Ini hanya sedikit takdir menyakitkan yang melingkupi mereka.

Something Lost

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Pairing : Gaara S x Hinata H x Shikamaru N

Genre : Drama, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya

.

.

.


Chap II

Saya membenci harapan yang tumbuh seperti ini

Saya membenci hati yang terbelah seperti ini

Ketidak bahagiaan terus mengisi hati ini

Aku berjalan mengikutinya dalam peraduaan

Langkah demi langkah…

Tapi tetap saja aku tidak bisa menggapainya…

'Semoga hari pertama mu bekerja di posisi yang baru berjalan lancar…'

Sepenggal pesan yang di tulis di sebuah note kecil diatas kotak besar membuat hati Hinata berbunga-bunga, ini tulisan tangan Shikamaru.

Hinata membuka kotak yang berwarna terang yang sejak pagi tadi sudah tergeletak diatas meja riasnya "Ahhhh… sepatu, cantiknya." Hinata berteriak kegirangan "Terima kasih Shikamaru…" ucapnya pada diri sendiri, perasaannya penuh dengan kebahagian. Ia melepas kasar sepatu yang tadi digunakannya dan digantikan dengan sepatu baru pemberian orang yang paling berharga untuknya.

Dan berlalu pergi meninggalkan kamarnya untuk memulai hari pertamanya berkerja sebagai ketua sekretaris.

.

.

.

"Hari ini, hari pertama saya menjabat… mohon kerjasamanya dari kalian semua." ucap Hinata penuh percaya diri.

"Ya." jawab mereka serempak.

"Persiapkan ruangan eksekutif sebaik mungkin, akan ada pertemuan sangat penting bagi presdir Yahiko jam 10.00 pagi ini, jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun." titah Hinata pada staffnya yang mengangguk patuh dan mulai berpencar menjalankan tugasnya masing-masing.

Skip time

10 Menit sebelum pertemuan

"Tayuya-chan angkat hiasan bunga itu dari meja presdir, presdir Yahiko sangat sensitive dengan serbuk bunga."

"Baik," ucap Tayuya.

"Sakura-chan, kapan teh hitam nya tiba? pastikan tidak terlalu panas atau terlalu dingin saat perjamuannya nanti."

"Siap ibu Ketua!" ucap Sakura sambil tersenyum lebar dan mengangkat tangannya memberi hormat.

"Hahahahaha, rasa-rasanya aneh jika kau memanggilku seperti itu Sakura-chan." sahut Hinata sambil tersenyum geli.

"Ya, kau harus mulai membiasakan diri mulai sekarang Hinata, Oh ya… apa kau tahu siapa yang akan menemui Presdir kita hari ini? kenapa persiapannya sangat istimewa seperti ini?" tanya Sakura.

"Entahlah, aku hanya mendapat notice dari presdir untuk mempersiapkannya sebaik mungkin, jika presdir sendiri yang meminta persiapannya berarti yang ia temui kali ini yang jelas bukan orang yang sembarangan."

Dan Sakura hanya mengangguk-ngangguk sebagai respon.

Tepat Jam 10.00

Seperti sebuah tradisi, jika ada pertemuan penting baik itu antar eksekutif direksi ataupun dari pihak external yang dirasa penting,team sekretaris presdir yang berjumlah 4 orang berikut dengan Hinata Nara sebagai ketua akan berdiri rapih didepan pintu ruangan menunggu datangnya tamu perusahaan.

"Ketua, mereka sudah tiba di lobby." ucap Tayuya sedikit berbisik pada Hinata yang hanya mengangguk paham dan sudah berdiri tegak sedari tadi menunggu tamu presdir nya ini.

Tinggg

Suara pintu lift yang terbuka menimbulkan bunyi hentakan halus sepatu yang berjalan beriringan menuju ke ruangan eksekutif ini. Hinata menundukkan kepalanya, terdengar dari langkahnya bukan hanya satu orang tamu presdir nya kali ini.

