I Love You and Your Fat

HunHan/Rated M/boyxboy

.

.

.

Luhan masih mengerjap-ngerjapkan matanya menatap pria di hadapannya dengan tatapan tak percaya. benarkah pria yang berparas seperti pangeran di hadapannya itu adalah Sehun? ia masih berusaha mencerna semua yang ada di hadapannya. sementara pria yang ada di hadapannya itu hanya tersenyum manis melihat reaksi Luhan yang masih diam menatapnya seperti tidak bernapas. "aku melakukan diet di Amerika, Lu"ujarnya lembut memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti mereka.

Luhan hanya menatap Sehun, tak tahu harus apa. maksudnya, kemana perut gempal Sehun, selama enam bulan Luhan sudah menunggu untuk memeluknya, namun sekarang gumpalan lemak yang empuk itu sudah hilang. Sehun menatap Luhan sedikit ragu sebelum ia menarik Luhan kedalam pelukannya "aku... merindukanmu Luhan"bisik Sehun, setelah sekian lama, setelah enam bulan matanya itu tidak melihat Luhan, akhirnya ia disini tepat di hadapannya.

entah mengapa Luhan merasa marah dengan semua ini, dia sudah cukup marah dengan Sehun yang meninggalkannya begitu saja untuk pertukaran pelajar di Amerika, tanpa mengatakan apapun, bahkan ucapan sampai jumpa lagi atau semacamnya. Lalu sekarang inilah yang di dapatkan Luhan setelah menunggu sekian lama. Pria mungil itu lantas meninju perut Sehun sekuat tenaganya. Sehun sontak melepas pelukannya dan mengerang memegangi perutnya. Jujur saja Sehun tidak tahu tubuh mungil itu menyimpan tenaga sekuat itu, apa mungkin karena Luhan anak klub dance? entahlah.

Luhan hanya diam lantas melenggang pergi meninggalkan Sehun yang terduduk di atas aspal memegangi perutnya. Sehun bangkit dan mengejar Luhan lalu menggapai tangannya "Luhan, ada apa? kau marah?"tanya Sehun lembut, Luhan berbalik menatap Sehun membuat pria yang lebih tinggi itu melebarkan matanya ketika melihat tetesan air mata sudah membasahi pipi dan mata rusa itu, bibirnya mengerucut sesekali ia terisak, membuat Sehun harus menahan diri untuk tidak mencubit pipi yang menggemaskan itu.

"hiks kau bertanya apa aku marah? berengsek!"teriak Luhan lalu kembali memukul perut Sehun hingga Sehun terjengkang dan kembali jatuh.

"hiks, Sehun kau bodoh hiks dimana... dimana perut kesayanganku huaaaaaa"Luhan mulai meraung memanggil-manggil perut lama Sehun yang kini sudah tergantikan menjadi perut sexy. "hiks Sehun kau jahat hiks"

Sehun tak tahu kalau Luhan sebegitu cintanya pada perutnya yang dulu, ia tidak menyangka akan menjadi begini akhirnya. sebenarnya ini sangatlah lucu bagi Sehun, namun melihat Luhan menangis tersedu-sedu ia jadi tidak tega tertawa. Sehun hanya mampu diam sambil membelai punggung Luhan sesekali menepuk-nepuknya.

.

.

.

Sehun berjalan mengiringi Luhan di sampingnya sambil merangkul Luhan, sesekali tertawa mendengar cerita Luhan selama dirinya tidak ada, derap langkah kaki yang berirama serta angin yang berhembus lembut menemani perjalanan mereka menuju sekolah. Tiba-tiba langkah kaki mereka terhenti dan gelak tawa mereka pun menghilang ketika beberapa siswa menghadang mereka. Jika dilihat dari seragam mereka sepertinya mereka siswa dari SMA laki-laki Hwangmun yang terkenal akan keberandalan murid-muridnya.

Luhan dan Sehun saling memandang dan menelan ludah mereka bersamaan. "k-kalian mau apa?"tanya Luhan memberanikan diri. Sial sekali mereka hari itu, padahal ini pertama kalinya mereka berangkat sekolah bersama setelah enam bulan berpisah. Dan lagipula, mengapa mereka berkumpul disini? komplek perumahan itu agak sedikit jauh dari SMA mereka.

