CHAPTER 16

"Aku tak bisa menunggunya lagi, Kyu. Harus hari ini. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Wajah munafiknya selalu menghantuiku," ucap Lee Hyukjae keras pagi itu.

"Tapi, kita belum membuat rencana dengan lebih matang," balas Kyuhyun.

"Kita sudah hampir sebualan membuat rencana dan semua rencana itu tak ada yang bisa direalisasikan," gerutu Hyukjae sebal.

Lee Hyukjae akan melakukan apa pun untuk membuat Guru Bong mengakui kejahatannya. Ia ingin Guru Bong mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya. Dosa Guru Bong yang menghilangkan nyawa sahabatnya sungguh tak termaafkan.

"Kau ingin memikirkan rencana apa lagi, Kyu? Aku sudah bolak-balik membuat rencana. Tapi, akhirnya kau sendiri yang menolak semua rencanaku itu," geram Lee Hyukjae.

"Semua rencanamu terlalu riskan, Hyuk. Kau tahu apa risikonya kalau gagal? Aku tak mau kau berakhir sepertiku," keluh Kyuhyun.

Hal yang masuk akal kalau Kyuhyun mengkhawatirkan keselamatan Lee Hyukjae. Anak itu jarang menggunakan otaknya dengan sempurna. Sedangkan Guru Bong orang yang sangat licik. Sekali rencana mereka gagal, bukan tidak mungkin Guru Bong juga akan melenyapkan Lee Hyukjae. Sama seperti Guru Bong melenyapkannya dulu.

"Semakin lama kita berpikir, semakin banyak juga kita menemukan kelemahan pada rencana kita. Aku memang tidak bisa membuat rencana yang sempurna, Kyu. Menurutku sebaik apa pun kita memiliki rencana, tapi kalau kita tidak melakukannya, hasilnya adalah sia-sia. Kita hanya bisa berdoa pada Tuhan supaya rencana kita berhasil. Kita juga harus percaya pada tekad dan insting kita. Aku akan menjebak Guru Bong sampai ia tidak bisa berkutik lagi. Aku hanya mau kau mendukung semua rencana dan usahaku. Itu saja," bujuk Hyukjae lagi.

"Kau yakin kita akan berhasil, Hyuk?" tanya Kyuhyun yang masih merasa sangsi.

"Aku yakin. Kalau aku tidak yakin, aku tak akan repot-repot memaksamu menyetujui rencanaku ini," kata Hyukjae mantap.

"Kalau gagal?" tanya Kyuhyun lagi.

"Kalau memang gagal, anggap saja kita sedang sial. Berdoa saja, ia tidak akan melakukan hal keji padaku. Mungkin aku akan berurusan dengan bruder kepala atau mungkin juga dengan oang tuaku karena dianggap telah memfitnah guru," kata Lee Hyukjae.

"Apa aku tidak bisa membujukmu untuk menunda rencana itu, Hyuk?" keluh Kyuhyun sendu.

"Mau sampai kapan kita menundanya, Kyu. Kukira sudah cukup waktunya. Sekarang adalah waktu yang tepat. Apalagi kau tahu, minggu kemarin tim dance sekolah kita menempati posisi terbawah. Meskipun tidak sampai tereliminasi, namun banyak yang menyangsikan tim dance kita akan mampu bertahan sampai puncak kompetisi. Dua hari yang lalu Lee Donghae juga sempat memohon padaku untuk memperkuat tim dance sekolah kita. Aku akan menemui Guru Bong. Aku akan berbasa-basi dengannya sebentar sebelum aku menyerangnya. Aku sudah memikirkan masak-masak rencana ini. Tak ada waktu yang lebih baik lagi daripada hari ini," jelas Hyukjae pada Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Hyukjae lama. Di wajahnya tersirat keyakinan dan keteguhan hati. Kyuhyun berharap pengharapan Lee Hyukjae akan menjadi kenyataan. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada Lee Hyukjae. Kalau sampai Lee Hyukjae bernasib sama sepeti dirinya, Kyuhyun tidak bisa memafkan dirinya sendiri.

"Baiklah. Aku akan mendukungmu, Hyuk. Hanya saja aku tak bisa banyak menolongmu. Tapi, aku akan tetap mengawasimu. Hahh, andai saja aku punya kemampuan untuk membantumu," kata Kyuhyun akhirnya, menyerah pada keinginan Lee Hyukjae.

Lee Hyukjae tersenyum mendengar kata-kata Kyuhyun itu. Kyuhyun yang mau mendukungnya membuat perasaannya lega.

"Terima kasih, Kyu, karena kau sudah mau percaya padaku. Tunggu saja hasilnya aku pasti bisa membongkar kedok Guru Bong!" kata Hyukjae tulus.

"Aku yang seharusnya berterima kasih, Hyuk. Kau rela melakukan semua itu untukku. Aku hanya menyusahkanmu kan?" ucap Kyuhyun.

Matanya berkaca-kaca melihat ketulusan dan kesetiakawanan Lee Hyukjae.

"Jangan bicara seperti itu, bodoh! Kau membuatku ingin menangis," kata Lee Hyukjae yang juga merasa terharu.

"Jangan menangis untukku, Hyuk! Kau jelek kalau menangis," ujar Kyuhyun tersenyum.

Lee Hyukjae melotot mendengar ucapan Kyuhyun itu. Anak ini selalu saja mengejeknya, apa pun keadannya. Paling tidak hatinya baik, meskipun ia akui kalau wajahnya hanya sedikit di ambang batas rata-rata.

