Something Lost

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Pairing : Gaara S x Hinata H x Shikamaru N

Genre : Drama, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya

.

.

.

"Kurasa... aku mulai menyukaimu Gaara-kun." sahut Hinata.


Chap III

Jantungku terus berdegup kencang untukmu

Tak dapat kuhentikan, aku terus menginginkanmu...

Karena kau adalah segalanya bagiku...

Amethys itu terbuka perlahan, sinarnya meresap dan memancarkan kilauan putih dalam bola mata yang seperti mutiara. Hinata mendesah, ini pertama kalinya ia begitu merasakan gelisah saat membuka matanya di pagi ini untuk pergi bekerja.

Sabaku Gaara.

Dia penyebabnya, sejak pertama kali melihatnya setelah 6 tahun berlalu detak jantung Hinata memompa seakan 2 kali lebih cepat.

Terlebih dengan hadirnya mimpi serta kenangan saat mereka masih bersama. Ia sedikit memijat pelipisnya, rasa pening sedikit ia rasakan.

Krieettt...

Suara pintu yang terbuka perlahan mengalihkan atensi Hinata "Shikamaru-kun?"

Shikamaru duduk ditepian kasur Hinata, tangannya terulur menyentuh dahi Hinata "Suhu tubuhmu semalam tinggi, aku hanya ingin memastikannya."

"A-aku... aku tidak apa-apa." Hinata menggeleng lembut.

"Apa kau merasa pening? jika terasa sakit sebaiknya tidak usah pergi bekerja hari ini."

"Ti-tidak, aku... aku baik-baik saja Shikamaru-kun." ucap Hinata meyakinkan.

Shikamaru hanya mendesah sebagai respon "Hn, baiklah... aku siapkan suplemen untukmu di meja makan, jangan lupa meminumnya, aku pergi dulu." ucap Shikamaru sambil mengusap perlahan indigo Hinata.

Diperlakukan seperti ini oleh Shikamaru membuat Hinata bersemu merah, terlihat sangat manis dan mempesona "Um..." ucap Hinata.

. . .

You look at me...

"Ketua, presdir memangilmu ke ruangannya." ucap Tayuya pada Hinata yang saat itu baru kembali dari ruang pelatihan.

"Benarkah?" ucap Hinata memastikan "Baiklah, tolong susun laporan ini, buat grafiknya dan simpan di folder ku, aku akan mengeceknya nanti." titah Hinata sambil menyerahkan beberapa lembaran pada Tayuya.

"Baik." Tayuya mengangguk patuh.

Tokk.. tok... tokkk

"Masuklah..." sahut suara dari dalam ruangan.

Hinata masuk kedalam ruangan presdir Yahiko, ia menundukan kepalanya terlebih dahulu tanda memberi hormat "Anda memanggil saya Presdir?"

Yahiko mengangguk sebagai jawaban "Duduklah sebentar Hinata." Titahnya kemudian.

"Buatkan laporan keuangan sebelum aku menjabat sebagai Presdir, Hinata. Laporan keuangan sedetail mungkin saat perusahaan ini masih bernama Sabaku Corporation."

"Sa-sabaku Corporation?" tanya Hinata heran.

Yahiko tersenyum simpul melihat reaksi dari sekretaris nya ini "Tidak usah heran seperti itu Hinata, memang tidak banyak yang tahu, dan ini memang sengaja di rahasiakan hanya beberapa petinggi inti yang tahu kalau dulu perusahaan ini bagian dari Sabaku Corporation sebelum diambil alih oleh presdir terdahulu." tutur Yahiko.

"Sa-sabaku?" Lagi, raut wajah Hinata menampilkan penuh perasaan tidak percaya.

"Ya, sudahlah... siapkan secepat mungkin, sore nanti kau ikut denganku Hinata, aku akan ada pertemuan penting, kau boleh kembali ke ruanganmu." titah Yahiko kemudian.

Hinata berdegup kencang, kenapa informasi sepenting ini ia sama sekali tidak mengetahuinya, jadi... artinya... selama ini ia bekerja di perusahaan milik Sabaku Gaara, ia yang mati-matian melupakan sosok lelaki bersurai merah itu, kenapa pada akhirnya malah menghabiskan beberapa waktunya di perusahaan milik Sabaku Gaara.

Sigh,

Ia mendesah lelah.

Melihat sahabatnya gelisah sedari tadi membuat Sakura mendekat pada meja Hinata "Kau baik-baik saja Hinata?".

Hinata hanya tersenyum lembut, berusaha menyakinkan Sakura bahwa ia baik-baik saja.

.

.

.

'Apakah masih terasa pening?'

Hinata sedikit terkejut, ponsel yang ia letakkan di atas meja bergetar karena ada pesan yang masuk.