"uang, berikan uang kalian"jawab salah seorang berbadan besar yang sepertinya pemimpin mereka dengan tatapan menyeramkan. Luhan berusaha agar terlihat tidak goyah dengan tatapan itu, sementara Sehun hanya diam menundukkan kepalanya sambil mencengkram lengan baju Luhan.

"kami tidak punya uang, enyahlah"tegas Luhan, Sehun mendekati Luhan lalu berbisik "k-kita berikan saja, Lu" Luhan tidak menjawab dan terus menatap nyalang pada pria besar di hadapannya yang tengah menyeringai, sementara anak buahnya di belakang sepertinya sudah menyiapkan kayu dan tinju mereka.

"kau tidak tahu kami siapa? badan kecil seperti itu, kau pikir bisa apa?"ujar pria itu memiringkan kepalanya.

Luhan menaikkan sudut bibirnya "kau pikir aku takut denganmu? hey Sehun"Luhan menyikut Sehun "habisi dia"lanjutnya. Sehun mendongakkan kepalanya dengan mata terbuka lebar, apa maksud Luhan dengan menyuruhnya menghabisi pria kekar yang bahkan tidak terlihat seperti anak SMA itu? Luhan menghela napasnya lantas melangkah ke hadapan Sehun dan membelakangi pria besar itu.

Luhan tersenyum lalu menepuk bahu Sehun "bukankah kau olahraga? harusnya kau kuat"bisiknya sambil tersenyum gugup.

Sehun menggeleng dengan cepat "a-aku olahraga bukan berarti aku bisa berkelahi"bisiknya.

Tiba-tiba Luhan tertawa terbahak-bahak membuat Sehun dan anak berandalan itu bingung. Ia lalu menghentikan tawanya dan kembali menepuk bahu Sehun. "satu..."bisik Luhan.

"satu?"Sehun mengerutkan kening, "dua... tiga! LARI!"

Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba mencerna apa yang terjadi sementara Luhan sudah lebih dulu lari, Sehun tersadar ketika pria besar di hadapannya kini menatapnya. Sehun tersenyum takut lalu berdeham dan menelan ludahnya lantas ia juga segera melesat dari sana mengejar Luhan yang sudah jauh di depan sana dan akhirnya berhasil menyamai langkahnya. sialnya, Para anak geng itu sudah mengejar mereka dan kini berada tepat di belakang mereka.

"Lu, kau meninggalkanku begitu saja?"tanya Sehun tak percaya di sela-sela napasnya yang terengah-engah.

Luhan hanya tertawa tak jelas "maaf"ujarnya

"kita ini teman"jawab Sehun masih sibuk berlari.

"di dalam keadaan ini... tidak ada namanya teman, Sehun"Luhan tertawa canggung lantas berlari mendahului Sehun. Sehun merasa tak mau kalah kini ia yang lebih cepat dari Luhan dan mendahuluinya, berkat latihan kerasnya selama ini demi perut sexy, begitu mudah bagi Sehun untuk berlari cepat dan meninggalkan Luhan di belakang.

"Sehun! kau! jangan tinggalkan aku! hey! kita ini teman!"teriak Luhan terengah-engah.

"di dalam keadaan ini... tidak ada yang namanya teman, Lu!"teriak Sehun sambil tersenyum menang, ia bergegas bersembunyi di dalam sebuah gang sempit, napasnya terengah-engah dan keringat sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya, sementara Luhan masih berlari kebingungan mencari tempat persembunyian sebelum para anak geng tersebut menangkapnya. Tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik tangan mungil itu dan membawanya tepat di hadapannya.

"Sehun!"pekik Luhan, sehun sontak menaikkan jari telunjuknya dan menaruhnya di depan bibirnya. Luhan mengerti maksud Sehun dan berusaha diam. Keduanya berdiri berdempetan di dalam gang sempit itu, Luhan dapat mendengar suara napas Sehun yang terengah-engah tepat di telinganya. keringat yang mengucur di seluruh wajahnya membuatnya begitu err... sexy. Luhan menelan ludahnya lalu menundukkan kepalanya hanya untuk menyadari bahwa sesuatu di bawah mereka saling menempel satu sama lain karena mereka harus berdempetan.

Tiba-tiba suasana menjadi canggung, Sehun diam begitu pula Luhan dan beruntungnya itu membuat mereka tak terdengar oleh para anak geng yang masih berlari kesetanan entah kemana. "M-mereka sudah pergi"ujar Luhan.

