"Yeollie-ya, dari mana saja kau? Kau bilang hanya sebentar. Apakah ini yang namanya sebentar hah?" Hmm, mengingat kata-kata itu dan bagaimana ekspresinya, hanya membuatku semakin frustasi. Andaikan aku bisa mengungkapkannya, mungkin ini tidak akan pernah terjadi. Haha

Oh iya, kenalkan namaku Sijin, Park Sijin. Usiaku saat ini 17 tahun, mungkin. Aku adalah seorang murid SMA yang bebas, 'SANGAT BEBAS'. Aku memiliki seseorang yang sangat ku sayangi. Namanya Byun Baekhyun. Dia adalah seniorku di SMP dulu. Usia kami berbeda 2 tahun, tetapi kami sangat dekat seperti saudara kandung. Sampai-sampai banyak rumor menyebutkan kami berpacaran. Di hari kelulusannya, aku tidak bisa hadir karena ada satu hal yang memaksaku untuk tidak hadir dan menjadikanku murid SMA yang 'sangat bebas'. Kalian pasti bertanya-tanya apa yang terjadi pada ku kan? Tepat sekali, aku mengalami kecelakaan dan aku menginggal di tempat kejadian. Sekarang aku hanyalah sebuah arwah yang hanya bisa dilihat olah kakakku. Aneh memang, kenapa hanya dia? Apakah karena aku mencintainya? Entahlah, aku tidak mau memikirkannya. Yang penting aku masih bisa bersama dengannya.

Aku kira cukup untuk perkenalan tidak jelas yang sangat singkat itu, hahaha.

Frustasiku diawali dengan munculnya seorang laki-laki tampan yang berada di kelas Baekkie hyung, namanya Park Chanyeol. Sial, marga kami sama. Tak bisa kah aku mengganti namaku? Hish. Pria itu berhasil membuat semua orang yang ada di kelas membicarakannya, termasuk Baekkie hyung. Aku adalah hantu, jadi aku selalu mengikuti Bekkie hyung kemana-mana *jiwa Sasaeng*. Baekkie hyung selalu memperhatikan dia, mengikuti dia, dan bahkan berani menginap di rumah pria itu. Sejak SMA Baekkie hyung mulai liar, hahaha. – Back to Story – Baekkie hyung dan si Bajingan tampan itu semakin dekat dari hari ke hari. Si Chanyeol ini terlihat seperti memainkan Baekkie hyung. Sering sekali membuatnya menangis dan bahagia. Ketika dia menangis, selalu aku yang harus menghiburnya. Tapi ketika hyung sedang bahagia aku seperti mainan lama yang dipajang. Ingin sekali aku teriakkan 'Hei bodoh, apa kau tidak bisa melihat orang yang kau sukai itu hanya mempermainkanmu?' tapi apa daya, aku tidak tega membentak orang yang kucintai.

Setiap hari frustasiku bertambah, rasanya kepala ini ingin meledak. Sampai disatu waktu, hal itu membuatku tidak bisa mengontrol emosi dan berakhir membentak Baekkie hyung. Saat itu, kami berada di lantai teratas sebuah gedung kosong yang masih berfungsi aliran listriknya. Di sana, mereka hanya menghabiskan waktu menunggu sunset dengan bermain kartu. Itu adalah hal aneh yang menurutku cukup romantis yang dilakukan dua orang laki-laki. Tapi, apa yang mereka harapkan tidak terjadi karena si bajingan chanyeol pergi dari sana.

C : "Baekkie-ya, tunggu di sini sebentar, aku mau mengambil sesuatu"
B : "Harus sekarang? Apa gabisa tunggu nanti aja? Hmm, oke. Aku tunggu" *bete*
C : "Iya, ga lama." *menuju lift*

Selagi Chanyeol pergi, aku harus berbicara dengan hyung

S : "Hyung, apa hyung ga ngerasa aneh sama sikapnya Chanyeol? Yang bisa dia lakuin cuma bikin hyung nangis. Ya walaupun kadang seneng juga, tapi tetep aja banyakan nangisnya."
B : "Aneh kenapa? Engga ah, lagi pula aku seneng kok sama sikapnya dia. Etapi, kok dia lama banget ya ga balik balik? Sijin-ah, temenin aku cari Chanyeol." *dengan gayanya yang imut*
S : "Buat apa cari dia? Dia bilang sebentar aja, nanti juga ke sini lagi. Tunggu aja di sini!"
B : "Mana sebentar? Ini tuh udah cukup lama. Udahlah jangan banyak ribut, ayoo." *menarik tanganku*
S : "Hmmh, dasar uke. Untung lo orang yang gue sayang." *kataku dalam hati*

Karena tidak mungkin untuk menunggu lift naik sampai lantai 30, akhirnya Baekkie hyung memutuskan untuk turun lewat tangga. Ketika sampai di lantai dasar, kami langsung keluar mencari Chanyeol. Berjam-jam kami mencari, kami tidak menemukannya. Dari mall, alun-alun, hingga ke tiap resto pun dia tidak ada. Karena lelah, dia menyerah untuk mencari Chanyeol. Yang dia lakukan hanya bisa menangis seperti perempuan sambil berteriak 'Yeollie-ya eodiseo, Yeollie-ya eodiseo' aku bosan mendengar nama itu. Akhirnya dia lelah berteriak dan memutuskan untuk ke toilet. Tak lama kemudian ada seseorang yang masuk ke toilet. "Chanyeol? si bajingan itu. Kenapa tiba-tiba dia ada di sini? Brengsek!" kataku dalam hati. Reflex, aku langsung menengok ke arah Baekkie hyung. Aku melihat dia menangis, tak tahu tangisan sedih, marah, atau senang.

B : "Ya! Yeollie-ya, dari mana saja kau? Kau bilang hanya sebentar. Apakah ini yang namanya sebentar hah? Kenapa kamu bikin aku khawatir? Aku udah cari kamu kemana-mana ga ketemu. Aku udah kaya orang bodoh teriakin nama kamu di jalan. Aku takut kamu kenapa-kenapa. *marah-marah sambil nangis*
C : "Baekkie-ya, mianhae. Aku cuma beli sesuatu kok. Maaf kalo aku bohongin kamu. Aku gamau kamu cape kalo ikut pergi. Maaf." *peluk erat Baekhyun*
B : *shock* *blushing* "Kamu? Kenapa tiba-tiba..."
C : *menyela* "Ah, maaf lagi. A-aku refleks. Aku ga sengaja, maaf." /sial, kelepasan. dasar bodoh/ *lepasin pelukan*
B : "Ah, iya. Engga, gapapa. Yang penting kamu gapapa" /duh, jadi gini. sial/ *blushing*

Aku tidak tahan melihat kejadian itu, yang aku lakukan hanya marah-marah dan memaki Chanyeol dengan kata-kata kasar. Hingga aku lupa, kalau aku hanyalah hantu. Shit!

~ Contiued~

Note : Nantikan kelanjutan ceritanya. Mohon maaf atas kekacauan penggunaan bahasanya, masih baru dalam bidang FF. Minta review dan saran-sarannya. Terima Kasih