DISCLAIMER
Nor even wish

Sir Arthur Conan Doyle
Steven Moffat & Mark Gatiss as a writer
©BBC

©LONGLIVE AUTHOR
Proudly present

SHERLOCK HOLMES : THE ARTIST

CHAPTER 1 : BAKER STREET


Timeline : 2 years and 3 Months after the Fallen of Sherlock Holmes

Tiga bulan setelah kembalinya Sherlock Holmes dari kematian. Hal itu mengejutkan semua orang di Britania Raya. Mungkin tidak hanya di Inggris namun di Negara manapun yang telah mengetahui bahwa dua tahun sebelumnya Sang Consulting Detective terkenal Sherlock Holmes melompat dari atap rumah sakit Barthholomew's yang menyebabkan berita kematiannya tersebar luas berikut dengan kabar bahwa dia adalah dalang dibalik semua kejahatan. Bahwa dia seorang detektif palsu yang hanya ingin mencapai popularitas.

Tapi tidak, ternyata semua itu salah. Itu adalah bagian dari rencana yang sangat luar biasa. Sebuah skenario yang sangat hebat. Memalsukan kematiannya untuk mengungkapkan kejahatan yang dilakukan Jim Moriarty. Butuh dua tahun untuk mengungkap semua jaringan kriminalnya dan butuh dua tahun pula Sherlock Holmes menghilang dari dunia. Hingga sebuah kabar menyebar luas seperti kobaran api bahwa Sherlock Holmes telah kembali dengan #Sherlockalives dimana-mana. Beberapa waktu lalu dia telah memecahkan kasus mengenai jaringan teroris yang akan meledakan parlemen dengan kereta bawah tanah yang dipenuhi dengan bom. Setelah itu dia resmi kembali ke hadapan publik dan siap kembali menerima berbagai kasus.

Kereta berisi bom adalah kasus terakhir yang menurutnya menarik. Sampai hari ini setiap hari dia terus mengeluh pada Jonh tentang betapa bosannya dia. Pagi itu mereka baru saja pulang dari pengejaran melelahkan di Winchester.

"… membosankan! Semakin hari orang-orang menjadi semaki idiot. Mereka tidak pernah bisa membuat kasus yang lebih menarik lagi." Keluh Sherlock seraya membanting pintu taksi.

"Apa yang kau harapkan? Pembunuhan luar biasa? Pembunuhan masal? Matinya seseorang menjadi kesenangan tersendiri bagimu." Balas Jonh.

"Tidak perlu itu, aku hanya menginginkan kasus yang lebih berkualitas. Kau sadar kan kalau kita baru saja dihajar oleh seorang pria cebol? Untung saja dia bisa dilumpuhkan."

Mereka memasuki flat mereka di 221B Baker Street. Sherlock melepaskan mantelnya, lalu tiba-tiba dia terdiam. Ia mencium aroma lain di dalam flatnya. Bukan aroma parfum bunga pemakaman milik Mrs. Hudson tentunya. Aroma segar seperti perpaduan antara vanilla dan rumput basah. Aroma seorang wanita—tidak! Aroma seorang gadis remaja, dan itu berasal dari lantai atas.

"Ada apa Sherlock?" Tanya Jonh.

"Ada seseorang diatas. Seorang gadis." Jawabnya.

"Apa maksudnya?" Jonh mulai berpikir kalau rekannya ini mulai sering memikirkan wanita sekarang ini. Bukannya buruk, itu hal yang bagus justru. Tapi memang sedikit aneh untuk orang semacam Sherlock jika melakukan hal yang orang biasa lakukan. Beberapa detik kemudian terdengar suara wanita yang semakin lama semakin dekat. Tentu saja yang satunya adalah Mrs. Hudson namun Sherlock belum tahu siapa yang satunya. Mereka sedang melangkah turun. Lalu benar saja Mrs. Hudson turun dengan seorang wanita muda. Seorang gadis yang cukup manis. Dia mempunyai rambut hitam panjang yang ia ikat. Ia memakai celana panjang hitam dan kemeja berwarna cokelat yang dibungkus dengan mantel berwarna hitam pula. Membawa sebuah ransel sekolah dan earphone yang masih tergantung disekitaran lehernya.

"Oh halo Sherlock, Jonh." Sapa Mrs. Hudson.

"Halo Mrs. Hudson." Balas Jonh singkat.

"Apa yang dilakukan seorang anak sekolah disini? Apa kau berniat menyewa tempat disini?" Tanya Sherlock dengan nada menyelidik. Ia memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah.

"Sopanlah sedikit Sherlock. Dia akan menjadi tetangga baru kalian. Namanya Madrie Moore. Dia seorang mahasiswi." Kata Mrs. Hudson.

