I Love You and Your Fat

HunHan/Rated M/boyxboy

.

.

.

Luhan terisak, kakinya berlari menuntunnya menuju atap sekolah. jemarinya berusaha menutupi wajahnya,tak ingin orang-orang melihat air matanya. panggilan Kai pun tak dihiraukannya, atau memang ia tak mendengarnya sama sekali. yang ia pikirkan saat ini hanya menangis dan rasa perih mengiris hatinya . kata-kata benci yang terlontar dari bibir Sehun sungguh menyayatnya menjadi serpihan-serpihan yang hilang bersama debu, membuatnya lemas tak berdaya bak kertas yang di remas dan di injak pula.

Luhan membuka pintu atap dengan cepat lalu melesat menuju pagar pembatas. angin yang terasa dingin menyapanya seakan mengolok rasa sakitnya dan membuatnya semakin terpuruk. langit yang mendung seakan berpihak padanya dan terpuruk bersamanya. air matanya berderai deras tak henti seperti air terjun yang menyimpan banyak bebatuan dan rasa sakit di dalamnya. ia berusaha begitu keras untuk tidak terisak, namun bibir dan suaranya tidak bisa ia kendalikan lagi, rasa sakit yang amat mengambil kendali atas tubuhnya. tak hanya hatinya, otaknya, jantungnya, kakinya semuanya terasa sakit. tidakkah sudah cukup bagi Sehun meninggalkan Luhan tanpa sepatah katapun? tidakkah cukup bagi Sehun yang bahkan tak menghubungi Luhan selama di Amerika? sekarang kata benci pun juga di ucapkan disertai wajah amarah itu. wajah yang selalu di kagumi Luhan itu kini terasa meremuk hatinya.

Luhan terisak begitu keras, ia terjatuh di atas lantai yang dingin, tangan mungilnya masih berusaha menutupi wajahnya meski tak satupun orang akan melihatnya di atas sana. dia tidak membiarkan siapapun melihat air matanya, entah itu langit, angin, pohon-pohon dan bahkan Tuhan. kata benci yang di lontarkannya terhadap Sehun pun semakin membuatnya ngilu. rasa sakit yang di selimuti penyesalan yang menyiksanya dan membuatnya sesak. benarkah mereka sama-sama benci? Luhan tahu betul dirinya tak bermaksud berkata seperti itu, tetapi mengapa dirinya memikirkan jika Sehun benar-benar membencinya? mengapa rasa itu menghampiri dirinya?

"mengapa kau menangis?"suara yang tak asing menembus gendang telinga Luhan. ia berbalik dan menemukan Sehun disana dengan wajah datarnya. Sehun mengejarnya, dan rasa bahagia tiba-tiba menggerayangi hatinya.

"S-Sehun"panggil Luhan.

"apa?"Sehun menaikkan satu sudut bibirnya "apa kau berharap aku adalah Kai?"tanya Sehun sarkastik, ia menatap Luhan penuh rasa sakit, benarkah Luhan mengharapkan Kai dan bukan dirinya? mengapa bibirnya berkata seperti itu?

"S-Sehun bukan beg-"

"maaf aku bukan Kai kalau begitu"potong Sehun, ia mengepalkan tangannya "jangan menangis"seru Sehun.

Luhan menatap Sehun tak mengerti, air matanya masih tak berhenti "jangan menangis, menjijikan. kau ini laki-laki"Sehun tak tahu mengapa kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia hanya tidak suka Luhan menangis, setiap tetes air mata yang di keluarkan Luhan selalu membuat hatinya teriris dan menyiksa dadanya tanpa ampun.

Luhan menatap Sehun tak percaya, matanya menatap kecewa pada Sehun. padahal Sehun tahu betul Luhan adalah anak yang mudah menangis. terutama jika kata-kata kejam dilontarkan Sehun untuk dirinya. Luhan menatap penuh amarah, air matanya semakin deras dan matanya sudah membengkak. ia mengepalkan tangannya dan berlari meninggalkan Sehun. Luhan tanpa sengaja menabrak seseorang, aromanya tak asing dan sepertinya sedari tadi ia mendengarkan pembicaraan mereka. Luhan mendongakkan kepalanya dan menemukan Kai yang tengah menatapnya terkejut yang mungkin dikarenakan Luhan yang menangis.