Hinata sedikit berdehem memberi tanda pada staffnya.

Langkah kaki mereka semakin dekat…

Masih dengan kepalanya yang tertunduk, suara halusnya terdengar mengucapkan "Selamat datang…"

Surai indigonya tergerak, dengan senyum penuh di wajah ayunya Hinata mendongakkan wajahnya pada tamu presdirnya kali ini.

.

.

.

Degggg

Terasa ada belati yang menghunus ulu hatinya.

Amethyst Hinata membulat sempurna, seluruh tubuhnya mulai bergetar, senyum di wajahnya memudar perlahan di gantikan dengan ekpressi ketakutan.

Jade ini…

Surai merah ini…

Raut wajah yang tanpa ekpresi ini…

Menghempaskannya pada kenangan lama yang menyakitkan, dadanya berdegup ribuan kali lebih cepat sampai-sampai Hinata merasa sakit.

'Ga-gaara, di-dia… Sabaku Gaara…' ucap Hinata dalam Hati.

Tangannya mulai berkeringat karena gugup, ia kehilangan konsentrasinya… Waktu terasa berhenti di saat ini juga.

Hanya ada Hinata yang memandang penuh ketakutan pada lelaki yang berdiri tepat di hadapannya ini.

Gaara Pov

Langkah lebar Sabaku Gaara berhenti otomatis, Jade nya memandang lurus amethyst yang mengunci pandangannya saat itu juga. 'Bo-bola mata itu…' tanya Gaara pada dirinya sendiri.

Nyuuutttt

Jantungnya tiba-tiba berdenyut luar biasa, yah… bola mata itu, ia yakin pernah melihatnya di suatu tempat, tapi dimana? dan… kenapa jantungnya bereaksi menyakitkan seperti ini?

Gaara Pov End

"Maaf, kami sudah membuat janji dengan presdir Yahiko untuk pertemuan pagi ini." ucap Iruka memecah kehenginan yang terjadi beberapa saat.

Hinata tersentak.

Ucapan Iruka mengembalikan antensinya, ia menundukan kepalanya sekali lagi dan diikuti staff nya kemudian membuka akses agar tamu penting presdirnya bisa masuk kedalam ruangan eksekutif itu.

"Silahkan masuk, presdir sudah menunggu…" ucap Hinata sambil terus menundukan kepalanya, tapi kali ini bukan karena tradisi… ia hanya tidak ingin memandang Jade yang menakutkan baginya.

Sabaku Gaara beserta rombongan memasuki ruang pertemuan, Hinata masih menunduk dengan kaki yang terasa bergetar karena takut, dan Gaara berlalu di hadapannya jade nya terus-menerus memperhatikan Hinata sebelum bayangan Hinata tertutup pintu besar ruangan.


'Bola mata itu, yah… aku yakin aku pernah melihatnya, tapi di mana?'

Sejak pertemuan dengan Yahiko di Suna building Gaara terus bermonolog dengan dirinya sendiri, ia memijit perlahan pelipisnya, berusaha mengingat bola mata gadis itu, tapi tak ada satupun memori dalam kepalanya yang merekamnya, kepalanya terasa pening luar biasa.

"Apa anda baik-baik saja Presdir?" tanya Iruka cemas melihat raut kegelisahan dari atasannya ini.

Gaara hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Perintahkan presdir Yahiko agar ia menemuiku lagi secepatnya setelah menyelesaikan segala hal yang kuminta." ucap Gaara tiba-tiba.

"Ya." jawab Iruka patuh.

"Jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun Iruka, kita akan mulai melakukan ekpansi mulai minggu depan, rencana ini harus berhasil bagaimanapun caranya." titah Gaara kemudian, ia berdiri dari kursi besarnya dan memandang lurus kota Tokyo pada malam hari dari ketinggian apartemen pribadinya, hanya ada kerlipan lampu dan keheningan yang terpantul dalam jade nya.

