"Apa kau pernah jatuh cinta, Athrun?"

Mata Athrun terangkat dari buku, menoleh pada Kira yang duduk di sebelahnya di bawah pohon. Mereka tengah menunggu kelas yang akan dimulai satu jam lagi. "Kenapa bertanya?"

"Karena aku ingin tahu," sahut Kira. Pemuda berambut cokelat itu menunggu dengan tak sabar jawaban Athrun. Tapi Athrun sama sekali tak berniat langsung menjawab.

"Kau sendiri pernah jatuh cinta?" Athrun balik bertanya.

Kira melirik sebal. "Aku yang tanya duluan."

Athrun tertawa. "Kau jelas pernah jatuh cinta. Pada gadis jurusan desain itu. Siapa ya namanya?" Ia mencoba mengingat-ingat. "Ah, Allster. Flay Allster, ya kan?"

Kira menimpuknya dengan buku. "Kita tidak sedang membicarakan diriku."

Tawa Athrun semakin menjadi dan membuat Kira keki.

"Sebenarnya, gadis seperti apa yang bisa membuatmu jatuh cinta?"

Pertanyaan itu membuat Athrun terdiam. Matanya memandang jauh ke awan stratus yang menggantung di langit. Seraut wajah yang akhir-akhir ini selalu menghiasi benaknya muncul. Gadis berambut pirang yang selalu dipotong pendek di atas bahu dengan mata sewarna hazelnut. Gadis itu tak bisa dikatakan cantik, karena dandanan yang serampangan. Tapi dia manis, seperti eskrim mangga yang manis sekaligus segar.

"Gadis yang sederhana, jauh dari bedak, lipstik, dan teman-temannya. Sedikit pemarah, cerewet, juga keras kepala, tapi dia orang yang pantang menyerah juga berkemauan keras. Ketika orang mengatakan dia tidak bisa melakukan sesuatu, dia akan membuktikan bahwa orang itu salah. Dia ... gadis eskrim mangga."

"Eskrim mangga?" Kira terlihat bingung.

"Yep. Dingin, manis, asam, dan segar, menyatu jadi satu. Dan membuatku jadi haus." Athrun segera merapikan buku ke dalam tas, kemudian berdiri. "Aku mau beli eskrim mangga di kantin, kau ikut?" Tanpa menunggu jawaban Kira, Athrun terus berjalan, melewati jalan setapak batu yang akan membawanya ke koridor. Tujuannya sekarang adalah kantin untuk membeli sebuah eskrim mangga pelepas dahaga. Siapa tahu nanti di kantin ia dipertemukan dengan gadis eskrim mangganya. Gadis yang walaupun begitu dekat dengannya, namun tak dapat Athrun miliki.

.*.

Disclaimer:

Gundam Seed/Destiny ©Masatsugu Iwase, Yoshiyui Tomino, Hajime Yatate Sunrise

(saya hanya meminjam karakter di dalamnya)

*.*

My Precious

(Sekuel dari My Princess)

By

Ann

*.*

Peringatan : AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s), Gaje (Silakan berpendapat sendiri),

Tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'

Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...

selamat menikmati.

.*.

Chap 4

Love Me or Not?

.*.

Aku tak bisa mengartikan sikapmu, apalagi membaca hatimu. Aku hanya bisa menebak-nebak tentang rasa yang bersemayam di sana. Hanya dapat menduga apakah aku memiliki tempat khusus di dalam sana.

.*.

Athrun mengecek ponselnya untuk kesekian kali. Masih tak ada pesan balasan yang dikirimkan Cagalli untuknya. Sejak semalam Athrun mencoba menghubungi gadis pirang itu, tapi tidak bisa. Pesannya terkirim tapi tak dibalas, teleponnya masuk namun tak dijawab.

Ke mana sebenarnya Cagalli pergi? Apa dia masih marah padaku? Apa dia tak ingin bertemu denganku lagi? Pikiran-pikiran negatif mengisi benar Athrun sehingga ia kembali mengambil ponsel untuk menghubungi Cagalli. Hasilnya nihil, Cagalli sama sekali tak menjawab teleponnya.

"Cagalli, jangan diamkan aku seperti ini." Athrun frustrasi dan melempar ponselnya ke atas tempat tidur.

