DanAda begitu banyak upaya yang sudah saya lakukan,Ada begitu banyak air mata yang mengalir,Jika pada akhirnya,Hanya takdir yang mempunyai hak atas semuanya.

Hati sasuke berderit memilukan,

Ia gelisah dan penuh ketakutan.

Melihat istri tercintanya tadi begitu terlihat lemah dihadapan mantan kekasihnya, ia takut.

Tentu saja!

Setelah semua kebahagian yang ia rasakan beberapa waktu ini, apakah pada akhirnya hanya imajinasi dia selama ini.

Logika nya menekankan berkali-kali bahwa setiap senyuman dan sentuhan Hinata selama ini nyata ia rasakan, tetapi tetap saja di hatinya ada sedikit keraguan.

"Aku keruangan ku dahulu, aku lupa, ada pekerjaan yang harus di selesaikan segera." Ucap Sasuke sambil berlalu kelantai dua menuju ruang kerja pribadinya.

Hinta paham tentang situasi ini, ia terus menerus menggigit bibir bawahnya canggung.

Tapi bagaimana cara menjelaskan kepada suaminya?

Bagaimana cara membuat suaminya percaya padanya? Karena sebetulnya pun Hinata paham bahwa selama ini ia hanya menerima cinta dari sang Uchiha, begitu banyak cinta, kasih sayang dan perhatian yang diberikan suaminya hingga ia pun merasa sesak karena nya.

Hinata bingung, bagaimana menunjukan bahwa ia pun memiliki rasa kasih yang sama besarnya terhadap suaminya.

"Ba-bagaimana makan malamnya?" tanya Hinata.

"Maaf, pesan antar saja untuk mu, aku kira aku tidak sempat untuk makan bersamamu." Ucap Sasuke berbohong pada istrinya. Sasuke tidak sanggup melihat amethys Hinata untuk saat ini, ketakutan berlebih, ia takut jika menemukan fakta ada sedikit kebohongan pada tatapan istrinya selama ini.

Hinata mendesah perlahan. "Baiklah."


Dipagi hari di gedung tempat Hinata bekerja, ia dengan langkah enggan memasuki lift.

Suaminya, sejak ia membuka matanya sudah tidak nampak, hanya secarik kertas yang di tempelkan di gelas susu hangat yang ia buat untuk istrinya.

"aku ada pertemuan pagi-pagi sekali, maaf tidak bisa mengantarmu pagi ini."

Pikiran Hinata begitu kusut, ia bingung bagaimana merubah kondisi hati suaminya.

Apa lebih baik dibiarkan saja, atau harus ia jelaskan bahwa ia tidak ada rasa apapun terhadap Toneri dan meminta Sasuke untuk tidak khawatir.

Tapi rasa-rasanya opsi yang kedua terlalu berlebihan.

Bagaimana jika tindakan Hinata malah memperburuk pandangan Sasuke terhadapnya.

"Aaah."

Tinggg

Pintu lift perlahan menutup, sampai ketika Hinata dikejutkan dengan siluet tangan yang menghentikan lift dan masuk bersamanya kedalam lift.

Dengan senyum merekah nya.

Deggg...

Hati Hinata berdenyut sesaat.

"Hinata..." ucap lelaki bersurai putih.

"Lantai 5 kan?" sambil menekan tombol di lift.

Dan Hinata hanya melirikkan pandangannya.

"Kau banyak berubah." Ucapnya lagi.

Hening terasa, dan udaranya sedikit menyesakkan.

"Tatapan matamu tidak lagi meneduhkan ku, sebegitu cepatnya kau melupakan aku Hime?" ucap Toneri lirih.

Hinata bergerak menjauh dari lelaki di hadapannya ini, dan menegaskan padanya bahwa ada jarak diantara mereka.

"Tidak kah kau intropeksi perbuatanmu kepadaku? Dan sekarang kau datang seolah menjadi korban dalam kekacauan ini?"

Tatapan Toneri mengeras.

"Hmm, Uchiha sialan itu terlalu banyak memberi pengaruh buruk untukmu."

Sambil perlahan meminum americano coffe yang ia genggam.

"Kau dulu sangat menyukai minuman ini Hime."

Tingg...

Bunyi pintu lift yang terbuka menunjukan lantai 5 dimana ruangan Hinta bekerja.

Hinata bisa bernafas lega dan bisa segera meninggalkan situasi yang menyesakkan ini.

"Tolong jaga sikap mu Toneri-san, Aku adalah istri dari keluarga Uchiha, dan aku harap kau bisa menghargai aku." Sambil berlalu pergi meninggalkan Toneri.

Senyum Toneri terlihat menakutkan.

"Aku akan membuat mu kembali padaku Hime, karena pada awalnya pun kau itu milikku."


Waktu yang berjalan terasa begitu cepat.

Hampir jam pulang kerja, dan Sasuke masih merenung di meja kerja kantornya.

Seharian ini ia hanya membulak balikan file yang ada di mejanya, sebenarnya filenya dibaca pun tidak!

Pikiran ia terlalu kusut, terlalu rumit dan berat jika ia harus mengoreksi setiap file yang ada di mejanya, bahkan saat pertemuan tadi pun hanya raganya yang ada di ruangan meeting, pikiran dan hatinya entah berada dimana.

Sasuke pun tidak mengerti, kenapa ia harus bersikap seperti pecundang saat ini.

Dahulu pun, ia mati-matian mengikat Hinata walaupun ia tau saat itu ada lelaki lain di hati istrinya.

Lalu, apa bedanya dengan saat ini?

Bukankah yang terpenting Hinata ada bersamanya?

Hinata ada dalam lingkarannya?

Persetan dengan perasaan Hinata, dahulu pun bukannya seperti itu?

Tinggg...

Bunyi pesan masuk kedalam ponsel Sasuke.

'Aku ingin makan pasta di Deluxe land, bawa aku kesana ya malam ini.?'

Sasuke menarik bibir tipisnya melengkungkan senyuman menawannya

Ia mendesah penuh kelegaan.

Istrinya masih bersikap manis seperti biasa, jadi apa yang perlu ia khawatirkan. Bukankah ia hanya perlu memastikan sang Hyuga berada dalam lingkarannya.

Selama Hinata di sisinya, sudah cukup baginya.

'Baik Hime, aku akan menjemputmu.' Balas Sasuke.

Perubahan perasaaan.

Cinta memang begitu menakutkan.

Beribu-ribu frasa yang tergambar begitu menyilaukan jika berbicara mengenai cinta.

Terkadang, ada ego yang terabaikan, ada logika yang tak digunakan.

Karena pada akhirnya hati yang menguasai waktunya.

Hubungan Sasuke dan Hinata rasanya kembali indah seperti awalnya.

Walau sekarang Sasuke lebih banyak menjemput Hinata di parkiran mobil dibanding ke ruangan Hinata.

Sasuke hanya tidak ingin, jika tanpa sengaja ia bertemu orang yang paling ia hindari.

Selama Hinata bersamanya, cukup baginya.

