Cast : Jeon Wonwoo, Kim Mingyu and Choi Seungcheol.

Genre : Family

Disclaimer : Plot is mine

Rating : K

.

My Little Brother

.

Hujan deras mengguyur kota Seoul. Tidak hanya manusia, burung yang berterbangan pun mencari tempat untuk berteduh. Sepasang bola mata bening memandang takjub air hujan yang saling berlomba berjatuhan.

"Waaahh hujan delac. Gyu mau main hujan-hujanan." Tanpa ragu bocah yang masih berusia lima tahun itu beranjak dari sofa. Namun baru saja kaki mungilnya akan melangkah, sebuah tangan menarik kerah baju yang ia kenakan.

"Won-ie, lepac! Gyu mau main hujan." Mingyu kecil tidak mau menoleh ke arah Wonwoo yang tepat duduk di sampingnya. Ia hanya berusaha untuk melangkah walau selalu gagal.

"Yak Won-ie, lehel Gyu telcekik." Wonwoo melonggarkan cengkraman di kerah baju Mingyu. Tapi tetap tidak melepaskannya. Ia tetap tidak memperbolehkan adik kembarnya melangkah sedikitpun. Apalagi sampai menerobos hujan deras di luar sana.

"Won-ie menyebelkan," rajuk Mingyu karena Wonwoo masih bertahan memegangi kerah bajunya.

"Min-ie tidak boleh main hujan-hujanan," ucap Wonwoo datar. Tidak memperdulikan wajah Mingyu yang tertekuk lucu.

"Kenapa tidak boleh?" tanya Mingyu. Ia memandang sebal kakak kembarnya.

Meski tubuhnya lebih besar, tapi Mingyu terlihat sangat manja. Berbeda dengan Wonwoo yang lebih senang memilih diam. Lebih senang menunjukkan wajah datarnya. Karena ia tidak suka di katakan menggemaskan saat menunjukkan ekspresi lainnya. Saat tidak sadar memajukan bibirnya saat merajuk, kakak tertuanya langsung menciumi pipinya gemas. Berulang kali mengatakan dirinya lucu dan menggemaskan. Sejak saat itu Wonwoo lebih memilih menunjukkan wajah datarnya.

"Kalau Min-ie sakit siapa yang repot?" tanya Wonwoo dengan wajah datarnya.

Mingyu berdiam diri, tidak lagi memberontak seperti tadi. Dengan sangat tidak rela, Mingyu kembali mendudukkan dirinya di sofa. Bibirnya maju beberapa senti karena membenarkan ucapan Wonwoo. Kalau ia sakit, ia akan merepotkan ibunya. Dan yang lebih parahnya ia akan merepotkan saudara kembarnya. Karena setiap Mingyu sakit, Wonwoo tidak bisa jauh-jauh dari Mingyu. Ia akan menangis kalau Wonwoo tidak ada. Bahkan Wonwoo sering ikut-ikutan sakit saat Mingyu sakit.

Mingyu memandangi air hujan dengan wajah sedihnya. "Gyu ingin main hujan-hujanan, tapi Gyu tidak mau Won-ie ikut cakit," ucap Mingyu dengan suara lirihnya.

Wonwoo memandangi Mingyu yang masih terus memperhatikan hujan. Ia juga sangat ingin bisa bermain hujan. Karena sebenarnya, Wonwoo yang rentan penyakit. Tubuhnya lebih lemah di bandingkan adik kembarnya. Ia tidak mau Mingyu sakit karena dirinya. Sebagai anak kembar, entah bagaimana mereka bisa merasakan apa yang di rasakan kembarannya.

"Won-ie ada ide, ayo!"

Wonwoo menggandeng tangan Mingyu. Mengajak adik kembarnya ke kamar orang tuanya.

Seungcheol yang sedari tadi memperhatikan kelakuan kedua adiknya hanya mampu menggelengkan kepala.

