The Almighty : Rise of Humankind

Disclaimer : jelas bukan punyaku!,

Warning : Re-Make, OOC!, OC!, Little bit Romance, humor and gore, Super-Strong Naru!, Jinchuriki Gobi!, Fem Kokuo!, and Anymore...,

Summary : Akibat pertempuran Dahsyat dengan Rivalnya di Valley of The End, menyebabkan retakan ruang dimensi yang menghisap Yondaime Uzukage, Uzumaki Naruto..., saat ia sadar ia sudah berada didunia yang penuh dengan Hal Supranatural dan diluar akal sehat...,

Chapter 05

Suhu udara dingin memaksa semua orang untuk menghangatkan diri dirumah mereka, tak terkecuali salah satu prajurit top gereja, Emiya Shirou. Pemuda yang berada diperingkat keempat dalam jajaran prajurit gereja itu duduk disebuah kursi sederhana selagi ia menyesap segelas minumas hangat dicangkir yang berada ditangannya.

"Ah~" dia mendesah pelan, lalu mengalihkan pandangannya kearah pintu yang tak jauh dari posisinya."hari ini, sepertinya Saber tidak akan kembali lagi."ia mengumam pelan lalu menarik nafas, menengak minumannya sampai habis lalu bangkit dan berjalan kearah dapur, menaruh cangkir kedalam genangan air disebuah bak yang berada didapur, dan berjalan menuju lantai dua, meski rumahnya bertingkat tapi isi rumah itu tidak ada bedanya dengan rumah sederhana yang berada dipinggiran kota Vatikan. Shirou sengaja tidak membeli banyak funiture karena menurutnya itu hanya buang-buang uang, lagipula ia dan Saber jarang berada dirumah karena urusan misi yang terkadang diberikan oleh gereja pusat.

"Aku tidak tahu Misi apa yang diberikan Gereja padanya, tapi aku harap dia baik-baik saja..."

Shirou bergumam pelan dan berjalan menuju kamarnya yang terletak dipojok lantai dua, memutar knop dan masuk kedalam, sesampai didalam Shirou yang baru saja berniat akan merebahkan tubuhnya diatas ranjang dibuat terdiam ditempat ketika matanya menangkap sosok orang yang mengenakan jubah sedang berdiri tepat disebelah ranjangnya selagi pandangan orang berjubah itu terarah pada sebuah kotak kecil berwarna merah yang berada tepat diatas meja yang terletak disebelah ranjang...

Melihat orang yang tak dikenal berada dikamarnya, Shirou memasang gesture waspada dan menatap tajam orang berjubah didepannya.

"Kau, siapa kau, apa yang kau lakukan dikamarku..."

Shirou mengatakan itu dengan tajam membuat orang itu terdiam sejenak sebelum orang itu mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Shirou dengan ekspresi yang tak dapat dilohat karena tertutup oleh tudung jubah yang dia kenakan, orang itu terdiam selama beberapa saat sebelum tanpa peringatan, orang itu melesat kearah Shirou dengan sebilah pedang cahaya yang dikeluarkan dari balik jubahnya, melihat itu Shirou dengan cepat membuka kedua tangannya dan bergumam pelan.

[Trace On]

Setelah mengatakan itu, dua buah blade dengan warna hitam dan putih muncul dari ketiadaan, Shirou mengambil kedua Blade itu dan menahan serangan orang itu yang berniat menusuknya.

Trank!

Suara benturan dari dua senjata bergema dikamar itu, Shirou mengeraskan wajahnya merasakan tekanan kuat dari serangan yang dilancarkan oleh orang asing didepannya. Serangan orang didepannya kuat, tidak diragukan lagi orang didepannya bukan orang yang bisa dikalahkan dengan mudah. Shirou mengeraskan wajahnya dan dengan kuat mendorong serangan orang itu sebelum melakukan tebasan cepat kearah orang berjubah itu. Tidak ingin terkena tebasan itu, orang berjubah itu langsung melompat kebelakang dan menjaga jarak dari Shirou yang memasang gesture bertarung.

"Katakan siapa kau sebenarnya, dilihat dari pedang cahaya yang kau genggam itu, apa kau seorang prajurit gereja?."

"..."

Orang berjubah itu hanya diam dan memasang gesture bertarung, melihat itu Shirou menajamkan penglihatannya, jika orang didepannya tidak mau bicara maka ia harus memaksanya berbicara.

"Begitu, jadi kau tidak mau bicara ya... Kalau begitu, aku harus memaksamu berbicara!."

Setelah mengatakan itu, Shirou dengan cepat melesat memangkas jarak antara mereka, setelah jarak terpotong Shirou dengan cepat melakukan tebasan silang dengan Dual Blade miliknya, namun sayangnya serangan itu dapat ditahan dengan mudah oleh orang berjubah itu, Shirou yang melihat serangannya berhasil ditahan, dengan cepat langsung memutar tubuhnya dan melakukan tendangan lurus yang mengarah langsung keperut orang berjubah itu, namun ketika tendangan itu sedikit lagi akan mengenai target, orang berjubah itu dengan cepat menangkap pergelangan Shirou membuat Shirou melebarkan matanya terkejut, rasa terkejut Shirou semakin menjadi-jadi ketika dengan kuat orang berjubah itu mengangkat Shirou dan melemparnya kearah jendela...