"Oh Sehun berengsek"desis Kai, ia baru saja akan memukul sehun jika Luhan tidak mencengkram bajunya, pria mungil itu menatap Kai dengan mata penuh kesedihan dan air mata yang tak kunjung berhenti "bawa aku pergi dari sini"lirihnya lemas seakan tak berdaya lagi.

Kai menghela napasnya dan menganggukkan kepalanya, apapun akan di lakukannya demi Luhan meskipun ia tahu bahwa hati Luhan bukanlah miliknya. Kai segera menggendong Luhan dan membawanya pergi keluar Sekolah. sementara Sehun masih terdiam disana ketika tetesan air hujan mulai mengguyurnya, ia tidak peduli jika bajunya basah, ia senang karena air hujan itu telah menyembunyikan air matanya yang sedari tadi telah jatuh, dan suaranya yang keras telah menyembunyikan suara isakan yang berusaha di telannya. Sehun hampir tak pernah menangis meskipun ia selalu diejek karena penampilannya, namun jika Luhan sudah membencinya maka itulah akhir dari dunia seorang Oh Sehun.

itulah awal kehancuran dari dunia Sehun.

.

.

.

Kai meletakkan Luhan yang masih menangis terisak di atas tempat tidurnya lantas menyelimutinya. Ia menggenggam tangan Luhan dan diam-diam menangis bersamanya, mengecupi tangan Luhan pun tak berhasil, tanda bahwa hati Luhan bukanlah miliknya. Kai tahu itu, kai mengerti itu. tapi bisakah Luhan melihatnya sedikit saja? bisakah ia memikirkan Kai yang juga merasakan sakit ketika melihat Luhan terpuruk? terlebih itu di sebabkan oleh lelaki lain.

tak lama Luhan tertidur, ia terlihat lelah dan matanya juga telah membengkak. Kai membelai rambut Luhan dengan lembut. apapun, ia akan melakukan apapun demi Luhan. demi pria mungil yang dicintainya itu. semua yang terjadi pada hatinya ini hanya di sebabkan oleh sebuah kalimat yang dilontarkan pria mungil itu. "kau begitu... kosong"

1 year ago

Kai adalah anak yang selalu populer sejak kecil, ia kaya, tampan, pintar, maka pantaslah ia digilai semua kaum. Namun, dibalik senyumnya ia menyimpan rasa kesepian yang luar biasa, orang tuanya yang sibuk dan tidak memedulikannya menciptakan karakternya yang selalu menindas orang lemah. ia menindas orang karena ia merasakan kekosongan yang luar biasa di dalam dirinya, disertai rasa iri karena mereka punya orang tua yang selalu memasak dan menyiapkan bekal untuk mereka. seperti Sehun.

ia ingin semua orang memerhatikannya, lalu setelah mendapatkan itu semua mengapa tidak ada yang berubah di dalam hatinya. ia selalu merasa sendiri, dan semua temannya tidak pernah mengerti keadaan dan perasaannya. mereka hanya peduli karena Kai populer dan kaya. itu membuatnya tidak pernah mempercayai orang. ia hanya mengikuti aliran air, kemana ia akan di bawa, apa yang ia temui ia tidak tahu, yang ia tahu ia tidak pernah percaya pada orang-orang sekalipun itu ibu dan ayahnya. ayahnya berkeliling dunia karena bisnis, dan parahnya ibunya berlari kesana kemari dengan lelaki lain dan hanya mendatangi Kai ketika butuh uang. ia bahkan tidak pernah makan sup rumput laut buatan ibunya ketika ia ulang tahun.

hari itu, Sehun berulang tahun. meskipun tidak ada yang peduli, Kai melihatnya. anak gempal itu membawa bekal nasi dan sup rumput laut yang Kai yakini buatan ibu Sehun. ia marah, ia iri dan ia tidak tahu mengapa. hatinya tiba-tiba ingin memukuli Sehun. Kai mengambil bekal yang akan di makan oleh Sehun. "kau itu sudah gendut! aku saja yang makan!"teriak Kai arogan.

Sehun menatap Kai takut "t-tapi itu buatan..."belum sempat Sehun menyelesaikan kata-katanya, Kai sudah meneguk supnya lalu sisanya ia buang ketempat sampah.

