HOLLLAAAAA…. READER-SAMA….. AIMI DATANG LAGI MENG-UPDATE FIC. HEHE SEMOGA FIC INI BISA MENEMANI KESEPIAN KALIAN PARA JOMBLOWAN DAN JOMBLOWATI SEMUANYA! X-D (*Capslock xD)

Sayuri jung : Makasih. Tetep ikutin ya :D Selamat membaca~

Nafikaze : Ini udah di lanjut. Selamat membaca dan thanks reviewnya~

Lucy : Haha tepat sekali Lucy-san, di sini aku buat Lucy-nya agak frontal. Ini udah di lanjut chap 3/2. Monggo RnR~

Fic of Delusion : Hmm… bisa di bilang ya, bisa juga tidak, aslinya sih murni hasil kerjasama berdua tiap chap. Tapi mungkin karena chap yg kemarin syn-san lebih mendominasi hehe. Ah ya, aku gak tahu merek vespa-nya apa, soalnya 'ane gak terlalu vaham soal per-vespa-an, bro' hahha xD. BTW, thanks reviewnya! Fic-san penduduk lama di fandom ini ya?

Mihawk607 : Setuju. Kalau soal konsistensi update emang bener sih semakin melambung hahaha. Makasih aja deh buat semangatnya. Stay follow ok? :D

Dragneel77 : Kamu bakalan kaget dengan chappy ini, soalnya panjang nih wkwkwk. Oke deh selamat membaca chap yg panjang ini xD

.

.

.

.

.

Happy reading~

###

"Hahahaha…. Jadi begitu ceritanya. Hahahaha… Pada akhirnya aku mengkhawatirkan Si Jagur! Kasian sekali.… Bagaimana keadaannya sekarang? Hahaha…" tawa si gadis pecah usai sang pemuda menyelesaikan ceritanya.

Sedang si pria menanggapi dengan ekspresi facepalm. Selalu saja berakhir ditertawakan walau ia pikir cerita sial itu mana lucu. "Yang harus dikasihani adalah penunggangnya, bukan motor butut itu. Kau ini…" Tak tahan akan rasa gemas, ia mengacak helaian pirang itu lagi, membuat pemiliknya bersungut disertai blushing yang tersamarkan lampu merkuri.

.

Arloji di tangan mulus tanpa cela sang gadis menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas malam. Cakrawala menghitam, bulan dan sekawanan bintang menyapa, mentari telah berpamitan. Para jangkrik mulai bernyanyi menghiasi sudut-sudut trotoar di tepi jalan. Tak terasa hampir tiga jam lebih mereka babat habis hanya untuk mengobrol dan bercanda, ditemani dua gelas plastik kopi hangat yang dibeli dari pedagang keliling.

"Gawat! sudah malam. Aku harus segera pulang kalau tidak ingin didahului oleh para kalelawar ayah." Dengan gelagat terburu-buru, gadis itu berdiri dari zona nyamannya di bangku taman. Mengakibatkan seraut kecewa terlintas sesaat di wajah pria yang duduk di sampingnya.

"Lho? Masih jam tujuh, kok. Memangnya seketat itu peraturan ayahmu, Luce?" Tanya Natsu seraya ikut bangkit berdiri.

Anggukan kepala Lucy mengiringi jawaban, "Um!, seperti yang kubilang."

"Kau naik apa? Aku tidak melihat mobilmu yang kemarin." Pucuk salam itu celingak-celinguk mencari objek yang hendak ditanyakan—namun tak nampak dipenglihatanya.

"Aku naik taksi. Ah! Itu dia taksinya. Kalau begitu aku pulang dulu ya" ujar Lucy seraya bergegas menghampiri taksi yang berhenti tak jauh dari tempat mereka duduk.

"Aa … mau ku telepon tidak nanti malam? Ya….Kalau boleh…" Ucapan yang terdengar seperti permintaan dari Natsu membuatnya menghentikan langkah sejenak, Lucy menoleh disambung dengan senyum kecut, "Baka. Tentu saja boleh. Jaa-ne…!" Lambaian tangannya dibalas riang oleh Natsu. Ia kembali berjalan. Memasuki taksi yang langsung membawanya pergi.

Maka tinggallah Natsu sendiri yang setia berdiri di sana dengan kedua sudut bibir melengkung keatas.

"Luce …"

.

.

.

.

.

Sementara di balik bayang semak-semak, seseorang tengah mematri seringai puas. "Heh …Anda berani bergaul dengan orang seperti itu, Nona?" Walau pertanyaan sarkastiknya tak dapat didengar oleh siapapun, kecuali para serangga yang bernyanyi di sekitarnya.

Ckrek!

"Ini akan menarik."

###

Kriling..kriling…

Suara telepon berdenging dalam sebuah ruang kamar hotel bintang lima, menanti untuk diangkat oleh sang penghuni. Seorang pria muda yang hanya bertelanjang dada bergegas menghampiri, dengan malasnya mengangkat gagang elektro yang mengeluarkan suara dari si pemanggil nun jauh disana.

"Halo? Ada apa malam-malam begini? Menganggu saja!" Keluhan dengan nada malas ia arahkan pada si penelepon di seberang. Masalahnya ini bukan waktu yang tepat untuk bercakap-cakap, karena saat ini ia sedang melakukan 'job' pribadi. Dan itu jelas privasi..

"Maaf, Pak. Tapi ini sangat penting. C.E.O dari Giant Ltd Group meminta Anda untuk bertemu secara pribadi di kantornya sekarang." Ujar si peneleon.

Mendengar informasi tersebut, sontak matanya melek, "APA?! Kenapa mendadak sekali?" Gagang telepon nyaris terlempar. Untunglah dia ingat diri. Ia pun sekedar menghela nafas demi meredakan amarah.

