Universitas Internasional Rakuzan tengah ditimpa gempa bumi.

Hanya gara-gara kedatangan pemuda merah penunggang Ferarri.

Pemuda yang sama yang selalu memarkir kudanya di parkiran utama kampus setiap pagi. Pemuda yang sama yang selalu menghujamkan tatap penuh kuasa dan pekat aura intimidasi. Pun juga pemuda yang sama yang menjadi incaran mayoritas mahasiswa untuk dimiliki, baik perempuan ataupun laki-laki.

Pasalnya, pemuda most wanted itu tidak lagi datang seorang diri.

Biasanya, setelah memarkir si kuda merah, pemuda itu akan langsung melenggang pergi dengan tampang tak peduli. Rutinnya, pemuda itu akan langsung masuk kelas kalau kebetulan ada jadwal kuliah pagi. Atau langsung melesat ke kantor BEM dan menenggelamkan diri dalam gundukan tugas selaku pemegang salah satu tampuk kekuasaan tertinggi organisasi.

Tapi sungguh sangat berbeda dengan yang dilakukan pemuda itu pagi ini.

Karena setelah menutup pintu di samping jok pengemudi, pemuda itu tidak langsung pergi. Bahkan tak ada yang mengira kalau pemuda itu akan membukakan pintu jok penumpang di sebelah kiri. Apalagi sampai menduga jok penumpang itu pada akhirnya akan ada yang menempati.

Sampai minggu kemarin, pemuda itu dipastikan masih sendiri. Belum ada seorang pun yang pernah dicurigai dan disinyalir menjadi gebetan, teman kencan, atau bahkan pacar setengah hari. Dan jelas belum ada seorang pun yang didaulat secara resmi mendapat gelar tertinggi sebagai sang kekasih hati. Tidak perempuan, apalagi laki-laki.

Tapi keyakinan itu dipatahkan pagi ini. Saat pemuda itu datang bersama seorang pemuda secantik malaikat nan memikat hati. Apalagi tanpa sungkan, pemuda itu merangkul mesra sang malaikat, lekat di dada kiri.

Astaga, bencana alam macam apa ini?!

Berpasang-pasang mata menatap sepasang sejoli itu dengan hati remuk lantaran patah hati. Sebagian yang masih waras menatap dengan pandangan iri tingkat tinggi. Sebagian lagi nyaris mengalami wabah buntung jari gara-gara mendadak hilang kesadaran dan menggigiti jari sendiri.

Berawal dari sekian puluh saksi mata yang beruntung karena datang pagi-pagi. Entah karena sungguhan punya kelas pagi atau mendadak rajin demi menyalin tugas teman sekelas gegara ngeri pada dosen killer yang gemar menguliti.

Lalu beranjak pada impuls otak yang memerintahkan tangan agar meraih ponsel di saku masing-masing demi mengabadikan panorama langka pasangan –yang dicurigai- baru jadi, tapi langsung berefek mengguncang bumi.

Lanjut pada reflek posting foto dan video amatir, lengkap dengan kronologi detail di socmed-socmed, website resmi, bahkan komunitas terselubung demi menyebarkan informasi. Tidak lupa cara-cara konvensional macam sms dan email, dikirim kilatdemi membuat melek kawan-kawan sesama penghuni Rakuzan yang masih ngorok dan tenggelam di alam mimpi.

Padahal pasangan yang mendadak jadi hot news itu belum sampai menginjakkan kaki di kelas mereka sendiri. Tapi berita sudah menyebar secepat tumpukan daun kering yang dilalap api.

Bagaimana tidak cepat, kalau sampai OB dan tukang kebun yang bercokol di pojok belakang ikutan menatap ponsel dengan raut tercekat?!

Ditambah fakta bahwa informasi ini dijamin 100% akurat karena dilaporkan langsung dari TKP oleh para saksi. Dan distempel dengan sumpah berani mati oleh para fans fanatik yang setia ngintilin sang pemuda saban hari.

Tak bisa dipungkiri, apalagi dihindari. Akan datang bencana tsunami air mata susulanyang melanda kampus Rakuzan sebentar lagi.

~ ~ aish ~ ~

Disclaimer :

Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi sensei

Rated : masih T kayaknya

Genre : Romance (failed!), Drama (failed!)

Warning : BL, Yaoi, Typos, gaje, abal, OOC akut!

Apapun yang dirasa tidak logis dalam fict ini, mohon dimaklumi!

DLDR, bro...! It's simple. (cz you've been warned)

TOGETHER FOREVER

An 'I Found You's Sequel

By AISH

~ ~ aish ~ ~

"MAYUZUMI TETSUYA?!"

Sekian wajah tak percaya disuguhkan di depan mata, hanya ditanggapi dengan ekspresi tembok khas Tetsuya. Si baby blue justru asyik menyesap tetes-tetes terakhir susu kocok vanilla.

Sedangkan Seijuurou gerak cepat menutup kedua telinga Tetsuya. Khawatir semburan histeris ala petasan renceng kawan-kawannya melukai indra pendengaran kekasihnya.

Seijuurou mendecih. "Tidak bisakah kalian bersikap biasa saja?"

Yang berhasil mempertahankan ekspresi cool hanya Chihiro dan Shintarou saja.

Bedanya, raut super lempeng Chihiro memang sudah dari sananya. Meskipun saat ini iris kelabu pemuda itu menyiratkan kilat berbahaya.

Hanya mereka yang diberkahi ekspresi yang serupa, serta mereka yang benar-benar pasang mata, yang tahu bahwa pemuda itu sedang mendidih ubun-ubunnya. Tangannya sudah sangat gatal ingin melempar novel setebal 1000 halaman dalam genggaman ke kepala merah si kohai kurang ajar yang berani memeluk Tetsuya di depan hidungnya.

Sedangkan Shintarou jelas hanya pura-pura. Ekspresi terkejut ditutupi dengan kebiasaan membenarkan letak kacamata. Meng-on-kan mode tsundere seolah tidak peduli, padahal aslinya penasaran setengah mati.

Pasalnya, teman satu SMA yang 3 tahun lalu hilang tanpa kabar mendadak muncul begitu saja. Bukan hanya berhasil membuat satu kampus geger di pagi-pagi buta, si baby blue juga dengan santai mengumumkan kalau dia ganti marga.

Sementara teman-temannya yang lain, yang kebetulan ikutan nimbrung di kantin, pasang wajah melongo versi masing-masing. Shigehiro masih menyumpal kedua lubang kuping dengan jari kelingking. Gara-garanya, suara cempreng Reo, Kotarou, dan Kazunari kelewat sukses membuat kedua telinganya berdenging.

Shougou yang malas ikut campur urusan orang hanya memutar bola mata. Sedangkan sang ketua senat dibuat tak bisa berkata-kata.

Dari dulu, Shuuzou sudah curiga. Seijuurou itu pasti sudah ada yang punya. Soalnya, pemuda itu selalu mengusir jauh-jauh siapa pun yang nekat mendekatinya.

Tapi Shuuzou tidak menyangka kalau kekasih kohai-nya anak Rakuzan juga. Lebih mengejutkan lagi, ternyata orang itu nyempil di fakultas sastra. Mana dia sempat mendengar slentingan dari si Tsunderima, kalau Seijuurou dan pacarnya sempat terpisah selama 3 tahun pula.

"Jadi..." Shuuzou memecah suasana. Pemuda itu menunjuk bergantian pada Chihiro dan Tetsuya. "... marga kalian sama. Kalian ini saudara tiri atau apa?"

"Kami saudara sepupu." Sahut si baby blue. "Ibuku adiknya ayah Chihiro-nii."

"Orang tua Tetsuya bercerai." Chihiro melanjutkan penjelasan. "Setelah resmi berpisah, bibiku memutuskan kembali memakai marganya yang dulu. Tetsuya lalu mengikuti keputusan bibiku."

Semua orang tiba-tiba tidak ingin buka suara. Sedikit merasa bersalah karena memancing luka lama yang bisa terbuka kapan saja. Mereka sangat memahami. Masalah ini jelas lebih pelik daripada penjelasan kilat semacam ini.

Seijuurou menarik lembut kepala Tetsuya. Dikecupnya puncak kepala sang kekasih penuh cinta.

"Itu masa lalu." Ujar Seijuurou. "Yang penting sekarang Tetsuya sudah kembali padaku."

Senyum tipis terukir di bibir mungil si baby blue saat pemuda itu bersandar manja di bahu Seijuurou.

Aura penuh cinta berlatar taburan bunga dan efek kemilau di belakang pasangan itu benar-benar membuat mata silau.

Sementara Chihiro menahan diri agar tidak menyambar novel tebal di atas meja, Reo dan Kazunari justru terbawa suasana dan tenggelam dalam aura kasmaran pasangan-mesra-ala-telenovela di depan mata.

"Oooohh... manisnyaaa..." gumam keduanya. Sama sekali tidak sadar kelakuan mereka memunculkan serangan mual akut di perut kawan-kawannya.

"Ehemm..." Shintarou berdehem menyela. Kelakuan teman-temannya berpotensi menambah minus kedua netranya.

"3 tahun tidak bertemu, kelakuan kalian berdua tetap saja sama seperti dulu, nanodayo."

Niat hati ingin menyindir Seijuurou dan Tetsuya, tapi si hijau lumut malah memalingkan muka. Risih melihat adegan lovey dovey live di depan mata. Plus jengah karena dipaksa mengalami flashback adegan mesra yang sama dengan zaman pas di SMA. Mana tokoh utamanya tetap mereka berdua pula.

"Jadi cerita itu benar, kalau kalian memang sudah pacaran?" tanya Kotarou penasaran. Lagaknya sudah seperti wartawan.

Tetsuya mengangguk mengiyakan.

"Dan lagi, Shin-chan sampai hapal kelakuan kalian." Kazunari menyambung pertanyaan. "Memangnya Shin-chan sudah kenal Tetsuya-kun dari kapan?"

"Tentu saja aku hapal, nanodayo." Sahut Shintarou. "3 tahun lalu, kami sekolah di SMA yang sama, Bakao."

Reo mendadak ikutan kepo. Iris onyxnya nekat menatap tepat ke heterokrom Seijuurou. "Jadi, bagaimana ceritanya kalian bisa terpisah samp... hmmmpp!?"

Reo megap-megap. Wajahnya disambar oleh sang ketua senat. Shuuzou bahkan membekap hidung dan mulutnya erat-erat. Kalau tidak segera dilepaskan, pemuda cantik itu akan segera bertranformasi menjadi mayat.

Padahal Shuuzou melakukannya atas dasar kesetia-kawanan. Mulut blong Reo perlu dipasangi rem super anti-selip lantaran terlalu gampang kebablasan dan kelewat ampuh memancing bencana susulan.

Sebabnya, aura kelam nan mencekam mulai berkobar dari balik punggung Sang Raja Setan.

Tidak diragukan. Topik barusan lebih sensitif daripada alat tes kehamilan. Jadi lebih baik tidak dijadikan topik rumpian, daripada nyawa melayang meskipun setengah mati bikin penasaran.

Lagipula, Reo masih sangat dibutuhkan demi kesuksesan proyek besar beberapa waktu ke depan. Shuuzou jelas tidak mau sang bendahara andalan menjelma menjadi roh gentayangan dan malah membuat kerusuhan di acara perayaan macam residivis kambuhan.

Sementara Reo pun tak kurang usaha. Gerbang penyuplai pasokan oksigennya dibajak dengan begitu semena-mena. Tapi mau berontak sekuat tenaga pun tidak ada gunanya. Karena untuk urusan piting memiting, Shuuzou itu juaranya.

Untungnya, otak Reo tidak hanya cerdas soal gosip-menggosip saja. Insting purbakala mempertahankan nyawa warisan nenek moyang menyalakan bohlam imajiner di dalam kepala. Mustahil menang adu piting, si pemuda centil menyambar satu-satunya alternatif lain.

Sambil merapal syukur pada Sang Pencipta karena telah menganugerahkan gigi pada manusia, Reo menggigit telapak tangan Shuuzou sekuat tenaga.

"Aaakkhh... ADUH! Sakit... Sakit...!"