Athrun berdiri di depan jendela, matanya menerawang jauh ke langit yang berhias awan stratus. Ia teringat hari ketika Kira bertanya tentang gadis yang membuatnya jatuh cinta. Kala itu ia tak berani menyebutkan nama sang gadis di depan sahabatnya. Takut jika Kira akan menentang keinginannya untuk memiliki hubungan dengan Cagalli. Athrun urung menyatakan cinta pada gadis eskrim mangga dan berusaha melupakan rasa itu. Bertahun-tahun kemudian Athrun jatuh cinta pada Lacus. Namun, kisah cinta itu kembali kandas. Lalu Tuhan kembali membelokkan takdir dan mengembalikannya pada Cagalli.

Semula, Athrun mengira rasanya pada Cagalli telah mati. Namun berkat kata-kata ibunya dan semalaman berpikir Athrun menyadari jika Cagalli adalah orang yang memiliki tempat spesial di hatinya. Tempat istimewa yang tak mungkin digantikan orang lain. Tidak Lacus maupun Meyrin.

Jika dia memang begitu istimewa bagimu, mengapa aku menghabiskan waktuku di sini?

Menyadari jika dirinya membuang hampir seharian dengan hal sia-sia, Athrun segera meraih jaket di lemari, kemudian ponsel. Ia baru akan meraih kenop pintu, ketika pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan sosok Lenore Zala.

"Mama kira kau tidur, ternyata sudah bersiap," ujar Lenore. "Ayo cepat, Meyrin menunggumu di bawah." Lenore berbalik, berniat meninggalkan kamar Athrun.

"Meyrin di sini?"

Kebingungan dalam suara Athrun membuat Mamanya berbalik. "Kata Meyrin kalian ada janji," jelas sang Mama.

Athrun mencoba mengingat-ingat, tapi tak menemukan satu pun janji yang dibuatnya dengan Meyrin hari ini. "Tidak, Ma."

"Lalu kau bersiap pergi ke mana?"

"Aku mau ke rumah Cagalli. Dia tidak menjawab telepon maupun pesanku seharian ini. Pasti dia marah padaku. Aku harus bicara dengannya," jawab Athrun.

"Bisa saja dia tidak marah," ujar sang Mama dengan geli.

"Mungkin dia sakit atau terjadi sesuatu padanya. Aku harus melihat keadaannya," sambar Athrun panik.

Lenore tersenyum sembari menggeleng pelan. "Yang Mama maksud, mungkin saja Cagalli sibuk membantu persiapan pernikahan saudaranya."

Athrun memikirkan kemungkinan itu. "Bisa jadi," ujarnya, "tapi aku tetap harus menemuinya. Aku ingin melihatnya."

"Baiklah, tapi sebelum pergi kau harus menemui Meyrin dulu," kata Lenore.

"Mama benar. Aku akan menemui Meyrin. Ada yang harus kukatakan padanya."

"Athrun." Lenore menahan Athrun yang hendak pergi. "Apa pun yang ingin kau katakan pada Meyrin, katakan dengan lembut."

Athrun mengangguk. "Aku mengerti, Ma. Aku juga tak ingin menyakitinya."

Athrun menemukan Meyrin duduk di ruang tamu sembari menekuni ponselnya. Mungkin gadis itu tengah berselancar di dunia maya sembari menunggu. Ketika Athrun berjarak dua meter dari Meyrin, gadis itu mengangkat mata dari layar ponsel dan menyunggingkan senyum manis.

"Aku sudah memesan tempat di restoran Italia untuk makan malam kita," ujar Meyrin riang. "Tempatnya beda dengan yang kemarin. Pasta di tempat yang kupesan ini sangat enak, aku sudah mencicipinya beberapa kali. Kau tidak akan menyesal setelah mencobanya."

Sementara Meyrin menjelaskan tentang restoran yang akan mereka kunjungi, Athrun tengah menyusun kata yang tepat untuk disampaikan pada gadis itu. Ia mencoba mencari kata-kata yang tepat, yang tidak akan menyakiti Meyrin. Namun yang tak Athrun sadari adalah sehalus dan selembut apa pun kata-katanya nanti, tetap akan membuat Meyrin patah hati.

"Meyrin." Suara Athrun keluar bersamaan dengan dering ponsel dari kantongnya. Urung bicara dengan Meyrin, Athrun merogoh kantong untuk mengambil ponsel. Senyuman langsung terbit di bibir Athrun, ketika ia membaca nama yang tertera di layar. Setelah seharian mengabaikannya akhirnya Cagalli menelepon.