Lee Hyukjae duduk di tangga yang menghubungkan ruang olah raga dengan ruang kesenian. Malam itu masih banyak anak yang mengikuti kegiatan olah raga dan kesenian. Lee Hyukjae sengaja duduk menunggu di sana.

Ia menunggu sampai suasana sepi, baru ia akan menemui Guru Bong. Lee Hyukjae menunggu dengan hati berdebar. Ia sudah mempersiapkan semuanya. Benda-benda yang dibutuhkannya sudah tersimpan rapi di dalam tas selempangnya.

Guru Bong dan tim dance-nya masih berlatih di dalam ruangan. Tadi, Lee Hyukjae juga sempat bertemu dengan Lee Donghae. Wajah Lee Donghae sudah berbinar-binar gembira saat melihat Lee Hyukjae naik ke lantai dua tempat ruang kesenian berada. Ia sudah mengira Lee Hyukjae mau kembali mengisi kekosongan di tim dance mereka.

Lantai satu sudah mulai sepi. Menandakan para siswa yang mengikuti kegiatan olah raga sudah menyelesaikan latihannya. Lampu-lampu di lantai satu juga sudah banyak yang mulai padam. Hanya beberapa lampu saja yang masih dibiarkan menyala sebagai penerangan.

Lee Hyukjae menunggu dengan gundah. Semakin malam merangkak naik, semakin debar jantungnya tak beraturan. Diam-diam Lee Hyukjae juga merasa takut kalau rencananya malam ini akan gagal.

"Kau bisa membatalkan rencanamu kalau kau mulai ragu, Hyuk," kata sebuah suara di belakangnya yang hampir membuatnya menjerit kaget.

"Kau, bisa tidak kau tidak mengagetkanku!" gerutu Hyukjae kesal.

Cho Kyuhyun duduk di samping Lee Hyukjae. Ia menatap wajah Hyukjae yang basah karena titik-titik keringat di kening dan pipinya.

"Kau merasa takut kan?" tanya Kyuhyun.

"Aku tidak takut," seru Hyukjae.

Lee Hyukjae berusaha setengah mati menyembunyikan ketakutannya di depan Kyuhyun. Ia tidak mau kata-kata Kyuhyun memengaruhinya dan membuatnya membatalkan rencana yang sudah dibuatnya sendiri.

"Jangan bicara yang membuat semangatku luntur! Seharusnya kau mendukungku bukannya membuatku ragu dengan diriku sendiri," sungut Hyukjae kesal.

"Aku tidak membuatmu ragu. Aku hanya tidak mau kau melakukan sesuatu yang keliru. Kau tahu, Hyuk, aku sayang padamu. Aku tak mau kehilanganmu. Aku juga tidak mau kau celaka. Apalagi kau celaka karenaku," ucap Kyuhyun sambil terus menatap ke arah Lee Hyukjae.

"Aku tidak akan apa-apa. Percayalah aku akan berhasil malam ini. Malam ini kita akan merayakan kemenangan kita saat Guru Bong diborgol dan digiring polisi ke penjara," kata Hyukjae berapi-api.

Kyuhyun akan menimpali ucapan Lee Hyukjae itu saat pintu dorong di belakangnya terbuka. Enam orang siswa yang juga dikenal Kyuhyun keluar dari ruangan itu sambil menenteng tas ransel mereka. Wajah, rambut, dan pakaian mereka basah oleh keringat.

Para siswa itu, kecuali Lee Donghae, tertegun saat melihat keberadaan Lee Hyukjae di sana. Namun, wajah mereka terlihat senang dan bersemangat melihat Lee Hyukjae. Sama seperti Lee Donghae, mereka juga mengira Hyukjae mau bergabung lagi dengan tim dance mereka.

"Lee Hyukjae? Ah, aku tak mengira kau benar-benar datang ke sini. Kenapa tidak masuk saja?" sapa Guru Bong yang telah berdiri di belakang anak-anak yang tengah menyalami dan menyapa Lee Hyukjae.

"Hyukjae mau bergabung dengan kita lagikan, Saem?" tanya Lee Donghae bersemangat.

Lee Donghae sampai memeluk erat leher Lee Hyukjae saking semangatnya hingga membuat Hyukjae sesak napas karenanya.

"Kalau itu keputusan Lee Hyukjae, aku pasti akan sangat senang," ujar Guru Bong sambil tersenyum.

"Kau tahu, Hyuk, tim kita seolah kehilangan spirit setelah kau pergi. Ada sesuatu yang kurang saat kau tidak ada," keluh Lee Donghae muram.

Lee Hyukjae tersenyum gundah mendengar penuturan Lee Donghae itu. Ia ke sini bukan untuk itu. Justru Hyukjae merasa kedatangannya malam ini akan mengubur dan menghancurkan impian teman-temannya itu.

"Aku akan bicara dulu dengan Guru Bong," kata Lee Hyukjae.

Ia berharap akan mengakhiri semuanya ini dengan cepat. Mengingat wajah Kyuhyun yang kontras dengan wajah sumringah teman-teman setimnya saat ini membuat Lee Hyukjae takut kalau ia sampai berubah pikiran.

"Dan beri tahu aku kabar baiknya besok pagi, OK!" seru Lee Donghae.