"Saya juga tidak tahu, Pak. Tapi beliau meminta Anda segera datang. Mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan Anda."

Pria bersurai blonde menghela napas lagi, tak ada alasan untuk menolak jika sudah begini, "Baiklah, beritahu beliau. Saya akan segera kesana."

Tut!

Sambungan diputus sepihak. Belum sempat ia memijit pelipis—gelagat para petinggi banyak pikiran, dia tersentak mendapati tangan halus nan mulus terjulur melingkari pinggangnya dari belakang, menyisir cetakan otot-otot perut bagian bawah hingga dadanya. Dilanjut menjilat erotis kulit punggung sang pria dengan ritme teratur, tenang namun menggairahkan. Membuat jiwa buta oleh nafsu birahi.

"Ada apa, sayang?" Suara lembut menggelitik manja gendang telinganya. Membuat sang empu semakin bungkam dan tak tega untuk memberitahukan perihal yang sesungguhnya.

"Um … kenapa diam? Ada apa?" Merasa tak memperoleh respon, sang wanita bertanya sekali lagi. Berharap pada ekspetasi semu dalam bayangannya, tak ada yang mesti di khawatirkan, tetapi kenyataanya—

"CEO Giant Ltd memintaku bertemu dengannya sekarang juga," akhirnya si pria menjawab seraya berbalik. Manik biru sendu menatap paras nun ayu yang memancarkan kekecewaan mendalam.

"Oh, begitu ya…" lirih Wanita itu, menunduk mendengar jawaban sang pria. Tampak tersirat rasa kecewa di wajahnya. Ia mundur tiga langkah, demi memberi ruang untuk si pria bergegas kembali memakai pakaianya semula. Menyaksikan dari jauh kala punggung tersebut menghadap pintu, jurang yang akan memisahkan mereka lagi—malam ini.

Kemeja abu membalut tubuh atletisnya, lengan panjang di gulung sampai siku. Tangan besar milik si pria menangkup wajah ayu si wanita. Sekilas mendaratkan kecupan di dahi "Maafkan aku. Lain kali saja kita lanjutkan." Senyum lembut coba ia patri, berharap dapat menenangkan hati—yang di balas senyum serupa dari sang wanita.

"Tidak masalah … Hati-hati di jalan, Sting." Halus telapak tanganya melambai-lambai membelah udara berbalut AC dalam ruangan itu, kala sang pria bernama Sting mulai melenggang. Masing-masing merasakan berat hati. Jarang-jarang mereka bertemu, secepat ini mereka berpisah.

.

Lorong berkarpet merah dibelah pantofel hitam, tenang serta penuh wibawa, siapapun yang terlewati takluk dan merunduk menunjukkan rasa hormat. Pasangan pintu kaca dibuka bersamaan, menyambut udara kering bercampur dua warna daun. Tiga anak tangga dituruni satu per satu. Mobil sedan bermerek ternama membuka otomatis. Kemudi di tangan siap mengantar ke lokasi tujuan.

BRUM….!

Tampias lampu menerpa kilatan di badan mobil. Membentuk bayang-bayang serupa kaca gereja di siang hari. Hanya terlihat lalu-lalang mobil pada malam yang pekat. Kawanan burung sudah kembali ke peraduan. Mungkin tidur dengan anak-anak mereka, erat memeluk tubuh-tubuh mungil yang mengigil nian.

Drtt … drtt … drtt…. drttt….

PIP!

"Halo?" Percakapan disambung melalui earphone hitam, sementara kelereng birunya fokus menyisir ruas jalanan.

"Selamat malam, Sting-san. Maaf menganggu Anda malam-malam begini."

"Apa anda C.E.O dari Giant Ltd? Saya juga minta maaf membuat Anda menunggu."

"Santai saja. Sambil berdiskusi nanti … bagaimana kalau makan malam di Coule de Etat saja? Mereka punya menu spesial malam ini. Kokinya pun dapat di andalkan" sepertinya tujuan perjalananya di alihkan.

"Terima kasih atas tawaran Anda. Kita bertemu dua puluh menit lagi."

TUT!

Panggilan diputus pada menit ke satu. Kemudi berubah arah dari tempat tujuan semula, menuju café.

Benarlah kata media massa, Sting sendiri kaget mendapatinya. C.E.O dari Giant Ltd tiba-tiba mengundangnya secara pribadi. Siapa yang tak kenal, bapak jenius perekonomian dengan 'tangan-tangan' menggurita di seluruh penjuru Magnolia bahkan cabangnya menjamur di berbagai kota. Memiliki aset kekayaan berlimpah ruah, dicatat sebagai pengusaha terkaya versi Harian Fiore, koran nasional kebanggaan warga.

Sungguh, ia boleh berbangga hati telah diundang.

###

NGIETT….

TAP … TAP … TAP….

"Permisi. Apa Anda yang bernama Sting-sama?" Tanya seorang pelayan menjinjing nampan stainless steel. Tak lupa ia membungkukan badan. Kode etik dari pekerjaan mereka.

"Ya, saya sendiri." Jawabnya.

"Jude-sama menunggu Anda. Mari saya antar." Kala sang pelayan menunduk di bawah kepalanya. Atensi Sting teralihkan tangan yang melambai cantik. Nyaris saja dia kehilangan jejak.

SREKK!

"Selamat menikmati." Badannya tegak membalik. Membelakangi dengan punggung di mana Sting tersenyum. Sementara lawan bicara santai mengangkat wine.

"Terima kasih atas kedatangannya. Aku tersanjung, orang sesibuk kau berbaik hati meluangkan waktu."

"Ekhem. Jadi, Anda adalah CEO Giant Ltd? Tuan Jude Heartfilia benar?"