"Madrie Moore." Gadis itu megulurkan tangannya hendak bersalaman. Tapi ia hanya dia masih memperhatikan gadis itu. Hingga akhirnya Jonh yang menjabat tanganya.

"Dr. Jonh Watson dan dia Sherlock Holmes. Kau kenal dia, kan?" Tanya Jonh.

"Ya, aku melihat kalian berdua beberapa kali di televisi." Hening kemudian, gadis itu berusaha agar tetap tersenyum. Sherlock memperhatikannnya begitu intens seperti hendak memakannya dan wajahnya terus mendekat.

"Dandananmu cukup rapi dan kau terus mempertahankan senyum mu itu meski kerutan dikeningmu mengatakan kalau kau sedang bingung karena aku terus memperhatikanmu. Bajumu baru saja di laudry tercium dari wanginya dan kau menggunakan sepatu baru. Apa hari ini hari istimewa? Ah—kau hendak ke gedung Pertunjukan London? Kau bermain musik disana rupanya? Tas mu sedikit terbuka, hati-hati jangan sampai kertas partitur mu terbang. Angin sedang kencang diluar. Aku yakin kau terpaksa menyewa ruangan lembab disebelah flat kami agar dekat dengan gedung pertunjukan London. Selain itu kau akan mendapatkan harga yang lebih murah karena ruangan itu sudah lama tidak digunakan. Harga menyenangkan untuk seorang mahasiswa." Sherlock mengakhiri pengamatannya. Gadis bernama Madrie itu mengerjapkan matanya sedikit kaget.

"Ya, kau betul." Ujar Madrie. Tiba-tiba Sherlock mengulurkan tangannya.

"Sherlock Holmes."

"Oh aku jadi ingat, aku sudah terlambat. Terima kasih sudah mengingatkan Mr. Holmes. Mrs. Hudson aku akan datang besok." Katanya sambil tersenyum

"Tenang sayang, kami akan merenovasi ruanganmu hari ini." Kata Mrs. Hudson.

"Baiklah aku berangkat dulu. Selamat pagi semuanya." Madrie berjalan keluar dari flat itu.

"Gadis manis, dia seperti udara segar ditengah kalian berdua. Sepertinya aku akan menyukainya." Kata Mrs. Hudson sambil berlalu.

"Hey, apa maksudnya itu Mrs. Hudson?" Teriak Sherlock.

"Apa kau perlu melakukan itu kepada seorang mahasiswi seperti dia?" Tanya Jonh ketika menaiki tangga.

"Aku hanya tidak tahan melakukannya. Dia tidak terlalu tertarik padaku." Jawab Sherlock jujur.

"What the—dasar tukang pamer!"

"Kuharap dia tidak begitu berisik."ujar Sherlock.

"Memangnya kenapa?"

"Apa kau tidak melihatnya Jonh? Dia bermain musik dan dia mahasiswa seni. Selain itu dia adalah seorang remaja. Aku akan sangat jengkel jika dia membawa teman-teman gadisnya kemari." Jelasnya. Jonh menggeleng, yang ada gadis itu yang akan jengkel bertetangga dengan mereka mengingat Sherlock Holmes bukanlah tetangga yang baik.

Keesokan sorenya Sherlock pulang dari Lab Barth's Hospital dan mendapati ruangan sebelah mereka kini sudah terisi. Jonh tidak ada di flatnya. Lalu ia menengok keadaan tetangga barunya. Ternyata Jonh dan Mrs. Hudson berada disana tengah membantu membereskan barang-barangnya. Ruangan itu tidak seluas flat yang di tempati Sherlock dan Jonh. Hanya ada ruang tengah yang cukup besar untuk ditinggali satu orang dan sebuah kamar dengan kamar mandi. Wallpapernya pun sudah diganti warna merah muda yang sedikit pucat dengan motif bunga-bunga kecil berwarna putih. Jendelanya dibuka lebar-lebar agar tidak pengap dan ruangan itu jauh lebih baik sejak terakhir Sherlock melihatnya. Beberpa perabot sudah di dipasang. Jam dinding, rak buku, Meja belajar berikut kursinya, dan yang terakhir sebuah sofa panjang. Selebihnya tinggal menempatkan barang-barang kecil. Namun hal yang menarik perhatian Sherlock selain kertas partitur yang berada di dekat jendela sama seperti dirinya. Ialah sebuah kotak biola yang yang disimpan disampingnya. Ia kira gadis bernama Madrie ini bermain piano, karena saat pertama kali mereka bertemu dia sedang mendengarkan instrmen piano dari earphone-nya.

"Tunggu, kau bermain biola?" tanya Sherlock tiba-tiba membuat semua orang yang berada diruangan itu menyadari keberadaannya.

"Ya ampun, bisakah kau mengetuk terlebih dahulu?" Ketus Jonh.