Lee Hyukjae mengeluh dalam hati. Setelah semua ini selesai, ia perlu memohon ampun pada semua anggota tim dance. Ia tak ingin menghancurkan impian mereka, tapi Lee Hyukjae tak punya pilihan lain. Ia tak mau impian menghalangi kebenaran.

"Nah, Lee Hyukjae, ada apa kau ingin bertemu denganku?" tanya Guru Bong saat mereka tinggal berdua di dalam ruangan latihan.

Teman-temannya yang lain sudah kembali ke kamar asrama masing-masing. Hanya tinggal Lee Hyukjae dan Guru Bong sekarang. Sosok Kyuhyun berada entah di mana. Saat Guru Bong menyapanya di luar tadi sosok Cho Kyuhyun langsung mennghilang begitu saja.

Lidah Lee Hyukjae tiba-tiba saja terasa kelu. Tenggorokannya seperti tersumbat sesuatu. Benar kata Cho Kyuhyun, saat kau berhadapan lanngsung dengan orang yang dituju, maka kecemasanlah yang lebih menguasainya.

"Lee Hyukjae?" tanya Guru Bong lagi saat Lee Hyukjae tak juga membuka suara.

"Saya ke sini bukan untuk kembali ke tim, Saem," kata Lee Hyukjae akhirnya dengan susah payah.

Guru Bong mengerutkan keningnya mendengar ucapan Lee Hyukjae. Ia tidak mengerti apa yang dikehendaki oleh Lee Hyukjae saat ini.

"Lalu?"

"Saya hanya ingin Anda mengatakan kejujuran."

"Apa maksudmu, Lee Hyukjae?" tanya Guru Bong.

"Saya tahu Anda meyembunyikan sesutu yang besar selama setahun lebih. Anda menyembunyikan kebohongan itu rapat-rapat," tandas Lee Hyukjae.

"Menyembunyikan apa, Lee Hyukjae? Aku tidak tahu apa yang kaumaksud," tanya Guru Bong yang tak tahu ke mana arah pembicaraan Hyukjae.

"Anda yang melakukannya kan? Anda yang membunuh Cho Kyuhyun," ucap Lee Hyukjae keras.

"Apa ini, Lee Hyukjae? Membunuh? Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu?" seru Guru Bong menutupi keterkejutannya.

"Anda tidak usah mengelak. Saya tahu semuanya. Anda sendiri yang mengatakannya. Anda sendiri yang bicara seperti itu," tukas Lee Hyukjae.

"Apa yang kukatakan, Lee Hyukjae? Di mana kau mendengarnya?" kata Guru Bong.

"Anda ingat beberapa bulan yang lalu, saat tim kita lolos babak seleksi. Anda mengajak kami semua keluar. Anda membeli alkohol lalu mabuk. Anda tidak ingat apa saja yang Anda ucapkan, Saem. Tapi saya mengingatnya dengan sangat jelas. Anda membunuh Kyuhyun. Anda sendiri yang melenyapkannya untuk menutupi kebusukan Anda," kata Lee Hyukjae mulai meradang.

Bong Sae Hyuk mengatupkan bibirnya erat-erat. Ia tidak menyangka apa yang sudah disembunyikannya selama ini bisa terbongkar. Dan itu semua karena keteledorannya. Lebih parah lagi Lee Hyukjae yang mendengarnya langsung dari mulutnya.

"Apa lagi yang kaudengar?" tanya Guru Bong waspada.

Bong Sae Hyuk mulai bersikap waspada pada Lee Hyukjae. Ia tidak tahu sejauh mana Lee Hyukjae mengetahui rahasianya. Ia juga tidak tahu berapa banyak kalimat pengakuan yang diucapkannya selama ia mabuk.

"Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat Anda dipenjara. Anda seharusnya malu dengan yang Anda lakukan. Anda seorang guru yang seharusnya melindungi murid-muridnya, bukan malah mencelakakannya. Parahnya lagi hal itu Anda lakukan untuk menutupi kebobrokan Anda," kecam Lee Hyukjae.

"Kau bicara dengan siapa saja tentang apa yang kaudengar itu, Lee Hyukjae? Pada teman-temanmu atau keluargamu?" tanya Guru Bong mencoba mencari tahu seberapa banyak yang tahu tentang kejahatannya.

"Saya belum punya bukti untuk menceritakannya pada semua orang. Maka dari itu, saya ke sini supaya Anda mengakui perbuatan Anda dan menyerahkan diri. Anda masih punya hati nurani kan?" kata Lee Hyukjae.

"Jadi, tak ada yang tahu? Dan kau pun tak punya bukti? Ha ha ha… aku tak tahu kau itu terlalu lugu atau bodoh, Lee Hyukjae. Kalau kau tak punya bukti, untuk apa aku repot-repot menyerahkan diri? Kau bisa menceritakannya pada semua orang yang kaukenal. Tapi kujamin, tak ada pengaruhnya untukku. Tak ada yang tahu kalau aku sudah membunuh Cho Kyuhyun dan bukti pun juga tidak ada. Alat yang kugunakan untuk membunuhnya pun juga sudah kumusnahkan. Satu-satunya orang yang bisa menjadi saksi sudah menjadi kerangka dan membusuk dalam tanah," ucap Guru Bong culas.

Gigi Lee Hyukjae sampai bergemeletuk karena menahan marah. Jari-jari tangannya juga terkepal karena marah dengan sikap tanpa rasa bersalah yang ditunjukkan Guru Bong itu.

