Something Lost

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Pairing : Gaara S x Hinata H x Shikamaru N

Genre : Drama, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya

.

.

.

.

"Kau sekertaris ku saat ini, jadi... aku memerintahkan kau untuk temani aku disini." ucap Gaara tanpa membuka matanya.


Chap VI

Tanpa kau disisiku.

Merasakan perasaan sakitpun aku tak mampu.

Bahkan saat ini, aku hidup tanpa merasakan apapun.

Ini sudah lebih dari setengah malam, angin malam dimusim ini menambah rasa sakit yang dirasa Sabaku Gaara yang terbaring sendiri dikamar rumah sakit.

"Kau sekertaris ku saat ini, jadi... aku memerintahkan kau untuk temani aku disini." ucap Gaara tanpa membuka matanya.

Tadinya Gaara berfikir, gadis itu akan tunduk pada perintahnya, akan merasa terintimidasi oleh perkataanya, tapi... penolakannya justru membuat ia merasakan sakit daripada sebelumnya.

"Maafkan aku Presdir, tapi aku tidak bisa tinggal di sini, ini sudah lewat dari jam kerja ku, presdir juga harus istirahat dengan tenang."

Sabaku muda itu terdiam, dan melepas perlahan genggaman tangannya. Sebenarnya ia sangat marah, dan ia ingin sekali mengekpressikan kemarahannya itu, tapi... ia tidak bisa, pengaruh obat yang diberikan padanya bahkan tidak bisa membuatnya untuk sekedar membuka matanya.

"Brengseekkk!"

Ia menggeram dalam hatinya, nafasnya memburu menandakan betapa aliran darah dalam tubuhnya merangsak naik kebagian sarafnya.

Sebenarnya siapa gadis itu? bahkan hanya dengan keberadaaan dirinya saja sudah bisa membuat emosinya berubah tanpa sebab.

"Aku yakin, aku memiliki sesuatu terhadap mu..." ucap Gaara pada dirinya sendiri dalam keheningan malam.


Tukk... tukkk "Hinata..." sahut Shikamaru sambil perlahan mengetuk pintu kamarnya.

Ceklek.

.

Suara knop pintu yang terbuka menampilkan Hinata dengan baju piyamanya "Ya, apa kau perlu sesuatu?" tanya Hinata.

Shikamaru menggeleng perlahan sambil menyodorkan segelas susu coklat hangat kegemaran Hinata "Kau melewati hari ini dengan sangat berat, kupikir kau tidak akan bisa tidur dengan cepat, minum susu ini supaya kau lebih cepat terlelap." titahnya.

Dan Hinata, dalam bias cahaya lampu malam yang samar tersenyum merona pada Shikamaru sambil menundukkan kepalanya dan berterima kasih.

Bahkan hanya dengan membuat Hinata tesenyum saja Shikamaru sudah merasa cukup dengan apa yang diinginkan hatinya, walaupun... perasaaan gelisah sudah menyelimuti sejak ia melihat interaksi Hinata dengan Presdir Sabaku itu.

Shikamaru Nara bukan orang yang bodoh, hanya dengan melihat pancaran mata Hinata terhadap lelaki bersurai merah itu dia sudah tahu ada sesuatu yang melibatkan perasaan disana.

Sejak pulang dari rumah sakit, sebenarnya Shikamaru ingin sekali bertanya lebih jelas tentang siapa Sabaku Gaara itu pada Hinata, tapi... ia terlalu pengecut mendengar jawaban yang mungkin tidak ingin dia dengar nantinya. Oleh karena itu, hanya ini yang bisa Shikamaru lakukan.

Hanya melihatmu,

Jika aku bisa terus melihatmu, akankah kau berbalik melihatku?

Lihatlah sebentar saja aku yang mencintaimu.

Karena aku benar-benar mencintaimu.

. . .

Lagi dan lagi, Hinata mendesah dipagi hari yang diawali dengan rintikan hujan, setiap tetesannya seakan mempertegas hatinya yang bimbang dalam perasaan aneh seperti ini.

