Sincerity Of Feeling

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Pairing : Sasuke U x Hinata H

Genre : Romance & Drama

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya

. . .

Chap IX

Satu persatu kelopak bunga berguguran, kelopak yang tadinya indah menawan, layu dan harus bersedia untuk diganti dengan kelopak muda yang lainnya. Bukankah hidup seharusnya memang seperti itu?

Sasuke menyentuh hatinya,

Rasanya seperti salju pertama diawal musim dingin, dinginnya menyentuh hingga ke pori-pori.

Berkali-kali ia menyentuh dadanya, berharap degupan jantung yang sedari tadi berdetak begitu cepat bisa ia atasi.

Hinata memang sudah kembali ke kantor, begitu terburu-burunya ia meninggalkan suaminya yang kelelahan akibat aktifitas bersamanya.

Ia terlalu malu untuk melihat reaksi suaminya atas sikapnya tadi.

Padahal... tidak ada jadwal atau tugas untuk dirinya pun dikantor hari ini.

Hinata hanya melarikan diri dari perasaan aneh yang ia rasakan.

Ia tidak ingin mengakui, dan berusaha menyangkal apa yang hatinya rasakan.

Kenapa hati manusia berproses seperti ini dan bisa begitu kejam?

Kenapa hati manusia bisa begitu membenci dan begitu mencintai.

Apakah hidup akan tetap sama jika Tuhan menghilangkan rasa benci dan cinta?

Semilir angin dingin yang berhembus ikut membawa pikiran istri dari Uchiha Sasuke ini, dan meninggalkannya dengan kebingungan atas perubahan perasaaan yang begitu cepat.

Sementara itu,

Ditempat lain...

Ada yang begitu bahagia, ia merasa seperti menerima berkat atas semua hal baik yang ia lakukan selama 1000 tahun.

Ia tersenyum begitu manis pada setiap pegawai yang ia temui hari ini di kantor.

Membuat kehebohan.

Itu pasti.

Seorang yang sedingin kutub utara tiba-tiba bersikap ramah dan tersenyum begitu banyak. Sebagian yang melihatnya begitu terpesona seperti ratusan kupu-kupu yang keluar dari perutnya dan sebagian lainnya yang mengenal dirinya begitu khawatir akan sesuatu hal buruk yang akan terjadi dan menimpa padanya.

Bahkan Jugo menyarankan untuk segera ke rumah sakit.

Ck,

Tuhan,

Apakah aku boleh berharap pada dirinya?

Aku tidak meminta hatinya, itu terlalu mewah untuk ku.

Aku hanya meminta kesediannya dirinya untuk sedikit lebih perduli padaku dan bisa bersikap manis seperti yang dilakukan pagi ini padaku.

Itu sudah lebih dari cukup untuk ku.

Pinta Sasuke dalam do'a yang ia panjatkan hari ini.

"Sasuke-sama, apa kau yakin baik-baik saja?" lagi, tanya Jugo yang khawatir pada bos besar nya ini.

Sasuke memicingkan mata sebagai jawabannya, ia sedikit terganggu dengan pertanyaan Jugo.

Jugo reflek menundukan kepalanya tanda menyesal.

"Apa ada pertemuan yang harus ku hadiri diluar hari ini?" tanya Sasuke.

Jugo memberikan perlahan tab yang sudah sedari tadi digenggamnya, layarnya menunjukan tabel pertemuan-pertemuan yang harus bungsu Uchiha ini lakukan pada satu minggu ini.

"Kenapa ada begitu banyak jadwal di akhir pekan?" tanya Sasuke.

"Sesuai dengan permintaan Sasuke-sama untuk tidak menunda hal-hal penting tidak perduli apa itu hari libur atau weekend." ucapnya lagi.

Sasuke berdiri dan mengambil mantel panjangnya, udara diluar sedikit dingin, akan terasa menyakitkan untuk kulit jika hanya menggunakan jas saat pergi keluar ruangan "Ubah jadwalnya, aku hanya akan menghadiri pertemuan di hari kerja." titah Sasuke sambil berjalan keluar ruangan diikuti Jugo untuk menghadiri petemuan yang sudah di jadwalkan pada siang hari ini. "Aku ingin lebih banyak waktu diakhir pekan dengan Hinata-ku." harap Sasuke dalam hatinya.

Meninggalkan gedung Uchiha yang menjulang tinggi.


#

Jodoh dan pertemuan memang harus dengan campur tangan Tuhan bukan?

Di salah satu hotel mewah di pusat kota Konoha.