"o-oh a-ayo pergi"Sehun bergerak perlahan membuka jarak antara dirinya dan Luhan, sementara Luhan hanya diam mengangguk.

.

.

.

"Luhan!"suara Kai terdengar dari ujung lapangan, anak berkulit cokelat itu melempar bola basket yang tadi dimainkannya dan menghampiri Luhan. Luhan tersenyum canggung dan melambaikan tangannya, sementara Sehun hanya memerhatikan mereka dari belakang. Kai tersenyum ke arah Luhan lantas mengecup bibirnya dan itu sontak membuat Sehun mengepalkan tangannya. Entah mengapa Luhan merasa tak enak karena ada Sehun disana, padahal Sehun hanya temannya, bukan?

baiklah, Luhan akui, setelah berusaha untuk menyukai Kai selama ini ternyata semuanya sia-sia, sepercik rasa cinta pun tak muncul di dalam hatinya. Seakan tak ada ruang lagi, semua ruang itu sudah di penuhi Sehun. Luhan pun tak menyangka jika perasaannya terhadap Sehun ternyata begitu kuat.

"aku masuk dulu, Lu"ujar Sehun datar, Luhan tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya lantas menatap Kai, takut kalau pria itu akan marah kalau Luhan masih berhubungan dengan Sehun. Kai mengerutkan keningnya "siapa dia?"

oh, ternyata Kai pun sama sekali tak mengenali Sehun. itu wajar saja karena Luhan yang sudah berteman dengan Sehun sedari kecil pun tidak mengenalinya, perubahan pada Sehun benar-benar besar.

Sehun duduk di tempat ia biasa duduk, earphone sudah terpasang rapi di kedua telinganya dan matanya menatap jauh keluar jendela. Masih terbayang dalam benaknya ketika bibir Kai menyentuh bibir Luhannya dan itu membuat Sehun merasa marah dan ingin meledak.

tunggu. Luhannya? ya, Luhannya menurut Sehun, Luhan memang sudan menjadi miliknya dari awal. Dia lah yang selalu bersama Luhan, bahkan ketika ibunya meninggal dan ketika ia sering di pukuli ayahnya. Sehun selalu ada disana sejak awal, Ya Luhan milik Sehun. Sementara Sehun bergelung dengan pikirannya, suara bisik-bisik dari gadis-gadis di kelas itu sudah memenuhi ruangan kelas, yang di bicarakan tak lain adalah pria tampan yang sedang duduk di kursi 'Sehun' . Siapa dia? apakah dia murid baru? dia sangat tampan, pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini memenuhi pikiran mereka.

Tak lama masuk ke dalam kelas membuat pembicaraan kelas mengenai anak tampan yang duduk di kursi Sehun terhenti. Sehun pun sudah melepas earphonenya dan duduk dengan rapi. Setelah kelas memberikan hormat, memberikan kata sambutannya pada Sehun "hari ini teman kita Oh Sehun sudah pulang dari Amerika, selamat"ujar bertepuk tangan sendirian, sedangkan murid lain hanya diam menatap bingung pada , bukan hanya karena mereka tidak peduli tentang keberadaan Sehun, namun juga mereka tak merasa melihat Sehun kecuali anak tampan yang duduk di kursi Sehun.

Sehun berdiri dari tempatnya "terima kasih , senang bisa kembali disini"ujar Sehun melayangkan senyum termanisnya. Semua murid di kelas menatap pria tampan itu bingung termasuk .

"Kau siapa?"tanya , suara tepukan tangannya tiba-tiba meredup.

"Aku Oh Sehun"ujar Sehun sambil menunjuk name tagnya. tiba-tiba terdiam menganga, terdengar ada beberapa kotak pensil yang tiba-tiba terjatuh secara bersamaan-entah bagaimana- , dan para siswa di kelas tersebut pun ikut mengaga menatap Sehun yang masih tersenyum. Mereka tidak tahu harus apa selain terdiam. Hell! Maksudmu anak yang gendut itu sekarang adalah pria tampan itu? Hanya dalam waktu enam bulan! Siapa yang akan percaya kalau dia sebelumnya begitu jelek.

"A-apa kau operasi plastik"tanya terbata, ia tidak tahu harus bertanya apa, dari sekian banyak pertanyaan yang ada di kepalanya hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Sehun tertawa kecil "tidak, aku hanya melakukan diet"jawab Sehun santai lalu membungkukkan badannya hormat dan kembali duduk.