"Luhan..."lanjutnya, Sehun menatap Kai penuh amarah dengan tangannya yang terkepal kuat. "apa? kau marah? hahaha kau kan bisa minta ibumu lagi"ejek Kai sambil tersenyum remeh. Sehun marah, itu adalah sup buatan Luhan khusus untuk dirinya di hari berharganya dimana tidak seorang pun peduli dan hanya seorang Luhan yang peduli. dia bahkan belum sempat makan sesuap pun. itu milik Luhan yang di berikan kepadanya yang harus sangat dihargai bagi Sehun.

Ia lantas melayangkan tinjunya dan memukul wajah Kai dengan geram. "arg! bajingan! berani sekali kau!"teriak Kai sesekali membersihkan darah di sudut bibirnya. Sehun menyadari apa yang baru saja di lakukannya, semua orang berteriak heboh dan fans Kai sudah menatapnya nyalang. apa yang harus di lakukannya? Kai menerjang sehun yang bertubuh gempal hingga terjengkang, lalu melayangkan pukulannya berkali-kali lantas menginjak-nginjak Sehun seakan ia hanya menginjak-nginjak sebuah kertas sambil tersenyum.

"Kai! apa yang kau lakukan!"teriak Luhan yang membantu menjauhkan Kai dari Sehun. Kai tersenyum miring dan menatap Luhan remeh "keluarlah dari sini jalang, sebelum aku memukulmu"balas Kai dingin.

Luhan diam menatap tepat ke dalam mata Kai. pertama kalinya Kai merasa teritimidasi dengan tatapan seseorang. bukan perasaan takut, tapi seperti ia dipaksa untuk tenang. Luhan menggenggam tangan Kai sambil menatapnya prihatin. "kau begitu... kosong" Kai merasa ia baru saja di hempaskan ke lautan bumi paling dalam. tenggelam dalam air hangat yang memeluknya dalam kegelapan. rasanya seseorang mengerti kesedihannya selama ini.

"berhentilah melakukan hal sampah seperti ini. kau berharga maka jalanilah hidupmu dengan hal-hal yang berharga pula"Luhan tersenyum hangat dan itu membuat Kai seakan merasa ada seseorang yang tengah memeluknya dan membisikkan "tidak apa-apa, kau akan baik-baik saja"

Kai masih terdiam sementara Luhan dan Sehun sudah keluar dari kelas.

Flashback END

.

.

.

Luhan membawa nampannya menuju salah satu meja di sudut ruangan yang sepi. akhir-akhir ini ia selalu menyendiri dan terlihat murung. tak lain penyebabnya adalah Sehun, entah seberapa keras pun Luhan berusaha tidak memikirkan Sehun, pada akhirnya akan terpikir lagi dan lagi. Luhan menatap ke arah meja Sehun yang kini sedang tertawa bersama teman-teman barunya. dia tak sendiri lagi, ia terlihat sangat bahagia setelah menjadi populer. dia terlihat sangat menikmatinya.

sangatlah menakjubkan, bagaimana Sehun yang sudah menjadi teman Luhan selama 13 tahun lamanya kini berubah total. keduanya tak saling menegur dan saling diam, dan bertingkah seperti orang asing. tak ada yang mau memecah pembatas yang tumbuh di antara mereka. Luhan pikir ia tidak di takdirkan untuk menjadi seseorang untuk berada di samping Sehun dari awal, begitu sebaliknya dan seiring pikiran itu semakin kuat semakin kokoh pula tembok pemisah di antara mereka, maka akan sulit memecahkan tembok yang tumbuh akibat rasa sakit yang kemudian di siram air mata.

Luhan menghela napasnya lalu mengalihkan pandangannya pada makanan di hadapannya dan mulai menyuapi dirinya sendiri. Sehun mengalihkan pandangannya kepada Luhan yang duduk sendiri di sudut kantin. ingin sekali rasanya ia menyusulnya dan memanggilnya dengan ceria seperti biasanya. tapi apa yang bisa di lakukannya? Luhan membencinya, Sehun yakin itu apalagi setelah kata-katanya di atap waktu itu. setidaknya Sehun masih bersykur Luhan makan dengan baik.

