A/N : Akhirnya saya bisa update. Setelah ada kendala berupa flashdisk saya yang berisi kandidat-kandidat chapter yang akan saya upload hilang entah kemana. Jadi merombak ulang alur cerita, karena mungkin beda dengan update yang ada di mendiang flashdisk saya itu. Tapi saya usahakan tidak terlalu OOC, maupun melancong terlalu jauh dari plot aslinya.

Yah, semoga untuk chapter berikutnya bisa saya upload minggu-minggu ini.

.

.

.

.

Disclaimer : Transformers bukan punya saya. Cerita ini hanya dibuat untuk tujuan berekspresi, berkarya dan bermajinasi, tanpa memungut biaya sepeser pun.

Tittle The Knight of The Night : New Hope

Rating T untuk bahasa dan umpatan. M untuk kekerasan.

Genre : Adventure, Drama, Romance dan Friendship

Summary : Mikaela Banes, bersama Pemimpin Autobot harus bertahan hidup sebagai buronan Cemetery Wind. Mereka tengah bersiap untuk menghadapi petualangan besar yang sudah menunggu didepan mata. Apakah mereka akan berhasil? Atau, salah satu diantara mereka akan gugur?

Warning : typo, tata bahasa yang kacau. Umpatan, dan kata-kata kotor. Kekerasan

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

"Laserbeak." Dia berdiri dari reruntuhan gudang jauh dari perkotaan, yang kin ia jadikan rumah sekaligus tempat persembunyian dari Cemetery Wind, maupun dari manusia. Ia, robot beroptik tunggal, Shockwave dan Laserbeak harus hidup dalam persembunyian. Soundwave telah lama offline sejak pertarungan di Chicago bertahun-tahun lalu.

Dia mengira, sebelumnya, jika hanya dirinya satu-satunya Decepticons yang selamat mengingat ia masih memiliki waktu untuk melarikan diri. Sampai ia menemukan Laserbeak, yang dikiranya sudah offline bersamaan dengan masternya, Soundwave. Shockwave adalah robot insinyur penyendiri, dengan loyalitas tanpa batas kepada Megatron, dan Laserbeak yang mana secara tidak langsung adala bagian dari Soundwave. Mereka tidak terlalu mengenal satu sama lain karena reputasi Shockwave sebagai perwira Megatron, jelas tidak sebanding dengan mini-cons seperti Laserbeak.

Namun keadaan mengubah mereka menjadi koalisi yang solid. Mereka bertahan bertahun-tahun dari kejaran Cemetery Wind. Laserbeak yang jauh lebih kecil daripada Shockwave bisa lebih mudah mengintai, sementara ia mengambil keuntungan dariShockwave sebagai pelindungnya. Disamping itu, tidak banyak energon yang bisa mereka temukan ditempat itu, dan Shockwave merasa perlu untuk berpindah ketempat dimana energon bisa menopang hidup mereka.

Laserbeak menjawab panggilan sang master pengganti Soundwave dalam bahasa Cybertron, "Tidak ada energon lagi, master."

Baik Laserbeak maupun Shockwave tidak tahu bagaimana mereka bisa bertahan hidup. Didalam ingatan Shockwave, ia ingat betul ketika Prime hampir memenggal helmnya, yang membuat beberapa sirkuit didalam helmnya rusak dan membutuhkan reparasi dari insinyur maupun dokter yang sungguhan, jika Knock Out ada, mungkin Shockwave dan Laserbeak tidak akan selemah ini.

Sungguh jika bukan karena ulah Wheelie dan Brain yang telah menjatuhkan pesawat luar angkasa itu, mungkin Shockwave tidak akan punya kesempatan untuk kabur. Ia saat itu tahu jika Megatron dan Sentinel Prime akan kalah. Dan mungkin, ia mengkhianati kesetiaannya tetapi ia tidak bisa bertempur dengan keadaan seperti itu, dan ia pun tahu meski ia memaksa, semuanya akan sia-sia. Jadi menyelamatkan diri adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan.