Dan Iruka mengangguk patuh "Baik, akan saya lakukan sebaik mungkin, saya permisi presdir… selamat beristirahat." sambil menunduk dan meninggalkan Gaara sendirian di ruangan besar ini.


Karena pada waktu malam pun, Aku hanya mengingat mu.

Sementara itu, dalam waktu yang sama namun di tempat yang berbeda.

Hari yang di bayangkan akan ia lalui dengan penuh kebahagian, hari pertama dalam hidupnya ia bisa mencapai apa yang ia cita-citakan namun kenapa di hari ini, Kami-sama mempertemukannya kembali dengan seseorang yang sama sekali tidak ingin Hinata temui dalam sisa kehidupannya.

Bayang-bayang ketakutan mulai memenuhi otaknya, sejak detik dimana ia melihat kembali Jade yang selama 6 tahun ini mati-matian ia melupakannya, ia sudah bahagia dengan hidupnya sekarang, sangat bahagia tapi kenapa takdir mempertemukannya kembali dengan Sabaku Gaara.

Plukkk

"Kau bisa demam jika terlalu lama diluar dengan pakaian seperti ini." ucap Shikamaru datar sambil menyampirkan jaket yang ia gunakan pada punggung Hinata.

Hinata mendongak kaget "Shi-shikamaru-kun?"

"Sudah larut, mari pulang…" ucap Shikamaru dengan intonasi datar seperti biasa, ia berlalu pergi menuju mobilnya yang di parkir tidak jauh dari taman meninggalkan Hinata yang masih terlihat bingung dengan kehadirannya yang tiba-tiba seperti itu.

Melihat punggung tegap Shikamaru yang berlalu meninggalkannya, senyum Hinata kembali merekah sempurna.

Ia menggeleng lembut.

Berusaha menghilangkan pikiran absurd nya, ada Shikamaru dalam kehidupannya saat ini, dan untuk apa ia memikirkan seseorang yang dulu pernah ada dalam kehidupannya.

Ya,

Hinata tersenyum atas pemikirannya sendiri dan berlari kecil menyusul Shikamaru yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobilnya.


Flashback

"Hyuga Hinata, mulai saat ini kau jadi milikku…"

Gadis manis dengan mata amethyst itu jelas saja terkejut, tiba-tiba disiang yang terik ini di lorong belakang sekolah, seorang pangeran sekolah menarik lengannya dan memaksanya untuk menatap matanya.

"Ta-tapi…" ucap Hinata gugup.

"Kau sudah menjadi milikku sejak dulu, dan hari ini aku resmi menjadi kekasihmu… setuju atau tidak setuju aku sudah memutuskan kau jadi kekasihku." titah nya tegas.

Jaraknya yang dekat dengan Hinata membuat Hinata dapat merasakan hembusan tarikan nafasnya, harum tubuhnya sangat lembut dan memabukkan dalam waktu bersamaan, Jade nya yang teduh memberikan kehangatan dalam kehidupannya.

Dan tanpa sadar, Hinata mengangguk setuju.

Gaara tersenyum tipis, ia menarik sudut bibirnya mendengar jawaban dari gadis yang membuat ia menghabiskan hampir setiap waktu untuk terus-menerus mendekatinya.

Gaara terpejam dan menarik semua aroma tubuh dari gadis yang menjadi kekasihnya saat ini "Aku mencintaimu Hyuga Hinata." bisiknya dan berlalu pergi meninggalkan Hinata yang masih mematung dan masih belum bisa menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

. . . . .

Karena cintaku padamu terlalu dalam

"Kau pulang denganku…" ucap Gaara tiba-tiba dan menarik lengan Hinata yang baru saja keluar dari kelasnya.

"Ta-tapi…" ucap Hinata, langkah kakinya terseok-seok mengikuti langkah besar Gaara Sabaku.

Seketika Gaara berbalik dan menatap tajam amethyst Hinata "Kau lupa yang tadi siang Hyuga? aku kekasihmu… dan mulai hari ini kau pulang dan berangkat sekolah denganku, kau paham?"