Hinata tersenyum canggung pada suaminya yang tidak sengaja ia temui saat meliput salah satu narasumber di hotel ini.

Sasuke mati-matian menahan ekpresi yang ia rasakan saat ini dan tetap bersikap seperti seorang Uchiha seperti biasanya.

"Aku ada pertemuan dengan Shikamaru disini." ucap Sasuke tanpa say hello ataupun berbasa-basi seperti kebayakan orang.

Hinata mengangguk perlahan, entah mengapa pipinya mendadak merona mendengar suara dari seseorang yang berstatus sebagai suaminya ini "A-aku menemani Kiba, dia tidak begitu lancar jika harus bertemu narusumber seorang perempuan."

"Aku sungguh mencintaimu Hinata." ucap Sasuke yang tentu hanya dalam hati berani ia ucapkan. Matanya menatap sendu pada wanita yang terus menunduk canggung.

"Baiklah, aku kembali ke ruanganku dulu." sahut Sasuke sambil perlahan bergerak meninggalkan Hinatanya.

Rasanya seperti ada semilir angin yang sedikit menyakitkan di hati Hinata saat Sasuke bergerak menjauh dari dirinya.

"A-apa masih lama?" tanya Hinata dengan terbata.

Deg...

Jantung Sasuke seakan berhenti berdetak, kakinya seperti otomatis berhenti berjalan.

Ia memutar tubuhnya kembali menghadap pada gadis yang begitu ia cintai.

Dengan segala keberanian yang Hinata punya.

"A-apa masih lama pertemuan yang kau hadiri?" ia mengulang pertanyaanya. "Aku tidak membawa mobil hari ini, dan Kiba harus pergi dengan segera untuk menemui narasumber yang lain. Bisa antarkan aku ke kantor?" tanya Hinata.

Rasanya ada anak panah yang tepat menghunus jantung Sasuke. Ia berdiri mematung, butuh ribuan detik untuk bisa membuat Sasuke menyadari apa yang Hinata ucapkan.

.

.

.

.

"Aku bisa mengantarmu sekarang." jawab Sasuke setelah ia berhasil mengatasi alam bawah sadarnya.

"Ba-bagaimana dengan pertemuannya?" tanya Hinata sedikit khawatir.

Sang prodigy Uchiha pun memutar kembali tubuhnya, Hinata pun secara otomatis mengikuti perlahan dibelakangnya, mereka berjalan menuju pintu keluar di lobby utama "Ada Jugo disana." jawab Sasuke dengan senyum manis yang tersemat pada bibirnya.

Kau tahu Sasuke?

Buah dari kesabaran itu tidak pernah pahit.

#

Hei...

Apa kau tahu,

Puisi yang terbaik yang pernah kubaca sampai saat ini?

Puisi yang didalamnya terdapat harapan.

Jika kau bersedia,

Aku ingin membaginya denganmu.

"Ehm..." Hinata berdehem perlahan, mengusir kecanggungan yang terjadi antara ia dan suaminya di mobil ini.

Sasuke melirikan matanya perlahan pada sesorang yang duduk di samping dirinya, ia tahu istrinya ini ingin membicarakan sesuatu "Bicaralah..." titah Sasuke.

"Ayah memintaku untuk mengunjunginya akhir minggu ini, apa aku boleh pergi?"

Ya Tuhan.

Jika ini hanya permainan dari istrinya, sungguh Sasuke tidak akan sanggup lebih dari ini. Terlalu banyak hal manis yang mendadak terjadi pada dirinya, ia butuh seseorang untuk menyadarkan bahwa ini bukan mimpi.

Istri nya yang begitu manis meminta ijin darinya untuk pergi ke suatu tempat, hal yang bahkan tidak pernah Sasuke bayangkan.

Ia mengalihkan pandangannya dan berusaha fokus dalam mengemudi "Silahkan saja." jawabnya pura-pura acuh.

"A-apa k-kau tidak m-mmau ikut?" tanya Hinata gugup, pipinya memerah sempurna, beruntung saat ini ia berada di dalam mobil jadi Sasuke tidak akan begitu jelas melihat perubahan yang terjadi pada pipinya ini.

"Hn." jawab prodigy Uchiha ini di sertai dengan anggukan kecil.

Hinata bersemu merah.

Dan Sasuke begitu gugup dan gelisah.

. . .

Terkadang hidup berjalan dengan penuh misterius, Hinata tidak pernah menyangka jika perasaannya pada Sasuke bisa berubah seperti ini. Mungkin saja satu bulan yang lalu hati dan pikirannya masih di penuhi dengan amarah dan rasa benci yang teramat sangat pada Sasuke.