Bagaimana ia bisa berlindung dari Cemetery Wind?

Ia adalah robot insinyur, ia bisa berkamuflase menjadi truk tua rongsokan dengan mengoffline-kan sementara sistemnya sampai waktu yang menurutnya cukup aman. Dan pertemuannya dengan Laserbeak terjadi ketika mereka berada di tempat persembunyiaan yang sama, tempat kendaraan rongsokan. Itu adalah awal dari koalisi mereka; simbiosis mutualisme. Meskipun disisi lain, Shockwave tahu ia tidak bisa mempercayai pengecut seperti Laserbeak, tapi ia satu-satunya yang bisa ia andalkan saat ini.

Shockwave sama seperti makhluk Cybertron pada umumnya. Ia sama seperti Megatron, dan ia sama seperti Optimus Prime. Ia punya spark, dan ia—tanpa ia sadari—memiliki jiwa dan sesuatu yang manusia sebut sebagai 'hati'. Ia hanya terlalu logis untuk menggunakan emosi, atau setidaknya itu yang menurutnya baik. Cukup benar dalam berbagai aspek.

"Kalau begitu kita harus pergi." Shockwave langsung bertransformasi kebentuk truk semen tua yang berkarat, tidak ada bedanya dengan Optimus Prime dua tahun lalu. Yang membedakan mereka adalah, Shockwave kehilangan 40% daya kendali tubuhnya. Itu berarti, ia tidak lagi memiliki daya untuk menggunakan senapan plasma, dan laser.

Laserbeak mengangguk, kemudian langsung ikut menyatu dengan truk semen Shockwave, sebagai penghias bagian bumper dengan bentuk burung mirip flaminggo menghadap kesamping, berwarna perak kotor. Ia—Shockwave sama sekalijauh dari gelar 'Insinyur Terhormat' yang pernah disandangnya semasa Megatron masih jaya dulu.

Dan untuk sekarang, Shockwave dan Laserbeak hanya harus terus berkendara sampai mereka menemukan sumber energon yangcukup, setidaknya untuk beberapa tahun kedepan. Namun jika tidak, well, biark waktu yang menjawab itu.

"Haruskah aku mencoba mengirim transmisi lagi, master?" Laserbeak menawarkan satu-satunya media dimana harapan mereka tertump; mendapatkan transmisi dari Decepticons yang lain.

"Tidak ada gunanya," jawab Shockwave singkat.

"Tidak ada salahnya mencoba lagi, Master."

Shockwave tidak menjawab, artinya semua keputusan dikembalikan kepada Laserbeak sendiri. Ia hanya akan sibuk dengan self-repair yang progressnya begitu lamban.

Setidaknya, jauh didalam spark Shockwave, tertanam harapan jika ia tidak akan sendiri.

Tidak lagi.

-oOOOo-

Pukul empat pagi, Sandra masih belum tidur juga. Ia masih duduk menghadap komputernya dengan jari-jemari yang tak henti-hentinya beradu dengan keyboard komputernya. Suara tik-tik-tik memenuhi ruangan, menggema hingga lebih pantas disebut musik ketimbang suara keyboard komputer. Pupil mata cokelatnya membesar lalu mengecil, menyelaraskan cahaya kontras komputer dengan kamarnya yang remang-remang. Tidak ada raut wajah membunuh, hanya ada kebingungan semata.

Ia mencoba menerobos masuk kedalam sistem dari Cemetery Wind, untuk memantau aktivitas mereka. Tetapi Sandra mengalami kesulitan. Sistem keamanannya lebih kuat daripada situs-situs berkelas yang pernah ia retas. Bahkan, NEST pun tidak serumit ini. Boleh jadi, perkembangan jaman yang membuat keamanan yang dibuat oleh Cemetery Wind begitu kuat. Kau tahu, banyak bahasa pemrograman baru, dan Sandra tidak menguasai semuanya.