Athrun terlupa pada Meyrin yang tengah memandangnya. "Kau ke mana saja? Aku mencoba menghubungimu dari semalam. Apa kau baik-baik saja? Kau sehat, kan? Atau kau sedang sibuk membantu Kira? Apa kau ada di rumah sekarang? Aku akan ke sana sekarang, aku ingin bertemu." Suara Cagalli tak terdengar walau sudah Athrun berondong dengan banyak pertanyaan. "Cagalli, kau mendengarku?"

"Tidak. Dia tidak mendengarmu karena dia sedang sibuk sekarang."

"Kira?" Athrun mengernyit bingung. "Kenapa kau yang─"

"Aku membantu Cagalli mengatasi teror darimu."

"Aku tidak menerornya, aku hanya terus-menerus menghubunginya karena tidak mendengar kabarnya dari semalam. Dia baik-baik saja, kan?"

"Menurutmu?"

"Kira, kumohon jangan bermain teka-teki denganku. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana keadaan Cagalli."

"Kau peduli padanya?"

"Sangat. Aku menyayanginya." Saat mengatakan itu, Athrun tak menyadari perubahan pada raut wajah Meyrin. Keceriaan Meyrin seketika berganti dengan kekagetan, kemudian wajah gadis itu tampak sedih, yang disembunyikan dengan menunduk dalam.

"Kalau begitu, temui aku di Cha-Cha dua jam lagi."

Bunyi 'tut' dua kali menutup pembicaraan Athrun dengan Kira. Athrun menatap layar ponsel yang kini kembali menampilkan gambar dirinya bersama Cagalli dan anak-anak playgroup yang ia pasang sebagai wallpaper. Kini, Athrun benar-benar menyadari jika selama setahun terakhir Cagalli menjadi bagian yang amat penting dalam kehidupannya. Dan Athrun tak ingin kehilangan bagian itu selamanya.

Athrun memandang Meyrin yang masih menunduk. Sebentar lagi ia akan menyakiti gadis yang sudah begitu baik padanya. "Meyrin," panggilannya membuat Meyrin mengangkat kepala. Untuk sesaat Athrun ragu untuk mengucap apa yang direncanakan semula. Athrun menarik napas dalam, memberanikan diri berkata, "Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Tiga detik lamanya Meyrin bungkam. Mata gadis itu memandang Athrun, kemudian sikap diamnya berubah menjadi keceriaan yang berlebihan. "Kita bicarakan sambil makan." Meyrin langsung bangkit dan menggandeng lengan kiri Athrun. "Kau tahu, hari ini aku mendapat kontrak besar. Ada sebuah brand fashion yang berniat mengontrakku menjadi model mereka selama tiga tahun ..." Meyrin terus mendominasi obrolan, menceritakan tentang dirinya dan pekerjaan, tak membiarkan Athrun memulai pembicaraan tentang hal lain. Dengan terpaksa Athrun mengikuti ajakan Meyrin pergi ke restoran. Sepanjang perjalanan Meyrin tak henti berbicara, masih tak memberi kesempatan Athrun untuk bicara. Akan tetapi, bagaimanapun usaha Meyrin untuk mengulur waktu, Athrun akan tetap mengatakan hal itu kurang dari satu jam lagi. Sebelum ia pergi untuk menemui Kira.

.*.

"Apa aku benar-benar harus pergi sendiri?" tanya Cagalli untuk kesekian kali sehingga Kira bosan mendengarnya.

"Ya. Kau harus pergi sen-di-ri," jawab Kira.

"Tapi kau bilang pada Athrun bahwa kau yang akan menemuinya." Cagalli mencoba mencari alasan.

"Sengaja, supaya dia terkejut saat melihatmu." Kira memerhatikan penampilan Cagalli "Yah, walau aku yakin tanpa hal itupun dia akan tetap terkejut melihatmu." Ia mengedipkan mata pada Cagalli yang duduk di kursi bagian belakang mobil.

Cagalli memandang bangunan di seberang jalan, papan nama bertuliskan "Cha-Cha" menggantung di atas pintu. Biasanya, Cagalli tidak akan ragu-ragu memasuki kafe yang menyediakan berbagai eskrim lezat itu. Namun sekarang jantungnya berdegup kencang dan perutnya seketika mulas. "Sebaiknya kita pulang saja," ujarnya.

