"Sa-sakit sudah lepaskan"

"…"

"Kau jahat sekali hiks"

"…"

"Aku i-ini is-istrimu

"…"

"Hiks, ini sakit aku mohon"

"…"

"Akhhhh"

...Rumit...

Mimpi itu lagi.

Hinata terbangun nafasnya terengah-engah, tangannya segera bergerak kesisi nakas mencari cairan bening yang bisa memebasahi tenggorokannya, ia tegak cairan itu hingga tandas ia tidak peduli dengan cairan yang membasahi baju tidur yang ia kenakan, kepalanya pusing sesekali di tekannya daerah kepalanya yang sakit, sepertinya ia terlalu banyak memikirkan lelaki mengerikan itu hingga terbawa sampai kealam bawah sadarnya.

"Itu hanya mimpi" di tepuk kedua pipinya beberapa kali memastikan kalau itu hanya mimpi.

"Semua akan baik-baik saja selama_ "Hinata diam sejenak "selama aku tidak bertemu dengan manusia mengerikan itu" lanjutnya

"Huh" Hinata menghela nafas.

Mungkin dengan beredam sebentar bisa merilekskan pikirannya, buru-buru Hinata bangun dari ranjangnya, tapi baru beberapa langkah tubuhnya terhuyung hampir jatuh efek pusing membatasi pergerakannya, ia berpegangan pada dinding untuk bisa menuju ke tempat pemandian.

.

.

.

Beberapa pelayan membantu Hinata melepaskan pakaiannya, kaki mungilnya melangkah pelan menuju kolam pemandian, tubuhnya pelan-pelan tertelan oleh air menyisakan bagian leher dan kepalanya, di pejamkan matanya menikmati sensasi hangat yang menyentuk tubuhnya, Hinata tersenyum sepertinya memilih memanjakan tubuhnya dengan air hangat adalah pilihan yang tepat apa lagi di musim gugur seperti sekarang, sedikit berlama-lama tidak masalah pikir Hianata.

-Rumit-

Di kamar yang besar benuansa emas, terlihat sepasang manusia tidur dengan tenang, kecuali sang wanita, terlihat wanita dengan surai pink itu menampilkan raut wajah sedih sambil memandang wajah laki-laki yang terlelap di sampingnya, tangannya dengan posesif memeluk pinggang laki-laki yang memejamkan matanya itu, di tenggelamkannya wajahnya di dada bidangnya seakan-akan ia takut laki-laki itu akan pergi.

'Kau hanya milikkukan, Yang Mulia ?' Sakura bertanya dalam benaknya sendiri 'ya, kau hanya milikku' lanjutnya, ada senyum kecil terparti di bibirnya, tangannya semakin mempererat pelukannya Sakura benar-benar berharap waktu berhenti sekarang juga, hanya seperti ini hanya mereka berdua tanpa orang ketiga.

Sebenarnya Laki-laki bersurai hitam itu tidak benar-benar tidur hanya memejamkan mata, ia membuka matanya saat mendengar dengkuran halus dari Sakura, iris berwarna hitam jelaga itu memandang lurus wajah istrinya, tak ada ekspresi yang di lihatkan olehnya ia hanya memandang lurus, pikirannya berkecamuk entah kemana, ciuman singkat ia berikan di kening istrinya, di lepaskannya pelukan Sakura pelan tak ingin membuat sakura terbangun, di ambilnya jubah untuk menutupi tubuhnya. Lalu ia beranjak pergi berniat membersihkan tubuhnya.

-Rumit-

"Wah" Tenten terkagum. "Apa ini semua, Yang Mulia yang membuatnya?" tangannya bergantian memegang kain sulaman yang bermotif bunga dan hewan yang sudah jadi.

Hinata tersenyum "Kau boleh mengambilnya jika kau suka Tenten"

"Benarkah wahhh" Tenten segera memilih-milih sulaman yang akan ia ambil. "Kenapa semuanya bagus aku jadi bingung, yang bermotif melati putih? atau mawar kuning?" Tenten menggaruk-garuk belakang kepalanya lalu mengerang frustasi.