Hanya dengan sedikit kata dari seseorang bisa membuat sedikit celah pada tembok besar yang ia bangun untuk Sasuke dalam hatinya.

Ia lengah.

Perlahan celah itu membuat retakan yang diawali rasa bersalah yang ia rasakan mengetahui kondisi yang sebenarnya dari suaminya selama ini.

Dulu ia berfikir,

Hanya ia yang menderita dalam hubungan yang dipaksakan ini.

Tapi ternyata,

Sasuke Uchiha menyimpan lebih banyak luka yang dalam atas usahanya mempertahankan hubungannya selama ini.

Hinata berfikir, setidaknya ia harus memberi kesempatan.

Itu alibi awalnya.

Dengan lebih bersikap sedikit peduli pada seseorang yang berstatus suaminya ini.

Tapi pada akhirnya,

Hatinya terlalu penuh.

Ia dipenuhi dengan kasih sayang yang Sasuke Uchiha berikan selama ini.

Dulu,

Setiap hal-hal kecil yang Sasuke lakukan untuknya ia sangat membencinya, ia selalu beranggapan bahwa suaminya ini sedang membangun citra yang baik pada publik mengingat Hinata bekerja di stasiun penyiaran dimana berita baik fakta maupun karangan bergerak begitu cepat.

Namun saat ini.

Hatinya begitu penuh, ia merasa sesak atas hal-hal kecil dan begitu manis yang dilakukan suaminya.

Yah...

Yang Hinta tahu saat ini.

Ia jatuh cinta pada Uchiha Sasuke.


Sang surya bergerak perlahan, menerangi sebagian wilayah bumi dan meninggalkan kegelapan pada sebagian lagi.

Udara pagi yang begitu sejuk menjadi penanda hari yang bahagia.

Sasuke Uchiha perlahan membuka matanya, ia sedikit enggan menyadari bahwa sudah bukan waktunya untuk berada diatas kasur yang begitu nyaman. Terlebih, kehilangan kelembutan dari lilitan tangan wanita yang memeluknya erat yang saat ini ia rasakan.

Sasuke menarik nafas panjangnya perlahan, ia tidak ingin membuat permaisurinya ini terusik dari istirahatnya. Rambut indigonya bergerai menutupi sebagian wajah sang istri, dengan perlahan disampirkannya di telinga Hinata.

"Aku harus bersikap seperti apa nanti jika aku tahu bahwa yang kau lakukan selama ini hanya mimpi yang aku buat?" tanya Sasuke didalam hatinya.

Onyx-nya menatap sendu pujaan hatinya.

Sasuke menyadari, ia betul-betul menyadari perubahan istrinya ini.

Ia begitu bahagia dan berjuta-juta kali mengucap syukur pada Tuhan atas apa yang ia rasakan. Tapi ia membentengi hatinya.

Ia berkali-kali menekankan untuk tidak terlarut atas kebahagian yang ia rasakan akhir-akhir ini, karena yang biasanya terjadi.

Tuhan akan mengambil sesuatu darinya jika ia terlalu bahagia.

Sasuke takut membayangkannya.

Ia dibawa jauh melayang dan dihempaskan saat itu juga.

Ia tidak ingin.

Perlahan ia menyampirkan lengan Hinata, menyelimutinya dengan lembut istrinya ini dan melangkahkan kaki untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk aktifitas hariannya.

"Ini kan?"

Perhatian Sasuke tertuju pada tempat sampah yang terdapat di kamar mandinya botol obat berwarna putih.

"Milik Hinata..." lagi ucapnya pada diri sendiri.

Yah,

Sasuke tahu botol obat itu, ia begitu terluka saat awal mengetahui sang istri mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Tapi, kenapa botol itu ada di tempat sampah? botol itu masih terasa berat, yang berarti isinya masih banyak.

Ia menggelengkan kepalanya,

Berusaha mengusir pikiran-pikiran manis yang dibuat oleh otaknya.

"Mungkin tidak sengaja terjatuh." ia menyakini kata-kata itu dan berniat meletakan kembali botol obat itu pada tempat dimana biasa Hinata menyimpannya.

Sasuke kembali membersihkan dirinya dan setelah itu keluar dari kamar mandi dengan botol obat digenggamannya.

"Sasuke-san... apa itu?" tanya Hinata dengan perlahan bangun dari tempat tidurnya.