Sang ketua senat sampai mencak-mencak. Jejeritan kesakitan gara-gara serangan balasan yang sama sekali di luar dugaan. Takut telapak tangannya berakhir koyak, Shuuzou melepaskan pitingan.

Detik berikutnya adalah perang death glare antara atasan versus bawahan.

Sedangkan para peserta konferensi pers dadakan hanya geleng-geleng kepala, tapi juga menarik napas lega. Beruntung, pertarungan ketua senat vs bendahara barusan malah membuat aura kelam Seijuurou mereda.

Padahal tadinya mereka semua sudah siap kabur kalau-kalau Seijuurou jadi kalap dan merealisasikan obsesinya menciptakan neraka dunia.

Tapi, memang sudah dari lahirnya kepo, Reo masa bodo dan kembali menginterogasi Seijuurou. "Jadi bagaimana ceritanya kalian bisa terpisah sampai 3 tahun, Sei-chan?"

Seijuurou menguarkan aura malaikat pencabut nyawa.

Shuuzou menepuk kepala.

Shintarou menyahut serta-merta. "Anggap saja karena Kuro... maksudku, Mayuzumi Tetsuya harus pindah sekolah, nanodayo."

Reo mengangguk-anggukkan kepala. Shuuzou melempar 'terima kasih' pada si kacamata tanpa kentara. Untung si megane itu peka.

"Sekarang Tetsuya-kun tinggal dengan siapa?" Kazunari mengalihkan perhatian. "Dengan ibu Tetsuya-kun saja?"

"Tidak." Jawab Tetsuya. "Okaa-san terlalu sibuk dan hampir tidak pernah pulang."

"Wah, ibumu itu wanita karir ya?" guman Kotarou.

"Beliau itu bukan wanita karir biasa." Timpal Shigehiro berapi-api. "Aku jamin kalian semua pasti mengenalnya."

"Memangnya ibunya artis? Orang terkenal?" tanya Shougou sangsi.

"Memang bukan artis. Tapi orang terkenal." Shigehiro meyakinkan. "Kalian pasti tahu desainer bernama Miss U-na."

BRAK!

Reo membelalakkan mata. Pemuda cantik itu berdiri tiba-tiba. Pun juga tidak sadar sudah membuat kaget kawan-kawannya karena menggebrak meja.

"Miss U-na yang itu?"

"Yups!?" Shigehiro mengangguk mantap.

"Yang baru-baru ini meresmikan butik di Milan?" Reo menghitung dengan jari. "Yang rancangannya menghebohkan fashion show di Paris? Yang gaun pengantin rancangannya dipesan langsung oleh salah satu keluarga bangsawan Buckingham?"

"Persis!?" Shigehiro menjentikkan jari. "Miss U-na yang itu, ibunya Tetsuya-kun."

Reo menatap Tetsuya dengan mulut menganga. Yang ditatap malah asyik saling lempar senyum dengan kekasihnya.

Yang lain hanya diam saja. Bukannya tidak terkejut atau apa. Tapi lebih karena masih memproses informasi yang tidak mereka sangka-sangka.

Ibunya seorang desainer kelas dunia, sedangkan anaknya malah sembunyi di fakultas sastra?! Sungguh sukar dipercaya!

Kazunari yang sadar pertama kali. "Kalau begitu, Tetsuya-kun tinggal di rumah sendirian?"

Kepala biru menggeleng pelan. "Aku tinggal seapatemen dengan Chihiro-nii, Takao-kun."

"Tapi sebentar lagi, Tetsuya akan tinggal bersamaku." Sahut Seijuurou tiba-tiba.

BRAK!?

Meja menjadi sasaran pukulan untuk kedua kalinya. Setiap pasang mata menatap pemuda kelabu yang barusan membanting novelnya.

"Semoga telingaku masih sehat dan tidak mengalami cedera." Chihiro mendesis. "Memangnya siapa yang mengizinkan adikku tinggal serumah denganmu, Akashi?"

"Aku tidak membutuhkan izin dari siapapun, Chihiro." Tandas Seijuurou. "Secapatnya, Tetsuya akan hidup bersamaku."

Chihiro mendecih.

"Bagus. Kau baru saja mengingatkanku." Chihiro mendadak berdiri. Tanpa takut sedikit pun, ditunjuknya muka si kohai merah dengan ujung jari.

"2 hari 2 malam Tetsuya tidak pulang. Kau pasti menyekapnya di suatu tempat. Katakan, apa yang sudah kau lakukan pada adikku selama itu?"

Seijuurou menampar telunjuk Chihiro yang hampir menusuk mata kanan. Pemuda itu jelas tidak terima lantaran kena tuduh sembarangan.

"Aku tidak mau tahu dari mana datangnya ide absurd di kepalamu itu, Chihiro." Sang ketua BEM mengangkat dagu angkuh. "Kami hanya pulang bersama ke apatemenku. Dan perlu kau ingat, Tetsuya menginap. Bukan disekap."

Chihiro menyipitkan mata penuh curiga. Seijuuro mengukir seringai serigala.

"Ah, hampir lupa. Tentang pertanyaanmu yang terakhir. Kau bertanya, apa yang sudah aku lakukan?" Seringai pekat provokasi terpasang miring. "Aku dan Tetsuyaku, hanya saling melepas kerinduan."

Seijuurou menjawab tanpa menatap lawan bicara. Pemuda merah itu justru sibuk membelai pipi mulus kekasihnya.

Sedangkan Tetsuya hanya diam saja. Tapi pipi pucatnya perlahan merona.

"Sei-kun mesum." Rutuk si baby blue.

BHLAARR!?

Guntur menggelegar kencang di dalam kepala sang punggawa mahasiswa sastra.

"Dusta!" sembur Chihiro seketika. "Kau menculik adikku. Kau pasti sudah memaksa Tetsuya agar ikut bersamamu."

Seijuurou mendecih. Pemuda merah itu lalu berdiri. Menghadapi pawang sang pacar yang kelewat over protektif macam si kelabu ini membuatnya melambungkan aura otoriter sampai ke level tertinggi.

"Jangan bodoh, Chihiro!" Heterokrom berkilat menghujam. "Kalau aku memang berniat melakukan penculikan, Tetsuya tidak akan muncul di hadapanmu sekarang."

Mengalah, apalagi menyerah jelas bukan pilihan. Meskipun mulut bungkam, perdebatan dilanjutkan dengan saling lempar pelototan.

Suhu mulai memanas dan tidak ada yang beniat mendinginkan tensinya. Merasa mendapat tontonan langka, kesepakatan kolektif didapat tanpa perlu rapat darurat sebelumnya. Sudah, biarkan saja!

Sementara yang jadi sumber persoalan tetap anteng memperhatikan sambil khusyu mengulum lollipop vanilla dengan wajah tanpa dosa.

"Mimpilah sebanyak yang kau mau, Akashi!" Iris kelabu mengumbar ancaman. "Selama ini aku hanya menjadi pengamat. Tapi sekarang sudah aku putuskan. Sampai kau bisa membuktikan diri, tidak akan aku biarkan Tetsuya terikat denganmu lagi."

Batal melemparkan sarkasme balasan, Seijuurou mendadak diam. Ucapan Chihiro barusan menggelitik indra pendengaran. Getarannya merambat langsung ke dalam. Halus, namun serupa parang tajam tukang jagal hewan.

Suhu anjlok beberapa derajat saat seringai seram mengiringi aura hitam kelam.

"Hee... jadi begitu." Heterokrom menikam netra kelabu Chihiro. "Sejak lukisan itu muncul di aula, aku sudah curiga. Terutama saat Shuuzou mengatakan bahwa ketua HMJ sastra-lah yang sudah mengantarkan lukisan itu padanya."

Seijuurou menjeda. Memberikan waktu agar jerat tak kasat matanya berhasil menangkap hidup-hidup si mangsa.

Di sisi lain, muka sang ketua senat langsung jadi sasaran tatap berpasang-pasang mata. Mereka melempar tanya, sementara Shuuzou malah gugup dan heboh menggelengkan kepala. Masalahnya, dia juga tidak tahu ada apa sebenarnya. Pun juga tidak paham Seijuurou dan Chihiro sedang memperdebatkan masalah apa.

Yang Shuuzou ingat hanya Chihiro yang ugal-ugalan menekan bel apartemennya saat Apollo pun masih sangat betah memejamkan mata. Sukses membangunkan Shuuzou yang masih bergelung dalam selimut super hangat sambil memeluk pacarnya. Dan begitu pintu terbuka, wajah mengantuk Shuuzou langsung ditodong bingkai lukisan yang nyaris menyodok hidungnya.

"Memang aku yang mengantarkan lukisan itu pada Nijimura." Ujar Chihiro. Sama sekali tak terpengaruh provokasi Seijuurou. "Ada masalah?"

"Hee..." bibir ditarik ke satu sisi. "Besar juga nyalimu, Chihiro."

Tubuh maju beberapa senti. Kerah jas almamater si kelabu direnggut paksa oleh tarikan jemari.

"Katakan padaku, Chihiro!" Geram tertahan suara Seijuurou dipekati emosi. "Sejak kapan kau tahu bahwa aku adalah kekasih Tetsuya?"

Chihiro bungkam. Ditepisnya tangan Seijuurou sampai kerah jasnya lepas dari cengkeraman. Heterokrom menghujam menuntut pengakuan. Namun begitu, si pemuda kelabu justru mengalihkan pandangan.

"Jujur saja, Chihiro." Pancing Seijuurou. "Kau tahu semuanya."

"Jangan asal tuduh, Akashi." Chihiro menyangkal. "Kau tidak punya bukti."

Untuk sesaat, iris kelabu Chihiro bersirobok dengan tatap tajam si baby blue.

"Apa itu benar, Chihiro-nii?" Tetsuya memastikan. "Chihiro-nii sudah tahu selama ini?"

"Tahu soal apa, Tetsuya?" Chihiro berkilah. "Dan lagi, jangan melihat kakakmu dengan pandangan seperti itu!"

"Chihiro-nii sudah tahu kalau kekasihku adalah Sei-kun." Tandas Tetsuya. "Ucapan Chihiro-nii barusan menjelaskan semuanya."

"Dengar. Mungkin kau lupa, Tetsuya." Chihiro menghela napas. "Tapi kau sudah pernah menceritakannya padaku dulu."

"Aku ingat sudah bercerita pada Chihiro-nii tentang kejadian 3 tahun lalu." Sahut Tetsuya serta merta. "Tapi aku tidak ingat pernah menyebutkan nama kekasihku. Sekalipun tidak pernah, Chihiro-nii."

Batal menjawab, Chihiro terkesiap. Pemuda itu tak pernah mengira, iris sebiru langit teduh Tetsuya bisa menusuk sebegini tajamnya.

"Jadi..." lanjut Tetsuya. "...bagaimana ceritanya Chihiro-nii bisa tahu soal siapa kekasihku, padahal kami baru bertemu lagi 3 hari yang lalu?"

Bagai langit biru yang dihadapkan pada awan kelabu. Komunikasi tanpa suara terjalin antara si biru dan si abu-abu. Yang satu menuntut jawaban pasti. Satunya lagi ingin dipahami bahwa dirinya punya alasan tersendiri.

Shuuzou mendadak berdiri.

"Tunggu dulu!" Sang ketua senat menginterupsi. Suara kursi yang terdorong sampai pindah posisi berhasil memutus koneksi.

Sang ketua senat kembali menjadi pusat atensi.

"Dengar. Kami tidak tahu ada masalah apa di antara kalian bertiga." Shuuzou menatap bergantian pada ketiga kawan. "Tapi aku tidak ingin ada masalah apapun yang tidak terselesaikan di antara anggota panitia sebelum proyek besar-besaran kita terlaksana. Jadi kita selesaikan kesalah-pahaman ini sekarang juga."

Chihiro memutar bola mata. Seijuurou melipat tangan di depan dada. Yang lain reflek menganggukkan kepala. Paham, bahwa sikap sang ketua senat sudah benar adanya.

Shuuzou menarik napas berat.

"Yang aku pahami di sini..." lanjutnya hati-hati. "... kalian berdua baru bertemu lagi 3 hari yang lalu, setelah dipaksa terpisah selama 3 tahun." Shuuzou menatap Seijuurou dan Tetsuya. "Selama itu, kalian putus kontak. Tidak ada kabar sama sekali. Bahkan kalian juga tidak tahu kalau kalian berdua kuliah di kampus yang sama. Benar?"