Sudah bertahun-tahun ia berusaha sekuat yang ia bisa untuk melupakan Sabaku dan segala hal yang berkaitan dengannya, lalu kenapa... di saat ia benar-benar merasa bahagia dengan apa yang sudah ia capai dalam kehidupannya, Sabaku muda itu kembali tanpa pertanda apapun. Menghancurkan susunan kehidupan hariannya, menghancurkan hatinya dan memaksanya untuk terus berada disekitarnya.

Hinata hanya tidak ingin, hatinya terluka kembali.

Bahkan, lelaki itu datang tanpa perasaan bersalah padanya dan melupakannya.

Melupakannya?.

Hinata tersenyum miris, hatinya penuh luka... potongan masa lalu kembali seperti bayangan dan memaksanya untuk terus merasakan luka.

Flashback

Malam itu,

27 desember bertepatan dengan hari ulang tahun Hinata. Hujan salju diluar sangat lebat, bahkan sebagian jalan-jalan utama ditutup karena tebalnya salju.

Hinata berdiri dengan pakaiannya yang sangat tebal. Walaupun begitu ia terlihat sangat manis, dengan pipinya yang memerah karena suhu dingin menusuk pori-pori kulitnya.

Ia berdiri gelisah di samping gedung pintu masuk bioskop, sudah hampir 7 jam ia menunggu kekasih hatinya Sabaku Gaara di tempat ini. Lavendernya terus bergerak ke kanan dan ke kiri berharap pria-nya berada dalam kerumunan lalu lalang orang yang menghabiskan malam di hari ini.

Tanpa terasa, bola mata bulannya berair...

Hinata hanya merasa sedih, bahkan disaat ia meminta sesuatu dihari ulang tahunnya, Sabaku Gaara sama sekali tidak peduli padanya. Buktinya... sudah lebih dari 7 jam ia menunggu dan tidak ada tanda-tanda kehadiran Gaara di sini.

Apakah Gaara memang sudah tidak mencintainya lagi seperti dulu?

Lalu, kenapa Gaara masih membiarkan dirinya berada di sekitarnya, dikehidupannya jika memang Gaara tidak lagi mengingingkan dirinya?

Berkali-kali Hinata ingin menyerah pada perasaanya, tapi Gaara tetap memaksa dirinya untuk terus berada dalam jangkauannya.

Hinata pun takut, jika memang ia memutuskan untuk berpisah dengan Sabaku Gaara apa ia bisa menjalani kehidupannya lagi? sedangkan, semua kebutuhannya selama ini Gaara yang bertanggung jawab penuh, walaupun Hinata tidak pernah meminta sama sekali pada Gaara.

Jadi, apakah mungkin dirinya memang menjadi beban untuk Sabaku Gaara?.

'Gaara-kun, kau pasti datang kan?' berkali-kali Hinata mengirim pesan pada Gaara di hari ini, tapi tidak ada satupun balasan pesan darinya.

'Gaara-kun, apakah benar kau mencintaiku?'

'Gaara-kun kau pasti datang kan? aku akan menunggumu, kau pasti datang kan?'

'Gaara-kun, ini hari ulang tahunku… kau pasti akan datang kan?'

Entah Gaara yang terlalu sibuk, atau mungkin Gaara tidak berminat menanggapapi pesannya sama sekali.

'Gaara-kun, ini hari ulang tahunku... kau pasti datang kan?' lagi, Hinata mengirimnya pesan.

'Ini permintaan ku yang pertama dan terakhir, aku harap kau akan datang Gaara, aku mencintaimu Sabaku Gaara.'

Hinata terlonjak dalam lamunannya saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

"Nona, menurut ramalan cuaca diluar akan ada badai salju, sebaiknya nona masuk kedalam ruangan." ucap security yang ada di gedung bioskop itu.

"Aku sedang menunggu seseorang, aku akan menunggu diluar saja pak." ucap Hinata.