"BRENGSEK!" Sandra mengumpat marah, ia bahkan hampir meninju dua monitor komputer didepannya.

Enam jam ia mengetik script-script yang bahkan lebih panjang dari sebuah novel, namun tidak membuahkan hasil. Berulang kali ia mengirimkan serangan, namun akibat server backbone yang dimiliki oleh Cemetery Wind, membuat serangannya kembali ke Sandra. Beruntung, proxy mahal dan IP palsu yang dibuatnya tidak dapat dideteksi, dengan mudah. Lokasi yang dimiliki Sandra berpindah setiap sepuluh detik, dan ini pula yang menjadi senjata utamanya dalam hal retas meretas.

Kriing kriiing kriing

Ponselnya berbunyi. Ia lagi-lagi mengumpat, ditambah rasa kaget dan mata yang ia putar. Sungguh, siapa yang memanggilnya di pagi buta seperti ini. Bahkan, matahari pun juga belum naik, tetapi ada manusia yang menghubunginya. Hal yang dibenci Sandra selain keramaian adalah panggilan suara, apalagi video. Baginya, panggilan suara maupun video itu sangat mengganggu kenyamanan dan me-time nya. Lebih baik, kalau ingin menghubungi Sandra, sms saja sudah cukup. Itu pun kalau ia tidak lupa membalasnya.

Ia memandang ponselnya beberapa saat, ragu untuk mengangkatnya atau tidak. Ia sedang tidak ingin bicara, walaupun rasa penasarannya lebih kuat daripada rasa malasnya itu. "Ya, apa kau tidak tahu jam berapa ini?" Jawabnya ketus. Nomor pemanggilnya tersembunyi, jadi ia langsung naik darah.

Wajar saja dia marah. Bayangkan, kau tidak tidur karena sedang melakukan misi 'menyelamatkan dunia' melalui internet, dan kau gagal karena seranganmu dikembalikan. Kemudian pada jam yang sama, pukul empat pagi, ada nomor tersembunyi yang sedang menghubungi mu melalui telepon. Siapa yang tidak marah? Atau lebih tepatnya, siapa yang tidak takut?

"Easy, kid. Ini aku" Suara wanita menjawab.

"Aku siapa?" Sandra marah. Harap maklum, temperamen gadis ini sangat tinggi, jadi amat mudah marah. Ia ingin menanyakan kenapa Mikaea meneleponnya, tetapi sesuatu yang lebih privat dan penting untuk dirinya, mengganggu pikirannya. "Bagaimana kau mendapatkan akses ke ponselku?"

Tentu saja Sandra menanyakan ini! Ponsel kepunyaannya itu seharusnya sudah terenkripsi dengan amat sangat rahasia, jadi tidak semua orang bisa menghubunginya. Kecuali, kau adalah alien robot dengan kecerdasan yang puluhan kali lebih unggul daripada manusia. Yeah, Sandra harus mencatat itu.

"Catatan penduduk sipil," Mikaela menjawab. "Astaga, kau ini rajin sekali membayar pajak," kritiknya.

Tidak perlu diteruskan, Sandra sudah tahu siapa yang meneleponnya. Adalah Mikaela Banes yang mungkin dengan bantuan Optimus, atau mungkin Drift yang telah menerobos sistem keamanannya. Ini sudah masuk kategori pelanggaran berat, namun Sandra juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena mereka harus mencari akses yang aman.

"Ada apa menelepon ku pagi-pagi begini?" Sandra mengabaikan kritik Mikaela tentang pajak.

"Kemarilah," perintahnya, "dia ingin berbicara."

Itu pernyataan yang ambigu. Cade Yeager adalah yang pertama ia ingat, karena satu-satunya laki-laki manusia yang tahu menahu tentang transformers. "Dia siapa?"