"B-baiklah kita m-mulai pelajarannya"

.

.

.

"Sehun! Kau sungguh tidak melakukan operasi plastik?"tanya seorang gadis sambil menyangga dagunya di atas meja Sehun sementara yang di tanya hanya tersenyum mengangguk.

"Sehun ajari aku dietmu!"teriak seorang gadis lagi, yang di sahuti oleh beberapa gadis lain. "Sehun kau sungguh tampan, aku tidak tahu kau setampan ini, bolehkah aku jadi temanmu?"

Jadi inikah yang dinamakan populer? Rasanya... Sehun menyukai ini, seperti di tanyai oleh setiap gadis, di dekati dan disukai semua orang. Sehun sungguh menikmati ini, tidak ada lagi yang merasa jijik padanya, atau menertawakannya dan mengatainya jelek. orang-orang bahkan mengatakan bahwa ia lebih tampan dari Kai. Yang berarti langkah selanjutnya adalah membuat Luhan menjadi miliknya.

Luhan berdiri di ambang pintu kelas Sehun dan menatap kesal pada gerombolan gadis-gadis yang mendekati Sehun. Sial, dulu sama sekali tak ada yang mau menyapa atau bahkan sekedar menatap Sehun, hanya dirinya lah yang bersedia, namun kini semuanya harus berubah dan Luhan harus menerima semua itu. Itu adalah keputusan Sehun untuk berubah dan ia tidak bisa menolaknya. maksudnya, siapa dia berani merebut kebahagiaan Sehun? Sehun benar-benar terlihat bahagia.

Ia hampir menarik Sehun dari sana kalau saja Kai tidak meneriakkan namanya "Luhan!"teriak Kai, yang di panggil menoleh dan sepertinya Sehun pun juga mendengar Kai. Ia menoleh dan mendapati Luhan berdiri di ambang pintu dan tak lama Kai terlihat menghampiri Luhan dan menarik tangannya untuk pergi dari sana.

Sehun akan mengejar Luhan sebelum para gadis-gadis itu mulai memanggil namanya lagi. "Sial"desisnya, ia mungkin... terlalu menikmati kepopulerannya

.

.

.

Luhan merapikan pakaiannya di depan cermin, tak lupa menyisir rambut madu dengan rapi. setelah merasa semuanya sempurna ia menyambar tasnya dan turun dari kamarnya dan menemukan ayahnya yang mabuk tengah tertidur di sofa. Perawakannya seperti biasa, berantakan. Rambut yang tak teratur, wajah yang lusuh dan rambut-rambut kecil yang tumbuh di sekitar dagunya sama sekali tak dicukur. Berbeda sekali dengan ayahnya yang dulu. Orang yang hangat dan ceria itu kini berubah seutuhnya.

Luhan menghela nafasnya, walau bagaimanapun ia masih menyayangi ayahnya. Dia satu-satunya orang yang berhubungan darah dengannya. Dia satu-satunya keluarganya. Ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Luhan lantas kembali ke kamar untuk mengambil selimut lalu menyelimuti ayahnya dengan berhati-hati. Ia tidak ingin membangunkan ayahnya, dia sedang tidak ingin di pukuli malam ini.

Malam? Ya, malam ini dia akan mengunjungi Kai karena ia dengar Kai sedang sakit, sebagaimana manusia yang dekat dengan Kai ia harus menjenguk Kai setidaknya sekali, Luhan tidak sekejam itu untuk menolaknya.

Luhan bergegas keluar rumah sebelum ayahnya bangun dan mulai memukulinya. Kakinya berhenti ketika matanya menangkap cahaya dari kamar Sehun di lantai dua rumahnya. sekarang adalah hari sabtu, biasanya setiap sabtu ia selalu menginap di rumah Sehun. Tapi sepertinya hari ini ia tidak bisa dan Luhan sebenarnya merasa kecewa karena itu.