"Saranku, Lee Hyukjae, kau menutup mulutmu itu rapat-rapat. Atau aku juga bisa membuat nasibmu berakhir seperti Cho Kyuhyun," gertak Guru Bong.

Guru Bong berjalan mendekati Lee Hyukjae untuk sekadar menakutinya. Secara refleks Lee Hyukjae mundur menjauhi Guru Bong. Meskipun tekadnya sudah bulat untuk memojokkan Guru Bong, namun tak dipungkiri Lee Hyukjae juga merasa takut pada Guru Bong.

"Kita buat kesepakatan yang menguntungkan, Lee Hyukjae. Kita lupakan saja masalah ini. Kau pura-pura saja tidak pernah mendengar apa pun yang kuucapkan. Aku akan memberimu ganjaran yang setimpal. Aku akan membantumu masuk ke agensi besar. Kau ingin menjadi seorang artis kan? Aku bisa membantumu. Bukankah itu cukup adil?" tawar Guru Bong mencoba bernegosiasi dengan Lee Hyukjae.

Lee Hyukjae mencibir mendengar tawaran Guru Bong itu. Apa Guru Bong mengira ia jenis orang yang dengan mudahnya berkhianat hanya karena iming-iming ketenaran yang belum tentu akan dapat diraihnya.

"Saya bukan penjilat, Saem. Saya juga bukan pengkhianat. Anda seharusnya malu dengan diri Anda sendiri. Anda melakukan segala cara untuk menutupi borok Anda sendiri. Anda tidak pantas untuk dihormati," cemooh Lee Hyukjae ketus.

"Lalu apa maumu sekarang, Lee Hyukjae?" kata Guru Bong.

"Saya sudah mendapatkan apa yang saya cari. Saya sudah bilang kan kalau saya hanya ingin kejujuran Anda. Sekarang saya sudah mendapatkannya. Semua yang Anda katakan sudah terekam, saya tinggal menyerahkan pengakuan Anda tadi pada polisi" kata Lee Hyukjae sambil menepuk-nepuk tasnya.

Guru Bong terkesiap. Ia tak menyangka Lee Hyukjae datang menemuinya hanya untuk hal ini, hanya untuk menjebaknya demi sebuah pengakuan.

"Kau, kau menjebakku?" tanya Guru Bong tak percaya.

"Saya yakin tidak akan mendapatkan yang saya mau dari Anda dengan mudah. Seperti Anda yang menghalalkan segala cara, saya pun akan melakukan segala cara supaya Anda mempertanggungjawabkan perbuatan Anda, Saem."

Lee Hyukjae tersenyum penuh kemenangan. Ia sudah memiliki pengakuan langsung dari Guru Bong. Pengakuan yang akan menjeratnya untuk diadili. Lee Hyukjae berbalik hendak meninggalkan Guru Bong yang masih berdiri mematung sambil menatapnya tajam.

Namun, baru beberapa langkah. Guru Bong melakukan gerakan yang tidak pernah disangka Lee Hyukjae. Guru Bong menarik keras rambut Lee Hyukjae, lalu membenturkan kepalanya ke pintu kayu yang tertutup.

Lee Hyujae berteriak kesakitan lalu jatuh ke lantai. Kepalanya pusing luar biasa. Lee Hyukjae merasakan keningnya basah dan mengaburkan pandangan matanya. Lee Hyukjae mencoba berdiri, namun Guru Bong malah menahan kepalanya agar tetap menempel pada lantai.

"Kau tak bisa melakukan itu padaku. Akku tidak akan membiarkannya. Aku bisa membuatmu bernasib sama seperti Cho Kyuhyun. Kau mengancamku, hah! Sekarang kau rasakan akibatnya!" bentak Guru Bong kalap.

Lee Hyukjae semakin menjerit keras tatkala tekanan di kepalanya semakin kuat. Namun, sekejap kemudian Guru Bong membekap mulut Lee Hyukjae dengan handuk. Guru Bong memaksa Lee Hyukjae berdiri lalu menyeret Lee Hyukjae menaiki tangga menuju atap gedung. Lee Hyukjae meronta hendak melepaskan diri, namun Guru Bong jauh lebih kuat darinya. Guru Bong juga membenturkan kepala Lee Hyukjae sekali lagi ke dinding supaya tenaganya melemah.

Guru Bong menendang pintu kayu yang menuju atap sampai menjeblak terbuka. Matanya sudah gelap. Ia mulai kalap. Anak yang diseretnya itu bisa membahayakan hidupnya.

Hanya ada satu jalan keluar yang ada di benak Guru Bong. Ia harus melenyapkan Lee Hyukjae secepatnya. Anak itu sudah mengetahui rahasia yang ditutupya rapat-rapat. Dan sekarang anak itu mendesaknya untuk bertanggungn jawab.

Guru Bong menyeretnya higga ke tepi pembatas gedung. Lee Hyukjae bergidik ngeri saat melihat ke bawah. Di belakang gedung ada selokan besar. Tepi selokan yang terbuat dari plengsengan beton tampak mengerikan dilihat dari atas sini. Lee Hyukjae tahu nyawanya terancam saat ini.

Lee Hyukjae berontak. Ia tidak mau berakhir seperti ini. Guru Bong bisa melenggang bebas kalau sampai hidupnya berakhir sebelum ia membari tahu siapa pun tentang hal ini.

