRRGGGHHHHHHHHH…!" Jacob berteriak keras. Keadaan berbalik, sehingga dialah yang tersiksa sekarang.

Sementara di sisi lain, hal itu telah sampai pada pikiran Natsu "Kau benar, Lucy." Dia tersenyum simpul, paham dengan apa yang harus dilakukanya. Ia tak boleh kalah begitu saja, kini mengerti bahwa kehadiranya dan Nashi telah memberi kekuatan pada hati Lucy dan ia tak ingin membiarkan ibu dari anaknya itu berjuang mati-matian sendiri. "Lindungilah dunia, Natsu…" Suara sang kakak kembali melintas dalam ingatan, yang mana semakin memperkuat tekad serta jiwanya. Karena ia tahu—

'Guzen maryoku kaihou….,'—kakaknya telah memberikan tanggung jawab yang besar padanya, dan itu mencakup kehidupan di masa depan, apapun itu. Maka tanpa ragu ia mulai konsentrasi, merapal mantra dalam hati menggunakan segenap kekuatanya yang tersiksa. Ia memang tak bisa melakukan pengisian energi kembali seperti Lucy terkecuali jika ada api, tapi cadangan ethernano dalam dirinya lebih banyak dari yang dimiliki istrinya tersebut.

"!" Jacob tersentak. Di samping rasa sakit ketakutanya semakin menjadi. Karena ini semua benar-benar diluar ekspektasinya.

"Aku tidak akan membiarkan… PENGORBANAN KAKAK-KU SIA-SIA!" Natsu menggertak, tegas dan penuh keyakinan. Lingkaran sihir berpola naga api timbul di bawah tempatnya duduk, berputar sesuai urutan rotasinya. Natsu berhak menghakimi, tak ada ampun bagi penjahat.

'Metsuryuu no ougi : Shira ni gata..'

"TI-TIDAAAAAAAKKKK!"

Crakk!

Sett!

DUAAARRRRRRR..!

Ledakan dahsyat tercipta. Mengguncang seluruh isi ruangan. Langit-langit goa pun perlahan retak, tinggal menunggu waktu sesaat sebelum runtuh ke tanah. Setelah rantai dan sihir sangkarnya terlepas, Natsu dalam mode END secepat kilat terbang memanggul Nashi dan Lucy di kedua pundaknya, pergi dari tempat itu.

'Gawat! Bangunanya akan segera runtuh. Dimana jalan keluarnya?' Batin Natsu gelisah.

"Ke arah jam 1, Natsu. Di sana ada portal ruang dan waktu untuk melintasi dimensi, cepatlah sebelum menutup." Seolah mengerti dengan raut muka keheranan suaminya, Lucy memberikan petunjuk.

"Yosha!" tanpa pikir panjang lagi, Natsu segera melesat menuju tempat yang di sebutkan Lucy. Terbang dengan lihai, meliuk-liuk demi menghindari jatuhan batu dari langit-langit goa. Dan dari kejauhan ia bisa melihat cahaya yang menelusup.

"Itu dia portalnya!" Ujar Natsu. Semakin dekat diameter portal tampak semakin menyusut. Tak ingin membuang waktu, dengan kekuatan tambahan dari api di kakinya dia melesat bagai meteor di angkasa."HYAAAAAAAAAAA…."

Whuussshhh!

Lapisan ruang dan waktu telah di tembus tanpa kendala. Akhirnya mereka berhasil keluar dari dimensi Spiral dan kembali ke Earhtland. Sedetik setelahnya portal itu pun lenyap tak berbekas.

Brukk!

Tanah berumput menjadi landasan empuk untuk mendaratkan diri. Napas Natsu tersengal, begitupun dengan Lucy.

"Hah… Haha.. hampir saja… hah.." Desah Lucy dengan napas terputus-putus namun ucapanya sarat akan kepuasan.

Diliriknya sang istri ke samping, terpaut tubuh anaknya yang masih berbaring "Hah… Hah… Kenapa, Luce…? Hah… Kau tidak merindukanku, eh?" Walau dalam keadaan letih masih saja Natsu sempat berkata jahil.

"Hah… Hah.. Bodoh… Aku lelah…" Lucy pun mendesis, ia tak dapat lagi menahan senyum lega dan buncahan rasa bahagia. Sulit untuk dikatakan memang. Di penghujung malam itu…. mereka benar-benar BERHASIL!

