DISCLAIMER
Nor even wish

Sir Arthur Conan Doyle
Mark Gatiss & Steven Moffat as a writer
©BBC

©LONGLIVE AUTHOR
Proudly present

SHERLOCK HOLMES : THE ARTIST

CHAPTER 8

"Madrie, berhenti!" Teriaknya lagi.

Gadis itu berlari ke arah jalan raya yang cukup ramai dengan terpincang-pincang. Saat itu lampu hijau. Ia menyebrang tanpa melihat ke jalanan.

NGIING!

BRUAGH!

Seketika klakson-klakson mobil berbunyi dan mengerem mendadak. Ketika Sherlock sampai disana ia mendapati Madrie sudah tergeletak dengan luka dikepala dan kakinya.

30 menit kemudian.

Sepuluh menit setelah kecelakaan di depan Royal Albert House dua buah ambulan datang. Ambulans pertama untuk menjemput Molly dan Jonh, lalu yang satunya untuk menjemput Madrie yang baru saja tertabrak oleh sebuah mobil ketika ia berusaha untuk kabur dari Sherlock dan beberapa polisi. Namun Madrie dinyatakan tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit.

"Mati? Bagaimana dia bisa mati?" Tanya Sherlock ketika mereka sudah berada di rumah sakit. Seorang dokter menyatakan kalau Madrie Moore atau gadis yang baru saja menabrakan diri itu meninggal dalam perjalanan karena kehilangan banyak darah.

"Biarkan aku melihatnya."

"Maaf tuan, tapi tidak bisa, kami masih mencaritahu apa yang membuatnya meninggal selain kehilangan darah." Perawat itu menghalanginya masuk. Pria berwajah tiru itu memalingkan wakah kesal lalu berlalu pergi.

Ia berjalan menuju kamar rawat Jonh dan Molly. Ternyata sudah ada Mary disana, dan tamaknya ia sudah mengetahui ceritanya karena Jonh juga sudah sadar. Hanya sedikit memar dan sobekan di pelipisnya. Sedangkan Molly, bahunya kini sudah di perban. Dokter baru saja keluar dari ruangan mereka.

"Bagaimana keadaan gadis itu?" Tanya Mary. Semuanya tampak menunggu jawaban.

"Dokter bilang dia meninggal dalam perjalan, kehilangan banyak darah." Jawab Sherlock.

"Tidak mungkin, dia tidak bersalah Sherlock." Ujar Jonh tiba-tiba.

"Aku tahu." Balas Sherlock.

"Apa maksud kalian?' Tanya Molly. Mary juga sepertinya menayakan hal yang sama.

"Dia memberitahuku sesuatu," Kata Jonh. "setelah kau menelepon ketika aku di rumah sakit seseorang membiusku dan aku terbangun karena Madrie menamparku. Dia menyiksaku dan melontarkan kata-kata kasar padaku, namun dia memberikan ini padaku." Jonh mengambil sebuha kertas dari saku jaketnya dan memberikannya pada Sherlock.

Tolong, tetaplah berakting dan ikuti skenarionya

"Orang-orang yang menculikku berbadan besar, cengkraman mereka kuat dan dingin, namun hanya ada aku dan Madrie yang berada di loteng Royal Albert. Percayalah dia tidak menyiksaku begitu parah."

"Kau benar Jonh, dia tidak benar-benar melakukan itu. Ada seseorang yang mengancamnya, dia mempermainkanku dan melukaimu atas permintaan seseorang. Dia juga bukanlah Madrie Moore, karena Madrie Moore yang asli adalah gadis yang bermain piano di atas panggung. Orang yang mengancamnya pastilah memilih dia karena dia mempunyai kemampuan acting yang sangat hebat. Dia mencoba memberitahu kita sejak awal, berharap kita menyadari dan melakukan sesuatu, namun kita terlambat menyadari."

"Tapi kenapa dia tidak memberitahu kita dengan cara yang sama seperti dia memberi tahu Jonh?" Tanya Molly.

"Itu karena dia diawasi, dia bisa dilihat dan didengar. Jika pelakuknya tidak bisa mendengarnya maka dia bisa memberitahu kita dengan mudah." Jawab Sherlock. "Dia diancam, kalau dia tidak menuruti perintahnya maka orang-orang yang dia kenal akan dibunuh. Jika ada satu gerakan atau pola yang berubah entah darinya atau dari kita, seseorarng akan mati." Semuanya terdiam.

"Benar, Elizabeth Morine dan Frank pria yang menculiknya adalah temannya dan mereka berdua meninggal karena Madrie tak kunjung beraksi. Dia mencoba untuk memberitahuku lewat lagu yang dia nyanyikan. In My Life, dia ingin memberitahu kita kalau dia sedang diawasi seorang laki-laki, juga saat dia memberitahu kita tentang betapa pentingnya seni dalam hidupnya. Pada malam itu dia menyelipkan kertas naskah pada tas Molly berharap dia bisa memberi tahu Molly dan menyampaikannya pada kita. Dia memang seniman yang sangat andal, dia bisa memahami seni begitu dalam, mempunyai kemampuan yang tinggi dalam membaca partitur dan tentang lagu 'The Woman' yang dibawakan Madrie Moore yang asli, dia tidak mencurinya. Dia menghapalnya dalam sekali lihat dan menyalinnya. Komposisinya memang original karena tidak ada yang pernah menampilkannya, namun tidak disebutkan kalau pertunjukan di Royal Albert harus menampilkan karya original. Gadis itu memberikan komposisinya pada Madrie yang asli."

Namun malam sebelum penampilannya seorang laki-laki datang ke Baker Street. Dia, orang itu tahu kalau Madrie sedang dijebak dan berusaha untuk membantunya, tapi Ia tidak mau dibantu karena dia tahu, jika hal itu terjadi maka aka nada orang yang mati. Jadi malam itu Frank membiusnya dan menculiknya. Dalam perjalanan Madrie terbangun dan berusaha untuk menghentikannya, namun mobilnya oleng dan terjadi kecelakaan. Mereka berdua selamat, lelaki iti masih bersikeras, Madrie tidak mau. Dia mengancamnya dengan senjata." Jelas Sherlock.

"Lalu dia menembaknya?" Tanya Jonh.

"Tidak, aku sudah memeriksanya. Pelurunya masih penuh. Ada orang lain yang menembaknya. Seorang sniper. Ia menyingkirkan pengganggu dalam permainannya. Baker Street, Royal Albert, dan tempat-tempat yang di datangi Madrie. Dia selalu diikuti dengan sniper. Orang yang membunuh Elizabeth Morine. Dia juga seorang penembak jitu, yang bisa menembak langsung ke jantungnya dengan perhitungan yang sangat tepat. Teman-temannya, mungkin juga keluarganya berada dibawah ancaman untuk dibunuh."

"Tapi, ini yang ingin dia sampaikan adalah bukan, kemampuan bermain musiknya, atau bagaimana dia begitu hebat memahami seni, tapi ini tentang seni peran. Dia sedang berakting dengan sangat luar biasa dan untuk membuatnya menjadi sempurna, dia harus mengajak kita ikut berakting tanpa diketahui oleh orang yang mengancamnya."

"Jadi dia hanya punya dua pilihan? Membunuh kita, atau semua orang yang dia cintai dibunuh?" Gumam jonh. "Tapi kenapa? Dia tidak mengenal kita sama sekali. Kenapa mau repot-repot menyelamatkan kita?"

"Dia tahu siapa kita Jonh, dan dia sudah memberitahu kita alasannya. Dia tahu kalau kita sudah lama berteman, dia tahu kalau kau akan menikah, dia juga tahu mengenai Mycroft, kalau dia adalah kakakku dan jika sesuatu terjadi padaku, maka sesuatu juga akan terjadi pada Mycroft. Mycroft mempunyai jabatan penting dipemerintahan, dan dia mencoba untuk membunuhmu. Karena kau adalah…kunci keseimbangan. Jika kau mati Jonh, semua orang akan berduka. Dia mencoba untuk mempermainkan emosi banyak orang." Ia menghela napas. "dan dia tahu akibatnya jika dia membunuh kita, tapi dia berada di posisi yang sangat sulit. Mungkin itu sebabnya dia menabrakan dirinya sendiri sampai ia meninggal."

"Aku masih tidak mengerti, siapa sebenarnya dia?" Tanya Jonh.

"Aku mungkin masih bisa percaya kalau dia adalah murid terbaik fakultas seni Oxford, tapi dengan kemampuan menembak yang akurat, informasi yang dia punya, dan caranya mengatur emosi dan mengatur semuanya, dia bukan hanya mahasiswa seni terbaik. Dia lebih dari itu."

Sherlock menoleh pada Molly.

"Molly sebaiknya kau segara pulang dan beristirahat." Gadis itu terlihat sedikit tersanung ketika Sherlock menyuruhnya pulang.

Hari sudah larut, sudah sangat terlambat untuk makan malam. Jonh pulang bersama Mary, sedangkan Sherlock kembali ke Baker Street. Dengan susah payah ia menjelaskan apa yang terjadi kepada Mrs. Hudson. Wanita itu sangat bersedih ketika mengetahui Madrie meninggal. Sherlock tidak bisa melakukan apapun, dia juga tidak bisa menghibur Mrs. Hudson. Malam itu begitu ganjil baginya. Mungkin kasus-kasus lain pernah membuatnya frustasi, namun kasus ini membuatnya tidak bisa beristirahat. Ia merasa ini semua belum selesai, atau mungkin terlalu cepat untuk selesai.

Ketegangan tiu begitu nyata ketika ia melihat Jonh ditodong menggunakan senjata, atau ketika Molly di tembak bahunya. Ia pernah mengalami ini beberapa kali, dan mereka selalu mengincar orang-orang terdekatnya untuk melukai Sherlock karena tidak bisa melukainya secara langsung. Itulah alasan dia selalu menyendiri. Gadis itu telah menyelamatkan nyawanya dan Jonh. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga gadis itu atau pada teman-temannya. Belum lagi ia menabrakan dirinya sendiri. Ia bunuh diri. Sherlock mengacak-ngacak rambutnya. Tiga orang mati untuk menganti nyawanya. Ia bahkan tidak mengenalnya. Perasaan macam apa ini?

Sudah hampir pagi Sherlock bangkit dari kursinya dan sekali lagi ia masuk kedalam flatnya Madrie. Masih sama seperti terakhir kali Sherlock memasukinya. Ia melihat berkeliling, mungkin ada sesuatu yang ia lewatkan. Ia menatap sebuah rak bukum, dibalik tumpukan buku ia melihat sesuatu yang bersinar terkena cahaya lampu. Ia menyingkirkan buku itu dan melihat sebuah kamera kecil disana. Sherlock terdiam sejenak lalu meninggalkannya. Kemudian ia masuk kedalam kamar mandi. Terdapat kotak P3K yang sedikit terbuka disana. Sepertinya Madrie terburu-buru ketika menutupnya. Sherlock membuka kota itu dan menemukan dua buah botol kecil yang tergeletak tak beraturan keluar dari tempat seharusnya. Ia meraih kedua botol itu.

"Morfin dan Tetrodotoxin?" Ia mengangkat kedua botol itu dan terlihat kalau isinya sedikit berkurang beberapa mili.

"Tetrodotoxin…tetroditoxin…" Gumamnya berkali-kali.

Tiba-tiba ia berlari ke kamarnya dan mencari ponselnya.

"Molly, aku benar-benar butuh bantuanmu. Kita akan pergi ke Barth's sekarang."

Pagi-pagi sekali Sherlock pergi ke Barth's Hospital. Ia datang beberapa menit lebih awal dari Molly. Gadis itu sedikit berantakan dibalik sweaternya. Ia mengira kalau Molly masih tidur ketika ia menelponnya.

"Ada apa Sherlock?" Tanya Molly.

"Aku perlu melihat mayat Madrie Moore sekarang."

"Dia pasti sudah berada di kamar mayat sekarang."

Mereka memasuki kamar mayat dan melihat daftar mayat yang baru saja dimasukan. Tertulis nama Madrie Moore disana. Dengan cekatan Molly membuka lemari dan menarik mayat Madrie keluar dari sana. Molly membuka kantung mayatnya dan mendapati mayat seorang gadis yang sudah bersih. Beberapa luka dan memar masih terlihat dibeberapa bagian tubuhnya. Luka yang hampir menegering dan baru di bagian kepala, memar di wajah, bahu, dan tangan. Luka dibagian perut yang masih baru, dan beberapa memar dibagian kaki.

"Ada apa Sherlock?"

"Mereka bilang Madrie kehabisan darah lalu meninggal, tapi lihat! Luka diperutnya tidak begitu dalam dan tubuhnya tidak begitu pucat, jika memang ia kehabisan banyak darah wajahnya akan jauh lebih pucat dari ini." Sherlock membuka kaca pembesarnya dan mulai menelisik bagian tubuh Madrie.

"Apa kau pikir dia meninggal karena hal lain?" Sherlock tidak menjawab.

"Tunggu, luka diperutnya, kenapa luka diperutnya dijahit? Jika memang gadis ini meninggal dalam perjalanan, kenapa perutnya dijahit?"

Ia memperhatikan tangan kiri Madrie. Tepatnya bekas suntikan infusnya. Bekas itu sedikit membiru dan berantakan karena dicopot secara paksa. Kemudian Sherlock beralih pada bagian tubuh lain.

"Kau mencari apa Sherlock?"

"Aku mencari bekas suntikan yang lain, aku yakin dia menyuntikan sesuatu pada tubuhnya yang lain. Aku menemukan botol morfin dan tetrodotoxin di dalam kamarnya."

"Tetrodotoxin? Bukankah itu?"

"Ya, obat bius—Dapat!" pekik Sherlock ketika ia menemukan bekas suntikan lain di bagian paha. "Ada dua bekas suntikan disini. Tentu saja dia menyuntikkannya beberapa saat setelah tertembak. Morfin untuk menahan rasa sakitnya dan tetrodotoxin untuk membuat jantungnya berhenti berdetak."

"Sherlock!" Pekik Molly kaget. Pria itu menoleh.

"Aku bisa merasakan denyut nadinya!" Ujar Molly yang masih memegangi pergelangan tangan Madrie. Pria itu tersenyum.

Gadis itu merasakan nyeri dibanyak tempat di tubuhnya. Dengan susah payah ia berusaha untuk membuka matanya, namun belum bisa. Ia malah mendengar suara sebuah music klasik tepat daro sebelah kanannya. Beberapa menit ia mencoba akhirnya ia bisa membukanya matanya. Pandangannya blur, bau obat-obatan dia tahu persis berada dimana dia. Tanpa sadar ia tersenyum.

"Kenapa kau tersenyum?" Ia mendengar suara berat dari sebelahnya. Ia melihat seorang pria tengah duduk dikursi sambil memegangi sebuah buku.

"Hari apa sekarang?" Tanyanya.

"Sudah tiga hari sejak kau—apa ya? Bangun dari kematian?"

"Kau memang hebat Mr. Holmes tapi kau sedikit lambat." Ia tersenyum lagi.

"Kenapa kau tersenyum?" Tanyanya lagi.

"Aku masih hidup, itu berarti rencanaku berhasil."

"Maukah kau menceritakannya padaku?"

"Aku yakin kau sudah mengetahui sebagian besar ceritanya."

2 Minggu kemudian

Sherlock terbangun karena suara berisik yang terdengar dari kamar sebelah mereka.

"Mrs. Hudson! Ada apa ini kenapa ribut sekali?" Sherlock keluar dari kamarnya masih menggunakan piama.

"Oh Sherlock, orang-orang ini kemari untuk mengambil barang-barang milik Madrie." Balas Mrs. Hudson. "Kemana anak itu, padahal aku ingin sekali bertemu dengannya, aku sangat sedih ketika mendengar kabar kematiannya tapi kenapa begitu ia sembuh ia tidak pulang kemari? Dia seperti hilang ditelan bumi."

"Entahlah, dia menghilang setelah sadarkan diri dari mati suri nya."

Orang-orang itu mulai mengangkut barang-barang keluar dari flat milik Madrie. Namun tiba-tiba Mrs. Hudson naik kembali.

"Sherlock, kau mendapat surat."

"Surat? Pagi-pagi sekali?"

"Entahlah."

Ia membuka surat itu.

Datanglah dan mari mengobrol sebentar.

"Sherlock! Ada seseorang yang menjemputmu!"