Ia mengecek layar ponselnya.

Shikamaru mengirim pesan. Senyum Hinata seketika mengembang.

'Apakah masih terasa pening?' isi pesan yang dikirim Shikamaru.

"Sudah lebih baik." Hinata berucap sambil mengetik pesan pada ponselnya.

Drrrrttt

'Baiklah, jangan lupa minum air putih yang cukup.' balas Shikamaru kemudian.

Hinata tersenyum sendiri membaca berulang pesan dari kakak angkatnya ini, entah kenapa perasaan buruknya tadi berubah seketika menjadi bahagia.

Hanya dengan mengingat Shikamaru saja Hinata merasa sudah menyelesaikan berbagai masalah, ya... Hinata harus berkali-kali menekankan pada hatinya bahwa saat ini, dikehidupannya yang sekarang ini ada Shikamaru Nara.

Jadi,

Untuk apa ia masih larut pada luka dan kenangan dengan lelaki bermata hijau teduh itu.

Gaara adalah masa lalunya,

Bukankah Gaara sendiri yang meninggalkannya dalam keterpurukan.

Jadi, untuk apa ia masih memikirkan seseorang seperti dirinya.

. . . . .

Sementara itu di tempat lain.

"Bukankah semua ini sudah jelas Shikamaru?" ucap Chouji.

Shikamaru hanya mengendikkan bahunya sebagai jawaban.

"Apa lagi yang harus kau pastikan?" lagi Chouji berucap sambil meminum kopi hitamnya di kantin rumah sakit.

"Entahlah Chouji, akupun tidak tahu... kenapa aku masih harus menunggu." ucap Shikamaru pasrah sambil melipat kedua tangannya diatas kepala dan digunakan sebagai sandaran dikursi kantin.

"Kau sudah bersama Hinata lebih dari 6 tahun bukan? lalu, apa lagi yang kau tunggu? jika kau masih seperti ini bukan tidak mungkin Hinata yang akhirnya meninggalkanmu."

"Mungkin jika hal itu benar terjadi, aku akan menyesalinya seumur hidupku."

Chouji mendesah pasrah, ia pertama kalinya melihat sahabatnya berputus asa seperti ini, ini... seperti bukan seorang Nara Shikamaru.

"Ada luka pada bola mata Hinata, dan itu... jelas bukan aku."

Ya.

Butuh bertahun-tahun bagi seorang Shikamaru Nara memastikan perasaan yang ada di hatinya ini, apakah ini memang perasaan cinta antar lelaki terhadap seorang wanita, atau... hanya perasaan kasih sayang antar kakak terhadap adik perempuannya.

Saat pertama kali Hinata dibawa oleh ayahnya kerumah keluarga Nara.

Hinata penuh dengan luka, bahkan tatapan matanya terasa menyakitkan. Butuh berhari-hari untuk ayah dan ibunya membuat Hinata agar mau berinteraksi, dan pada akhirnya... membuat Hinata kembali ceria seperti ini lagi.

Ia dan kedua orang tuanya sudah berjanji untuk tidak akan membuka ataupun menanyakan perihal masa lalu Hinata karena yang terpenting bagi mereka adalah kebahagian Hinata di hari ini dan seterusnya.

Pada awalnya memang terasa biasa.

Tapi,

Bukankah biasanya cinta datang karena terbiasa?

Ya...

Terbiasa akan kehadirannya, terbiasa akan perhatiannya, terbiasa akan aromanya, terbiasa akan wajah cantiknya.

Dan, Shikamaru terbiasa dengan semua itu.

Pada akhirnya, ia jatuh pada seorang Hinata Nara. Hasrat untuk melindunginya membuncah dan Shikamaru sudah terlalu terbiasa dengan itu semua.

Tapi, setiap ia teringat akan pertama kali melihat Hinata.

Tatapan matanya penuh dengan perasaan luka waktu itu, ada sosok lain di pantulan matanya dan itu jelas bukan dirinya.

Oleh karena itu,

Sampai saat ini Shikamaru tidak mempunyai keberanian untuk meminta Hinata menjadi miliknya.


Sore itu, saat Hinata baru menginjakkan kakinya pada Suna Building, seseorang lelaki menundukkan kepalanya dan tersenyum padanya.

"Hinata, bisa kita bicara sebentar?" tanya Iruka dengan senyum hangatnya seperti biasa.

Dan disinilah mereka berdua, dengan dua cangkir kopi yang mengepulkan asap serta aroma khas kopi disekeliling ruangan.

"Bagaimana kabarmu selama ini?"

"A-aku... baik Umino-san." jawab Hinata dengan terbata.