"Melati putih, berarti cinta yang manis sedangkanMawar kuning berarti persahabatan" Tangannya masih sibuk dengan sulaman bunga sakura yang sedang ia buat.

"Sugoi, Yang Mulia juga tau artinya, kalau begitu aku akan mengambil sulaman mawar kuning ini" di angkatnya tinggi- tinggi sulaman itu di pandanginya dengan teliti. "ini indah sekali Yang Mulia"

"Terimakasih, kau berlebihan Tenten-chan"

Tenten menggeser duduknya mendekati hinata yang masih sibuk dengan sulaman bunganya

"Yang Mulia, Ajari Aku" tangan di tangkup di depan dada?

Hinata tertawa manis, lalu mengangguk.

Tidak terasa hampir dua bulan Hinata tinggal di paviliun timur, Tak banyak yang ia lakukan setelah menjadi seorang selir, kegiatannya hanya sebatas di paviliun ini, apapun yang membuat ia bisa melupakan kesedihannya ia lakukan seperti sekarang ini, ia lebih memilih menyulam dari pada berdiam diri, kadang ia menanam bunga di dekat taman paviliun, membuat sabun, membuat parfum, membantu para pelayan memasak, apa pun yang bisa hinata kerjakan akan ia kerjakan. Ia di perbolehkan melakukan apa saja di sini, asalkan tidak datang ke paviliun utama tanpa perintah, di paviliun utama itulah dimana para raja dan ratu serta pangeran dan segala tete bengeknya tinggal. Setiap selir mempunyai paviliun tersendiri sepertihalnya Hinata sekarang. untuk menuju paviliun Utama. ia hanya perlu menyebrang melewati jembatan yang menghubungkan paviliun yang ia tinggali dengan paviliun utama kerajaan tapi peraturan tetaplah peraturan, berani menyebrang tanpa perintah berarti siap mati.

Tok…tok…tok…

Hinata yang serius dengan sulamannya menghentikan kegiatannya saat mendengar suara ketukan pintu, Tenten memandang kearah Hinata seakan mengatakan apa Yang Mulia mengundang seseorang?

"Masuk" Hinata berdiri diikuti Tente di belakangnya.

Seorang pelayan mendekat "Maaf mengganggu Yang Mulia, Yang Mulia Sakura ingin bertemu"

Senyum yang terparti di wajah Hinata pudar seketika, saat nama Sakura di sebutkan, di gantikan dengan wajah yang penuh dengan keheranan.

"Berikan dia masuk" banyak pertannyaan yang muncul dalam benak Hinata ada kabar apa yang membuat calon ratu kerajaan itu harus repot-repot datang kekediamannya.

Sakura segera masuk, kimono berwarna merah muda menghiasi tubuhnya, bulu- bulu halus menghiasi kerah kimononya, dan hiasan rambut berwarna senada dengan kimononya menghiasi surai pinknya, menambah kesan cantik dan elegan siapapun yang melihatnya pastilah akan tau wanita ini bukanlah wanita biasa, hanya kalangan bangsawan yang bisa berpakaian semewah dan seindah itu.

"Selamat datang Sakura-sama" Hinata membungkuk pelan memberi hormat.

"Ada yang ingin aku bicarakan" matanya menilik setiap ruangan "Tidak disini" lanjutnya.

"Baik" Hinata melangkah mengikuti Sakura yang berjalan keluar dari ruangannya.

"Karin siapkan teh, lalu bawa ke paviliun dekat danau utara"

"Baik Yang Mulia" Karin membungkuk, lalu melangkah pergi.

Hinata sebenarnya kurang nyaman dengan cara Karin melihatnya, tatapannya saat menatapnya bebeda seperti ada rasa tidak suka yang di tunjukkan wanita berambut merah itu padanya, tapi Hinata membung jauh-jauh pikiran itu ia merasa jahat karena menuduh Karin berdasrkan perasaannya saja.

.

.

.

Tuk, bunyi cangkir yang di letakan, Sakura baru saja menyesap tehnya

"Seperti pertemuan sebelumnya, apa kau sudah hamil Hinata?" sebuah pertanyaan dari Sakura membuka percakapan.

