Something Lost

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Pairing : Gaara S x Hinata H x Shikamaru N

Genre : Drama, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya

.

.

.


Akankah berbeda jika akhirnya bukan kau?

Bahkan, aku berharap jika aku mati nanti dan dihidupkan kembali.

Aku hanya ingin bersamamu, lagi... nanti dan selamanya.

Chap V

Ia terdiam, berkas-berkas yang tersusun rapih di tangannya jatuh perlahan berserakan di lantai.

"Pres-presdir?" tanyanya kembali, memastikan apa yang didengarnya hanyalah sebuah kebohongan.

"Maafkan aku Hinata, Presdir Gaara yang memintanya sendiri padaku... dan aku tidak mungkin menolak permintaanya."

"Ta-tapi, kenapa aku?"

"Karena dia yang menginginkannya... mulai besok, kau akan bekerja di Sabaku Building."

"Presdir..." lirih Hinata.

"Maafkan aku Hinata, tapi ini tidak akan berlangsung selamanya... kau hanya di perbantukan disana... sampai Presdir Gaara kembali ke kantor pusat dan meninggalkan Jepang."

"Me-meninggalkan Jepang?" tanya Hinata kembali.

"Ya, dia kembali ke Jepang hanya karena satu tujuan... jika tujuannya sudah terlaksana, dia pasti akan kembali ke kantor pusat." tutur Yahiko menerangkan.

Hinata terdiam, kembali meninggalkan Jepang?

Kata-kata presdir Yahiko menggema di otaknya, jadi... kembalinya Gaara ke Jepang sama sekali tidak ada hubungannya dengannya?.

Begitukah kenyataanya?

Kenapa hatinya terasa berdenyut nyeri mendengar penuturan dari presdir Yahiko, kenapa hatinya seakan tidak rela dengan apa yang baru saja didengarnya?.

Bukankah Hinata sudah membuang perasaanya sejak malam itu, lalu... kenapa masih tersisa rasa menyakitkan seperti ini.

"Bekerjalah sebaik mungkin dengannya Hinata, Presdir Gaara sangat sensitive terhadap apapun... jika kau butuh bantuan, tidak usah sungkan langsung hubungi aku." ucapan Presdir Yahiko mengembalikan kesadaran Hinata.

Hinata menganggukan kepalanya dan berusaha tersenyum sebaik mungkin.

#

Tidak bisakah aku berbohong, bahkan kepada diriku sendiri?

Mengapa, bahkan diriku tidak bisa menghapusnya?

Menghapus bekas luka yang meninggalkan kepedihan.

Apakah ini masih bisa disebut cinta?

Tinggg

Suara dentingan pintu lift yang terbuka menampilkan gurat wajah penuh kegelisahan.

Ini sudah lebih dari jam 6 sore, tinggal 1 jam lagi Shikamaru akan menjemputnya dan mengajaknya makan malam bersama. Tapi, Hinata sepertinya lupa dengan janjinya pagi ini.

Kabar yang begitu mengejutkan membuatnya melupakan janji dengan Shikamaru. Hinata lagi-lagi mendesah pasrah, kenapa takdir selalu membuatnya berada disekitar Sabaku Gaara.

Pikiran Hinata yang memang sedang tidak pada tempatnya membuat ia masih terpaku berdiri didalam lift walaupun lampu indikator dilift sudah menunjukan lantai utama tujuan Hinata dan pintu lift sudah terbuka sedari tadi, tapi Hinata tidak jua menyadarinya.

Sampai ketika...

"Kau ingin keluar atau kembali lagi ke atas?"

Suara datar penuh kharisma menyentakkan Hinata, Hinata terkejut melihat siapa yang berada dihadapannya saat ini.

Tangan Gaara berada di sisi pintu lift yang membuat lift tidak bisa tertutup sedari tadi.

"Apa kau tuli? kau ingin keluar atau kembali ke atas?" Lagi, Gaara kembali bertanya kali ini nada yang dikeluarkan sedikit menuntut.

"Ma-maafkan aku Sabaku-sama, maaf... maksudku Presdir Gaara, a-aku... aku akan keluar." ucap Hinata sambil menundukkan kepalanya dan terburu-buru melangkah keluar dari lift.

Tappp

Tapi,

Lengan Hinata di tarik paksa oleh Sabaku Gaara dan kembali masuk ke dalam lift. Hinata terkejut terlebih dengan posisinya saat ini.

Hinata terhimpit dalam sudut lift dan Gaara seakan mengurungnya, lengan Hinata menggenggam erat kedua sisi jas Gaara.