"Sehun lihat ini"panggil temannya, Sehun mengalihkan pandangannya, di saat itu juga Kai menghampiri Luhan dan makan bersamanya. ia tak lagi butuh kepopuleran, kebahagiaan Luhan adalah tujuannya sekarang.

mengapa jembatan itu terasa semakin jauh ? bahkan kabut-kabut dingin itu mulai menenggelamkannya.

.

.

.

Luhan melampirkan penutup kepala hoodienya pada kepalanya, ia baru saja menyelesaikan pekerjaan paruh waktunya. ia sudah mengambil banyak pekerjaan paruh waktu selama ini demi membuat dirinya sibuk dan lelah agar otaknya tak memikirkan Sehun lagi. tapi Luhan tau, apa yang dilakukannya hanyalah sia-sia. perasaannya pada Sehun sama sekali tidak bisa di ubah walaupun seorang seperti Kai mencintainya. Luhan tidak bisa menghempaskan hatinya hanya karena ia menolak merindukan Sehun, tidak ada yang bisa mengubah fakta bahwa merindukan Sehun begitu menyakitkan. berbeda dengan rasa rindunya ketika Sehun ke Amerika. ketika itu tidak ada kata benci yang terucap. tapi kali ini ada dan itu jelas.

Rasa rindu menggerogoti hatinya, membuat rasa sesak begitu tak tertahankan. ia menatap langit yang kembali kelabu. ia seakan bertanya pada Tuhan, mengapa Ia memberikan perasaan ini jika pada akhirnya ia tak akan bersama Sehun? apakah hanya Luhan yang menderita seperti ini? apakah Sehun baik-baik saja jika Luhan tidak di sampingnya?

Luhan menghela napas lantas tertawa kecil. lagi-lagi ia memikirkan Sehun, Luhan ingin sekali berhenti memikirkannya, ia terlalu lelah untuk semua ini, ia ingin tidur tanpa terbayang wajah Sehun di dalam benaknya. ia ingin tidur tanpa merasakan sesak di dadanya.

Luhan tersadar dari lamunannya ketika dering ponselnya terdengar, ia sontak mengangkat panggilan tersebut. "ya Kai, hmm aku akan menunggu, bye"Ia menghela napasnya lalu memasukkan ponselnya ke dalam kantong hoodienya. Kai sedang di jalan menuju ke tempat Luhan untuk menjemputnya dan ia harus menunggu di sana. bukannya Luhan tidak suka menunggu, ia hanya tidak suka terdiam disana lalu kembali memikirkan Sehun. di dalam hatinya ia memohon Kai untuk datang lebih cepat, agar setidaknya ia lupa sejenak dengan Sehun.

Namun yang di harapkan Luhan malah berbalik total, ia menemukan Sehun berdiri di hadapannya. perawakannya begitu berantakan, rambutnya tak terurus, matanya membengkak dan wajahnya terlihat merah. matanya menatap Luhan pilu, wajahnya terlihat kuyu. Tidak bersama Luhan selama seminggu sungguh menghancurkannya, ia terpuruk dan jatuh sakit.

"aku bermimpi lagi..."lirih Sehun lemas ketika melihat Luhan ada di hadapannya. akhir-akhir ini ia sering memimpikan Luhan, maka yang terjadi sekarang di anggapnya hanya lah mimpi. ia tertawa sekeras-kerasnya, sementara Luhan hanya menatap Sehun sayu dan berusaha untuk tidak memeluknya.

Sehun menghampiri Luhan dengan cepat lalu menempelkan keningnya pada kening Luhan, panas. "Luhan, aku demam"ujar Sehun parau, ia seperti anak kecil yang minta di perhatikan. dulu, setiap Sehun sakit, Luhanlah yang selalu menemani dan merawatnya. tapi sekarang, ia sendirian. ia tidak meminum obat yang di berikan ibunya sebutir pun, ia ingin demamnya semakin tinggi agar ia tak sadarkan diri dan berhenti memikirkan Luhan.

Luhan membulatkan mata rusanya, sehun terasa sangat panas, lebih panas dari demam biasa. demamnya kali ini sangat tinggi. "S-Sehun, ayo ke rumah sakit"Luhan menatap Sehun khawatir.