"Hahahaha, kenapa sekarang memangilku dengan Umino-san? bukankah dulu kau memangilku dengan Iruka-san?"

"A-ano, maafkan aku."

Dengan perlahan Iruka meminum kopi panasnya, matanya mencuri setiap gerakan dari gadis di depannya ini, sangat penuh pertimbangan. Hinata Hyuga masih seperti 6 tahun lalu, dan Iruka harus melakukan ini.

"Hinata... kulihat kau bahagia dengan kehidupan mu saat ini." tutur Iruka.

"Ne?" Hinata mengarahkan pandangannya meminta penjelasan dari ucapan pria di hadapannya ini.

"Huftt..." Iruka mendesah pasrah "Banyak yang telah berubah sejak malam itu Hinata, kau dan Gaara sudah berakhir... kau sudah menemukan kebahagianmu, dan ku harap... Gaara juga begitu."

"Ma-maksud Iruka-san?" lagi, Hinata berekpresi bingung dengan setiap perkataan yang diucapakan Iruka.

"Berpura-puralah untuk tidak mengenal Gaara, kau sudah bahagia dengan hidup mu yang sekarang bukan? jadi, berpura-puralah untuk tidak mengenalnya... dan lanjutkan kehidupanmu seperti biasa."

Degggg

Mata Hinata membulat sempurna, pendengarnya tidak bermasalah bukan?

Iruka Umino dengan jelas meminta dirinya untuk berpura-pura tidak mengenal Gaara Sabaku?

"Hinata?" sahut Iruka.

Hinata tersentak kembali pada pemikirannya "Ya?"

"Kumohon, untuk kebahagiaan mu dan Sabaku Gaara... tolong berpura-puralah untuk tidak mengenalnya."

Melihat sinar mata dari Iruka Umino, Hinata hanya bisa bereaksi dengan menganggukkan kepalanya.


Mencoba mengingat kembali kenangan bersama...

Kau muncul dalam derasnya air hujan yang jatuh

Meleburkan pandanganku dan hadir dalam air mataku.

'Apa kau bahagia bersama denganku?'

'Ya, kau adalah matahari buatku... walau karena cahayamu membuatku menjadi bayang-bayang hitam... tapi aku bahagia bersama denganmu Gaara.'

'Hn, aku sangat mencintaimu lebih dari apapun... jangan pernah meningalkanku.'

'Mana mungkin aku meninggalkamu, kau adalah anugerah dalam kehidupanku, kau menopang kebutuhanku... pendidikanku, kehidupanku... jadi, mana mungkin aku berani meningalkanmu.'

'Ya,jadi... jangan coba-coba untuk mu berani meningalkanku.'

Gaara terlonjak dari kursi besarnya, ia tertidur sekejap dan lagi-lagi ia bermimpi dengan suara gadis yang sama dengan mimpi-mimpinya yang lain.

Tapi,

Mimpinya kali ini ia merasakan perasaaan nyaman dalam hatinya. Dalam mimpinya ia duduk berdua dengan seorang gadis di taman belakang universitas. Dadanya berdegup kencang... namun anehnya degupan ini terasa menyenangkan.

Gaara mendesah pasrah.

Ia tidak bisa jika harus selalu hidup dalam bayang-bayang mimpi seperti ini, dalam hatinya ada luka besar yang ia rasakan.

"Hyuga... siapa kau sebenarnya?" ucap Gaara bermonolog pada dirinya sendiri.

Kreettt

Suara pintu yang di buka menampilkan sosok lelaki bersahaja dengan senyuman khasnya, ia menunduk memberi hormat "Presdir, meeting akan segera di mulai."

Gaara berdiri dari kursi besarnya, ia mengancingkan jasnya serta berlalu pergi menuju ruangan rapat.


Deggg

Saat pertama Gaara memasuki ruangan rapat, tatapan matanya sudah terkunci pada bola mata mutiara itu dan dadanya sedikit terasa sakit.

Ya,

Ini memang pertemuan ekslusif

Antara Sabaku Corp dan Suna Corp jadi jelas, diruangan ini hanya ada mereka berempat.

Sabaku Gaara, Iruka Umino, Presdir Yahiko.

Serta, gadis yang sedari tadi mencuri atensi seorang Sabaku Gaara.

Hinata Nara.

Ia hanya menunduk gugup, perkataan Iruka masih terngiang-ngiang dalam pikirannya.

Berpura-pura untuk tidak mengenal Gaara?

Bisakah dirinya melakukan itu?

Gaara dan Hinata duduk berhadapan diatas sofa melingkar di ruangan ini. Hinata sedari tadi sibuk mengatur laptop, file-file yang di butuhkan presdir Yahiko, walaupun dalam hatinya ia sungguh gugup bahkan tanpa sengaja menjatuhkan beberapa lembar laporan.

