Disclaimer : Transformers bukan punya saya. Cerita ini hanya dibuat untuk tujuan berekspresi, berkarya dan berimajinasi, tanpa memungut atau mengambil biaya sepeser pun.

Tittle : The Knight of The Night : New Hope

Rating : T untuk bahasa dan umpatan. M untuk kekerasan.

Genre : Adventure, Drama, Romance and Friendship

Summarry : Mikaela Banes, bersama Pemimpin Autobot harus bertahan hidup sebagai buronan Cemetery Wind. Mereka tengah bersiap untuk menghadapi petualangan besar yang sudah menunggu didepan mata. Apakah mereka akan berhasil? Atau salah satu diantara mereka akan gugur?

Warning : typo, tata bahasa yang kacau. Umpatan, dan kata-kata kotor. Kekerasan di chapter selanjutnya.

.

.

.

.

HAPPY READING

.

.

"Ayolah Michie," ujar seseorang pria berusia 30 tahunan dengan rambut blonde. Ia memiliki wajah tirus, dan mata hijau yang indah. "Untuk malam ini saja, aku ingin makan malam denganmu," sambungnya.

"Tidak, Bart. Aku tahu kau tahu jika aku sudah punya pasangan," jawab Michie, alias Mikaela Banes. Gadis muda berusia dua puluh lima tahunan berambut hitam, yang kali ini ia pasangi wig berwarna pirang. Mata birunya, ia tutupi dengan softlens berwarna cokelat untuk menghindari pemindai retina. Tidak hanya itu, ia menggunakan kaca mata untuk memperhalus samarannya.

Pria dewasa bernama Bart itu mendengus, lalu terkekeh setelah mendengar perkataan Mikaela. Mata hijaunya melihat Mikaela yang tengah membersihkan meja restauran yang baru saja buka. Bart adalah pria pengangguran yang tergila-gila dengan 'kepanasan' Mikaela, dan berupaya untuk terus mengejar gadis cantik itu sampai dapat. Ia bahkan menghabiskan seluruh harinya memandangi Mikaela dari luar kafe, selama 2 bulan terakhir ini.

"Kau sudah punya pacar?"

"Eeh, bukan. Lebih dari itu." Mikaela mengoreksi, seraya meletakkan vas bunga segar yang ia angkat.

"Tunangan?"

"Eh, tidak."

"Suami?"

"Mungkin semacam itu," jawabnya. Ia tidak tahu apa nama hubungan mereka meskipun sudah mengikat janji seperti hukum adat Cybertron. Atau apapun itu, ia sah menjadi Mrs Prime menurut orang-orang Cybertron, walaupun belum resmi.

"Ayolah, Mich! Apa kau akan terus berbohong padaku? Lagipula, aku tidak pernah melihat 'pacar, tunangan, apapun' itu." Bart terus memprotesnya. Mikaela jelas tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, karena resikonya sangat tinggi. Jadi, ia hanya bisa menolak Bart lagi dan lagi selama dua bulan belakangan ini. Lagipula, kalau pun ia bercerita, Bart tidak akan percaya.

"Hey, kau pikir aku bohong? Dia yang mengantarku kemari setiap pagi," bantah Mikaela. Ia berbalik, meninggalkan Bart menuju meja kasir. Bart masih mengekor.

"Apa pekerjaannya? Supir truk? Namanya Tom, benar?"

Ia menggeleng. "Kau bisa memanggilnya 'Tim.' Dia adalah tentara," jawab Mikaela.

Mikaela menahan tawa saat mengambil 'Tim' dari nama Optimus. Ia pernah memanggil Optimus dengan sebutan 'Timmy,' dan itu membuat Mikaela mendapat erangan geli yang membuatnya setengah mati ingin menahan tawa. Ekspresi Optimus saat Mikaela memanggilnya Timmy selalu sama-kesal, namun ingin ikut tertawa secara bersamaan. Mikaela tidak menyalahkan Optimus yang kesal karena dipanggil Timmy, karena menurut robot itu Timmy membuatnya terdengar feminim. Ia lebih suka 'Tim' saja ketimbang 'Timmy', namun Mikaela adalah tipe gadis rebel yang suka memberontak.

Jadi, kau tahu apa yang terjadi.

Ya, Timmy.

"Tidak ada tentara yang mengendarai Pittburgh. Aku tidak bodoh. Pasti dia hanya sopir truk trailer saja," jawabnya.

"Apapun yang ia kerjakan, setidaknya dia bekerja, tidak sepertimu."

Bart tertawa terbahak-bahak. "Nah! Itu berarti dia tidak cukup kaya. Bahkan, kau harus bekerja, dan itu artinya-"

"Dengar, Butt," cemooh Mikaela. "Sebaiknya kau pergi," sambung gadis itu ketus.

"Tidak sampai kau bilang setuju," sahut si pria berjaket kulit. "Aku lebih kaya daripada pacar sopirmu itu," sambungnya.

Mikaela tertawa terbahak-bahak, sampai harus menepuk pahanya sendiri. Bart? Kaya? Bahkan untuk makan saja ia hutang di kafe tempat Mikaela bekerja. Atau mungkin, Bart memang kaya tetapi ia terlalu malas untuk menjual aset-asetnya. "Kau miskin moral, Butt. Menggoda orang yang sudah mempunyai pasangan," sahut Mikaela.

