I Love You and Your Fat

HunHan/NC 21+

.

.

.

Semua manusia menurut Sehun sangatlah kejam. Tidak ada hari bagus baginya, setiap hari kemanapun ia pergi orang-orang akan menertawainya dan meremehkannya hanya karena penampilannya. Apa yang salah dengan penampilannya? Dia hanya sedikit gemuk, oke mungkin tidak sedikit, dia sangat gemuk, rambutnya klimis rapi, dengan kacamata bulat bertengger di hidungnya, menurutnya penampilan bukanlah masalah yang penting dia nyaman.

Namun setiap hari ia selalu menemukan dirinya di bully anak-anak populer di sekolah, harga dirinya di injak-injak, dikatai jelek, bau dan sebagainya. Sampai-sampai hatinya pun sudah kebas, dia tidak merasakan sakit lagi jika di ejek begitu. Well, hanya satu kelebihan yang dimiliki Sehun, otaknya yang genius. Alih-alih menganggap itu anugerah, ia malah menganggapnya musibah. Karena setiap hari anak-anak populer yang malas itu selalu memintanya melalukan pekerjaan rumah mereka, jika tidak dituruti tidak akan ada yang tahu bagaimana nasib Sehun.

Dia sudah lelah, dia benci dan muak sekali dengan anak-anak geng yang anehnya populer di sekolah mereka hanya karena penampilan mereka. Namun di antara para anak populer itu ada satu yang Sehun suka, bahkan ia sebenarnya mencintainya.

'Bruk'Sehun yang sedang melamun sambil membawa buku-buku itu terjatuh dan terbentur kelantai dengan keras. Ia baru saja ditabrak dengan sengaja oleh salah seorang lelaki. Suara tawa menggema di lorong itu, tawa yang sudah tak asing lagi baginya. Nama lelaki itu Kai, salah satu anak populer yang mendominasi di sekolah itu, dia anak klub dance yang digilai gadis-gadis dan laki-laki 'bottom' di sekolah. Dia juga orang yang paling sering mengerjai Sehun.

"Hahaha! Dasar bodoh, si gendut ini mengapa benar-benar bodoh!"tawa kai sambil menunjuk-nunjuk Sehun yang hanya mampu diam duduk di lantai sesekali membenarkan letak kacamatanya. Ingin sekali rasanya Sehun memukul wajah tampannya itu dan menjadikannya babak belur, tapi apa daya, dia hanya seorang yang lemah.

"Kai! Berhenti mengganggunya!"suara lain terdengar dari ujung lorong.

"Ck! Anggap saja hari ini kau beruntung!"ejek kai "iya sayang, maafkan aku"ujar kai sembari mengedip manja ke arah pria yang berdiri di ujung lorong.

"Sayang kepalamu! Pergi sana"ujar pria mungil tersebut, Kai menurutinya dan pergi dari sana.

Pria mungil itu menghampiri Sehun lalu menyodorkan tangannya "kau tidak apa-apa hunnie?"tanya pria tersebut menatapnya khawatir.

Sehun menatap pria itu berbinar "terima kasih, Luhan" benar, Luhan adalah salah satu anak populer di sekolah, anak yang di sukai Sehun, dia adalah primadona sekolah ini, ia menjuarai beberapa kontes model, ia juga dari Klub dance dan banyak orang mengejar cintanya, termasuk Kai. Dan yang lebih penting, dia adalah teman Sehun sedari kecil.

Setiap Sehun di ejek karena ukuran tubuhnya, Luhan lah yang selalu membelanya, untungnya juga tidak banyak yang mau melawan Luhan, bagaimana tidak, Luhan jatuh sedikit saja fansnya sudah menangis. Luhan lah yang selama ini selalu ada untuknya. Ia sungguh mencintai Luhan, namun ia masih sangat takut untuk mengungkapkannya.

Siapa dia? Pantaskah dia bersanding dengan Luhan? Pria dengan wajah cantik dan mata rusa paling indah itu diinginkan wanita dan pria manapun, berhak kah dirinya menginginkan Luhan? Sehun merasa tidak pantas sama sekali. Namun setidaknya izinkan Sehun untuk selalu menjadi sahabatnya, Sehun juga manusia.

Luhan mencoba menarik Sehun, namun hasilnya Luhan yang terjengkang. "Luhan!"teriak Sehun khawatir. Gelak tawa terdengar di koridor yang sepi itu "hahahaha! Bodohnya aku, pria sekurus aku ingin mengangkatmu, yang benar saja"Luhan terkikik sampai rasanya perutnya ingin pecah.