Jade bertemu pandang dengan amethyst.

Tingg

Tanpa sadar mereka terus berada di posisi seperti ini sampai pintu lift kembali tertutup.

Ada ribuan kupu-kupu yang terasa keluar dari perut Sabaku Gaara, ia terdiam sesaat, terasa hangat,nyaman dan rasanya familiar.

"Sepertinya ponselku tertinggal diruangan Yahiko, kau ikut aku keruangannya!" titah Gaara berusaha mengalihkan suasana, ia berdehem mengurangi kegugupannya dan menekan tombol pada lift untuk membawa mereka kembali ke lantai atas.

Dan apa-apaan alasannya tadi.

Ponselnya tertinggal?

Yang benar saja, ponselnya dalam keadaan baik-baik saja dalam kantung celana Sabaku Gaara. Sesaat Gaara mengutuk dirinya sendiri, rasanya ini adalah alasan terbodoh yang pernah ia pikirkan, lagipula kenapa sedari tadi dadanya terasa berdegup kencang seperti ini?.

"Po-ponsel anda tertinggal lagi presdir?" tanya Hinata dengan terbata.

Gaara terdiam, berusaha mencerna kembali kata-kata yang ditanyakan Hinata. "Lagi?" tanyanya "Memang kapan ponselku pernah tertinggal?" tanya Gaara.

Hinata mendadak gugup, ia tidak tau kenapa bisa membuat pertanyaan seperti itu "A-no... i-itu..." racau Hinata 'Dulu kau sering sekali tertinggal ponsel Gaara, entah di kampus, dikantor bahkan dirumahku.' tutur Hinata dalam hati.

Tinggg

Pintu lift terbuka di lantai yang menjadi tujuan Sabaku Gaara dan Gaara melangkahkan kakinya meninggalkan lift serta Hinata yang masih terjebak dengan pikiran masa lalunya.

"Hei nona... apa kau memang menyukai lift? cepat keluar dan bantu aku menemukan ponselku!" titah Gaara penuh arogansi sambil melangkah pergi.

"Ba-baik..."

##

Sudah sekitar setengah jam berlalu Hinata masih saja sibuk mencari disetiap sudut ruangan presdir Yahiko, sedangkan Gaara ia hanya duduk bersandar diatas sofa diruangan itu dengan wajah yang tanpa ekpresi sedikitpun.

Jade nya sesekali mencuri pandang pada satu-satunya mahluk yang ada di ruangan ini bersamanya, Gaara merasa ada hal yang aneh terhadap tubuhnya jika ia bersama dengan sekretaris presdir Yahiko ini, dari sejak awal mata bulannya tertangkap dalam penglihatannya, Gaara merasa ia memiliki sesuatu terhadap gadis ini.

Tapi apa itu?

Sekeras apapun Gaara berusaha mengingat tentang gadis bermata bulan ini tidak pernah ada hasilnya, semakin ia memaksa otaknya untuk mengingat Hinata ia semakin merasakan sakit yang teramat sangat diotaknya dan pada akhirnya ia menyerah untuk mencoba mengingat gadis ini.

Dan satu-satunya cara yang bisa terpikirkan oleh Sabaku Gaara adalah berusaha sedekat mungkin dengan gadis ini, ia berpikir lambat laun... memori tentang masa lalu dan mimpi buruknya akan ia ketahui kebenarannya.

Karena dari awal Gaara merasa, gadis ini memiliki sesuatu... entah terlibat dengan memori masa lalunya, atau hanya sebagai kunci tentang jawaban mimpi buruknya selama ini.

"A-apakah benar anda meninggalkan ponselnya terakhir kali disini presdir?" tanya Hinata.

"Hn." Jawab Gaara acuh.

"Ta-tapi... saya sudah mencarinya di seluruh ruangan, ponsel anda memang tidak ada di sini sepertinya presdir."

Lalu,

Gaara bergerak dari posisinya, ia berdiri dan memasukan kedua tangannya pada kantung celanya, lalu mengambil ponselnya yang memang sedari awal berada aman di kantung celananya "Kau bisa berhenti sekarang, ponselnya ada padaku." jawab Gaara tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Dan Hinata ia melebarkan bola matanya seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Mulai besok, kau akan bekerja untukku nona Hinata." lagi, Gaara berucap sambil berlalu pergi meninggalkan Hinata diruangan ini.

"Ga-gaara..." lirih Hinata.