Sandra mendengar Mikaela mendesah kesal. Ia tahu jika ia tidak dapat menyebut nama Optimus di telepon, meskipun itu sudah terenkripsi. Ia hanya tidak bisa mengambil resiko kehilangan Optimus lagi, atau sebaliknya. "Dia, Haner. Dia yang bangun dari tidurnya," jawabnya penuh sarkasme.

"Ah." Sandra menyadari apa yang ia lewatkan.

"Datanglah kemari, dan bawa kotak hitam itu. Akan ia jelaskan begitu kau tiba," perintah Mikaela lagi. Ia mondar-mandir dihadapan Optimus.

"Ya. Aku akan tiba secepat mungkin," tangkasnya seraya memberi sebuah kepastian.

-ooOOoo-

Butuh waktu setidaknya setengah jam untuk sampai dirumah Cade Yeager, belum lagi Sandra masih dalam keadaan mengantuk. Tapi ia tidak punya pilihan lain, ia mau tidak mau harus tetap kesana. Motornya berhenti didepan kedai kopi yang buka 24 jam untuk membeli segelas kopi hitam pahit. Ia tidak bisa berkendara dalam keadaan mengantuk, mengingat beberapa bagian di daerah Texas berkelok-kelok dan harus benar-benar waspada.

Saat motornya kembali berpacu dijalanan dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba terlintas dibenak Sandra mengenai pertempuran di Chicago. Ia tidak melihat secara langsung ditempat kejadian, namun ia melihat secara langsung dari monitor komputernya saat tengah video call dengan ayahnya, bagaimana Sentinel Prime meledakkan markas NEST kala itu. Ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ledakkan itu membuat ayahnya mengalami luka-luka berat-yang membuatnya koma saat ini.

Tepat ia koma, Richard Haner, ayah dari Sandra, memberikan kotak hitam berlogo Autobot itu kepada Sandra. Richard berpesan, kotak itu hanya bisa dibuka oleh Optimus Prime, atau Prime sejati. Tak ada yang tahu kenapa hanya Prime yang bisa membukanya, dan Sandra pun tidak pernah memiliki kesempatan untuk menannyakan ini kepada ayahnya. Kendati demikian, bukan berarti Sandra diam saja. Jika bukan karena ayahnya, Sandra tidak akan balapan dengan Cemetery Wind untuk mencari keberadaan Transformers, terutama Optimus Prime.

Ia memang gadis yang aneh, dan pelupa. Ia sudah menemukan Optimus lebih dulu tempo hari, bahkan sudah berbicara cukup panjang lebar. Tetapi ia sama sekali tidak ingat tentang kotak hitam itu sedikitpun. Bahkan jika Mikaela tidak meneleponnya, Sandra tidak yakin akan ingat tentang betapa penting kotak itu nantinya.

Lamunannya terganggu tatkala menyadari motornya melaju semakin pelan ditengah-tengah jalan yang diapit oleh lembah berbatu yang besar. Sepuluh detik kemudian, motornya berhenti tepat didekat tambang yang sudah tak lagi beroperasi. Sandra Ia hanya bisa mengumpat marah, karena puluhan kali ia menghidupkan motornya, namun tidak juga bisa menyala. Anehnya lagi, ia menyadari jika jam tangannya juga ikut mati, hanya jarum jam nya saja yang bergerak berulang kali-maju mundur. Seingatnya, ia baru membeli jam tangan Rolex ini tiga bulan lalu, jadi amat tidak mungkin jika jam tangan sekelas Rolex akan kehabisan baterai dalam waktu tiga bulan saja.

"Sungguh?" Desahnya.

Ia tidak punya pilihan lain selain menelepon Cade Yeager untuk menjemputnya, atau siapapun yang bersedia. Maka ia rogohlah saku jaketnya, dan mengambil ponsel layar sentuh yang telah terenkripsi dengan aman itu. Dan lagi-lagi hal yang tidak diinginkan terjadi. Ponselnya tidak berfungsi, hanya kedipan-kedipan hitam putih dan bergetar.