"Ugh aku tahu aku gemuk"sungut Sehun.

Luhan tersenyum dan menatap Sehun "tapi aku menyukainya!"teriak Luhan lantas melompat dan memeluk perut Sehun sesekali menggigitnya. Ini bukanlah akting untuk sekedar menghibur Sehun, namun Luhan benar-benar menyukai gumpalan 'lemak' Sehun itu, menurutnya itu sangat menggemaskan, bahkan setiap sabtu Luhan akan menumpang tidur di rumah Sehun demi memeluk perut Sehun dan tidur bersamanya.

Sehun bersyukur, setidaknya ada satu orang yang menyukai dirinya apa adanya.

.

.

.

"Lu, aku sedang belajar"jelas Sehun, matanya tetap menatap ke arah buku yang sedang di bacanya, namun Luhan tak hentinya menggigiti perutnya. Seperti biasa setiap sabtu Luhan akan tidur di rumah Sehun demi perut Sehun.

"Aku tidak mau"ujar Luhan terdengar manja "bermainlah denganku Sehun"pinta Luhan dengan nada seduktif, membuat Sehun menelan Ludahnya, oh tidak Luhan menggodanya lagi.

"A-aku tidak ada waktu"gugup Sehun, rasanya ada sesuatu yang bangun di bawah sana.

Luhan terkikik "kau bangun? Kau benar-benar mudah tergoda"tawa Luhan sambil menunjuk-nunjuk penis Sehun yang sudah terbangun di bawah sana.

"A-apa maksudmu?!"teriak Sehun, pipinya memerah hebat "i-ini karena aku membaca"Sehun melontarkan alasan yang tidak masuk akal, betapa bodohnya dia.

"Kau membaca buku matematika Sehun, bukan majalah porno"ejek Luhan yang masih terkikik. "Sana, selesaikan di kamar mandi, aku akan tidur tenang saja"Luhan tersenyum mengejek, lalu membaringkan dirinya di tempat tidur, dia memang benar sudah mengantuk. Dengan cepat Sehun masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya. Ia duduk di atas closet dan mulai membuka celananya.

Ia menggenggam penisnya yang sudah berdiri tegak, lalu memijat-mijatnya, otaknya tanpa sadar sudah membayangkan Luhan yang telanjang memanjakan penisnya dengan mulut mungilnya itu. Sehun menggigit bibirnya menahan desahan, ia lalu mengocok-ngocok penisnya dengan cepat "ahh ahh Lu.. Luhan"desah Sehun tanpa sadar. Ia sontak menepuk mulutnya. Sialan, dia melakukannya lagi, dan Luhan sedang di kamar.

Ia lalu dengan cepat menyelesaikannya dengan berusaha mati-matian untuk tidak meneriakkan nama Luhan ketika dia keluar. Ia membersihkan dirinya lantas keluar kamar dan menemukan Luhan memang sudah tertidur nyenyak. Kebiasaan Luhan, dia bisa tidur di manapun bahkan di tengah perang sekalipun.

Sehun tersenyum lalu dengan lembutnya memasangkan selimut pada Luhan. Ia lalu berhenti sejenak untuk memandangi wajah Luhan. Ini adalah bagian favoritnya setiap sabtu, dia berpura-pura sibuk agar Luhan cepat tidur. Karena ketika Luhan tidur lah Sehun hanya dapat memandanginya sepuas hati.

Ia menatap bibir mungil Luhan yang merah itu, ingin rasanya ia menyambar bibir itu, lalu menerkam Luhan dan melakukan sex sampai pagi tiba bersama Luhan. Namun, ia tidak ingin Luhan mati menahan berat tubuhnya. Dan disamping itu ia tidak pantas. Sehun tersenyum miris, lalu mengecup kening Luhan sekilas dan ikut tidur.

.

.

.

"Sehun kau di panggil ke ruang kantor!"salah seorang gadis berteriak di dekat pintu kelas Sehun dengan malas lalu melenggang pergi. Beruntung suasana kelas sepi karena jam istirahat, ia tidak suka ketika namanya di panggil dengan keras karena ia memilih dianggap tidak ada atau sama sekali tidak kelihatan dan tidak berbunyi agar jauh dari ejekan.

Ia bergegas melangkah menuju ruang guru yang melewati kafeteria. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok Luhan dan Kai yang sepertinya tengah menyatakan cintanya. Terlihat dari Kai yang sedang berlutut membawakan bunga dan anak-anak yang bergerombolan heboh meneriakkan kata "terima"

Sehun merasakan hatinya begitu sakit, ia mencengkram dadanya, rasanya seperti baru saja di tusuk ribuan pedang lalu di siram air lemon di atasnya, mungkin saja lebih dari itu. Sehun tahu harusnya ia tidak seperti ini namun ia berharap Luhan tidak menerimanya.

Namun harapan hanyalah harapan, detik ketika Luhan menganggukkan kepalanya dan mengatakan "ya" setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Langit pun seakan ikut bersedih dengan menurunkan Hujan. Sehun mengusap air matanya dengan cepat, ia lalu melewati kerumunan itu dengan cepat, ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlihat oleh Luhan dan akhirnya ia berhasil sampai ke ruang guru.

Ia menghela nafasnya, entah bagaimana ia akan menghadapi Luhan nantinya, ia terlalu sakit untuk menatap wajah Luhan nantinya. Sehun melangkah gontai masuk ke ruangan guru dan menghampiri .

"Anda memanggil saya pak?"tanya Sehun sopan.

menganggukan kepalanya "duduklah Sehun"ujarnya, Sehun mengangguk lalu duduk di hadapan .

"akan ada pertukaran pelajar ke Amerika sebentar lagi dan kepala sekolah kita memilihmu berdasarkan nilai-nilaimu yang terlampau tinggi. Jika kau setuju dan orang tuamu mengizinkanmu, kau bisa berangkat dalam dua minggu."ujar menatap Sehun serius "kau bisa memikirkannya Sehun"lanjutnya.

Sehun terdiam sejenak, bayangan Luhan bersama Kai terbayang dalam benaknya. Tidak akan ada lagi kesempatannya bersama Luhan, dia akan aman bersama Kai di banding dengannya yang setiap hari harus di bela oleh Luhan.

"Saya... Setuju pak, tapi bisa minta keberangkatannya di percepat? Saya ingin berangkat dalam satu minggu."

mengangguk-nganggukkan kepalanya "baiklah, aku akan membicarakannya kepada kepala sekolah"

"Terima kasih"

.

.

.

"Dasar jalang! Kemari kau kesini"suara gaduh terdengar dari satu rumah, Luhan keluar dari rumah tersebut dan terlihat bergegas berlari. bibirnya berdarah dan pipinya sedikit lebam, kakinya terus berlari tanpa alas kaki membuatnya sedikit berdarah. Ia terus berlari sehingga sampailah ia di depan sebuah rumah besar yang mewah.

"Sehun!"teriaknya, ia menekan bel namun tak kunjung ada yang membukan pagar. Luhan tau orang tua Sehun sedang bekerja, namun entah kenapa Sehun tidak bersekolah dua hari ini, setiap Luhan kerumahnya Sehun tidak pernah keluar. Sehun seakan menghindarinya.

Luhan mengambil ponsel dari sakunya lalu menelpon Sehun, entah sudah yang keberapa kalinya. Sementara di kamarnya Sehun terbaring, tatapannya mengarah pada ponselnya yang berdering. Sudah dua hari ia tidak melihat Luhan, ia sengaja berencana tidak melihatnya lagi sampai ia berangkat ke Amerika. Namun rasa rindu mulai menggerogoti hatinya. Haruskah ia mengangkat telpon Luhan, ia sangat ingin mendengar suaranya.

Setelah lama berpikir, akhirnya ia memilih mengangkatnya.

"Yoboseo"

"Sehun! Kemana saja kau"sungut Luhan berusaha tenang.

"Aku hanya sedang sibuk"ujar Sehun berusaha seperti biasanya, namun tak bisa di pungkiri bahwa dirinya sangat senang bisa mendengar suara itu lagi.

Luhan hanya diam di seberang sana, dan Sehun pun ikut diam. Lama mereka terdiam hingga akhirnya Sehun kembali berbicara "kalau tidak ada apa-apa, aku akan matikan, aku sib-"

"Aku di pukuli lagi hiks"Luhan terisak, terdengar jelas bagi Sehun. Hatinya mencelos. rasanya mendengar isakan Luhan lebih menyakitkan di bandingkan Kai yang menyatakan perasaannya.

"Dimana kau Lu?"tanya Sehun lembut.

"Di depan rumahmu"

"Tunggu aku"ujar Sehun khawatir, ia segera menyembunyikan kopernya yang sudah di siapkan untuk kepergiannya besok. ia lalu berlari kedepan rumahnya dan menemukan Luhan dalam keadaan mengenaskan. Rambutnya yang acak-acakan, wajah babak belur, dan kaki tanpa alas yang berdarah. Sehun menatap Luhan pilu di balik kacamatanya itu ia menahan tangisnya "Luhan, masuklah"

Luhan mengusap air matanya lalu masuk ke rumah Sehun. Keduanya lalu langsung menuju kamar Sehun seperti biasanya. Sehun segera mengambil kotak p3k untuk mengobati luka-luka Luhan. Ia duduk di samping Luhan lalu menyingkap baju Luhan untuk melihat punggungnya. Sungguh hatinya meringis melihat luka-luka merah yang berdarah itu.

Sehun meletakkan kotak p3k dengan marah, mengapa? Mengapa dia harus mengobati Luhan, sementara ia sudah punya kekasih kaya seperti Kai?

"Kenapa tidak di laporkan saja sih Lu? tidakkah kau lelah dengan rasa sakit di tubuhmu?"suara Sehun hampir naik.

Luhan menundukkan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca "walaupun dia suka mabuk-mabukkan, mengambil uang yang kuhasilkan, lalu berjudi dan memukuliku... dia tetaplah ayahku, Sehun"air mata jatuh dari pelupuknya, dan isakannya mulai terdengar. "Setelah ibuku meninggal, hanya dia yang kupunya"isaknya.

Lalu aku? aku juga ada disampingmu Lu lirih Sehun dalam hatinya. Ia menghela nafasnya, hatinya melunak jika Luhan sudah menangis. Ia lalu mulai mengobati luka-luka Luhan. Ya, memang dari awal begini, Luhan bukanlah anak populer yang juga kaya. semenjak ibunya meninggal ayahnya sering mabuk-mabukan dan memukulinya. Dia tidak sebahagia yang orang kira hanya karena penampilannya. Hanya Sehun yang tau penderitaannya.

Tapi, sekarang setidaknya akan ada yang menjaga Luhan selain Sehun, yaitu Kai, Sehun bisa tenang selama pertukaran pelajarnya selama enam bulan di Amerika nanti, meski hatinya juga sakit. Setidaknya Luhan baik-baik saja.

.

.

.

"sayang kau mau makan apa?"tanya Kai sambil menyangga tangannya menatap Luhan.

Luhan tersenyum canggung "terserah kau saja"jawabnya cuek.

"Disini makanan mewah semua, kau bisa pilih apapun. Ada..."sementara Kai sibuk menjelaskan di hadapan Luhan, Luhan hanya mengabaikannya dan melamun. Luhan sebenarnya pacaran dengan Kai hanya karena rasa kasihan, ia sudah berusaha begitu banyak dan Luhan terlalu kasihan untuk menolaknya di depan semua orang.

Rencananya Luhan hanya akan memacarinya beberapa minggu sambil mencari cara untuk putus darinya. "Lu sayang? Kau mendengarkanku?"tanya Kai menggenggam tangan Luhan.

Luhan tersenyum canggung lantas menarik tangannya perlahan agar tidak menyakiti perasaan Kai. "Kita makan apa saja yang kau suka"jawab Luhan tersenyum manis.

Kai menganggukkan kepalanya "baiklah kalau begitu" Kai lalu memesan dan mereka makan dengan tenang, lebih seperti Luhan yang hanya mendengarkan ocehan Kai.

Luhan menghela nafasnya, ia terus melangkah gontai menuju rumahnya. Ternyata berpura-pura menyukai seseorang itu sangat melelahkan. Ia menjadi lelah dan tidak bersemangat, kalau disaat begini biasanya Luhan akan memeluk perut Sehun. Terpikirkan dengan Sehun, Luhan berhenti sejenak di depan rumah Sehun "mungkin mampir sebentar"ujar Luhan pelan lantas menekan bel rumah Sehun, tak lama seorang wanita paruh baya keluar.

"Ahh Luhan" ya, dia adalah ibu Sehun. Ia masih sangat cantik dan terlihat sangat elegan.

Luhan tersenyum "ajhumma, apa ada Sehun?"tanya Luhan riang.

Nyonya Oh tampak bingung "ehh apa Sehun tidak memberitahumu?"

Luhan diam menatap Nyonya Oh bingung "memberitahuku apa?"

"Sehun sudah berangkat ke Amerika dalam rangka pertukaran pelajar selama enam bulan"kaki Luhan rasanya melemas setelah mendengarnya. enam bulan? Berarti Luhan tidak akan menemui Sehun selama enam bulan. Lalu bagaimana nanti jika Luhan sedang sedih? Sakit? Dan membutuhkan Sehun?

Tidak pernah dalam hidupnya ia jauh dari Sehun. Bagaimana ini?

TBC