Mengakhirinya.

.

.

.

.

.

.

Dimana ini?

Dimana aku berada?

Sejauh mataku memandang, hanya hamparan rumput keemasan yang tak berujung.

Indahnya…

Tapi dimana ini?

Aku terus bertanya-tanya

Tak ada seorangpun, hanya bisikan semilir angin yang menjawabku tiada pasti

Kenapa aku berada di tempat seperti ini?

Apa aku tersesat?

Aku pun mulai melangkahkan kaki

Mencari-cari atensi, berharap ada yang menghalau kebingunganku

Dimana ini?

"NASHI!"

Aku tersentak mendengar sebuah suara yang memanggilku

Siapa itu?

Sekilas suaranya seperti ku kenal

"Nashi.."

Are? Ada suara yang lain? Siapa?

Pemilik suara selembut itu?

Oh tidak, hatiku bergetar.

Rasanya aneh.

Ku tolehkan kepalaku takut-takut, dan ku dapati siluet dua orang berdiri di sana jauh di belakangku

Tampak buram dan tak jelas, siapa mereka?

Samar-samar dapat kulihat seperti bayangan seorang pria dewasa dan di sampingnya wanita dewasa

Siapa?

"…Shi.."

"Nashi…"

Kenapa mereka terus memanggilku?

"Buka matamu, Sayang!"

"Nashi"

.

.

.

"Sadarlah, Nashi!"

"Ngh…" Gadis kecil berambut pink itu melenguh pelan. Mengerjap-ngerjapkan mata yang nampak buram. Kesadaran belum kembali seutuhnya, ia memegangi kepala yang masih terasa pening berputar-putar. Namun hangatnya cahaya mentari yang menerpa kulit seketika membuatnya sedikit berjengit.

"Nashi?" Tanya sebuah suara bariton.

Lekas Nashi menoleh ke asal suara di samping kananya, kedua matanya tersipit memperjelas pandangan "Pa.. pa?" tanyanya lamat memastikan apa yang ia lihat. Natsu mengangguk, sembari tersenyum ia membantu Nashi duduk kemudian mengelus pucuk kepala bermahkota merah muda milik putrinya itu. "Kita selamat, Nashi." Ucapnya dengan nada yang begitu menenangkan. Nashi sendiri masih kebingunan, ia berusaha mengingat-ingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.

"Yokatta…"

Deg!

Tiba-tiba sebuah suara lain menghinggapi indra pendengaran Nashi, membuatnya tersentak. 'Suara ini! seperti yang ada dalam mimpiku…'

"Nashi… Apa kabar, Sayang?" Tanya suara itu lagi.

Dengan gerakan pelan, Nashi menoleh ke samping yang berlawanan dengan sang ayah, tempat telinganya menangkap getaran ber-frekuensi lembut dari pita suara seseorang. Dan saat melihat atensi pemilik suara itu, tubuhnya membeku seketika. Ia tak tahu pasti jam berapa sekarang atau hari apa ini. Yang jelas dalam ekspektasinya ia tengah tertidur dan bermimpi. Sebuah mimpi dalam mimpi. Ataupun ia tak tahu pasti apakah matanya bermasalah atau tidak? Tapi—

"Ma…" bibirnya kelu, mata mulai berkaca-kaca. Pikiranya melanglang buana, teringat akan suatu benda—adalah sebuah potret wanita dalam kertas usang nan rumpang yang hampir terbakar pinggiranya. Tak mungkin ia lupa, wajah itu. Wajah lembut sang bidadari yang selalu Nashi harapkan Kami-sama menurunkanya ke bumi.

"Hiks… Ma…" Bidadari tanpa sayap serta pakaian putih.

"Akhirnya.. kita bertemu…, Nashi..." Bidadari dengan kedua tangan yang menawarkan sejuta kasih sayang.

"Mama…" hanya satu kata lirih dengan nada bergetar, satu kata yang menrefleksikan jati diri sang bidadari itu. Air mata mulai menganak sungai di kedua pipi Nashi tanpa diminta. Bibirnya terkatup rapat menahan isak tangis. Tiba-tiba tubuh mungilnya di terjang. Wanita itu memeluknya erat—sangat erat. "Nashi…. Hiks… Hiks…" dan menangis sendiri di pundak rapuhnya. Nashi terdiam, namun tanganya seakan bergerak tanpa sadar balas memeluk wanita yang telah melahirkanya itu.