Gayanya sudah seperti hakim. Membuat setiap orang terkikik geli dan pasang senyum miring. Tapi terpaksa ditahan walaupun ingin.

Untuk uraian Shuuzou barusan, Seijuurou dan Tetsuya membenarkan.

"Tapi tiba-tiba..." Shuuzou menjeda. "...Mayuzumi kelepasan bicara –yang entah apa- sampai kau..." Shuuzou menunjuk muka Seijuurou. "...mencurigai bahwa teman kita ini..." Shuuzou menepuk pundak Chihiro. "...tahu semuanya sejak lama."

Untuk sesaat, tak ada yang bicara. Seolah sedang menunggu siapa gerangan yang akan menjatuhkan bom selanjutnya.

"Yang tidak aku pahami..." Shuuzou tiba-tiba menggaruk kepalanya frustasi. "...apa yang sebenarnya kau ketahui, Mayuzumi? Dan sejak kapan? Bisa kau jelaskan pada kami?"

Histeria sang ketua senat membuat semua hadirin menepuk kepala. Mereka kira Shuuzou sudah sangat paham duduk persoalan sampai ke akar-akarnya. Ternyata sama saja dengan mereka, tidak tahu apa-apa.

"Biar aku yang menjelaskan." Seijuurou pasang badan. "Karena sepertinya, Chihiro sama sekali tidak ingin kejahatannya terbongkar."

Iris kelabu menyorot heterokrom dengan tatapan membunuh.

"Singkat saja." Ujar Seijuurou. "Chihiro sudah tahu bahwa aku adalah kekasih Tetsuya. Aku yakin sudah lama. Tebakanku, tepat ketika aku maju sebagai wakil mahasiswa baru di acara penerimaan. Dan kau, Chihiro, adalah salah satu anggota panitia acara itu."

"Tapi seharusnya Tet-chan juga bisa langsung tahu kalau kalian satu kampus waktu itu." Sahut Reo penasaran. "Maksudku, semua mahasiswa baru berkumpul di aula dan Sei-chan maju ke hadapan semua orang. Kalian bahkan bisa langsung bertemu, bukan?"

"Maaf, Mibuchi senpai." Si baby blue menyela. "Waktu itu aku tidak ikut ke aula."

Reo mengedipkan mata. "Jadi waktu itu kau ada di mana, Tet-chan?"

Tetsuya mengedikkan bahu. "Sepertinya waktu itu aku kabur dan malah ketiduran di perpustakaan."

"Itu menjelaskan semuanya, nanodayo." Sahut Shintarou.

"Si megane benar. Itu menjelaskan bahwa ini adalah masalah terkonyol di dunia." Tandas Shougou. Malah ikutan emosi dia.

"Sudah aku bilang dari tadi." Chihiro mendengus. "Kalian hanya asal menebak. Kalian sama sekali tidak punya bukti."

"Lukisan itu." Potong Seijuurou. "Aku yakin kau tahu arti di balik lukisan itu, Chihiro. Kau bahkan mengantarkannya langsung ke tempat Shuuzou. Kau melakukannya agar aku melihatnya saat seleksi, bukan?"

"Omong kosong." Timpal Chihiro. "Apapun yang terlukis di dalam lukisan itu, tidak ada artinya buatku. Aku menyerahkannya untuk ikut seleksi karena lukisan itu memang bagus."

Seijuurou baru akan men-skakmatt lawan debatnya ketika Shigehiro tiba-tiba menyela.

"Chihiro-san." Shigehiro menepuk pundak kekasihnya. "Kenapa tidak jujur saja? Kau baru saja mengakui kalau kau memang tahu arti di balik lukisan itu."

"Apa maksudmu, Shigehiro?" Kening si kelabu sedikit mengerut. "Kau berlagak menjadi detektif sekarang?"

Shigehiro menghela napas.

"Chihiro-san baru saja bilang 'apapun yang terlukis dalam lukisan itu. Itu artinya, Chihiro-san sudah melihat lukisan itu, mungkin berkali-kali dan menemukan apapun yang tersembunyi di dalamnya. Kalau dugaanku benar, Chihiro-san bahkan tahu artinya juga."

Iris coklat Shigehiro menatap iris kelabu Chihiro tepat di retina. Momohon dalam diam, ayolah jujur saja!

"Dan sampai sekarang pun kau masih berusaha menyembunyikannya." Pungkas Seijuurou dengan nada final. "Bahkan setelah kau tahu bahwa aku dan Tetsuya ada di kampus yang sama, kau tetap diam saja."

Chihiro sadar dirinya sudah terpojok. Rasanya sama menyebalkannya dengan wajah flat kebanggaannya mendadak kena tabok.

Untuk sesaat, tak ada yang bersuara. Setiap orang sibuk menenangkan rasa asing yang mendebarkan dada. Menanti apa yang akan terjadi selanjutnya, pun juga berharap semua akan baik-baik saja.

Sampai bisu dipecahkan oleh suara halus Tetsuya.

"Sei-kun, sebaiknya kita pulang sekarang." Si baby blue menarik pelan lengan Seijuurou. "Sepertinya kita perlu mendinginkan kepala masing-masing."

Demi meluluskan permintaan sang kekasih, Seijuurou bersedia menarik diri. Meskipun dalam hati, pemuda merah itu berjanji akan mengurus masalah ini nanti.

Tapi Chihiro malah bersikap sebaliknya. Pemuda itu reflek meraih lengan adiknya.

"Kau mau pergi ke mana, Tetsuya?" tanya Chihiro. "Pulang ke tempat Akashi lagi?"

Tetsuya mengangguk. "Aku hanya ingin menenangkan diri dulu, Chihiro-nii."

"Tapi kau sudah tidak pulang selama 2 hari." Timpal Chihiro. "Setidaknya, pulanglah dulu ke rumah."

"Kalau aku pulang ke rumah sekarang, kita hanya akan kembali bertengkar." Tolak Tetsuya halus. "Sebaiknya kita selesaikan kesalah-pahaman ini saat semua sudah kembali tenang."

Si baby blue melepas genggaman sang kakak sambil mengulas senyum. Emosi Chihiro berangsur meluruh saat melihat punggung sang adik yang semakin menjauh.

Tapi hal yang sama tidak berlaku bagi Seijuurou. Suasana dramatis itu malah membuat jiwa tengil Sang Raja Setan mendadak kambuh.

Nada penuh provokasi dilantunkan tepat ke telinga pawang sang kekasih hati.

"Lihat? Tetsuya lebih memilih aku dibanding kau, Chihiro."

Pamer seringai angkuh pada musuh, Seijuurou santai melenggang menjauh. Kecupan mesra di pipi mulus mendarat saat pemuda merah itu sampai di samping si baby blue.

Sesaat Chihiro hanya bisa mengerjapkan mata. Detik berikutnya, pemuda itu berteriak dengan amarah membara.

"APA-APAAN ITU?!"

Sama sekali tidak sadar kalau raungannya barusan sukses membuat tersedak nyaris setengah pengunjung kantin.

Shougou malah apes gegara kena sembur cola, langsung dari mulut Kotarou. Mantan preman itu kontan misuh-misuh, memaki, dan mengabsen hampir semua satwa penghuni kebun binatang Kyoto.

Emosi si kelabu yang tadinya tinggal seperempat lapis, mendadak melambung hingga menyentuh level kritis.

Nyaris hilang akal, mangkuk tempat camilan direnggut dari tempatnya bersemayam dengan tenang. Isinya kontan berjatuhan. Si mangkuk pasrah, siap diterbangkan sebagai senjata demi menyambit kepala merah si kohai lancang.

"BANGSAT KAU, AKASHI!?"

Tangan kanan diayun sekuat tenaga, sontak menyadarkan semua kawan semeja. Bahkan Shougou dan Kotarou yang sudah siap adu jotos pun sampai dibuat lupa soal dendam semburan cola.

Setiap orang sigap ambil posisi, menahan tubuh pemuda minim ekspresiyang mendadak beringas tak terkendali.

"Eeeehh...jangan lempaaar!" jerit Shigehiro. Pemuda itu berusaha menahan tangan kanan Chihiro.

Bukan apa-apa. Mangkuk yang digenggam sang pacar perlu dievakuasi secepatnya. Kalau tidak, mereka semua tidak akan bisa pulang dengan tenang. Bibi penjaga kantin pasti akan menyemprot mereka dengan setandon omelan lantaran mengkuknya pecah berantakan.

Sayang seribu sayang, sudah terlanjur kepalang. Si mangkuk malang meluncur mulus dari genggaman. Meski arah lontar malah belok lantaran tangan si kelabu tertahan, tapi nasib jadi kepingan mustahil terelakkan.

Setiap pasang mata menatap ngeri, sampai sesosok tubuh meluncur di detik-detik terakhir. Lincah memanuver tubuh demi menangkap si mangkuk beling. Suara khas tumbukan antara lantai dan beling digantikan muka ceria Kazunari yang nyengir garing.

Si anak farmasi ternyata punya bakat terpendam sebagai pemain sirkus keliling. Untungnya, justru bakat itulah yang berhasil menyelamatkan mereka dari hukuman mencuci bertumpuk-tumpuk piring.

Sejenak semua menarik napas lega. Sampai teriakan si kelabu kembali mengoyak udara.

"KEMBALI, TETSUYA! JANGAN IKUTI DIA! ORANG ITU BERBAHAYA!"

Sontak menarik kesadaran semua orang kembali ke alam nyata.

Pegangan di seluruh tubuh kembali dipererat saat dirasa tubuh si kelabu memberontak lebih kuat.

"Gila!?" Shougou menyumpah-nyumpah. "Orang ini sedang kesurupan atau apa?"

"Mayuzumi senpai!" panggil Kotarou. "Tenang dulu!"

Si macan tutul tanggap pasang badan. Tubuhnya yang besar dan lumayan berotot diyakini lebih ampuh melakukan aksi pencekalan. Kotarou sigap menahan tubuh Chihiro dari belakang.

Tapi memang dasarnya sedang sial. Karena sibuk menahan tubuh sang tawanan, si taring imut tidak mewanti-wanti serangan kejutan. Sikut Chihiro yang terayun liar menggampar muka Kotarou tepat di rahang.

Pejuang Kotarou gugur di medan pertikaian dengan ringis kesakitan.

Berikutnya, giliran Shintarou yang maju dari depan.

"Mayuzumi senpai!" Si hijau lumut tak lupa menyemburkan prakata khas dukun kawakan. "Sadar, nanodayo! Sadaaar..!"

Bagi Shintarou, sore ini akan jadi pengalaman tak terlupakan. Lucky item yang disiapkan dari subuh ternyata tak mempan melawan orang –yang dicurigai- tengah kerasukan setan. Perutnya bonyok dihajar tendangan tanpa bayangan.

Sementara semua yang masih sadar sibuk memutar akal, si pemuda kelabu justru sibuk menyemburkan sebatalion sumpah serapah paling kasar.

"BERANI KAU LUKAI TETSUYA, SUMPAH AKAN AKU GOROK LEHERMU SAMPAI PUTUS DARI KEPALA!"

Umpatan-umpatan kasar masih dirapal oleh mulut yang biasanya lebih suka bungkam. Tapi sekalinya kalap, kata-kata yang terlontar sungguh membuat telinga pengang.

'Psikopat Gila', 'Setan Sakit Jiwa', 'Iblis Sadis', dan sederet julukan kejam dialamatkan pada kekasih sang adik kesayangan. Sampai diakhiri dengan 'Cebol Merah Kurang Ajar!'.

Untung yang kena hujat sudah menghilang di balik tikungan. Kalau sempat terdengar, bisa habis satu kantin oleh rajam gunting setan.

Saking sudah tidak tahan, sang ketua senat akhirnya turun tangan. Kelompok kecilnya sudah jadi pusat perhatian, entah dari kapan. Beberapa mahasiswa bahkan nekat mengabadikan tontonan barusan dalam video rekaman.

Tidak perlu menunggu sampai nanti malam. Rekaman itu akan langsung menjadi tranding topic di website-website bawah tanah mahasiswa Rakuzan.