"Ada sesuatu yang salah."

Itu adalah hal yang terlintas di pikiran Sandra. Bagaimana tidak? Pertama motornya tiba-tiba mati tanpa sebab, padahal tidak ada yang salah. Kedua arlojinya mengalami malfungsi. Ketiga, ponselnya bergetar dan berkedip secara ganjil. Ia mengabaikan pikirannya mengenai kotak hitam itu sejenak, kemudian menyandingkan jam tangan dan ponselnya secara berdekatan.

Satu detik = satu titik. Dua detik = garis.

Lampu menyala sekali = satu titik. Getaran panjang = garis.

Morse.

Ada yang sengaja mengirim kode morse kepadanya, atau kepada siapapun yang melintas. Ia pernah diberi tahu ayahnya, tidak semua anomali dapat menyebabkan malfungsi dari alat-alat elektronik. Namun, jika ada alat elektronik yang mengalami malfungsi akibat suatu anomali, kemungkinan besar ada gelombang berkekuatan tinggi berada disekitar, atau tengah bekerja. Dan, tenaga berkekuatan tinggi itu tidak selalu bagus, bisa jadi itu adalah radiasi berkekuatan ratusan, bahkan jutaan Kilo Joule.

"Shit!" Sandra menendang motornya. Ia mencoba mengotak-atiknya, namun percuma. Semua mati.

Sandra memarkirkan motornya ditepi jalan, ia tidak punya pilihan untuk menunggu atau berjalan sendiri sampai ke kediaman Yeager. Misi menyelamatkan dunia mungkin ada ditangannya, dan ia tidak akan mengorbankan itu demi motor bututnya itu. Jadi, ia membawa ranselnya, dan terus berjalan sampai beberapa kilometer kedepan. Ia menyesal tidak membawa mobil.

Dua jam ia berjalan, kira-kira sudah lima kilometer dari tempat awalnya tadi. Namun ponselnya masih juga tidak berfungsi. Jika ia tidak salah prediksi, mungkin ini sudah pukul tujuh atau delapan pagi. Tapi pagi itu begitu panas, dan tak ada satu pun kendaraan yang lewat sejak dua jam. Ia tidak kaget, karena mungkin mereka bernasib sama seperti Sandra.

Ia berpikir, bisa jadi ada suatu magnet raksasa dibawah jalan tempat ia melangkah saat ini. Bisa saja tiga kali lebih besar dari Menara Eiffel. Tapi itu tak masuk akal. Jika ada magnet, maka benda logam yang ada didalam tasnya itu akan tertarik dan menempel diatas aspal. Tetapi hipotesa lain menegaskan jika mungkin ada suatu sumber radiasi asing dengan gelombang kuat, yang mungkin bukan berasal dari Bumi. Gelombang yang mungkin secara tidak sengaja kehilangan kendali, atau digunakan untuk melacak bahkan merusak sesuatu.

Yang menjadi pertanyaannya adalah, siapa yang mengaktifkan energi besar ini?

Beep Beep

Sesuatu dari tas nya berbunyi.

Kotak hitam itu berbunyi dan mengeluarkan suatu seperti proyektor berukuran 10x8 cm. Secara aneh kotak itu bergeser dan muncullah tombol aneh muncul diatas kotak hitam yang memiliki berat 2 Kg itu. Sandra ingin mencoba menekan sesuatu disana, namun ia tidak memahami bahasa macam apa yang tertulis disana. Yang jelas itu bukan tulisan pinyin, maupun hangul. Jelas pula bukan hiragana. Rune kuno pun tak seperti itu.

"Fuck! Now, what?!" Sandra mengumpat, bersamaan dengan itu ia melihat ada kendaraan mendekat dari kejauhan. Secara langsung ia menutup dengan menyelorokkan balik kotak hitam itu ke posisi semula. Ia memasukkannya kembali kedalam tas.