Hinata hanya bisa mengangguk patuh, karena bisa apa dia dihadapan seorang Sabaku, menolakpun rasanya mustalih. Terlebih, kabar yang berhembus sedemikian cepat di lingkungan sekolah tentang dirinya yang menjadi kekasih Sabaku Gaara membuat Hinata sama sekali tidak bisa memikirkan apapun saat itu.

Melihat lirikan penuh iri dari setiap siswi di sekolah itu yang memandang sinis melihat lengannya di genggam erat Sabaku Gaara.

"Sabaku-san, kita mau kemana? arah rumahku bukan lewat sini?" Hinata dengan sisa keberaniannya bertanya pada lelaki yang mendeklarasikan dirinya sebagai kekasihnya beberapa jam yang lalu.

Gaara mendelik tajam "Sabaku?" tanyanya "Siapa yang mengijinkanmu memanggilku begitu!?" tanya Gaara dan nada suaranya naik beberapa oktaf.

Hinata seketika menunduk takut, ia meremas rok seragam sekolahnya erat "Ma-maafkan aku, Sabaku-sama."

Sambil terus memainkan setir mobilnya, Gaara memutar bola matanya sebal "Ck, dasar bodoh… mulai saat ini kau hanya boleh memanggilku Gaara, jangan lupa tambahkan –kun di belakannya."

Hinata remaja saat itu hanya bisa melirikkan matanya memandangnya penuh heran, seakan meminta penjelasan lebih dari perintah lelaki di sebelahnya ini.

"Ck, ingat kau kekasihku saat ini."

Dan…

Disinilah mereka akhirnya, di rumah besar bergaya Eropa klasik.

Dan bagi Hinata, ia yang baru pertama kali melihat rumah sebesar ini hanya bisa tercengan dengan bola mata yang membulat sempurna.

Dan Gaara yang melihatnya hanya bisa mengangkat sedikit bibirnya membentuk sebuah senyuman.

Ya,

Seorang Sabaku Gaara yang terkenal dengan wajah stoicnya bisa membentuk sebuah senyuman hanya dengan melihat ekpressi dari gadis yang dicintainya setengah mati.

"Ini rumahku, masuklah… aku akan mengenalkanmu pada ibuku."

Hinata jelas terlihat bingung, ia refleks mundur beberapa langkah "Ta-tapi…" ucapnya bingung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda penolakan.

"Tapi kenapa?"

"Kenapa Sabaku-san, maaf… maksudku Ga-Gaara-kun mengajakku bertemu dengan ibumu?" tanya Hinata meminta penjelasan dengan ajakannya yang tiba-tiba seperti ini.

Gaara mendesis sebal, ia bukan tipikal orang yang sabar. Dan kenapa sedari tadi gadisnya ini terus-menerus bertanya, dan menampilkan ekpressi ketakutan seperti itu? bukankah mereka sepasang kekasih? walaupun faktanya hanya ia sendiri yang memploklamirkan hubungan mereka.

"Sudahlah…" jawab Gaara sebal, ia menarik pergelangan tangan Hinata dan memaksanya untuk mengikutinya kedalam rumah besar itu.

Benar-benar sebuah istana di jaman seperti ini.

Saat pintu rumah terbuka, beberapa pelayan berbaris rapih menyambut kedatangan tuan muda mereka, walaupun untuk hari ini berbeda.

Tuan muda mereka membawa seorang gadis kedalam mansion besar Sabaku, ini pertama kalinya… dan jelas membuat mereka semua memasang wajah penuh tanya.

Tetapi Gaara,

Seperti tidak memperdulikan itu semua.

Ia tetap memegang erat tangan gadisnya ini dan melangkahkan kakinya ke lantai 2 di rumah itu.

"Bu, aku pulanggg…" ucap Gaara sambil membuka pintu besar di salah satu sudut kamar di lantai 2.