Bart tidak hanya menyebalkan, tapi juga menjijikkan. Walaupun pada beberapa hal, Bart adalah orang yang baik, senang membantu orang yang lebih tua. Hanya saja, sifat dan perilaku 'haus perhatian' itu membuat Mikaela muak. Ia-Bart hanya mengingatkan Mikaela terhadap Trent, mantannya sebelum Sam. Ia langsung kembali ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya, tidak lagi mengindahkan Bart.

Sorot matanya menangkap sebuah benda metalik kecil yang melingkar di jari manis tangan kirinya, sebuah cincin. Cincin itu berwarna silver yang jernih, dengan motif-motif seperti bahasa Mandarin, namun lebih rumit. Cincin tersebut terlihat seperti cincin pada umumnya, namun sebenarnya cincin itu bukan cincin biasa. Saat, ia melihat cincin itu selama beberapa detik, kemudian tidak bisa menahan senyumnya yang merekah. Ia harus menggertakkan giginya untuk tidak tersenyum seperti orang gila dihadapan Bart. Otaknya memutar kembali sebuah memori yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Selamanya.

SATU TAHUN LALU

Mikaela dan Optimus berhenti disebuah lembah disuatu tempat di Texas. Lembah tersebut cukup kering, namun masih bisa dikatakan basah karena masih ada tanaman-tanaman hijau yang tumbuh disana. Mata mereka terpaku pada dua ekor satwa liar yang saling bercengkerama satu sama lain. Mikaela tidak berkata apapun, ia hanya tersenyum melihat dua hewan yang menggemaskan. Setelahnya, ia menyandarkan kepalanya di kepala Optimus-yang membiarkan Mikaela untuk duduk diatas bahunya dan menikmati indahnya matahari terbenam di Bumi.

Dengan itu, Mikaela menarik nafas panjang. Ia melirik sosok disebelahnya, sedang termenung dengan pikirannya sendiri. Ia bisa melihat kedamaian di pelat wajahnya yang berseri-seri karena pantulan cahaya senja. Ia selalu menyukai saat-saat dimana dirinya dan Optimus tenggelam dalam ketenangan bersama. Menikmati kehadiran satu sama lain dalam sebuah kedamaian yang menentramkan jiwa. Rasanya begitu...membahagiakan.

Setiap senja, setelah Mikaela pulang bekerja, Optimus selalu mengajak Mikaela untuk melihat matahari terbenam. Selain Mikaela, hal terindah yang sangat ia sukai di Bumi adalah matahari, terutama saat tengah terbenam. Rasanya, bagi Optimus, senja membuatnya merasa begitu tenang. Membuatnya teringat dimana segala sesuatu selalu memiliki akhir, namun juga memiliki lembaran baru esoknya. Ia merasakan kedamaian saat sinar jingga menerpa pelat wajah logamnya.

Kehangatan itu tidak ia dapatkan di Cybertron. Kalaupun ia mendapatkannya, tidak akan setenang saat di Bumi.

Dihadapan matahari yang terbenam ini, Optimus mensyukuri tiga hal dalam hidupnya. Yang pertama, ia bersyukur karena telah mendapatkan kesempatan hidup satu kali lagi. Yang kedua, ia bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk bisa melihat indahnya fajar dan senja. Dan yang terakhir, yang paling ia syukuri, ia sangat berterima kasih karena telah datang ke Bumi, dan dipertemukan oleh sosok yang selalu mengisi ruang-ruang Spark-nya. Ia berterima kasih, bersyukur karena menemukan sesosok manusia yang mencintainya, lebih dari ia mencintai hidupnya.

Optimus tersenyum begitu merasa dadanya menghangat.

"Mikaela," panggilnya pelan. Suara bariton yang dalam, menggema didalam kepala Mikaela. Senyuman di pelat wajah Optimus masih belum pudar, meskipun tipis.

"Hm?" Ia menjawab, melihat Optimus dengan senyum.

"Aku ingin memberimu sesuatu," Optimus berkata.

"Aku ingin tahu apa itu." Mikaela menjawabnya dengan sebuah senyuman yang manis, bicaranya pun lembut.

Ia menadahkan tangan besarnya dihadapan Mikaela, menandakan jika Optimus ingin Mikaela untuk naik diatasnya. Tanpa diperintah lebih lanjut, Mikaela pun naik dan berdiri diatasnya. Ia dapat melihat optik Optimus yang bersinar begitu cerah. Pelat wajahnya menjadi sedikit jingga, karena sorotan cahaya matahari. Mikaela bisa melihat bayangan dirinya tengah berdiri di wajah Optimus. Ia melihat robot itu tersenyum kepadanya.

Optimus membuka bilik dada-nya, memperlihatkan sebuah spark yang bersinar begitu indah. Cahaya spark itu berwarna biru terang, yang kadang sedikit meredup, lalu terang lagi. Mikaela mengasumsikan jika itu sama seperti jantung manusia yang berdetak. Ia bisa merasakan getarannya. Lalu, Optimus mengangkat tangan yang satunya, dan memasukkannya kedalam bilik yang ia buka tersebut. Ia nampak sedang mengambil sesuatu.