Pyaaaar!?

Shirou menabrak jendela kaca itu dengan keras hingga membuat jendela kaca itu hancur berkeping-keping. Shirou melayang jatuh, namun berkat kemampuannya yang diasah setiap hari sebagai prajurit Gereja, Shirou berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan mendarat dengan mulus ditumpukan salju.

Shirou mengangkat kepala-nya dengan cepat dan membulatlah matanya, tepat digaris penglihatannya, orang berjubah itu sudah melompat dari jendela yang rusak dan berniat menebasnya menjadi dua, tak ingin mati, Shirou dengan cepat menyatuhkan Dual Blade miliknya diatas kepalanya dan menahan tebasan orang itu..

Trank!

Suara logam beradu bergema ditempat itu, Shirou mengeraskan wajahnya, orang ini serangannya kuat hingga kedua tangannya terasa sakit tapi meski begitu, entah kenapa Shirou terasa familiar dengan sensasi ini, namun dimana dan kapan ia merasakan sensasi ini, ia tidak dapat mengingat itu.

Shirou mengeraskan wajahnya dan dengan kekuatan penuh, ia mendorong serangan orang berjubah itu yang berniat membelah batok kepalanya menjadi dua dan melompat mundur kebelakang menjaga jarak antara mereka. Shirou menatap waspada orang berjubah itu yang juga mengarahkan pandangan kearahnya.

Keduanya saling tatap satu sama lain, tidak ada satupun dari mereka yang bersuara, sebab sebagai seorang prajurit keduanya tahu jika mereka melakukan kesalahan sedikit saja nyawa mereka pasti akan melayang, keduanya saling bertukar tatapan terus sebelum keduanya melesat dengan kecepatan tinggi dan pertarungan berkecepatan tinggipun terjadi. Shirou dan orang berjubah itu bertukar serangan dengan cepat, mereka menyerang dan diserang, mereka bertahan dan ditahan, keduanya bertarung sengit hingga menyimbulkan bunga api disetiap benturan kedua senjata mereka yang beradu.

Trank!

'Orang ini!... Entah kenapa!...'

Shirou menajamkan matanya dan menghindari tebasan orang berjubah itu yang mengarah kelehernya, lalu Shirou dengan cepat membalas serangan kearah perut orang berjubah itu namun berhasil ditahan dengan nice timing.

Trank!

'... Pola serangan yang dia lakukan!... Mengingatkanku!...'

Trank!

'... Pada Arturia!?.'

Trank!

Trank!

Trank!

Shirou menyerang dengan kecepatan tinggi, namun serangan cepat itu berhasil ditahan oleh orang berjubah itu, sampai Shirou berhasil meruntuhkan keseimbangan orang berjubah itu, dan memberikan serangan cepat kearah kepala orang berjubah itu, namun sayang orang berjubah itu terlebih dahulu melompat kebelakang hingga membuat serangan Shirou hanya merobek tudung jubah yang dikenakan oleh orang itu...

Tudung kepala itu robek hingga membuat surai pirang pucat yang berkilauan karena terpantul sinar bulan muncul dan berkibar dengan pelan diudara, Shirou melebarkan matanya melihat surai pirang pucat itu... Surai ini... Ia mengenal warna pirang dan aroma yang menguar dari surai ini... Ini adalah milik... Shirou perlahan mengangkat wajahnya dan menatap kedepan, seketika nafas Shirou tercekat, bola matanya melebar sempurna...

"Kau..."

Tepat didepan Shirou saat ini, seorang perempuan cantik bersurai pirang panjang berdiri dengan tenang selagi iris emerlad miliknya menatap kearah Shirou dengan tatapan tanpa kehidupan disana. Shirou kenal siapa perempuan itu, dia adalah perempuan yang selama tiga hari ini menghilang entah kemana dengan alasan misi dari Gereja...

"... Saber..."

Benar, dia adalah Saber, atau memiliki nama asli Arturia Pendragon, prajurit gereja nomer satu digereja. Arturia terdiam sejenak sebelum perlahan sebuah senyuman yang tidak dapat disebut sebagai senyuman karena terasa hampa terpatri diwajah cantik Arturia.

"Aku pulang, Shirou..."

Ucap Arturia dengan nada kosong, Shirou yang mendengar itu tersadar dari rasa shocknya dan menatap Arturia dengan emosi yang bercampur aduk, bingung, dan marah bercampur jadi satu.

"Arturia... Apa maksudnya ini, kenapa kau menyerangku..."

Ucap Shirou lirih, Arturia terdiam tanpa melepas senyuman hampa diwajahnya, ia mengubah posisi pedang cahaya ditangannya dan menancapkan pedang itu ketanah dan berkata.

"Aku? Aku hanya menjalankan misi..."

"Misi... Dengan menyerangku?."

Tanya Shirou dibalas anggukan kecil dari Arturia yang masih memasang senyuman hampa diwajahnya.

"Ya, Misi dari Kardinal-sama adalah membunuh semua prajurit yang diduga telah menjadi [Heretic] dan mengkhianati Gereja, dan kau, Prajurit Gereja tingkat empat, Emiya Shirou. Telah dinyatakan sebagai [Heretic] yang mengkhianati Gereja, kau diperintahkan untuk menyerah dan menerima hukuman mati."