Luhan menatap arloji yang terlilit rapi di pergelangan tangannya sambil menggigiti bibir bawahnya, sebenarnya ia sudah sedikit terlambat tapi mungkin... ia bisa singgah untuk beberapa menit. Kai tidak apa-apa kan? Aku hanya sebentar. Ujarnya dalam hati

Ia lantas menekan bel rumah Sehun sampai akhirnya ibu Sehun membuka pintu rumah dan mempersilahkan Luhan masuk seperti biasanya. "Sehun di kamarnya, langsung saja kesana. Kalau lapar atau haus makan saja apa yang ada di dapur, ajhumma lelah jadi ajhumma akan pergi tidur"

Luhan menganggukkan kepalanya mengerti "ahh baiklah ajhumma"Luhan tersenyum lembut. Setelah di tinggal ibu Sehun pergi, Luhan lantas segera melesatkan dirinya ke kamar Sehun dengan wajah sumringah, sudah lama rasanya ia tidak ke rumah ini dan berlari memeluk perut Sehun. sudah lama, dan ia merindukannya.

"Sehun!"panggilnya semangat sembari langsung membuka pintu kamar Sehun tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

Luhan sontak tertegun di ambang pintu setelah menemukan Sehun dengan hanya handuk yang melilit di pinggangnya. Rambutnya basah dan berantakan, lehernya basah terkena tetesan air yang mengalir dari rambutnya, bibirnya begitu merah dan tak ada lagi perut yang penuh lemak, semua itu tergantikan dengan enam kotak-kotak yang terpampang err... sexy di perutnya.

"S-sehun! Kenapa kau telanjang!"teriak Luhan menutupi wajahnya. Sial, Luhan lupa kalau Sehun sudah diet. Ingat itu Luhan! SEHUN SUDAH DIET!

Sehun mengernyit "Lu, kau sudah biasa melihat aku seperti ini, dan aku tidak sepenuhnya telanjang" sialan, Sehun punya poin! Luhan sebenarnya sudah sering melihat pemandangan itu, tapi maksudnya dengan perut gendutnya bukan uhh perut sexy itu. Ini terlalu besar untuk di tahan Luhan "c-cepat pakai bajumu!"teriak Luhan, ia lantas bergegas keluar kamar dan langsung melangkah menuju dapur, entah mengapa ia tiba-tiba merasa sangat haus.

Seperti instruksi ibu Sehun, kalau haus cari apa saja yang ada di dapur. Luhan dengan cepat membuka pintu kulkas dan akhirnya menemukan jus anggur tergeletak di dalam kulkas lalu meneguknya seperti orang gila. Sial, mengapa jantungnya berdetak dengan kencang, dan ia tiba-tiba merasa begitu panas.

"Luhan kau harus tenang"ujarnya pelan sambil mengatur napasnya. Tapi entah mengapa ia tiba-tiba merasakan pusing di kepalanya, pelinghatannya pun ikut mengabur. "Ada apa ini hik"Luhan mulai cegukan dan tiba-tiba 'brug' ia pingsan dan jatuh ke lantai. Well sebenarnya lebih menuju mabuk di bandingkan pingsan, ia baru saja meminum sebotol arak buah.

Tiba-tiba Luhan kembali bangun, matanya terbuka sedikit, pipinya memerah dan jalannya terlihat tidak stabil. "Sehun hik Sehun"ia terus memanggil nama Sehun disertai dengan cegukan, well Luhan bukanlah orang yang bisa minum akohol, dia orang yang tergolong sangat cepat mabuk.

Sementara di atas Sehun baru saja selesai memasang bajunya ketika Luhan dengan wajah mabuknya membuka pintu dan membantingnya. "Sehun!"teriaknya ceria lalu memeluknya

"Luhan apa yang terjadi padamu? Kau... bau alkohol"Sehun menarik dirinya dari Luhan yang tersenyum-senyum tak jelas.

"Ahahaha, aku.. hik meminum jus anggur di kulkas"

Sehun menghela nafasnya "dia mabuk"pikirnya, ia tahu kalau yang di minum Luhan adalah arak buah milik ayahnya. "Luhan, kita duduk saja ok?"ajak Sehun lembut, Luhan mengangguk dan memberikan isyarat Ok dengan tangannya. Sehun segera mendudukkan Luhan di atas sofa lantas duduk di sampingnya.

"Sehun!"panggil Luhan.

"Apa Luhan?"Sehun menatap Luhan sambil tersenyum kecil, Luhan yang mabuk benar-benar menggemaskan.

"Hiks"tak lama Luhan terisak membuat Sehun mulai panik dan khawatir "Lu, kau tidak apa-apa?"

"Bagaimana aku baik-baik saja hiks huaaaa"Luhan menangis lebih keras "kalau dia meninggalkanku!"isaknya.