"Cuaca diluar sangat dingin dan berbahaya, sebaiknya kedalam saja... kau tinggal mengirim pesan pada seseorang yang kau tunggu jika kau menunggu didalam." papar security itu.

Hinata tersenyum canggung "Baiklah, terima kasih pak."

Sementara di tempat lain...

"Iruka... apa ponselku sudah di temukan?" tanya pria bersurai merah yang terlihat gelisah di ruangan pribadinya.

"Maafkan saya presdir, tapi saya sudah mencari diseluruh ruangan ini ponsel anda tidak ada di sini... apa anda ingat terakhir kali meletakannya dimana?" Iruka balik bertanya.

"Ck," Gaara mendesah kesal "Jika aku ingat meletakkan terakhir kalinya dimana... aku tidak akan meminta bantuan mu untuk menemukannya."

Dan Iruka membungkukkan badan sambil meminta maaf.

"Tolong hubungi ke rumah, aku ingin berbicara dengan Hinata." titah Sabaku muda itu sambil duduk dikursi besarnya.

"Tapi presdir, nona Hinata sejak siang hari sudah tidak ada dirumah." jawaban dari Iruka jelas menyentakkan Gaara.

"Tidak dirumah?! kenapa kau baru memberitahukan hal ini padaku?!" tanya Gaara dan nada suaranya meninggi "Per-pergi kemana Hinata? kenapa dia tidak ijin padaku, hubungi ponselnya cepat!" titah Gaara dalam amarahnya, walaupun dalam beberapa kata... nada suaranya sedikit bergetar, ia takut... Hinata akan pergi dan tidak kembali lagi padanya.

Raut wajah Gaara berubah panik, ia merasa... perasaan buruk dalam hatinya.

"Ponsel nona Hinata tidak aktif presdir." ucap Iruka setelah berkali-kali menghubungi Hinata.

Dan semakin jelas raut kepanikan diwajah Sabaku Gaara.

"Ti-tidak mungkin...!" Gaara bergetar panik "Hinata, tidak mungkin melakukan ini padaku." pikiran-pikiran buruk tentang Hinata yang meninggalkannya menguasai pikiran Sabaku muda itu.

"Tung-tungu dulu... tanggal berapa hari ini?" tanya Gaara tiba-tiba.

"Tanggal 27 desember presdir, apa ada sesuatu?" tanya Iruka.

Gaara menepuk dahinya "Ya Tuhan, ini hari ulang tahun Hinata... ya, dia pasti menungguku di tempat itu." ucap Gaara sambil berlari keluar dari ruangannya.

Gaara ingat, beberapa hari yang lalu Hinata pernah memintanya untuk menonton film favoritnya bersama tepat saat hari ulang tahun Hinata, tapi Gaara saat itu sedang tidak dalam mood yang baik, ia tidak terlalu menanggapinya karena sedang kesal terhadap Hinata yang Gaara rasa seperti menjauhinya beberapa hari ini, bahkan puncaknya Hinata terlihat makan siang berdua dengan teman laki-laki di kampusnya saat Gaara sedang tidak bisa menghadiri perkuliahan.

Tentu saja Gaara kalap saat itu, tanpa mendengarkan penjelasan dari Hinata, pukulannya berkali-kali mendarat di wajah lelaki brengsek itu, dan langsung menarik paksa Hinata yang meronta-ronta minta dilepaskan.

Hinata menangis dan berusaha menjelaskan padanya, bahwa laki-laki itu hanya kebetulan duduk bersamanya dikantin karena kursi yang lain terisi penuh, dan bahkan Hinata pun sama sekali tidak mengetahui nama laki-laki itu.

Tapi, Gaara sudah terlanjur emosi dan merasa takut, apa ini sudah waktunya Hinata meninggalkannya... maka dari itu dan sejak saat itu Gaara terus mengacuhkan Hinata.

'Aku harap kau akan datang Gaara-kun, jika kau tidak datang... aku... aku akan menyerah terhadap perasaanku.' ucap Hinata samar sebelum ia menutup pintu ruangan Gaara.

Tinggg...