Sehun tersenyum tipis "bahkan sekarang kau bisa berbicara"jawabnya pelan, Luhan hanya menatapnya bingung tak mengerti dengan racauan Sehun. pria yang lebih tinggi langsung menarik si rusa ke dalam pelukannya, menghirup aroma yang sudah lama tak dicicipi hidungnya.

"S-Sehun?"Luhan menyukai pelukan Sehun namun disisi lain ia tahu ini bukan waktunya ia bahagia, Sehun sedang demam tinggi dan ia harus segera membawanya ke rumah sakit.

"aku..."Sehun sudah tidak bisa menahannya lagi, ia mendorong Luhan pada dinding mini market di belakang mereka, lalu menggigit leher Luhan dan menghisapnya dengan ganas "S-Sehun~"lirih Luhan, matanya berkaca-kaca, tubuhnya bergetar karena ketakutan, ia tidak pernah melihat Sehun seperti ini. bukan ini yang diinginkannya dari Sehun.

Sehun meraup bibir Luhan dan melumatnya kasar, mencicipi setiap inci lidah Luhan dan menghisap liur manisnya. air mata mengalir dari ekor mata Luhan, tangannya tak henti berusaha mendorong Sehun, namun Sehun sama sekali tidak sadar. yang ia tahu, sekarang ia berada di dalam mimpinya.

"mmpp!"Luhan memekik ketika Sehun menelusupkan tangannya ke dalam baju Luhan dan mencubit putingnya, ia lantas memeluk Luhan dan memasukkan kepalanya ke dalam baju Luhan kemudian menghisap puting Luhan seperti bayi kehausan. Luhan mulai terisak, wajahnya memerah, dan matanya kembali basah oleh air mata. Sehun baru saja akan memasukkan tangannya ke dalam celana Luhan ketika ia mendengar isakan Luhan semakin kuat. mengapa? mengapa hatinya terasa sakit ketika mendengar isakan yang terdengar nyata itu, bukankah seharusnya ini mimpi?

mimpi? tidak, ini bukan mimpi. ia menarik dirinya dan menemukan Luhan sudah menatapnya kecewa dengan air matanya yang jatuh dengan deras. ia membelalakan matanya. apa yang sudah ia lakukan pada pria mungil itu?. "L-Luhan aku tidak bermak-"belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, ia sudah terpental ketika sebuah tinju melayang tepat ke wajahnya.

"Brengsek! apa yang sudah kau lakukan pada Luhan!"teriak Kai yang menyaksikan pelecehan yang di lakukan Sehun pada Luhan.

"brengsek! kau pantas mati!"teriak Kai lagi lantas menendang perut Sehun. Luhan berlari menarik Kai dari Sehun. "sudah Kai cukup!"teriak Luhan lirih sambil menatap Kai pilu, sementara Sehun terkapar di jalan, bukan hanya karena rasa sakit yang di terima namun juga demamnya yang semakin tinggi. Ia mencoba bangkit dengan kakinya yang terasa lemas, ia tidak memerdulikan Kai, dalam matanya yang semakin mengabur hanya ada Luhan. "L-Luhan"panggilnya terdengar parau, ia menghampiri Luhan dan mencoba menyentuhnya. namun yang di dapati Sehun adalah Luhan yang menjauh dari dirinya, bersembunyi di belakang Kai dan menatapnya takut. ketika itulah dunia Sehun seakan di terjang ombak besar dan menghancurkan dirinya menjadi seonggok sampah yang tak berguna.

"ayo.. pergi dari sini Kai"ajak Luhan lirih, Kai menyanggupi permintaan Luhan meskipun ia masih ingin memukuli Sehun, apapun untuk Luhan. napas Sehun mulai tersendat-sendat, air mata kembali mengaliri pipinya, rasa sakit kembali menggerogotinya "ARRGHH!"teriaknya emosi yang seakan menjadi protes dari dirinya terhadap langit.

.

.

.