"Apa?! Tidak!" Penolakan itu datang dari Lacus. "Kita sudah bersusah payah hari ini, jangan membuat usaha ini sia-sia. Hari ini kau harus mengatakan perasaanmu pada Athrun."

"Tapi ..."

"Ayolah, Cagalli. Kau bukan pengecut. Kau akan melakukannya seperti yang kita rencanakan," kata Kira.

Cagalli menghela napas. Ia ingin mundur, tetapi tak ingin menjadi pengecut. "Baiklah."

"Nah, itu baru Cagalli." Kira mengulurkan tangan hendak mengacak rambut Cagalli, tapi tangan Lacus bergerak lebih cepat untuk menahannya.

"Jangan merusak apa yang sudah kukerjakan dengan susah payah," Lacus memperingatkan.

"Baik, Nona Clyne." Kira menarik tangannya. "Ayo, Cagalli. Sudah waktunya."

"Masih ada setengah jam lagi sebenarnya," ujar Cagalli.

"Ya. Tapi aku takut kau akan berubah pikiran, jadi sebaiknya kau pergi sekarang," sahut Kira.

"Mengusirku karena ingin berduaan dengan Lacus, eh?" goda Cagalli.

"Nah, itu tahu. Cepat pergi."

Cagalli tertawa. "Baik ... baik ... aku pergi." Ia meraih sling bag, lalu membuka pintu mobil. "Doakan aku," ucapnya sebelum turun,

"Pasti," sahut Kira dan Lacus berbarengan.

Cagalli turun. Berjalan menjauh dari mobil.

"Kau tahu, apa yang kulakukan hari ini sebagai penebusan."

Lacus menoleh pada Kira yang duduk di kursi pengemudi. "Penebusan karena merebutku dari Athrun? Kira, masalah itu sudah selesai. Kita─"

"Bukan untuk itu," ujar Kira tanpa memalingkan matanya pada Cagalli yang tengah menyeberang jalan, "seperti katamu masalah itu sudah selesai."

"Lalu?" tanya Lacus penasaran.

Kira tak langsung menjawab pertanyaan Lacus, ia menunggu hingga Cagalli masuk ke dalam kafe baru mulai bersuara, "Dulu sebelum menyukaimu, Athrun pernah menyukai Cagalli."

"Ekh? Kapan itu terjadi?" Lacus bertanya penuh antusias.

"Saat kami kuliah," jawab Kira.

"Apa dia mengatakannya padamu?"

Kira menggeleng. "Tidak secara langsung, tapi dia pernah mengindikasikan hal itu. Hanya saja, aku terlalu tak acuh." Ia menyandarkan tubuh di kursi, menghela napas. "Aku tahu tetapi berpura-pura tak tahu. Malah bisa dibilang aku menghalang-halangi cinta mereka, bahkan sampai melarang Cagalli untuk menyukai Athrun."

"Kenapa?"

"Karena aku tak ingin Cagalli terluka."

Lacus menelengkan kepala, menunggu lanjutan kata dari Kira.

"Sejak dulu Athrun populer, banyak gadis yang suka padanya, dan dia baik pada semua gadis, termasuk Cagalli. Menyukai orang seperti Athrun sangat berisiko, aku tak mau Cagalli patah hati."

Lacus mengangguk-angguk. "Aku mengerti. Tapi jika Athrun juga suka pada Cagalli bukankah tak masalah?"

Kira meringis. Sebenarnya, ia tak ingin mengaku kepada Lacus. Namun menutupi kesalahan hanya akan membuat perasaannya sesak, dengan mengakui kemudian berusaha memperbaiki diri, hati akan merasa lebih nyaman. "Seharusnya begitu, tapi waktu itu aku egois. Aku orang yang berpikiran negatif setelah putus dari Flay. Aku takut ditinggalkan jika Athrun dan Cagalli bersama."

"Kau?" Mata Lacus melebar, tak percaya pada apa yang baru didengarnya.

Kira mengangguk mengiakan.

"Sungguh?"

"Begitulah," sahut Kira.

"Aku tak percaya kau pernah melakukan hal seperti itu," kata Lacus.

"Apa boleh buat, aku sangat menyayangi mereka berdua." Kira bersungut.

"Dasar sister─" Lacus terdiam sejenak. "Aku bisa menyebutmu sister complex, karena terlalu sayang pada Cagalli. Tapi untuk perasaanmu pada Athrun, bagaimana aku menyebutnya? Aku jadi curiga pada rasa sayangmu yang berlebihan pada Athrun itu. Jangan-jangan kau ..." Lacus sengaja menggantung kalimatnya.