"Hiks… Mama… Hiks… Mamaaaaa… Mamaa~…" dan tangisanya pecah seketika. Sambil terus menyebut kata 'mama' berulang-ulang, seperti seorang bayi yang baru belajar berbicara.

"Mama tidak bisa berkata apa-apa lagi… sayang. Hiks… Hiks… Nashi… Anakku… Malaikat kecilku…" ungkap Lucy.

"Aku tidak mau bangun. Katakan! Jika ini mimpi, aku tidak mau terbangun… Mama…"

Lucy melonggarkan pelukanya, beralih menangkup kedua pipi basah Nashi "Bukan, sayang. Ini kenyataan. Mama ada di sini…" lalu memeluknya lagi.

"Dan Papa juga…" Natsu ikut jua, merengkuh kedua bidadarinya yang berharga.

Dan mereka pun saling melepas kerinduan yang telah lama terpendam dalam sebuah pelukan hangat, di bawah pancaran matahari pagi.

.

.

.

Inilah yang aku percayai

Bahwa kedua orangtuaku pasti masih hidup

Dan suatu saat nanti kami akan kembali bersama

.

.

Tapi sekarang Kami-sama mengabulkan harapanku

Meski setitik logiku masih menolak

Mustahil untuk dua orang yang sudah di anggap mati—

-untuk berada di sini bersamaku

Tapi peduli setan!

Inilah kenyataanya

.

.

.

=EPILOG : KELUARGA BAGINYA=

"Mama, ada banyak yang ingin ku tanyakan pada mama." Setelah momen peluk-pelukan itu berakhir, Nashi dengan antusiasnya berucap demikian pada Lucy.

"Tentu saja boleh. Tapi nanti saja ya. Kita harus pulang sekarang."

Sembari menyeka jejak-jejak air bening di sudut matanya, Nashi menyahut kata-kata Lucy dengan begitu semangat. Dan senyuman lima jari di wajahnya tak sedikitpun luntur.

"Kau tidak mau bertanya pada papamu ini, huh?" Kelihatanya aura sang ibu lebih mengalihkan perhatian Nashi, di sini Natsu jadi agak terlupakan. Nasib miris, sampai-sampai ia yang harus menawarkan diri terlebih dahulu—Tapi yang ia dapat? Sang anak malah mengolok "Aku tidak mau. Papa jelek. Bwlee.." begitu katanya, lengkap dengan gelagat memelet-meletkan lidah.

"Kih, Dasar bocah ingusan." Decih Natsu kesal membuat pasangan ibu-anak itu tertawa.

.

"Ohya, Rambutmu terlalu panjang, Luce." Ujar Natsu seraya meraih beberapa helai rambut pirang istrinya yang terjuntai ke tanah.

"Kau juga. Tapi urusan ini serahkan saja padaku." Lucy bangkit berdiri, mengacungkan salah satu kunci roh bintangnya ke depan."Hirake kaniza no tobira : Cancer!" maka munculah arwah pria berpenampilan aneh yang kedua tanganya menggenggam gunting.

"Woahh… Cancer no seirei…" Nashi takjub. Baru pertama kali ia melihat roh bintang zodiak secara langsung. Maklum, selama ini ia hanya tahu mereka dari buku eksiklopedia yang pernah di bacanya.

"Katanya kau tidak pegang kunci?" Tanya Natsu heran.

"Mereka sendiri yang datang padaku."

"Ebi~ Lucy-san lama sekali kau tak memanggilku."

"Maaf Cancer. Banyak sesuatu yang terjadi. Tapi semua sudah baik-baik saja sekarang."

"Ada yang bisa kubantu Lucy-san?"

"Tolong potongkan rambutku dan Natsu. Seperti gaya yang dulu, Ok?"

"Yokai! Ebi~" Dan Cancer pun mulai melaksanakan perintah pemiliknya.

.

Beberapa saat kemudian…

"Selesai, Ebi~" ujar Cancer mengakiri pekerjaanya.

"Haha… Aku jadi serasa muda lagi." Ujar Natsu, memegang helaian merah mudanya yang sudah berganti gaya menjadi pendek lagi.

"Woahh…. Mama cantik. Papa juga tampan." Kedua mata Nashi berbinar melihat tampilan baru kedua orangtuanya itu.

Lucy balas dengan senyuman seraya mengelus pucuk pinkish sang anak "Tentu saja, karena itu putriku juga cantik."