Jam operasional perusahaan memang sudah berakhir sejak pukul 17.00 sore ini, beberapa ruangan yang biasanya dipenuhi karyawan kini sebagian sudah tertutup rapi.

tukkk... tukkk

Hanya sesekali terdengar bunyi hentakan dari sepatu presdir Sabaku Corporation di ruangan ini. Langkah Gaara perlahan meninggalkan lobby gedung besar ini dan diikuti oleh Hinata yang setia mengekor di belakangnya.

"Sudah berapa lama kau bekerja di perusahaan ini?" tanya Gaara berusaha mengurai kesunyian.

"I-ini tahun ke 4 saya bekerja di sini." Hinata menjawab.

"Dalam jangka 4 tahun kau sudah menduduki posisi yang strategis seperti ini? apa tidak terlalu berlebihan untukmu?" tanya Gaara meremehkan.

Hinata tersentak.

Rasanya sakit sekali mendengar apa yang diucapkan Sabaku Gaara, bukan subjek yang jadi pertanyaan Gaara, tapi karena Sabaku Gaara yang mengajukan pertanyaan seperti ini.

Dan Gaara hanya mengendikkan bahunya "Mulai besok kau bekerja untukku, dan jika cara kerjamu benar-benar tidak layak untuk menyandang posisimu saat ini, bukan hanya kau... tapi seluruh manajemen di gedung ini akan aku reshuffle."

"Sa-saya... akan bekerja sebaik mungkin." jawab Hinata.

Gaara yang berjalan didepan Hinata sedikit menarik ujung bibirnya ia sedikit tersenyum "Kita lihat saja mulai besok nona Hi-hinata..."

. . .

Saat mereka berdua hendak meninggalkan gedung ini, di lobby gedung tepatnya disudut paling ujung ruangan yang ada di lobby pintu masuk gedung dari bagian belakang, terdengar suara yang begitu nyaring, seperti suara yang timbul dari mesin las.

Langkah kaki Gaara terhenti seketika "Ada apa disana?"

"Sedang ada rekonstruksi pada gedung bagian belakang presdir, dan pengerjaanya dilakukan setelah jam operasional bekerja selesai supaya tidak menganggu operasional kantor." tutur Hinata.

Sabaku Gaara memutar langkahnya, ia melangkahkan kakinya menuju sumber suara itu berasa.

"Apa kau sudah tau kualitas pengembangnya?" tanya Gaara sambil terus melangkah dan disusul Hinata yang berada di belakangnya.

"Ya, mereka sudah bekerja sama dengan perusahaan ini dalam waktu yang lama."

Tap...

Saat langkah kaki penguasa Sabaku Corporation ini berada di tempat yang menjadi tujuannya tubuh tegapnya seketika limbung.

Sreeettt... srekkkk

Suara dari bunyi mesin las memekakan telinganya, sangat terdengar menyakitkan hingga tanpa terasa Jade nya mengeluarkan air mata.

Hinata panik, ia dengan sigap berusaha menopang tubuh besar Gaara yang hendak tersungkur di lantai "Presdir... presdir apa yang terjadi?".

Brukkkk

Ukuran tubuh Hinata yang memang tidak setara dengan tubuh besar Gaara membuatnya tidak bisa menahan Sabaku Gaara, mereka berdua terjatuh di lantai "Presdir... presdir apa yang terjadi?".

Dan Gaara.

Nafasnya memburu tak beraturan, tangan kirinya mencengkeram erat kepalanya "A-api... a-ada api..." ceracau Gaara.

Jade nya terus melebar dan menatap takut pada mesin las yang digunakan pekerja sehingga menghasilkan percikan api yang sedikit besar.

"Ya Tuhan, bagaimana ini?" racau Hinata panik sambil terus menggengam erat tangan Sabaku Gaara yang bergetar karena ketakutan.

"La-lari... lari Hinata... ada api... larilah..." ucap Gaara ambigu.

"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" tanya Hinata pada dirinya sendiri "Gaara, kau kenapa? apa yang terjadi?".

Dan Gaara terus menggerang dan mencengkeram rambutnya seakan menandakan betapa sakit yang ia rasakan saat ini di kepalanya.

"Gaara...kau kenapa?" lagi, Hinata terlihat panik.

Sesaat ponsel Hinata berdering, dengan tergesa-gesa Hinata mengambil ponselnya dan saat nama penelpon yang muncul dilayar ponselnya mata bulannya berbinar lega "Syukurlah..." ucap Hinata.

"Ne, Hallo Shikamaru-kun?" tanya Hinata pada panggilan di telponnya.