"Jangan-jangan apa?" selidik Kira. "Kau pikir aku tidak normal?"

Lacus hanya mengangkat bahu.

"Kalau aku tidak normal aku tidak akan bersamamu sekarang, Nona Clyne," kata Kira.

"Benarkah? Aku jadi meragukanmu," canda Lacus.

Kira mengerling pada Lacus. "Apa kau ingin bukti?"

"Hum ... kau bisa memberikannya?" tantang Lacus.

Kira mengambil satu napas dalam. "Baiklah, akan kubuktikan." Kemudian matanya menatap intens Lacus. Perlahan mendekatkan wajahnya pada Lacus, sementara Lacus terus mundur. Lacus terpojok di pintu mobil dengan wajah memerah. Kira terus bergerak, kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Ketika Lacus berpikir Kira akan memutus jarak, Kira malah menggerakkan tangan ke pinggang Lacus dan menggelitikinya.

"Kyaaa ... Kira, hentikan!"

.*.

Di saat bersamaan di dalam kafe, Cagalli melangkah pelan melewati pintu yang langsung memperdengarkan bunyi 'ting' dari giring-giring yang terpasang di dekat pintu. Ucapan selamat datang dari pramusaji menyambut Cagalli yang kesulitan berjalan dengan sepatu berhak di kakinya, padahal haknya tak lebih dari lima senti. Alhasil, Cagalli memilih meja terdekat untuk mengistirahatkan diri. Seorang pramusaji langsung mendekat, meletakkan sebuah gelas dan mengisinya dengan air putih, kemudian menanyakan apakah Cagalli ingin memesan sesuatu. Cagalli langsung memesan segelas jus jeruk, bukan karena ia sangat haus, melainkan karena risih dipandangi oleh si pramusaji. Tak heran jika pemuda itu memandangi Cagalli, sebab biasanya Cagalli muncul di kafe langganannya itu dengan dandanan seadanya yang terkesan tomboi, bukan dengan dress manis dan make up seperti sekarang.

Segelas jus jeruk diletakkan di depan Cagalli tak sampai lima menit kemudian. Cagalli baru akan berterima kasih, ketika pramusaji itu mengatakan, "Minuman untuk Nona yang cantik." Cagalli mengunci mulutnya, urung mengucap terima kasih. Malah memasang wajah cemberut, yang membuat si pramusaji langsung menjauh.

Cagalli meraih jus, menghabiskan setengah isi gelas. Diliriknya jam tangan yang di tangan kiri, belum sampai lima belas menit dirinya berada di tempat ini terasa sudah seperti berjam-jam.

"Athrun cepatlah datang."

.*.

Dua blok dari tempat Cagalli berada, di sebuah restoran Italia, Athrun duduk berhadapan dengan Meyrin.

"Kau tahu, Athrun. Masakan Italia adalah makan favoritku," ujar Meyrin seraya meletakkan garpu kembali di piring, lalu mendorong piring menjauh padahal isinya belum tersentuh sama sekali. "Tapi setelah apa yang kau katakan tadi, mungkin aku tidak akan bisa makan masakan Italia setelah hari ini. Karena setiap melihat pasta aku akan teringat padamu, dan jika ingat padamu kenangan akan penolakan ini juga akan datang."

"Maaf." Athrun hanya bisa mengucap kata itu meski tahu permintaan maaf tidak akan mengurangi rasa sakit yang Meyrin rasakan.

"Kau membuatku patah hati," Meyrin mengakui.

Athrun memandang Meyrin penuh penyesalan. "Aku benar-benar bersalah padamu, Meyrin. Dan aku tak tahu bagaimana cara untuk menebusnya. Kau bisa menamparku jika mau," tawarnya.

Meyrin tersenyum. "Jika aku melakukan itu, maka aku yang akan merasa bersalah."

"Kau gadis yang baik," ujar Athrun.

"Tapi tak cukup baik untukmu," sanggah Meyrin.

"Terlalu baik untuk orang sepertiku," Athrun meralat.

Meyrin mendesah. Sekuat tenaga di tahannya air mata, paling tidak Meyrin tak ingin menangis di depan Athrun. "Apa kau akan bersama Cagalli?"