"Tak mengherankan, ini memang baru pertama kalinya kita bertemu. Aku sedikit terkejut. Diam-diam Weisslogia sudah lengser saja ya? hahaha.." Nada main-main menggantung ringan. Mereka sama-sama menamainya,'sesi basa-basi.' Hal lumrah di kalangan para petinggi.

Sting berdehem lagi "Maaf memotong sambutan Anda, tuan. Bisa kita percepat saja?"

"Maaf, maaf. Aku hanya terlalu senang. Sebelum berbincang, lebih baik Kau nikmati dulu hidangannya. Nanti keburu dingin."

"Baiklah. Itadakimasu." Sting pun menuruti apa kata sang CEO.

Hangat sup asparagus mengisi perutnya yang kosong. Sting takzim menyantap dengan mata sang lawan bicara yang setia memperhatikanya, tak ada sedikitpun melepas celah antara mereka. Jelas merisihkan, apalagi tatapannya penuh teka-teki, setipe manusia yang 'diam-diam menghanyutkan', dengan gelagat misterius.

Garpu dan pisau diletakkan lembut. Mulutnya diusap menggunakan tissue, pertanda hidangan telah kandas di lahap. "Sekarang kita bisa melanjutkannya." Ujar Sting.

"Baiklah… Coba perlihatkan padaku, tentang rencana proyek barumu itu." pinta Jude.

Sting mulai membuka laptopnya. Dan membuka aplikasi manajemen lalu menunjukanya pada Jude. "Ini rancangan proyek properti terbaru kami. Kawasan bukit Shirotsume-town akan di buatkan kondominium dan Villa. Sementara kawasan tepi pantai di hargeon timur, akan kami buatkan resort. Berikut data hasil survei areanya, desain bangunan, serta daftar pemegang saham di bawah naungan perusahaan kami."

Cklik—Dengan satu ketikan, monitor berubah tampilan menjadi halaman daftar dan diagram. Jude dengan teliknya memperhatikan.

"Hmmm…. Persentase keuntunganya sudah diperkirakan?" Tanya Jude.

Sting mengangguk "Tentu, jikalau keberuntungan berada di pihak kami kurang lebih sekitar tiga belas persen lebih besar dari pendapatan proyek sebelumnya. Oleh karena itu, jika Anda berkenan untuk bergabung, dengan senang hati kami membuka tangan."

"Kalau begitu, kau membawa paper kontrak kerjasamanya?"

Sting terperangah, senyum senang terbit seketika di wajahnya. Tak perlu menunggu lama sang lawan bicara ternyata dengan cepatnya memberi persetujuan "Sebelumnya terima kasih banyak, tuan sudah mau menyetujui kontrak ini. Ya, saya sebentar."

Selembar paper dikeluarkan dari tas jinjingnya, lalu diserahkan dan ditandatangan oleh Jude tanpa ragu.

"Sekali lagi… terima kasih banyak, tuan, atas kerjasamanya."

"Sama-sama. Ternyata Putra Weisslogia patut dibanggakan juga. Bicara soal Weisslogia… dimana dia? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."

"Setelah pensiun, ayah saya tinggal di luar negeri dan seluruh urusan perusahaan, saya yang mengambil alih."

"Itu bagus sekali. Andai aku punya anak lelaki sepertimu. Dan tak usah terlalu formal padaku." Tangan dikibaskan santai. Jude ingin lebih akrab, meski dengan rentang usia mereka.

"Baiklah, Jude-sama."

"Ohya, ngomong-ngomong … kau masih lajang?" Senyum usil diperlihatkannya sembari memainkan gelas wine. Menggoda anak muda merupakan kegiatan paling menyenangkan.

"I-iya, saya masih lajang." Sting menggaruk tengkuk malu. Sekitar satu atau dua minggu lalu, ayah-nya pun menanyakan hal serupa, malah menggunakan dalih 'ingin menggendong cucu'.

"Bagus sekali. Bagaimana kalau kukenalkan dengan putriku? Kau pasti kaget, saat pertama kali melihatnya … hahaha." Tawa ringan terlontar dari mulut Jude, terdengar begitu bersahabat di telinga Sting sendiri.

"Putri Anda…?" Inikah harapan kuning dalam dongeng kanak-kanak? Sting menunjukkan sirat antusias. Tanpa sadar ia mengangguk, memajukan kepala untuk melihat lebih dekat. Jude memperlihatkan foto Lucy di handphone miliknya

"Lihat! Cantik bukan? Mirip ibunya." Jude tersenyum bangga.

"Waahh .. sungguh luar biasa! Dari foto saja sudah sangat terlihat cantik, apalagi jika berjumpa langsung." Takjub, kata-katanya bukanlah kebohongan belaka, dan memang ia akui gadis di foto itu benar-benar cantik.

"Sudah kubilang, kan? Namanya Lucy. Besok akan saya atur jadwal pertemuannya, bagaimana?"

"Saya setuju, Jude-sama."

Jabat tangan menjadi akhir, sekaligus titik terang dari pertemuan mereka malam itu.

###

"Moshi-moshi, Natsu?" Bersandar pada bantal di hulu ranjang, Lucy nikmat meneguk susu cokelat hangat yang di siapkan pelayanya. Memang, tiada yang lebih nikmat dari bermalas-malasan usai mandi.

"Luce, kau sudah sampai di rumah?" Tanya Natsu di seberang sana. Entah di mana dia, menurut tebakan Lucy pemuda itu sedang bekerja di bar, tengah sepi pengunjung sehingga sempat mengabari. Tidak—bukankah tanganya terluka? 'Mana mungkin dia bisa bekerja di bar malam ini' pikir Lucy.