'Ya, apa kau sudah selesai bekerja? aku sudah di depan lobby.' jawab Shikamaru.

"Shi-shikamaru... tolong... tolong aku cepat...!"

Panggilan terputus!

. . .

Selang beberapa saat, derap langkah kaki yang sangat Hinata kenal perlahan mendekat.

"Apa yang terjadi Hinata?!" tanya Shikamaru panik.

Hinata mendengok dengan raut wajah penuh kepanikan "Shi-shikamaru... tolong lakukan sesuatu, dia sedari tadi berteriak ketakutan seperti ini." ucap Hinata nada suaranya bergetar penuh kepanikan.

Deggg

Dan entah kenapa, Shikamaru merasa aura Hinata seperti ini terasa menyesakkan untuknya, jantungnya sedikit berdenyut nyeri.

"Kita bawa ke rumah sakit, bantu aku untuk memapahnya ke mobil." titah Shikamaru.

Dan Hinata seketika mengangguk patuh.


Skip Time

"Shikamaru-kun, bagaimana? apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?" tanya Hinata beruntun pada Shikamaru yang baru saja keluar dari ruangan pasien Sabaku Gaara.

"Tidak ada yang perlu kau takutkan Hinata, dia hanya memiliki ketakutan berlebih... sejenis phobia terhadap sesuatu." ucap Shikamaru sambil duduk disebelah Hinata.

Hinata mengatupkan kedua tangannya pada wajahnya dan menghembuskan nafas penuh kelegaan "Syukurlah..."

Dan Shikamaru tersenyum melihat reaksi Hinata "Dia... siapa?" tanya Shikamaru pada Hinata.

"Dia presdir dari Sabaku Corporation, Sabaku Gaara mulai besok... aku bekerja untuknya." jawab Hinata.

"Oh..." dan Shikamaru hanya ber-oh ria.

"Apa kau akan tetap di sini Hinata?" tanya Shikamaru lagi.

"Ya, aku merasa bertanggung jawab terhadap hal ini, jadi aku akan menunggunya sampai walinya datang nanti." jawab Hinata.

Dan Shikamaru hanya menganggukan kepalanya merespon jawaban dari Hinata 'Kau bahkan sama sekali melupakan tentang janji untuk makan bersama di malam ini, Hinata.' Sigh. Shikamaru menghembuskan nafas beratnya.

"Baiklah, aku harus ke bagian radiology ada yang harus aku urus terlebih dahulu, apakah tidak masalah jika kau kutinggal sendiri?"

Hinata mengangguk sebagai jawaban "Um"

Rasanya sudah ribuan tahun,

Sejak terakhir kali kau menggengam tangaku.

Rasanya masih tetap hangat, tapi entah mengapa... rasa hangat ini mulai terasa sedikit lebih panas di setiap detiknya, kembali membakar setiap kenangan yang aku punya tentangmu.

Ini sudah terasa ribuan tahun.

Tapi kenapa, rasanya masih tetap seakan baru kemarin.

"Hi-hinata? Be-benarkah... kau Hinata Hyuga?"

"Kan- Kanuro-Nii..." lirih Hinata.

Kankuro sedikit limbung, ia menopangkan tubuhnya pada pintu ruangan tempat Sabaku Gaara di rawat "Ya Tuhan, Hinata... kau masih hidup?" lagi, dengan penuh rasa tidak percaya Kankuro kembali bertanya.

"Ma-maafkan aku Kankuro-nii, aku... aku..." ucap Hinata sambil meremas tali tasnya saking gugupnya.

Greppp

Dengan tiba-tiba Kankuro memeluk erat Hinata "Syukurlah Hinata, syukurlah... tidak perlu meminta maaf, harusnya aku yang meminta maaf padamu, karena dengan bodohnya selama ini untuk tidak berusaha mencari dirimu." sahut Kankuro, ia melepaskan pelukannya pada Hinata dan menggenggam erat kedua pundak Hinata "Kembalilah bersama kami Hinata, dengan begini... Gaara akan kembali seperti dulu."

"Ke-kembali bersama Gaara?" tanya Hinata pada dirinya sendiri, bisakah ia kembali bersama Sabaku Gaara saat ini setelah apa yang lelaki itu perbuat di kehidupan sebelumnya?.

Dan Kankuro hanya mengangguk dan mengamati menunggu gadis ini memberikan jawaban, terlihat jelas kebahagian di wajah Kankuro, senyum lebar ia berikan pada gadis adiknya ini, tapi seketika tangannya melemas, ia melepaskan genggaman pada pundak Hinata.