"Hehe.."

"Yosh! Tunggu apa lagi? Ayo kita ke guild!"

.

.

.

.

IXIXIXI

Sementara di guild, keadaanya berbeda. Semua orang menunduk dengan wajah sedih seolah tengah berkabung.

Duk!

"Sial! Ini semua kesalahanku…" sang master berdesis pelan, buku-buku jarinya yang terkepal mengeluarkan sedikit darah akibat meninju kerasnya dinding. Sedang, tubuhnya sendiri pun dipenuhi perban penutup luka.

"Master tolong jangan selalu menyalahkan diri sendiri, jika memang itu yang master pikirkan maka kami juga patut merasa bersalah. Tapi kumohon, master. Pasti masih ada harapan" Ujar Romeo, berusaha menahan tangan Erza yang bisa saja patah akibat ulahnya sendiri.

"Kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita harus mencari mereka." Gajeel menimpali.

"Tapi kemana?"

Kieettt…

Tiba-tiba pintu utama mendadak berderit seperti ada yang hendak membuka. Sontak semua orang menegakan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Lain dengan Gajeel dan Wendy yang terkejut lebih dulu.

"Tadaima…!"

"!"

Semua orang di guild bereaksi sama, tak dapat menyembunyikan rasa kaget.

"NATSU?, NASHI… DAN—ASTAGA!"

Terlebih…

"Apa itu…"

"LUCYYYYYYYYYYY...!" pekik mereka kompak.

"Kami pulang, semuanya." Sapa Lucy dengan senyum ramah yang telah lawas.

"HUWAAAAA…. NATSUUUUU…. LUCYYYYY….!" Tak banyak berpikir seperti yang lainya, sosok exceed biru terbang dari balik kerumunan, menerjang kedua sahabat yang lama sekali tak ia jumpai.

"Lucy masih hidup?..."

"Bagaimana bisa?"

"Apa yang terjadi?"

"Jadi benar Natsu?"

Sebagian orang memang tak mempercayai. Terus berkicau dengan pertanyaan yang hampir serupa. Tak ayal juga ada yang mengira-ngira bahwa itu bukanlah Natsu dan Lucy yang mereka kenal. Tapi yang mereka lihat memang tidak salah, orang yang berdiri itu Lucy juga Natsu yang asli.

"Maa~ Ceritanya panjang. Akan membutuhkan waktu lama jika ku ceritakan sekarang. Yang terpenting… hiks… akhirnya aku bisa kembali kesini lagi. Bersama Natsu juga… hiks.." dari senyum berubah jadi tangis. Lucy menutup matanya yang mulai sembab dengan sebelah tangan.

Erza datang ke hadapan Lucy dengan kedua tanganya mengepal erat. Kilatan emosi tampak di manik violetnya yang tajam."Kau!"

"Erza…"

Lalu menerjang tubuh Lucy, memeluknya erat "Kemana saja kau selama ini, huh? Kau telah membohongi kami?!" air mata pun tak dapat Erza bendung lagi.

"Maafkan aku, Erza. Waktu itu aku tak punya pilihan." Ucap Lucy seraya membalas pelukan sahabatnya itu. Suasana haru menyelimuti seluruh isi guild.

"Apa maksudnya dengan Lucy berbohong, Erza?" Tanya Gray yang sejak tadi membatu di sampingnya.

"Apa yang Erza katakan adalah benar." Ujar Happy tiba-tiba

"Apa kau bilang, Happy?"

Anggukan kepala sang exceed biru mengiringi jawabanya "Karena…"

.

"Happy… berjanjilah padaku untuk menjaga Nashi dikala aku tak ada. Dan satu hal lagi…."

"Jangan katakan pada mereka bahwa aku sengaja ikut dengan orang itu. Aku tidak ingin sampai mereka mencariku. Bagaimanapun caranya buatlah semua percaya bahwa aku telah mati terbunuh. Kau harus berjanji, sebagai sahabatku, ne?"

"Tapi Lucy—"

"Kumohon."

.

"Itulah kebenaranya, Nashi." Lanjutya pada Nashi, setelah menceritakan kilas balik kejadian sepuluh tahun lalu dimana saat Lucy menitipkan anaknya sebelum ia di culik ke dimensi lain.

Nashi tampak bingung.