Kamar besar dengan nuansa putih dan harum aroma bunga yang menyerbak dalam penciuman Hinata, kamar besar dengan kesan mewah yang kental menampilkan sesosok wanita bersahaja di kursi rodanya tersenyum begitu bahagia.

"Cantik…" gumam Hinata tanpa sadar.

Karura Sabaku,

Ibu dari Sabaku Gaara, dengan rambut nya yang sebahu, dan wajahnya yang bersahaja memancarkan aura yang memikat hati siapapun yang melihatnya, satu-satunya istri dari Sabaku Rasa dan ibu dari Gaara Sabaku serta Kankuro.

Ia tersenyum sumringah.

"Gaara-kun, si-siapa gadis manis ini?" tanyanya riang sambil menggerakkan kursi rodanya mendekat pada Hinata yang masih terlihat bingung.

"Dia, Hinata bu… yang sering aku ceritakan." ucap Gaara.

"Benarkah?" Karura memekik kegirangan, ia mendekat pada Hinata dan menggenggam tangannya "Hinata-chan sangat manis, jauh lebih manis dari yang ibu bayangkan, kemari sayang." ucap Karura sambil menarik lengan Hinata dan memaksanya untuk duduk di tepian kasur besarnya.

Gaara tersipu malu.

Titik-titik rona di pipinya semakin terlihat "Aku ganti baju dulu bu." ucapnya kemudian.

.

.

.

Disinilah Hinata.

Berdua dengan Karura Sabaku, orang yang selama ini hanya Hinata lihat melalui pemberitaan di televisi bisnis. Karura Sabaku… pemegang kendali kerajaan bisnis keluarga Sabaku, tokoh dibelakang layar yang membuat perusahaan Sabaku terus menerus menambah pundi-pundi kekayaan serta kekuasaannya, cantik dan cerdas… serta menakutkan di saat yang bersamaan. Biarpun saat ini ia tidak bisa berjalan dan kehidupannya bergantung pada kursi roda akibat kecelakaan bertahun-tahun lalu yang merenggut fungsi kakinya dan juga suaminya tercinta.

Ya, Sabaku Rasa ayah dari Sabaku Gaara.

Harus kehilangan nyawanya saat itu juga, kecelakaaan yang disengaja dilakukan oleh lawan bisnisnya seketika merenggut kebahagiaan keluarga Sabaku, terutama Sabaku Gaara.

Karena, sejak kejadiaan itu memberikan traumatik baginya.

"Hinata-chan, kau tahu… Gaara terus menerus bercerita tentang dirimu selama ini, ibu tidak menyangkan ia akhirnya berani membawamu kerumah ini." ucap Karura sambil terus mengusap-usap punggung tangan Hinata.

"I-itu… ti-tidak mungkin nyonya Sabaku." bantah Hinata dengan kegugupan yang menjadi khasnya.

"Loh, kenapa tidak mungkin?"

"Ka-kami… kami tidak terlalu dekat selama ini." ucap Hinata menjelaskan, tautan di jarinya semakin erat.

"Hahahahaha, kau manis sekali Hinata-chan, pantas saja Gaara jatuh cinta padamu, kau tahu… dikamarnya, Gaara menyimpan banyak foto dirimu… bahkan mungkin lebih banyak dari pada kau mempunyai foto dirimu sendiri." ucap Karura sambil mengelus lembut surai indigo Hinata.

"Be-benarkah?" tanya Hinata kembali.

"Ya, tentu… saja. Kau tidak percaya? Mari… ibu antar kau ke kamarnya, kau pasti akan terkejut melihat begitu banyak gambar dirimu di dinding kamarnya."

Hinata menggelengkan kepalanya "Ti-tidak perlu nyonya Sabaku."

Alis Karura bertaut "Hei, kenapa memanggil ibu dengan nyonya Sabaku? panggil ibu saja oke, mulai sekarang anggap ibu seperti ibumu sendiri." titah Karura sambil terus-menerus tersenyum.