Headline yang dicetak tebal dan besar kira-kira bakal seperti ini.

DICURIGAI KERASUKAN JIN, MAHASISWA TAHUN TERAKHIR KALAP DI KANTIN!

Nekat Cari Mati, 'MC' Menyumpahi Pangeran Keluarga Akashi.

Berita dilengkapi video amatir live dari kantin. Membayangkannya saja sudah membuat Shuuzou merinding.

Terjun langsung ke arena pertarungan, jurus pitingan maut sang ketua senat dikerahkan. Langsung sukses menghentikan si kelabu dalam satu bantingan.

Seluruh penjuru kantin mendadak tenang. Yang terdengar hanya desau angin yang bersahut-sahutan, serta kicau burung-burung yang kembali ke sarang.

Si pemuda kelabu masih tercengang sambil perlahan mengumpulkan kesadaran.

"Sudah tenang?" tanya Shuuzou. Tangannya terulur, menawarkan bantuan pada Chihiro.

Uluran tangan bersambut. Emosi si kelabu perlahan turun, meskipun wajahnya masih terlihat kalut.

Shuuzou menepuk pundak sang kawan.

"Lebih baik kau pulang sekarang." Shuuzou menyarankan. "Dan sebisa mungkin, usahakan untuk mendinginkan kepalamu."

Tak ada perlawanan lanjutan.

Perintah sang ketua senat menjadi akhir dari rangkaian drama sore yang luar biasa mengejutkan.

~ ~ aish ~ ~

Jemarinya meluruh perlahan. Menyusur lembut, nyaris melayang. Membelai halus sebentuk wajah rupawan yang terlukis dalam kanvas berbingkai keemasan.

Iris samudra mengunci pandangan di ujung kanan bawah. Pada tiga larik puisi sederhana di atas tanda rahasia berupa mahkota merah.

Kau seunik senja

Memikat bagaikan senja

Menawan layaknya senja

Sejenak, hatinya kembali merapal selarik lain yang tak kalah sederhana. Karena sejatinya, larik itu adalah uraian pamungkas meski ada di tempat yang berbeda.

Karena bagiku, kau memang seindah senja

Kelopak pucatnya terpejam. Merasakan gelenyar hangat di relung hati terdalam.

Merah dan jingga.

Sejak kapan dua warna itu mampu mendominasi hidupnya, dia sudah lupa.

Tak ada kesempatan untuk mengurai tanya, sebab dirinya terlanjur lena oleh sebentuk rasa tak punya tata krama bernama cinta. Bahkan jika kejam ujiannya pun serupa siksa dan seperih nestapa, tak mengurangi rela hatinya melukis rupa yang tercinta, meski harus mengikis hati dan air mata.

Iris samudranya baru saja tersingkap, saat aroma mint dan hangat tubuh yang familiar menyergapnya dalam dekap.

"Sedang mengingat banyak hal, Tetsuya?" tanya si pemuda merah, entah bagaimana, terdengar penuh sindiran.

Bibir mungil tertarik halus membentuk senyuman. Si merah mengeratkan pelukan dari belakang. Tidak lupa, pipi merona si biru muda dikecup sayang.

"Aku masih tidak menyangka lukisan ini masih ada, Sei-kun" gumam si baby blue. "Aku kira Sei-kun akan langsung membuangnya."

"Bodoh." Seijuurou mengecup gemas kepala kekasihnya. "Mustahil aku membuang pemberian Tetsuya."

Tetsuya mendadak berbalik menghadap Seijuurou.

"Sekalipun ini menyakiti Sei-kun?" suara Tetsuya tercekat. "Sekalipun aku sudah melukai Sei-kun?"

Wajah manisnya ditarik mendekat. Lembut dan penuh cinta, bibir mungilnya dilumat.

"Memang menyakitkan." Seijuurou tersenyum menenangkan. "Hanya saja aku terus berpikir, Tetsuya tidak mungkin pergi tanpa alasan."

Tetsuya menggeleng tak percaya. "Bagaimana bisa...?"

Heterokrom menatap dalam iris samudra. "Karena lukisan ini bicara padaku."

Manik birunya berbinar penasaran saat Tetsuya bertanya. "Apa yang Sei-kun dengar?"

"Lukisan ini berkata..." Seijuurou menjeda, lalu menyatukan dahi mereka. "...'Temukan aku secepatnya!' "

Tetsuya mengedipkan mata, lalu mengerucutkan bibirnya. "Padahal bukan itu artinya."

"Oh iya?" Seijuurou pura-pura terkejut. "Lalu apa arti sebenarnya?"

Tetsuya membuang muka. Tapi pipinya sudah merah merona.

"Hanya ungkapan sederhana." Lirihnya. "Tapi itu rahasia."

Tidak dinyana, Seijuurou malah tertawa. Tetsuya menatapnya dengan raut tidak suka.

Kesal gara-gara tawa Seijuurou tidak juga berhenti, Tetsuya melepaskan diri dari pelukan sang kekasih hati. Tapi belum sampai 5 langkah si baby blue melenggang pergi, lengannya ditarik sampai tubuhnya mendarat di dada Seijuurou lagi.

Protes belum sempat dilontarkan, bibir cemberutnya sudah keburu diserang. Lumat, hisap, jilat, menuntut si baby blue membukakan ruang.

Terbawa alur ciuman memabukkan, Tetsuya menarik tengkuk Seijuurou dengan kedua lengan. Lenguh halus mengalun saat si baby blue memberikan akses lebih dalam.

Lidah saling membelit sengit. Tiap sudut rongga hangat berperisa vanilla dijelajahi layaknya medan ekspedisi. Saliva bercampur, meluncur turun lewat sudut lantaran mulut tak lagi mampu menampung.

Merasakan defisit udara, tinju kecil Tetsuya menghantam Seijuurou tepat di dada. Melapaskan pagutan penuh cinta meskipun tidak rela, heterokrom memasung wajah manis sang belahan jiwa yang tengah merona.

Gemas tak lagi sanggup ditahan, Seijuurou kembali mendaratakan kecupan ringan. "Tetsuyaku manis sekali."

"Jadi, kenapa Sei-kun bisa mengartikannya seperti itu?" todong si baby blue. Bibirnya sampai mengerucut lucu. "Ini bukan lukisan teka-teki, asal Sei-kun tahu."

"Tapi Tetsuya memang memasukkan teka-teki di sana." Sahut Seijuurou serta merta. Pemuda itu sedang menahan diri agar tidak memagut bibir kekasihnya lagi. "Tetsuya tidak sadar?"

"Aku tidak melakukannya, Sei-kun." Bantah Tetsuya.

"Kalau begitu, lihat ini." Seijuurou merangkul bahu si baby blue, lalu memutar tubuh pemuda itu agar menghadap langsung ke lukisan yang dibuatnya sendiri, 3 tahun lalu.

Lukisan seorang pemuda tampan. Dengan warna merah dan jingga yang dominan. Dibuat tampak samping seolah dilukis diam-diam dari belakang.

Pemuda itu berdiri di samping jendela kaca yang terbuka. Pandangannya tertuju jauh ke depan sana. Fokusnya tercuri penuh oleh panorama senja. Sampai tidak sadar, angin tengah mengibarkan gorden putih di belakang punggungnya.

"Inilah yang membuatku berpikir lukisan Tetsuya punya teka-teki, saat aku menyadari ada yang aneh dari lukisan ini."

Jari telunjuk mengetuk ujung kanan atas.

"Ekspresiku dibuat tengah terpesona oleh senja." Iris belang Seijuurou menghujam dalam retina si baby blue.

"Tapi anehnya, kenapa hal yang membuatku sangat terpana diberi porsi paling sedikit di sini? Apa gara-gara kanvasnya tidak cukup? Atau gambarku yang kelewat besar sampai menghabiskan ruang?"

Tak berniat mendengar sanggahan Tetsuya, Seijuurou melanjutkan analisisnya.

Jari telunjuk digeser. Terus turun dan berhenti di ujung kanan bawah, lalu mengetuk gambar gorden.

"Gordennya terpotong." Singkat Seijuurou. "Pertanyaannya, kenapa ada yang terpotong di sini? Sengaja? Karena yang aku tahu, Tetsuya sangat teliti dan tidak suka meninggalkan atau bahkan mengurangi detail sekecil apapun."

Jari kembali digeser, namun tidak jauh. Pada gambar kecil mahkota merah dan 3 larik puisi di atasnyalah, jari itu mengetuk.

"Keanehan selanjutnya." Gumam Seijuurou. "Mana ada puisi yang nanggung seperti ini?"

Pemuda merah itu terkekeh geli dan mengerling jahil, saat melirik sang kekasih yang malah cemberut macam anak kecil yang ketahuan ngutil.

Seijuurou meraih lembut wajah cemberut Tetsuya, mengucup hidungnya, lalu kembali menyatukan dahi mereka berdua.

"Ada beberapa kemungkinan yang terpikir olehku saat itu." Lirih si pemuda merah. "Lukisan ini belum selesai. Atau memang sengaja tidak diselesaikan. Atau kemungkinan yang terakhir."

Senyum tipis di raut rupawan terulas begitu sendu. Menghantar getar lara ke jantung si baby blue yang tiba-tiba berdebar tak menentu.

"Lukisan ini mungkin lebih besar. Tapi sengaja dipotong menjadi 2 bagian. Seolah menggambarkan keadaan kita waktu itu, 3 tahun lalu."

Bagaimana bisa senyum menawan di wajah rupawan justru tersirat penuh luka? Sontak memunculkan kembali lusinan memori menyesakkan ke dalam kepala Tetsuya.

Hari-hari saat si baby blue mati-matian berpijak agar tetap bisa berdiri tegak, sementara bongkah harapannya terlanjur retak dan berserak. Berjuang menopang dan mengembalikan semangat hidup seseorang, sementara diri sendiri bertarung mempertahankan kewarasan.

Rasa seolah sedang sendirian melawan dunia, bagaimana mungkin Tetsuya lupa?

Berbagai rasa muncul, bergumul, campur aduk menjadi satu di dalam dada. Tidak tahu harus berkata apa, kelopak pucat memejam, lalu menjatuhkan setetes bening air mata.

Seijuurou menarik lembut tubuh ringkih sang kekasih hati. Berharap erat dekapnya mampu menghadirkan tenang, sekaligus menyampaikan maaf, bahwa tak ada maksud menyakiti sama sekali.

"Setengah mati aku berusaha mematri harapan dan keyakinan bahwa kemungkinan terakhirlah yang sedang terjadi."

Maksud hati tak ingin bersikap emosional. Namun apa daya, suara Seijuurou justru bergetar. Pemuda itu mengeratkan pelukan, dan semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk hangat sang kekasih tersayang.

"Sejak saat itu, aku terus mencarinya. Informasi, jejak, petunjuk, semuanya." Rahang si pemuda merah mengeras. "Sekalipun setiap akses ditutup, informasi dipalsukan, dunia menentang, aku tidak peduli. Aku bersumpah tidak akan berhenti mencari."

Wajah manis si baby blue ditatap penuh cinta. Ciuman diberikan pada dahi, kedua kelopak mata, hidung, dan berakhir di bibir mungil merah muda.

"Karena aku yakin, petunjuk sekecil apapun, pasti mampu menuntunku menemukan Tetsuyaku."

Lelehan bening diusap lembut dari pipi. Kelopak pucat kembali menyingkap iris langit nan menawan hati. Dada si merah menggemuruh saat menatap senyum secantik bidadari.

Tetsuya mengulurkan lengan. Jemari lentiknya menangkup wajah aristokrat sang pangeran. Seijuurou membalas dengan genggaman. Perlahan telapak halus dibawa mendekati bibir, lalu dikecup lama penuh pemujaan.

"Ada yang ingin aku sampaikan pada Sei-kun saat kita bertemu." Bisik si baby blue.

Seijuurou tersenyum, menunggu.

"Maafkan aku. Karena tiba-tiba pergi. Karena sudah melukai Sei-kun. Dan selusin kesalahanku yang lain." Tetsuya menarik napas. "Aku benar-benar minta maaf, Sei-kun."

"Dimaafkan." Hidung si baby blue dikecup sayang. Seijuurou semakin mengeratkan pelukan. "Yang lain?"