Akan tetapi, Sandra mengernyitkan wajahnya. Ia melihat arlojinya, masih tidak berfungsi. Lalu pertanyaan lain muncul, bagaimana mesin truk semen itu bisa tetap hidup jika jarum jam di arlojinya saja masih berputar tidak jelas?

Sesuatu dalam diri Sandra mengatakan ini semua berkaitan. Dan ia harus tahu ujungnya.

Ia menodongkan ibu jarinya, mengharapkan tumpangan dari truk semen itu.

-ooOOoo-

"Master, ada manusia yang meminta tumpangan pada kita." Laserbeak berkata, sembari memperhatikan jalan.

Optik Shockwave tertuju pada Sandra yang berkeringat, dan kotor. Ia menduga, jika gadis itu sepertinya sudah berjalan cukup jauh, dan tentu sebagai robot insinyur ia tahu alasan kenapa banyak orang berhenti didekat kendaraan mereka, dan sebagian besar meninggalkan kendaraan mereka. Ada yang mengakifkan energi kuat disekitar sini. Mungkin, ia bisa menyelidikinya, namun ini bukan tempat yang tepat untuk meneliti. Energinya masih lemah untuk diteliti oleh Shockwave.

Shockwave tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan holoformnya. Ia mempunyai rencana yang hanya ia sendiri yang tahu. Laserbeak tidak akan setuju, tapi ia tidak akan mempedulikan bawahannya yang lemah dan pengecut itu.

"Master! Sebaiknya kita tidak berurusan dengan manusia lagi." Laserbeak berkata.

"Aku punya rencana," jawab Shockwave singkat. "Manusia itu akan berguna untuk kita."

"Aku mengerti, master."

Sandra menunggu hingga truk berkecepatan tinggi itu berhenti. Awalnya ia mengira truk semen itu tidak akaan berhenti, namun ia salah. Ia hanya berhenti beberapa meter lebih jauh dari tempat Sandra berdiri. Gadis itu hanya bisa mengutuk dirinya sendiri karena harus terlibat dengan urusan yang menyusahkan ia nantinya. Ditambah, ia curiga jika truk itu adalah transformers yang lain menngingat tidak ada penjelas jika truk itu Autobot atau Decepticon.

Sandra berlari, seraya Shockwave membuka pintu sebelah kirinya. Saat Sandra tiba, ia melihat ada seorang lelaki berpakaian jas lab yang sudah kotor dengan kacamata. Rambutnya tebal, namun agak pendek dan berantakan, menutupi sebelah mata merah yang tidak bisa dilihat Sandra. Itu adalah mata asli dari Shockwave, dan mata satunya yang tidak tertutupi hanyalah sebuah holoform kosong. Cukup tampan, hanya saja terlalu kotor.

"Apa yang bisa ku lakukan untukmu, man-nona?" Suaranya besar, dan seperti seorang yang tak pernah bicara selama berabad-abad. Kuat, tanpa intonasi.

Sandra melihat ke pengemudi truk itu agak ragu. "Uh, hai! Boleh aku menumpang sampai ujung jalan? Aku kelelahan," pintanya.

"Dengan senang hati, nona." Shockwave memaksakan senyuman janggal yang mengerikan, Sandra semakin ragu ketika melihat gigi si pengendara memiliki taring lebih panjang. "Naiklah," sambungnya.

"Tentu! Terima kasih!" Sandra langsung melompat naik keatas truk. Ini kali pertama Shockwave melakukan kontak langsung dengan manusia.

Shockwave menjalankan dirinya begitu Sandra sudah menutup pintu. Mata hitam kecoklatan Sandra melihat sekeliling, mencoba untuk menemukan sesuatu yang ganjil. Ia-Shockwave menyadari gadis ini sebenarnya agak takut terhadapnya. Ia bisa merasakan getaran itu dari sensor panasnya. Dan ia tahu, tampaknya si gadis yang ia beri tumpangan itu bertanya-tanya kenapa truknya tetap berjalan.