Walau Hinata masih bingung dengan situasi yang sama sekali tidak dapat ia pahami, tetapi dalam hatinya ia sungguh senang… akhirnya ada seseorang yang memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan 'Ibu' karena seumur hidupnya, Hinata tidak pernah mengetahui siapa sosok ibu nya yang sebenarnya, sejak kecil… Hinata Hyuga hanya hidup berdua dengan neneknya.

"I-ibu…"

.

.

.

.

.

.

Dan,

Selepas hari itu,

Hyuga Hinata mau tidak mau harus menerima kenyataannya.

Menjadi kekasih seorang Sabaku Gaara.

Sabaku Gaara bukanlah orang yang bisa menampilkan berbagai ekpressi, bahkan perasaan cintanya untuk Hyuga Hinata pun ia tidak bisa mengekpressikannya dengan baik.

Hubungan mereka berjalan wajar, bahkan terkesan wajar, interaksi mereka hanya terjadi seperlunya… pergi dan pulang sekolah Gaara yang mengantarnya, ketika akhir pekan yang biasanya dihabiskan oleh sepasang kekasih entah di taman bermain, bisokop, atau tempat-tempat menyenangkan lainnya, Gaara hanya mengajak Hinata kerumahnya… bertemu dengan ibunya atau menghabiskan waktu berdua di taman belakang tanpa suara hanya ada Gaara yang terlelap di pangkuan Hinata.

Hingga suatu ketika.

"Gaara-kun, bo-bolehkan aku pulang sendiri, a-aku akan pergi bersama Tenten-chan?"

"Kau mau kemana? biarku antar." Gaara balik bertanya.

Hinata gugup, ini pertama kalinya ia berbohong pada Gaara "A-ano, Tenten-chan ingin membuat kejutan untuk adiknya yang ulang tahun… bolehkah?"

Gaara hanya melirikkan bola matanya, mengamati ekpressi dari kekasihnya ini "Hn, tapi jangan pulang terlalu larut, hubungi aku jika terjadi sesuatu."

cuppp

Gaara mengecup kening Hinata yang terhalang dengan poni tebalnya "Hati-hati…" dan berlalu pergi meninggalkan Hinata sendiri.

Diperlakukan seperti itu, Hinata bersemu merah. Ia membuang nafasnya lega.

"Bagaimana Hinata-chan?" tanya Tenten tiba-tiba berada di sebelah Hinata.

"Ba-baiklah… tapi kau janji, ini hanya sebentar saja?" tawar Hinata.

"Yoshhh!, terima kasih Hinata-chan, kau teman yang sangat baik… aku akan menghubungi Lee." ucap Tenten girang sambil memeluk erat teman baiknya ini.

.

.

.

Disinilah mereka berempat berada.

Café classic di perempatan jalan besar Shibuya, Tenten sejak kemarin meminta Hinata untuk menemaninya melakukan kencan buta dengan seseorang yang di perkenalkan oleh Lee teman sekelas mereka juga.

Awalnya Hinata menolak.

Ia yakin Gaara tidak akan senang dengan apa yang dilakukannya ini, walaupun ia hanya bertujuan menemani Tenten. Karena, Sabaku Gaara tidak suka jika ada lelaki lain yang berada dalam jarak sedekat mungkin dengan Hyuga Hinata walaupun ia mengenal siapa lelaki itu, Gaara tetap tidak terima.

"Ne, Hinata-chan… apa Gaara tahu kau disini?" tanya Lee sambil meminum es kopinya.

Dan Hinata hanya menggeleng sebagai jawaban, ia sudah merasa tidak enak hati sejak pertama kali menginjakkan kakinya di café ini, Hinata merasa seperti diawasi gerak-geriknya.

"Oh, kau lihat… ternyata Tenten bisa merona seperti itu, hahahahahaha." ucap Lee sambil tertawa melihat di seberang meja yang berbeda dengan Lee & Hinata, Tenten yang sedang merona digoda teman kencannya.

"Hahahaha, kau benar Lee-san… Tenten terlihat manis sekali."