"A-Apa..."

Shirou tidak dapat menahan rasa terkejutnya mendengar perkataan Arturia. Apa maksudnya ini, dirinya berkhianat pada Gereja? Dirinya? Prajurit garis depan yang telah bersumpah setia untuk melindungi ajaran Kami-sama didepan yang mulia Paus-sama dituduh sebagai pengkhianati...

"T-Tunggu sebentar... Aku berkhianat pada Gereja? I-itu tidak mungkin... A-Aku telah bersumpah untuk melindungi umat manusia sebagai prajurit tuhan, mana mungkin aku mengingkari sumpahku sendiri... Pasti ada yang salah disini..."

"Sayangnya, Shirou. Semua bukti yang telah dikumpulkan menyatakan kau dan seluruh anggota gereja tempatmu berasal dinyatakan telah berkhianat. Beberapa hari yang lalu kami melakukan penyelidikan digereja tempatmu berasal dan disana kami menemukan bahwa gereja itu telah ditinggalkan, semua anggota gereja tidak ada, lalu saat kami melakukan penyelidikan yang mendalam, disana kami menemukan bekas dari ritual pemanggilan iblis..."

"A-Apa... Ritual pemanggilan iblis..."

"Ya, dan dilihat dari Aura [Demonic] yang sangat padat yang masih tersisa disana nampaknya iblis yang berhasil dipanggil memiliki kekuatan yang sangat besat. Iblis ditempat suci seperti Vatikan, itu sesuatu yang tidak bisa ditertawakan..."

Ucap Arturia serius tanpa memperdulikan Shirou yang terlihat shock, gereja tempatnya menuntut ilmu melakukan ritual pemanggilan iblis... Jika ini sebuah lelucon maka sudah pasti Shirou akan marah besar tapi melihat ekspresi serius diwajah Arturia sudah menjadi bukti yang cukup jika perkataan Arturia itu bukanlah sebuah lelucon, Shirou jatuh berlutut.

"Aku... Berkhianat..."

Arturia menatap datar Shirou yang putus asa mengetahui dirinya telah berkhianat, Arturia mencabut pedang cahaya miliknya dan perlahan berjalan mendekati Shirou yang tidak bergerak sedikitpun, Arturia menatap datar Shirou sebelum ia mengangkat pedang cahayanya dan mengarahkannya keleher Shirou.

"Apa ada kata-kata terakhir, Pengkhianat..."

Shirou terdiam sejenak sebelum perlahan ia mengangkat kepalanya dan menatap kearah Arturia dengan tatapan kosong.

"... Lakukan sesukamu..."

"Begitu... Kalau begitu, selamat tinggal..."

Setelah mengatakan itu Arturia dengan pelan menjauhkan pedang cahaya miliknya lalu sedetik kemudian ia mengayunkan pedang cahaya itu kearah leher Shirou yang tetap diam tanpa perlawanan... Namun saat sedikit lagi pedang cahaya itu menebas leher Shirou sekelebat bayangan muncul dan...

Grep!

Arturia terdiam melihat pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang, perlahan Arturia menoleh kesamping untuk melihat siapa yang berani menahan serangan dan tepat digaris penglihatan Arturia, ia melihat seorang wanita cantik bersurai perak diikat Ponytail menatap kearah dirinya dengan datar.

"Aku rasa tidak secepat itu, nona."

Wanita itu mengucapkan itu dengan datar sebelum ia menarik tangan Arturia dan memberikan sebuah pukulan telak yang cukup kuat hingga memaksa Arturia memuntahkan air liurnya sebelum ia terhempas cepat kebelakang dan menabrak dinding rumah hingga jebol, Wanita itu menatap datar hal itu sebelum ia perlahan menoleh kearah Shirou yang menundukan kepalanya, wanita itu dengan anggun menyentuh dagu Shirou dan mengangkat wajahnya, wanita itu menatap wajah Shirou sejenak sebelum sebuah senyuman terpatri indah diwajah cantik wanita itu.

"Sepertinya kau orangnya, [Servant], Emiya Shirou. Kau akan ikut denganku."

Setelah mengatakan itu, Wanita itu menciptakan lingkaran sihir dibawah kakinya, dan menghilang dari tempat itu seolah tak pernah ada. Tepat setelah kepergian Wanita itu, Arturia melepaskan diri dari dalam reruntuhan bangunan yang menimbunnya dan berjalan keluar, terlihat beberapa luka menghiasi tubuh Arturia namun orang itu sendiri tidak merasakan sakit sedikitpun. Arturia tetap memasang ekspresi kosong selagi ia menatap tempat dimana Shirou sebelumnya berada, Arturia menundukan kepalanya dan bergumam dengan pelan.

"Shirou...".

.

.

.

Dipagi hari yang indah, disebuah kamar yang cukup sederhana terlihat seorang Uzumaki Naruto tengah tertidur lelap, pemuda berusia hampir dua puluh tahun itu terlihat terganggu ketika cahaya matahari pagi yang masuk dari ventilasi udara mengusik tidurnya. Perlahan kelopak mata itu terangkat dan terlihatlah sepasang permata biru yang sangat indah.