Cho Kyuhyun yang juga sudah berada di atap gedung menatap panik pada keadaan Lee Hyukjae. Ini yang ia takutkan. Ini yang ia khawatirkan. Guru Bong terlalu licik dan kuat. Ia bisa melakukan apa pun. Apalagi saat ini ia sudah gelap mata. Dalam pikirannya hanya ada satu jalan pintas, menyingkirkan Lee Hyukjae.

Kyuhyun tak bisa berbuat apa-apa. Suaraya hanya bisa ia dan Hyukjae saja yang tahu. Sekuat apa pun ia berteriak, sekeras apa pun usahanya untuk menghentikan Guru Bong melukai Lee Hyukjae, tidak berarti sama sekali. Suaranya hanya bagai angin lalu yang berhembus.

Cho Kyuhyun hampir putus asa. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi. Matanya hanya menatap kosong Lee Hyukjae yang diseret Guru Bong hingga ke ujung atap pembatas gedung.

Lee Hyukjae meronta dalam cengkeraman Guru Bong. Sungguh, ia tidak mau mati konyol di sini. Mulutnya yang terbebat handuk hanya bisa melenguh. Apalagi kedua tangannya, yang dicengkeram paksa kuat Guru Bong. Lee Hyukjae hanya bisa mengandalkan kedua kakinya untuk bertahan sambil sesekali menyepak kaki Guru Bong.

"Arggh…!"

Bong Sae Hyuk berteriak keras ketika kaki Lee Hyukjae tanpa sengaja menendang tempurung lututnya. Kaki Lee Hyukjae memang kurus, tapi lutut cederanya yang terkena sepakan Lee Hyukjae langsung berdenyut sakit.

Sepakan Lee Hyukjae membuahkan hasil. Ia merasa cengkeraman tangan Guru Bong mulai mengendur. Hal itu dimanfaatkan Lee Hyukjae untuk melepaskan tangannya dan menjauhi Guru Bong.

"Kau tak bisa membunuhku semudah itu, Bajingan!" teriak Lee Hyukjae marah sambil menendang lutut Guru Bong sekali lagi.

Guru Bong berteriak kesakitan dan terguling sambil memegangi lututnya. Kaki kirinya sampai terasa kebas karena sakit yang luar biasa di lututnya itu.

"Kau mau lari dari tanggung jawabmu, hah! Kau mau melenyapkanku seperti kau melenyapkan Cho Kyuhyun? Jangan mimpi! Bajingan sepertimu tidak pantas hidup bebas. Kau pantas membusuk dalam penjara!" teriak Lee Hyukjae murka.

Lee Hyukjae maju mendekati Guru Bong yang tergolek di lantai atap. Pikirannya juga sama gelapnya dengan Guru Bong. Ia ingin melukai Guru Bong sebanyak mungkin. Ia juga ingin Guru Bong merasakan sakitnya dianiaya.

"Hyuk, sudah cukup!" sergah Kyuhyun saat ia tahu apa yang akan dilakukan sahabatnya itu.

"Kau akan sama buruknya dengan dia kalau kau sampai melakukannya!" kata Kyuhyun lagi.

"Kau tahu apa yang sudah dilakukannya padamu? Ia membunuhmu dan ia ingin membunuhku juga. Kau pikir aku bisa mengampuninya semudah itu?" kata Lee Hyukjae sambil menatap Kyuhyun lekat-lekat.

Napas Lee Hyukjae tak beraturan. Dadanya bergemuruh menahan rasa marah. Seumur hidup baru kali ini Lee Hyukjae seemosional itu pada orang lain.

Di lain pihak Guru Bong menatap Lee Hyukjae dengan bingung. Ia memicingkan matanya antara merasakan sakit dan heran. Lee Hyukjae berteriak marah, tapi bukan padanya. Lee Hyukjae hanya meneriaki udara kosong di hadapannya.

'Mungkin anak ini sudah mulai gila,' pikir Guru Bong.

Ia beringsut pelan. Lee Hyukjae masih saja berteriak penuh kesal pada ruang kosong nan gelap itu. Lee Hyukjae tak menyedari bahwa Guru Bong sudah tertatih-tatih berdiri dan berjalan pelan ke arahnya. Sekarang atau tidak sama sekali. Ini adalah kesempatannya yang terakhir. Sekali dorong anak itu pasti akan terjatuh ke bawah. Selokan di bawahnya cukup untuk membuatnya tidak sadar untuk selamanya.

"Hyuk, awas!" teriak Kyuhyun yang menyadari pergerakan Guru Bong.

Lee Hyukjae berbalik dan berhadapan dengan Guru Bong. Namun terlambat, Guru Bong sudah sangat dekat dengannya. Tangannya yang kekar mendorong bahu Lee Hyukjae hingga ia kehilangan keseimbangan.

Lee Hyukjae tidak punya kesempatan untuk menghindar. Terakhir kali yang ia rasakan adalah tubuhnya yang melayang ringan dengan udara dingin yang berdesir di bawah tubuhnya. Matanya menatap nyalang pada langit malam yang gelap. Langit yang terlihat semakin lama semakin jauh darinya.

Lee Hyukjae masih mendengar suara Kyuhyun yang berteriak memanggil namanya. Ia juga masih bisa melihat wajah Guru Bong, mungkin untuk yang terakir kalinya, sebelum kepala dan tubuhnya membentur dinding beton di bawahnya. Sakit. Sekujur tubuhya terasa sakit. Namun sekejap kemudian Lee Hyukjae tak merasakan apa-apa lagi, selain gelap dan dingin yang mencekam.

Matahari juga masih rajin menampakkan sinarnya. Apa pun keadaannya mentari selalu menepati janjinya untuk bersua.

Semilir angin musim gugur membawa nuansa dingin yang kian suram. Sebentar lagi sudah musim dingin. Musim yang bertambah suram karena mentari hanya sesekali mengunjungi bumi.

Jam dinding yang ada di atas pintu berdetak pelan. Masih menunjukkan angka-angka yang sama setiap hari. Waktu terus berjalan meskipun manusia berhenti bernapas.

Nyonya Lee menyusut air matanya lagi. Entah sudah hari keberapa ia harus menyusut air mata yang jatuh tanpa diundang. Hatinya risau karena anak lelaki kesayangannya yang kini terbaring tak bergerak.

Ia tak ingin beringsut meninggalkan tubuh anak lelakinya itu. Itu tubuh anaknya. Siapa lagi yang akan menungguinya kalau bukan ia, ibunya. Suaminya sudah berulang kali menghiburnya. Meski matanya juga memancarkan kesedihan yang sama, namun ia masih ingat untuk menghibur istrinya, membawakannya makanan, bahkan menyuapi istrinya itu.

Tuan Lee tahu, ini saat yang paling menyedihkan dalam hidup keluarganya. Namun, ia harus kuat. Ia harus lebih kuat dari anggota keluarganya yang lain. Ia harus menjadi penopang bagi keluarganya.

"Dia akan bangun kan, Yeobo?" tanya Nyonya Lee sambil mengusap air mata yang kembali turun membasahi pipi tirusnya.

Nyonya Lee semakin miris saat melihat tubuh kurus anaknya yang dihubungkan dengan bermacam alat medis. Ada bed side monitor untuk memonitor vital sign, ventilator untuk membantu pernapasannya, juga infus yang ditancapkan di pergelangan tangan kirinya. Nyonya Lee tak rela melihat tubuh anaknya dimasuki dan ditancapi berbagai benda mengerikan itu.

"Hyukjae kita sangat kuat. Ia pasti akan bangun," sahut Tuan Lee.

"Tapi kapan?" tanya Nyonya Lee.

Pertanyaan itu yang tiap hari ia ucapkan. Kapan anak lelakinya itu akan membuka matanya kembali. Ini sudah hari ketiga dan Lee Hyukjae masih terbaring kaku di ruang ICU. Tubuhnya terhubung dengan berbagai selang dan kabel supaya ia bertahan hidup. Kalau bisa, ia akan menunggui anaknya itu selama 24 jam. Namun, dokter dan perawat hanya boleh menjenguknya sebentar, setelah itu ia harus rela melihat anaknya dari balik jendela kaca.

"Kenapa kita tidak boleh terus menungguinya di sini. Mereka jahat sekali. Kita ini kan orang tuanya," keluh Nyonya Lee lagi.

Tuan Lee mengela napas sabar. Ia tahu istrinya sedang kalut. Emosinya tidak stabil. Namun protes pada perawat dan dokter jaga juga bukan solusi. Ia juga ingin ada di dalam ruangan, menemani anaknya. Namun aturan tetap aturan yang tak bisa semudah itu dilanggar.

"Bagaimana kalau Hyukjae nanti bangun dan mencariku, Yeobo? Bagaimana kalau ia mencariku dan aku tidak ada di sini?" keluh Nyonya Lee lagi dengan isak tangis yang bertambah keras.

Tuan Lee hanya bisa membujuk dan memeluknya. Ia tahu kata-kata sudah tidak mempan lagi untuk menghibur kesusahan hati istrinya. Dalam hati ia hanya berharap, masih bisa melihat anak lelakinya lagi tersenyum ceria padanya, mendengar tawanya, dan melihat tingkah lucunya lagi. Ia tak mau kehilangan anaknya. Orang tua mana pun tidak ada yang ingin ditinggalkan oleh anak kesayangannya apalagi untuk selamanya

Tuan dan Nyonya Lee duduk terpekur di samping ranjang pasien tempat tubuh Lee Hyukjae terbaring tanpa daya. Pikiran mereka kalut, hati pun ikut berkecamuk. Harap-harap cemas pada nasib putra tersayang mereka.

Tiba-tiba Nyonya Lee menegakkan tubuhnya. Tangannya yang menggenggam erat tangan putranya itu pun menegang. Matanya menatap seolah tak percaya.

"Yeo…Yeobo!" seru Nyonya Lee keras.

Ia hampir lupa di mana dirinya sekaang. Tadi ia merasakan jemari Lee Hyukjae yang ada dalam genggamannya bergerak-gerak. Rasa terkejut, lega, panik, dan bahagia bercampur jadi satu. Membuatnya tak bisa mengendalikan diri lagi.

Tuan Lee pun menatap putranya itu. Lee Hyukjae masih terbaring diam di atas ranjangnya, namun matanya yang semula tertutup sekarang terbuka dan tengah menatapnya dengan pandangan sayu.

Tuan Lee cepat-cepat memanggil dokter jaga. Ia keluar dari ruang tempat Lee Hyukjae dirawat untuk memanggil dokter.

Nyonya Lee terisak pelan melihat keadaan putranya itu. Hatinya yang risau berubah menjadi sukacita. Akhirnya putra kesayangannya itu pun membuka matanya.