Iris langit Tetsuya menatap heterokrom tepat di retina. Ada jutaan rasa tak terjabarkan saat jiwanya seolah ditarik dan ditawan dalam pesona sepasang iris sewarna senja. Dan bibirnya tak kuasa menahan getar, saat pemuda itu berkata.

"Aku mencintaimu, Sei-kun."

Sungguh hebat untaian huruf yang membentuk kata 'cinta', bahkan jika kata itu ditulis dan diucapkan dalam jutaan bahasa yang berbeda. Mungkin hanya secuil rasa tak logis yang dikaruniakan di hati manusia. Namun faktanya, terlalu banyak kasus nyata di mana 'cinta' mampu memutar-balikkan dunia.

Lalu, bagaimana caranya Seijuurou mengungkapkan bahwa dirinya luar biasa bahagia? Karena meski jiwa kejam Sang Raja Neraka dicurigaitengah tertidur di dalam dirinya, Seijuurou tetaplah manusia biasa.

Tak tahu harus berkata atau berbuat apa, pemuda merah itu hanya melakukan apa yang pertama kali terbersit di dalam kepala.

Bibir sang belahan jiwa kembali dihadiahi ciuman cinta.

Bukan ciuman nafsu berbumbu birahi. Hanya ciuman inisiasi pengikat janji.

Biar matahari putar arah, langit runtuh, dunia jungkir balik, mereka berdua akan tetap saling memiliki, tak kan terpisah meski sampai mati.

Jiwa Seijuurou sedang melayang-layang tinggi. Karena itu, khusus bagi sang kekasih, senyum terbaik pun dia beri dengan sepenuh hati.

"I love you more, dear."

Niat hati ingin mengakhiri suasana syahdu ala roman picisan, Seijuurou mengalihkan topik pembicaraan.

"Kalau dilihat-lihat..." ujarnya kemudian. "...aku yang ada di lukisan ini keren sekali, bukan?"

"Narsis itu tidak baik, Sei-kun." Tetsuya memutar bola mata. "Ini hanya kebetulan. Yang hebat jelas pelukisnya."

Seijuurou justru tertawa. "Jadi, bagaimana analisisku tadi? Semuanya benar?"

"Tidak semuanya." Jari telunjuk si baby blue terulur membelai kanvas. "Karena lukisan yang kedua, yang Sei-kun lihat di aula, belum ada saat lukisan ini aku berikan pada Sei-kun. Aku belum membuatnya."

"Lalu kapan Tetsuya membuatnya?" tanya Seijuurou penasaran.

"Beberapa bulan setelah aku pindah ke kota ini." Tetsuya mengingat-ingat. "Melukisnya membutuhkan waktu yang sangat lama."

"Ngomong-ngomong, soal lukisan yang ada di aula..." Jari telunjuk Seijuurou mengetuk dagu. "... aku juga menemukan keanehan di sana."

"Ada yang aneh di sana?" bibir si baby blue mengerucut lucu. "Yang mana?"

"Sudut kiri bawah." Seijuurou mengetuk gambar mahkota merah pada lukisan di depan mereka. "Identitas pelukis biasanya dicantumkan di sudut kanan bawah seperti ini. Tapi pada lukisan yang ada di aula, Tetsuya meletakkan mahkota merah di sudut kiri bawah. Seperti tanda yang salah ditempatkan."

"Hmm..." kepala biru mengangguk-angguk. "Sejujurnya, aku tidak sadar sudah membuatnya seperti itu, Sei-kun."

"Tapi, tunggu dulu!" Kedua alis Seijuurou sedikit merapat, tiba-tiba teringat sesuatu. "Sejak kapan Chihiro tahu soal lukisan itu, Tetsuya?"

"Sejak awal." Tetsuya tersenyum tipis. "Chihiro-nii adalah saksi kunci yang masih hidup, Sei-kun."

"Saksi kunci yang kelewat ahli menyembunyikan rahasia rupanya." Seijuurou mendengus. "Apa itu berarti, kalau saja Chihiro tidak mengumpulkan lukisan itu di aula, aku tidak akan bisa menemukan Tetsuya secepat ini. Begitu?"

Tetsuya mengangkat bahu. "Bisa jadi."

"Omong kosong." Seijuurou mendecih. "Aku akan tetap menemukan Tetsuyaku, apapun yang terjadi."

"Tapi untuk kali ini, mau tidak mau, Sei-kun harus mengakui. Chihiro-nii sudah sangat membantu." Melihat pacarnya cemberut, si baby blue malah terkikik geli. "Aku rasa, Sei-kun berhutang ucapan terima kasih pada Chihiro-nii."

"Tidak mau." Seijuurou menolak serta merta. "Aku masih kesal padanya."

Tetsuya menggelengkan kepala. "Sei-kun keras kepala."

"Dia yang duluan cari gara-gara." Seijuurou tidak mau kalah. "Aku sampai curiga. Apa Chihiro punya perasaan lebih padamu, Tetsuya?"

"Nope." Tetsuya mengibaskan tangan. "Chihiro-nii sudah punya pacar, Sei-kun."

Tapi Seijuurou masih keberatan untuk percaya begitu saja. Ke-over protektif-an Chihiro pada Tetsuya sudah ada dalam taraf yang tidak wajar, menurutnya.

Sedangkan jika dilihat dari kacamata orang biasa, Seijuurou sedang dilanda virus bernama cemburu buta. Dan Tetsuya cukup pintar untuk menyadari bahwa itulah faktanya.

"Serius, Sei-kun." Tetsuya meyakinkan. "Meskipun hanya sepupu, tapi bagi Chihiro-nii, aku adalah adik satu-satunya."

Demi menenangkan hati sang pacar, kecupan ringan di hidung mancung diberikan. Ternyata manjur mengendurkan kecurigaan.

Seijuurou kembali mengurung tubuh mungil Tetsuya dalam dekapan.

"Tetsuya milikku." Gumamnya tepat di telinga si baby blue. "Selamanya, hanya milikku."

Tetsuya hanya membalas dengan tawa. Meskipun untuk kesekian kali, pipi pucatnya kembali merona.

"Ngomong-ngomong, Sei-kun." Tetsuya memecah suasana. "Hari ini aku harus pulang."

"Tidak boleh." Seijuurou justru mengeratkan pelukan. "Aku tidak akan membiarkan Tetsuya pulang."

Tetsuya tidak mau mengalah. "Tapi Chihiro-nii bisa marah besar, Sei-kun."

"Biarkan saja kakakmu itu mengamuk. Aku tidak peduli. Semakin sering Chihiro kalap, semakin bagus." Seringai jahil tersungging di bibir. "Tetsuya tahu aku absolut dan tidak menerima penolakan, bukan?"

"Kalau begini caranya, masalah ini tidak akan cepat selesai." Menghadapi pacar yang sedang manja, Tetsuya berlagak dewasa. "Biarkan aku pulang, Sei-kun. Aku perlu bicara dengan Chihiro-nii."

Seijuurou hanya diam. Otaknya berputar memikirkan berbagai macam kemungkinan.

Sementara Tetsuya malah sibuk sendiri. Tubuh ringkihnya menggeliat, berusaha melepaskan diri dari kurungan lengan sang kekasih hati.

Beberapa detik bungkam, seringai licik terukir di bibir sang pangeran. Bersamaan dengan otaknya yang selesai mengambil keputusan.

Kejeniusan ditambah kejahilan sama dengan langkah sesat yang setara dengan undangan perang.

"Baiklah. Aku akan mengizinkan Tetsuya pulang." Ujar si pemuda merah tiba-tiba. "Tapi dengan 1 syarat."

"Apa?" tanya Tetsuya tanpa curiga.

Seijuurou pasang seringai serigala. "Aku sendiri yang akan mengantarmu, Sayang."

~ ~ aish ~ ~

Chihiro tengah menjelma menjadi seterikaan.

Hilir mudik mengitari ruangan. Mondar mandir dari timur ke barat, lanjut utara ke selatan. Mengacak-acak surai sendiri di tengah perjalanan. Hebatnya, mulut irit bicaranya belum juga capek menyemburkan sepasukan gerutuan.

Gerutuan itu lumayan bervariasi. Juga –sungguh ajaib- menyuguhkan lebih banyak ekspresi.

Khawatir saat berkata 'Kenapa kau tidak kunjung pulang, Tetsuya?'. Lalu berubah mengeras saat berujar 'Kalau terjadi apa-apa pada Tetsuya, akan kucincang dia! Sumpah, akan kucincang dia!'

Detik berikutnya merintih sendu 'Kalau kau tidak segera pulang, Nii-san akan mendobrak rumah bajingan tengik itu, Tetsuya'. Sebentar kemudian, kepalan tangannya menonjok tembok sambil berseru 'AKAN AKU SATE KURCACI MERAH ITU DENGAN KATANA KOLEKSI AYAH!?'

Sementara Shigehiro hanya bisa memperhatikan sambil bengong. Lehernya sudah encok lantaran mengikuti pergerakan sang pacar yang tingkahnya mendadak serong.

"Chihiro-san." Panggilnya, minta perhatian.

Namun diabaikan. Untuk kali ke sekian. Sang pacar masih betah jadi seterikaan.

Pemuda itu sampai bisa membayangkan. Kalau si kelabu jadi seterikaan betulan, pasti sudah muncul jalur-jalur gosong di sepanjang jalan, saking telapak kakinya sudah menggosok ruangan selama berjam-jam.

Si pemuda coklat manis menghela napas lelah. Ingatannya kembali menelusuri hari, yang tak pernah dia duga, akan jadi awal masalah.

~ ~ aish ~ ~

Flashback

Shigehiro masih sangat ingin menutup mata. Setengah berharap matahari libur dari tugasnya meski cuma setengah hari saja. Tak lupa dalam hati menyumpahi tugas yang membuatnya harus begadang sampai jam tiga.

"Shigehiro, bangun!"

Tubuhnya diguncang pelan.

Ah, satu lagi. Si anak psikologi sangat ingin mengutuk orang usil ini. Yang seenak jidat membangunkannya saat dia sedang sangat ingin hibernasi (yang berarti tidur nyenyak –setidaknya- sampai dua hari).

"Ayo, cepat bangun! Aku butuh bantuanmu sekarang juga, Sayang!"

Mendengar label istimewa, Shigehiro membatalkan keinginannya yang ketiga. Samar-samar ingat bahwa dirinya tengah menginap di tempat pacarnya.

Tubuh lelahnya didudukkan. Kelopak mata yang masih berat dipaksa terbuka pelan-pelan. Tangannya menggapai ponsel yang tergeletak di nakas untuk mengecek jam.

Keningnya mengerut rapat saat jam digital ponsel mencetak angka 4.00 dini hari.

"Astaga! Ini masih tengah malam, Chihiro-san." Protes Shigehiro. Suaranya serak dan agak-agak mendayu macam orang teler yang belum sembuh. "Aku baru tidur 1 jam yang lalu!"

"Justru itu. Ini urusan penting yang harus selesai sebelum matahari bangun, Shigehiro." Tandas Chihiro. "Jadi kau harus bangun sekarang juga dan bantu aku!"

"Tidak mau." Tolak si coklat serta merta. Pemuda itu menarik selimut dan kembali bergelung. "Aku ngantuk! Pokoknya aku mau tidur."

Chihiro mendecih. Satu-satunya bala bantuan malah memperumit situasi. Kalau meleset dari perhitungan, Chihiro khawatir rencananya akan berakhir dengan kegagalan.

Memantapkan hati, Chihiro menarik selimut yang membungkus tubuh sang pacar, lalu melemparnya sembarangan. Meski kasihan dengan kondisi Shigehiro yang kebelet tepar, tapi rencana ini harus berhasil dijalankan.

"Dingin, Chihiro-saaan!" rengek Shigehiro. Tubuhnya semakin digulung meniru trenggiling. Tapi tangannya meraih apapun yang terjangkau untuk dijadikan guling.

Sudah tidak ada waktu lagi. Mau pacarnya sudah K.O sampai nyaris mati, Chihiro tidak peduli.