"Ini milikmu, aku menemukannya dikamar mandi, kau lupa menyimpannya kembali." jawab Sasuke.

Hinata meremas gaun tidurnya "Aku sudah lama tidak mengkomsumsinya."

Sasuke terkejut, terlihat dari raut wajahnya.

"Aku sengaja membuangnya." lagi ucap Hinata sambil mengambil kembali botol yang Sasuke genggam dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di sisi meja rias.

Tanpa melihat perubahan ekpresi dari suaminya ini, Hinata melangkah menuju kamar mandi, ia harus bekerja hari ini, ada begitu banyak jadwal yang harus ia kerjakan.

Runtuh sudah pertahanan Sasuke Uchiha.

Ia menarik sang istri dan memaksanya untuk melihat dirinya.

"A-apa yang kau lakukan?" tanya Hinata sedikit khawatir.

Sasuke menatapnya dengan sinar mata yang tidak pernah Hinata lihat selama ini, dan genggagam tangan di lengan kananya terasa begitu kuat.

"Apa maksud dari semua ini?" onyxnya menggelap, ada begitu banyak luka yang tersirat yang Hinata bisa rasakan.

Akhirnya...

Sasuke melepaskan segala yang ia pertahankan selama ini.

"A-aku tidak mengerti yang kau katakan Sasuke-san." jawab Hinata, ia berusaha mengalihkan perhatian dari sinar mata Sasuke yang terasa begitu menyakitkan saat ini.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu beberapa hari ini, tapi tolong, beritahu padaku jika semua sikapmu ini hanya kepura-puran Hinata..." lirih Sasuke.

Mata sejelaga malam itu menumpahkan semua kehawatiran yang ia rasakan, menumpukkan kesedihan yang terkumpul pada air matanya.

Hinata mengerti.

Betapa besar ia menyakiti Sasuke selama ini.

Hati nya pun terasa teriris melihat lelaki di hadapannya begitu rapuh seperti ini.

"Aku lelah Hyuga, memikirkan beribu prasangka yang terjadi karena sikapmu beberapa hari ini dan memaksa hatiku untuk tidak terlalu berharap, aku lelah... jangan beri aku siksaan seperti ini, jika pada akhirnya kau hanya mempermainkanku." lanjut Sasuke ia lepaskan genggaman tangannya pada Hinata.

"Lupakan saja..." lirih Sasuke.

Pada akhirnya...

.

.

.

"Aku mencintaimu Sasuke."

Sasuke bergetar mendengarnya.

Ia menatap tajam sumber suara yang membuat tubuhnya berhenti berfungsi.

"Aku telah jatuh cinta padamu, aku menyadari semua sikapku selama ini padamu, awalnya aku berkali-kali menolak perasaan ini, tapi... aku tidak bisa menahannya lagi, aku mencintaimu Sasuke." ucap Hinata.

Onyx dan lavender saling bertatapan, ada berjuta perasaan dan kata-kata yang terasa disampaikan hanya dengan tatapan mereka.

Hinata meneteskan air matanya.

Dan itu membawa kesadaran Sasuke kembali.

"Jangan menangis!" titahnya sambil merangkul pipi pulam Hinata dan mengusap air mata dengan ibu jarinya.

"Aa-aku..."

"Kau harus tahu konsekwensi apa yang kau buat dengan perkataanmu Hinata."

Cuppp...

Terlalu banyak kejutan yang di terima Sasuke pagi ini, ia tidak siap jika harus mengalaminya sekaligus seperti ini.

Bibir ranum Hinata mengecupnya miliknya perlahan.

Lavender nya menatap lurus pada seseorang yang berstatus sebagai suaminya saat ini.

"Beri aku kesempatan, aku akan buktikan jika perasaanku memang tulus padamu a-anata..." ucap Hinata lagi.

Tuhan,

Harus dengan apa aku berterima kasih padamu untuk semua ini.

Sasuke menegang.

Hinata menarik pundak Sasuke agar lebih mendekat padanya, ia mengecup kembali bibir yang biasa berekpresi begitu dingin, bukan hanya mengecup, kecupan yang ia lakukan sedikit berlebihan, ia memejamkan matanya dan perlahan melumatnya.

Suaminya.

Kekasihnya.

Ia berjanji untuk membuktikan padanya bahwa ia mencintai dirinya.

Dan Sasuke.

Ia mendekap tubuh mungil istrinya ini untuk lebih menyatu dengannya, ia membiarkan istrinya menguasinya saat ini.

Ia menikmatinya.

Biarkan ia menjadi yang pasif untuk saat ini.