.

.

.

Brakkkk… Bruuugghhhh…

Hentakan bunyi tak beraturan memecah kedamaian di rumah besar Sabaku, Karura dengan tegesa-gesa menggerakkan kursi rodanya keasal suara tersebut. Ternyata bukan hanya Karura saja yang dibuat terkejut.

Kankuro, Iruka Umino dan seluruh pelayan di rumah besar itu sangat terkejut dan berlari mendatangi asalnya suara di tengah malam yang dingin ini.

Prangggg…

Lagi, suara pecahan kaca yang terdengar kali ini diruangan yang sama.

Duuug… duggg

Kankuro menggedor kamar adiknya ini "Gaara! Buka pintunya, apa yang terjadi!" Duuug… duggg

Tapi, tidak ada respon dari sang pemilik kamar.

"Gaara-kun, apa yang terjadi nak… buka pintunya terlebih dahulu." ucap Karura cemas.

"Karura-sama, ijinkan saya untuk mendobrak pintu ini." pinta Iruka pada Karura.

"Ya, cepat buka Iruka... ya Tuhan… apa lagi sekarang ini?" lagi… Karura bergumam panik

Brakkkk

Akhirnya dengan bantuan beberapa security pintu besar ini akhirnya terbuka. Menampilkan kamar yang hancur berantakan... semua hancur, televisi, lemari, kaca besar, lampu tidur, komputer, semuanya hancur berantakan hanya menyisakan bingkai-bingkai foto dari Hinata yang masih berada pada tempatnya, tidak hancur bahkan tidak lecet sedikitpun.

"Gaara-kun, apa yang terjadi sayang?" ucap Karura panik melihat darah mengalir pada jari-jari tangan anak kesayangannya.

Jade Gaara memerah menahan amarah yang meluap, ia beringsut memeluk ibunya dengan lemah "Hi-hinata... Hinata bu, ia... ia... duduk berdua dengan lelaki lain di café, ia sudah berbohong padaku... dan-dan mungkin setelah ini, ia akan meninggalkan ku bu, bagaimana jika itu terjadi?" ucap Gaara tak beraturan, suhu tubuhnya panas dan gemetar.

Karura memeluk erat Sabaku Gaara, matanya berkedip memberikan kode pada Iruka Umino untuk melakukan sesuatu pada anak tersayangnya ini.

Dan...

Pandangan Gaara semakin memudar, ia tak sadarkan diri setelah disuntikan obat penenang.

Ya, Sabaku Gaara sejak tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya. Ia didiagnosa menderita bipolar disorder penyakit yang menyerang titik emosional yang membuat penderitanya mengalami perubahan mood secara drastits, efeknya sering membuat kemarahan yang meletup-letup ditunjukan penderita penyakit ini bahkan seringkali disertai dengan memecahkan benda yang terlihat didepan matanya.

Dan obat penenang sering sekali menjadi solusi jika Gaara dalam keadaan seperti ini.

"Tolong bawa Hinata Hyuga kemari." titah Karura.


Sinar mentari pagi menembus tira-tirai jendela besar di kamar ini, kamar yang sejak beberapa jam yang lalu tak berbentuk kini sedikit lebih baik kondisinya, ada Sabaku Gaara yang masih terlelap dalam mimpinya dan ada Hyuga Hinata yang sejak pagi tadi dijemput oleh Iruko Umino dan berakhir di kamar ini.

Ia duduk di tepian kasur besar Gaara dan memandang penuh sejuta tanya pada pangeran sekolah ini.

Kenapa seorang Gaara bisa menyukai dirinya yang bahkan tidak pernah berinteraksi dengannya sebelum ini, dan kenapa seorang Gaara bisa menyukainya padahal ada lebih banyak gadis-gadis yang lebih cantik dari pada Hinata.

Jade yang terpejam perlahan terbuka.

"Kenapa kau ada disini?" tanya Gaara.