Matanya terfokus melihat Id Card pegawai yang menggantung di leher Hinata "Hinata Na-nara?" Sabaku sulung itu mendesah tidak percaya "Na-nara?... mak-maksudnya Hinata?"

Hinata hanya menundukkan kepalanya, ia sembunyikan wajahnya dengan surai indigonya.

"Anda wali Sabaku Gaara?" dan suara berat mengalihkan atensi Kankuro pada Hinata.

"Benar." jawab Kankuro sambil terus melirikan pandangannya pada Hinata.

"Aku Shikamaru Nara, bisa kita bicara diruanganku?" tanya Shikamaru pada Kankuro.

"Na-nara?" tanya Kankuro, dan Shikamaru hanya membungkukkan sedikit kepalanya tanda perkenalan dirinya.

"Hinata... tunggu disini sebentar." titah Shikamaru.

Dan Kankuro yang melihatnya hanya bisa menghembuskan nafas penuh penyesalan 'Jadi kau sudah menikah dengannya Hinata?'

. . .

Hinata menarik kursi untuk lebih dekat dengan Sabaku Gaara yang terlihat begitu nyaman tertidur di kasur pasien rumah sakit ini, ia duduk disebelahnya. Mata bulannya terus menerus memperhatikan wajah Sabaku Gaara, tidak banyak yang berubah pada pewaris Sabaku Corp. ini.

Hening yang terasa menyenangkan bagi Hinata, hanya terdengar tarikan nafas yang begitu teratur dari Gaara, berada disituasi seperti ini seperti bernostalgia baginya, Gaara yang tertidur lelap dan Hinata yang memandang wajahnya, seperti dulu.

Tapi,

Seketika kenangan buruk beberapa tahun silam merangsak memenuhi pikiran Hinata, kenangan yang dengan sekuat tenaga berusaha Hinata lupakan, potongan kenangan yang membuatnya selalu berada dititik terendah di dalam hidupnya.

Flashback

Beberapa tahun lalu, disaat bunga sakura tumbuh bermekaran diseluruh Jepang, begitu juga dilingkungan Universitas Hinata dulu. Hinata tidak banyak memiliki teman, mungkin hanya Tenten teman semasa di senior high school dan beberapa teman yang dekat dengannya pun mungkin bisa dihitung dengan jari di kampusnya yang sedikit lebih dekat dengannya.

Ya,

Hinata bukannya tidak populer, dia cantik dan pintar bagaimana mungkin dia bisa disebut tidak populer? bukan pula karena dikucilkan. Bukan itu yang membuatnya tidak banyak teman, tapi... karena Sabaku Gaara selalu berada disekitarnya yang membuat Hinata dijauhi oleh penghuni kampus.

Di seluruh kampus siapa yang tidak mengenal Sabaku Gaara dan semua kepribadiannya, setiap wanita memimpikan untuk berada di posisi yang Hinata tempati saat ini, dan setiap pria memimpikan untuk berada di posisi Sabaku Gaara. Dengan umur yang masih sangat muda, dan dengan segala kelebihan yang dimiliki Gaara membuat siapapun pasti menginginkan menjadi dirinya.

"Gaara-kun, Tenten mengajak untuk melihat pertandingan final team sepak bola kampus, bisakah kita pergi bersama?" ajak Hinata disaat mereka sedang makan siang bersama.

"Tidak." jawab Gaara singkat.

"Ta-tapi, ini pertandingan final Gaara." lagi, Hinata berusaha meyakinkan Sabaku Gaara.

"Aku ada pertemuan direksi nanti sore, dan jangan meminta hal yang tidak berguna seperti itu Hinata.!" dengan sedikit berteriak Gaara menolak permintaan Hinata.

Sabaku Gaara, sejak ibundanya meninggal ia yang bertanggung jawab dan mengelola seluruh operasional perusahaan, ditangannya... Sabaku Corporation yang dulu diambang kehancuran perlahan bangkit dan berkembang, walaupun konsekuensinya Sabaku Gaara harus banyak kehilangan waktunya, waktu lenggangnya... waktu belajarnya, dan... waktunya bersama kekasih hatinya Hinata Hyuga, sebagian waktunya, bukan... bahkan hampir seluruh waktunya ia habiskan untuk Sabaku Corporation.

Dan sejak saat itu pula, Hinata merasa keberadaan dirinya hanya sebagai pelengkap, bukan sebagai kekasih Sabaku Gaara seperti dulu.