"A-apa? APA KAI MENINGGALKANMU?!"teriak Sehun, ia tiba-tiba merasa ada gejolak emosi di dalam dirinya.

Luhan menggelengkan kepalanya "bukan hiks, perutmu... perutmu yang meninggalkanku! Huaaaaaa"Luhan kembali meraung, Sehun menatap Luhan tak percaya lalu memutar bola matanya malas. Ia tidak tahu Luhan akan sesedih itu hanya karena gumpalan lemak. Jadilah Sehun yang diam mendengarkan segala curhat Luhan yang hampir semuanya tentang perut Sehun dan ada sedikit tentang selai kacang dan roti kadaluarsa, entahlah Sehun pun tak mengerti obrolan Luhan.

"Sehun hik"panggil Luhan dengan cegukannya.

"Apa Lu? Tentang perutku lagi?"tanya Sehun sambil menguap, ia merasa benar-benar mengantuk dan bosan sekarang. sebegitu indahnya kah perut Sehun yang dulu? Sehun benar-benar tidak mengerti racauan Luhan.

"Sehun sekali saja hik, cium hik cium aku"ujar Luhan sambil menatap Sehun polos, membuat rasa kantuk Sehun tiba-tiba menghilang. Mata rusa Luhan dapat begitu jelas dilihat Sehun membuat Sehun menelan ludahnya mendengar pemintaan gila Luhan itu. jantungnya berdetak kencang, dan saluran napasnya tiba-tiba tak teratur. darahnya berdesir ke ubun-ubun kepalanya. Bukannya Sehun tidak mau, tapi Sehun tidak ingin tergoda mencium Luhan yang mabuk. Ia hanya ingin mencium Luhan ketika Luhan dalam keadaan sadar.

Namun, mengingat ciuman Luhan dengan Kai membuat Sehun ingin sekali menghapus jejak pria brengsek itu dari tubuh Luhan. Baiklah, mungkin... satu kecupan cukup. Luhan sudah memejamkan matanya dan memajukan bibirnya untuk mencium Sehun, Sehun mencoba tenang dan juga secara pelahan memajukan kepalanya menuju bibir Luhan.

'brug' kepala Luhan mendarat indah di bahu Sehun disertai suara dengkuran halus. Sehun tersenyum kecil lalu mengelus rambut Luhan "benar, ini belum waktunya"bisik Sehun lalu mengecup pucuk kepala Luhan seperti yang selalu di lakukannya. Sehun lantas menggendong Luhan dan membawanya ke atas tempat tidur tak lupa merapikan selimut di tubuh Luhan.

"Sehun!"teriak Luhan yang tiba-tiba bangun lagi mengejutkan Sehun yang jantungnya hampir melompat, ia bahkan sampai terjatuh saking terkejutnya.

Luhan menatap Sehun dengan wajah mabuknya "kita hik belum berciuman! Kau! Ti hik dak boleh menipuku!"teriak Luhan lagi, Sehun kembali menelan Ludah, apa ini akan baik-baik saja? Baiklah hanya satu kecupan untuk membuat Luhan tidur kan? Sehun sebenarnya tidak menginginkan ini, ia ingin ciuman pertamanya bersama Luhan ketika mereka dalam keadaan sadar. Tapi apa boleh buat.

Sehun berdeham sembari mendudukkan bokongnya di bibir tempat tidur lalu mendekatkan wajahya pada wajah Luhan.

'Cup' suara kecupan itu terdengar jelas ketika Sehun mengecup kilat bibir Luhan. Jantung Sehun berdegup dengan cepat, ia menelan Ludahnya ketika matanya dan mata Luhan bertemu, ini menegangkan namun juga indah. Perasaan berbunga ini, perasaan bahagia ini seakan menghapus semua kenangan sedih yang dialami Sehun selama ini. Keduanya masih diam dalam hening saling bertatapan di temani suara detakan Jam yang terdengar lebih besar dari biasanya. Mata indah Luhan yang tadi terbuka lebar itu kini perlahan mulai tertutup dan jatuh tertidur lagi.

Sehun tersenyum manis "Selamat Malam"

.

.

.

"ahhh nhh Sehunhh t-teruskanhh ahh lebih cepathh"

"ahh Luhan kau sempit sekali mhh"

"Luhan!"suara Sehun terdengar ketika Luhan berusaha mati-matian untuk melewati rumah Sehun tanpa Sehun tahu. Namun yang di harapkannya sama sekali tidak terkabul. Luhan tertegun disana ketika Sehun menghampirinya dan berdiri di belakangnya, ia tidak ingin berbalik sama sekali, bahkan tanpa menatap Sehun pun wajah Luhan sudah semerah kepiting rebus.

"Luhan, kau baik-baik saja?"tanya Sehun lantas menggapai bahu Luhan, mau tidak mau Luhan harus membalikkan badannya menghadap Sehun. "A-aku tidak apa-apa"gugup Luhan, matanya memutar kesana-kemari berusaha tidak menatap wajah Sehun. "Kenapa tidak menatapku?"tanya Sehun bingung.

Oh Sehun! Demi Tuhan bagaimana bisa Luhan menatapmu setelah tadi pagi menemukan dirinya bermimpi basah dengan Sehun sebagai patnernya, dan sialnya pagi itu Luhan harus kabur dari rumah Sehun dan berlari menuju rumahnya dengan keadaan celana basah.

"A-aku hanya-"

"ada apa?"tanya Sehun, senyum kecil terpampang di wajahnya, oh tidak Sehun jangan tersenyum itu akan membangkitkan imajinasi liar Luhan lagi. "oh ya, apa kau tidak apa-apa? kau begitu mabuk semalam"tanya Sehun khawatir.

Luhan mengedipkan matanya "uhh ya aku tidak apa-apa, a-apa saja yang terjadi semalam?"tanya Luhan menatap Sehun takut, jujur saja Luhan tidak ingat apapun tentang kejadian semalam, yang ia tahu ia menemukan dirinya bermimpi basah dengan Sehun sebagai patnernya, terbangun di samping Sehun dan di atas tempat tidur Sehun.

Sehun menatap Luhan santai lalu menggelengkan kepalanya "tidak ada apapun, kau hanya menangis karena perutku lagi"Bohong Sehun.

"a-ah begitu ya..." kalau tidak ada apapun yang terjadi semalam, Lalu mengapa Luhan bermimpi sejauh itu? Sial, ia tidak tahu hanya karena melihat tubuh Sehun ia sampai mimpi basah seperti itu. Sehun Mengerikan. Namun juga... sexy.

"Ayo berangkat, aku tidak ingin telat"ujar Sehun lalu berjalan mendahului Luhan sementara Luhan hanya mengangguk gugup dan berjalan mengekori Sehun.

.

.

.

Luhan berjalan dalam diam sementara Sehun terus mengoceh tentang bagaimana lucu dan menggemaskannya Luhan semalam membuat Luhan semakin memerah, ia terus mengingat mimpi itu, berulang-ulang tanpa belas kasihan. membuat jantungnya semakin berdegup dan rasanya ingin menangis.

Lama Luhan bergelung dalam pikirannya sampai akhirnya Kakinya terhenti di depan sebuah kedai tteoboki yang selama ini selalu menjadi saksi hal-hal gila yang di lakukan Luhan dan Sehun, seperti makan dua mangkuk tteoboki sambil tertawa terbahak-bahak, dan lain-lainnya. Luhan kembali menatap pada arlojinya, masih ada sedikit waktu untuk makan tteoboki disana.

"S-Sehun!"panggil Luhan, yang di panggil pun menoleh dan menatap Luhan penuh tanya.

Luhan menunjuk pada kedai tersebut "sudah lama kita tidak kesana, ayo kesana, aku akan mentraktirmu!"

"Sekarang?"tanya Sehun yang di angguki oleh Luhan.

Disanalah mereka duduk dengan manis ketika semangkuk tteoboki sampai di hadapan mereka. Entahlah, Luhan tidak tahu mengapa Sehun meminta untuk hanya memesan satu, mungkin dia sudah sarapan di rumah. Begitu pikir Luhan.

Luhan tersenyum tipis "ayo makan" sementara Sehun hanya tersenyum kaku. Ia mengambil piring kecil di atas meja lalu mengambil satu tteoboki dan tidak lupa memotongnya menjadi irisan-irisan tipis.

Luhan mengernyit "mengapa kau memakannya seperti itu?" Luhan menatap Sehun bingung, Sehun entah mengapa tidak seperti Sehun yang biasanya, cara makannya aneh.