Ya...

Bagaimana kau tidak akan gugup, seorang Gaara Sabaku memandang tajam dan lurus pada Hinata, Gaara hanya merasa ia tidak asing dengan gadis ini... dan aura yang dikeluarkan sang gadis terasa sangat nyaman.

Crekkk

"Silahkan dinikmati kopinya." ucap Yoora salah satu asissten di perusahaan ini.

Hinata melirik pada cangkir kopi yang ada di atas meja, mendadak aura gelisah tercermin pada wajahnya.

Ini... kopi cortado.

Jenis kopi dari negari Spanyol yang perbandingan kopi dan susu 1 berbading 1.

Dan Gaara alergi terhadap segala jenis susu sapi. Bagaimana mungkin asissten Sabaku Gaara tidak tahu mengenai hal ini?.

Hinata gelisah, ia meremas erat jari-jari tangannya terlebih matanya mencuri pandang pada Gaara yang dengan perlahan mengangkat cangkir kopinya.

'Berpura-puralah untuk tidak mengenal Gaara'

Ucapakan Iruka tiba-tiba terngiang dalam pikiran Hinata, tapi... ia pun tidak mungkin mengabaikan Gaara saat ini. Karena jika Gaara minum atau makan sesuatu yang mengandung susu bisa dipastikan ia akan deman dan muntah belum lagi seluruh kulitnya akan mengeluarkan bercak merah.

Seperti dulu,

Saat awal dirinya dan Gaara masih bersama, ia membuatkan Gaara bekal makan siang dengan kari yang di campur susu, dan keesokan harinya Sabaku Gaara tidak masuk sekolah karena sakit alergi yang dideritanya.

'Ma-maafkan aku Gaara-kun, a-aku aku tidak tahu jika kau alergi susu.' ucap Hinata saat itu.

Gaara yang terbaring di kasurnya hanya melirikan jadenya 'Bagaimana mungkin aku akan mengabaikan masakan pertama yang kau berikan untukku, walau aku tahu didalamnya kau menambahkan susu, aku harus tetap memakannya... karena kau sudah membuatkannya untukku.' ucap Gaara saat itu.

'Bagaimana ini?' tanya Hinata pada dirinya sendiri.

Saat Gaara hampir meminum kopinya.

Dan.

.

.

.

"Jangan minum itu?!" ucap Hinata tiba-tiba.

Sontak seluruh penghuni ruangan itu terkejut dan mengalihkan seluruh atensinya pada suara gadis mungil diruangan ini.

"Hinata!" Ucap Yahiko yang sama terkejutnya karena ia tidak menyangkan pegawainya yang biasanya begitu sopan bisa berbicara dengan nada yang sedikit tinggi seperti ini.

"Ma-maafkan saya Presdir, ta-tapi tolong... jangan diminum... di-didalamnya mengandung susu dan anda alergi terhadap susu." ucap Hinata terbata-bata.

Iruka reflex bereaksi dengan mengambil kopi yang ada di meja.

"Kopi jenis apa ini?" tanyanya sedikit menuntut pada asisten yang menyediakan kopi ini beberapa saat tadi.

"Co-co..cortado." ucap Yoora dengan gemetar.

Ceklek

Gaara meletakkan kembali kopi yang tadi hampir diminumnya, ia mendengus dan menatap tajam sekretaris dari Suna Corp ini.

Jadenya menatap lurus.

"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya tajam pada Hinata yang sudah membeku seperti ini.

Seperti seseorang yang bodoh

Mengapa aku tidak tahu

Dan kenapa aku membiarkanmu pergi

Dalam Hatiku yang perlahan menangis

Hanya sekarang, sekarang aku sadari

Bahwa cintaku hanya padamu.

-tbc-

Haaaah...

Gomenasai, ini telat beberapa minggu.

Jujur bulan kemarin dan mungkin beberapa bulan kedepan memang banyak sekali pekerjaan, dan jangankan buka laptop untuk mengetik... nonton Naruto yang Last Battle pun saya belum sempat. T_T

Saya dengan senang hati menerima krtikan pada Chap III ini, karena saya pun merasa ini tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Tapi semoga masih ada yang suka dan masih ada yang bersedia membaca.

Terima kasih buat yang sudah review kemarin, review dari kalian membuat saya semangat untuk mengetik dan menyelesaikan fict ini. Semoga setelah ini akan banyak kesempatan buat saya mempunyai waktu luang.

Sampai jumpa sabtu depan *Jika saya sempat untuk Up*. ^_^

Terima kasih dan mohon maaf sebelumnya.

Oyasuminasai.

Intan.