Naruto, menatap atap kamarnya sejenak sebelum ia menoleh kesamping dan ia melihat seorang perempuan cantik bersurai perak digerai bebas tertidur dengan nyenyak selagi dia menjadikan bahu miliknya sebagai bantal, Naruto memandang paras perempuan itu dengan sebuah senyuman yang terpatri diwajahnya, Naruto perlahan menyentil pelan hidung perempuan itu membuat perempuan itu terganggu sebelum ia membuka matanya dan memperlihatkan mata silvernya yang tak pernah membuat Naruto bosan mengangguminya.

"Selamat pagi, Grayfia."

Grayfia Lucifuge, salah satu pahlawan perang saudara didunia bawah mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk, setelah pandangannya membaik Grayfia tersenyum tipis melihat Naruto yang tersenyum, ia mengeratkan pelukannya pada lengan Naruto yang ia jadikan guling peluk.

"Selamat pagi, Naruto-kun."

"Hora, Hime. Jangan manja begitu, aku harus pergi bekerja ingat?."

"Mou... Telat sebentar saja tidak apa-apa kan?."

Rajuk Grayfia mengundang helaan nafas dari Naruto. Naruto tersenyum tipis dan memeluk balik Grayfia, membawa perempuan terakhir dari Clan Lucifuge itu kedalam dekapannya.

"Ya ampun, apa yang akan dikatakan Yondai Maou yang baru jika mereka sampai tahu jika salah satu pahlawan perang mereka mulai bertingkah manja layaknya anak kecil..."

"Biarin... Lagipula aku hanya manja padamu saja..."

Ucap Grayfia seraya mengosok pipinya kedada bidang Naruto yang hanya tersenyum melihat perlakuan manja dari perempuan didepannya ini. Naruto meletakan dagunya diatas kepala Grayfia dan mengelus belakang kepala Grayfia dengan lembut.

"Ya, lakukan sesukamu, Hime. Aku tidak keberatan."

-change scene-

Setelah menghabiskan beberapa saat untuk saling bermesraan, Naruto saat ini tengah bersiap untuk bekerja, Naruto mengambil Mantel yang biasa ia kenakan untuk menahan hawa dingin dari tangan Grayfia yang tersenyum lembut kearahnya.

"Aku berangkat dulu, Grayfia."

"Ya, hati-hati... Dan, jangan lupakan janjimu... Naruto-kun, aku akan menunggunya."

"Tenang saja, aku tidak akan melupakannya..."

Setelah mendengar itu, Naruto pergi meninggalkan rumahnya menuju tempat kerja-nya. Disepanjang perjalanan Naruto menyapa beberapa orang dan membalas sapaan orang yang menyapanya, saat sedang asik berjalan santai tiba-tiba Naruto menghentikan langkahnya ketika pandangannya menangkap seseorang yang berdiri didepan sebuah gang yang lumayan suram, Naruto dan orang itu saling bertuksr tatapan sebelum orang itu masuk kedalam gang, Naruto yang melihat itu berjalan menuju gang dan masuk kedalamnya.

Didalam gang yang sunyi, Naruto menatap datar orang yang tadi berdiri didepan gang yang kini sedang berlutut didepannya, tak hanya orang itu saja dibelakang orang itu terlihat beberapa orang berpakaian layaknya seorang Assassin ikut berlutut, Naruto menatap mereka sejenak sebelum ia membuka mulutnya dan berkata.

"Jadi? Apa yang kalian dapatkan?."

Tanya Naruto, orang yang berdiri paling depan dengan pelan merogoh saku didalam pakaiannya dan mengeluarkan selembar kertas kusam dan menyerahkan kertas itu pada Naruto yang menerimanya dalam diam, Naruto menatap kertas itu dan membacanya perlahan dan ketika selesai, Naruto menghela nafas pelan.

"Begitu ya... Mereka akhirnya bergerak, yare... Sepertinya pesta besar akan meledak dikota ini..."

Naruto bergumam pelan seraya melipat kertas itu dan memasukkannya kedalam saku mantelnya, Naruto menatap para Assassin didepannya dengan pandangan datar.

"Aku terima laporan kalian. Sekarang kalian boleh kembali bertugas, ingat lakukan dengan sebaik mungkin, jangan sampai ada pihak lain yang tahu gerakan kalian."

"Sesuai perintah anda, Tuan."

"Bagus, sekarang Bubar!?."

Setelah meneriakan perintah itu para Assassin itu langsung menghilang kedalam kegelapan meninggalkan Naruto yang berdiri ditempat dalam diam, Naruto perlahan mengangkat wajahnya dan menatap langit yang mendung. Naruto menatap langit mendung yang kembali menjatuhkan kepingan salju sejenak sebelum ia berbalik dan meninggalkan tempat itu, sebelum pergi Naruto sempat berbisik pelan, suara bisikkan yang entah kenapa terdengar lirih...

"Akuma, Tenshi... Merepotkan..."

-skip time-

Malam mulai datang, mengusir matahari dari tahtanya diatas langit. Disebuah bangunan yang terbengkalai, atau lebih tepatnya diruang bawah tanah tempat itu, terlihat beberapa orang berjubah hitam berkumpul.

"Saudaraku, sepertinya kita tidak bisa menundanya lebih lama lagi, pergerakan kita mulai terendus, kemarin salah satu markas kita berhasil ditemukan, dan semua anggota disana dibunuh langsung ditempat, dan semalam Prajurit tingkat empat nyaris dihabisi, beruntungnya Iblis 'itu' berhasil menyelamatkannya tepat waktu..."