"Kau pernah bertanya waktu itu tentang ceritaku yang sempat terpotong. Menyangkut fakta di balik kematian ibumu, Lucy." Ucap Happy lagi. Sekarang Nashi ingat tempo hari ketika sang paman bercerita padanya. Saking bahagianya ia sampai lupa. Ya, ia pernah mempertanyakan itu. Kejanggalan dari kata-kata Happy waktu itu membuat dugaanya benar. Makam sang ibu yang berada di dekat Fairy Hill ternyata selama ini palsu.

"Jadi begitu…" lirih Nashi.

"Kau tega, Lucy. Kau benar-benar tega!" Erza kembali meracau.

"Maafkan aku…"

"Ekhem!" Cana berdehem, "Yasudah, itu tidak perlu di bahas lagi. Lebih baik sekarang kita gelar sedikit pesta mungkin? Untuk menyambut kedatangan pahlawan kita."

Akhirnya Erza melepaskan pelukannya pada Lucy lalu menimpali kata-kata wanita pemabuk berambut coklat gelombang itu "Payah, otakmu isinya pesta terus. Mereka kan butuh istirahat."

"Hahahahahahaha.."

Seketika atmosfer ketegangan berubah menjadi cair. Mereka semua tertawa bahagia.

.

.

Meski begitu perayaan kecil-kecilan nan dadakan tetap di gelar. Sorak gembira, gelasan beer, dan serumpun wajah berseri menghiasi pemandangan dalam guild nomor satu se-Fiore itu. Sedangkan Natsu dan Lucy sendiri memilih untuk duduk di tepi menyaksikan mereka yang tengah sibuk berpesta.

"Ah… Aku tak tahu harus berkata apa lagi… suasana ini…" Ucap Lucy. Tertahan sejenak karena merasa buliran hangat kembai timbul di matanya "Oh tidak… Apa aku akan kehabisan air mata karena terus menangis sejak kemarin?"

Lekas kedua tangan Natsu meraih pipi sang istri, menangkup wajahnya "Jangan menangis lagi…" di sekalah air mata Lucy dengan kedua ibu jarinya "Kita tahu semuanya telah usai. Kau harus menjadikan air mata ini sebagai air mata kesedihan yang terakhir." Ucapnya lembut pun menenangkan.

Lucy mendengus "Kali ini aku menangis bukan karena sedih, bodoh."

"Teganya~ suamimu kau panggil bodoh, awas ya!"

Di saat Natsu hendak mendekatkan wajahnya ke wajah Lucy—

"Hahaha papa dan mama jangan bertengkar dong~"

"Nashi?"

-Tiba-tiba anaknya datang membuat mereka refleks saling menjauhkan diri satu sama lain.

"Ka-kami tidak bertengkar. Kami hanya saling melepas rindu." Ujar Natsu salah tingkah, pura-pura angkuh memalingkan muka ke arah lain guna menutupi malu.

Nashi memiringkan kepalanya penasaran "Kenapa caranya begitu?"

"Aah, kau ini banyak tanya. Ku pikir kita harus pulang ke rumah sekarang." Tak ingin terus di sudutkan si anak, Natsu segera bangkit berdiri dan hendak melangkah jika tidak tertahan dengan pertanyaan dari Lucy—"Rumah yang mana, Natsu?"

"Rumahku." Jawabnya polos.

"KAU LUPA? RUMAHMU KAN TERBAKAR 10 TAHUN LALU KARENA ULAHMU SENDIRI!" sembur Lucy.

"Kapan aku melakukan itu?"

"Errgh…" Lucy sweatdrop.

'Hihi~ mama dan papa benar-benar lucu' batin Nashi terkekeh menyaksikan tingkah kedua orangtuanya.

Tiba-tiba lampu ilham di kepala Natsu menyala "Aha! Kalau begitu ke apartemenmu saja, Luce"

"Apartemenku pasti sudah di huni orang lain. Aku kan meninggalkanya hampir sepuluh tahun lalu. Dasar pikun." Sidik Lucy dengan ekspresi datar.

"Jadi kita tidak punya rumah sekarang?!"

'Aku tak perlu menjawab lagi' batin Lucy kembali sweatdrop, tak habis pikir dengan otak suaminya yang begitu lamban.

"Hihihi.. Papa, mama!" sahut Nashi tiba-tiba.

"Ada apa, Nashi?" tanya Lucy.

"Kalian terus meributkan soal rumah. Jika kalian memang butuh tempat tinggal, kita bisa menyewa apartemen dadakan di daerah selatan." Tukasnya. Memberikan usul guna mengakhiri perdebatan tak penting kedua orang itu.

"Bagaimana caranya? Kita kan tak punya uang." Natsu bertanya.

"Hehe… Tunggu sebentar." Lalu Nashi berjalan cepat ke arah almari penitipan barang di dekat bar. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa tas selempangnya dan mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tas tersebut.

"Lihat ma, pa." di tunjukanya lembaran uang itu pada kedua orangtuanya.

"Eh?! Darimana semua uang itu, sayang?" Tanya Lucy heran.

"Ini semua uangku. Aku mengumpulkanya dari hasil misi yang kulakukan bersama paman Happy." Jawab Nashi disertai senyum yang sangat menggemaskan.

"Nashi…" Lucy nampak terharu.

"Hehe.."

"Kau anak yang baiiikkkk~…" di peluknya lagi tubuh kecil anaknya itu dengan sayang.

Tap.. tap.. tap...

Tiba-tiba seseorang menghampiri mereka.

Nashi tersentak "Ah! Nenek?"

Lucy yang menyadarinya lekas berbalik. "Poluchka-san?" sahut Natsu dan Lucy bersamaan.

"Hn" Poluchka mendengus, gelagat orang judes. Kedua tangan di samping roknya terkepal. Sekilas urat-urat di dahinya pun tampak menegang. Ia mendesis "Kalian para bocah…." Jeda sesaat—

"KEMANA SAJA KALIAN, BODOH!?"

PLAKK!

PLAKK!

"Kyaa!"

"Ittai!"

"Membuatku kerepotan mengurus dan membesarkan anak kalian seorang diri! APA YANG KALIAN PIKIRKAN, HUH?!" omelan Poluchka seketika membuat perhatian orang-orang tertuju pada mereka.

"Ma-maaf…" tunduk keduanya sembari memegangi pipi masing-masing yang memerah akibat tamparan super dari wanita tua itu.

Poluchka hanya menghela napas "Huh, Sudahlah… Tak perlu di pikirkan." Ucapnya kemudian. Walau usia sudah senja tapi tingkahnya masih labil. Semenit lalu dia marah-marah tak karuan, semenit kemudian ia jadi melunak sendiri.

"Terimakasih Poluchka-san. Sudah menjaga anak kami dengan baik. Mendidik dan membesarkanya… Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan untuk membalas budimu." Ucap Lucy mewakili rasa terimakasihnya dan Natsu.

Wanita tua itu mengibaskan tangan dengan wajah sok angkuh yang menjadi ciri khasnya. "Tak apa. Aku tak butuh balas budi. Hanya.. biarkan aku memeluk bocah nakal ini sebentar saj—!" Poluchka tersentak. Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba tubuhnya sudah di terjang saja. Nashi memeluk Poluchka."Nenek…" dan senggukan lagi dalam dekapan wanita tua yang sudah ia anggap sebagai nenek kandungnya itu.

"Anak bandel… Kau harus jaga dirimu baik-baik… Jangan malas! Jangan sampai merepotkan orangtuamu, mengerti?"

"Iya.."

Di belakang mereka Natsu dan Lucy tersenyum.

IXIXIXI

Nashi PoV

Malam itu terasa berbeda bagiku. Kebahagiaan tak henti-hentinya terpancar dari wajahku. Suasana hangat yang selama ini tak aku dapatkan tanpa kedua orangtua di sampingku, sekarang dapat kunikmati. Di mulai dari memesan apartemen, membantu mama menyiapkan makanan untuk makan malam, menyantap makan malam bersama di selingi canda dan tawa, mendengarkan ocehan paman Happy, menonton papa dan mama mendebatkan hal-hal kecil… Semuanya terlihat sederhana memang tapi ini begitu membahagiakan bagiku.

Sekarang aku sudah di kamar, siap-siap untuk menjelajah ke alam mimpi— tentunya mama dan papa juga ada untuk mengantarku.

"Oh… Jadi Jacob berencana membangkitkan Zeref? Dan rencananya berhasil kalian gagalkan? Aku mengerti sekarang…" Ucapku setelah mama dan papa menceritakan kejadian ketika aku masih pingsan kemarin.

"Padahal jika ingin membangkitkan Zeref, kenapa tidak sekalian saja dia juga membangkitkan Lumen Histoire ya?" ujar mama.