Deg.

"Saya belum memeriksakan diri ketabib istana Sakura-sama, maafkan saya"

Sakura menggigit bibir bawahnya lalu menghela nafas kecewa, "Panggilkan tabib istana untukku, segera"

"Baik yang mulia" beberapa pelayan tergopoh-gopoh meninggalkan area paviliun.

"Ini sudah dua bulan sejak kau menikah" sakura melirik kearah hinata "Jika kau tidak sanggup menjalankan rencana ini, aku bisa menggantikanmu dengan wanita lain" lanjutnya, di sesap kembali tehnya "Tapi, kau tau apa resikonya bukan, Selir Hinata" ada penekanan saat kata Selir diucapkan.

"Maafkan saya Sakura-sama" Hinata membungkuk, sebagai permintaan maaf.

"Gagal berarti ada nyawa yang kau pertaruhkan!"

Hinata yang sedari tadi diam memandang cakir teh miliknya, tiba-tiba mengangkat kepalanya, matanya memandang Sakura seakan tak percaya, dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Rencana ini sangat penting, ini untuk kelangsungan kerajaan ini, aku sudah mengecewakan yang mulia, aku harus mengorbankan perasaanku, Aku harus mengorbankan orang yang kucintai, kau pikir aku mau melakukan ini? Kau pikir ini mudah? paling tidak bergunalah dalam rencana ini."

Hinata membungkuk sekalia lagi "Maafkan saya Sakura-sama, saya akan berusaha lebih keras lagi"

Hinata tidak tau harus berkata apa, ia merasa bersalah setelah mendengar apa yang Sakura ucapkan. 'Seharusnya kau bersyukur Hinata, jika bukan karena kerajaan dan wanita itu mungkin kau sudah kehilangan adikmu dan menjadi gundik di luar sana, kau hanya perlu hamil lalu semua selesai, bertahanlah demi adikmu' batin Hinata

Hening

"jangan jatuh cinta padanya" suara sakura.

"e-" Hinata memastikan pendengarannya.

"Jangan jatuh cinta pada Yang Mulia, jangan bawa perasaan dalam rencana ini"

Hinata mengangguk sebagai jawaban.

"Yang Mulia tabib istana sudah datang"

Suara pelayan membuat mereka menoleh ke sumber suara.

Terlihat laki-laki berambut putih itu mendekat walaupun rambutnya berwarna putih itu bukan uban, dia masih sangat muda bahkan banyak para pelayan dan dayang istana yang mengidolakan tabib istana itu dia cukup popular di kerajaan ini.

"Yang Mulia" tabib itu membungkuk memberi hormat.

Sakura tersenyum membalas salam penghormatan yang di berikan tabib istana itu padanya.

"Bagaimana kabarmu Kabuto?"

"Sangat baik Yang Mulia, suatu kehormatan anda memanggil saya Yang Mulia"

"Aku ingin kau memeriksa keadaan wanita itu" sakura mengarahkan pandangannya kearah Hinata yang duduk di sebrang meja.

"Baik Yang Mulia" Kabuto se

gera mendekata kearah hinata dan meminta hinata untuk memberikan pergelangan tangannya padanya "maaf Yang Mulia" tiga jari kabuto di tempelkan di salah satu nadi di pergelangan tangan Hinata, Kabuto memeperhatikan wajah wanita yang sedang ia periksa, pucat, itu kesan pertama yang Kabuto lihat, bahkan denyut nadinya sangat lemah.

"Apa ada yang mulia pikirkan yang membuat Yang Mulia kesulitan?" tanya kabuto

Hinata diam ingin sekali ia menjawab iya, tapi mengingat kata-kata Sakura 'paling tidak bergunalah dalam rencana ini' membuat Hinata menggelengkan kepalanya.

"Bagaimana?" tanya Sakura.