Udara di ruangan kamar yang tadinya sangat hening berubah menjadi begitu panas.

Ia membenamkan wajahnya di perpotongan leher istrinya, mengecup setiap inci yang Hinata miliki.

Hinata begitu cantik saat ini.

"Aku mencintaimu Hinata..." ucap Sasuke.

Dan Hinata mengangguk begitu manis berada dalam pelukan sang prodigy Uchiha.

Dan membiarkan ia melakukan hak nya sebagai suami.

. . .

Hari-hari Sasuke berlalu begitu bahagia.

Hinatanya selalu berada dalam jangkauannya, terkadang ia yang menemani Hinata jika ada waktu senggang untuk mengikutinya meliput sumber berita, atau Hinatanya yang selalu mengganggu nya saat berada di ruang kerjanya di gedung Uchiha.

Ada begitu banyak pengorbanan yang Sasuke lakukan untuk mendapatkan kebahagian ini,

Ada begitu banyak luka yang Sasuke rasakan untuk mendapatkan keberkatan dari Tuhan untuk dirinya dari Hinata yang ia cintai.

Hinata pun sempat meminta pendapat dirinya jika berhenti bekerja, ia berfikir untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan suaminya ini, dan semakin menyakinkan Sasuke bahwa ia benar-benar mencintai seseorang yang berstatus suaminya ini. Namun, Sasuke berkata ia tidak ingin menghalangi apapun keinginan istrinya "Lakukan saja hal yang kamu sukai, aku yang pertama akan mendukung apapun yang kau lakukan." jawab Sasuke. Sambil mengecup perlahan kening istrinya.

"Apa kau ingin makan malam diluar? " tanya Sasuke pada istrinya. Sambil mempersilahkan Hinata masuk kedalam lift terlebih dahulu.

Ia sengaja mengosongkan jadwalnya dari pukul 17.00 agar bisa menjemput kekasih hatinya ini ditempat kerjanya.

Jangan lupakan sebuket bunga yang tidak pernah lupa ia bawa setiap kali memiliki kesempatan untuk menjemput istrinya.

"Aku sedang tidak ingin masak dan tidak berselera untuk makan diluar." goda Hinata sambil memeluk suaminya.

"Apa kau tidak tahu jika lift dikantor mu ini dipasang cctv sayang?" tanya Sasuke yang begitu gemas pada tingkah manja istrinya ini.

"Biarkan saja..." ucapnya sambil menggembungkan pipinya.

"Baiklah, aku yang masak untuk mu malam ini..." jawab Sasuke sambil mengelus pipi gembil istrinya.

Ting...

Suara pintu lift yang terbuka.

"Hinata..." suara bass yang masih Hinata ingat jelas.

Hinata mematung.

Dan Sasuke mendadak merasakan getaran di seluruh tubuhnya ia ketakutan dan refleks menarik Hinata agar lebih dekat dengannya.

"Lama tidak bertemu..." jawabnya seseorang lelaki berambut putih tersenyum manis pada Hinata.

"To-toneri-kun? tanya Hinata.

_tbc_

Selamat malam minna-san.

Saya harap kalian semua saat ini baik-baik saja, kita semua saat ini sedang mengalami masa sulit. Saya harap kalian tidak kehilangan harapan, tetap semangat dan banyak berdoa semoga keadaan kembali membaik seperti dahulu.

Tetap jaga kesehatan dan rajin cuci tangan.

Yang masih harus tetap keluar rumah, semoga selalu dalam lindungan.

Yah, sudah terlalu lama sejak saya update chap yang terakhir, saya minta maaf karena lagi-lagi tidak memegang janji untuk bisa lebih cepat update.

Dikarenakan kondisi lain dan suatu hal, waktu luang saya sudah tidak seperti dulu, tapi pun saya tidak pernah berniat untuk membiarkan fict ini pasti akan saya selesaikan.

Minta semangatnya ! ^_^

Mohon kritik dan sarannya dari kalian semua, dichap ini saya merasa banyak sekali kekurangan karena mungkin terlalu lama saya tidak menulis rasanya terasa aneh saat menulis kembali, mohon dimengerti jika ada bagian kurang baik dan mohon disampaikan supaya kedepannya bisa saya perbaiki, terima kasih untuk reviewnya yang sudah bersedia mereview, saya membacanya dan benar-benar mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.

Tetap sehat untuk kita semua.

Sampai bertemu chap selanjutnya...

Terima kasih sekali lagi.

Oyasuminasai.

Intan Uchiha.