Kulihat papa tertawa mendengarnya "Haha.. Mana mungkin dia tahu soal hubungan seperti itu." katanya. Aku tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya bukanlah hal buruk.

"Aku penasaran, siapa sebenarnya Zeref? Dalam buku yang pernah ku baca tak ada keterangan asal-usul, keluarga, dan apa hubunganya dengan papa. Bahkan marganya juga tidak di sebutkan. Papa, ceritakan padaku semuanya!" pintaku pada papa. Aku yakin dia tahu semuanya sebab pengalaman hidupnya lebih banyak dariku, karena itu aku ingin mendengar secara langsung.

"Belum saatnya, Nashi. Kau masih terlalu kecil untuk mengetahui semua itu. Nanti kalau kau sudah dewasa kau pasti akan tahu dengan sendirinya." Apa? jadi papa tidak mau memberitahuku? Pelit~

"Ah~ Aku kan hanya ingin tahu. Ayolah…" ku pakai saja jurus yang biasa, merajuk.

"Kau cerewet sekali, Nashi. Seperti ibumu." Alhasil papa malah mengomeliku. Huh, mentang-mentang sudah dewasa… Selalu saja menyembunyikan sesuatu dari anak kecil. Tak adil.

"Enak saja aku di bilang cerewet. Dari pada kau! Pelupa!" Tiba-tiba mama menimpali.

"Kenapa jadi kau yang marah?" Balas papa sinis.

Aku pun hanya menghela napas. 'Mulai lagi deh'

Begitulah papa dan mama, selalu meributkan hal-hal kecil yang menurutku tidak penting sama sekali. Tapi bukan berarti mereka saling membenci satu sama lain—sama sekali bukan! Justru itulah yang membuat mereka terlihat manis dan harmonis dimataku.

"Hmm~ Tapi wajahmu benar-benar mirip Lucy. Cantik." Ujar papa tiba-tiba seraya meneliti kontur wajahku. Pipiku merona, kulirik mama di sampingku, ternyata sama pipinya juga memerah bahkan lebih merah dariku. Hihi~

"Ti-tidak semuanya. Rambut dan warna matanya mengikutimu, Natsu." Mama langsung menambahkan.

"Ahahaha! Yang terpenting kau tidak menuruni sifat buruk kami berdua." Tawa papa menggelitik telingaku. Rasanya begitu hangat bagai namanya. Tanganya yang besar mengacak helaian merah mudaku membuatnya sedikit berantakan. Aku pun ikut tertawa.

Kurasa inilah saat untuk mengatakanya.

"Ohya… Papa, Mama. Aku punya cita-cita. Jika besar nanti aku ingin jadi master yang lebih baik dari master-master sebelumnya, dan bisa lebih memajukan guild tercinta kita."

"Kau pasti bisa, sayang. Karena kau putri kami." Kedengaranya mama setuju.

"Dan jangan lupa—" Papa juga.

"MOETTE KITTA!" akhirnya papa dan aku berseru kompak dengan semangat membara. Lalu kami berpelukan lagi.

.

"Natsu.."

"Aku mengerti."

"Selamat ulang tahun, Nashi!"

"Eh?" Apa yang tadi papa dan mama bilang?

"Hari ini ulang-tahunmu yang ke sepuluh bukan?" suara mama mengagetkanku.

"Kalian… Ingat?" tanyaku. Sedikit tak percaya.

"Aa—sebenarnya sih aku di beritahu Lucy."

Benarkah? Jadi papa dan mama…

"Maafkan kami karena tidak pernah ada untukmu dari kau lahir sampai saat ini… maafkan kami karena telah membuatmu melalui hidup yang berat, Nashi. dan kami juga tidak bisa memberimu apa-apa sebagai hadiah."

Are? Kenapa air mataku keluar lagi…

"Tapi, Aku dan Lucy sudah memutuskan akan menebus semuanya. Kami akan terus berada di sisimu sampai nanti."

Aku…

"Arigatou… Papa… Mama…Hiks.."

Aku bahagia…

Sangat...

.

.

.

.

Sekarang aku berubah pikiran. Aku tak ingin hadiah apapun dari mama dan papa. Karena bagiku mereka berdua-lah hadiah paling sempurna dalam hidupku, selamanya.

Mungkin di luar sana banyak orang berkata tentang makna dari sepatah kata 'Keluarga'. Tempat berlindung, tempat untuk pulang, tempat bercanda tawa, tempat berbagi, tempat melepas lelah, tempat belajar, anugerah dari dewa, perwujudan dari cinta dan masih banyak lagi macamnya.