"Apa yang kau lakukan?" Mikaela bertanya, tidak tahu apa yang akan dilakukan Optimus. Ia tahu jika robot dihadapannya itu akan cukup gila untuk mengeluarkan spark-nya.

"Mikaela, ini untukmu," ujarnya.

Optimus memberikan sebuah benda metalik kecil, bulat, setebal satu milimeter dan berlubang ditengahnya. Itu adalah cincin yang terbuat dari logam mulia terbaik di Cybertron. Konon katanya logam mulia ini hanya dimiliki oleh Prime sejati, yang akan otomatis muncul begitu mendapatkan gelar Prime. Logam mulia ini terletak di tengah-tengah spark, tidak jauh dari Matrix Kepemimpinan. Dalam bentuk murni menyerupai spiral, namun bisa dirubah sesuai kehendak pemilik atau Transformers—para Prime.

Cincin itu berwarna silver, bercorak tulisan Cybertron kuno yang tidak bisa dipahami Mikaela. Dicorak-corak tersebut terdapat warna biru yang menyala indah, hampir mirip dengan Spark hanya saja lebih kecil.

Ia menyerahkannya kepada Mikaela, yang diterimanya dengan tangan kanan. Mikaela melihat sebuah logam yang bagus, terbaik dari yang pernah ia lihat dalam hidupnya. Bahkan, transformium tidak sebaik benda metalik yang diberikan Optimus ini. Selain itu, benda itu sangat cantik, seperti bertabur berlian, walaupun Mikaela bersumpah jika berlian pun pasti kalah mahal. "Optimus, ini..." Ia hampir tidak bisa berkata-kata.

"Hanya itu hadiah yang bisa ku berikan kepadamu." Optimus menyela Mikaela. Gadis itu masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari cincin yang menurutnya sangat luar biasa indah itu. Senyumnya semakin melebar.

"Ini...ini adalah hadiah paling indah yang pernah diberikan padaku," ujar Mikaela. "Terima kasih, Optimus." Ia berkata.

Ia tidak menjawab, hanya memberikan sebuah anggukan penuh makna kepada Mikaela. Ia masih tersenyum, bersamaan dengan optiknya yang semakin terang.

"Biar aku saja," ujar Optimus. Mikaela sudah akan memasukkan cincin tersebut kedalam jari manis sebelah kirinya. Namun terganggu oleh kedatangan holoform Optimus disampingnya.

"Tapi, bukankah holoform mu-"

"Aku tahu." Ia menjawab disertai anggukan. "Aku memang tidak bisa menyentuh manusia, atau apapun. Tapi aku bisa menyentuh Primorium mengingat itu juga bagian dari tubuhku. Selain itu, holoform ini mengandung medan magnet dan aliran tenaga yang kalian sebut listrik. Jadi, aku bisa memegangnya," jelas si holoform Optimus. Sosok hologram manusia tampan itu menjadi pusat perhatian Mikaela saat ini. "Sekarang, biarkan aku yang memasangkannya. Tapi sebelumnya, aku ingin kau tahu beberapa hal."

"Apa itu?"

"Ini adalah Anulus Primorium, atau Anulum singkatnya. Primorium adalah logam yang paling langka di Cybertron dan hanya ada didalam Spark milik Prime sejati-yang artinya 13 Prime termasuk aku. Logam ini adalah logam paling berharga, karena jumlahnya yang sangat terbatas. Yang terpenting adalah, cincin Anulum ini dipercaya mempunyai kekuatan yang luar biasa, yang bahkan belum dapat kami pecahkan secara rinci. Tapi aku mendengar kisah dari pendahuluku, jika Primorium dapat menyatukan dua jiwa yang saling mengasihi, dikehidupan sekarang maupun yang selanjutnya." Optimus berhenti, mengambil jeda selama beberapa detik, lalu melanjutkan dengan sesuatu yang mugkin membuat Mikaela pingsan.

" Jika kau bersedia menerima dan mengenakan anulum ini, maka artinya kita tidak akan terpisah meskipun dengan kematian. Aku akan tahu kau dalam bahaya, begitu juga dengan sebaliknya. Kita akan bisa saling merasakan satu sama lain." Optimus berkata, Mikaela masih menyimak.

"Lalu, apa tulisan ini?" Ia menunjuk kearah tulisan Cybertron kuno.

Optimus berbicara dalam bahasa Cybertron kuno, yang frekuensinya cukup tinggi. Suara itu mengganggu telinga Mikaela, namun segera berakhir setelah Optimus menyelesaikan bait terakhirnya. Ia-Mikaela mengangkat sebelah alisnya, kepalanya menggeleng kebingungan. Ia tidak punya ide apa yang dikatakan Optimus, karena hanya seperti suara gelombang aneh radio yang menangkap sinyal dari alien. Lantas, ia memutuskan untuk bertanya. "Tidak ada cara bagiku untuk bisa memahami itu, kan?"

Optimus mendengus, tertawa ringan. "Tidak ada. Sistem suara kalian tidak cukup untuk mengucapkannya," jawabnya. "Frekuensinya terlalu tinggi untuk manusia."

"Lalu, apa artinya?"