"Oh, selamat sore Mr. Holmes. Ya, aku bermain biola. Ada apa?" Jawab gadis itu.

"Bukankah kau bermain piano? Seharusnya kau bermain piano. Aku tidak mungkin salah." Katanya bersikeras. Karena Sherlock tidak suka kalau observasinya salah.

"Ya, aku juga bermain piano. Aku hanya bermain biola sebagai selingan. Tidak terlalu profesional." Jawabnya. Sherlock sedikit lega karena pengamatannya tidak salah.

"Dimana orang tuamu? Kenapa kau hanya sendiri?" Tanya Sherlock.

"Orang tuaku berada di Edinburgh. Mereka tidak bisa datang. Jadi aku melakukannya sendirian." Jawab Madrie.

"Apa masih ada yang bisa kami bantu Madrie?" Tanya Mrs. Hudson.

"Tidak perlu Mrs. Hudson, Dr. Watson. Terima kasih kalian sudah sangat membantu, tapi aku akan melakukannya sendiri sekarang. Tinggal melakukan beberapa pekerjaan mudah." Gadis itu tersenyum.

"Anything, Dear."

"Dan, terima kasih juga Mr. Holmes karena sudah mengamati ruangan ku." Sindirnya sangat halus sekali. Jonh dan Mrs. Hudson mendengus menahan tawa.

"Gadis ini manis sekali." Kata Mrs. Hudson gemas ketika mereka berangsur-angsur keluar. Sherlock dan Jonh kembali ke ruangannya.

Ruangan itu sangat berantakan tak ada bedanya dengan ruangan sebelah seperti tetangga mereka yang baru pindah. Jonh baru ingat kalau ia lupa membereskan flatnya sendiri dan dia malah membantu membereskan flat tetangganya. Sherlock mengamuk lagi, dia mengacak-ngacak semua perabotan untuk mencari persedian rokok yang disembunyikannya. Lihat apa yang bisa dilakukan Sherlock jika ia tidak ada. Beberapa waktu yang lalu ia sempat tinggal bersama Mary namun sejak Sherlock kembali ia putuskan untuk tinggal di Baker Street sampai pernikahannya nanti.

"Ada Jonh? Apa kau menikmatinya, membantu tetangga baru kita?" Tanya Sherlock yang sudah melepas mantelnya.

"Ya, aku cukup menikmatinya. Bertahun-tahun tinggal di flat ini bersamamu aku merasa ada kehidupan baru, membuat tempat ini jauh lebih manusiawi." Jawab Jonh jujur. Ia memperhatikan Sherlock.

"Kenapa? Kau merasa tersaingi?"

"Jagan konyol Jonh!"

"Lalu kenapa kau bertanya apa dia bermain biola atau tidak? Sudahlah jangan menyangkal, kau pasti merasa tersaingi karena ada pemain biola lain di flat ini."

"Baikah, kita lihat nanti permainan biola siapa yang lebih bagus."

Malam itu Sherlock tidur agak larut setelah membaca beberapa buku bacaan dan diam-diam membuka blognya Jonh. Tidak ada yang menarik, penyakit bosannya hampir saja kambuh lagi.

"It's Raining… It's Pouring…"

"Sherlock boring…Sherlock dying…"

"It's Raining… It's Pouring…"

"Sherlock boring…Sherlock dying…"

"Bagaimana bisa?"

"Permainan sudah dimulai Sherlock, dan tidak akan pernah berakhir."

"Moriarty?"

"Aku datang Sherlock!"

"Tidak."

"SHERLOCK!

TBC


A/N : Hallo Fellas, sudah lama sekali sejak terakhir saya mengujungi FFN. Finally, saya mucul dengan Fandom Sherlock Holmes. Bagi yang belum tahu, lebih tepatnya ini adalah Fandom Sherlock Holmes versi Tv series BBC yang modern. Kehidupan di Inggris pada saat ini dan Sherlock Holmes versi modern jauh lebih menyenangkan, karena taidak pernah kehilangan rasa klasiknya menurut saya. Readers bisa browsing. Senang sekali bisa kembali.

Well FF ini sebenarnya adalah trial, untuk pertama kalinya fandom dengan latar belakang dunia barat yang sesungguhnya. Biasanya saya membuat fandom Naruto yang lebih banyak pembaca, tapi saya berusaha keluar dari zona nyaman. Ini adalah FF Sherlock Holmes dengan sebuah alur kasus yang saya buat. Bukan side story, atau latar belakang, atau FF yang menampilkan sebuah setting khusu lainnya. Saya sedang membuat kasus sebelum berjalan lebih jauh dalam Fandom Sherlock Holmes. Hope you like it. Keep review, fav, and follow. Your Sincerely -Author