DISCLAIMER
Nor even wish

Sir Arthur Conan Doyle
Mark Gatiss & Steven Moffat as a writer
©BBC

©LONGLIVE AUTHOR
Proudly present

SHERLOCK HOLMES : THE ARTIST

CHAPTER 2

Sherlock terbangun dari tidur dengan keringat mengucur dari pelipisnya. Dia sangat lega karena itu hanya mimpi. Wajah Moriarty sudah sering menghantui dirinya, tapi kali ini sudah cukup keterlalulan hingga berani masuk kedalam mimpi sang detektif. Ia butuh nikotin. Dia benar-benar butuh itu. Otaknya jadi sering bekerja tanpa perintah. Sering tak terkendali. Halusinasi menjengkelkan. Cahaya masuk dari jendela kamarnya. Sherlock menoleh ke jam nya. Baru pukul setengah tujuh pagi. Masih sangat pagi, lalu ia mendengarkan dengan seksama. Masih sepi. Jonh pastilah masih tidur dan Mrs. Hudson tidak akan keluar sebelum jam tujuh. Dia butuh sebuah kasus hari ini, itu pun jika ada yang menarik. Jika tidak ada maka dia akan pergi Barth's Hospital untuk melakukan beberapa percobaan dengan tulang belakang.

"Membosankan." Ia membenamkan wajahnya ke bantal.

Tiba-tiba ia mendengar sayup suara gesekan biola. Sangat halus dan tidak terlalu kencang. Ia menduga kalau itu adalah tetangga baru mereka. Ini masih sangat pagi dan dia sudah bermain biola. Sebenarnya Sherlock tidak terganggu dengan itu. Lantunannya indah dan tidak begitu menganggu. Sherlock mulai menebak-nebak lagu apa yang diabawakannya. Lagu ini tidak bernada ceria dan juga tidak terlalu menyayat. Ia merasa cukup familiar dengan lagu ini. Ia pernah mendengar lagu ini sebelumnya. Tentu saja ini bukan lagu biasa yang sering terdengar di radio. Sherlock mencoba meningat-ingat. Satu detik kemudian dia membuka matanya. Ini adalah nada In my life, salah satu lagu dalam drama musikal klasik Les Miserables. Selera yang bagus dalam musik.

Gesekan biola itu hanya terdengar sebentar. Setengah jam kemudian mereka sudah siap beraktifitas. Jonh sedang berkutat dengan laptopnya sedangkan Sherlock masih bersiap siap.

"Selamat pagi anak-anak." Mrs. Hudson datang dengan senampan teko teh yang masih mengepul.

"Oh, halo Mrs. Hudson? Ada apa?" Tanya Jonh.

"Aku membawakan teh untuk kalian, tentu saja." Balasnya sambil meletakan nampan itu di meja sebelah kursi tempat biasa Jonh duduk.

"Kau sedang dalam suasana yang bagus Mrs. Hudson. Hmm..Ada tiga cangkir kosong disini. Apa kau berniat memberikan teh kepada tetangga baru kita?" Sherlock bergabung dengan mereka.

"Kau selalu tahu apa yang aku lakukan Sherlock." Ujar Mrs. Hudson.

Lalu terdengar suara hentakan sepatu boots yang terburu-buru, dari ruangan sebelah. Benar saja, Madrie Moore sudah bersiap untuk meninggalkan flat dengan mantel hitamnya. Dia mengikat rambutnya dan memakai syal dengan simpul yang mirip seperti simpul yang biasa digunakan Sherlock.

"Madrie, sayang. Tunggu sebentar, kau sepertinya sangat buru-buru." Teriak Mrs. Hudson ketika Madrie lewat pintu mereka.

"Mereka mengumumkannya tadi malam Mrs. Hudson, aku dipanggi untuk audisi di Royal Albert. Aku sangat senang sekali." Katanya.

"Setidaknya kemarilah, aku sudah membuatkan teh untuk mu." Kata Mrs. Hudson menuangkan tehnya kedalam cangkir.

"Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot Mrs. Hudson." Madrie masuk kedalam ruangan dan menerima teh dari Mrs. Hudson.

"Selamat pagi Dr. Watson, selamat pagi Mr. Holmes." Sapanya seraya menyeruput teh.

"Selamat pagi Ms. Moore." Balas Jonh.

"Madrie saja, please."

"Oke."

"Kau tampak lelah pagi ini, apa akau tidak tidur? Matamu sedikit merah dan menghitam disekelilingnya." Tanya Sherlock bahkan tanpa menoleh pada Madrie.

"Aku mendengar pengumuman itu dan aku tidak bisa tidur setelahnya, aku sangat senang dan juga gugup." Jelas Madrie.

"In my life dari Les Miserables. Huh?" Tanya Sherlock lagi.

"Oh maaf apa aku membangunkanmu?" Sherlock tidak menjawab sedangkan Jonh dan Mrs. Hudson tidak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan.

"Ya, aku sangat suka film nya dan cukup menyukai operanya juga. Bagian itu adalah bagian yang paling kusuka dalam film. Aku menghapal semua lagunya." Jelas Madrie. Hening kemudian.

"Aku rasa aku harus pergi sekarang. Mrs. Hudson terima kasih atas teh nya. Selamat pagi semua." Kemudian dia berlalu meninggalkan mereka.

"Sebaiknya aku juga pergi." Diikuti dengan Mrs. Hudson.

Sherlock terlihat masih bersantai dengan tehnya.

"Jadi kasus apa yang kita punya hari ini?" Tanya Sherlock.

"Tak ada, hanya kasus-kasus yang aku yakin kau akan menolaknya sebelum aku selesai membacakan kasusnya."

"Bagus, kalau begitu aku akan ke Barth's Hospital. Aku membutuhkan beberapa mayat untuk diuji coba." Adik dari Mycroft Holmes itu mengambil mantelnya dan berjalan keluar.

Barthholomew's Hospital adalah salah satu tempat yang paling sering Sherlock kunjungi di Inggris. Dia sering menghabiskan waktunya untuk melakukan berbagai percobaan kepada mayat ketika dia sedang tidak ada pekerjaan. Itu akan sulit jika tanpa bantuan seorang temannya meski Sherlock tidak pernah menyebutkannya. Molly Hooper. Dia adalah seorang perempuan manis yang juga seorang dokter ahli forensik yang diam-diam menaruh perhatian kepada Sherlock. Walaupun sebenarnya Sherlock jelas sudah mengetahuinya sejak pertama mereka bertemu. Pagi ini dia akan melakukan percobaan untuk menguji seberapa cepat pengeropsan tulang belakang.

"Molly, bisakah kau menuliskan ini untuk ku." Sherlock memberikan sebuah papan kepada Molly yang diterimanya dengan senang hati. Sedangkan ia sendiri masih berkutat dengan mikroskopnya.

"Jadi, tak ada kasus yang menarik hari ini? Sepertinya kau akan berlama-lama disini." Kata Molly sambil menuliskan beberapa catatan kecil.

"Tidak ada yang terlalu bagus. Apa kau tidak suka aku berada disini?" Tanya Sherlock tanpa menoleh. Molly sedikit kaget mendengar hal itu.

"Tidak, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku senang kau berada disini." Jawab Molly gelagapan.

"Tentu saja kau senang." Sherlock tersenyum tipis sekali hingga hanya orang yang benar-benar mengenalnya saja yang akan sadar kalau dia sedang tersenyum. "Beritahu aku Molly kenapa perempuan sering sekali melakakukan hal yang konyol?"

"Well, sebenarnya mereka tidak bermaksud seperti itu. Mereka sebenarnya hanya ingin menyampaikan hal lain, namun mereka sering bertindak lain. Perempuan sangat hebat dalam menyembunyikan sesuatu." Jelas Molly.