"Ma-maafkan aku." ucap Hinata.

"Ku antar kau pulang." titah Gaara sambil menarik lengan Hinata untuk mengikutinya.

Ya, hubungan ini tidak seperti sepasang kekasih. Gaara yang selalu mengatur setiap apa yang dikerjakan Hinata dan Hinata yang telalu penurut dan selalu melakukan apa yang diminta kekasihnya.

Hubungan satu arah, dan Hinata... mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan ini, ia juga memiliki keinginan, ia juga memiliki harapan yang ingin di wujudkan bukan terus menjadi bayang-bayang Sabaku Gaara, tapi Hinata terlalu takut untuk menolak.

Tapi kali ini sepertinya berbeda.

Hinata menepis tangan Gaara yang hendak menariknya "Aku akan pulang setelah melihat pertandingan ini bersama Tenten."

Gaara menatap tajam Hinata, sebagian hatinya terasa ditusuk besi panas mendengar penolakan dari Hinata, ini... untuk pertama kalinya Hinata menolaknya seperti ini, Gaara marah dan ia sedikit takut, ia mendengus kesal "Kau pulang denganku." ucap Gaara datar sambil menarik kembali tangan Hinata.

"Tidak, aku akan pulang setelah menontonnya..." ucap Hinata lagi, berusaha menarik lengannya dari genggaman erat Sabaku Gaara.

Melihat sinar kesungguhan di mata Hinata membuat tubuh Sabaku muda bergetar, ia... takut, apa ini waktunya Hinata meninggalkannya? ia sudah terlalu sering ditinggal oleh seserang yang dikasihininya... dan sekarang apakah waktunya Hinata meninggalkannya?.

"Jangan membantah keinginanku Hinata." ucap Gaara sambil menarik paksa Hinata untuk mengikutinya ke mobil.

"Ta-tapi Gaara... lepaskan tanganku, ini sakit sekali." sahut Hinata sambil berjalan terseok-seok mengimbangi langkah besar Gaara.

"Kau mulai membantahku Hinata, setelah ini apa lagi? kau akan meninggalkanku!?"

"Tolong, lepaskan tanganku Gaara, ini sakit sekali..."

Bruuukk

Gaara mendorong Hinata masuk kedalam mobil dan menutup kasar pintu mobilnya, ia pun masuk dari pintu sebelahnya "Kita kerumah Hinata terlebih dahulu Iruka." titah Gaara.

Didalam mobil Hinata menangis terisak, ia menggenggam perlahan lengannya yang memerah akibat Gaara menariknya terlalu keras. Sabaku Gaara tidak tahu harus berbuat apa, ia pun masih terkejut dengan apa yang ia lakukan, kenapa ia bisa bersikap seperti itu pada orang yang paling dicintainya didunia ini, tapi... penolakan Hinata tadi memang sudah melukai egonya.

Flashback off

"Terima kasih dok, saat ini Iruka sedang mengurus keterangan catatan medis saat Gaara ditangani di rumah sakit Washington, jika sudah selesai akan aku minta untuk melampirkannya pada anda." ucap Kankuro sambil berjalan perlahan kembali ke ruangan tempat Gaara beristirahat.

"Jangan membuatnya tertekan untuk beberapa hari ini." titah Shikamaru.

"Baiklah." jawab Kankuro.

Tuuuk... tukkk

Pintu ruangan kamar inap diketuk perlahan Shikamaru "Hinata, kita pulang sekarang." ajaknya pada Hinata.

"Baiklah." jawab Hinata, ia melampirkan tali tasnya dan berdiri dari tempat duduknya.

Tapi,

Tappp

.

.

.

Gaara menarik tangan kiri Hinata.

"Kau sekertaris ku saat ini, jadi... aku memerintahkan kau untuk temani aku disini." ucap Gaara tanpa membuka matanya.

Deggg.

Mendengar permintaan Sabaku Gaara, Hinata merasa membeku seketika, ia merasa aliran darahnya berhenti mengalir.

Dan ini berlaku juga untuk Shikamaru Naara yang terdiam membatu melihat apa yang ada didepan matanya.

-tbc-

Maaf-ne,

Karena sudah terlalu lama, ini terpaksa saya up... jadi mohon maaf kalau banyak typo bertebaran.

Semoga tidak mengecewakan. Jika ada kritik ataupun saran sangat saya hargai dan berterima kasih.

Sampai jumpa Sabtu lainnya.

Oyasuminasai.

Intan.