Sesuai pesan sang ibu, ia harus menjaga ke dua adiknya yang berbeda sifat itu. Wonwoo dengan sikap sok dewasa dengan wajah datarnya, sedangkan Mingyu yang sangat manja dengan tingkah usilnya, jangan lupakan cara berbicaranya yang masih cadel. Berbeda dengan Wonwoo yang sudah jelas berbicara. Benar-benar kembar yang berbeda.

Dengan berjalan sedikit lunglai, Seungcheol mengikuti adik kembarnya yang sudah berada di kamar orang tuanya.

"Ya ampun, apa yang kalian lakukan?" teriak Seungcheol saat melihat adik-adiknya asyik bermain di bawah guyuran shower.

"Ini pengganti hujan Hyung," jawab Mingyu polos. Seungcheol hanya mampu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut menghadapi tingkah ajaib Wonwoo dan Mingyu.

"Hari sial karena harus menjaga anak-anak menyebelkan seperti kalian," rutuk Seungcheol dalam hati. Niatnya untuk bermain di rumah Jisoo dan Jeonghan langsung sirna. Karena bukan pilihan tepat membawa kedua adiknya ikut bermain. Yang ada, ia hanya akan di repotkan dengan dua bocah berbeda sifat itu.

"Gyu, Wonwoo, matikan showernya! Nanti kalian sakit kalau lama-lama bermain air," ucap Seungcheol yang sedang berdiri di pintu kamar mandi.

"Cheol-ie Hyung mau ikut mandi?"

"Tidak. Hyung sud—"

Byuuurrr…

Guyuran air ke tubuhnya memutus ucapan Seungcheol.

"Hyung bacah? Mianhae," ucap Mingyu dengan memasang wajah super polos. Tak lupa mata bulat dan beningnya berkedip-kedip imut. Sedangkan Wonwoo, ia hanya stay cool. Memasang wajah datar yang Seungcheol sendiri tidak tahu adiknya itu dapat dari mana.

"Cheol-ie Hyung malah?" tanya Mingyu lagi.

"Aarght." Seungcheol hanya mampu mengerang frustasi. Marah pun percuma, karena Mingyu akan mengeluarkan jurus terakhir, menangis.

Tidak ingin mengambil resiko kedua adiknya yang menggemaskan namun menyebalkan di saat yang bersamaan itu sakit, Seungcheol mendekat dan mematikan Shower. Bocah berusia sembilan tahun itu mengambil handuk dan mengeringkan tubuh Mingyu. Sedangkan Wonwoo, ia lebih senang melakukan semuanya sendiri.

"Won-ie bukan anak kecil lagi Hyung! Jadi jangan bantu Won-ie," ucap Wonwoo sok dewasa setiap Seungcheol akan membantu. Membuat kakak tertuanya hanya bisa menepuk dahinya sendiri. Padahal setiap malam harus minum susu agar bisa tidur.

Setelah memastikan Mingyu dan Wonwoo memakai baju, Seungcheol beralih ke kamarnya yang terletak tepat di sebelah kamar si kembar. Baru saja ia selesai mandi dan berganti baju. Tapi ulah adik manisnya membuatnya kembali berganti baju.

Seungcheol kembali ke kamar si kembar. Menemukan kedua adik kembar non identik itu berguling-guling di kasur. Bukan keduanya, tapi hanya Mingyu yang berguling-guling di kasur. Sedangkan Wonwoo dengan mata berulang kali mengerjap, duduk di tepian ranjang. Kaki mungilnya ia ayun-ayunkan.

"Siapa yang mau Hyung buatkan susu?" tawar Seungcheol.

Ia bertanya karena bukan tidak tahu siapa yang mau. Seungcheol sangat tahu kedua adiknya harus minum susu sebelum tidur siang. Tapi ia ingin tahu apa Wonwoo masih bertahan dengan sikap sok dewasanya.

"Gyu mau... Gyu mau... Gyu mau cucu coklat Hyung," ucap Mingyu semangat. Ia berlonjak-lonjak di kasurnya. Membuat Wonwoo langsung melompat turun. Karena hampir terjungkal karena pergerakan Mingyu.