"Dan memberikan kode." Sherlock menambahkan. "Mereka selalu memberikan kode tapi tidak pernah ingin mengungkapkan yang sebenarnya. Konyol."

"Justru itu kehebatannya."

"Jadi Molly," Akhirnya Sherlock mengangkat kepalanya dari mikroskop. "Kurasa kau tidak ada acara sore ini. Jadi apakah kau mau…"

"Memecahkan sebuah kasus?" Tanya Molly.

"Makan malam?" Sherlock membuang napas lelah. Ia jadi teringat beberapa bulan yang lalu ketika dia sedang tak saling berbicara dengan Jonh. Ia mengajak Molly untuk memecahkan kasus bersama. Saat itu Molly kira Sherlock akan mengajakanya untuk makan malam. Sekarang mereka berada di situasi yang sama persis hanya saja mereka bertukar tempat.

"Ya ampun Molly, aku hendak mengajakmu makan malam." Katanya sebal.

"Untuk apa? Apa ada sesuatu yang istimewa?"

"Aku masih mempunyai hutang kepadamu Molly."

Jadi setelah melewati waktu yang canggung akhirnya di sore hari Sherlock dan Molly makan malam bersama di sebuah restoran kecil tak jauh dari rumah sakit.

"Kau tampak lebih santai akhir-akhir ini." Ujar Molly ditengah-tengah makan malam mereka.

"Tidak juga. Aku baru saja menemukan persediaan pribadiku yang disembunyikan oleh Jonh." Ia tersenyum nakal.

"Apa maksudmu persediaan pribadi?" Molly mengehentikan aktifitasnya.

"Rokok Molly. Jangan berpikir yang aneh-aneh." Molly tampak lega. "Bagaimana kau dengan Tom?" Tanya Sherlock. Mungkin Sherlock melihat perubahan ekspresi Molly ketika ia menanyakan Tom.

"Kami baik-baik saja. Kami semakin serius dalam hubungan kami…" Sementara Molly berceloteh tentang hubungannya dengan Tom. Sesuatu telah menarik perhatian Sherlock. Ia meihat keluar jendela dan mendapati seorang gadis berjalan di trotoar sendirian. Syal dan mantel yang familiar. Dia sadar sesuatu . Gadis itu adalah tetangga barunya. Gedung Royal Albert tak jauh dari sini. Dia baru saja pulang dari sana. Ia berjalan sedikit terburu-buru karena hari mulai gelap. Sesekali gadis itu menegadah ke atas melihat langit.

Gadis itu hampir sampai di rumahnya. Ia sangat lelah, seharian ia bermain piano. Tinggal dua pintu lagi menuju 221B. Tepat diseberang jalan ada sebuah bangku dan sebuah kotak surat disana. Lalu ada seorang pria yang duduk disana. Ia memakai kaca mata hitam. Madrie menyadari itu, perasaannya menajadi tidak enak. Seolah pria itu memperhatikannya dari balik kacamatanya. Akhirnya ia sampai di depan flatnya. Dengan segera dia mengambil kunci dan masuk kedalam.

"Ah Madrie. Kau sudah pulang?" Mrs. Hudson menyambutnya begitu ia masuk.

"Ya, Mrs. Hudson. Hari ini luar biasa." Katanya berseri.

"Kenapa nak? Kau sedikit pucat." Tanya Mrs. Hudson.

"Pertama, ada seorang pria diseberang aku jadi sedikit takut. Apa Mr. Holmes dan Dr. Watson selalu bertemu dengan orang-orang menyeramkan seperti itu?" Tanya Madrie sedikit berbisik.

"Yah, bahkan lebih buruk Madrie. Sepertinya kau belum terbiasa tinggal disini ya? Tenang saja, Sherlock dan Jonh adalah orang yang selalu waspada. Dia akan tahu kalau ada sesuatu yang janggal." Jelas Mrs. Hudson, Madrie tersenyum.