"Begitu, bahkan Emiya-shi yang tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini ikut diburu..."

"Tsk,.entah kenapa Gereja utama mengambil tindakan sejauh ini hanya untuk menutup fakta tentang Kami-sama.".

"Justru disitulah masalah,.mereka harus menutupi fakta tentang kami-sama demi menjaga kepercayaan mereka... Jika sampai rahasia itu tersebar maka mereka akan kehilangan umat mereka, karena itu Gereja Utama mengerahkan ssmua kekuatan mereka untuk menjaga rahasia itu tetap aman, dengan kata lain membunuh kita semua yang mengetahui rahasia itu..."

"Tapi itu bukan berarti mereka berhak menghabisi semua yang berhubungan dengan kita! Sudah berapa banyak nyawa murid kita yang tidak bersalah yang dibunuh! Berapa banyak!?."

"Tuan-Tuan, tolong tenanglah... Ingat tujuan kita disini untuk apa? Untuk mencegah murid-murid kita yang masih tidak tahu apapun menjadi korban lagi... Karena itulah kita para kakek tua ini bertekad untuk melindungi para murid kita, meski kita harus mati sebagai [Heretic] namun satu hal yang pasti, dihati kita masih ada kepercayaan pada-Nya... Karena itu, kita semua bertekad untuk gugur dan kembali kepadanya..."

Mendengar perkataan itu para orang berjubah hitam itu terdiam, melihat diamnya mereka orang yang tadi berbicara dengan nada bijaksana, menoleh kearah belakang dimana seorang wanita yang memiliki kecantikan kelas dunia berdiri dan memperhatikan pembicaraan yang terjadi sejak tadi tanpa bersuara sedikitpun.

"Luficer-sama, maaf tapi bisakah anda memenuhi permintaan kami? Tolong lindungi murid-murid kami, jangan biarkan mereka terbunuh karena kebodohan kami..."

Wanita itu, Evelyn Livan Lucifer terdiam, untuk iblis sepertinya mendapati orabg suci seperti para kakek tua didepannya memohon padanya itu terasa aneh, namun karena dirinya telah mengikat kontrak dengan mereka maka ia harus memenuhi permintaan mereka...

"Aku akan berusaha semampuku, akan aku pastikan mereka aman dibawah perlindungan sayap hitam Lucifer."

"Terimakasih... Lucifer-sama..."

Evelyn mengangguk pelan, dan perlahan ia berbalik dan menghilang kedalam kegelapan ruangan. Eveyn tidak pernah menyangka jika selama hidupnya sebagai iblis-super ada seseorang yang dapat memanggil dirinya bahkan mengikat kontrak dengan dirinya. Seperti yang diketahui jika untuk memanggil dan mengikat kontrak dengan iblis membutuhkan bayaran yang tidak sedikit, semakin kuat iblis yang terpanggil maka bayaran untuk kontrak itu sangatlah mahal bahkan untuk iblis sekaliber dirinya dibutuhkan bayaran yang bahkan tidak dapat dibayar dengan menjual jiwa seseorang kepadanya. Evelyn menghela nafas.

"Ya, meski kedatanganku ketempat ini tidak terduga tapi aku rasa ada sisi baiknya aku datang ketempat ini."

Evelyn mengingat kembali pertemuannya dengan seorang pemuda yang menarik perhatiannya beberapa waktu yang lalu, pemuda itu begitu menarik sampai-sampai dirinya tidak dapat menemukan kata-kata yang pas untuk mengambarkan sisi menarik dari pemuda itu...

Dia, pemuda yang dapat dengan mudah menyusup istana miliknya yang saat itu terlapisi Barrier yang dibuat dari mantra terlarang yang mana jika seseorang memaksa masuk kedalam maka seketika itu juga orang itu akan mati terkena kutukan yang ada dibarrier itu. Pemuda itu tidak hanya berhasil menyusup namun ia juga telah berhasil membebaskan Grayfia dari penjara dimenara utama yang dijaga ketat saat itu, tak hanya itu saja, ia juga berhasil mencuri Mutiara merah yang menjadi inti dari Barrier yang melindungi Istana Lucifer.

Dan saat penyusupannya telah diketahui oleh dirinya dan beberapa prajurit yang mengepungnya saat itu, ia tidak panik, ia tetap tenang menganalisis situasi dan bahkan memprovokasi dirinya dengan kata-katanya, lalu akhirnya ia berhasil lolos dengan menggunakan semacam teknik teleportasi instan yang tidak ia ketahui. Evelyn tersenyum tipis mengingat semua itu.

"Uzumaki Naruto-kun, ufufufu~ pemuda yang menarik..."

Evelyn bergumam pelan dan melanjutkan perjalanannya, setelah beberapa saat berlalu, Evelyn menghentikan langkah tepat didepan sebuah pintu setinggi 4-5 meter dan lebar yang dapat memuat empat sampai lima orang sekali jalan. Evelyn menatap pintu itu sejenak sebelum ia menarik nafas pelan dan mengangkat kedua tangannya.

"Yosh... Evelyn, kau pasti bisa..."