"Artinya, 'You're my spark, I'm your soul.'" Ia menjawab.

"Itu sangat manis," ujar Mikaela. Ia mencoba menyentuh holoform Optimus, merasakan sengatan listrik-listrik ditelapak tangannya. Optimus tersenyum lagi.

"Mikaela," panggilnya.

"Ya?" Mikaela menjawabnya dengan gemetar.

"Will you be my sparkmate?"

Ia menyemburkan tawa dan haru. Ia tidak menyangka jika kata itu akan terucap dari Optimus. Tidak secepat yang ia bayangkan, dan sama sekali tidak terlintas dipikirannya. "Apa aku punya alasan untuk menolak?" Ia berkata, kemudian menyambung. "Aku bersedia, Optimus. Dalam keadaan apapun; suka, duka, sedih, senang apapun bahkan dalam kematian, aku bersedia!"

Optimus tidak berkata apa-apa lagi, melainkan senyuman yang amat lebar merekah diwajahnya. Baik di holoformnya, maupun dalam bipedal mode-nya. Kebahagiaan terpancar dengan jelas di optiknya, membuatnya semakin bersinar. Ia membiarkan Mikaela mengangkat tangan kirinya, seraya itu Optimus langsung memasangkan cincin Primorium di jari manisnya perlahan-lahan. Aliran gelombak elektromagnetik yang ada di holoformnya menyentuh Mikaela, memberikan sensasi yang aneh, namun juga menyenangkan pada saat yang bersamaan.

Saat cincin itu menyentuh kulitnya, ada cahaya yang bersinar di cincin itu. Rune-rune itu mengeluarkan sinar biru, rasanya begitu menghangatkan tubuh Mikaela. Rasanya seperti, ada sesuatu yang mengikat jiwanya dan jiwa Optimus seperti sihir, menjadi satu. Ia bisa merasakan jika dirinya kini telah menjadi milik Optimus Prime, meskipun belum sah dalam hukum di bumi.

"Sentuh Spark-ku," perintahnya. Mikaela mengangkat alisnya tidak paham dengan permintaan Optimus.

"Eh, kenapa? Maksudku, apa tidak apa-apa?" Mikaela bertanya, menyampaikan kebingungannya.

Optimus mengangguk. "Itu adalah sebuah tanda di Cybertron jika kita akan saling memiliki satu sama lain. I'm yours. And you're mine."

Optimus mendekatkan tangannya didekat bilik dadanya, sangat dekat dengan spark-nya. Ia bisa merasakan Mikaela perlahan-lahan mendekatkan tangan kanannya menuju sumber tenaga utama semua Transformers. Optimus memejamkan optiknya begitu merasakan tangan Mikaela sudah menyentuh spark-atau dalam bahasa manusia-jiwa dari Optimus. Rasanya menggetarkan, sedikit rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Namun mereka berdua bisa merasakan sebuah kekuatan yang begitu besar. Sebuah ikatan yang begitu kuat, dan begitu erat telah menyatukan mereka.

Dalam hukum Cybertron, ia dan Optimus sudah sah menjadi pasangan hidup semati—sparkbound. Dua puluh detik Mikaela menyentuh spark Optimus, ia kemudian melepaskan tangannya. Mikaela melihat bipedal Optimus yang asli. Ia ingin melihat bagaimana pelat wajah bahagianya. Ia ingin melihat optik yang penuh dengan kebahagiaan. Ia-si holoform menghilang, menggunakan bipedal modenya sebagai navigasi utama. Ia mengangkat Mikaela, dan membiarkan ia duduk di tangannya.

Lagi-lagi robot itu tersenyum.

"Aku mencintaimu, Mikaela."

"Aku mencintaimu, Optimus."

TODAY

Hidup sebagai penyintas tidaklah mudah. Ia sudah lima kali berganti identitas selama dua tahun terakhir ini. Ia bertahan bersama Optimus sejak dari San Diego, menuju Meksiko. Namun sekarang, ia berada di Texas karena Optimus mendapat transmisi jika Autobot berada disana, tempat mereka berpisah. Mikaela tidak banyak membangun hubungan dengan manusia-manusia lain, kecuali dalam bekerja. Paling lama identitas palsunya akan bertahan selama enam bulan, dan paling cepat hanya satu bulan saja. Agak sulit untuk hidup secara ilegal disini.

Optimus membawa Mikaela kemanapun ia melangkah, meskipun kadang ia harus dikejar-kejar oleh CIA dan Cemetery Wind. Untungnya, ada banyak sekali model truk diluar sana, membuat Optimus sedikit lebih leluasa untuk keluar dan mencari Autobot. Ada kalanya ia khawatir untuk diburu, tapi bukan berarti ia harus menyerah begitu saja tanpa mencoba melawan. Ia harus tahu tentang siapa dibalik alasan Lockdown membantu Cemetery Wind untuk memburu Transformers. Ia harus tahu apa yang dikejar oleh para manusia hingga bersedia untuk bekerja sama dengan Lockdown.

Ia harus tahu itu.