"Hyukjae-ah, ini Eomma, Nak," panggil Nyonya Lee sambil mengusap pucuk kepala anaknya itu dengan sayang. Hyukjae-nya sudah sadar, Hyukjae-nya telah kembali.

"Eo…mma…!" sahut Lee Hyukjae lemah dan terbata.

Nyonya Lee menganggukkan kepalanya kuat-kuat menanggapi panggilan putra kesayangannya itu. Meskipun lega luar biasa, namun air mata masih deras mengalir dari kedua matanya.

"Iya, ini Eomma. Kau akan baik-baik saja. Kau akan sembuh. Eomma akan menemanimu. Tunggu Appa-mu masih memanggil dokter, ne!"

Lee Hyukjae menganggukkan kepalanya. Ia merasa lemas dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Kepalanya juga terasa ringan seperti tak ada apa pun di dalamnya. Hidungnya entah disumpal dengan apa, membuatnya risih namun juga nyaman. Aliran udara yang memasuki rongga hidungnya terasa menyegarkan.

Tuan Lee masuk ke ruang ICU tak lama kemudian. Di belakangnya ada seorang dokter yang usianya masih sangat muda dengan seorang perawat.

"Syukurlah Anda sudah sadar," ucap dokter muda itu pada Lee Hyukjae.

Dokter itu mengecek detak jantung Lee Hyukjae dengan stetoskop yang dibawanya. Ia juga memeriksa bagian tubuh Lee Hyukjae yang lain. Perawat yang membantunya tengah mengecek tekanan darah dan membenahi infusnya.

"Tak ada yang perlu dikhawatirkan, namun masa kritis masih belum berlalu. Pasien masih harus tinggal di ruang ICU untuk observasi lanjutan. Kalau keadaannya sudah semakin membaik pasien, bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Saya ada di ruang jaga kalau nanti ada apa-apa," ucap dokter itu pada kedua orang tua Lee Hyukjae.

Tuan dan Nyonya Lee tersenyum lega. Anaknya sudah tidak apa-apa kini. Tidak ada lagi yang akan menyakitinya, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

"Eomma, bagaimana Kyuhyun?" tanya Lee Hyukjae yang menyentakkan orang tuanya.

"Kau ini bicara apa, Hyuk? Kyuhyun sudah lama pergi," kata eomma-nya.

Kekhawatiran menyelinap lagi di hati Nyonya Lee. Bagaimana tidak, Lee Hyukjae mencari orang yang sudah lama tiada di saat-saat seperti ini.

Lee Hyukjae tersadar bahwa ucapannya barusan membuat ibunya risau. Ia lupa bahwa hanya dirinya yang tahu tentang Kyuhyun selama ini.

"Kyuhyun, orang yang membunuh Kyuhyun, orang yang sudah membuatku terjatuh dari atap gedung, bagaimana dia?" tanya Lee Hyukjae.

"Apa yang kaukatakan, Hyukjae-ah?" tanya Tuan Lee tak paham.

"Guru Bong pembunuh Kyuhyun. Ia juga ingin membunuhku saat aku tahu kebenarannya," ujar Hyukjae tersengal.

"Guru Bong yang terjatuh bersamamu, dia ingin membunuhmu?" tegas Tuan Lee tak percaya.

"Itu benar, Appa. Sekarang di mana dia? Dia tidak boleh bebebas. Dia harus dihukum," teriak Lee Hyukjae mulai kalap.

"Hyukjae-ah, tenanglah. Ingat kondisimu!" bujuk Nyonya Lee.

"Tasku, di mana tasku, Eomma? Aku punya semua buktinya di dalam tasku. Aku sudah merekam pengakuan Guru Bong. Aku harus menyerahkannya pada polisi," seru Lee Hyukjae.

Tuan Lee memeluk tubuh anaknya yang bergerak liar dan hendak bangun dari tidurnya. Ia membujuk Lee Hyukjae untuk lebih tenang mengingat kondisinya yang baru saja siuman.

"Hyukjae-ah, tenanglah. Sebenarnya aku tak ingin mengatakannya padamu ekarang, tapi Guru Bong sudah tewas sesaat setelah tiba di rumah sakit ini. Jenasahnya sudah diambil keluarganya untuk dikremasi," jelas Tuan Lee pada anaknya itu.

Lee Hyukjae mendesah keras. Air matanya mengalir membasahi pipi tirusnya yang membiru. Guru Bong saudah mati. Guru jahat itu sudah pergi menyusul Kyuhyun.

"Dia mati, Appa? Dia benar-benar sudah mati?" tanya Hyukjae meminta ketegasan dari ayahnya.

"Iya, Hyukjae, Guru Bong sudah tiada. Tapi, benarkah itu, benarkah Guru Bong ingin membunuhmu?" tanya ayah Lee Hyukjae.

"Itu benar, Appa. Ia ingin membunuhku karena aku tahu dia sudah membunuh Kyuhyun," jawab Lee Hyukjae.

Tuan Lee terduduk lesu di kursi yang ada di samping ranjang Lee Hyukjae. Ia benar-benar tak menyangka kalau orang yang dikenalnya dengan sangat baik dan ramah ternyata berhati jahat. Ia bahkan berniat untuk menghilangkan nyawa anak kesayangannya.