Tubuh lemas Shigehiro ditarik sampai terduduk. Matanya masih tertutup, tapi mulut belum berhenti merutuk. Paling tidak, Shigehiro lupa kembali bergelung, meskipun badannya masih meliuk-liuk mirip orang mabuk.

"Ayo berdiri!" Chihiro memapah –atau menyeret?- Shigehiro ke kamar mandi. "Cuci muka dulu, biar ngantukmu hilang."

"Aku mau balik tiduuur..." rengekan Shigehiro semakin menjadi.

"Iya, nanti. Setelah urusan ini selesai, kau bisa tidur sesukamu." Chihiro berjanji. "Sekarang, cuci muka dulu!"

Terpaksa menuruti perintah sang kekasih, Shigehiro melenggang malas menuju kamar mandi. Kaki sengaja dihentakkan agar sang pacar tahu dia kesal setengah mati.

Begitu keluar dari kamar mandi, tangan Shigehiro keburu ditarik lagi. Si coklat manis itu bahkan belum sempat menanyakan, sebenarnya ada apa ini?

Kening Shigehiro terlipat rapat begitu Chihiro berhenti di depan pintu sarang Tetsuya.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Shigehiro.

Bukannya menjawab pertanyaan sang pacar, Chihiro langsung mengajak Shigehiro masuk ke dalam. "Ikut aku."

Rasa penasaran ternyata manjur juga mengembalikan kesadaran, meskipun belum keseluruhan. Shigehiro semakin tidak mengerti ada apa gerangan, tatkala sang pacar dengan santai langsung meluncur ke pojok ruangan. Dan berhenti di depan lukisan misterius si adik tersayang.

Chihiro melambaikan tangan, memanggil. "Bantu aku membawa ini, Shigehiro."

Sesaat, Shigehiro terdiam. Otaknya masih me-loading permintaan sang pacar barusan.

"Ini lukisannya Tetsuya-kun, Chihiro-san." Shigehiro mengingatkan.

"Iya, memang." Sahut Chihiro tenang. "Aku tidak pernah mengklaim benda ini milikku."

"Lalu kenapa kita membawanya?" Shigehiro melipat tangan di depan dada. "Di jam seperti ini pula."

"Simpan dulu pertanyaanmu. Yang penting sekarang kau harus membantuku." Chihiro bersiap menggotong si lukisan. "Kita sudah harus buron dari sini sebelum Tetsuya bangun."

"Chihiro-san sedang mengajariku jadi maling sekarang?" terkejut, suara Shigehiro naik beberapa oktaf.

"Iya. Kau memang cerdas, Sayang." Sahut Chihiro serta merta. Sukses membuat mulut sang pacar menganga. "Maling atau bukan, aku tidak peduli. Kita harus pergi sekarang juga."

"Ke mana?" tanya Shigehiro sangsi.

"Akan aku jelaskan dalam perjalanan." Si kelabu menjanjikan. "Sekarang, bantu aku mengangkat benda ini. Kita masukkan ke dalam mobil."

Ternyata, penjelasan yang dijanjikan malah batal ditunaikan. Lantaran kelopak mata Shigehiro langsung tertutup rapat, beberapa puluh meter setelah ban mobil menyentuh aspal.

Alhasil, si anak psikologi sukses dibuat terkejut untuk kedua kalinya, saat sang pacar memencet brutal bel apartemen berplat nama Nijimura. Dan mendadak kehilangan perbendaharaan kata saat melihat sang ketua senat membuka pintu dalam keadaan masih bertelanjang dada. Astaga!

"DASAR BRENGSEK!" Pintu menjeblak kasar. Si tuan rumah jelas marah besar. "MAKHLUK GOBLOK MANA YANG MINTA DITONJOK...?!"

Tepian keras bingkai disorongkan. Cacian bangun tidur sang ketua senat sontak tertelan.

"Ini aku, Nijimura." Ujar si kelabu dingin. "Biarkan kami masuk!"

Sudah hapal suara tanpa nada itu sampai di luar kepala, Shuuzou membiarkan pintu apartemennya terbuka. Pemuda itu mempersilakan tamu-tamunya masuk meskipun selusin pertanyaan berputar-putar dalam kepala. Ditambah lagi, kedua tamunya menggotong benda kotak mencurigakan berbalut kain putih pula.

"Kalian sadar ini jam berapa?" sindir Shuuzou. Pasang tampang sok punya kuasa, tangannya terlipat di depan dada.

Chihiro dan Shigehiro langsung duduk di sofa tanpa diminta.

"Kami tahu." Santai suara Chihiro memberitahu bahwa dia tidak akan mengucap 'maaf, sudah mengganggu'.

"Tapi setidaknya, jangan lupa pakai sesuatu dulu sebelum membuka pintu. Kau mau pamer? Pacarku tidak nyaman melihatmu setengah telanjang seperti itu."

Karena sejak tadi, Shigehiro belum berhenti membuang muka. Pemuda itu ogah melihat Shuuzou lama-lama. Bukan gara-gara takut tergoda atau apa. Tapi untuk menyembunyikan pipinya yang sudah merona. Plus menghindari munculnya delusi liar di dalam kepala.

Sebabnya, kejutan ronde ketiga. Iris coklat Shigehiro menangkap kiss -ralat– bitemark tepat di sana. Di bahu sang ketua senat, astaga!

Sedangkan Shuuzou malah mendecih. Sindiran sang kawan tentu saja membuatnya risih. Pemuda itu kembali masuk ke kamar untuk mengambil T-shirt, meskipun muncul tanya dalam hati. Yang punya rumah sebenarnya siapa sich?

"Aku sarankan, kau mandi sekalian, Nijimura." Si kelabu mengeraskan suara. "Badanmu bau sperma!"

"Urusai, Mayuzumi!" teriak si tuan rumah dari dalam.

"Chihiro-san!" Shigehiro menyikut rusuk sang pacar. "Dari tadi sudah aku tahan, malah diucapkan keras-keras."

"Biarkan saja." Chihiro mengedikkan bahu. "Tuan rumah juga harus punya sopan santun pada tamu."

Shigehiro mengeluh dalam hati. Bukannya situasinya sedang terbalik di sini? Justru mereka berdua yang bisa diperkarakan atas tuduhan gangguan privasi.

Shuuzou kembali dengan penampilan yang lebih tertutup. Selembar handuk tersampir di kepalanya yang masih basah kuyup.

Sementara kedua kawannya sudah pindah tempat. Chihiro dan Shigehiro mempersilakan diri mereka sendiri menikmati apapun yang tersedia di dalam kulkas. Shuuzou bergabung, duduk bertiga bersama kedua tamunya di mini bar.

"Aku terkejut, sejujurnya. Temanku yang taat peraturan mendadak berubah jadi kriminal." Shuuzou mencomot sekeping Oreo dari toples.

"Wah, terima kasih pujiannya." Chihiro menyeruput coklat panasnya. "Aku tidak sealim yang terlihat, kalau kau mau tahu."

"Jadi, apa maumu, Mayuzumi?" tanya Shuuzou tanpa basa-basi. "Aku harap alasanmu masuk akal sampai berani membuatku nyaris tuli."

"Aku butuh tempat singgah sementara." Si kelabu mengendikkan dagu, menunjuk barang bawaan yang disandarkan ke dinding seberang. "Untuk benda itu."

"Kau pikir apartemenku barak pengungsian?" Si tuan rumah menunjuk si benda mencurigakan dengan ujung jari. "Dan lagi, benda apa itu?"

"Lihat saja sendiri." Jawab Chihiro tanpa menatap si penanya. Atensinya tercuri oleh kepingan biskuit keju di tengah meja.

Shuuzou berjalan melintasi ruangan. Penasaran, pemuda itu menyentakkan kain penutup dan melemparnya sembarangan.

Sang ketua senat sukses dibuat tercengang.

"Darimana kau dapatkan benda ini?" tanya Shuuzou, setelah beberapa detik terlewat.

"Nyolong." Jawab Chihiro asal. "Asal kau tahu saja, sekarang ini kami sedang buron."

Mulut Shuuzou terbuka lebar. Atensinya beralih pada pacar sang kawan yang sedari tadi hanya diam. "Ini serius?"

"Yah, seperti itulah kira-kira." Shigehiro nyengir sambil menggaruk pipi. "Jadi, maaf sebelumnya, kalau mendadak polisi datang menggeledah tempat ini."

"Memangnya kalian habis ngutil dari geleri mana?" Mata Shuuzou membulat sempurna. "Yang lebih penting lagi, kalian membawa benda bermasalah ini ke rumahku pula. Kalian mau melantikku menjadi anggota sindikat rampok lukisan?"

"Bukan dari galeri manapun, tenang saja." Sahut Chihiro. "Cuma dari sarang seseorang yang aku kenal."

"Lalu kenapa malah kau angkut ke sini?" suara Shuuzou meninggi. "Kalau tidak mau tertangkap, jual saja di pasar gelap sana!"

"Justru karena itulah..." Chihiro menjeda. Ditatapnya iris sang kawan tepat di retina. "...aku membawanya ke sini. Aku butuh bantuanmu, Nijimura."

"Bantuan apa?" Shuuzou melipat tangan di depan dada. "Memasangnya di lelang pasar gelap? Lupakan! Aku tidak mau terlibat dalam kasus kriminal apapun!"

"Bukan di pasar gelap. Kau hanya perlu memajangnya." Chihiro mengangkat sebelah alis. "Di aula."

"HAAH?!" mulut Shuuzou kembali menganga. "Aula? Aula Rakuzan?"

Chihiro mengangguk mengiyakan.

"Untuk apa?" sang ketua senat belum menyerah menuntut penjelasan.

Sang bawahan pasang raut super datar. "Ikut seleksi, tentu saja."

"Kau bilang ini barang curian, Bung." Shuuzou mengingatkan.

"Memang." Chihiro mengedikkan bahu. "Lalu, apa masalahnya?"

"Tentu saja masalah. Kau mau nama Rakuzan diseret ke pengadilan?!" Shuuzou terlanjur terbawa emosi. "Bisa hancur reputasiku sebagai Ketua Senat paling gemilang!"

Belum sempat Chihiro meredakan emosi sang kawan, suara mengantuk nan malas terdengar dari dalam.

"Ada apa sich ribut-ribut? Ini masih pagi tahu!"

Haizaki Shougou. Si anak elektro.

Muncul dalam keadaan super berantakan. Tubuh bagian atas telanjang. Satu tangan memegangi pinggang. Berjalan pun sambil tertatih, agak mengangkang, dan terpincang-pincang.

Shigehiro mengalami kejutan ronde lanjutan.

Kissmark dan bitemark bertebaran. Ditambah beberapa luka memar. Dan bonus aroma khas produk aktifitas ranjang.

Rasanya, Shigehiro ingin pingsan sekarang!

Sementara si pendatang baru menatap sekeliling dengan pandangan heran. Seingatnya, hanya ada dia dan Shuuzou saja semalam. Belum lagi terdengar kokok merdu ayam jantan, penghuni apartemen sudah bertambah lagi dua orang.

"Kenapa dua orang ini bisa ada di sini?" kening Shougou mengeriting.

Shuuzou menghela napas. Pemuda itu berjalan mendekati sang pacar. Handuk bekas keramas digunakan untuk menutupi tubuh Shougou yang terekspos bebas.

"Balik ke kamar sana!" Shuuzou memutar tubuh Shougou. "Kau membuat Ogiwara nyaris semaput, tahu!"

"Memangnya siapa yang suruh lihat?" protes si mantan preman. "Dan lagi, sejak kapan mereka ada di sini, Shuuzou?"

"Sejak tadi." Shuuzou mendorong Shougou masuk ke dalam kandang. "Jangan ikut campur dulu! Nanti aku cerita kalau urusannya sudah jelas."

Gerutuan Shougou teredam oleh pintu yang ditutup dari luar.

"Kau main BDSM, huh?" Chihiro iseng bertanya.

Yang ditanya kontan merengut. "Tutup mulutmu!"

Chihiro terkekeh. "Jadi bagaimana? Kau hanya perlu mengikutkannya dalam seleksi hari ini."

"Ini barang curian." Shuuzou menegaskan. "Aku tidak mau akhir masa jabatanku berakhir di pengadilan."

"Kau tidak perlu khawatir, Nijimura." Chihiro menenangkan. "Tidak akan ada keterlibatan aparat dalam bentuk apapun. Apalagi sampai ke meja hijau."

"Dan pemilik lukisan ini?" Shuuzou masih mengejar. "Bagaimana kalau dia melayangkan tuntutan?"

"Tidak akan." Chihiro meyakinkan. "Dia hanya akan mengamuk padaku. Aku jamin."

"Sesimpel itu?" Shuuzou memicingkan mata, curiga. "Memangnya siapa pemilik lukisan ini?"

Chihiro membuang muka. "Nanti kau juga akan tahu."

Sang ketua senat menghela napas berat. "Kenapa kau melakukan ini? Apa tujuanmu?"

"Aku melakukannya demi pemiliknya." Iris kelabu menerawang. "Aku harap, cara ini bisa membuatnya bahagia."

Detik berikutnya, tak ada yang bersuara. Bahkan Shuuzou yang dari tadi gencar menginterogasi, tampak sudah setuju untuk bekerja sama. Pemuda itu cukup dewasa untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang akan tetap jadi rahasia.

"Ngomong-ngomong, kau ada kelas hari ini?" tanya Chihiro setelah beberapa lama.

"Ada, jam kedua." Jawab Shuuzou. "Tapi aku harus berangkat pagi-pagi sekali. Ada urusan dengan Mibuchi dan Akashi. Soal seleksi itu."

"Kebetulan sekali. Aku pergi denganmu." Chihiro menunjuk si barang curian. "Benda itu sudah harus ada di aula sebelum ada seorang pun yang masuk ke sana."

"Entah Dewi Fortuna sedang tergila-gila padamu atau apa, tapi kau beruntung, Bung." Shuuzou mendengus. "Aku yang pegang kuncinya."

"Jadi, apartemenmu kosong hari ini?" Chihiro tiba-tiba mengganti topik pembicaraan. "Aku punya satu permintaan lagi."

Shuuzou merotasi bola mata. "Apalagi?"

"Ada tempat untuk pacarku tidur?" Chihiro menepuk lembut kepala Shigehiro. "Shigehiro baru tidur jam tiga tadi. Lalu aku menyeretnya kemari."

Diperhatikan seperti itu, sejujurnya membuat Shigehiro malu.

"Kau bisa tidur di kamar tamu, di sofa ini, di mana saja." Sang tuan rumah mengizinkan. "Tapi jangan masuk ke kamarku. Bisa-bisa Shougou mengamuk. Tenang saja, kau tidak akan sendiri, Ogiwara. Shougou jaga rumah hari ini."

"Haizaki-kun tidak ada jadwal kuliah?" tanya Shigehiro.

Shuuzou menggelengkan kepala. "Dia libur."

Chihiro menyeringai tanpa kentara. "Jadi karena itu, kau menghajar pacarmu semalaman?"

Shigehiro menutup muka dengan kedua tangan.

Shuuzou kontan berang. "Bukan urusanmu, tahu!"

~ ~ aish ~ ~

Jadi, bagaimana Shigehiro tidak merasa heran?

Pacar yang tadinya gagah berani berkorban demi adik tersayang layaknya seorang ksatria di film-film kolosal. Sampai tega mengajaknya main maling-malingan, lalu dengan bangga memproklamirkan diri sebagai buronan. Sekarang malah ribut merancang skenario pembunuhan, lengkap dengan daftar seperangkat perkakas, alat dan bahan. Plus naskah adegan tambahan ekstra kejam : memasak jeroan orang!

Gara-garanya? Chihiro mendadak menyesali langkah mulia yang dianggapnya akan membuat Tetsuya bahagia. Buntutnya, si kelabu malah merasa sudah melemparkan adiknya ke jurang neraka. Sungguh, pemuda itu merasa berdosa karena menjadi kakak durhaka.

"Chihiro-san." Percobaan kembali dilakukan.

Diabaikan.

"Chihiro-san." Masih berusaha sabar.

Tetap diabaikan.

Habis kesabaran, Shigehiro menerjang sang pacar dan memeluknya dari belakang. "CHIHIRO-SAN!"

Si kelabu tersentak.

Pemuda itu memutar badan. Mendapati sang pacar yang melayangkan protes lewat tatap menghujam.

"Shigehiro." Lirihnya. "Kenapa kau...?"

"Bukan aku yang kenapa." Sela Shigehiro serta merta. Pemuda itu lalu menarik Chihiro sampai terduduk di sofa. "Kau harus tenang dulu, Chihiro-san."

"Bagaimana aku bisa tenang?" tandas Chihiro. "Sampai sekarang Tetsuya belum pulang."

Shigehiro menghela napas. Pemuda itu menyodorkan segelas kopi yang masih mengepulkan uap panas. "Minum dulu, Chihiro-san."

Gelas diterima, lalu diseruput perlahan. Efeknya lumayan, mampu mengendurkan saraf-saraf tegang.

"Aku pikir Tetsuya-kun pasti baik-baik saja." Shigehiro menggumam. "Akashi bersamanya."

Suara gelas membentur kaca memecah hening suasana.

"Justru karena si setan merah itu bersama Tetsuya, aku tidak bisa tenang!" bentak Chihiro. "Kau tidak tahu manusia seperti apa Si Akashi itu, Shigehiro!"

Shigehiro berjengit kaget. Tubuh diseret menjauh, sepenuhnya reflek.

"Maaf, Chihiro-san." Suara Shigehiro bergetar. "Aku memang tidak tahu apa-apa. Maafkan aku."

Chihiro sontak tersadar. Tidak seharusnya pemuda itu melampiaskan emosi pada sang pacar. Diraihnya tubuh gemetar Shigehiro ke dalam pelukan.

"Tidak, Shigehiro." Chihiro mengecup puncak kepala Shigehiro. "Aku yang minta maaf. Aku sudah kelewatan."

Shigehiro menggelengkan kepala, masih merasa bersalah. "Kalau tahu Chihiro-san akan jadi secemas ini, aku tidak akan ikut memojokkan Chihiro-san di kantin tadi."

Chihiro menghela napas berat. "Jadi kenapa kau lakukan itu tadi?"

"Karena Chihiro-san bilang ini demi kebahagiaan Tetsuya-kun." Iris sewarna kayu tampak berkaca-kaca.

Diam sejenak, Chihiro menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. Otomatis menarik Shigehiro semakit lekat di dadanya.

"Tidak, kau tidak salah." Ujar si kelabu kemudian. "Sejak awal, ini memang kulakukan demi kebahagiaan Tetsuya."

"Lalu kenapa Chihiro-san mendadak marah?" tanya Shigehiro.

"Itu terjadi begitu saja." Chihiro meringis. "Entah bagaimana, tiba-tiba aku merasa sudah menumbalkan Tetsuya agar dilahap iblis penghuni neraka."

"Tapi mereka memang sepasang kekasih, Chihiro-san." Kening Shigehiro berkerut heran. "Mereka saling mencintai, ingat?"

"Sekalipun mereka pacaran, tidak serta merta membenarkan kelakuan Akashi yang mengurung adikku sampai 2 hari 2 malam." Tegas Chihiro berapi-api. "Akan jadi 3 malam kalau hari ini Tetsuya tidak pulang."

Tak disangka, jawaban Chihiro malah membuat Shigehiro tertawa. Menilik sikonnya, bukankah mereka sama saja? Saking seringnya Shigehiro menginap, malah kelihatan seolah mereka sudah tinggal bersama.

"Intinya..." Shigehiro cengengesan. "...Chihiro-san hanya parno. Ini kekhawatiran yang berlebihan."

"Bukan berlebihan." Sangkal Chihiro. "Ini kekhawatiran yang sangat beralasan."

"Tetsuya-kun pasti baik-baik saja." Shigehiro tersenyum menenangkan. "Percaya saja!"

Chihiro mendengus. "Bagaimana aku bisa percaya?"

"Karena Akashi bersamanya." Shigehiro meyakinkan. "Akashi pasti menjaganya."

Chihiro menyipitkan mata. "Bagaimana kau tahu?"

"Hanya...tahu." Shigehiro mengedikkan bahu. "Akashi mencintai Tetsuya-kun. Sangat mencintainya malah."

"Bagiku, cebol merah itu tetap serigala berbulu domba." Chihiro mendecih, rahangnya mengeras. "Dia pasti memanfaatkan kesempatan agar bisa menjamah Tetsuya."

Shigehiro baru akan menyela, saat bel apartemen berdering mengejutkan telinga.

"Siapa itu ya?" Shigehiro bangkit dari duduknya. "Biar aku yang membuka pintunya."

Sementara Chihiro kembali tenggelam dalam angan-angan. Otaknya masih berkutat mempertimbangkan akan dia apakan tubuh si calon korban. Direbus, digoreng, atau dipanggang?

Sampai pekik terkejut Shigehiro membuat lamunannya buyar.

"Tetsuya-kun!?"

Kontan saja, Chihiro melesat ke depan. Pemuda itu ingin memastikan dengan mata kepala sendiri, bahwa adik kesayangannya benar-benar pulang.

"Tetsuya?!" Chihiro memanggil. "Kau bener-benar pul..."

Kata-katanya tertelan. Tubuh Chihiro kontan menengang. Lantaran si calon target proyek psyco-nya malah nampang dan pamer seringai super mengesalkan.

"Kenapa kau ikut kemari?" Chihiro menunjuk wajah Seijuurou dengan ujung jari. Sebagai tuan rumah, pemuda itu ingin menunjukkan bahwa dia tidak welcome sama sekali.

"Mengantarkan pacarku pulang." Ujar Seijuurou tanpa beban. Pemuda itu melenggang santai ke dalam.

"Tunggu dulu!" Chihiro reflek mencegah. "Siapa yang mengizinkanmu masuk?"

Seijuurou memutar badan.

"Lihat?!" Seijuurou mengangkat jemarinya yang bertautan erat dengan jemari sang pacar. "Tetsuya yang mengajakku masuk."

Chihiro baru akan kembali demo. Tapi batal karena pundaknya dicengkeram dari belakang oleh Shigehiro. Si surai coklat itu memperingatkan dengan gelengan, meminta sang pacar agar bersabar.

Chihiro menarik napas kuat-kuat demi meredam emosi.

Setelah menutup pintu, Chihiro masuk ke dalam. Diikuti Shigehiro di belakang. Pemuda itu mendapati Tetsuya yang tengah sibuk mengaduk sesuatu di mini bar. Sedangkan Seijuurou menunggu sambil memeluk sang pacar dari belakang.

Sesaat, iris kelabunya bersirobok tatap dengan heterokrom pemuda merah yang terlanjur dicapnya sebagai si pembawa bencana. Sorot mengejek dan bangga karena merasa menang tertangkap sempurna dari iris beda warna.

Sungguh ampuh membuat Chihiro mati-matian menahan geram.

Demi Tuhan! Jika saja kekerasan legal, tangannya sudah sangat gatal ingin mencakar habis muka si setan merah itu sampai tidak bisa disembuhkan.

"Ini untuk Sei-kun." Si baby blue menyodorkan segelas coklat panas.

Seijuurou menerimanya dengan senyum terkembang. Pun juga tidak lupa mengecup pelipis sang pacar. "Terima kasih, Sayang."

Menyaksikan itu, Shigehiro hanya bisa meringis dan menggaruk pipinya yang tidak gatal. Sementara Chihiro malah ingin muntah lantaran sudah tidak betah melihat akting murahan sok mesra si cebol merah.

Masa bodoh dengan situasi ala roman picisan, Chihiro menghampiri si adik kesayangan. Pemuda itu menarik lengan Tetsuya, memisahkannya dari rangkulan Raja Neraka.

"Ada apa, Chihiro-nii?" Tetsuya bertanya.

"Kau tidak apa-apa, Tetsuya?" bukannya menjawab, sang kakak justru balik melempar tanya. "Kau baik-baik saja?"

Tetsuya mengangguk. "Aku baik-baik saja, Chihiro-nii."

"Kau yakin?" Chihiro memutar-mutar tubuh Tetsuya, memeriksa. "Tidak luka sama sekali?"

"Aku bebas luka." Tetsuya meyakinkan. "Jaminan 100%."

Chihiro menarik napas lega, saat memastikan tidak ada cacat sedikit pun di tubuh adiknya.