"Tidak, Natsu. Aku tersesat."

"APA?! Tersesat?! Tersesat dimana?" Mati-matian Lucy menahan tawa. Betapa polos seorang Natsu Dragneel, seakan dia malaikat putih titisan Dewa.

"Di hatimu." Bukankah ini terbalik? Namun untuk Natsu, Lucy membuat pengecualian, anggaplah pelayanan spesial!

"…."

"Kenapa diam? Kau malu?" Tanya Lucy bernada menggoda, pasalnya hanya suara jangkrik saja yang terdengar dari seberang. Terkaan Lucy, Natsu kini sedang tertegun.

"Pffttt… hahaha apa maksudnya itu?" tanya Natsu setelah cukup lama bergeming, lengkap dengan tawa renyah.

"Hahaha… Aku hanya bercanda. Iya, aku sudah sampai kok, di rumah. Dengan selamat pula berkat do'amu."

"Syukurlah kalau begitu. Ternyata kau ini suka bercanda, ya?"

"Habisnya kau juga sering melucu, jadi aku tidak boleh kalah." Awalnya sih Lucy memang niat mengelabui, tapi setelah di pikir-pikir ia tidak bercanda mengatakan itu.

"Kau ini ada-ada saja, Luce. Ohya,kau sedang apa sekarang?"

"Sedang apa ya? Coba tebak!" Gelas susu yang telah kandas isinya di letakan di meja samping. Obrolan mereka terlalu seru untuk ditinggalkan, meski terkesan biasa, buang-buang waktu dan kurang penting—Tapi baginya memang menyenangkan. Kalau boleh jujur, ini baru pertama kali dalam hidupnya. Dan ia pun hanya terkekeh kecil kala mendengar lawan bicaranya bersusah payah menebak apa yang sedang di lakukanya sekarang.

"Hmmm… makan?"

"Salah, coba lagi!"

"Tiduran?"

"Masih salah. Coba lagi."

"Hmmm… Baiklah, aku menyerah saja."

"Lho, tebak lagi, dong. Itu bukan dirimu jika menyerah." Bibirnya dikerucutkan sebal, memasang ekspresi merengut—meski Natsu tak dapat melihat. Lucy masih ingin menggoda Natsu. Pasti lucu membayangkan raut mukanya yang sedang kebingungan itu.

"Habisnya salah terus. Daripada lama mending aku menyerah. Sekarang jawab, kau lagi apa?"

"Kau tahu aku lagi apa, Natsu?"

"Tidak tahu."

Sedikit tersenyum, Lucy merubah posisi menjadi berbaring di kasurnya yang super empuk itu. "Aku sedang memikirkanmu." ucapnya kemudian.

"Hahaha … lagi-lagi bercanda, ya? Aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya lho~."

"Yaahh… bisa dibilang setengah becanda, setengah…. Serius," balas Lucy memandang langit-langit kamar. Membalikan tubuhnya ke kanan, mengganti posisi senyaman mungkin.

"Kenapa bisa begitu?" Natsu agak penasaran. Biasanya kata 'setengah' mengandung banyak makna. Bisa saja berarti 'penuh' atau 'kosong', teka-teki yang cukup membingungkan.

"Aa—lupakan saja. Ohya, kau sudah pulang?" Lucy berusaha mengalihkan pembicaraan, tak mau jika modus terselubungnya sampai tercium.

"Iya, aku sudah di rumah, duduk dekat jendela, mengganti bayangan bulan purnama dengan wajahmu, hehehe…."

Lucy merona sesaat. Tangannya refleks menutup mulut. Menyembunyikan gurat merah yang disaksikan bisu oleh dinding kamar, dan bisa saja sekarang hidungnya lepas lalu terbang ke angkasa. "Mou...kau berniat balas dendam ya?"

"Setengah ya… setengah tidak."

Lucy tertawa lagi mendengar jawaban pria pingkish itu. Dia cukup senang hari ini. Nanti malam, kala perahu mimpi datang menjemputnya, bukan badai laut yang ditemui, melainkan air tenang pun damai, biru terindah dari segala tingkat warna.

"Umm… Natsu?"

"Ya?"

"Boleh aku tanya sesuatu?" Posisi merebah-nya diganti duduk di pinggir ranjang. Kali ini Lucy serius, bahkan ia menggengam ponsel lebih erat, melampiaskan takut sekaligus penasaran.

"Tanya apa? Asal jangan rumus matematika atau sejenisnya."

"Kau… punya teman perempuan lain selain aku?"

"Teman perempuan? Banyak." Jawab Natsu. Lucy pikir memang tak aneh. Dengan sifatnya yang hangat dan menyenangkan, wanita manapun pasti menyukai, mungkinada yang jatuh hati sampai cinta mati?

"Di antara mereka … ada yang dekat tidak?—Maksudku ada yang… kau sukai?" Kedua pahanya menggesek gelisah. Lucy gugup, mereka baru bertemu dan ia sudah bertanya senaif ini?

"Hmmm…. Ada. Erza namanya. Aku sangat suka!" Riang Natsu bercerita. Menggurat kekecewaan pada Lucy. Tidak apa-apa, hatinya sudah siap dengan kemungkinan terburuk.

"Oh begitu, ya… Erza-san sangat beruntung. Aku iri." Ujung baju tidur diremasnya kuat-kuat. Itu bohong, kata siapa dia siap? Ada sesuatu yang menohok hati. Jika mereka itu sahabat kecil. Kalau perasaan ini mekar mewangi, Lucy pasti menangis sekarang.

"Hah? Menurutku tidak. Justru mungkin aku merepotkannya. Beruntung darimana?"

"Kenapa kau menganggapnya merepotkan? Erza-san pasti sangat senang kau menyukainya, bukan?"