"Dan yang kedua aku kelaparan. Apa kau sedang membuat kue?" Madrie melihat noda adonan yang menempel ditangan Mrs. Hudson. " Biar kubantu Mrs. Hudson. Aku mengharapkan bisa mencicipi kuenya saat baru matang."

"Baiklah, lepas dulu mantel mu."

Setelah makan malam bersama Molly, Sherlock langsung kembali ke Baker Street. Tanpa tunggu lama ia langsung naik ke atas dan menemukan Jonh sedang mengintip keluar jendela.

"Sepertinya Mrs. Hudson sangat senang dengan tetangga baru kita. Mereka sedang membuat kue bersama dibawah. Padahal aku melihatnya berjalan pulang dengan terburu-buru tadi. Ku kira dia sedang lelah. Tipe orang yang suka mencari muka." Jelas Sherlock. "Apa yang kau lakukan Jonh?"

"Aku sedang mengintip pria itu." Jawabnya.

"Mengintip pria?"

"Tidak seperti itu Sherlock! Lihat ada seorang pria diseberang, sejak tadi dia duduk diam disana tidak melakukan apapun."

Sherlock mengahampirinya dan ikut mengintip dari balik jendela.

"Apa kau pikir dia sedang mengawasi kita?" Tanya Jonh dengan nada cemas.

"Kita lihat saja Jonh. Jika ada pergerakan kita akan tahu." Ia tidak terlalu menghiraukan pria itu.

Sherlock melempar jas nya sembarangan. Ia harus bersiap-siap jika memang ada seseorang yang mengincarnya kembali. Terakhir kali itu terjadi adalah ketika kasus terakhirnya yang berhubungan dengan Moriarty. Moriarty menjebaknya dan dengan permainannya yang cerdik ia membuat Sherlock menjadi tersangka atas penculikan dua anak dari Duta Besar Amerika. Empat pembunuh bayaran yang paling dicari diseluruh dunia ditempatkan di sekitar Baker Street dan mereka semua mati dengan alasan sebagai bagian dari permainan.

"Apa yang kita punya Jonh?" Tanya Sherlock.

"Sekarang? Tidak. Tapi aku punya perasaan yang bagus untuk besok." Dengan jengkel Sherlock meraih biolanya. Biola itu telah dibersihkan setelah selama dua tahun tak disentuh. Tapi dia belum ada kesempatan untuk memainkannya. Ia rindu dengan biolanya. Iapun mulai memainkan Viva La Vida. Nada ceria dari lagu Viva La Vida sebenarnya membuatnya merasa aneh. Tapi tidak ada yang tahu dengan apa yang berada dibalik kepala lucu miliki Sherlock Holmes.

"Selamat malam." Seseorang mengetuk pintu. Jonh menoleh sedangkan Sherlock tak menghiraukannya.

"Oh, selamat malam Madrie." Balas Jonh.

"Mrs. Hudson memintaku untuk membawakan kue-kue ini pada kalian. Kami baru saja mengangkatnya dari oven, masih hangat."

"Kemari masuklah." Jonh menyambutnya, sedangkan Madrie meletakkan nampan bersisi kue di meja sebelah Jonh.

"Viva La Vida? Mr. Holmes bermain biola juga?" Bisik Madrie kepada Jonh.

"Ya, dia bermain biola, dan baru sekarang dia memainkannya lagi." Jawab Jonh. Baru saja Madrie hendak pamit kepada mereka. Permainan biola Sherlock berhenti dan ia berbalik menunjuk Madrie tepat dihadapan hidungnya menggunakan dawai.

"Daripada kau membicarakan ku dibelakang lebih baik kau bawa biola mu dan tunjukan seberapa hebat kemampuanmu!" Katanya dengan tatapan mata yang tajam.

"Ya ampun Sherlock, dia adalah seorang mahasiswi seni." Ujar Jonh yang tidak sabar melihat sifat kekanak-kanakan Sherlock keluar. Dia tahu kalau Sherlock sedang ingin pamer dan ingin menguji seberapa hebat kemampuan Madrie.

