Speed of Destiny: Side Story

Naruto © Masahi Kishimoto

Initial D © Shuichi Shigeno

Genre: General

Warning : OOC, Typo dan Fiktif.

.

.

.

"Project D? Apa itu? Aku belum pernah mendengar." Tanya seorang pemuda melalui telepon. Sebuah ponsel hitam menempel di antara telinga kanan dengan bahu sementara kedua tangannya sedang bekerja menata lembaran tugas. Dua temannya diabaikan saja meski tampak mondar-mandir penasaran ingin mencuri dengar. Manik birunya mengabaikan.

"Project D adalah tim khusus yang dibuat oleh Ryosuke Takahashi untuk bertanding di luar wilayahnya. Mereka menantang banyak lawan melalui internet lalu mereka mengupload hasilnya via online."

"Oh." Jawab si pirang pendek sementara kedua mata safirnya masih sibuk meneliti lembaran tugas yang harus terkumpul besok. Seberapapun tertariknya terhadap topik pembicaraan penelepon pikirannya sulit lepas dari tugas dari dosennya. Faktor pertama, tugas harus dikumpulkan besok jadi waktu sudah terbilang mepet jika menengok pada jam yang menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Kedua, dosen pengampu mata kuliah ini terkenal perfect jadi mau tidak mau harus sempurna jika tidak ingin membuat revisi. Baginya merevisi tugas itu lebih menyebalkan daripada kalah balapan.

"Kau mendengarkan tidak Naruto?"

Pemuda yang dipanggil namanya tersentak. Urat nadinya tiba-tiba muncul karena panggilan tadi. Kalau bukan si penelpon adalah sepupunya sendiri dia tidak akan mau mengangkat. Apa tidak tahu jika Naruto sedang sangat super sibuk dan bawaannya sekarang ini ingin menelan orang hidup-hidup.

"Cerewet! Aku dengar! Lalu apa hubungannya? Lagipula Ryosuke Takahashi itu siapa?" Nadanya setengah berteriak pada Menma. Bersamaan dengan itu bola matanya hampir copot ketika pada selembar tugas menemukan kesalahan sepele tapi fatal. Dia salah mencantumkan hari dan tanggal. Hal remeh tapi membuatnya bosan bila mengedit walau tidak sampai satu menit.

"Ini yang aku bicarakan padamu, mereka menantang Akatsuki. Ryosuke Takahashi, dia itu pembalap jalanan yang sudah terkenal. Entahlah aku juga tidak begitu tahu karena selama ini kami berada di wilayah berbeda dan tidak pernah bersentuhan."

"Itu sudah bisa ditebak! Akatsuki terkenal, apa anehnya ditantang. Oi-Sora pinjam laptopmu sebentar untuk mengedit!" Panggilnya pada rekan satu rumah sewaan sekaligus satu jurusan. Tentu teriakan itu didengar oleh Menma sang sepupu. Jauh di tempat sana, sepupu uzumaki menghela nafas karena mendapati fakta mereka sama-sama sibuk. Urusan kuliah yang tidak bisa ditunda.

Naruto sebentar lagi harus magang sebagai dokter muda dan akan sulit mengatur waktu.

"Ck, Akatsuki terkenal akupun tahu. Ini permintaan Pein, dia memanggilmu untuk datang. Tampaknya dia sangat tertarik dengan tantangan ini."

"Katakan padanya, aku sibuk. Tidak punya waktu." Naruto menjawab ketus. Sora dan Hidate yang ada didekatnya berjengit ngeri. Nadanya final menolak, mirip ibu-ibu sedang marah yang galaknya minta ampun. Semisal ada panci penggorengan pasti sudah melayang dari tadi.

"Ck, kau tidak bisa menolak. Mobilku kau bawa, baka. Pein masih mempertimbangkan untuk setuju atau tidak. Bila kukatakan ini pasti kau tertarik, Pembalap Project D bukanlah orang sembarangan. Setan (Pein) itu sudah cari tahu seluk beluk mereka dan mungkin setara untuk jadi lawan." Mobil kesayangan Menma memang sekarang sedang dibawa oleh Naruto karena ibu Menma ingin sang anak fokus pada studinya.

"Tunggu? Yang ditantang cuma Akatsuki bego!" Alis si pirang bertaut. Sedetik bulu kuduknya meremang jika ingat hal apa yang dilakukan kepala jeruk ketua Akatsuki pada mereka semua di Suna. Diseret-seret menangkap penjahat berkedok geng motor.