Selalu ia menekankan frasa itu saat pikiran rumit menghantui dirinya.

Senyum Sasuke merekah melihat pujaan hatinya keluar dari lobby utama gedung Konoha TV ia pun bergegas keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk istrinya ini.

Dan Hinata tersenyum dengan pipi merahnya.

Greeep..

Bukannya masuk kedalam mobil, Hinata malah memeluk erat suaminya ini.

"Ada apa hime? Ini di tempat umum." Tanya Sasuke sambil mengelus perlahan punggung mungil wanita terkasih untuknya.

"Biar saja." Jawab Hinata acuh.

"Apa terjadi sesuatu sayang?" lagi Sasuke bertanya dengan penuh kekhawatiran

"Tidak ada anata, 5 menit lagi, aku hanya merindukan mu."

"Baiklah..."

1 jam sebelumnya

"Beri aku waktu Hinata..." ucap Toneri sambil menarik paksa lengan mantan kekasihnya ini.

Hinata menarik lengannya dan sekuat usaha dia untuk melepaskannya dari lelaki bersurai putih ini.

"Apa yang kau lakukan Toneri! Tidak kah kau tau, yang kau lakukan saat ini bisa di anggap sebagai tindakan pelecehan!"

"Beri aku waktu sebentar saja, setelah itu aku berjanji untuk tidak mengganggu mu kembali."

Dan disini akhirnya mereka berdua.

Duduk berhadapan di meja coffe corner yang ada di lobby gedung.

"Apa yang kau inginkan dari ku Toneri?" tanya Hinata tanpa basa basi.

"Tidak pernah terbayangkan, sikap dingin mu terhadapku." Lirih Toneri.

Tak bisa di sembunyikan memang, begitu terlihat tatapan penuh penyesalan dari mantan kekasihnya ini.

"Kita perlu waktu Hinata, untuk mengutarakan semuanya agar tak ada sisa dan tidak menjadi penyesalan." Tutur Toneri.

Tangannya menggenggam cangkir kopi hitam panas di hadapannya ini.

"Aku hanya ingin kau tahu yang sebenarnya Hime, bahwa kekacauan yang terjadi pada hubungan kita itu tidak lain karena Uchiha sialan itu!" penuh dengan amarah Toneri menatap lekat mantan kekasihnya ini.

Dan Hinata hanya diam tanpa reaksi.

"Sasuke sialan itu, sengaja menjebak Neji Nisan agar memiliki pinjaman pada bank miliknya, ia juga yang mengatur semua kekacauan di restauran milik keluarga mu dan kau tau Hinata? Dia pun yang mengirim aku untuk bekerja di luar negeri."

Deggg...

Hati Hinata berderit nyeri.

"Bukan kah dia juga yang sengaja mengundang mu untuk melihat ku bersama dengan Ino dimalam hujan itu."

"Dia mengelabui mu Hinata..." lagi Toneri terus berbicara menumpahkan apa yang menjadi kekesalan di hatinya. "Rubah licik seperti dia tidak mungkin memiliki perasaan tulus padamu seperti bagaimana aku mencintaimu bahkan hingga saat ini."

"Kembali padaku Hinata, kita bisa memulai apa yang menjadi impian kita dahulu." Tutur Toneri sambil perlahan menyentuh tangan Hinata dan menggenggamnya..

Hinata tersenyum canggung.

Amethys nya menatap tajam lelaki di hadapannya ini.

"Supaya tidak ada penyesalan bukan?" tanya Hinata "Ada satu hal yang sangat ingin aku lakukan sejak saat itu padamu."

Plakkk...

Hinata menampar pipi kanan Toneri dengan sangat kuat.

"A-apa yang kau lakukan?" Ucap Toneri yang begitu terkejut.

Plakkk...

Lagi, pipi kirinya pun Hinata tampar sekuat tenaganya hingga membuat Toneri sedikit limbung.

"Supaya tidak ada penyesalan bukan? Aku ingin sekali menampar lelaki yang dulu membuatku memberikan sepenuh hati dan kepercayaan untuknya dan membuatku berada di titik terendah dalam kehidupan ku!."

"Hi-hinata..." lirih Toneri.

"Bahkan jika Uchiha itu berbuat lebih buruk dari yang kau ucapkan aku tidak perduli, karena ia dulu hanya orang asing bagiku, aku hanya akan menganggap dia sebagai ujian dari tuhan, tapi tidak untuk mu Toneri-kun... kau, dulu orang yang kukagumi, orang yang aku cintai sepenuh hati, kau memiliki hati ku, dan kau bagian dari rencana masa depan ku."

Hanya keheningan yang di rasa sesaat.

"Tapi kau menghianati kepercayaan ku, kau menginjak cinta yang aku berikan, berhentilah menjadi korban dalam kekacauan ini, karena perasaan ku untukmu saat ini sudah tidak bersisa lagi."

"Karena aku mencintai Uchiha Sasuke."

Lalu berlalu pergi meninggalkan Toneri Outsuki.


Hinata tidak menampik, sedikit banyak ucapan Toneri mempengaruhi pikirannya, tapi anehnya bukan rasa benci yang tercipta, ia hanya merasa bersalah pada suaminya ini.

Ternyata,

Begitu banyak yang bungsu Uchiha ini lakukan hanya untuk membuat nya bersama dengannya.

"Hemmm.. " suara berat dari Uchiha Sasuke membuyarkan lamunan Hinata dan seketika menoleh pada pria yang duduk di sampingnya.

"Ehhh..."

"Apa kau yakin tidak apa-apa hime? apa ada sesuatu yang perlu aku lakukan untuk mu?" lagi tanya Sasuke yang penuh kekhawatiran sambil terus mengemudikan mobilnya.

"Apa sebaiknya aku berhenti bekerja saja Sasuke-kun?" tanya Hinata ambigu.

Sasuke menjentikkan jarinya perlahan pada stir mobil, onyx nya menatap lurus pada jalanan di hadapannya.

"Memang kenapa?" tanya Sasuke penuh kehati-hatian, ia hanya takut akan pertanyaan darinya akan membuat istrinya menjadi tidak nyaman.

Hinata hanya membalasnya dengan senyuman "I-ingin saja.." jawabnya.

Sasuke paham,

Hinata berusaha menghindari mantan kekasihnya.

Tanpa sadar Sasuke menelan ludah nya gugup.

Apa mungkin hati Hinata masih menyimpan rasa pada mantan kekasihnya? Sehingga untuk melihatnya kembali mau tidak mau menimbulkan luka untuknya?

Segala pikiran negatif lagi-lagi menyelimuti Sasuke Uchiha.

Padahal, sederhananya Hinata hanya tidak ingin membuat bungsu Uchiha khawatir dan menimbulkan kesalahpahaman terhadap dirinya.

Embun yang tampak bersinar begitu menyilaukanRasanya seperti berlian yang berserakan di dedaunan.Memberikan rasa dingin dari panasnya dunia.