Sehun berjalan gontai dalam keadaan setengah sadar, entah kemana kakinya menuntun dirinya, ia tidak peduli lagi. ia hanya menginginkan Luhan dalam pelukannya. apakah itu begitu mustahil bagi dirinya? ia melakukan apapun demi berdiri di samping Luhan, apakah Tuhan benar-benar tidak ingin dirinya berada di samping Luhan? Sehun sudah berada di sana selama 13 tahun, tidak bisakah ia berada disana sedikit lebih lama sebagai seseorang yang lebih dari teman? Sehina itukah dirinya? setidak pantas itukah dirinya? mengapa semuanya menjadi begitu hancur?

hari semakin gelap dan udara semakin dingin, demam Sehun pun juga semakin naik. "Oi"seseorang berbadan besar yang tak asing bagi Sehun berdiri di hadapannya. jika tidak salah ingat, dia adalah siswa SMA laki-laki Hwangmun yang kemarin mencegatnya bersama Luhan.

Sehun tertawa kecil, Luhan lagi yang di pikirkannya. Luhan, Luhan dan Luhan. "sialan, brengsek ini berani sekali menertawakanku! kalau kau mau selamat, berikan uangmu!"teriak pria itu kesal. Sehun menghela napasnya lantas mengambil sejumlah uang dari dompetnya dan melemparkannya tepat di muka pria tersebut. "ambilah itu, sampah"Sehun tersenyum miring.

"brengsek!"teriak pria itu lantas melayangkan tinju tepat ke wajah Sehun, Sehun tersenyum tipis"lemah sekali"jawabnya, ia lantas memukul balik pria itu. entah darimana Sehun mendapatkan keberanian dan kekuatan itu, hari itu ia hanya sedang ingin memukuli orang sekuat tenaganya. "brengs-"belum sempat pria itu mengatainya, Sehun sudah lebih dulu memukulinya lalu menginjak-nginjaknya tanpa belas kasihan.

tidakkah, ini dulu terjadi padanya? di pukuli dan di injak-injak oleh orang-orang yang merendakah dirinya. lalu sekarang ia sendiri yang melakukannya, entah mengapa rasanya kosong sekali. ia tidak menyukai perasaan itu. Sehun sontak menghentikkan pukulannya lalu melangkah melewati pria yang sudah terkapar di jalan itu.

"berengsek"desis pria itu, ia lantas mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku celananya lalu menarik Sehun. Sehun yang masih kesal langsung melayangkan tinjunya, namun itu terhenti ketika pria itu menghujamkan pisaunya tepat di perut Sehun. Sehun membelalakkan matanya, matanya memerah dan air mata jatuh membasahi pipi tirusnya. suara teriakan tiba-tiba memenuhi jalan itu ketika beberapa orang lewat tak sengaja menyaksikan kejadian mengerikan itu. Sehun bobrok dan terbaring lemas di atas jalan, sementara pria yang menusuknya sudah berlari ketakutan.

"hey! cepat panggil ambulan dan polisi"seseorang berteriak dan Sehun sayup-sayup masih dapat mendengarnya, darah sudah mengucur dari luka tusukannya, matanya menatap pada langit malam yang kosong. akankah ia mati disini? akankah ia mati tanpa bintang, bulan dan Luhan yang menemaninya? akankah ia mati hanya di temani langit yang kosong sama seperti dirinya? akankah?

Tidak, ia tidak ingin mati sebelum ia menyampaikan perasaannya pada Luhan. Ia harus mengatakan itu terlebih dahulu lalu mati dengan tenang. Sehun lantas mencoba bangkit sementara orang-orang mencoba mencegahnya agar tak bergerak, Sehun tak mengindahkan semuanya, dalam otaknya hanya ada Luhan saja. ia butuh menghampiri Luhan sekarang juga.

kakinya seakan tak berpihak padanya, kehilangan banyak darah membuatnya sangat lemas. tak kehabisan pikir, Sehun dengan mirisnya menyeret tubuhnya yang bersimbah darah tak peduli dengan lukanya yang bergesekan dengan asapal, tak perduli dengan jemarinya yang sudah berdarah. ia hanya ingin menghampiri Luhan dan mengatakan Semuanya.

matanya mulai mengabur, napasnya tercekat dan air mata jatuh dari pelupuk matanya. ia meminta maaf dalam hatinya kepada Luhan karena tidak cukup kuat untuk menghampirinya dan menjelaskan semuanya. "aku mencintaimu, Lu"

TBC

hi, karena aku gamau alur FFnya terlalu cepat, jadi sabar-sabarin dulu romance nyaaaa, nanti pasti di kasih yang manis-manis kok :3