"Kenapa kau berjalan?"

Sandra memandang Shockwave, sedikit menyimpulkan kekonyolan pertanyaan logis itu. "Motorku mogok, dan aku sedang buru-buru," jawabnya. Ia tidak berani memandang Shockwave.

"Kau tidak bisa memperbaikinya?"

"Sebennarnya bisa. Hanya saja aku tak bisa," jawabnya. "Maksudku, tidak bisa diperbaiki lagi."

"Ah," sahutnya. "Sudah memeriksa radiatornya?"

Sandra bersandar di jok, memejamkan mata sebentar kemudian menyadari ia sudah cukup dekat ke tujuannya. "Aku sudah periksa semua, tapi tak ada masalah. Seperti ada anomali yang menahan motorku," Sandra kelepasan bicara. Ia tidak bisa menahan arogansinya.

Shockwave mengangkat alisnya sebelah, seringai tipis terbentuk. "Anomali?"

"Ya, atau mungkin aku belum memeriksa pipa pembuangannya."

"Boleh jadi," jawab Shockwave pura-pura percayaa.

Dalam audionya, Laserbeak menyela dengan frekuensi yang hanya bisa didengar oleh makhluk Cybertron. "Master, gadis ini tahu sesuatu. Aku tahu kauu tahu."

"Aku tahu. Aku harus memancingnya untuk bicara lebih," jawabnya dalam frekuensi yang sama.

"Siapa namamu?" Shockwave mengalihkan topik, kembali ke Sandra.

Sandra berpikir lagi sebelum menjawab. "Bertha Blade," jawabnya. Bertha Blade adalah nama dari kawan masa kecilnya, yang tidak pernah ia sukai karena ia adalah orang paling menyebalkan yang pernah kau temui. Bukan karena dendam personal, namun nama Bertha Blade yang muncul di benaknya. "Kau?"

"Kau bisa memanggilku," Shockwave belum menjawab. Ia mencari nama yang tepat untuknya, agar tidak berkesan terlalu alien atau terlalu robotic, "Choc," sambungnya.

"Kau tahu dia berbohong, master." Laserbeak sudah melakukan penelusuran dengan sensor wajah. Ia memberikan detail identitas dari Sandra sebagai berikut :

Klasifikasi Identitas :

Nama : Sandra Hades Haner

Tempat Lahir : Frankfurt, Jerman

Tanggal : 20 April 1997

Keluarga : Richard & Margaretha Haner. Annabeth Haner.

Tipe Darah : A

Kewarganegaraan : Inggris dan Jerman

Alamat : Austin, Texas

Pekerjaan : -

Status : Unmarried

Shockwave agaknya terkejut ketika melihat nama Richard Haner disana. Ia memindai ulang kembali data pribadi mengenai Richard Haner dari catatan sipil. Ia pernah mendengar namanya beberapa kali, terlebih mengenai percakapan Megatron dengan Sentinel Prime yang pada saat itu masuk kedalam NEST. Dari Laserbeak, ia mendengar pula jika ilmuwan Richard Haner ini memiliki peran penting dalam pengembangan senjata-senjata yang digunakan Autobot saat pertempuran Chicago.

"Jadi rumor itu benar?" Ia berbicara melalui commlink.

"Rumor, master?"

"Prior Plasma."

Laserbeak belum menjawab, ia mengolah CPU nya terlebih dahulu sebelum menjawab dengan bijak Ia pernah menguping obrolan Galloway dengan Richard Haner mengenai Prior Plasma. Prior plasma adalah sebuah senjata terbaru, perpaduan antara senjata manusia yang dikolaborasikan dengan teknologi Cybertron. Rumornya, jika prior plasma aktif dan ditancapkan di tubuh Transformers, spark mereka akan hancur menjadi debu.