Hari-hari Sasuke dan Hinata masih sama seperti sebelumnya, walaupun keduanya diliputi perasaan cinta satu sama tapi terasa hubungan yang mereka jalani tidak memberi ketenangan.

Keduanya tidak benar-benar jujur terhadap pikiran dan perasaan satu sama lain.

Mereka hanya bermain aman dan memaksakan diri untuk mengerti satu sama lainnya.

Selama yang terkasih ada di sampingnya mereka merasa dunia baik-baik saja.

Padahal seharusnya hubungan tidak seperti itu.

Perlu banyak kejujuran dan rasa saling percaya terhadap perasaan satu sama lain.

Bukankah hubungan akan terasa lebih menyilaukan jika kedua insan bisa saling mengerti perasaan mereka dan merasakan ketulusan perasaan mereka.

Apa yang mereka inginkan, apa yang mereka benci.

Sasuke hanya merasa, selama Hinata di sampingnya semua baik-baik saja.

Karena Sasuke merasa, ia mampu untuk melindungi dan membuat Hinata bahagia.

Sampai pada ketika, disiang hari di rumah sakit besar yang terletak di tengah kota, gedungnya bertingkat-tingkat terasa membelah langit di pusat kota.

Wajah Tsunade dokter pribadi keluarga Uchiha terlihat mengeras memandang lekat pada layar di meja kerjanya.

Ia menghembuskan nafas beratnya.

"Sasuke, berdasarkan hasil test kesehatan yang terakhir dilakukan, menurut dokter spesialis, ada kelainan pada fungsi organ hati, ada kemungkinan sel kanker hidup pada organ hati dan sebaiknya dilakukan test mendalam untuk melihat sejauh mana kanker hati yang kamu derita." Ujar Tsunade

Sasuke merasa dunianya terasa gelap seketika. Ia tidak percaya pada apa yang dokter Tsunade katakan.

"Mak-maksud Tsunade sensei?"

Dokter cantik spesialis psikiatri yang masih terlihat awet muda ini adalah dokter pribadi keluarga Uchiha, permasalahan kesehatan keluarga besar Uchiha harus melalui ijin nya terlebih dahulu.

Ia dengan hati-hati berbicara pada bungsu Uchiha di depannya ini.

"Dokter spesialis merekomendasikan agar dilakukan test lanjutan supaya bisa segera diketahui apakah kanker hati masuk stadium awal atau sudah berkembang menjadi serosis hati supaya bisa segera dilakukan rangkaian pengobatan." Tutur nya panjang lebar menjelaskan.

Sasuke hanya termenung, onyx nya meredup seakan tidak percaya akan mimpi buruk yang terjadi saat ini.

"Kau pasti sering merasa kelelahan akhir-akhir ini bukan? Kau melewatkan beberapa kali medical checkup sehingga keadaan mu sudah masuk status gawat seperti ini." Ujar Tsunade sedikit meninggi.

"Apa aku bisa sembuh pada akhirnya?" tanya Sasuke dengan lirih.

Tsunade berusaha tersenyum dan memberi kekuatan pada prodigy Uchiha. "Bisa, kau tenang saja akan kupilihkan spesialis bedah hati terbaik untuk mu."

Sasuke tersenyum kecut.

"Sudah lah, ini kan baru diagnosis awal masih terlalu jauh untuk berfikir negatif. Mana kepercayaan dirimu yang tinggi selama ini?" tutur Tsunade sambil tangannya terulur mengambil ponsel "Aku akan memberitahukan pada ibu mu dahulu." Ujarnya.

Tiba-tiba ponselnya direbut Sasuke, ia menggeleng perlahan "Jangan dulu, sampai hasil keluar jangan beri tahu siapapun tentang kondisiku."

Dan Tsunade hanya mengangguk paham.

Ia tidak berfikir pada diri dan kesehatannya.

Ia hanya langsung terbayang wajah istrinya.

Kanker hati?

Berapa lama proses pengobatan yang akan di jalaninya?

Berapa besar rasa sakit yang akan dihadapinya?

Dan mampukah ia dalam kondisi seperti itu memastikan Hinata untuk tetap bersamanya?

Sasuke menyunggingkan senyum sinisnya.

Melindungi dirinya saja ja tidak mampu, bagaimana ia melindungi istrinya nanti? Dan ia dipastikan akan lemah tidak berdaya.

Lalu bagaimana? Apakah Hinata akan meninggalkannya pada akhirnya? Dan ia tidak memiliki kemampuan untuk menahan istrinya.

Ditinggalkan dalam keterpurukan?

Sasuke mendengus kesal, Tuhan memang tidak pernah berpihak padanya dari awal.

Sekuat apapun ia mencoba pada akhirnya Tuhan hanya mempermainkan hatinya.

"Aaarghhhhhhh!" teriak Sasuke penuh emosi sambil terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan seperti orang gila, membelah jalanan kota dan mencari peralihan dari sakit hatinya.

Jadi,Apakah musim semi selanjutnya akan tetap terasa menawan?Musim panas selanjutnya akan terlihat menyilaukan?Dan apakah musim dingin selanjutnya...Apakah musim dingin selanjutnya, aku masih bisa merasakan hawa dinginnya?

Termenung dalam keterpurukan,

Kau meninggalkan ku dalam kegelapan malam.

Hinata... apakah kau akan tetap bersamaku jika kau tahu keadaanku saat ini?

Tangan besar Sasuke terulur membelai surai Hinata yang terlelap tidur di sampingnya.

Cupp...

Perlahan ia mengecup pipi gembil nyonya Uchiha ini.

Tuhan,

Aku harap berita buruk yang aku dengan hari ini hanyalan mimpi.

Semoga saat esok terbangun nanti, semua kenangan mimpi buruk itu akan menghilang.

Aku tidak sanggup membayangkan hidup tanpa dirinya.

Sasuke terus menerus berdoa dan menaruh harapan dalam hatinya.

Ia, perlahan memejamkan matanya.

Akhir-akhir ini memang benar yang Tsunade katakan, ia terlalu cepat merasa lelah.

Sasuke memeluk erat Hinata sebelum terlelap.


Tsunade terlihat sangat cemas, bulak balik langkah kakinya di ruangan yang biasa ia lakukan untuk praktek dan menerima pasien menunggu dengan cemas seseorang yang tidak lain adalah Uchiha Sasuke.

"Sasuke..." ucapnya saat melihat bayangan yang berpendar dari prodigy Uchiha ini.

Sasuke sedikit menundukkan kepalanya kepada dokter cantik ini.

"Jugo, kau juga masuklah." Titah Tsunade

Sasuke sesaat memandang heran pada orang kepercayaannya ini.

Tukkk... tukkk...

Hampir 10 menit berlalu dengan keheningan.

Tsunade terus menerus mengantukkan jari-jari tangannya ke meja miliknya.

Dia, tidak tahu harus memulai dari mana.

"Bicaralah sensei, ini sudah lebih dari 10 menit kau membuang waktu ku." Ucap Sasuke yang tampak ketus, padalah dalam hati nya pun sama, ia belum siap dengan apa yang akan ia dengar.

"Sudah dipastikan kanker hati Sasuke, dan... kau sudah dalam kondisi yang memang mengkhawatirkan."

Deggg!

Jantung Sasuke berdetak ribuan kali lebih cepat.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan selama ini? Keanehan-keanehan pada tubuh mu harusnya bisa kau rasakan sedari awal dan kau segera lakukan pemeriksaan sehingga tidak terlanjur seperti ini Sasuke."

Jugo yang berada di ruangan pun tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.

Bagaimana bisa? Selama ini ia tidak peka terhadap kondisi tuannya?

Apa sebenarnya yang ia lakukan selama ini?

"I-itu tidak mungkin sensei." Tutur Jugo menyangkal apa yang ia dengar.

"Tidak bisa seperti ini, aku akan memberitahukan kondisi mu pada orang tua mu." Tutur Tsunade.

"Ja-jangan dulu..."

"Jangan jangan jangan, kondisi mu saat ini bukan lelucon Sasuke, kau harus segera mendapat perawatan!" ujar Tsunade dengan suara yang meninggi.

Sasuke lama diam termenung.

"Tapi aku mohon sensei, istriku jangan sampai tahu kondisiku yang sebenarnya, aku akan berbicara langsung dengan orang tua ku, aku harap kau bisa mengerti keinginan ku saat ini, aku mohon."

Jadi,

Bagaimana Tuhan?

Rasanya baru kemarin aku mengadu dan menangis bahagia kepadamu

Kepingan hatiku,

Seseorang yang kubutuhkan untuk ku bersandar, pada akhirnya dia tersenyum padaku.

Aku terlanjur berjanji padanya

Akan terus membuatnya bahagia.

Tidak bisa kah kau baik kepada ku Tuhan?

Aku mencintainya...

Aku mencintainya melebihi diriku sendiri.

Aku rela menukarkan seluruh kebahagianku hanya untuknya.

Tapi,

Mengapa situasi menjadi seperti ini?

Lalu...

Bagaimana Tuhan?

Apa yang harus aku lakukan saat ini?

Jugo dengan perlahan mengemudikan mobilnya, sesekali ia mengusap ujung matanya yang tanpa sadar mengeluarkan air mata.

Ia kecewa dan marah pada dirinya sendiri, kenapa bisa ia lalai pada seseorang yang sangat ia jaga selama ini.

"Bukan salahmu Jugo." Tutur Sasuke dengan suara datarnya seperti biasa "Aku sendiri saja tidak menyadarinya, jadi tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri."

Dan Jugo hanya diam tanpa ekpresi sesekali melirik tuannya melalui kaca kemudi.

"Sasuke-sama, anda harus segera mungkin melakukan perawatan, apalagi yang anda tunggu?"

Sasuke menatap lurus pada jendela mobil, onyx nya menyiratkan kehampaan, ia memandang lurus pada jalanan yang terlihat sedikit lenggang "Nanti, ada yang harus kulakukan terlebih dahulu." Tuturnya sambil perlahan menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.

Di dunia ini ada begitu banyak jenis bunga.Berbagai jenis, bentuk, warna dan aroma yang beragam.Dari begitu banyak bunga, mengapa ia memilih lavender?Bukankah lavender tak ubahnya seperti rumput liar yang berwarna?Tapi mengapa ia tetap memilihnya dari jutaan banyak bunga yang menawan.Karena ia hanya merasaLavender istimewa, ia terlihat lemah namun kuat tumbuh mengakar.Ia tidak menarik namun aromanya mempesona.Warna terangnya seakan menunjukan pesonanya.Itulah lavender, bunga yang kupilih.Dia adalah Hinata Hyuga.

Haruskah ku merelakan dirinya?

Bagaimana bisa?

Aku begitu membutuhkannya?

Sasuke terdiam menatap penuh wajah istrinya yang tertidur lelap disampingnya sesekali ia mengusap pelan pipi pulam istrinya ini.

Kenapa harus merelakan Hinata nya?

Bisakah ia egois sekali lagi saja? Biarkan Hinata tetap bersamanya.

Lalu, membiarkan ia menderita karena harus terus mengurusi dirinya yang pesakitan?

Lalu, bagaimana janjinya dahulu bahwa ia hanya akan membuat Hinata bahagia? Bisakah ia bahagia jika terus bersama dirinya dalam keterpurukan?

Lalu... Jika pada saatnya, Hinata lelah dan meninggalkannya saat sedang berada di ambang keterpurukan bukan kah itu berkali lipat lebih menyakitkan saat dirinya tidak bisa berbuat apapun nanti?

Tanpa sadar, pikiran-pikiran menyakitkan memenuhi kepalanya.

Ia merasakan sakit yang luar biasa, tangannya mendadak berkeringat dan gemetar tanpa sebab.

Membayangkan kehilangan Hinata bagai neraka baginya.

Tapi, membayangkan kesedihan yang akan dialami oleh Hinata jika terus bersamanya ia pun tetap tidak sanggup membayangkannya.

Ia hanya ingin.

Hinata nya bahagia di sisa hidupnya.

Tanpa sadar matanya terpejam menahan nyeri yang ia rasa.

Membawa ia kedalam alam bawah sadar dan terlelap bersama dengan pujaan hatinya.

Hingga pada suatu ketika.

Mungkin takdir yang menentukan garis waktunya.

Hinata tanpa sadar berpapasan dengan mantan kekasihnya.

Toneri menundukan kepalanya penuh penyesalan, ia meminta maaf atas sikapnya yang terakhir kali ia lakukan pada Hinata.

Ia sadar, semua yang terjadi memang karena kesalahan dirinya dan ia melampiaskan kekesalan pada Sasuke Uchiha.

Dan disinilah mereka, di cafe lobby gedung tempat mereka bekerja, hubungan mereka bukan waktu yang sebentar, tadinya, ada berjuta impian yang mereka ingin lakukan, ada berjuta perasaan yang pernah mereka rasakan.

"Sejujurnya aku senang saat pertama kali melihat mu kembali Hinata."

Hinata hanya memandang Toneri yang duduk tepat di depannya.

"Kau begitu bahagia, senyum mu merekah dan menawan" ucapnya lagi "Ada sebagian ruang hati ku yang merasa bersyukur karena nya."

Hinata tersenyum lembut membalas ucapannya "Itu karena Sasuke, aku pun bisa berdamai dengan takdir yang terjadi itu karena dirinya."

"Sepertinya cinta mu pada Uchiha itu jauh lebih besar dari yang kau berikan untuk ku dulu Hinata." Toneri tersenyum kecut.

"Begitukah?" tanya Hinata dengan tersipu.

"Ya, aku bisa merasakannya itu."

"Aku pun berharap Sasuke bisa merasakan perasaan ku untuk nya."

"Bisakah aku meminta satu hal?" tanya Toneri sambil berdiri di sisi Hinata dengan tiba-tiba.

"Hemm?" respon Hinata.

"Aku ingin memeluk mu sebagai tanda perpisahan, perasaan ku."

"Bisakah?" tanyanya lagi.

Hinata tersenyum canggung "tentu." Jawabnya sambil memeluk Toneri dan mengusap punggung besarnya.

"Terima kasih karena sudah pernah mencintai aku yang seperti ini, dan ku harap baik kau dan aku setelah ini akan terus bahagia dengan jalan takdir kita masing-masing." Ucap Hinata.

Dan Toneri membalas erat pelukan Hinata.

"Benar, selamat tinggal perasaanku." Tuturnya lagi sambil perlahan memejamkan matanya.

Melepaskan perasaan yang membelenggu keduanya.

Sementara di sudut area yang lain, aura hitam pekat serasa menyelimuti dirinya.

Ia mengepalkan tangannya dengan begitu erat.

Dan meninggalkan area itu dengan penuh kesakitan.

Melajukan tunggangannya secepat yang ia bisa, melarikan diri dari kenyataan yang ia lihat.

"Begitukah Tuhan!?"

"Apa memang seharusnya begitu?!" ucap Sasuke sambil terus mengemudikan setir mobilnya.

"Tidakkah kau mengasihaniku juga?! Aku juga menginginkannya!"

Aaarghhhhhhh!


Selang berapa waktu

Kondisi Sasuke semakin terlihat mengkhawatirkan, perut nya terkesan membesar dan kulit seputih porselen nya perlahan menghitam.

Itu wajar memang.

Saat organ hati tidak berfungsi semestinya, anggota tubuh yang lain tetap berusaha untuk mempertahakankan kekuatannya.

Dan Sasuke hanya berbaring lemah, tatapan matanya yang biasanya tajam berubah menjadi sayu.

Sudah berbulan-bulan ia berbaring di ruangan rumah sakit ini. Segala macam pengobatan sudah dilakukan, tapi kanker hatinya terlanjur menyebar dan satu-satunya cara adalah pencangkokan hati.

Sejak malam itu, Sasuke melarikan diri dari kenyataan.

Bahkan, ia terlalu pengecut untuk bertanya pada istrinya apa yang ia lakukan bersama mantan kekasihnya.

Ia, melarikan diri.

Tanpa mengucapkan perpisahan ia melayangkan gugatan perceraian terhadap Hinata.

Semua harta kepemilikan berubah atas nama istrinya.

Dan Sasuke merasa lebih baik seperti ini,

Hidup dalam keterpurukan tanpa pujaan hatinya ikut merasakannya.

Kondisi dirinya hanya tinggal menunggu belas kasih dari Tuhan.

Ia hanya bisa menunggu ada keajaiban donor organ yang cocok untuknya.

Karena golongan darah dirinya hanya cocok dengan ayahnya, sedangkan ayah nya tidak bisa dikategorikan sebagai pendonor organ dikarenakan penyakit jantung yang dideritanya.

"Kau memang bebal Sasuke." Ucap Shikamaru yang kebetulan berkunjung saat ini.

"Hn"

"Kau menyiksa dirimu sendiri, meninggalkan istrimu tanpa penjelasan dan membuatmu hidup penuh penyesalan sampai saat ini."

"Aku begitu mencintainya, aku hanya ingin membuatnya bahagia. Jika memang bahagia dia bukan dengan ku, lalu untuk apa kupaksakan?" ucapnya.

Lelaki berambut kuning terang berlari masuk ke ruangan tempat Sasuke di rawat dan membuat kehebohan "Te-teme.." ucapnya terpatah-patah karena nafasnya yang tidak teratur.

"Tidak kah kau tahu disini rumah sakit Naruto?!" hardik Shikamaru yang kesal melihat kelakukan absurd temannya ini.

"Tu-tunggu dulu Shika, kau jangan menyela ucapanku." Lanjutnya lagi sambil perlaha mengatur nafasnya.

"Aku dengar dari Sakura, ada donor yang cocok untuk mu, mereka sedang melakukan test dan jika hasilnya sesuai kau akan langsung di operasi besok Sasuke!" ucap Naruto kegirangan sambil melompat-lompat dan berakhir memeluk Shikamaru erat.

"Hei- kau serius bodoh?!" tanya Shika tidak percaya sambil berusaha melepaskan pelukan Naruto.

"Naruto bodoh! dokter Sasuke itu aku atau kau? Kenapa jadi kau yang menyampaikannya!" tukk Sakura yang datang dengan jas putihnya memukul kepala Naruto dengan tanganya.

"Aduhhhh!" Naruto mengerang "Habis aku bahagia Sakura, akhirnya." Ucap Naruto dengan senyum mentarinya.

"Ehhh, tapi." Ucap Naruto "Kenapa kau tidak bersemangat Sasuke? Ini berita baik, akhirnya Tuhan menjawab penantian mu?"

"Entahlah dobe." Ujar Sasuke sambil perlahan membaringkan tubuhnya di kasur.

Seketika hening di ruangan besar ini.

"Ehmm" ucap Sakura dan memberikan kode agar mereka berdua meninggalkan ruangan ini.

Dan Sakura perlahan mendekat dan duduk di kursi tepat di sebelah tempat tidur bungsu Uchiha ini.

"Sasuke, kami sudah jelaskan terlebih dahulu pada keluargamu mereka semua sudah setuju, Dan jika tidak ada halangan esok malam kami akan mulai melakukan operasi pada dirimu, kau sudah seharusnya berbahagia berbulan-bulan kau menderita dan ini kesempatan yang langka, aku harap bukan sebagai doktermu tapi sebagai teman mu kau mau sama berusahanya dengan kami dalam prosedur operasi ini, agar usaha yang dilakukan pendonor yang istimewa ini tidak sia-sia." Ucap Sakura panjang lebar dan memberi kekuatan pada teman nya ini.

"Dunia bagiku sudah tidak menarik lagi Sakura, aku sudah lelah dengan semua ujian yang diberikan tuhan untuk ku." Lirih Sasuke sambil memalingkan wajahnya menatap sendu jendela besar rumah sakit.

"Karena Hinata?" tanya Sakura to the point.

Dan itu menusuk tepat ulu hati Sasuke, onyx nya seakan menyiratkan kekelaman hati yang ia rasakan.

"Kau memang pengecut Sasuke, kau meninggalkan istri mu tanpa memberinya penjelasan apapun dan meninggalkan negara tempat istrimu tinggal."

"Aku tahu itu."

"Memutus kontak dengannya bahkan melarang keluargamu dan sahabatmu untuk berkomunikasi dengannya."

"Sudahlah..." ucapnya ketus "aku lelah, tinggalkan aku sendiri." Pinta Sasuke.

"Baiklah, mulai tengah malam nanti kau harus berpuasa untuk persiapan operasi nanti, terserah kau mau atau tidak melakukan operasi ini, tapi aku akan tetap memberikan usaha yang terbaik untuk mu agar pendonor istimewa ini tidak sia-sia." Ucapnya sambil berlalu meninggalkan Sasuke dalam keheningan di ruangan besar nya.