Sehun tersenyum tipis "ahh, aku hanya menjaga berat badanku"ujarnya lantas memasukkan irisan tipis tteoboki itu ke dalam mulutnya.

Luhan menghela napasnya lalu melepas sumpitnya dan menatap Sehun tak percaya "kau makan seperti itu selama ini demi berat badanmu?"tanya Luhan tak mengerti. Untuk apa? Untuk apa Sehun melakukan hal seperti itu. Itu seperti menyiksa diri demi tubuh yang bagus.

Sehun menganggukkan kepalanya santai "apa kau tidak lapar Sehun?"tanya Luhan lagi tak percaya, ia mulai tidak menyukai perut Sehun yang sekarang. Itu ia dapatkan dengan menyiksa dirinya sendiri. Padahal dulu meskipun banyak orang mengejeknya, ia selalu menyukai dirinya apa adanya, dia pernah bilang pada Luhan kalau ia nyaman dengan dirinya yang gendut. Tapi sekarang apa? Apa yang ia dapatkan dari perut sexy?

"Untuk apa kau melakukan itu?"tanya Luhan, terdengar nada tak suka di dalamnya dan Sehun dapat menangkap itu. Sehun hanya diam menatap Luhan sedikit marah, mengapa Luhan tiba-tiba marah? Bukankah ini bagus? Ia menjadi populer, disukai semua orang, dan membuatnya pantas berada di samping Luhan.

"bukankah itu bagus untuk tidak terkena obesitas?"tanya Sehun terdengar tak suka.

"Aku tau itu, tapi itu juga tak baik membuat dirimu sendiri lapar hanya karena ingin perut bagus. Untuk apa kau melakukannya?Kau ingin populer?"tanya Luhan semakin tak suka, dia benar-benar tak suka mendengar cara bicara Sehun yang sekarang, terdengar seperti orang yang haus kepopuleran.

"Kalau memang seperti itu lalu kenapa?!"bentak Sehun, tangannya menggebrak meja kedai tanpa di sadarinya membuat Luhan tertegun disana. Ini pertama kalinya Sehun membentaknya seperti itu. Terasa menyakitkan melihat Sehun seperti itu, hatinya baru saja teriris. Ia tak butuh Sehun yang tampan atau populer ia hanya ingin Sehun yang dulu.

"Lu, Luhan"paggil Sehun lembut, matanya yang tadi menatap marah kini melembut ketika melihat pipi Luhan telah basah oleh air mata.

"Lu, aku tidak bermak-"

"Aku membencimu! Hiks"teriak Luhan lantas menyambar tasnya dan berlari keluar kedai. Sehun mendesis lalu mengejar Luhan keluar kedai. "Terserah! Terserah kau saja! Aku juga membencimu!"teriak Sehun kesal dan menendang tong sampah yang ada di dekatnya, Luhan yang tengah berlari masih dapat menangkap kata-kata itu dengan jelas, menusuknya penuh racun tepat pada jantungnya tanpa henti. Membuat air matanya mengalir semakin deras. hatinya baru saja pecah berkeping-keping.

"Sial!"teriak Sehun , ia tiba-tiba menyesal telah berkata seperti itu ketika hatinya mengatakan sebaliknya. Luhan tidak tahu betapa dirinya menginginkan Luhan, betapa dirinya sakit ketika Luhan menerima Kai, betapa sesak dirinya melihat Luhan dan Kai berciuman, betapa terpuruknya dia ketika ia mendengar Luhan adalah pacar Kai.

Luhan tidak tahu.

TBC

Ini apahhh? Ini apaaaahhhhh? Chap ini hancur sekalehhh maapkan dakuhh, aku gatau ini apahhhh... aku ga ngertihh. maapkan dakuh, aku ga biasa bikin FF comedy kaya gini -,- aku terbiasa bikin yang angst, jadi maap kalau hancur. btw sebenarnya FF ini harusnya udah lama di publish. tapi pas mau publish, setengahnya kehapus gara gara kepencet hiks /lap ingus/ terpaksa aku bikin ulang lagi, pas hampir selesai ehhh hpku jatoh, rusak ga bisa hidup dan filenya ada di dalam sana. dan aku harus bikin ulang lagi hiks /nangis kejer/ dan akhirnya selesai...

menurutmu gaya FF comedy kaya gini cocok ga buatku? -,- atau aku lebih baik tetep di bidang angst?