Laserbeak sendiri belum mengetahui secara spesifik mengenai bentuk dan rupa dari Prior Plasma. Richard bersama dengan Wheeljack atau Que serta bersama Brain, merancang agar Prior Plasma tidak dapat dilacak baik oleh Autobot maupun Decepticon. Tetapi kelemahan dari Prior Plasma ini adalah dapat membangkitkan anomali ganjil, seperti yang terjadi saat motor Sandra kehilangan daya.

"Dimana Richard Haner?" Ia berucap langsung, membuat Sandra menggertakkan giginya. Mata cokelatnya mendelik memandang jalanan yang sepi nan panjang.

"S—Siapa kau?" Ia memberanikan diri untuk bertanya. Ia membatin tentang bagaimana pria itu bisa mengetahui Richard Haner padahal ia sama sekali tidak menyebutkan identitas aslinya.

Shockwave menoleh kearah Sandra, namun perlahan-lahan holoformnya terkikis hingga menjadi pixel-pixel abstrak. Disinilah Sandra mulai menyadari jika pria bernama 'Choc' ini bukanlah manusia. Kemudian lambang Decepticon muncul diatas kemudinya, membuat Sandra semakin kesulitan menelan ludahnya.

Shockwave tidak menjawab apapun, namun ia langsung bertransformasi ke bipedal mode nya, membuat Sandra terlempar beberapa meter diatas lembah bebatuan yang keras. Ia berguling-guling, dan baru berhenti ketika kakinya menabrak batu besar. Baju hitamnya menjadi bercampur tanah kering, wajahnya menjadi kotor.

"Ouch.." Sandra mendesah kesakitan, merasakan tulangnya bergeser. Ia mungkin akan kesulitan untuk berdiri.

Ketika ia sadar masalahnya belum selesai, Sandra memaksakan dirinya untuk berdiri. Namun ia terjatuh lagi, bersamaan dengan Shockwave dan Laserbeak yang telah menunjukkan bentuk aslinya. Optik tunggal Shockwave menangkap Sandra mencoba untuk melarikan diri, dan jelas ia tidak bisa menghubungi siapapun. Pertama ponselnya mati, kedua ia tidak bisa mengambil resiko Cemetery Wind akan ikut campur. Dan jika Cemetery Wind ikut campur, urusannya akan semakin rumit, lebih panjang tentunya.

Sandra berlari tertatih-tatih, meloncat-loncat dengan satu kaki karena kaki satunya tidak dapat memijak tanah. Ia menoleh sekilas, melihat ada burung logam terbang kearahnya. Ia mempercepat langkah nya, namun ia terjatuh lagi ketika si Laserbeak menerjang kakinya. Tanah dibawahnya bergetar, seraya langkah kaki Shockwave semakin nyaring ditelinganya.

"Dimana Richard Haner!" Ia menodongkan senjata mesin kehadapan Sandra.

Ia melihat robot Cyclops besar—mata merah tunggal, yang mengingatkannya pada Mike Wazovsky dari film kartun Monster series. Diwajahnya yang abstrak itu terdapat luka yang parah, hingga Sandra bisa melihat helmnya hampir copot. Tanduknya tidak seimbang, seolah memang patah saat perang, atau memang sudah dari sananya. Tapi satu hal yang tidak bisa dihindari oleh Sandra, robot Cyclops ini cukup keren.

"Oh, fuck." Hanya itu yang bisa dikatakan Sandra.

TO BE CONTINUE...

A/N : Well, saya pikir saya perlu menambahkan Shockwave. Soalnya, dia Cons favorit saya selain Megatron. Awalnya saya mau nambahin Megatron, tapi kok kasian dia gak mati-mati jadi mungkin di chapter depan saya kasih muncul dia di chapter-chapter tertentuaja.

Yang menjadi pertanyaan saya, haruskah saya merubah Shockwave menjadi sekutunya Autobot, mengingat mereka melawan musuh yang sama?

Last but not the least, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin!