Ini hanya sedikit takdir menyakitkan yang melingkupi mereka.

Something Lost

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Pairing : Gaara S x Hinata H x Shikamaru N

Genre : Drama, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya

.

.

.

.


Chap I

Dan Bisakah Sekejap Saja, Kau Berhenti Dari Langkahmu…

Lihatlah Aku Yang Selalu Berada Di Belakangmu…

Hanya Aku, Dan Selalu Aku

Walau Kau Selalu Berkata Untuk Berhenti

Tapi Kau Selalu Meninggalkan Jejak Yang Menjadi Alasan Ku Untuk Mengikuti

Dan Pada Saat Kau Lelah Menatap Ke Depan,

Ingatlah Aku yang Selalu Ada Tepat Dibelakangmu

'Kubilang keluarkan dia dari sana sekarang juga ?!'

'Brengsek! keluarkan dia sekarang juga!'

'Lepaskan aku brengsek! Dia didalam sana! Aku harus menyelematkannya!'

'Brengsek kalian semua! Lepaskan aku!'

'AAAAARRRGGGHHHHH… Hyugaaaaaaa!'

Hoshh… Hoshhh… Hoshhh…

Desahan nafas yang tidak beraturan menggema di salah satu kamar besar penthouse yang berada di Washington, giginya bergemelutuk menahan ketakutan akan mimpi buruknya yang selalu hadir dalam setiap malam yang ia lalui, ia mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan besarnya.

Lagi,

Mimpi yang sama dengan objek yang sama…

Ini bukan suatu kebetulan, dan dadanya terasa berdenyut nyeri luar biasa jika ia memimpikan hal ini.

Seorang gadis, yah… yang ia tahu dalam mimpinya ada teriakan dari seorang gadis yang terasa membelah-belah lapisan kulitnya, kobaran api… dan teriakan keputus-asaan.

Hal yang ia mimpikan selama kurang lebih 5 tahun ini hanya itu.

Gaara Sabaku...

Ia menyandarkan punggunya di tepian kasur besarnya dan menyilangkan sebelah tangannya untuk menutupi jade nya. Mood nya benar-benar berubah menjadi buruk hari ini, karena mimpi sialan itu.

Selang beberapa detik ia menyibakkan selimut besarnya, dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi, ia harus bersiap-siap banyak pertemuan penting yang harus ia hadiri hari ini.

##

Jepang

"Ibu, aku berangkat…" teriak gadis manis dengan pakaian formal dan tas laptop di genggaman tangannya.

"Ne, kau selalu saja tidak sempat sarapan sayang, ibu buatkan bekal sarapan, pastikan kau memakannya ketika tiba dikantor, oke…" titah Yoshino pada anak gadis nya.

Dan Hinata hanya tersenyum sambil memeluknya "Aku sangat mencintaimu bu". Ia memakai heals-nya dan berlalu pergi, langkahnya tergesa-gesa ia harus mengejar bis jemputan karyawan dan ia jelas tidak boleh terlambat sampai di halte.

Suna Building,

Terletak di tengah ibu kota Jepang, 12 juta orang tinggal di Tokyo dan ratusan ribu lainnya berpulang pergi setiap harinya untuk bekerja dan berbisnis di kota metropolitan ini, pusat ekonomi, budaya, pendidikan bahkan politik berpusat di kota ini. Kota dengan padatnya traffic, kota yang hangat dan penuh dengan sejuta cerita.

Ini tahun ke-5 Hinata bekerja di sini sebagai salah satu sekretaris di team yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden Direktur di Suna Corp. Dan hari ini, sepertinya salah satu hari terbaik bagi Hinata karena berdasarkan serangkaian test yang sudah ia lalui beberapa minggu ini dan voting dari jajaran direksi ia terpilih menjadi ketua sekretaris bukan hanya di team sekretaris Presdir tapi bertanggung jawab terhadap seluruh sekretaris di perusahaan besar ini, baik di kantor pusat maupun cabang.

Ya, pencapaian diluar expektasi seorang Hinata Nara.

"Selamat Nara-san, kau sudah bekerja sangat keras beberapa tahun ini dan kau pantas mendapatkannya."

Hinata menerima jabatan tangannya dan menandatangi persetujuan kontrak kerja terbaru dengan direktur bagian legal & SDM "Terima kasih banyak atas bantuannya selama ini Yamato-sama." ucap Hinata kemudian.

"Ya, sekali lagi ku ucapkan selamat."

##

Hinata tersenyum sumringah, rona merah di kedua pipinya terlihat jelas, akhirnya… perjuangannya selama 5 tahun ini mengabdikan diri, tenaga, pikiran serta seluruh waktunya akhirnya terbayar dengan pencapaian besar yang ia raih dihari ini.

Karena, menjadi staff biasa diperusahaan sebesar ini saja ada begitu banyak test yang harus dilalui calon pegawai bukan hal yang mudah jika ingin diterima untuk bekerja di perusahaan ini, apa lagi memiliki jabatan yang srategis dalam masa kerja 4 tahun sungguh pencapaian yang luar biasa yang telah didapat Hinata.

"Selamattttt"

Teriakan kegirangan staff di ruangan ini serta bunyi terompet yang dibunyikan acak jelas membuat pemilik mata amethyst ini tersentak kaget, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya tanda terkejut dan bahagia.

"Yosh, selamat Hinata-chan, akhirnya kau terpilih sebagai ketua, semangat masa mudamu sungguh luar biasa." ucap Lee sambil mengacungkan ibu jarinya.

"Te-terima kasih Lee-san."

"Selamat yah Hinata-san." ucap mereka satu persatu sambil menjabat tangan Hinata.

"Hinata, aku turut bahagia… selamat yah, kau memang yang terbaik." ucap Sakura sambil memeluk sahabatnya ini.

Dan Hinata,

Ia terharu, yah… seperti menahan tangis bahagia, terlebih melihat kejutan yang dipersiapkan rekan-rekan kerjanya, raut wajah bahagia rekan-rekannya jelas membuatnya jauh lebih terharu "Te-terima kasih, terima kasih banyak semuanya…" ucap Hinata dengan terbata-bata.

"Ne, jangan hanya mengucapkan terima kasih saja, ibu ketua sekretaris… kau harus mentraktrir kami semua makan malam kali ini." titah Sakura, matanya menggerling jahil pada setiap rekan-rekannya.

Dan disusul gelak tawa serta anggukan setuju dari seluruh staff yang ada di ruangan ini.

"Baiklah, bagaimana jika restoran di perempatan distrik sana?" tawar Hinata sambil terus tersenyum bahagia, kebahagiannya di hari ini jelas tidak bisa ia sembunyikan.

"Oke!" jawab mereka serempak

##

Disinilah mereka semua akhirnya, kurang lebih ada 10 pegawai Suna Corp dan termasuk Hinatamasih menghabiskan waktu malamnya di restoran ini, padahal sudah masuk jam 12.00 malam tapi mereka sama sekali tidak ada niat untuk berhenti.

Karena, bagi setiap pegawai waktu-waktu seperti ini bisa berkumpul seperti ini terlepas dari urusan pekerjaan adalah hal yang langka dan menyenangkan, wajar… mereka tidak ingin berakhir dengan cepat.

"Ne, Hinata… ini sudah hampir jam 12.00, apa kau tidak ingin meminta Shikamaru untuk menjemput mu?" tanya Sakura sambil meminum Americano coffe-nya.

"Tidak perlu Sakura-chan, hari ini dia memiliki jadwal operasi yang banyak dan kurasa dia perlu istirahat."

"Baiklah, kau ku antar dengan mobilku saja bagaimana?" lagi, Sakura bertanya pada Hinata yang saat ini tampak gelisah.

"Ti-tidak perlu, jalur rumah kita berlawanan… sangat merepotkan untuk mu jika harus mengantarku pulang, aku naik taksi saja." jawab Hinata menyakinkan.

"Ck." Sakura mendecak kesal, lagi-lagi temannya yang satu ini menolak jika diantar pulang.

Hinata bergerak gelisah, ia berkali-kali mengecek waktu di jam tangannya, ini sudah larut dan ponsel dia kehabisan daya batre "Sa-sakura-chan, kurasa ini sudah terlalu larut… apa aku boleh pulang lebih dulu? ponselku mati, dan ibuku pasti sangat khawatir."

Sakura mengangguk tanda setuju "Baiklah, aku paham jika kau ingin pulang lebih cepat, kau sudah tidak sabar kan ingin memberitahu Shikamaru perihal kabar berita ini?" sahut Sakura sambil mengedipkan sebelah matanya.

Dan Hinata, ia terlalu polos dalam segala hal…

Wajahnya mendadak merona merah mendengar kata-kata godaan dari sahabatnya ini "Ti-tidak kok." jawab Hinata gugup dan itu semakin memperjelas apa yang hatinya rasakan.

"Hahahaha, kau masih saja bersikap seperti ini jika menyangkut pemuda malas itu Hinata, baiklah… hati-hati di jalan dan kabari aku jika ada apa-apa."

"Baiklah, terima kasih untuk hari ini Sakura…" ucap Hinata sambil menundukkan kepalanya dan berlalu pergi.

##

Cinta yang aku temukan karena bertemu denganmu…

Cinta yang tidak akan kutemukan di tempat manapun bahkan saat aku mati nanti…

Awal Juni hingga pertengahan bulan Juli, udara di Jepang sedikit mengalami perubahan, yah… masa transisi dari perubahan musim semi menjadi musim panas, dataran di seluruh Jepang diguyur hujan setiap harinya, bahkan biasanya disertai angin yang sedikit bertiup kencang.

Seperti malam ini,

Jam tangan Hinata sudah menunjukkan pukul 12.30 dan ia masih di dalam taksi terjebak di tengah derasnya hujan yang mengguyur kota Tokyo sejak pagi tadi "Ano, maaf… apakah bisa anda sedikit lebih cepat?" tanya Hinata pada supir taksi yang tepat duduk di depannya.

"Maafkan saya nona, daerah di sekitar sini penerangan jalannya tidak terlalu baik, dan diluar hujan deras saya harus hati-hati mengendarai mobilnya." jawab supir taksi.

"Ne, baiklah…" jawab Hinata pasrah, yah… melihat keadaan di luar yang tidak terlalu bersahabat wajar jika supir taksi bereaksi seperti ini.


Apakah kau hidup menderita setiap hari seperti yang aku lalui ?

Kenapa hanya aku yang merasa tersiksa karena masih bernafas walau tanpamu,

Karena, sulit sekali menjalani hidupku tanpamu…

'Gaara-kun, apakah benar kau mencintaiku?'

'Gaara-kun kau pasti datang kan? aku akan menunggumu, kau pasti datang kan?'

'Gaara-kun, ini hari ulang tahunku… kau pasti akan datang kan?'

Hoshh… Hoshhh…

Sabaku Gaara terlonjak dari mimpinya, ia menyandarkan kepalanya di kursi besarnya beberapa saat yang lalu, matanya sempat terpejam beberapa saat karena semua aktifitas yang ia lakukan hari ini benar-benar menguras tenaganya, tapi… lagi-lagi waktu istirahatnya yang berharga harus terganggu karena mimpi sialan itu lagi.

Pendingin ruangan sudah diset maksimal, tapi peluh tetap bercucuran di pelipisnya, ia terengah-engah ia mengacak surai merahnya. Sebenarnya siapa gadis dimimpinya itu? dan apa maksud setiap mimpinya? tidak mungkin jika semua ini hanya kebetulan atau bunga tidur seperti yang kebanyakan orang bicarakan.

Object yang sama, dengan situasi yang sama, dan rasa sakit didadanya terasa nyata.

Kriettt

Pintu ruangan terbuka perlahan, sesosok lelaki bertubuh tegap dan dengan raut bersahaja berjalan penuh perhitungan di setiap langkahnya "Presdir, apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

Gaara hanya menatapnya tanpa ekpressi, ia memejamkan matanya menahan sisa rasa sakit didadanya karena mimpi sialan itu.

"Iruka, urus kepindahanku ke kantor di Jepang… usahakan secepatnya." titah Gaara.

Iruka Umino terdiam sesaat, ia menyadari hal seperti ini akan terjadi cepat atau lambat "Apakah ada masalah Presdir?" tanyanya.

"Hn, tidak ada masalah… sudah waktunya Kankuro kembali ke kantor pusat, dan aku akan mulai menyusun rencana untuk mengambil kembali apa yang seharusnya sudah menjadi hak untukku."

Dan Iruko menundukan kepalanya tanda memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan atasan yang sangat ia hormati ini.

Gaara menyandarkan kembali tubuhnya dikursinya.

Ia menutup matanya, ia… tidak bisa jika harus hidup dalam bayang-bayang mimpi yang menyakitkan ini.

Satu-satunya cara untuk menjawab semua mimpi-mimpi yang terus membayanginya adalah kembali ke Jepang.


Sementara itu di belahan dunia yang lain, sesosok gadis yang turun dari taksinya sedikit berlari dengan heals nya dibawah rintikan hujan "Uh, dinginnya…" ia bergumam pada dirinya sendiri.

Krettt

Suara pintu pagar yang ia buka perlahan menampilkan lelaki dewasa dengan celana training hitam dan sweater berwarna senada berdiri di depan pintu masuk, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya dan memandang Hinata tanpa ekpressi.

"Ponselmu mati." suara beratnya memecah keheningan yang terjadi beberapa saat.

"I-iya, ponselku habis daya."

"Setidaknya jika ingin pulang larut, kau hubungi ke rumah terlebih dahulu, ibu menunggumu sedari tadi… masuk dan istirahatlah biar aku yang menutup pintu pagar."

Hinata menunduk tanda bersalah "Ma-maafkan aku Shikamaru-kun."

Dan Shikamaru hanya mengendikkan bahunya dan berlalu meninggalkan Hinata untuk menutup pintu pagar.

##

"Aku pulang…" ucap Hinata.

"Kau sudah pulang Hinata? ibu cemas menunggumu sedari tadi."

"Maafkan aku bu, batre ponselku habis…" ucap Hinata sambil tertunduk lesu.

"Sudahlah, kita bicarakan ini esok hari, istirahatlah… kau pasti lelah Hinata." sambil tersenyum kali ini Shikaku yang berkata sambil mengusap surai indigo Hinata perlahan.

Tinggal bersama keluarga yang utuh penuh dengan kasih sayang, adalah keberkahan luar biasa yang diberikan Tuhan, dan tidak setiap manusia memiliki kesempatan untuk merasakan kehangatan dalam setiap keluarga. Dan Hinata termasuk salah satu yang beruntung yang memilikinya.

Hinata mendesah penuh penyesalan, lagi-lagi… ia melakukan kesalahan pada Ibu-nya di hari ini, dan terutama pada Shikamaru satu-satunya orang didunia ini yang Hinata tidak ingin membuatnya kecewa.

Tok… tok… tok..

Hinata mengetuk pintu kamar perlahan.

"Masuklah…" terdengar jawaban dari penghuni di kamar itu.

Hinata masuk dengan segelas penuh susu hangat di genggaman tangannya "Apa aku menggangu Shikamaru-kun?"

Dan Shikamaru melepas kacamata bacanya, tangannya terulur menerima susu hangat dari Hinata "Tidak, ada apa?" jawabnya datar.

"Ma-maafkan aku hari ini, seharusnya aku menghubungi rumah terlebih dahulu."

Shikamaru memijit pelan pelipisnya, sepertinya rasa ngantuk sudah mulai menghinggapinya "Ya, ini sudah terlalu larut, sebaiknya kau tidur."

Tapi Hinata

Serasa tidak bergeming dari tempatnya berdiri, mulutnya terbuka tapi terkatup lagi setelahnya, ia ingin mengucapkan sesuatu tapi rasanya sulit memulai dari mana.

"Bicaralah jika masih ada yang ingin kau bicarakan." ucap Shikamaru membaca gelagat dari seseorang yang sudah bersamanya selama 6 tahun ini.

"Itu, emmm… hasil test hari ini aku terpilih sebagai ketua sekretaris, aku sudah tanda tangan kontrak terbaru di hari ini, dan aku pulang terlambat karena teman-teman kantor mengadakan pesta untukku." tutur Hinata perlahan, tangannya meremas piyama tidurnya mendadakan hatinya sedang gugup.

"Benarkah?" ucap Shikamaru, bola matanya melirik penuh arti pada gadis di hadapannya ini "Selamat, kau memang pantas mendapatkannya." sambung Shikamaru sambil mengusap perlahan surai indigo Hinata.

Dan bagi Hinata yang di perlakukan seperti ini jelas membuat rona merah memenuhi kedua pipinya, walau penerangan dalam kamar terlalu samar tapi rona merah dan lekukan senyumnya jelas terlihat di bola mata Shikamaru.

"Te-terima kasih…" balas Hinata terbata "Ba-baiklah selamat tidur Shikamaru-kun." ucap Hinata dan berbalik pergi dari kamar Shikamaru Nara.

Shikamaru Nara,

Anak pertama dari Yoshiho dan Shikaku, terlahir dari klan Nara membuatnya di anugerahi IQ diangka yang luar biasa, saat ini diusianya yang baru 25 tahun ia sudah bergelar Proffesor bahkan menempati jabatan yang bergengsi disalah satu rumah sakit besar dimana dulu ayahnya sebelum pensiun Nara Shikaku juga mengabdi sebagai dokter dirumah sakit itu.

Shikamaru Nara.

Sifatnya hangat walau terkesan cuek dan sangat malas, tapi siapa sangka… dibalik semua sifatnya yang seperti itu membuat seorang gadis terpikat pada pesonanya, yah… seorang gadis manis yang bahkan menyandang nama 'Nara' dibelakang namanya.

Seorang gadis yang selalu berusaha menarik atensinya.

Hinata Nara, kenyatan perasaan yang harus ia hadapi… memiliki perasaaan yang entah di sebut cinta atau hanya kekaguman terhadap kakak laki-lakinya, yah… tidak masalah memang, toh Ia dengan Shikamaru hanya saudara angkat dimana 6 tahun yang lalu terdapat kejadian besar yang membuat keluarga Nara mengangkatnya sebagai anak dan menanggalkan nama Hyuga di belakang namanya.

Bukannya Shikamaru tidak menyadari perasaan yang dimiliki adik angkatnya, ia paham… ia sangat paham, memiliki otak keturunan klan Nara jelas membuatnya paham terhadapat hal-hal kecil apapun termasuk perasaan, hanya saja… Shikamaru sendiri bingung harus bersikap seperti apa.

Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya.

##

Rintik hujan di pagi hari membuat hawa udara semakin menurun, sinar mentari yang biasanya menembus bilik-bilik kamar kini hanya menyisakkan sedikit sinarnya, mentari di pagi ini seperti menandakan ia terlalu lelah untuk menyinari dunia ini.

Ini akhir pekan, ditambah suasana di luar yang dingin membuat Hinata masih bergelung nyaman dengan selimutnya, waktu sudah menunjukan pukul 09.00 pagi dan Hinata mau tidak mau harus bangun dari tidur nya yang nyaman.

"Kau sudah bangun sayang?"

Masih dengan piyamanya, Ia duduk di sebelah ibunya dan memeluknya dari samping "Kepala ku sedikit sakit bu." rengek Hinata.

"Ne, apa perlu ibu minta pada Shikamaru untuk memeriksamu sekarang?"

Hinata menggeleng lembut, ia menelusupkan wajahnya di pelukan Ibunya "Bu, aku ada kabar baik." ucap Hinata tiba-tiba.

"Kabar baik apa?" tanya Shikaku tiba-tiba yang langsung bergabung duduk di ruang keluarga bersama Hinata dan Yoshino.

Hinata tersenyum sumringah "Aku terpilih sebagai ketua, aku sudah tanda tangan kontrak pengesahan juga."

Seperti dugaan, ekpresi kedua orang tuanya sudah ia duga akan seperti ini, terlebih ibunya… terlihat sedikit meneteskan air matanya.

"Kau hebat Hinata…" ucap Shikaku bahagia.

"Tentu, aku kan seorang Naara…" ucap Hinata bahagia, matanya menyipit karena senyuman di wajahnya.

##

Narita Airport

"Mulai siapkan semuanya secepatnya Iruka, laporan keuangan, saham serta hal-hal detail lainnya, periksa segera dan laporkan secepatnya padaku." ucap Gaara tanpa ekpressi seperti biasa.

"Baik Presdir." jawab Iruka patuh.

"Dan jadwalkan pertemuanku dengan Yahiko presdir Suna Corp senin nanti." titah Gaara lagi sambil terus melangkahkan kakinya meninggalkan bandara.

Gaara sedikit menahan nafasnya, dadanya terasa sedikit sesak… semenjak ia menginjakkan kakinya di Jepang, perasaan aneh seperti di mimpinya semakin jelas. Yah, tanpa siapapun ketahui… bahkan Iruka Umino orang kepercayaannya, kembalinya ia ke Jepang bukan hanya soal perusahaan… tapi tentang gadis Hyuga yang ada di mimpinya.

Siapa yang tahu,

Senin nanti, awal dari takdir yang menyakiti dirinya akan di mulai.

Cinta yang kutunjukan kepadamu tanpa batasan

Bahkan dikehidupan setelah ini

Perasaanku akan selalu tertuju untukmu

Karena segalanya dalam hidupku adalah tentangmu...

-tbc-

Konbanwa…

Gomenne, Nanadaime Hokage… lagi-lagi saya harus meminjam istrimu sebagai chara.

Dari FF saya yg FH saya banyak mendapatkan masukkan tentang tulisan yang saya buat, ternyata memang saya harus banyak belajar, saya sangat menghargai review dari reader semua, terima kasih buat yang sudah meluangkan waktu untuk memberi saran, dan terima kasih juga buat yang sudah bersedia membaca, review atau Fav di FF saya yang Fillers Hearts, dan maaf jika banyak kekurangan dari tulisan saya, saya memang harus banyak belajar.

Dan semoga FF yang ini tidak mengecewakan.

Arigatou,

Dan Oyasuminasai

Intan.