Tetsuya mengerutkan kening. "Kenapa Chihiro-nii khawatir sekali?"

"Tentu saja aku khawatir." Iris kelabu melirik si pemuda merah dengan tatapan membunuh. "Kau pergi bersama dia!"

Seijuurou hanya merotasi bola mata.

Tetsuya memiringkan kepala ke satu sisi. "Ada apa dengan Sei-kun?"

"Orang ini berbahaya, Tetsuya. Kau belum tahu saja." Chihiro menggebu-gebu. Tatapan terkunci pada si baby blue, tapi jari menunjuk si pelaku. "Dia ini serigala. Ular bermuka dua. Kalau kau lengah, dia bisa menggigit, melahap, atau mematukmu kapan pun dia mau."

Sementara yang kena tunjuk hanya bungkam. Sedang malas tarik urat, Seijuurou hanya mendengarkan. Entah apa yang tengah pemuda ini pikirkan.

Raut Tetsuya semakin datar, seiring label-label kejam masih gencar dialamatkan Chihiro pada sang pacar. Telinganya panas lantaran sang kakak tega mengatai Seijuurou dengan selusin karakteristik hewan liar. Lagipula, dia baru saja pulang, malah diajak bertengkar. Sungguh tidak berperikemanusiaan!

Saking sudah sangat kesal, otak kreatif Tetsuya malah melahirkan ide jahil untuk membalas sarkasme sang pawang. Si baby blue nyaris yakin, ide ini akan membuat Chihiro melolong sopran macam orang sarap yang kabur dari balai pengobatan.

Menghela napas sejenak, Tetsuya menepuk kedua pundak sang kakak. Otomatis menghentikan racauan ala bendungan ambrol si pemuda kelabu.

"Asal Chihiro-nii tahu saja." Tetsuya mengulas senyum setipis kertas. "Sei-kun sudah melakukannya."

Rasa penasaran Shigehiro tiba-tiba terpancing gara-gara ucapan Tetsuya barusan. Sementara Seijuurou sudah tertarik sejak melihat ekspresi tidak biasa di wajah pemuda birunya tersayang.

Perasaan Chihiro mendadak tidak enak. "Melakukan apa, Tetsuya?"

"Menyerangku." Ujar Tetsuya ringan.

Pemuda itu melenggang santai mendekati Seijuurou, lalu duduk manis di pangkuan sang pangeran. Tak ketinggalan, kedua lengannya menggelayut manja di leher sang pacar. Duh, pamer kemesraan!

Tidak peduli kalau Shigehiro menatap mereka dengan mulut menganga. Pun juga tidak peduli Chihiro sudah melotot ganas sampai bola matanya tampak nyaris bergulir keluar dari rongganya.

"Ap.. Ap.. Apa maksudmu, Tetsuya?" Chihiro terbata-bata.

Tetsuya melirik Seijuurou, mengerling jahil. Seijuurou yang paham sinyal kiriman sang kekasih hati langsung pasang senyum miring. Lengannya melingkar posesif di pinggang ramping.

"Sei-kun sudah sering menyerangku, Chihiro-nii." Jawab Tetsuya frontal. "Seperti yang Chihiro-nii bilang. Menggigit, melahap, mematuk. Berkali-kali."

Biar lebih romantis nan dramatis, Seijuurou berimprovisasi. Kecupan mesra dilayangkan pada pipi mulus sang pemilik hati.

"Tapi Chihiro-nii bisa lihat, bukan? Aku sehat. Aku tidak terluka. Aku baik-baik saja. Jadi kesimpulannya..." Tetsuya mengecup ujung hidung kekasihnya, sengaja. "... Sei-kun sama sekali tidak berbahaya. 100% aman."

Mendengar pernyataan itu... Melihat akting sepasang kekasih itu... Tubuh Chihiro dan Shigehiro mendadak beku.

Bedanya, Shigehiro dipastikan masih hidup. Lantaran matanya masih berkedip-kedip gugup. Detik berikutnya, pemuda itu menutup wajahnya dengan bantal sofa, lalu meringkuk. Shigehiro heboh menjerit, tapi berhasil teredam oleh permukaan sofa yang empuk.

Sementara Chihiro sudah mirip arca batu. Kalau bukan karena dadanya masih bergerak naik-turun, pemuda itu mungkin akan disangka patung.

Sumpah! Seijuurou ingin tertawa sekarang juga. Sambil berguling-guling juga kalau bisa. Ekspresi si pawang over protektif super menyebalkan itu sungguh tidak ternilai harganya.

Lalu, tanpa belas kasihan, Seijuurou menjatuhkan serangan kamikaze, tepat ke jantung benteng lawan.

"Ah, aku hampir lupa memberitahu sesuatu padamu, Sayang." Ujar Seijuurou mesra di telinga Tetsuya. "Aku mau menginap di sini."

OH... BEDEBAH SIALAN!

Bagai ditimpuk dengan kapak. Berita super menggembirakan itu kelewat berhasil mengembalikan kesadaran Chihiro yang sempat terdisorientasi mendadak.

Reaksi berbeda ditunjukkan dengan sangat dramatis oleh tiga orang yang berbeda pula. Tergantung situasi hati dan perasaan terhadap si pembawa berita.

Chihiro, jelas kembali murka. "APA KAU BILANG?!"

Shigehiro, langsung tobat dari aksi jejeritan di sofa. "Menginap? Kapan?"

Tetsuya, hanya mengerjapkan mata. "Kenapa Sei-kun baru bilang sekarang?"

Seijuurou menyeringai tampan.

"Aku mau menginap di sini. Malam ini." Seijuurou mengacak surai Tetsuya. "Maaf aku lupa, Tetsuya. Tapi tidak masalah, bukan?"

Chihiro langsung menggebrak meja. "TENTU SAJA MASALAH BESAR!"

"Chihiro-nii!?" Tetsuya membentak. Pemuda itu turun dari pangkuan Seijuurou, lalu menghampiri Chihiro.

"Kau tidak serius mengizinkan orang itu tidur di kamarmu kan, Tetsuya?" Chihiro masih tidak bisa terima.

"Sebenarnya masalah Chihiro-nii apa?" Tetsuya benar-benar marah. "Setiap kali Ogiwara-kun menginap di sini, meski sampai berhari-hari, aku tidak pernah protes. Giliran pacarku menginap, kenapa Chihiro-nii malah protes?"

Mendengar namanya terseret, Shigehiro menunjuk diri sendiri, lalu menepuk dahi. Pemuda itu hanya bisa mengeluh dalam hati. Pertengkaran tidak jelas kakak beradik ini sungguh membuatnya ingin melarikan diri. Hei, bukankah hanya dirinya seorang yang memang tidak punya masalah apapun di sini?

Chihiro mengacak rambutnya, gusar. "Tapi orang itu berba..."

"Tidak peduli!" tandas Tetsuya serta merta. "Sei-kun pacarku. Aku yang lebih mengenal Sei-kun. Bukan Chihiro-nii."

Setelah menjatuhkan harga mati, Tetsuya mengampiri sang pacar. Digenggamnya jemari Seijuurou, bermaksud menuntun pemuda itu ke kamar. "Kita istirahat, Sei-kun. Aku lelah."

Berdua, sepasang merpati yang tengah kasmaran itu melenggang santai ke dalam.

Sedangkan Shigehiro tidak bisa berbuat apa-apa. Dan jelas lebih memilih tidak mengatakan apa-apa. Percuma. Lebih baik dia cari selamat secepatnya saja.

Lantaran muka Chihiro sudah merah membara. Tubuh sekaku baja. Jemari mengepal erat sampai berubah pucat di samping paha. Saking panas amarahnya terlanjur melalap dada dan nyaris menghanguskan nalar kepala.

Shigehiro beringsut turun dari sofa. Lalu perlahan bersembunyi di balik meja. Tidak lupa pasang jari untuk menyumpal telinga. Firasatnya mengatakan, dampak ide tengil Tetsuya akan terjadi dalam sekejap mata.

Dan... benar saja!

Lolongan memekakkan nan mengerikan si pemuda kelabu (kembali) memecah udara.

'Duh, Kami-sama!' Shigehiro mengelus dada. 'Aku ogah setor muka, apalagi jadi juru bicara kalau sebentar lagi bakal datang konvoi demo para tetangga!'

~ ~ aish ~ ~

Langit tak berbintang menghampar gelap sehitam jelaga. Melingkup, mengurung seluas bentang kota dengan sayap-sayap kelam penuh kuasa.

Laki-laki setengah baya itu berdiri di samping jendela kaca. Diam, tanpa suara, bak patung tanpa nyawa.

Suara ketuk teratur sol sepatu membentur lantai terdengar dari belakang.

"Masaomi-sama." Si pendatang menyapa.

Laki-laki itu tak berbalik. Tak perlu. "Apa yang kau dapat, Tanaka?"

"Mereka sudah bertemu." Singkat, Tanaka menjawab.

Laki-laki itu hanya diam. Berita ini sama sekali tidak mengejutkan. Realita yang terjadi sekarang sama sekali tidak meleset dari yang pernah dia perkirakan.

Tanaka menyerahkan sebilah tablet saat sang atasan kembali duduk di kursi kebesaran.

"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, Masaomi–sama?" Tanaka bertanya.

"Tidak ada." Laki-laki itu menjalin jemari. "Hanya... terus awasi mereka."

Tanaka membungkuk hormat. "Baik."

Setelah Tanaka pergi, laki-laki itu kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.

Tablet dinyalakan. Password dimasukkan.

File khusus dibuka. Menampilkan deretan foto dua anak manusia.

Merah dan biru muda. Berjalan bersama. Bergandengan mesra. Penuh tawa dengan raut bahagia.

Laki-laki itu membuka laci meja. Mengeluarkan sebuah bingkai kecil dari dalam sana. Hanya berisi selembar potret lama. Seorang bocah kecil bersurai merah, bersama seorang wanita.

Mata dewasanya berbinar dalam banyak makna. Rindu, cinta, bangga. Namun juga... luka?

"Kali ini Ayah hanya akan berperan sebagai pengamat." Laki-laki itu menggumam. "Ayah ingin tahu, bagaimana caramu melawan dunia, Putraku."

Atensinya kembali teralih pada tablet di tangan kiri.

"Kita akan segera bertemu lagi_"

Foto pemuda beiris sebiru samudra diperbesar dengan ketukan jari. Sudut bibir tertarik ke satu sisi.

"_ Kuroko Tetsuya."

~ ~ TeBeCe ~ ~

Author's note:

Haaahh... akhirnya publish jugaaaa... sebenarnya pengen publish kalo fict ini udah bener-bener tuntas. Tapi ternyata rencana meleset jauh dari relita. Hahaha... setelah lama nggak nongol, mendadak muncul sama fict yang panjaaaang gila. Masih TeBeCe pula. Iyaaa... saya tahu, saya emang keterlaluan. ^_^'

Nggak pernah lupa, special thanks buat yang udah nge-fav, follow, & review di fict IFU kemaren. Lisette3157, Shiraishi Itsuka, Kawaii Marshmallow, ratnakartik, TeamChitoge, Newbie Kepo, , egaocchi, Akiko Daisy, Hanyo4, Kensha88, Daehoney, En Leciel, Siucchi, Kikuuuu, , Nanas RabbitFox, Nanodayo411, NoVizH19, potatomochi, rizky, Ariefyana Fuji, Ayuni Yuukinojo, Shinju Hatsune, Oikawa Tori, Hyra Zlyra, ryuel, Shimotsuki Mika, Ayumi Hinagi, elvioctaviani, Mayuyuzumi Asari, chennie21, TomoHaru, Ai Masaharu, ShirShira, redbabyblue. (Btw, ada yang ketinggalan nggak? ^_^')

Nggak ketinggalan juga... Terima kasih banyak buat para silent reader di luar sana, di mana pun kalian berada.

Karena saya masih newbie, kritik dan saran sangat diperlukan. Mohon bantuannya. Dan terima kasih karena meluangkan waktu untuk membaca.

Akhir kata... review, please... ^_^'.

NB : semoga masih ada banyak waktu dan kesempatan untuk melanjutkan fict super duper abal ini. ^_^'. Salam Akakuro...