Hinata diam, lebih tepatnya ia bingung harus bersikap seperti apa.

"Ga-gaara-kun... a-aku aku minta maaf..." ucap Hinata sambil tertunduk.

"Kau sudah berbohong padaku Hinata, setelah ini...setelah ini kau pasti akan meninggalkanku begitukah?" tanya Gaara datar jade nya terpejam sesaat.

"Ti-tidak... bu-bukan maksudku untuk berbohong, Tenten memintaku menemaninya, tapi aku tahu...kau pasti tidak akan menginjinkanku jika aku berbicara terus terang padamu."

"Hn, sama saja... kau bahkan duduk berdua dan tertawa bersama dengan lelaki berpotongan rambut aneh itu." jawab Gaara sedikit ketus.

"Di-dia... Lee- teman sekelasku."

Brukkkk

Hinata tersentak.

Gaara tiba-tiba menariknya dan menindihnya.

"Kau-kau pasti takut denganku sekarang kan?"

Hinata hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda respon.

"Kau pasti sudah tahu dari ibuku... bahwa aku mengidap penyakit sialan itu, kau... kau pasti takut kan? setelah ini kau akan meninggalkanku kan?!" tanya Gaara beruntun dan sambil menatap lurus pada bola mata Hinata.

"Ti-tidak... a-aku... aku tidak akan meninggalkan Gaara-kun." ucap Hinata sungguh-sungguh walaupun ia sedikit takut melihat ekpressi yang ditunjukan kekasihnya ini.

Gaara melunak, emosinya turun seketika. Ia memejamkan matanya dan menyentuh helaian indigo Hinata dengan bibirnya.

"Kenapa?" suara serak Gaara memecah keheningan.

"Ku-kurasa... a-aku, a-aku..." ucap Hinata gugup matanya bergerak kekanan kekiri mencari perlindungan dari Jade yang memabukan di atasnya ini.

"Kurasa apa? jangan membuatku menunggu Hinata... karena yang perlu kau tahu... aku tidak akan pernah melepaskanmu." ikrar Gaara.

"Kurasa... aku mulai menyukaimu Gaara-kun." sahut Hinata.

Dan sontak.

Membuat Jade Gaara membesar seketika, ada perasaan gembira yang membuncah di hatinya. Gaara tersenyum menyilaukan.

Ia bahagia.

Dan perlahan, mengecup bibir mungil Hinata dengan sangat lembut.

-tbc-

Konbanwa Minna-

Semoga di chap ini tidak mengecewakan. Oh yah... nama ayahnya Gaara benar bukan 'Sabaku Rasa?' Agak sedikit bingung dengan nama asli dari Kazekage ini atau ayah dari Gaara, karena informasi di mbah geoole sedikit sekali dan semoga saya tidak salah. Pada chap ini memang belum ada interaksi yang menonjol antar Gaara dan Hinata, maupun Hinata dan Shikamaru karena saya terlebih dahulu ingin menjelaskan perihal masa lalu Hinata dan Gaara.

Fict ini tidak akan sepanjang Fillers Heart kok, paling 4-5 chap sudah saya selesaikan, tunggu saja di hari sabtu… kalau saya tidak ada halangan, pasti akan saya update.

Jika ada keanehan mengenai tulisan saya ini, mohon sarannya agar kedepannya bisa saya perbaiki lebih baik lagi.

*bocoran* selain fict ini, saya sedang mengerjakan fict NaruHina dengan genre Drama & Romance tapi berlatar belakang kerajaan di jaman modern. Yah, tunggu sabtu depan, kalau tidak ada halangan akan saya update.

Sekali lagi, Sankyu Arigatou buat yang sudah review, Fav & follow… Saya senang membaca berulang-ulang review dari kalian

Thank For :

BlaZe Velvet, wangtta, TikaChanpm, sushimakipark, onxy dark blue, dearsha, Guest, yuliyantin, tinker, theablue, Miyuchin2307.

Oyasuminasi. ^-^

Intan.