"Aku meragukan hal itu."

"Lho? Bisa saja kan, dia memiliki perasaan yang sama denganmu?" 'Berhenti Lucy, apa yang kau pikirkan?!' Batinnya seraya mengigit bibir.

"Perasaan yang sama?—Tunggu, maksudmu perasaan itu cinta?"

"Y-ya…" Lucy tersenyum kikuk.

"Tidak—tidak. Kau salah paham. Aku menyukai Erza karena dia sudah kuanggap seperti kakak perempuanku sendiri. Itu saja, tidak lebih maupun kurang."

"Kakak perempuan?" Fyuhh…. Sejenak Lucy dapat bernafas lega. Beban itu hanyalah kapas sekarang. Terbang diangkat angin optinisme, keluar dan berbaur dengan debu.

"Iya, makanya kubilang mungkin aku merepotkannya. Kau tahu? Dia sering memarahiku. Tapi walaupun di luar galak, dalamnya tetap lembut. Erza adalah orang yang sangat mengayomi, karena itu aku segan padanya." Tukas Natsu menjelaskan ke salah-pahaman Lucy.

"Umm…. Natsu?"

"Ya?"

"…." Terdorong rasa penasaran, Lucy hendak menanyakan perihal kehidupan lelaki itu, setelah Natsu ditinggal kedua orangtua. Ia penasaran, bagaimana caranya pemuda itu masih bisa menunjukan senyumanya, seolah tak ada beban apapun. Begitu riang dan gembira. Berbanding terbalik dengannya, yang selalu murung. Padahal taraf hidup Natsu berada jauh di bawah Lucy. Lucy ingin tahu. Lucy ingin belajar seperti pemuda itu. Semua ini demi menunjang kedekatan mereka, namun niat tersebut langsung diurungkan, dengan berbagai pertimbangan yang berkecamuk dalam hati. Lagi pula ia takut malah akan menyinggung.

"Selamat malam." Suaranya melembut, ia bingung harus berkata apa lagi sehingga hanya kalimat itu yang terucap.

"Kau sudah mau tidur, Luce?"

"Iya, kita sambung besok lagi, oke? Aku agak ngantuk nih." Sejujurnya ia tidak mengantuk sama-sekali.

"Oyasumi. Semoga mimpi indah… Jangan mimpikan aku! Nanti rindu berat lho~"

"BWLEE … harusnya aku yang bilang begitu."

Pip!

Lucy menutup sambungan. Menghela nafas sekali lalu menatap layar handphone yang masih menayangkan nama kontak Natsu. Sesaat pikiranya melayang.

'Ibu … kau lihat teman baruku? Dia sama sepertimu. Begitu ramah, menyenangkan dan perhatian.'

Tanpa ia sadari setitik air mulai keluar dari sudut matanya. Perlahan, Lucy meletakan sebelah tangan di dada kirinya yang berdegup kencang.

'Mendengar suaranya saja membuatku nyaman dan hangat... Ibu … apa aku jatuh cinta? Pantaskah anakmu ini menggandeng sang malaikat?'

Pertanyaan retorik. Lucy tahu dari jauh-jauh hari. Hanya bisa tersenyum, menjatuhkan diri kemudian memejamkan mata, hendak memetik buah mimpi. Kata Natsu pun jangan memimpikannya, justru ia berharap begitu. Bahkan jika bisa … merancang sendiri dengan kerangka dirinya dan dia, sebuah kisah yang tak berani ia dambakan.

###

Esoknya di bengkel. Matahari bersinar terik. Burung-burung endemik riang mengadakan orkestera, apik merangkai melodi dengan panggung panorama, sementara kaki-kaki mereka bertengger cantik pada dahan pohon cemara. Bengkel terlihat sibuk dari dekat. Para pekerja nampak berlalu-lalang. Namun yang menarik perhatian adalah, seorang wanita cantik berdiri di depan, menyilangkan sebelah kaki sembari bersandar di cab mobil.

"Natsu, ada pelanggan spesial-mu di sana!" Seru Gray masih menggengam gergaji besi, tatapanya seakan berisyarat 'cepat temui dia atau ku-mutilasi kau untuk dilihatnya.'

"Siapa?" Acuh tak acuh Natsu menjawab. Tangannya asyik mengutak-atik mesin bawah mobil. Belum sekalipun melihat keluar sejak dua jam lalu.

"Lihat saja sendiri." Ujar Gray ketus, kembali ia berkutat dengan pekerjaanya.

"Ohayou, Natsu." Nada familier itu! Kepalanya sampai tersantuk bawah mobil akibat tergesa-gesa bangun, penasaran untuk mencari dan menemukan empu suara. Siapa lagi, kalau bukan wanita bersurai pirang.

"O-oh. Yo! Luce? Kenapa kau di sini?" Gray terkikik menyaksikan. Bodohnya Natsu masih sempat mendelik, sebal tidak diberitahu dahulu kalau pelanggan itu adalah Lucy.

"Kenapa? Tentu saja aku ingin menggunakan jasamu. Mobilku agak kotor, tolong dicuci ya?" pinta Lucy riang, seraya menunjuk ke arah mobilnya yang di parkir di depan.

"Baiklah, tuan putri. Anda tunggu saja di kursi sana" Lekas Natsu melenggang ke arah mobil Ferrari itu setelah sebelumnya menyuruh Lucy duduk di tempat tunggu.

'Mobil sudah mengkilap begini dibilang kotor? Dasar Luce...' batin Natsu tertawa geli. Segera saja ia menyiapkan peralatan steam yang menganggur di pojok bengkel.

Dengan telaten Natsu membersihkannya, sementara Lucy dengan setia memperhatikan kerja Natsu. Sesekali ia tersenyum kecil melihat pemuda itu, begitu giat sekali dalam hal bekerja.

Beberapa saat kemudian…

"Fyuh.. Sudah selesai. Nah, sekarang saya tagih bayarannya, nona." Keringat di dahinya ia seka dengan haduk kecil yang tersampir di bahu. Natsu menyodorkan tangan kanannya pada Lucy, gelagat meminta bayaran.

"Bagaimana kalau kubayar dengan traktiran? Aku tahu kau belum makan siang. Kita mampir ke restoran terdekat saja. Bagaimana?"

"Terima kasih tawarannya, Luce. Tapi, aku sedang bekerja. Dua puluh menit lagi sebelum jam istirahat."

Entah gerangan apa dewi fortuna mampir ke jam kerjanya. Makarov datang melalui pintu belakang. Menenteng kantung plastik berisi puluhan kaleng bir guna dibagikan pada para pegawai, minus Natsu yang anti mengenai alkohol, meski bekerja sebagai bartender tapi sebenarnya ia jarang 'minum'—sangat jarang malah. Mungkin pernah hanya beberapa kali saja, itupun karena di paksa oleh Gray dan Erza.

"Pergilah, Natsu. Hari ini kau bebas," ujar beliau santai sembari meneguk minumannya. Para pekerja mulai berhamburan. Berkumpul dan bersulang menikmati bir dingin, juga ditemani beberapa snack ringan.

"Lho?! Kok bisa, Ji-chan?" Jelas Natsu kaget. Ada apa gerangan sampai tiba-tiba saja bosnya itu berbaik hati sekali? Perasaan hari ulang tahun bos masih lama.

Sementara di seberang kursi giliran Lucy terkekeh pelan. Jelas diperbolehkan, sebab ia sengaja membayar jasa cuci mobil lima puluh kali lipat dari biaya standar pada Maakrov. Dan sebagai gantinya, kakek tua itu mengizinkan Natsu pulang lebih awal. Dengan begitu ia bisa menghabiskan waktu bersama Natsu!

Namun perlu digaris bawahi, bukan karena 'kejatuhan durian runtuh' saja Makarov mengizinkan, beliau juga mengapresiasi usaha Lucy untuk mendekati Natsu, meski ya … caranya cukup aneh dan nyeleneh! Tapi lagi-lagi, tolong dimaklumi. Toh, si salam buta perihal asmara. Suka atau tak suka, wanita-nya dulu yang harus bekerja keras.

"Ah… sudahlah, tidak usah dipikirkan. Pergi saja sana! Kasihan nona cantik ini terus menunggu."

"Tapi—"

"Cepatlah pergi. Jangan tapi-tapian lagi atau aku berubah pikiran." Punggung Natsu didorong kuat-kuat. Sejajar dengan Lucy yang mengacungkan jempol, beterima kasih atas kebaikan pemilik bengkel.

"Yasudah. Terimakasih, Ji-chan."

"Kami pamit dulu, Tuan," ucap Lucy menundukkan kepala, sedangkan Natsu membalas lambaian kakek, agak berat hati meninggalkan bengkel pada jam sibuk, tapi jujur perutnya juga ingin hinggap di meja makan.

Mereka pun akhirnya pergi dengan mobil Lucy, menuju salah satu restoran terkenal di jalan protokol Magnolia. Natsu menikmati lima belas menit-nya bersama Lucy di jok depan, terlingkup pembicaraan menyenangkan. Segala aktivitas nampak hebat di luar sana. Terlebih jika di malam hari, kala lampu neon menyala, cahaya-nya berpendar menerpa hitam aspal, permainan kontras yang menambah keindahan kota.

termasuk Natsu, dirinya selalu menyukai pemandangan malam. Meski sebatas langit dan taburan bintang.

###

"Luce, kenapa kau mengajakku ke sini? Ini kan restoran mahal?" memasuki tempat itu, arsitektur khas Eropa menyambut kedua onyx Natsu . Lampu berlapis berlian dua puluh karat, bahasa-bahasa yang bercampur aduk dan dinding merah ukiran seniman ternama, Natsu kehabisan kata-kata. Sungguh, 'ini keren sekali' benaknya.

"Memang kenapa? A-atau kau kurang menyukainya?" Lucy bertanya takut-takut Natsu tak menghendaki ini. Seorang pelayan datang mendorong kursi untuk mereka berdua. Menuang segelas air, merapikan taplak meja, memperbaiki letak garpu, sendok, pisau. 'Padahal sudah rapi', batin Natsu terheran-heran."Tidak, hanya saja aku belum pernah kesini." Jawabnya kemudian. Seumur hidup, ia hanya tahu warnas bu Mavis, kedai udon pak Macao, dan kedai ramen murah tante Cana. Itu saja langgananya.

"Ini pertama kali bagimu?"

Kepala Natsu mengangguk cepat sebagai jawaban. Lucy sendiri mafhum mengingat perbedaan kasta mereka. Lalu pelayan itu menyerahkan buku menu. Takzim menunggu sepasang muda-mudi, yang disangkanya berpacaran itu. Natsu terkesiap di tempat, melihat sederetan nama-nama aneh bin ajaib, harga setinggi langit, sampul buku-nya pun membubuhkan nama serta lambang lestoran mereka, seratus persen dari tinta emas murni! Luar biasa!

"Kalau begitu, kau harus segera memesan makanannya." Suara Lucy memecahkan lamunan Natsu. Segera saja ia memilih-milih makanan yang akan di pesanya.

"Baiklah.. kelihatannya enak-enak. Aku ingin steak sauce tabasco super yang ini. Kalau kau, Luce?"

Lucy kaget "Heeeehh? Kau yakin mau makan steak super pedas itu? Apa perutmu akan baik-baik saja?" tanya-nya dengan nada khawatir.

"Bahkan aku pernah, makan yang lebih pedas dari ini. Lambungku aman-aman saja, kok! Tidak perlu khawatir." Ujar Natsu sembari nyengir lebar yang membuat Lucy takjub.

"Sugoiii… Kalau begitu aku pesan strawberry cheesecake dan jus jeruk," ujar Lucy menaruh menu. Balik menyerahkannya pada Natsu yang tengah menimbang-nimbang

"Tuan minum-nya apa?" Tanya si pelayan pada Natsu.

"Jus jeruk juga." Walau di akhir keputusan, ia mengikuti Lucy karena bingung mau minum apa. Salahkan namanya mirip bahasa astral! Kalau di kedai sih, tinggal bilang, 'teh hangat satu'. Tak perlu, 'one ice delicia tea, steak sauce bla … bla … bla….'

Pelayan pun mencatat pesanan, setelah itu melenggang dan menggantung kertasnya pada kawat. Antara lestoran bintang lima dengan warnas, jelas berbanding 180 derajat! Semua kentara dari sistem, pelayanan serta menu mereka. Namun bagi Natsu itu bukan poin terpenting. Selama Lucy di sini, menemaninya, makan di pinggir jalan pun tidak masalah.

Eh?

.

"Tapi aku tidak enak dibayarkan olehmu. Harusnya aku yang melakukan itu." Baru mulai pembicaraan mereka, pelayan datang membawa nampan stainless. Sepiring kue stroberi dan steak tabasco tersaji, dengan harum memikat hidung.

"Kau ini banyak bicara. Sudah, makan saja! Anggaplah balas budi."

"Hehe… jaa, itadakimasu." Natsu mulai melahap hidanganya.

"Hmm .. Iwni enwak sewkali, Luwcye."

Lucy mengulas senyum memperhatikan cara Natsu makan. Dia benar-benar mencuri perhatian seorang Heartfilia. Kue stroberi pun kalah harga, dibanding kesenangan melihat sang salam.

Drrrtt … drrrtt…

Hendak mengambil ponsel dalam tas, tahu-tahu sudah berbunyi nyaring menandakan telepon masuk. Lucy berniat mengabadikan momen ini dalam bentuk foto yang akan dia pajang menjadi wallpaper. Tapi terganggu dengan panggilan masuk itu.

Pip!

"Halo?"

"Selamat siang, Lucy Ojou-sama. Anda diminta Jude-sama pulang sekarang juga."

'Lagi-lagi?' batin Lucy.

"Tapi aku sedang ada urusan. Katakan padanya nanti saja!" Balas Lucy seketus mungkin. Berharap mereka mengerti barang sedikit…. Saja.

"Lebih baik ojou-sama bergegas, sebelum kami turun tangan membawa Anda paksa." Meski keinginan Lucy tinggal angan-angan semata.

Lucy menghela napas kasar. Memang, ayahnya tak bisa dibantah seujung-bulu pun, sangat keras kepala! "Baiklah. Aku pulang sekarang! Puas?!"

Pip!

"Ada apa, Luce? Kau mau pulang?" Kunyahan Natsu terhenti di potongan ke sepuluh. Kelihatan asyik makan pun, ia masih bisa mendengar Lucy yang membentak sampai ujung permasalahan.

"Biasa, ayahku. Selalu saja begini."

"…." Natsu terdiam.

Sementara isi tas kulit dirogoh dalam-dalam, Lucy mengeluarkan sejumlah uang dari dompet. Menaruhnya di meja dan beranjak meninggalkan Natsu. Ternyata secepat ini Tuhan bertindak, merenggut waktu mereka yang hanya berjalan tak lebih dari setengah jam.

"Natsu. Aku benar-benar minta maaf. Aku yang mengajakmu tapi tidak bisa menemanimu. Aku sungguh menyesal"

"Tak apa…. Aku mengerti."

Betapa tertohok Lucy melihatnya. Kecewa pun Natsu tetap tersenyum, berbesar hati, rela berkorban demi keegoisan ayahnya yang sulit ditoleransi.

"Ini untuk makanannya. Aku harus pulang cepat. Maaf dan sampai jumpa besok." Lucy pun melenggang pergi. Meninggalkan Natsu yang memandangi sampai bayangan gadis pirang itu hilang tertelan jalanan kota.

Ia menunduk melihat beberapa potongan steak yang belum habis "Makanan ini… jadi hambar rasanya,"gumam Natsu seraya menaruh garpu.

Maka diputuskan oleh Natsu untuk balik saja ke bengkel. Makan siang romantis mereka selesai. Tinggalah kenangan belaka.

###

"Aku pulang, ayah. Ada apa memanggilku?" Tanpa basa-basi Lucy bertanya dengan nada jenkel tertahan, menghadap punggung Jude yang sedang sibuk merapikan dasi.

"Cepat ganti baju! Kita ada pertemuan penting dengan clien ayah," titah sang kepala Heartfilia absolut. Lucy masih bergeming di ambang pintu, sedangkan Jude sibuk memakai sepatu.

"Kenapa selalu melibatkanku?!" Nada dingin kentara di pertanyaan Lucy, karamel itu penuh amarah menatap punggung beliau.

Jude menoleh dan sedikit mengerutkan kening "Apa kau bilang? Siapa yang mengajarimu berkata tak sopan seperti itu?"

"Kau yang telah mengajariku, ayah." Nada sinis mengetuk indera pendengaran Jude. "Kau!" nyaris saja ia berniat menampar Lucy yang tersenyum mengejek. Namun Jude langsung menghela napas, tak jadi marah "Aku tidak punya waktu untuk berdebat, lebih baik kau bersiap-siap sekarang. Kuberi waktu lima belas menit, kutunggu di bawah."