"Memang, Akatsukilah penguasa empat wilayah tapi kau salah satu yang setara dengan kami. Ini bukan cuma harga diri Akatsuki tapi menyangkut nama empat wilayah."

"Kenapa aku juga diseret-seret, apa Akatsuki sudah kehilangan nyali? Kalian masih bisa lemparkan pada kelompok lain bukan? Lagipula kemampuanku pasti sekarang menumpul." Pria pirang kini sedang sibuk mengedit dokumen yang salah. Bibirnya bahkan sudah manyun-manyun karena gemas tidak teliti.

"Hah, maka dari itu butuh beberapa saran dari kelompok lain. Kau tahu sendirilah watak Pein, walau sekarang hal balap bukan prioritas utama dia masih akan senang hati bermain jika membuatnya tertarik."

Sekarang Naruto garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Setan satu itu jika sudah punya mau selalu tahu cara untuk mendapatkan keinginannya. Terserah! Tapi jangan terlalu berharap aku datang karena belakangan ini sangat sibuk. Kau sendiri saja masih sibuk dengan study magistermu, bukan?"

Naruto berkata jujur, dia mahasiswa kedokteran yang segera memasuki tahun ke empat dan sebentar lagi dia akan Bed Side Learning (BSL) yang artinya dia akan segera belajar di rumah sakit. Biasanya BSL akan dilakukan di rumah sakit pendidikan universitas tapi Naruto tidak akan menjalaninya layaknya mahasiswa lain. Karena prestasinya dia akan dikirim ke salah satu Rumah Sakit Pendidikan terbaik. Dia tidak hanya akan menjalani BSL di semua bagian penyakit dalam (naika) tapi dia juga akan diberi kesempatan mempelajari teknologi yang menjadi spesialisasi unggulan rumah sakit tersebut selama satu tahun.

"Begitulah. Bahkan sekarang aku juga sedang mengerjakan tugas!" Pernyataan garing milik Menma terdengar menggelikan bagi sepupunya. Sudah tahu sibuk, kenapa masih juga mau ikut-ikutan? Cari perkara saja.

"Pffft…kau mengerjakan tugas? Dunia pasti kiamat!"

Tut! Tut! Tut!

Dan salah satu kebiasaan buruk Naruto muncul lagi, mematikan telephone seenaknya.

.

.

Toko Tahu Fujiwara

Fajar belumlah menyingsing, matahari bahkan belum mau menampakkan cahayanya. Langit di atas wilayah Gunma tepatnya di pusat perdagangan Tamada masih gelap tanpa ada aktivitas berarti yang dilakukan oleh para penduduknya. Jalanan masih sepi tapi di pagi buta semacam ini tetap saja ada yang sudah memulai kegiatan rutin mereka.

"Aku sudah selesai mengantar." Ucap seorang pemuda bersurai coklat begitu memasuki sebuah toko bertuliskan Toko Tahu Fujiwara. Suasana terang dari lampu langsung menyambutnya begitu dia menapakkan kaki di dalam.

"Ah, terimakasih." Pemuda bersweater itu diam sejenak saat mendapati ayahnya tengah merendam tahu. Dia ingin menyampaikan sesuatu.

"Ayah, besok aku akan mengantar dagangan lagi." Katanya pada sang ayah yang setia selalu dengan rokoknya. Asap putih mengepul dari sebatang rokok yang sedang dihisap. Sejurus kemudian pria tua itu berpaling pada sang anak.

"Kenapa? Bukankah kau yang meminta untuk bergantian setiap hari?" Bunta, panggilan pria itu. Menatap penuh keheranan pada putranya yang bersikap aneh.

"Memang, tapi sepertinya minggu depan tim akan melakukan ekspedisi lagi. Jadi, aku akan mengantar setiap hari sampai hari itu tiba." Ucap pemuda bernama Takumi tanpa ekspresi berlebih. Dia bukanlah tipe orang yang ekspresif tapi bukan pula tipe orang yang dingin. Fujiawara Takumi, seorang pemuda yang tampak selalu lesu dengan pandangan sendu layaknya orang segan hidup. Itsuki, sahabatnya pernah mengatakan Takumi adalah pria yang suka melamun dan selalu tampak mengantuk.

"Baguslah kalau begitu. Tidak seperti kau yang dulu selalu mengeluh bila disuruh. Apa mengantar dagangan sekarang begitu menyenangkan bagimu?" Dulu sang putra melakukan tahu ke puncak Akina karena terpaksa. Awal masuk dunia balapan itupun juga terpaksa kalau bukan karena perjanjian hadiah bensin jika dapat memenangkan balapan.

"Sama sekali tidak menyenangkan. Hanya saja kalau aku tidak berlatih di Akina, nanti teknikku menumpul. Jika tim sudah berada di atas jalan, kami balapan di daerah asing, bukan? Balapan di daerah asing benar-benar harus mengerahkan seluruh kemampuan yang kupunya dan aku tidak bisa berpikir apapun selain itu. Ini pertama kalinya aku memikirkan hal seperti ini tapi, begitu mengelilingi Akina menjadi sangat menenangkan dan menyadari banyak hal. Bukan berarti aku sudah menguasai cara mengemudikan mobil. Tapi kalau aku dapat hal baru, akan kucoba di Akina dulu atau tidak akan ada gunanya."

Menjelaskan alasannya pada sang ayah, Takumi kemudian segera berjalan ke ambang ruangan. Melepas sepatu warna putih bergaris birunya, dia segera menginjakkan kaki ke dalam.

Hening. Bunta, ayahnya tidak berkomentar lagi.

"Itu alasanku, aku tidak bilang setiap hari tapi sebanyak mungkin, aku akan melakukan tugas mengantar pagi hari."

Bunta makin termenung, mendengar kalimat itu. Pria bersweater hijau seakan baru menyadari suatu hal atau memang luput dari perhatiannya. Baru kali ini Bunta merasa anaknya memulai memikirkan pentingnya mengenal tempat sendiri sebagai kandangnya. Wilayah sendiri memang menjadi tempat terbaik untuk menempa diri.

Takumi anaknya, sudahlah bukan Takumi yang dulu, bukan lagi pemuda yang tidak mengerti apa menariknya beradu kecepatan dengan mobil. Sang ayah memahami jika dalam pikiran pemuda itu sekarang adalah bagaimana cara mengeluarkan skill terbaik yang dia miliki.

Itu lebih bagus daripada orang yang menyianyiakan bakat.

Bukankah begitu?

.

.

.

"Selamat datang!" Teriakan sambutan menggema di sebuah tempat pengisian bahan bakar di daerah Gunma. Dua pria berseragam hijau muda dan hijau tua bertulis GS memasang wajah ramah namun berubah saat mendapati sebuah mobil AE 86 berhenti tepat di depan mereka. Sebuah mobil tua keluaran salah satu pabrik ternama berwarna hitam dan putih.

"Itu?" Seorang pria muda bergumam. Dia Itsuki Tachibana seorang pemuda penuh semangat.

Tepat di belakang dua petugas muncul pria tua yang jadi manajer tempat dua orang itu bekerja, Yuichi Tachibana. Dia pria tua muncul tepat saat seorang pemuda bersurai coklat muda turun dari mobil.

"Takumi?" Sang manajer tampak begitu senang.

"Tak biasanya melihatmu sepagi ini." Pria petugas lain menanggapi. Dia adalah Koichiro Iketani, seorang pemuda sekaligus pemimpin tim balap bernama Speed Star dari Akina.

"Aku hari ini libur," jawab pemuda yang notabene bekerja di tempat itu. Pemuda sembilan belas tahun memang tampak begitu berbeda tanpa seragamnya, dia terlihat santai dengan kaus bergaris putih abu-abu yang dibalut jaket merah.

"Anak muda sepertimu tidak ada kerjaan di hari libur? Itu masalah besar! Bagaimana pacarmu?" Sindir Manajer pombensin pada sang pemuda. Pria tua tidak bermaksud sinis tapi itu candaan yang berbuah respon datar dari Takumi. Benar-benar sang pemuda ini tidak mengerti selera humor. Apalagi menyinggung masalah pacar. Jangan ditanya!

Datar

"Kau dapat kabar dari Natsuki?" Iketani ikut-ikutan bertanya.

Wajah Takumi masih datar untuk membicarakan seorang gadis yang dekat dengannya. "Sejak April, aku dapat surat darinya satu kali. Dari tulisannya, dia tampak menikmati kehidupannya. Sepertinya dia juga sudah biasa hidup di Tokyo dan akan baik-baik saja."

"Kau seharusnya menemui sekali-kali," saran Iketani pada rekan mudanya.

"Tidak, jangan! Kalau senpai bilang begitu, Takumi akan benar-benar kesana!" Itsuki panik sendiri. Pasalnya dia tahu sebagai sahabat Takumi cukup bodoh urusan cinta.

"Aku tidak akan pergi. Aku sibuk dan tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu."

"A-apa?" Rahang Itsuki hampir jatuh mendengar pernyataan temannya. Sekali lagi tanggapan datar itu membuat tiga orang terkejut. Sebegitukah tidak pedulinya Takumi terhadap gadis bernama Natsuki?

"Urusan pekerjaan dan tim sudah membuatku kerepotan. Aku tidak ingin memikirkan hal lainnya."

Itsuki dan Iketani terpaku dan hampir tidak percaya. Untuk memikirkan seorang gadis membuat Takumi kerepotan, sungguh untuk ukuran pemuda di akhir remaja adalah hal aneh. Fujiwara Takumi yang mereka kenal telah berubah banyak, terlebih lagi pandangan dunia balap mobil jalanan. Tampaknya balapan adalah nyawa Takumi sekarang. Dia berani mengesampingkan segala seluruh urusan asmara untuk fokus memenangkan balapan. Benar-benar pembalap sejati.

"Begitu? Baiklah kalau berkata demikian. Tapi kalau kau jadi kembaran Kenji, jangan menangis padaku!" Sentak Iketani agak keras. Bagaimana bisa dia mengabaikan seorang gadis! Itu adalah tindakan menyia-nyiakan anugrah.

"Benar! Dia sudah tua tapi masih jomblo!" Ucap Itsuki untuk mendukung rekannya yang lebih tua.

Iketani maju satu langkah untuk mendekati Takumi yang ada di sisi lain dari mobil AE 86. "Perasaan kesepian akan menghantuimu. Apa kau tidak memikirkannya?"

"Aku tidak mau dengar itu dari kalian berdua!" Panjang umur sekali. Seorang pria berambut hitam berteriak marah hingga mengalihkan perhatian mereka semua. Dia tampak sangar dengan tangan berkacak pinggang terutama pada Iketani dan Itsuki yang membicarakannya barusan.

Keduanya terlonjak kaget.

"Kenji!" Panggil keduanya bersamaan. Sangat tidak menyangka pria itu tiba-tiba hadir. Pasti mereka akan mendapat masalah setelah ini.

"Maaf aku memang jomblo tapi aku tidak butuh pacar!" Ucapnya sinis. Reflek Itsuki ditarik Iketani untuk menjauh, akan jadi masalah besar jika mereka ribut.

"Dasar!" Gerutu pria lajang bernama Kenji. Dia lalu mengalihkan pandangan pada Fujiwara muda di dekatnya.

"Takumi, aku sudah dengar banyak kabar. Project D memang hebat! Aku sudah melihat file ekspedisi yang baru. Aku takjub, sungguh!" Puji Kenji pada Takumi.

Pemuda dihadapannya sungguh hebat, di usia mudanya dia memiliki skill menakjubkan. Sulit dipercaya, dia yang berusia jauh di atasnya tapi tertinggal jauh. Menurut cerita Iketani, dulu pemuda ini bahkan tidak tahu jika mobilnya jenis AE 86 dan dengan polos menyebut mobilnya jenis Trueno gara-gara tulisan itu menempel di mobil. Bagaimana bisa sekarang berkembang sejauh ini?

"Sekarang, Takumi dan Keisuke Takahashi adalah dua bintang Gunma!" Tiba-tiba Itsuki sudah mendekat. Kalau sudah menyangkut balap mobil keduanya tidak bisa tidak ikut campur.

"Benar, kalian berdua sangat berbakat, tidak peduli kemana kau pergi tidak ada yang mampu menghentikanmu!" Iketani menambahkan.

Sang pengemudi AE 86 menggeleng lemah karena merasa tidak sependapat. Wajahnya berubah murung. "Tidak begitu, memetik kemenangan tidak mudah. Selalu saja ada kesulitan di saat balapan dan tidak ada yang tahu lawan kuat seperti apa yang akan muncul berikutnya. Aku sekarang benar-benar tertekan."

Tekanan yang dirasakan terasa semakin berat baginya dan hal inilah yang menuntutnya fokus untuk menghadapi setiap musuh. Perasaan ini benar-benar baru baginya. Dalam lubuk hati paling dalam ada tekad untuk mengerahkan segala potensi untuk meraih kemenangan. Takumi benar-benar memikirkan cara menambah kecepatan dengan meningkatkan skillnya. Lawan semakin sulit dan jiwanya semakin tertekan karena merasa tekniknya masih belum berkembang untuk mengimbangi musuh.

"Lalu siapa lawan berikutnya? Apa sudah diputuskan?" Kenji hanya bisa prihatin. Pasti sangat sulit berada di posisi Takumi sekarang. Menyandang pembalap utama dari Project D pastilah jadi beban tersendiri.

"Ya, sepertinya Toudou, Sekolah Toudou."

"Apa? Sekolah Toudou?" Yuichi Tachibana selaku manajer jadi orang yang pertama terkejut. Dilihat dari ekspresi pria tua itu sepertinya bukan pertanda baik.

"Apa kau tahu bos?" Tanya Iketani penasaran.

"Ya aku dengar kabar. Seorang mantan pembalap reli beralih profesi jadi manager toko dan mulai mendirikan sekolah mengemudi tingkat tinggi yang sudah menarik minat pembalap muda," ucap sang manajer untuk memberi penjelasan.

"Sekolah mengemudi tingkat tinggi? Apa benar ada yang seperti itu?" Itsuki setengah mati penasaran mendengar tentang sekolah Toudou. Pemilik AE 85 sedikit menyangsikan adanya sekolah macam demikian.

"Ya, dan teknik drifting mereka yang terkenal akhir-akhir ini. Mereka adalah pembalap yang bernyali besar dan terfokus pada kecepatan. Mereka yang lulus dari sekolah itu akan jadi pembalap pro dan tampaknya beberapa tim semi pro mulai menjamur di dunia balap jalanan."

Penjelasan yang mencengangkan. Itu artinya lawan yang akan Takumi hadapi bukanlah lawan sembarangan. Jika sekolah Toudou sehebat itu artinya tidak akan mudah untuk memperoleh kemenangan melawan pembalap dari sekolah itu.

"Ka-kau akan balapan melawan mereka Takumi?" Itsuki mengarahkan pertanyaan itu pada sahabatnya. Takumi terdiam, dia merenungkan lawan seperti apa sekolah Toudou ini. Lawan sudah tentu memiliki skill mumpuni untuk dilawan. Apa yang harus dia lakukan untuk meningkatkan kemampuan dirinya? Dia benar-benar bingung.

Lamunan Takumi segera terpecah saat ada mobil lain datang ke tempat mereka. Dua rekannya segera beranjak dari tempatnya untuk menyambut pelanggan yang baru saja datang.

Sebuah mobil Subaru Impreza WRX modif berwarna hitam dengan aksen api merah meluncur pelan untuk mengisi bahan bakar. Sontak sang manajer, Kenji dan Takumi melihat lekat-lekat mobil yang memiliki tampilan cukup mencolok untuk digunakan untuk penduduk biasa. Aksen api merah di atas hitam mengkilap seperti memberikan simbol keberanian pengendaranya.

Sulit tidak curiga jika sang pengemudi bukan pembalap.

"Namikaze-san?" Panggil Iketani dengan suara mengisyaratkan keterkejutan.

Pemilik safire biru berkedip-kedip bingung. Memori sang pengemudi merasa belum pernah bertemu dengan pemuda satu ini?

"Bagaimana anda tahu namaku?" Tanya sang pemuda bingung.

.

.

.

"Jadi anda putra Namikaze-san?" Pria bersurai pirang mengangguk ramah. Dia tertawa singkat ketika ketua dari Speed Star salah mengenalinya sebagai sang ayah, Minato Namikaze.

Setelah mengisi bahan bakar secara penuh dia kemudian menepikan mobil untuk berbincang sejenak pada pemuda bernama Koichiro Iketani yang ternyata sempat di tolong sang ayah ketika dirinya kecelakaan. Sebenarnya bukan tanpa sebab juga dia menepikan mobil sejenak, dia ingin bertanya alamat. Alasan klasik, dia tersesat. Baterai smartphone miliknya habis, sialnya charger dan pengisi dayanya tertinggal di hotel.

"Ya. Aku Namikaze Naruto, kau bisa memanggilku Naruto. Senang bertemu kalian," Jawab Naruto untuk merespon pertanyaan Iketani.

"Senang bertemu anda juga Naruto-san, perkenalkan ini Fujiwara Takumi," pemuda bersurai coklat mengangguk sopan.

" Ini Itsuki Tachibana, itu Kenji dan dia manajer kami Yuichi Tachibana." Iketani menunjuk satu-satu orang yang ada di sana untuk diperkenalkan pada pemuda bersurai pirang. Dilihat dari penampilannya Iketani menduga pirang di depannya hanya terpaut beberapa tahun lebih tua dari Takumi dan Itsuki.

Sama seperti yang lain, Iketani juga tidak bisa begitu saja meninggalkan rasa curiga melihat putra dokter Minato Namikaze mengemudikan mobil jenis demikian. Sebuah mobil yang cocok digunakan untuk melakukan drift. Lantas apa yang dia lakukan disini? Mungkinkah dia juga salah satu pembalap yang ingin menaklukan Akina?

"Oh, ya. Apa kalian penduduk asli di sini? Bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Empat orang disana menegang. Mereka sudah menduga tidak mungkin Namikaze muda mau menepikan mobilnya tanpa sebab. Jika dugaan mereka benar tentang Naruto, maka mereka bisa menebak kemana arah pembicaraan ini. Kemungkinan besar dia akan meminta informasi tentang pengemudi AE 86 untuk melakukan tantangan.

"Te-tentu! Apa yang ingin kau tanyakan?"

Iris safire Naruto menangkap adanya ketegangan di wajah mereka yang datang tanpa sebab. Mengherankan baginya, dia jelas tidak mirip Pein atau Menma yang suka mendetensi orang. Tatapan itu sungguh membuatnya tidak nyaman. Apakah ada yang salah dengannya?

"Apa kalian tahu daerah lereng Akina?" Sang pemuda bertanya agak hati-hati.

"Kenapa kau bertanya tentang Akina, Naruto?" Itsuki tidak bisa menahan rasa penasaran. Itsuki menduga pemuda pirang dengan mobil keren di depannya sudah pasti pembalap yang ingin menantang Takumi yang namanya telah banyak dikenal orang. Itsuki melirik-lirik sahabatnya. Seperti kebiasaan putra Bunta akan pura-pura tidak tahu jika memang benar Naruto akan bertanya tentang pengemudi AE 86.

"Aku tersesat. Aku sedang mencari jalan ke hotel yang ada di danau Gunung Akina. Apa kalian tahu tempatnya?"

"Ya kami tahu, jika boleh bertanya ada urusan apa kau ingin kesana." Iketani sudah mirip polisi saja, nadanya mirip orang yang sedang menginterogasi penjahat.

Naruto tanpa ragu mengeluarkan surat tugasnya yang dia simpan di mobil.

"Aku mendapat tugas dari kampus untuk mengikuti seminar yang diadakan di aula hotel besok dan satu bulan lagi aku akan melakukan BSL di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Gunma, jadi aku berkeliling-keliling untuk mencari letak rumah sakit tapi kemudian tersesat. Aku lupa jalan ke hotel," ucapnya malu-malu.

Empat orang dibuat tercengang bukan main. Bukan karena terpuaskan rasa ingin tahu tentang Naruto tapi mendengar Rumah Sakit Pendidikan Universitas Gunma, jelas membuat mereka takjub. Tempat yang dituju Naruto adalah sebuah rumah sakit yang memiliki fasilitas heavy metal ion (carbon ion) yang merupakan teknologi paling modern dalam pengobatan kanker. Fasilitas ini hanya tersedia di 5 tempat di dunia.

Pastilah Naruto calon dokter yang berbakat!

"Hebat! Kau pasti calon dokter yang hebat Naruto!" Baru kali ini Itsuki bisa takjub selain hal terkait balapan mobil.

Wajah Namikaze muda bersemu merah, malu karena dipuji. Biasanya dia dipanggil dobe oleh sahabatnya. Hampir semua orang juga meragukannya dia mampu berprestasi dalam urusan akademik. Dia merasa otaknya berada di jalur yang benar kali ini dan merasa tidak cuma akan bekerja cepat saat melihat teknik balapan mobil. Pujian itu jujur membuat Naruto sangat senang.

Akhirnya! Ada yang memuji kinerja otaknya yang selama ini dianggap tumpul!

Pembicaraan berlangsung hangat dan akrab dan terjadi cukup lama. Memang dasarnya Naruto mudah akrab dengan orang lain jadi dia bisa berinteraksi dengan mudah bahkan pada Takumi yang tipe pendiam pada orang baru. Dia juga mendapat rekomendasi tempat yang bisa disewa untuk sementara waktu selama di Gunma. Akhirnya Naruto diantarkan oleh Takumi menuju hotel mengingat pemuda bersurai coklat jadi satu-satunya orang yang tidak memiliki kegiatan. Kenji tidak bisa membantu karena masih ada urusan. Naruto mengucapkan banyak terimakasih pada pemuda yang lebih muda tiga tahun darinya.

"Senang bisa membantumu, kau bisa menghubungiku atau teman-temanku jika mengalami kesulitan." Takumi cukup nyaman dengan kepribadian Naruto yang cenderung mirip Itsuki dalam beberapa hal. Sama-sama ekspresif namun Naruto lebih bisa mengendalikan emosinya dibanding sang sahabat.

"Baiklah, kuterima tawaranmu. Kurasa aku akan merepotkan kalian beberapa waktu kedepan," ucapnya riang di akhiri senyum lebar. Takumi masih aneh mendapati senyum sehangat mentari bisa terukir di wajah seorang pria. Aneh saja, hampir semua temannya berwajah serius. Mungkin terlalu lama dekat-dekat dengan Takahashi bersaudara membuatnya jadi lupa jika manusia macam Itsuki dan Naruto masih banyak bertebaran di muka bumi.

.

.

.

Berbalik tidak nyaman, Naruto kemudian terduduk di tempat tidur. Tanpa menyingkirkan selimut warna merah marun yang masih membalut sebagian tubuh, dia mengambil smartphone yang terletak di meja kecil di dekat lampu tidur. Membuka layar dia mendapati waktu masih menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Dari jendela yang tirainya tidak tertutup visinya mendapati bulan masih menggantung di langit, itu artinya hari juga masih sangat gelap.

Ekspresinya berubah bosan saat mengetahui waktu masih sangat pagi dan dia sudah tidak bisa tidur. Betapapun nyamannya ruang hotel ini tidak lantas menghantarkannya kembali ke alam mimpi. Mungkin sudah hampir setengah jam dia mencoba tidur sebelum akhirnya hanya bisa berguling ke kanan-kiri tidak jelas.

"Aku bosan," gumamnya pelan. Putra semata wayang Namikaze akhirnya melamun lagi sampai dia tertarik pada benda tipis di meja.

Sebuah kunci mobil dan dia dapat ide untuk memecah kebosanan.

Segera dia beranjak dari tempat tidur. Dia sedikit berlari menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Dari kamar mandi dia segera berganti pakaian. Pilihannya jatuh pada kaos putih dan celana jeans. Si pirang tidak lupa memakai jaket berwarna biru untuk melapisi kaos mengingat cuaca pagi cukup dingin di gunung Akina.

Kita lihat apa dia bisa bersenang-senang dengan mobil sepupunya itu.

.

.

.

Sebuah mobil subaru impreza WRX modif berwarna hitam dengan aksen api merah melaju dengan kecepatan tinggi di gunung Akina. Mobil hitam itu menikung bagaikan kuas disetiap tikungan yang tersorot lampu jalanan. Gerakan mobil hitam itu sungguh halus tanpa hilang keseimbangan ketika empat rodanya meluncur membelah aspal hitam di kegelapan malam.

"Belum," bisik Naruto pelan saat dirinya merasa tidak puas dengan kecepatan menikung yang dimiliki.

Ini kedua kalinya Naruto coba menaklukan turunan Akina yang terkenal curam dan banyak ditakuti orang-orang. Harus dia akui jalanan ini tidak mudah mengingat letaknya di lereng sebuah gunung. Lengah sedikit saja, akan sangat mungkin tergelincir dan menyebabkan kecelakaan. Anehnya, betapapun berbahaya tempat ini, dia mendengar dari Gaara lereng Akina masih jadi tempat favorit untuk balapan warga sekitar.

Bayangan dari karakteristik setiap tikungan mulai tergambar jelas dalam pikiran Naruto setelah untuk kedua kalinya coba memacu mobil untuk melintasi Akina yang tersohor.

Tangan Naruto menggengam stir erat begitu mendekati tikungan. Muda Namikaze menekan kopling lalu memindahkan ke gigi dua yang dilanjutkan dengan gerakan kaki menekan gas sampai sekitar 4000-5000 RPM. Tanpa keraguan dia melepas kopling untuk memperoleh putaran kuat pada ban dan seketika bagian belakang mobilnya melintir untuk mengikuti arah tikungan. Aksinya belum berhenti sampai disitu, selepas tikungan tangannya secara terampil mampu mengendalikan mobil untuk menuju ke jalur lurus tanpa hilang keseimbangan sedikitpun.

Mobil hitam meluncur kembali ke jalur lurus dengan kecepatan tinggi sebelum berjumpa dengan belokan lagi.

Adrenalinnya berpacu lebih kencang saat lampu mobil menyinari tikungan di depannya. Jantungnya berdesir pelan ketika mobil milik sang sepupu kembali berbelok dengan kecepatan tinggi dalam posisi drift empat roda di jalanan yang masih asing.

Nekat, gila atau tidak sadar?

Yang jelas si calon dokter begitu menikmati tindakannya melahap habis tikungan dengan kecepatan tinggi. Tindakan ini seperti jadi pelampiasan rasa tertekan karena sangat fokus terhadap studynya. Jika dia memacu mobil jadi sangat naluriah kenapa dalam hal akademik dia perlu kerja ekstra keras untuk mendapat nilai terbaik? Sang pemuda sendiri itu tidak habis pikir, kenapa otaknya lebih cepat berjalan untuk hal kebut-kebutan mobil daripada hal lain.

Mungkin hanya sifat paranoid sang pemuda yang bisa menyadarkannya sekarang. Sayangnya iris safire itu belum melihat spidometer kecepatan hingga masih terbawa suasana dengan kemampuan mobil. Memasuki tikungan berikutnya dia bermain-main kembali dengan memutar setir ke arah luar tikungan dan berlanjut dengan gerakan cepat memutar balik setir hingga bagian belakang mobil bergeser akibat perpindahan bobot kendaraan. Mobil warna hitam itu menikung mulus dengan gerakan anggun.

Bakat salah tempat.

Begitulah biasanya Naruto disindir akhir-akhir ini. Jika dia sedikit lebih memiliki tekad dan rutin mengasah kemampuan bukan hal mustahil dia jadi orang hebat dalam dunia balap mobil jalanan. Memang Naruto sudah jauh lebih terbuka dengan dunia balap mobil tapi dia juga mungkin satu-satunya orang yang masih bisa tidur nyenyak setelah kalah balapan. Dia hanya akan kecewa sesaat dan akan begitu mudah melupakan segala kekesalan saat kalah.

"Sepertinya tempat ini bagus untuk dikunjungi," kata Naruto pada dirinya sendiri. Subaru impreza WRX terus melaju di jalanan beraspal tanpa ada satupun mobil yang menginterupsi.

.

.

Sebuah putaran air dalam sebuah gelas bergoyang pelan mencapai puncak gelas sebelum kembali masuk dalam wadahnya tanpa menumpahkan setetespun dalam mobil. Air itu kembali tenang setelah sesaat bergejolak saat mobil berbelok. Pengemudi bersurai coklat sejenak melirik gelas berisi air disampingnya untuk memastikan tidak ada yang tumpah. Setetes saja air itu keluar dari gelasnya itu akan jadi masalah besar baginya karena stabilnya air dalam gelas jadi pertanda tahu yang diantarnya dalam keadaan baik-baik.

Menyusuri jalanan seperti sudah dilakukannya hampir selama tujuh tahun bahkan sebelum dia memiliki SIM. Salahkan saja sang ayah, Fujiwara Bunta yang telah memaksa Takumi secara halus menguasai teknik mengemudi demikian. Melakukan drift saja sudah sulit, apalagi harus menjaga kestabilan air dalam gelas tanpa tumpah. Sebuah karunia yang tidak semua orang bisa lakukan dan perlu sangat disyukuri.

Bersambung..

Holla, terimakasih sudah membaca. Aneh? Tidak logis atau bagaimana? Saya tahu agak janggal mungkin karena masalah tahun dan lain-lain. Yah, paling tidak di fanfiction jadi sarana menuangkan imajinasi meskipun aneh. #Jedukin kepala. Gara-gara dulu download animenya ide ini tiba-tiba muncul tapi baru terealisasi sekarang. Ini mungkin hanya 3-5 chapter karena rencananya one shoot dan alurnya tidak akan berat sampai menganggu setting Initial D. Naruto istilahnya hanya akan numpang lewat tapi tetap akan mendapat sesuatu yang bisa dipelajari. Mohon maaf bila banyak salah, silahkan berikan masukan dan saran.

Mind to Review?