"Won-ie tidak mau?" tanya Seungcheol pura-pura.

"Won-ie sudah besar," jawabnya dengan wajah datarnya. Seungcheol gemas setengah mati melihatnya. Ingin rasanya mencubit pipi putih adiknya itu.

Seungcheol bergegas ke dapur. Menyiapkan susu Mingyu seperti biasa. Tidak membutuhkan waktu lama, susu yang di isi ke dalam gelas khusus balita itu ia bawa ke kamar. Menyerahkan pada Mingyu yang di sambut pekikan girang.

"Yeeeeey cucu coklat Gyu cudah jadi," ucapnya kegirangan.

Seungcheol keluar kamar saat Mingyu tengah meminum susunya. Karena tidak butuh waktu lama, onix kembar milik adiknya akan tertutup.

Saat Seungcheol sudah menutup pintu, pandangan Wonwoo tertuju pada Mingyu yang masih meminum susunya. Mata sipitnya berkedip berulang kali. Ia terus memperhatikan Mingyu sampai adik kembarnya terlelap. Namun bibir mungilnya masih di sumbat botol susunya.

Wonwoo turun dari ranjang. Membuka pintu dengan menjinjit, karena kenop pintu kamar mereka melewati tinggi tubuhnya. Mata sipitnya ia edarkan ke sekeliling. Rumah tampak begitu sepi. Ayah dan ibunya belum pulang. Dan kakak tertuanya ia yakin sedang berada di kamar.

Bocah manis berkulit putih itu berjalan ke dapur. Biasanya ia juga minum susu sebelum tidur siang. Tapi ibu yang setiap hari membuatkan untuknya tidak pernah bertanya seperti Seungcheol. Hanya menyeduhkan dua botol susu untuknya dan Mingyu. Jadi ia tidak perlu menjawab mau atau tidak. Meski masih balita, Wonwoo memiliki rasa gengsi yang cukup tinggi.

Wonwoo memandangi lemari tempat penyimpanan susunya dengan nanar. Ia tidak akan bisa menjangkaunya. Sekalipun ia menggunakan kursi, tangan mungilnya masih tidak bisa meraihnya.

"Won-ie tidak bisa. Lemarinya tinggi. Won-ie masih kecil," ucapnya sedih. Akhirnya Wonwoo sadar kalau ia masih kecil. Tapi kalau ada Seungcheol, ia tidak akan mau mengakuinya.

"Won-ie mau susu seperti Min-ie. Won-ie juga mau tidur siang. Tapi Won-ie tidak bisa membuat susu."

Dengan kepala menunduk sedih, Wonwoo berbalik. Ia memilih duduk di salah satu kursi yang terletak di dapur. Setelah susah payah menaikkan tubuh mungilnya, akhirnya Wonwoo bisa duduk.

Bocah manis itu masih memandangi lemari tempat penyimpanan susu. Kakinya ia ayun-ayunkan dengan mata yang terus berkedip lucu.

"Won-ie mau minum susu," ucapnya memelas.

Wonwoo kecil menunduk saat menyadari siang ini tidak akan bisa meminum susu kesukaannya. Ia langsung teringat sang ibu yang masih berada di luar sana.

"Eomma... cepat pulang! Won-ie mau tidur."

Suara Wonwoo bergetar. Bibir mungilnya yang berwarna merah ikut bergetar. Mata sipitnya memerah sempurna. Dan lama kelamaan, kristal bening mengalir dari kedua matanya.

"E-Eomma... hiks."

Isakan kecil berhasil lolos. Di saat-saat seperti ini, ia merindukan sosok sang ibu. Kalau ada sang ibu, ia yakin sudah bisa meminum susunya dan tidur nyenyak bersama Mingyu.

Tangan mugilnya menghapus air mata yang mengalir. Meski ia tidak menangis meraung-raung. Tapi dengan menunduk, air matanya mengalir melewati pipi putihnya. Bibir mungilnya tidak hentinya bergetar. Wajah manisnya tampak sangat lucu.