"Aku tak tahu." Athrun menggeleng pelan. "Aku bahkan belum memastikan apa yang akan kulakukan setelah ini."

"Tapi kau sudah memastikan perasaanmu padaku," ujar Meyrin. Walau Athrun sudah menyatakan diri tak bisa bersama dengannya, Meyrin masih berharap pria itu mencoba bersamanya. Baru kali ini Meyrin jatuh cinta sepenuh hati, dan ia tak ingin rasa itu kandas dalam sekejap, "Kau menolakku padahal kau belum yakin pada perasaanmu. Bagaimana jika kau salah? Bisa saja yang kau rasakan pada Cagalli bukanlah cinta yang seperti kau kira, tapi hanyalah kasih sayang kepada seorang sahabat."

Athrun tak menjawab.

"Apa kau yakin kau tidak sedang melakukan penebusan?"

"Tidak," jawab Athrun, "tak ada yang seperti itu."

"Kau menyangkalnya karena semua itu benar. Kau bersama Cagalli karena merasa bertanggung jawab padanya. Merasa bersalah karena dia pernah terluka untuk menolongmu. Tapi itu sudah berlalu, sekarang dia sudah sehat. Benar-benar pulih sehingga kau tak perlu lagi menjaganya. Kau tak berhutang apa pun lagi." Meyrin menjabarkan. Bagaimanapun caranya ia ingin menyadarkan Athrun tentang perasaan pria itu terhadap Cagalli. Meyrin yakin Athrun tak benar-benar mencintai Cagalli.

"Semula aku juga berpikir begitu. Tapi sekarang, aku tahu kalau aku tak bisa tanpanya. Aku terlalu terbiasa dengannya," Athrun mengakui.

"Kebiasaan bisa diubah," sanggah Meyrin.

"Bisa jika mau, tapi nyatanya aku tidak mau," kata Athrun. "Aku tidak mau melepaskan Cagalli lagi."

"Lagi?"

"Maaf, aku tak bisa menjelaskannya padamu. Akan menyakitkan bagimu jika mendengar kisah cintaku dengan gadis lain," jawab Athrun.

"Kau sudah menyakitiku," sahut Meyrin.

"Karena itu aku tidak akan menambahnya lagi."

Meyrin terdiam.

"Meyrin, aku benar-benar meminta maaf karena sudah menyakitimu. Tapi aku sungguh tak bisa bersamamu, aku tak bisa menyukaimu secara lebih," ujar Athrun.

Menghela napas. Air matanya luruh, untung saja mereka berada di ruang VIP sehingga tak ada orang yang melihatnya menangis. "Tolong, tinggalkan aku sendiri."

"Aku mengerti." Athrun berdiri. "Selamat tinggal." Setelah mengatakan itu Athrun berjalan ke pintu, meninggalkan Meyrin yang terisak setelah pintu kembali tertutup. Sekarang kisah cinta Meyrin yang bahkan belum dimulai sudah kandas. Tak akan ada lagi Athrun Zala dalam kehidupannya.

.*.

Bersambung ...

.*.

Review's review:

Alyazala

Makasih dah RnR ya. Maaf saya lama apdetnya. Semoga untuk chapter terakhir nanti proses ngetiknya bisa lebih cepat. Terima kasih sudah bersabar. :3

Jellyfish

Iyup. Athrun perlu dipukul dulu kepalanya baru nyadar. Udah apdet nih, sorry luamaaa. Makasih dah mampir ya.

Titania546

Makasih dah RnR ya.

Maaf, nggak bisa mengabulkan keinginanmu. Saya nggak sanggup (read: nggak bisa) bikin Athrun bergalau ria. Tapi akan saya usahakan yang terbaik di chapter berikutnya ya. Wkwkwkwk ...

tenrisakura

Udah lanjut nih. Makasih dah RnR ya.

.*.

Halo, apa kabar? Maaf, saya baru mengapdet fanfik ini setelah sekian lama. Alasan terutama saya lelet mengapdet fanfik ini karena saya kesulitan melanjutkannya. Semula saya ingin membuat cerita yang lebih rumit, tapi akhirnya saya memutuskan untuk membuat cerita yang simpel saja daripada nanti tidak selesai-selesai.

Untuk kalian yang sudah menunggu fanfik ini saya ucapkan terima kasih.

O ya, kemungkinan fanfik ini akan tamat di chapter berikutnya. 😊

See ya,

Ann *-*