"Baiklah, aku akan membawa biola ku." Madrie berlalu keluar. Mata Jonh membulat mendengar Madrie menerima tantangan dari Sherlock.

Jadi begitulah, tiga puluh detik kemudian Madrie datang membawa biolanya. Berbeda dengan Sherlock, biola milik Madrie berwarna hitam yang bisa dijadikan biola elektrik. Sherlock memperhatikan biola itu.

"Hmm, generasi Z, generasi yang lebih modern. Katakana padaku, siapa yang kau suka? Vivaldi, Beethoven?"

"Tidak keduanya, aku jarang memainkan musik klasik kecuali kalau memang dibutuhkan." Jawab Madrie jujur.

"Ha, sudah kuduga. Baiklah kau akan memainkan lagu apa?" Sherlock duduk di sofa kesukaannya dengan menyilangkan kaki dan bersikap seperti seorang juri dalam permainan biola ini.

"Aku akan memainkan lagu Skyfall dari Adele."

"Dari sekian banyak lagu, kau memilih Skyfall?"

Tanpa mendengarkan Sherlock, Madrie mulai memainkan biolanya. Ia terlihat santai dan begitu terlatih. Dia sudah hapal not-not dari lagu itu. Sherlock lebih sering memainkan lagu klasik yang Jonh tidak hapal. Nada-nada kelam lagu Skyfall bergema di flat no 221B itu. Madrie memainkannya tanpa ragu sama sekali.

"Bravo!" Teriak Jonh begitu Madrie selesai bermain.

"Kau cukup mahir." Komentar Sherlock.

"Aku yakin tidak semahir kau dalam bermain lagu klasik Mr. Holmes." Balas Madrie.

"Setidaknya aku hapal lagu ini Sherlock. Biasanya aku tidak tahu apa yang kau mainkan." Kata Jonh. Sherlock mendengus. Jonh menahan tawanya, baru kali ini ia melihat Sherlock merasa tersaingi dalam hal lain.

"Aku suka lagu Skyfall, aku juga suka filmnya. Nada-nada dari lagu Skyfall begitu mistis. Berbeda dengan filmnya. Pengejaran, teka-teki, permainan yang hebat. Aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya. Aku rasa aku tahu. Sangat menegangkan. Apa kalian sering merasakan hal seperti itu Dr. Watson?" Tanya Madrie.

"Ya, kami cukup sering mengalaminya. Kadang aku merasa tegang, tapi aku tidak tahu apa yang Sherlock rasakan." Sherlock hanya diam.

"Madrie," panggil Jonh.

"Kau seorang mahasiswa kan? Apa kau pernah membaca blog ku? Blog tentang kami berdua."

"Astaga, Jonh, dia mahasiswi seni, bukan mahasiswi kriminologi! Apa yang membuatmu berpikir kalau dia tertarik dengan blog mu?"

"Yah, mungkin aku pernah membacanya. Dulu Sherlock Holmes pernah sangat fenomenal sekali, kan?" Jonh tertawa.

"Dulu? Sherlock kurasa popularitasmu telah menurun. Terutama dikalangan remaja."

"Diam!"

"Ini sudah cukup larut. Kurasa aku akan kembali ke kamar. Terima kasih atas jamuannya. Selamat malam." Madrie berdiri sambil berlalu.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali Sherlock kaget mendapati Mycroft, kakaknya dan Jonh tengah duduk di ruang tamu. Jonh sudah berpakaian rapi, begitu juga dengan Mycroft. Seperti biasa stelan jas dan tak lupa payung yang selalu ia bawa.

"Selamat pagi adik ku." Sapa Mycroft sambil menyeruput teh nya.

"Mycroft apa yang sedang kau lakukan disini?" Wajahnya langsung berubah heran, seperti biasanya.

"Aku takut kalau hari ini kita akan sibuk sekali hari ini. Kau pasti akan suka." Ujar Mycroft. Sekali lagi Sherlock tersenyum sangat tipis.

"Kasus apa kali ini?"