Tapi menurutku sederhana saja, keluarga adalah tempat semua berawal….., dan tempat semuanya akan berakhir.

-THE END-

.

.

A/N : Alhambulillah… o(^v^)P Akhirnya fic multichap pertamaku sukses, walau endingnya begitu ancur dan tak sesuai harapan (-_-). Gimana menurut kalian minna?

Haduuuhh… Aimi berterimakasih sekali pada para reader sekalian yang sudah mau menyempatkan diri membaca/mengikuti fic abal-abal ini.

Insyaallah lah aimi akan berkarya lagi menuangkan fantasi2 anehnya ke bentuk fanfiksi terutama untuk meramaikan fandom fairy tail tercinta ini supaya tetap jaya (?) Yaa sambil belajar juga dan berusaha mengasah kemampuan, semoga minna-san gak bosen liat panname Aimi hehehe. Sekalian aimi juga mau promote karya2 FT yg lain. Baik yg sudah lama di publish, on going, sampai yang masih rencana. diantaranya :

Sudah lama di publish :

1. Wedding Dress

Oneshot/rate : K+/genre : Angst, romance/karakter : Natsu, Lucy, Gray.

2. Mendadak Insyaf

Oneshot/Rate : K+/Genre : Humor, Parody/Karakter : Natsu

Masih on going :

1. Notré Amour

Multichap Colaboration with Synsropezia/Rate : T+/Genre : Drama, Romance/Karakter : Natsu, Lucy

2. Sayonara Ga Itakunai Kara(di hapus dulu soalnya takut gk ke urus, tapi insyaallah nanti akan di publish lagi kalau waktunya memungkinkan. Maaf ya Minna)

Masih rencana

1. Naughty Rock 'N Roll

Multichap/Rate : M/Genre : Romance, Friendship/Karakter : Lucy, Natsu, Juvia, Gray

2. Nightwalker Heroine

Multichap/Rate : T/ Genre : Romance, Action/ Karakter : Erza S, Jellal F

3. Scandal in Serial

Twoshot/Rate : T/ Genre : Romance, Humor/ Karakter : Natsu, Lucy.

4. Continuation : Stone Age

Oneshot/Rate : T/ Genre : Romance, Hurt comfort/ Karakter : Natsu, Lucy and other.

5. OMG! Sempak Milik Siapa Ini?

Oneshot/Rate : T/Genre : Humor/ Karakter : Natsu , Ichiya, Makarov.

6. Fairy Hill's Treasure

Multichap/Rate : M/Genre : Horror, Suspense/Karakter : Lucy, Erza.

Hehe kebanyakan Nalu yah? xD Do'akan aja, semoga gak ada halangan apa-apa biar aimi bisa tetap publish dan gak ke serang hiatus. Amin. Sampai jumpa di karya-karya Aimi Dragneel yang selanjutnya~

SPECIAL THANKS FOR

Reviewers : Asunadia-tan, Naomi Koala, Fic of Delusion, synstropezia, Aoi Shiki, ACKeeliuen, Mihawk607, de-chan, Stayawake123, freedom friday, ifa dragneel92, English please, AI D Mhov, Adhe, Riri406, Shiroi tensi, Dragneel77, vicky-chan, Serly scarlet, didiksaputra, ATHAYPRI, Akano tsuki, Rere.

Dan segenap Favoriters serta Followers semuanya.

.

.

-Omake-

Beberapa hari kemudian…

"Nashi sudah tidur?"

"Iya, ternyata ia cepat lelap sepertimu. Mungkin juga dia kelelahan karena misinya tadi"

"Luce."

"Hm?"

"Keluarga kita sudah kembali"

"Lalu?"

"Hehehe… Aku punya ide yang bagus, Luce"

"Apa itu, Natsu?"

"Bagaimana kalau kita menambah anggota baru?"

"Maksudmu?"

"Adik untuk Nashi"

"AP—Kyaaaaaaaa….! Natsuuuuu….!" Belum sempat Lucy memprotes, tubuhnya tiba-tiba sudah melayang—Natsu gendong Lucy ala bridal style, membawanya menuju kamar mereka.

.

.

.

"Aku sangat merindukanmu, Luce."

"Aku juga sangat merindukanmu, Natsu."

-Fin-