Jude berlalu melewati Lucy seraya melirik dengan tajam, ia pun pergi ke ruang tengah. Mendudukan sekaligus menenangkan dirinya di atas sofa.

Lima belas menit kemudian Lucy datang dengan penampilan rapi, mengenakan dress senada senja, flat shoes putih polos dan menjinjing tas kulit kesayangan. Barusan marah pun kini ia tersenyum memuji. "Nah, begini baru anakku. Ayo cepat! Clien menunggu."

.

Mereka pergi dengan mobil, berlokasi di gedung mewah yang masuk dalam, 'jajaran lima bangunan dengan biaya pembangunan termahal di Fiore', jalan protokol Magnolia, dekat restoran tempatnya makan bersama Natsu. Omong-omong soal dia, dari balik kaca mobil karamel itu sekilas menangkap dirinya di tengah kepadatan kota, pemuda itu berjalan gontai menyusur pinggir pertokoan seperti tak punya tujuan, membuat hati Lucy semakin tersiksa.

Andai suaranya keluar. Jikalau memiliki keberanian, Lucy pasti menghampiri Natsu. Mengucap beribu 'maaf' atas banyak hal karena tidak di sisinya. Meninggalkan dia begitu saja, lebih mementingkan dirinya yang takut diseret paksa. Dia sadar dirinya memang pengecut sejak awal.

"Kenapa melamun? Turunlah."

Suara sang ayah membangunkanya. "U-uhm…." Bayang-bayang Natsu lenyap ditelan lautan manusia. Entah kemana para manusia itu menyembunyikannya. Lucy kehilangan jejak sedikit pun.

.

.

"Wah.. wah.. maaf membuatmu menunggu, Sting." Pemuda pirang itu membungkuk sopan, diikuti Lucy dan Jude sebagai kode etik sesama businessman.

"Tak apa, Jude-sama. Tidak perlu meminta maaf."

"Kalau begitu perkenalkan, ini putri semata wayangku, Lucy."

"Senang bertemu dengan gadis secantik Anda, Nona Lucy." Ala pangeran berkuda putih Sting menyambutnya.

Lucy mendengus malas. Ingin jutek pun dirinya sadar tengah diperhatikan Jude"Senang bertemu denganmu juga, Sting-san." Biarlah tertangkap senyum buaya juga. Siapa juga yang menghendaki pertemuan ini? Hanya sang ayah dengan keegoisan intoleransi!

"Ohya, silakan duduk," ucap Sting mendorong kursi, khusus untuk Lucy yang berterima kasih datar. Ingat tiga kata ini: amat sangat ter-pak-sa! Senyum manisnya hanya milik Natsu seorang.

Eh?

.

.

Mereka mulai menikmati hidangan, terkecuali Lucy yang diam murung, macam remaja labil antara mengirim SMS duluan atau tidak. Malang pula nasib soup pada piring cantik. Tak kunjung dimakan, hanya di aduk-aduk tanpa tujuan pasti.

"Makanannya sangat enak. Koki-kokimu memang yang terbaik, Sting." Ujar Jude terkagum-kagum akan hidangannya.

"Ahaha … saya sangat tersanjung, Jude-sama. Silakan dinikmati, kami juga sedang menyiapkan menu utamanya."

"Baguslah kalau begitu. Pantas saja restoranmu selalu mendapat predikat juara di kota ini." Tawa mereka renyah mengisi langit-langit. Acara puji-memuji tersebut dihentikan, Sting mendapati aura aneh di sekitar putri Heartfilia. Ia pun sedikit berdehem."Ekhem, Nona Lucy? Kenapa hidangannya tidak dimakan? Apa tidak sesuai dengan seleramu?"

"Ah! Ti-tidak, aku kehilangan nafsu makan. Perutku sedikit bermasalah." Sambil tertawa hambar, Lucy memegang lambungnya yang dielus lembut. Berharap dapat mengelabuhi manik Sting Eucliffe.

"Apa perlu kuantar ke klinik?" Tawar pebisnis muda berwajah tampan itu.

"Tidak perlu, nanti juga reda." Tentu saja Lucy harus menolak dengan cara lembut. Ingat etika.

Melihat itu lantas Jude tertawa ringan "Haha … Lucy memang suka pilih-pilih soal makanan. Tapi kau tidak perlu sungkan padanya, Sting. Kalian terlihat cocok. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi kalian berdua."

Karamel bertemu sapphire, pandangan mereka bertubruk di satu titik, saling bertukar cerita lewat lima detik nan menegangkan. Sting kembali menyandarkan punggung pada kursi. Melipat tangan di perut, tersenyum menyajikan teka-teki.

"Sambil menunggu menu utama. Bagaimana kalau bermain tebak-tebakan?" Dagunya dipangku santai menggunakan sebelah tangan. Senyum Sting kali ini tertangkap oleh Lucy, memiliki makna yang berbeda. Hati Lucy menjadi was-was.

"Boleh juga. Apa tebak-tebakannya tentang tokoh sukses di dunia? Atau Quote legendaris?"

"Mudah saja, Jude-sama. Biar kutebak, Nona Lucy, apa anda sedang jatuh cinta?"

Deg!

'Apa-apaan orang ini?!'

Bersambung…

A/N : Fyuuhh… berapa minggu aku gak update fic ini? haha.

Ah ya, mungkin di chap depan akan ada percepatan alur, jadi jangan kaget ya. hehe

yasudah kalau begitu author minta Review please?

.

.

APRESIASI-LAH KERJA KERAS SEORANG AUTHOR DENGAN REVIEW ANDA. TERIMA KASIH