Saat pintu lift yang membawa Gaara menuju lobby terbuka seorang staff-nya membungkukkan badan padanya "Presdir, ponsel anda tertinggal di kursi lobby." ucapnya sambil memberikan ponselnya pada Gaara.

"Hn." ucap Gaara yang menerima ponselnya kembali sambil sedikit berlari keluar dari lobby gedung perusahaanya "Siapkan mobilku cepat!" titah Gaara pada valet parking gedungnya.

"Baik presdir."

Sambil menunggu mobilnya, ia mengecek ponselnya... hatinya terenyuuut, begitu banyak pesan dari kekasihnya, setiap pesannya semakin mengiris-iris hatinya.

Karena ia baru menyadari betapa bodohnya ia selama ini meragukan perasaan Hinata Hyuga untuknya, jade nya memanas... teringat akan ucapan Hinata 'Aku harap kau akan datang Gaara-kun, jika kau tidak datang... aku... aku akan menyerah terhadap perasaanku.' ucap Hinata saat itu.

"Aku akan datang Hinata, karena sampai kapanpun.. tidak akan kubiarkan kau melepaskan perasaanmu untukku, aku... tidak bisa hidup tanpa dirimu." ucap Gaara pada dirinya sendiri.

"Tunggu sebentar presdir, saat ini ada badai salju, dan semua akses jalan tertutup." ucap Iruka yang dengan nafas yang terengah-engah karena mengejar atasannya ini.

"Ba-badai salju?"

"Benar presdir, terlalu berbahaya jika anda mengendarai mobil keluar, sebaiknya tunggu badainya reda terlebih dahulu."

Gaara speechless, seluruh sendi-sendinya melemas... bagaimana ini? apa Hinata masih menunggunya, kenapa ia memiliki firasat buruk tentang ini.

"Ta-tapi, Hinata menungguku, sudah lebih dari 7 jam ia menungguku..." tutur Gaara seperti yang kehilangan harapan.

"Nona Hinata pasti akan mengerti presdir, ini tidak akan lama... mohon tunggu sampai badainya menghilang."

Gaara terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apa, ponsel Hinata masih tidak aktif sampai saat ini.

Ia duduk dilobby perusahannya dan hanya bisa memandang jauh dibalik kaca besar gedung nya. Pikirannya hampa, Gaara hanya merasa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi padanya.

Sampai ketika,

Headline news dari stasiun tv yang ditampilkan di layar besar televisi UHD yang ada di lobby menerbangkan jiwanya.

Sabaku Gaara berdiri dari duduknya, ponselnya terlepas dari genggaman tanganya, jade-nya menatap nyalang layar televisi yang menampilkan kobaran api dan penuhnya orang yang begitu panik menyalamatkan diri disana.

'Selamat malam... pemirsa, saat ini telah terjadi kebakaran besar di Konoha cinema building.' ucap pembawa berita itu 'Angin yang disebabkan badai salju yang beberapa menit telah berlalu semakin menambah besar api yang melahap Konoha cinema building malam ini.'

"Di-disana... Hinata memintaku untuk bertemu disana..."

.

.

.

"Ini, tidak mungkin terjadi."

.

"Hi...Hinata."

-tbc-

Konbanwa...

Gomenn... fict ini sangat telat sekali di update, tapi akhirnya ini saya update walaupun chap vi saya penggal menjadi 2 chap dikarenakan belum selesai pengerjaan tapi berhubung sudah terlalu lama makanya saya up.

Apa fict ini tidak begitu menarik yah? dibanding fict saya yang lain, saya merasa responnya terlalu sedikit...

Hehehe...

Oke, saya tunggu kritik, saran serta semangatnya supaya saya lebih semangat menyelesaikan fict ini yang sudah seperti bisul bagi saya karena sudah terlalu lama saya terlantarkan. wkwkwkwkw.

Semoga masih ada yang bersedia membaca fict absurd ini, terima kasih buat yang sudah mau membaca.

Sampai jumpa sabtu lainnya.

Oyasumi.

Intan.