Seungcheol yang sedari tadi memperhatikan kelakuan Wonwoo menahan tawanya. Namun ia tidak tega melihat adik yang ia sayangi menangis dan tampak begitu sedih.

"Won-ie mau susu?"

Wonwoo tersentak saat mendengar suara Seungcheol. Ia bertahan pada posisinya yang menunduk. Takut Seungcheol melihat matanya yang berair. Walau pada kenyataanya, kakaknya sudah melihat semua tingkahnya.

"Won-ie mau tidur siang seperti Gyu?" tanya Seungcheol lagi. Namun Wonwoo masih belum mau menjawab.

Seungcheol tersenyum dan mengacak rambut hitam legam Wonwoo. Walau bagaimanapun, Wonwoo tetaplah adik manisnya yang sok dewasa dan keras kepala. Ia tidak akan mau berterus terang.

Tanpa bertanya ketiga kalinya, Seungcheol langsung menyiapkan susu untuk Wonwoo. Botol susu yang persis seperti Mingyu sudah ia isi dengan susu rasa vanilla. Berbeda dengan Mingyu yang memilih susu coklat.

Seungcheol menoleh ke arah Wonwoo. Adik manisnya tampak mengantuk. Berulang kali mengucek mata sipitnya. Namun ia masih bertahan pada posisinya. Seungcheol sedikit menunduk untuk melihat wajah Wonwoo. Tangannya menghapus air mata di pipi sang adik.

"Jangan menangis lagi! Ini susu untuk Won-ie!"

Wonwoo memandang botol susunya dan Seungcheol bergantian. Dengan ragu-ragu, tangan mungilnya meraih botol susunya.

"Mianhae Hyung! Seharusnya Won-ie tidak boleh merepotkan Hyung lagi. Tapi Won-ie tidak bisa membuat susu sendiri," ucapnya sambil kembali mengeluarkan air matanya. Seungcheol yang melihatnya kembali tersenyum. Ia benar-benar gemas dengan adik manisnya.

Karena tidak tega melihat Wonwoo masih menangis, Seungcheol langsung menggendong adiknya setelah menutup bibir mungil Wonwoo dengan susu.

"Membuat susu tidak merepotkan. Jadi Won-ie jangan menangis lagi. Tidurlah! Won-ie sudah menjadi Hyung yang baik hari ini untuk Mingyu," ucap Seungcheol yang membuat tangis Wonwoo mereda.

Sambil meminum susunya, Wonwoo menampilkan senyumnya. Kepalanya ia sandarkan di pundak Seungcheol. Ia senang karena di katakan sebagai kakak yang baik untuk Mingyu. Karena ia selalu ingin menjaga dan melindungi Mingyu. Mereka pernah berjanji untuk saling menjaga dan melindungi.

Setelah Wonwoo tertidur, Seungcheol meletakkan Wonwoo di samping Mingyu. Sebelah tangan Wonwoo masih memegang botol susunya. Seolah merasakan kehadiran Wonwoo, Mingyu langsung merubah posisi tidurnya. Memiringkan tubuhnya dan memeluk Wonwoo.

Seungcheol tersenyum melihat ke dua adik nakalnya sudah tertidur pulas. Ia mengecup pipi gembil kedua adiknya berulang kali. Tanpa menyelimuti si kembar, Seungcheol langsung meninggalkan kamar bernuansa biru muda itu. Karena mereka akan menendang setiap ada yang menyelimuti tubuh mungil mereka.

Seungcheol memang sempat mengeluh karena tidak bisa bermain bersama Jisoo dan Jeonghan. Tapi ia tidak sepenuhnya menyesal. Meski tingkah Wonwoo dan Mingyu sering membuatnya sakit kepala, tapi adik-adiknya sangat menggemaskan yang membuatnya tidak bisa tidak tersenyum.

.

.

FIN

Aku kangen Wonwoo. Kangen sekangen kangennya. Cuma bisa berdoa supaya dia cepat kembali bersama yang lain. Aku juga kangen interaksinya dengan Mingyu. Makanya tercipta ff ini.