Setelah menyemangati dirinya sendiri dengan gaya yang cukup imut, Evelyn mendorong pintu besar itu dan sesampai didalam Evelyn disambut oleh puluhan, tidak-, ratusan senjata cahaya yang melesat cepat kearahnya, Evelyn menatap itu dengan tenang sebelum ia mengarahkan tangannya kedepan dan bergumam pelan.

[Canceller]

Setelah menyebut nama tekniknya dalam sekejap ratusan senjata cahaya itu lenyap tak berbekas, Evelyn menatap datar hal itu sebelum ia mengarahkan pandangannya kedepan dimana pemuda bersurai Auburn menatapnya dengan tatapan waspada, tepat dibelakang pemuda itu terlihat puluhan anak kecil dengan usia sekitar 6 sampai 10 tahun menatap kearah dirinya dengan takut.

"Shirou-Nii... Aku takut."

Salah satu dari perempuan kecil itu berujar lirih dan mencengkram erat celana Pemuda yang memiliki nama lengkap sebagai Emiya Shirou itu. Shirou terdiam menatap anak kecil itu sebelum ia memasang ekspresi lembut dan menepuk surai perempuan kecil itu lalu mengusapnya dengan lembut seraya berkata.

"Tidak usah takut. Shirou-nii ada disini, Shirou-nii akan melindungi kalian, jadi tidak perlu takut, mengerti?."

"Hooh~ sebagai seorang prajurit yang pernah memukul mundur salah satu Jendral Malaikat Jatuh, Kokabiel. Kau ternyata orang yang cukup lembut..."

Ucap Evelyn dengan senyuman dingin diwajahnya membuat ekspresi lembut Shirou lenyap digantikan tatapan permusuhan.

"Mau apa kau kesini, Iblis."

"Mau apa ya~... Ah~ mungkin memakan anak-anak kecil itu tidak terdengar buruk... Ufufu~ kebetulan perutku sedang lapar..."

[Hiiii!? Shirou-nii!]

"Brengsek! Hentikan itu! Kau membuat mereka takut..."

Shirou berteriak marah namun Evelyn hanya tertawa kecil melihat reaksi anak-anak kecil yang langsung ketakutan dan meringkuk dibawah kaki Shirou.

"Ara, aku hanya bercanda... Tidak perlu marah seperti itu."

Ucap Evelyn tanpa rasa bersalah sama sekali, hal itu membuat Shirou geram dan berniat menyerang Evelyn namun saat ia akan bergerak, ia tertahan oleh anak-anak kecil yang meringkuk takut dikakinya.

"Oya? Ada apa, Bocah Servant-kun? Apa kau marah karena aku menjahili adik-adikmu?."

Evelyn mengatakan itu dengan senyuman mengejek yang terpatri diwajah cantiknya membuat Shirou kalap dan dalam sekejap ia menyelimuti tubuhnya dengan Holy power seraya berkata.

[Trace On]

Dalam sekejap tepat diatas kepala Shirou ratusan senjata yang mengeluarkan aura suci dengan berbagai macam jenis bermunculan, Evelyn memutar matanya bosan.

"Oh ayolah, apa kau tidak mengerti juga? Seranganmu itu tidak akan mempan kepadaku."

Ucap Evelyn bosan, Shirou yang merasa diremehkan mengertakan giginya, seolah amarah Shirou adalah perintah, ratusan senjata itu dengan kecepatan tinggi melesat kearah Evelyn yang hanya menatap ratusan senjata itu dengan datar, Evelyn menghela nafas dan mengangkat tangannya seraya bergumam.

[Canceller]

Dalam sekejap ratusan senjata suci itu lenyap seolah tak pernah ada, Evelyn menatap datar hal itu sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah Shirou.

"Berapa kali harus aku bilang, serangan itu tidak akan mempan kepadaku... Kau yang mendapatkan Mukjizat dari surga tidak akan bisa menang melawanku, kenapa? Karena aku memiliki kemampuan untuk meniadakan Mukjizat."

Evelyn mengatakan itu dengan dingin pada Shirou yang mengeraskan wajahnya, Evelyn menghela nafas pelan sebelum ia mengambil satu langkah kebelakang dan menyandarkan punggungnya pada pintu besar dan menatap datar kedepan.

"Sebaiknya kau tetap berdiam ditempat ini, Bocah Servant. Kau seharusnya tahu perbedaan kekuatan kita, melawan hanya akan membuatmu terbunuh, jadi tetap disini dan jadilah anak baik."

Ucap Evelyn membuat Shirou berdecih kesal, sejujurnya Shirou tidak ingin mengikuti perintah iblis didepannya namun Shirou juga bukan orang bodoh yang tidak memahami perbedaan kekuatan antara mereka, tidak peduli seberapa keras Shirou berjuang melawan iblis itu, dia tidak akan bisa menang, setiap serangan yang ia lakukan pasti akan dilenyapkan oleh kemampuan unik iblis itu, terlebih hanya dengan melihat saja Shirou tahu kalau iblis itu masih belum mengeluarkan kekuatan sejatinya, melawan iblis seperti dia hanya akan membuat nyawanya melayang, karena itu ia lebih baik diam dan menjaga adik-adiknya ini. Evelyn yang melihat Shirou mengikuti perintahnya tersenyum dan memejamkan matanya.

.

.

.

-The Almighty Rise of Humankind-

.

.

.