"Dia sudah menerima hukumannya, Hyukjae-ah. Bukan hukuman dunia, namun hukuman kekal. Setiap manusia harus mempertanggungjaeabkan semua yang pernah dilakukannya selama hidup kan? Ah, ya, Appa hampir lupa. Inspektur Kim hampir tiap hari ke sini untuk melihatmu. Tasmu juga sudah diambil oleh Inspektur Kim untuk barang bukti. Namun Inspektur Kim tak mengatakan apa-apa pada kami tentang itu. Inspektur Kim hanya berpesan kami harus menghubunginya kalau kau sudah siuman. Inspektur Kim harus menjalankan tugasnya sebagai polisi. Mungkin Inspektur Kim sudah tahu semuanya lewat bukti yang kausimpan dalam tasmu itu," kata Tuan Lee.

Lee Hyukjae mengangguk pelan. Ia bisa bernapas lega sekarang. Guru Bong memang tak sempat mempertanggungjawabkan kejahatannya di dunia ini namun ia pasti akan mendapatkan hukumannya di kehidupan kekal. Memang bukan seperti yang diharapka oleh Lee Hyukjae, tapi itu sudah lebih dari cukup.

Kyuhyun bisa tenang sekarang. Arwahnya tak akan penasaran lagi untuk mendapatkan keadilan. Mungkin Hyukjae tak akan bertemu lagi dengannya. Kyuhyun sudah benar-benar meninggalkan dunia ini dan menuju rumahnya yang kekal. Hyukjae merasa senang meskipun ia juga merasa sedih berpisah dengan sahabatnya itu untuk selamanya.

8 years later…

Lee Hyukjae berjalan tenang melewati lorong menuju ruang kelasnya. Ini tahun keempatnya menjadi seorang guru. Setelah ia menyerahkan semua mimpi dan angan-angannya untuk menjadi seorang artis, Lee Hyukjae meraih asanya untuk menjadi seorang guru.

Satu hal yang sangat disyukurinya, ia bisa mengajar di sekolah ini. Sekolah yang 8 tahun lalu menjadi tempatnya menuntut ilmu. Ia mengajar kesenian, sesuatu yang memang menjadi bakatnya sejak dulu.

Tahun ini adalah tahun pertamanya memperoleh jabatan sebagai wali kelas. Ia akan menjadi wali kelas bagi anak-anak yang duduk di kelas 1. Lee Hyukjae gugup tentu saja, wali kelas bukanlah tugas yang mudah dan remeh. Ia bertanggung jawab besar untuk mengasuh murid-muridnya layaknya orang tua di sekolah.

Lee Hyukjae membuka pintu ruang kelasnya yang terletak di ujung lorong. Kelas itu penuh dengan siswa yang seluruhnya laki-laki. Lee Hyukjae tersenyum pada anak-anak baru yang wajahnya juga menyiratkan kegugupan sama seperti dirinya.

"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Lee Hyukjae.

"Selamat pagi, Saem!" jawab anak didiknya serempak.

"Selamat datang di kelas baru dan tentunya sekolah baru kalian. Setelah tiga hari kalian mengikuti orientasi sekolah, hari ini kalian akan mengikuti kegiatan di dalam kelas. Saya, Lee Hyukjae, wali kelas kalian selama satu tahun ke depan. Selain menjadi wali kelas, saya juga akan mengajar kesenian. Saya harap kita bisa bekerja sama dan menjalin hubungan yang baik selama satu tahun ke depan," kata Lee Hyukjae membuka sambutannya pagi ini.

"Sebelum kita memulai pembelajaran, Saem akan mengabsen kalian satu per satu. Silakan berdiri jika nama kalian disebut!" lanjut Lee Hyukjae lagi.

"Ahn Yeong Sang," panggil Lee Hyukjae pada anak dengan nomor absen satu.

"Saya, Saem."

Seorang anak berkaca mata tebal yang duduk di ujung depan dekat pintu berdiri. Anak itu mengangguk hormat pada Lee Hyukjae sebelum ia kembali ke tempat duduknya.

"Baek Soo Jin."

Seorang anak yang luar biasa kurus berdiri dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh anak yang sebelumnya dipanggil Lee Hyukjae.

"Byun Seo Jong."

Lanjut Lee Hyukjae pada anak dengan urutan absen setelahnya. Seorang anak jangkung yang duduk di bagian tengah berdiri dan mengangguk hormat padanya.

"Cho Kyu…Hyun…."

Lee Hyukjae terkesiap saat melafalkan nama itu. Pelupuk matanya terasa pedas, sekujur tubuhnya terasa dingin, dan hatinya tercekat.

"Saya, Saem."

Lee Hyukjae mengarahkan pandangannya ke penjuru ruang kelas. Anak yang baru saja dipanggilnya itu berdiri di ujung kelas paling belakang.

Lee Hyukjae semakin tercekat, matanya tajam menatap anak yang masih berdiri dan tersenyum padanya itu.

Anak itu, Cho Kyuhyun, dengan rambut hitamnya, dengan mata bulatnya yang tajam, dengan seringainya, dan suaranya, benar-benar mirip dengan Cho Kyuhyun yang dikenalnya 8 tahun yang lalu.

THE END

Yeay, akhirnya cerita ini tamat sudah. FF pertama yang aku buat, selesai sampai di sini. Terima kasih untuk semua yang sudah mau baca, suka, dan review cerita ini (maaf saya tidak bisa menyebutkan satu per satu, but you're all the best, guys). Mianhe kalau endingnya kurang sesuai dengan harapan. That's all I can do. Semoga FF yang lain juga bisa dilanjutkan sampai tamat seperti FF ini. Gomawo and happy reading.