Disaat matahari semakin naik, panas udara Texas mulai terasa. Mikaela harus beberapa masuk ke toilet perempuan karena khawatir jika make-up yang ia gunakan sebagai penyamaran akan luntur. Ia juga harus memastikan matanya tidak iritasi terkena softlens yang hampir jarang ia gunakan. Mikaela harus memastikan jika sosok Michie itu benar-benar ada.

Ia melangkah keluar.

Langkahnya terhenti saat melihat orang-orang yang memburunya dan Optimus selama beberapa tahun belakangan ini berada di kafe tempat ia bekerja. Mikaela masuk kedalam toilet lagi, lalu mengintip melalui lubang kunci. Ia menyaksikan ada tiga orang yang dikawal oleh empat orang. Mereka tidak membawa senjata, namun Mikaela benar-benar yakin jika mereka pasti menyembunyikan Barretta disuatu tempat dibalik jubah-jubah mereka.

Tiga orang tersebut terdiri dari trio botak, karena hampir semuanya tidak memiliki rambut yang tebal. Pandangan pertamanya jatuh pada James Savoy, berkaca mata hitam berada dibelakang dua orang pria. Ia-pria disebelah barat daya Savoy ada pria tua, berusia sekitar 60 tahun dengan rambut putih. Dan yang terakhir, pria paruh baya dengan kacamata besar, berkepala plontos namun memiliki berewok tipis abu-abu di wajahnya. Ia kenal si kaca mata, karena ia menjadi headline berita utama Amerika akhir-akhir ini.

"Joshua Joyce. Apa yang kau lakukan bersama Savoy?" Ia bergumam. Hal ini membuat Mikaela mencurigai sesuatu, ia harus menghubungi Optimus secepatnya.

Ia mengeluarkan ponsel jelek tahun 2000-an. Optimus sudah mengenkripsi jaringan dan sistem komunikasinya dengan Mikaela agar tidak mudah diretas. Ia memberikan pertanyaan keamanan yang hanya Mikaela yang tahu.

"Security verification. Apa makanan favoritku?" Suara mesin penjawab terdengar.

Mikaela mengerang kesal. "Kau tidak makan burger, Tim." Mikaela menjawabnya kesal. Jawaban sebenarnya dari pertanyaan itu adalah 'energon' tetapi karena banyaknya informasi yang bocor tentang Transformers, Mikaela dan Optimus sepakat untuk menjawabnya seperti itu. Tidak akan ada yang menebaknya, kan?

"Optimus!" Mikaela bersuara, pelan.

"Mikaela. Ada apa?" Optimus menjawab melalui sistem komunikasinya. Commlink.

"Savoy disini; di kafe." Mikaela mendengar dentingan metal bergerak, mengindikasikan Optimus siap bergerak.

"Apa kau baik-baik saja?"

"Aku baik." Ia menjawab singkat, kembali mengintip kearah Joshua, Savoy dan Attinger. "Savoy datang bersama dua orang; aku hanya kenal salah satunya. Joshua Joyce."

"Kau tahu apa yang mereka bicarakan?"

"Entahlah, aku tidak mendengarnya. Mereka nampak berbisik-bisik," jawab Mikaela. "Aku akan mendekat, kau cari informasi apapun yang bisa kau temukan di internet." Ide itu tiba-tiba tercetus dikepala Mikaela seperti gas alam.

"Tidak, jangan! Terlalu beresiko. Mereka bisa saja mengenalimu," ujar Optimus. Ia terdengar khawatir.

"Dengar, Optimus," ia berbicara lagi. "Joshua Joyce adalah pria terjenius saat ini, dan sekarang ia bersama Savoy. Maka itu berarti, siapapun pria itu, pasti ada kaitannya dengan Cemetery Wind, ataupun Lockdown. Aku hanya perlu tahu, setidaknya, nama orang itu," jelas Mikaela.

Mikaela bisa mendengar Optimus mendesah kesal, membuatnya bisa membayangkan kepulan uap yang keluar dari mulutnya. "Just becareful," ujarnya pasrah.

"I know." Mikaela menjawab, lalu menyelesaikan perbincangannya dengan Optimus.

Mikaela melihat wajahnya sekali lagi dicermin, membuka satu kancing kemejanya untuk menarik perhatian mereka. Saat ia sudah berada didekat pintu, ia lalu menarik nafas panjang. Ia memasukkan ponsel jadulnya di kantong celana pendek, lalu membalik badannya untuk melangkah keluar. Ia mulai langkah kecil dengan membuka pintu toilet itu. Tujuh orang, termasuk pengawal tiga orang itu berada dimeja yang terpisah. Savoy, Joyce, dan Attinger duduk di meja yang sama.

Ia melangkah keluar perlahan-lahan, namun memastikan jika salah satu diantara orang itu melihat Mikaela, namun juga tidak mengenalnya. Ia hanya harus sedikit mendekat, dan mendapat sampel nama ataupun informaasi apapun yang bisa ia dapat. Mikaela terus berjalan, berlenggak-lenggok menuju dapur sembari membuat pandangan nakal yang dibuat-buat kepada Joshua. Siapa yang tidak tergila-gila dengan gadis secantik Mikaela?

"Michie!" Kepala dapur dengan suara melengking memanggilnya. Mikaela menjingkat kaget, membuat perhatian Joshua teralih padanya. Mikaela mengetipkan sebelah matanya, membuat Joshua menjadi salah tingkah.

"Michelle Brand!" Suara itu menggema lagi.

"Aku datang!" Mikaela berteriak, lalu dengan cepat ia menuju dapur untuk melakukan apapun yang bisa ia lakukan.

Sementara itu, Attinger, Joshua dan Savoy masih terlihat sedang mendiskusikan sesuatu. Attinger nampak begitu memaksakan kehendaknya, sementara Savoy hanya diam dan menuruti apapun yang diinginkan oleh Attinger. Ia setia sampai mati kepada pria tua itu.

"Attinger, kita telah berhasil mencapai apa yang telah kita impikan. Sekarang, prototype ku telah siap untuk digunakan meskipun aku masih belum bisa mencobanya di depan publik," Joshua, si gundul berkacamata besar berkata. Ia terlihat seperti orang temperasional, banyak omong dan mudah teralihkan. Menyebalkan? Sedikit.

"Tapi kau sudah bisa mengontrolnya, kan?" Attinger bertanya balik.

Ia berdeham, mengusap keningnya. "Sejauh pengamatanku, ya." Ia menjawab, tidak benar-benar bangga dengan apa yang telah ia kerjakan. Sama sekali tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan, meskipun kemampuan prototipe yang ia maksud belum pernah mengecewakan dirinya.

"Ayolah, Joshua! Kau harusnya seharusnya kau gunakan ia untuk membantuku mendapatkan Prime," ujarnya. Ia begitu obsesif, persuasif dan benar-benar haus akan ambisi. "Tanpa asetku, kau tidak akan mendapatkan rongsokan-rongsokkan itu. Dan mimpimu untuk menjaga perdamaian dunia akan tamat."

"Dia terlihat seperti Megatron, sementara seharusnya ia terlihat lebih ramah seperti Optimus Prime!" Joshua sedikit membentak. "Kalian mendapatkan kromosom Decepticon!"

"Orang-orangku mati untuk mendapatkan rongsokkanmu," sahut si kacamata hitam. James Savoy.

"Pikirkan, dengan Seed itu, maka kau bisa membuat ratusan Galvatron. Kau akan bisa mendapatakan ratusan hektar tambang Transformium. Kau bisa menciptakan Transformers-mu sendiri," bujuknya. Lagi.

"Dunia akan damai," Savoy menyahut. Ia selalu setuju dengan Attinger dalam berbagai hal.

Joshua merasa pening dengan bombardir kedua rekan kerjanya ini. Ia baru sampai di Texas beberapa puluh menit setelah menjalani pertemuan dengan pers yang menanyakan pertanyaan lucu, sekarang ia harus menerima doktrin-doktrin dari Attinger. Ia benar-benar butuh piknik. Sebuah piknik yang amat sangat bagus dan benar-benar menyegarkan. Ia hanya tidak tahu apa yang sudah menunggunya didepan.

Tidak lama lagi.

"Attinger, temanku," ia memanggil, dengan penekanan. "Aku tidak akan meluncurkan prototipe ku sampai aku benar-benar yakin keamanannya," tukas Joshua. Suaranya agak meninggi dari biasanya, namun ia tahan ditenggorokan karena ia tahu mereka berada di publik.

Mikaela mencegat salah satu rekan kerjanya yang membawa nampan, diatasnya terdapat makanan-makanan yang masih hangat. Makanan-makanan itu baru saja diolah oleh tukang masak kafe tempatnya bekerja. Kali ini sebuah ide tercetus di kepala Mikaela. "Wes, manager memanggilmu."

"Katakan aku akan datang setelah mengantar makanan di meja 3," jawabnya, ramah.

Mikaela menggeleng. "Tidak, ia tidak bisa menunggu. Biar aku saja yang mengantarkannya," ucap Mikaela. Ia meletakkan tangannya di pundak Wes.

"Benarkah? Terima kasih!" Ia bersorak senang, Mikaela menarik nampan tersebut.

Ia langsung berjalan keluar dari dapur tanpa menunggu Wes menghilang dari hadapannya. Ia mengangkat nampan itu beberapa senti diatas pundaknya, membuat bekas luka tembak akibat ulah Savoy itu terlihat. Mikaela sama sekali lupa jika ia mempunyai luka tembak. Parahnya, luka tembak itu dicantumkan di poster-poster buronan disetiap kota sebagai ciri-ciri fisiknya. Di kafe tempat ia bekerja juga tertempel foto Mikaela Banes, dan truk Optimus, dimana isinya tentang siapa saja yang melihat atau mengetahui keberadaan Mikaela Banes maupun truk dengan lambang Autobot, untuk segera menghubungi Cemetery Wind. Ia sudah berulang kali membuang poster itu saat malam, namun selalu ada yang mengganti dengan yang baru.

Mikaela tidak paham bagaimana manusia-manusia ini begitu bodoh, dan tidak tahu terima kasih. Optimus Prime dan Autobot sudah menyelamatkan bokong mereka tiga kali, dan mungkin empat kali jika dugaannya tentang perang tidak terelakkan. Dan sekarang lihat timbal balik yang diberikan kepada Autobot! Mereka diburu, dikejar, dihancurkan, tubuh mereka digunakan untuk sebuah tujuan yang belum ia ketahui. Apa ada yang lebih gila? Tentu tidak!