Terkadang berjalannya waktu, bisa terasa begitu cepat atau bahkan terasa berhenti sejenak.

Semua kesakitan, kepedihan, kebahagian bisa kita rasakan karena kita memiliki waktu.

Dan jika,

Tuhan semesta meminta waktu untuk meninggalkan kita.

Tak akan ada apapun yang tersisa.

Bahkan walau hanya tetesan air mata.

Operasi transpalasi yang Sasuke lakukan berhasil dengan baik, beruntungnya keluarga Uchiha, bahwa Sakura memang memiliki nama besar sebagai salah satu dokter transpalasi hati terbaik.

Proses perawatan pasca operasi pun sudah Sasuke jalani, hati yang ditanam pun menyatu dengan baik bahkan seakan ia memang berasal dari tubuh yang sama.

Hanya saja,

Memang benar, obat terbaik dari segala penyakit adalah diri kita sendiri. Dan bagaimana bisa pulih dengan cepat jika sang Uchiha saja sudah tidak memiliki hasrat terhadap kehidupan.

"Obat mu tidak kau minum lagi Sasuke?!"

"Hn" ucap Sasuke tampak tidak perduli pada wanita yang cantik yang mengenakan jas dokter dihadapannya ini.

Mikoto Uchiha hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Ia putus asa pada anak kesayangannya, wajah tenangnya tampak gusar melihat perkembangan kondisi bungsu Uchiha ini.

"Prosedur tranplasimu memang berhasil Sasuke, puji Tuhan Sakura adalah dokter yang hebat ia berhasil berkali-kali mengatasi masa kritismu, dan sekarang hanya tinggal kau yang berusaha, minum obat mu." Sambil berkacak pinggang Tsunade menjelaskan.

"Dari awalpun aku tidak pernah menyetujui untuk operasi ini, lalu kenapa ini jadi salahku." Ucap Sasuke merespon kesal.

"Tolong tinggalkan aku sendiri, oka-sama aku mohon tinggalkan aku sendiri."

Air mata tampak menggenangi pelupuk mata istri Fugaku Uchiha ini, sudah berbulan-bulan hatinya hancur melihat kondisi anak tersayangnya. Tapi Sasuke tampak tidak perduli.

"Sasuke-chan..." lirihnya.

Tsunade menyunggingkan senyum sinisnya, anak laki-laki yang sudah ia kenal sejak balita tumbuh menjadi pria yang luar biasa, bukan karena dna yang dimiliki berasal dari keluarga Uchiha tapi memang karena Sasuke sudah sangat luar biasa menurutnya.

Pembawaanya yang tenang, dan hanya dari sorot matanya saja ia serasa mampu menyelesaikan permasalahan yang ada, tapi kenapa saat ini prodigy Uchiha ini menjadi lelaki yang pengecut dan benar-benar merepotkan hanya karena seorang wanita.

"Apakah kau bertingkah menyebalkan seperti ini karena Hinata Hyuga?" ucapnya sinis.

"Tsunade-sensei..." Mikoto uchiha tampak terkejut dengan apa yang diucapkan dokter pribadi keluarganya.

"Biarkan Mikoto-sama, dia pikir hanya dia yang menderita didunia ini sehingga bersikap menyebalkan seperti ini."

Sasuke menggerutukan giginya menahan amarah, ia mengepalkan tangannya dibalik selimut rumah sakit yang ia kenakan.

"Meninggalkan istrinya tanpa penjelasan apapun, dan bersikap seakan paling menderita."

"Hentikan!" Sasuke berteriak dengan kerasnya, amarahnya memuncak dan onyxnya seakan memerah.

"Apa? Kau ingin aku menghentikan apa? Apa kau tidak ingin tau yang dilakukan istrimu saat ini? Apakau tidak ingin tau dia bersama siapa saat ini?!" ujarnya sambil berkacak pinggang dihadapan bocah Uchiha ini.

Prakkk!

Gelas kaca yang ada di sisi meja Sasuke lemparkan hampir mengenai Tsunade sensei.

"Hentikan!"

"Berhenti!"

"Dan keluar kau dari sini!"

"Apa? Kau menyesal? Apa kau pikir istrimu bahagia saat ini? Berdua bersama dengan mantan kekasihnya? Apakah itu harapan mu?!"

Dan Mikoto hanya bisa menangis terisak "Tsunade-sensei, tolong jangan dilanjutkan."

Dan Sasuke beranjak dari tempat tidurnya, onyx menawannya berubah memerah penuh amarah ia menarik kerah jas putih dokter dihadapannya ini "Kau pikir kau siapa? Bisa menilai diriku sesuka hatimu?" ucap Sasuke dengan penuh penekanan disetiap suku katanya.

Tsunade menyingkirkan lengan Sasuke paksa.

"Istrimu, adalah orang yang mendonorkan hati untuk mu!"

Cetakkk!

Rasanya Sasuke berhenti berpijak pada bumi, jantungnya terasa berhenti berdetak.

Matanya perlahan berubah menjadi sayu.

"A-apa?" ucapnya yang menolak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Hinata Hyuga adalah pendonor organ hati mu Sasuke, dia yang terbaik dan memiliki kecocokan sempurna untuk menjadi pendonor untuk mu."

Bruggghhh

Tubuh Sasuke ambruk dilantai, ia kehilangan kekuatan sendi-sendinya. Matanya menatap nyalang pada dokter Tsunade yang berdiri dihadapannya ini.

"Sasuke-chan." Mikoto langsung memeluk Sasuke yang jatuh ke lantai "maafkan oka-san sayang." Ucapnya lagi sambil memeluk erat tubuh Sasuke Uchiha yang bergetar hebat.

"Ku pikir kau harus tahu keadaan yang sebenarnya, supaya kau bisa menghargai apa yang sudah Tuhan berikan untuk mu Sasuke." Lanjut Tsunade sambil berlalu pergi meninggalkan Sasuke yang menatap nanar pada dirinya, menuntut penjelasan dan memastikan sekali lagi apa yang ia dengar bukan sebuah ilusi.

Dengan perlahan Mikoto Uchiha mengangkat tubuh Sasuke dan membantunya untuk kembali ke tempat tidurnya, matanya terus berlinangan air mata.

"Oka-sama" lirih Sasuke.

Matanya sayu meminta perlindungan, tangan besarnya menggenggam erat lengan ibundanya.

Mikoto menggangguk perlahan seakan memahami permintaan putra bungsu kesayangannya. Ia mengusap air mata di sudut matanya dan mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi satu tahun kebelakang ini.

Sekitar 1 tahun yang lalu

Saat hari dimana Sasuke salah paham pada dirinya dan meninggalkan Hinata tanpa penjelasan menjadi hari-hari terberat bagi Hinata.

Ia seakan kehilangan arah dalam hidupnya, dipagi hari yang cerah ia mendapatkan lembar perceraian yang sudah ditandatangani oleh suaminya, berhari-hari Hinata habiskan waktunya hanya untuk mencari keberadaan suaminya dan menuntut penjelasan atas semua yang terjadi.

Tapi.

Karena koneksi keluarga Uchiha, Hinata sulit dan sama sekali tidak memiliki celah agar bisa menemukan dimana suaminya berada dan satu-satunya cara yang ia tahu adalah Tsunade-sensei awalnya pun Hinata sama sekali tidak bisa bertemu dan mengatur janji dengan dokter cantik itu, tapi Hinata yang putus asa karena merasa hanya ini satu-satunya cara ia tetap gigih agar bisa bertemu dan berbicara dengan dokter keluarga Uchiha ini, hingga pada akhirnya Hinata yang sama sekali tanpa lelah menunggu di depan ruangan praktek Tsunade setiap harinya akhirnya Tsunade bersedia bertemu dengannya.

Dan saat itulah Hinata merasa dunia dihadapannya menjadi gelap.

Sasuke amat menderita dan ia sama sekali tidak menyadarinya, begitukah hingga akhirnya Sasuke memilih menghindari agar tidak menyusahkan dirinya.

Awalnya Tsunade menolak.

Ia merasa cukup hanya sampai Hinata tahu bahwa Sasuke menderita kanker hati, karena permintaan Sasuke dari awal pun merahasiakan kondisinya dari istrinya ini.

Tapi entah bagaimana caranya, Hinata akhirnya tahu bahwa Sakura adalah dokter penanggung jawab suaminya.

Dulu memang Sakura dan Hinata sempat bertemu saat acara pesta yang diadakan keluarga Uchiha sedikit banyak Hinata sudah tahu tentang teman suaminya ini, Hinata pun memaksa dan memohon agar dilakukan tes kecocokan untuk menjadi pendonor suaminya.

"Menjadi pendonor hati, resikonya berat bahkan bisa berakibat pada kematian Hinata-san." Ucap Sakura.

"Biarkan aku mencobanya sensei, aku istrinya dan terdata pada catatan negara dan aku legal untuk melakukannya."

"Bahkan suami mu melarang kami semua untuk memberi tahu kondisinya pada dirimu, bagaimana mungkin aku mengijinkan kau untuk menjadi pendonor untuk nya?" lagi Sakura menjelaskan situasinya pada Hinata.

"Lalu bagaimana? Apa aku harus diam saja? Kondisi suami ku sudah sangat parah bukan? Tolong, biarkan aku menjadi pendonor untuknya sensei." Ucap Hinata sambil berderai air mata.

"A-aku tidak bisa Hinata." Jawab Sakura "kau tenang saja, sudah ku daftarkan Sasuke ke komite organ nasional jika ada pendonor dari pasien yang mati otak suamimu akan menjadi penerimanya." Tuturnya.

"Aku tahu tidak semudah itu sensei, ada urutan untuk menjadi penerima donor dan suamiku memiliki nilai ct yang buruk untuk menjadi penerima, aku mohon... ijinkan aku mendonorkan sebagian hati ku untuk nya, terlepas apa yang akan terjadi nanti aku tidak perduli, setidaknya biarkan aku mengabdi pada dirinya sebagai tugas dari seorang istri, aku mohon padamu sensei." Ucapnya sambil perlahan duduk bersimpuh dihadapan Sakura dan menundukan kepalanya dalam-dalam.

"Hi-hinata..."

"Tolong rahasiakan kepada nya bahwa aku menjadi pendonor untuk nya, aku yakin jika dia tahu dia akan menolaknya dan melarikan diri lagi dari ku." Ucap Hinata.

Sakura terenyuh.

Sebenarnya pun apa yang Hinata bilang ada benarnya, kondisi Sasuke memang sangat mengkhawatirkan, dan dia sebagai dokter seharusnya bersyukur ada pendonor yang bersedia untuk mendonorkan hatinya.

"Baiklah, tapi aku akan meminta persetujuan keluarga Sasuke terlebih dahulu."

Amethys Hinata bersinar penuh harap.

"Hmm hmm baik sensei terima kasih banyak."

"Dan aku rasa, walaupun kau cocok pada akhirnya test nanti, aku rasa akan sulit karena perbedaan ukuran tubuh kau dan penerima organ."

Hinata tersenyum cerah.

"Aku akan menambah berat badanku sensei, aku akan rajin berolahraga, aku akan rajin minum vitamim oh iya, apa yang harus banyak aku makan agar aku bisa lebih sehat dan siap saat proses operasi nanti." Rentetan pertanyaan Hinata yang penuh kebahagiaan.

Dan Sakura tersenyum lebar melihat kelakuan Hinata.

Sasuke tidak henti-hentinya menangis ia menggenggam erat lengan ibundanya.

"Maafkan kami semua Sasuke-chan, saat itu kami semua tidak punya pilihan lain dan Hinata benar-benar memohon pada kami semua." Ucapnya lagi sambil perlahan mengusap lengan anak laki-lakinya ini.

"Ia pun beberapa kali berkunjung kemari, saat kau tertidur Hinata akan melihatmu dari jendela ruangan ini." Lanjutnya lagi.

Dan tangis Sasuke pun semakin pecah, ia meraum meluapkan perasaan apa yang ada di hatinya.

Kenapa ia begitu bodoh selama ini, menyiksa dirinya dan kekasih hatinya.

Ia meragukan perasaan istrinya, dan membuatnya menjadi wanita yang menyedihkan.

Lalu bagaimana?

"Lalu bagaimana sekarang?! Aku harus bagaimana sekarang oka-sama?" rintih Sasuke sambil terisak dalam pelukan ibundanya.

"Kau harus sehat terlebih dahulu, minum teratur obatmu, lalu kita akan mengunjunginya."

Dan Sasuke mengangguk dalam pelukannya.

Dalam semilir angin malam.

Ada rindu dalam jiwa yang menyatu dalam pekatnya malam.

Menerbangkan kegundahan dan keresahan hati dan berharap mimpi malam akan mengobatinya.

Dengan sedikit terpapah, Sasuke berjalan penuh harap pada rumah besar dihadapannya ini.

Tubuhnya tidak gegap tegah seperti dulu bergetar menahan rindu yang dirasa sudah melebihi batas kemampuannya.

Took took tokkk

Ia mengetuk perlahan pintu rumah dengan cat warna putih ini.

Jantungnya terasa terhimpit dan ia merasa kesulitan bernafas.

Ceklekkk...

Gagang pintu perlahan terbuka dan menampilkan sosok pujaan hatinya.

Dada Sasuke bergemuruh hebat, ia sandarkan tangangnya pada sisi dinding pintu untuk menopang tubuhnya.

"Sia-pa..." Dan Hinata, suaranya tercekat mulutnya tidak bisa melanjutkan kalimat yang tadinya ingin ia sebutkan.

"Hi-hinata..." lirih Sasuke.

Onyx dan amethys beradu pandang, air mata menggenangi kedua insan yang diliputi kerinduan itu pandangannya seperti menerbangkan ribuan kupu-kupu sebagai tanda kebahagian.

"Sa-sasuke-san..."

Greeeppp...

Sasuke menarik Hinata dalam pelukannya, ia memeluk erat istri tercinta ini dan menangis meminta pengampuannya "Maafkan aku Hime, aku mohon maafkan aku."

Dan Hinata menenggelamkan kepalanya dalam pelukan suaminya ini "Maafkan aku Sasuke-san, aku..." ucapnya terputus.

Cuppp...

Dan Sasuke memutus ucapan istrinya dengan ciumannya, ia mencium Hinata dengan penuh kelembutan, ia menggeleng perlahan meminta istrinya berhenti bicara. Mencium kembali kening istrinya ini, mencium kembali rambut sang putri Hyuga dan terus mencium seluruh sudut wajah sang hime pemilik hatinya.

"Maafkan aku sayangku."

Dan Hinata melingkarkan lengannya di tubuh besar Sasuke.

"Kau tampak lemah anata, dan itu menyakitkan hatiku."

"Maafkan aku." Ucap Sasuke sambil kembali mencium kening istrinya.

"Kau tidak lagi marah padaku?" tanya Hinata.

Sasuke menggeleng perlahan.

Cuppp...

Memanggut perlahan bibir ranum miliknya ini "bagaimana mungkin aku marah padamu sayang."

Dan Hinata tersenyum secerah mentari pagi

"Aku mencintaimu anata, aku sungguh-sungguh mencintaimu. Dan aku akan terus mengucapkan kata-kata itu sampai aku mati nanti." Lavender itu menatap lekat pada bola mata hitam sejelaga malam dan tepat mencuri satu detakan jantung pemiliknya.

"A-aku." Sasuke berguman seakan tidak percaya apa yang ia dengar.

Dan Hinata menarik kepala belakang Sasuke sambil berjinjit dan perlahan mencium lelaki dihadapannya ini, ia menekan bagian belakang kepala Sasuke dan memaksanya untuk terus mencium dirinya, mereka berdua terengah saling berbagi kerinduan yang memuncak melalui sentuhan bibirnya, decakan air liur terasa menjadi pembakar kerinduan mereka.

Mereka terengah.

Hinata melepaskan perlahan wajah Sasuke dan menatap lekat pada bola matanya.

Ia menggangguk penuh cinta pada suaminya ini.

Dan kembali mencium bibir tipis bungsu Uchiha ini, ia menarik tubuh suaminya untuk masuk kedalam rumahnya.

Sasuke menarik erat tubuh istrinya dan Hinata seakan tidak rela kehilangan setiap detik ciuman kekasih hatinya ia mengalungkan lengannya di leher Sasuke dan bungsu Uchiha mengangkat pinggul Hinata mengendongnya sambil terus saling berbagi rasa kehangatan.

Hinata melingkarkan kakinya di tubuh Sasuke.

Mendongakkan kepalanya kebelakang agar Uchiha itu bisa lebih menyentuhnya.

Memasrahkan tubuhnya pada pemilik hatinya, Sasuke menyentuh setiap incinya dengan penuh kelembutan.

Dua insan yang diliputi kerinduan saling berbagi sentuhan "Sa sasuke-san" ucap Hinata penuh kelembutan, tangannya mengacak rambut hitam Sasuke "Aaaahhh." Satu desahan lolos dari bibir mungil Hinata.

"Sayangku Hinata" geraman Sasuke sambil menahan hasratnya.

"Aku mencintaimu" ucap Hinata

Dan Sasuke menatap lekat wanita yang ada dibawah kendalinya ini tersenyum manis padanya, istrinya begitu mempesona bagaimana mungkin ia begitu bodoh mengabaikannya dulu.

Cuppp.. ia menandakan kepemilikan di leher mulus istrinya ini.

"Kau milikku sayang.." ucapnya

"Aku memang milikmu Anata."

Menggenggam erat jari jemari Hinata "Aaaahhh" lagi Hinata memberikan sinyal manis padanya.

Dan hanya terdengar erangan cinta diruang tamu rumah besar itu.

Disudut sofa, Hinata memeluk erat tubuh tanpa busana suaminya ini.

"Aku gendut yah? Berat badanku bertambah dan belum kembali lagi." Ucap Hinata manja.

"Tak apa, bagaimana pun kondisimu kau wanita paling cantik di duniaku."

"Surat perceraian yang kau berikan masih ada di meja kerjamu, aku tidak sanggup untuk mendaftarkannya ke pengadilan." Ucap Hinata dengan penuh manja.

"Iya, oka-san sudah menceritakan semuanya."

"Tapi, biarpun begitu.. apa boleh, hemmm..." tutur Hinata tampak ragu dengan kalimatnya.

"Aaaw" karena Sasuke menggigit gemas bibir bawah istrinya, kebiasaan istrinya yang jika gugup terus menggigit bibir bawahnya.

"Kenapa sayangku?"

"Aku ingin mengadakan pesta pernikahan, dulu kita tidak melakukannya, aku ingin merasakannya apa boleh?" pinta Hinata malu-malu rona pipi nya memerah menawan seperti buah tomat kesukaannya.

Sasuke tersenyum cerah.

Apakah ini hadiah Tuhan untuknya?

"Kau minta apapun pasti aku akan mewujudkannya sayangku."

Dan memeluk erat istri tercintanya dan terus menghujaminya dengan ciuman manis untuknya.

Terima kasih Tuhan.

Kau berikan berlian yang sangat berkilau hanya untuk ku.

Maafkan aku karena aku sempat meragukannya.

Dan mohon berikan aku banyak waktu dengannya, aku ingin menebus waktu yang tidak kita habiskan bersama.

Selamanya.

Aku mencintai mahluk indah ciptaan mu.

Hinata Uchiha.

-the end-

Haii haiii...Apakabar kalian semua? Semoga tetap kuat bertahan dalam situasi yang seperti ini.Jangan pernah kehilangan semangat dan tetap berbahagia karena telah diberi kesempatan kehidupan.Ijinkan aku meminta maaf karena keterlambatan yang aku buat, aku rasa lebih dari satu tahun _Dan aku membawa cerita yang tidqk ada kemajuan, ada satu dan lain hal yang buat aku lama update chap ini,Maaf jika masih banyak kekurangan baik dari penulisan maupun inti cerita.Jujur, terlalu lama tidak menulis, aku seperti kehilangan arah tapi tetap aku paksakan untuk melanjutkan cerita ini karena janji yang sudah aku buat dan buat yang kecewa karena tidak sesuai ekpektasi aku minta maaf ya...Kedepannya, aku harap ada masukan berupa saran supaya bisa aku perbaiki kesalaham yang aku buat.AaahhhhRasanya lega, seperti bisul yang telah pecah.Satu fict aku selesai.Dan setelah ini doakan aku diberi waktu dan kemampuan untuk melanjutkan fict yang belum selesai.Akhir kata, terima kasih telah mengikuti Sincerity of Feeling dengan banyak kekurangan aku sebagai penulis aku berterima kasih karena sudah bersedia membaca.Tetap sehat di kondisi seperti ini. Sampai bertemu di fict saya yang lainnya.Byeee_oyasuminasai_