"Begitu... Jadi Arturia gagal membunuh, [Heretic] Emiya Shirou?."

Seorang pria yang mengenakan jubah hitam dengan tudung kepala yang menutupi wajahnya hingga tidak dapat dilihat itu bergumam pelan setelah mendengar hasil Laporan yang baru beberapa saat yang lalu sampai ditangannya.

"Ya, kita tidak bisa menyalahkan kegagalan Pendragon-dono, [Heretic] itu lolos karena bantuan iblis yang dipanggil oleh para pengkhianat itu, dan berdasarkan keterangan yang dikatakan Pendragon-dono, Iblis itu berada dikelas Ultimate atau bahkan Maou, jadi wajar saja Pendragon-dono gagal menjalankan tugasnya."

Pria berjubah itu terdiam sebelum ia menoleh kesamping dimana disana berdiri seorang pria tampan bersurai putih yang memasang senyuman ramah, melihat itu pria itu menghela nafas.

"Oliver, ya... Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?."

"Ya begitulah, meski aku sedikit kesulitan karena informasi yang mengatakan jika jumlah mereka hanya ada 20 orang itu salah, disana terdapat 100 orang lebih... Kau sendiri, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu, Roland-kun?."

Pria berjubah hitam itu tersenyum tipis dan perlahan membuka tudung kepalanya dan terlihatlah wajah pria tampan bersurai pirang panjang sebahu, iris biru indah miliknya memancarkan sinar lembut pada siapapun yang dilihatnya, Pria itu-, Roland tersenyum tipis.

"Aku sudah menyelesaikannya, mereka tidak memberikan perlawanan yang pantas, jadi aku selesaikan mereka dengan cepat."

"Heh~ memang berapa banyak yang kau lawan?."

"Berapa ya? Mungkin sekitar 200? Entahlah aku tidak begitu mengingatnya."

"Heh, pantas saja... Untuk membuatmu serius dibutuhkan setidaknya 400-500 prajurit reguler terlatih untuk bisa membuatmu mengangkat [Durandal]-mu itu."

Roland hanya tersenyum mendengar perkataan sahabat yang sudah menemaninya sejak kecil itu yang terlihat kagum, Oliver menghela nafas sejenak dan menatap Roland dengan senyuman kecil diwajah tampannya.

"Aku bingung denganmu, Roland-kun. Dengan kekuatanmu itu, kenapa kau menolak menjadi Prajurit [Top One] dan menyerahkan posisi itu pada Pendragon-dono padahal dari segi kemampuan dia masih berada jauh dibawahmu bahkan dia tidak sebanding denganku..."

Ucap Oliver membuat senyuman tipis diwajah Roland berubah menjadi kecut."sejujurnya Oliver, aku tidak ingin memiliki gelar seperti ini, tujuanku menjadi prajurit gereja adalah demi membasmi iblis dan malaikat pembangkang yang bertindak semena-mena pada kaum manusia, aku tidak ingin kejadian sama yang menimpa kita terjadi pada orang lain... Aku tidak ingin itu..."ucap Roland lirih membuat Oliver menatap sedih partnernya itu.

Oliver tahu apa yang dikatakan Roland karena bagaimanapun saat kejadian itu terjadi, mereka ada disana, dan dengan mata kepala mereka sendiri mereka melihat desa dimana mereka lahir dan hidup dimusnahkan oleh Iblis yang menyerang dengan membabi buta.

Oliver tidak akan pernah melupakan para penduduk desa dibantai secara brutal, ia juga ingat ketika orang tuanya dan orang tua Roland terbunuh saat iblis itu menembakan demonic power kesegala arah. Tidak ada yang tersisa dari kedua orang tua mereka, jasad mereka berubah jadi abu dan tertiup angin, Roland dan Oliver saat itu hanya dapat terpaku pada pemandangan itu, mereka juga sudah pasrah saat iblis itu melihat kearah mereka berdua dan bersiap menembakan [Demonic Power] kearah mereka.

Namun... Saat Iblis itu menembakan [Demonic Power] miliknya kearah mereka berdua, seseorang datang dan menepis [Demonic Power] dengan pedang cahaya ditangannya, Roland dan Oliver tidak akan pernah melupakan punggung yang dihiasi dua belas sayap putih seputih salju itu.

[Iblis Liar, Atas nama Surga. Aku akan memusnahkanmu.]

Suara yang sangat merdu bagikan lonceng berdenting itu membuat Roland dan Oliver merasa nyaman, bahkan ketakutan mereka sebelumnya lenyap tak berbekas. Orang itu-, tidak... Malaikat itu dengan cepat mengubah pedang cahaya ditangannya menjadi sebuah tombak dan dengan kecepatan yang mustahil dilihat oleh mata, Malaikat itu melempar tombaknya yang langsung menembus tubuh iblis itu dan membinasakannya.

Malaikat itu menarik nafas lega sebelum ia membalikkan tubuhnya dan saat itu baik Roland maupun Oliver dibuat menahan nafas mereka sebab didepan mereka terpajang maha karya yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, bahkan kata sangat cantik terasa hina dihadapan maha karya itu. Malaikat itu menatap kearah mereka dengan khawatir seraya berkata.

[Apa kalian baik-baik saja? Apa ada yang terluka?]

Malaikat itu mengcheck tubuh mereka berdua memastikan bahwa mereka berdua tidak menerima luka sedikitpun. Malaikat itu menghela nafas lega melihat tidak ada luka pada tubuh mereka berdua.

[Syukurlah, kalian tidak terluka...]

Malaikat itu terlihat lega untuk sesaat namun sedetik kemudian wajah itu berubah menjadi sedih.

[Maaf... Maaf, jika saja aku datang lebih cepat mungkin kalian tidak akan mengalami kejadian mengerikan seperti ini, Maafkan aku...]

Iris Shappire Malaikat itu terlihat berkaca-kaca dan siap menangis kapan saja, rasa bersalah karena membiarkan puluhan orang tewas ditangan iblis liar menusuk hati malaikat itu. Malaikat itu menahan air mata yang siap jatuh kapan saja namun karena tak kuasa, ia akhirnya menangis dan dengan lembut memeluk Roland dan Oliver yang saat itu masih belia...

[Maaf, Maafkan aku...]

Mendengar tangisan malaikat itu, Roland dan Oliver terisak dan akhirmya menangis, keduanya memeluk erat Malaikat itu menumpahkan semua emosi yang menyeruak dihati mereka, orang tua, saudara, teman mereka telah tiada, mereka sebatang kara, keduanya menangis semakin keras menyadari hal itu, Malaikat itu hanya dapat mengeratkan pelukannya, berharap dengan begitu rasa sakit dihati mereka akan berkurang.

setelah beberapa saat kemudian, Roland dan Oliver menghentikan tangisan mereka. Merasa keduanya sudah tenang Malaikat itu melepaskan pelukannya,.mengusap air mata mereka berdua dan menatap mereka berdua dengan senyuman diwajahnya yang penuh lelehan air mata.

[Dengar, tidak lama lagi akan datang beberapa orang kesini, temui mereka dan ikutilah mereka, mereka akan merawat kalian dengan baik...]

Malaikat itu mengatakan itu dengan lembut sebelum perlahan Malaikat itu berjalan menjauh dan mengepakkan keenam pasang sayapnya, Roland dan Oliver menatap Malaikat itu yang ingin pergi kesurga, saat Malaikat itu berbalik dan mengembangkan keenam pasang sayapnya untuk pergi kesurga, Roland menghentikannya...

[Kakak Malaikat! Siapa nama-mu!.]

Mendengar teriakan Roland, Malaikat itu terdiam diudara sejenak sebelum Malaikat itu menoleh lewat bahunya dan dengan senyuman lembut ia mengatakan namanya...

[Gabriel... Namaku, Gabriel.]

Oliver tersenyum mengingat moment pertemuan mereka dengan salah satu Archangel surga itu, Oliver menepuk pelan bahu Roland membuat pria pemegang [Durandal] itu menoleh kearahnya dan ia pun berkata.

"Aku akan selalu mendukungmu, kau adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki, apapun keputusanmu aku akan mendukungnya... Karena kau adalah saudaraku..."

"Terimakasih, Oliver..."

And Cut~

Hallo~ jumpa lagi dengan Rose-chan~

Bagaimana kabar kalian? Baik? Atau buruk? Syukurlah jika kabar kalian baik, jika tidak, maka semoga membaik~

Fumu, Chapter kali ini digambarkan dengan berbagai sudut, Shirou, Naruto, Evelyn, Roland dan Evelyn.

Pesta besar akan segera dimulai, Naruto yang memutuskan untuk kembali memasuki dunia supranatural telah menyebarkan Spy miliknya yang telah ia cuci otaknya dan ia jadikan bawahannya, sebagai Shinobi yang dijuluki The Most Strongest Kage itu adalah Shinobi yang selalu menyiadakan payung sebelum hujan, dia mengumpulkan data dari musuhnya, menyusun strategi yang mata dan akhirnya menyerang musuhnya.

Lalu, disini alasan kenapa Evelyn (Referensi Karakter: Eleonora Viltaria). Dia adalah Iblis yang terpanggil dari ritual pemanggilan iblis(Summoning), Iblis kelas Trancendetal Being yang bisa dibilang Irreguler ini seharusnya bukanlah iblis yang bisa dipanggil dengan mudah sebab kekuatan yang dimiliki sangat besar sehingga kemungkinan Evelyn terpanggil itu hampir mustahil... Namun, para kakek tua yang dicap pengkhianat itu berhasil untuk memanggil dan membayar biaya yang tak sedikit untuk mengikat kontrak dengan Evelyn.

Fumu, dan disini masa lalu peringkat kedua dan ketiga Prajurit terkuat gereja sudah kugambarkan secara padat dan singkat, semoga kalian memahami latar belakang dari Roland dan Oliver ini, jika tidak, ya sudahlah~

Fumu, Fumu... Benang sudah disebar, tinggal menarik simpulnya dan Viola, Arc Heaven selesai, dan sesuai janjiku Sequel The Worst One, The Another One, akan direlease... Ya tunggu aja sih, sempga bisa cepet release...

Nah, aku rasa cukup sekian, sampai jumpa dilain waktu, entah itu dific [The Adventure] yang sudah korosi atau [The Noble of Trouble Maker] yang sedang membaranya? Hm? Entahlah~ ufufufu... Nah sampai jumpa semua... Jaa ne!

Chronos Rose, Out!