Coba bayangkan, kalian adalah pengungsi perang, tinggal disebuah planet asing dimana hampir seluruh spesiesnya ingin kalian mati. Mereka memburu dan membunuh kalian secara brutal, mengambil jantung kalian secara paksa. Apa ada yang lebih buruk lagi selain ini? Tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah gila ini kecuali dengan pertempuran yang lain.

Semua itu dilakukan hanya untuk kebutuhan yang berkedok 'demi kebaikan bersama' yang mengatas namakan kemanusiaan.

Dan Mikaela harus menghentikan ini. Anggap sebagai insting untuk menyelamatkan planetnya dari musuh yang tidak bisa mereka hadapi sendiri.

"Selamat pagi, tuan-tuan.." Mikaela menyapa para pria itu. "Ini pesanan kalian," ujarnya. Ia melihat kearah Attinger, mengerjapkan matanya.

"Terima kasih, nona" ujar Joshua Joyce, tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Mikaela. Sementara Savoy hanya memandangnya, merasa deja vu.

Mikaela yang merasa dipandangi, langsung melihat kearah Joshua. Ia tersenyum balik, memberi kesan malu-malu kucing. Lantas, Mikaela langsung menegakkan tubuhnya. "Kau pasti Mr Joshua Joyce, benar?"

"Itu benar sekali, nona. Bagaimana kau bisa mengenalku?" Ia bertanya. Entah itu pura-pura tidak tahu atau ia hanya ingin merebut simpati Mikaela saja, Mikaela tidak tahu pasti.

"Aku sering melihatmu di TV, dan di koran-koran. Aku juga punya banyak poster dirimu dikamarku," ujar Mikaela. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. "Aku adalah penggemar beratmu," sambungnya. Serius, Mikaela sama sekali tidak tahu banyak tentang Joshua. Ia juga tidak mengidolakannya sama sekali.

"Ah! Kau mengidolakan orang yang benar. Joshua Joyce, jenius yang bisa menciptakan hal-hal luar biasa untuk negaranya," ia membombongkan dirinya sendiri. Seringai Mikaela semakin tajam, ia hampir bisa untuk memancingnya. "Untuk dunia yang lebih baik," sambungnya.

Attinger berdeham, membuat perhatian Mikaela teralihkan kearah si pria beruban. "Tentu saja dengan bantuan Mr Harold Attinger dan James Savoy. Rekan terbaikku," ujarnya.

"Kena kau!" Mikaela membatin, seringainya terbentuk.

"Jadi, yang mana Tuan Attinger, dan yang mana Tuan Savoy?" Ia bertanya. Ia mencoba terlihat semanis mungkin.

"Ini Attinger, dan ini-"

"James Savoy," jawab si pria berkaca mata hitam. Ia masih terlihat mencoba untuk mengingat-ingat wajah Michelle Brand a.k.a Mikaela Banes. Ia bisa melihat gelagat Savoy yang mencoba mengorek ingatannya kembali. Ia terkena ledakan hingga harus dirawat sepenuhnya, ingat?

"Kurasa kau bisa kembali bekerja, Miss-"

"Michelle Brand. Panggil aku Michie," ujarnya kepada Attinger. Ia meletakkan tangannya di pundak Joshua, laki-laki itu semakin tidak berdaya.

"Kurasa kau bisa kembali bekerja, Miss Brand. Kami sedang berbicara bisnis disini," ujar Attinger kasar.

Joshua tertawa pelan. "Kau kasar sekali, kawan. Aku yakin KSI bisa menunggu beberapa menit."

"KSI?"

"Duduklah, nona Brand. Aku akan ceritakan sedikit tentang perusahaanku," ujar Joshua. Mikaela semakin menikmati perannya, karena tidak hanya hampir tidak dikenali sebagai Mikaela Banes. Namun Joshua malah dengan senang hati menceritakannya. Sebuah kesempatan yang amat bagus, dan Mikaela tidak akan membuat ini terbuang percuma. "Kinetic Solutions Incorporated. Kami punya prototipe yang amat bagus untuk menggantikan peran Transformers agar tidak mengacau di Bumi lagi. Kami tidak ingin kejadian seperti di Chicago terulang." ujarnya secara detail.

"Joyce." Attinger memperingatkan.

"Maksudmu, kalian menciptakan Transformers baru lagi, untuk menggantikan peran Autobot?" Joshua mengangguk. Ini belum dimuat di berita, jadi bisa dipastikan Mikaela adalah orang luar yang pertama kali tahu ini. Memancing Joshua lebih mudah dari kelihatannya. "Bagaimana kalian mendapatkan bahan-bahannya?"

"Kita sudah tidak butuh mereka lagi," ujar Joshua. Pernyataan ini membuatnya ingin menginjak wajah Joyce, namun ia mencoba untu mengendalikan emosi demi mendalami peran. " Untu bahannya, kami membawa setiap mayat robot alien yang menjadi korban di Chicago. Kami juga membayar siapa saja yang menjual Transformium kepada KSI dengan harga mahal," jawabnya.

Attinger nampak tidak suka dengan Joshua yang bercerita terlalu banyak.

"Membayar siapa saja yang menjual Transformium. Hmm, jelas mereka punya orang luar untuk itu," pikirnya. Dan Mikaela menduga ada hubungannya dengan Lockdown. Ia harus memberitahu Optimus mengenai ini. "Transformorium, logam yang membentuk mereka, bukan?" Joshua Joyce mengangguk. "Dan itu juga yang membuat kalian, eh, memburu mereka?"

"Kami tidak memburunya, Miss Brand. Kami ingin planet kita kembali," ujar Attinger.

Savoy melihat luka tembak Mikaela di lengan tangan kanannya. Ia ingat benar bekas luka tembak pistol Deagle yang ia tembakkan kearah Mikaela dua tahun lalu, saat dirinya berburu Optimus Prime. Selain itu, cincin di jari Mikaela membuat Savoy semakin yakin karena rune-nya pasti pernah ia lihat saat memasuki kapal Knight Temenos-kapal para Ksatria Prime.

"Apa kau pernah melihat gadis dan truk ini, Miss Brand?" Savoy bertanya, ia mengeluarkan poster dari sakunya.

Mikaela melihat poster itu selama beberapa saat, dan melihat fotonya. Selain itu, disebelah fotonya ada sebuah foto truk jelek dengan lambang Autobot. Optimus Prime. Mikaela mulai yakin jika Savoy curiga terhadapnya, karena hanya dia satu-satunya yang pernah melihat Mikaela secara langsung dibanding Joshua maupun Attinger.

Mikaela memandang fotonya sendiri selama beberapa saat. Hidungnya terlihat lebih besar karena angle yang kurang pas, dan itu membuatnya kesal. "Aku tidak tahu. Tapi aku akan menghubungi kalian jika aku melihat Mikaela Banes," jawabnya.

"Bagaimana dengan truknya? Pernah melihatnya?" Attinger menangkap gelagat curiga Savoy.

Mikaela mengangkat kepalanya serius, kemudian memandang mereka dengan tenang. Ia harus berhati-hati, karena mereka adalah orang-orang yang pintar jadi tidak mudah untuk berbohong.

Selain itu, mereka tampak tidak mudah dibohongi oleh gadis muda sepertinya. Ia harus berhati-hati dalam berucap. Tetap tenang. "Eh, aku melihat banyak truk akhir-akhir ini. Aku tidak yakin itu adalah dia," ujar Mikaela.

"Dia?" Joshua bertanya.

"Kau berkata 'dia', Miss Brand. Bagaimana kau tahu itu adalah dia?" Attinger bertanya.

Ekspresi Mikaela mengeras. Ia benar-benar merasa bodoh sekarang karena secara tidak langsung telah membongkar penyamarannya. Ia mencoba untuk tetap tenang, berpura-pura untuk mengabaikan kesalahannya. "Maksudku, pengemudi truk itu pasti laki-laki, kan?" Tanya Mikaela.

"Kita berbicara tentang truk, bukan pengemudinya." Attinger meletakkan kedua tangannya dimeja, lalu mendekat kearah Mikaela. Ia memandang mata lawan bicaranya dengan tajam.

"Sungguh, aku tidak tahu apapun tentang truk ataupun Mikaela Banes. Dan sebaiknya aku kembali bekerja atau bosku akan marah." Mikaela berkata, mencoba setenang mungkin. Keringat dingin sudah membasahi keningnya, membuat wajah gugupnya terlihat cukup jelas. "Semoga hari kalian menyenangkan," ujarnya sembari mengangkat tangan, pertanda ia selesai dengan apapun yang ia dapatkan. Setelahnya, Mikaela berbalik dan mulai membelakangi mereka. Savoy melihat luka Mikaela.

CLACK

Mikaela merasakan ada logam yang menempel dikepala belakangnya. Rasanya persis sama seperti dua tahun lalu saat Cemetery Wind mendatanginya. Dan kali ini terulang lagi, membuat nafasnya tertahan seperti ada yang tengah mencekiknya. Langkah kakinya berhenti begitu saja, ia tidak bisa bergerak sembarangan karena tidak hanya Savoy yang menodongkan pistol. Tetapi juga orang-orangnya yang duduk di meja dekat pintu.

"Mikaela Banes." Savoy bersuara.

TO BE CONTINUE..

A/N Whoop! Saya balik lagi dengan kapal yang nista ini padahal masih banyak utang fic yang numpuk dan males buat update hehehe...

Sebenernya, ide primorium itu asli dari pikiran saya, dan saya udah googling ternyata Primorium itu gaada. Adanya Primordium atau apalah itu hahah! Yeah, i know banyak part yang gak jelas disini, dan saya Cuma gak tau kudu gimana jelasinnya. Soalnya, saya sendiri kurang srek sama holoform yang bener-bener bertekstur kayak manusia. Tapi, mungkin saya mempertimbangkan beberapa hal lagi untuk hal romans nya. :D

Anyway, saya mau tanya beberapa hal

Satu, haruskah saya masukkan OC saya dan mengapalkannya sama Drift atau Crosshair?

Dua, atau haruskah saya mengapalkan Drift dengan Tessa?

Jawaban dari kalian aakan sangat membantu berjalannya fic ini

WolfShad'z xx