"Sepertinya yang mulia Hinata hanya kelelahan, dan sedikit stres lebih baik Yang Mulia memperbanyak istirahat, denyut nadi Yang Mulia sangat lemah"

Hinata mengangguk "Baik Kabuto-san, terimakasih banyak"

Kabuto tersenyum " Jangan sungkan Yang Mulia"

"Apa dia hamil"?

"Maaf Yang Mulia tapi, saya tidak merasakan adanya tanda-tanda kehamilan"

"Hah" sakura menghela nafas kecewa

"Kau bisa kembali kabuto"

Sebelum pergi Kabuto membungkuk memberi hormat lalu meninggalkan paviliun.

.

.

.

Dalam perjalan kembali menuju kekediamnnya, pikiran Hinata berkecamuk setelah mendengar penjelasan dari Kabuto. bagaimana bisa semua berjalan sesuai rencana,mustahil rasanya yang mulia bahkan enggan melihatnya, bahkan mungkin membencinya mengingat pertemuan terakhir mereka sangatlah buruk.

"Huh" hinata menghela nafas lelah, pikirannya benar-benar lelah

Tapi seperti perkataan orang-orang terdahulu hati manusia itu unik sekali, detik ini kau bisa bilang tidak, tapi beberapa detik kedepan bisa saja iya, tak ada yg bisa menebaknya.

"Yang Mulia" Sakura membungkuk memberi hormat.

Hinata yang mendengar suara Sakura, menoleh melihat apa yang membuat calon Ratu itu memberi penghormatan.

Deg…deg…deg

Tubuh Hinata kaku 'Ya ampun pajang umur sekali orang ini' batin Hinata, Orang yang baru beberapa detik ia pikirkan sekarang benar-benar ada didepannya hanya berjarak beberapa meter.

Hinata langsung membungkuk melakukan hal yang sama, hanya saja kepalanya menunduk menghindari kontak mata.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku hanya ingin menyapa dan melihat keadaan Selir Hinata" Sakura tersenyum "Bukan kah begitu Hinata?

Sasuke melirik kearah Hinata, yang masih setia menunduk memandangi lantai.

"I-itu benar Yang Mulia" jawab Hinata gugup membenarkan pertanyann Sakura,

"Sakura, datanglah keruanganku"

"Baik Yang Mulia"

Sasuke berniat pergi, tapi suara Sakura menghentiakan langkahnya.

"Yang Mulia" Sakura diam sebentar

Sasuke sedikit menolehkan kepalanya.

"Kenakanlah baju yang lebih tebal Yang Mulia, ini sudah memasuki musim dingin" ucap Sakura, Matanya melirik kearah Hinata yang masih menunduk.

"Hn"

Sasuke melanjutkan langkahnya melewati Hinata tanpa melihatnya, sedangkan Hinata jantungnya sudah berdebar-debar hebat dari tadi Hinata bahkan menahan nafasnya saat sasuke melewatinya. Setelah merasa cukup jauh Hinata menghela nafas lega atmosfir yang di ciptakan Sasuke benar-benar luar bias, cukup membuatnya takut, Hinata tak habis pikir bagaimana laki-laki itu di kenang jika benar-benar menjadi raja, bahkan belum pernah ia melihat sasuke tersenyum. Entah Seperti apa nanti dia memimpin kerajaan ini.

-Rumit-

Di rapikannya kerah baju yang Sasuke kenakan di tepuk-tepuk pelan baju bagian bahu Sasuke memastikan tidak ada debu disana.

"Jadi ini alasan yang mulia memanggilku kesini?" Sakura merengut sebal.

"…" Sasuke sibuk memilih-milih anak panah yang akan ia bawa

"Kenapa baru memberi tau sekarang jika yang mulia ingin berburu.

"…"

"Yang Mulia!" Panggil Sakura sebal karena tak ada tanggapan dari Sasuke.

"…"

"Tsk, Yang mulia! Sakura memeluk sasuke dari belakang.

Sasuke menyunggingkan bibirnya atas tindakan Sakura, Sasuke berbalik sekarang ia bisa melihat dengan jelas wajah sebal istrinya. Sasuke baru sadar jika Tinggi Sakura hanya sebatas bahunya.

"Hentikan ekspresimu itu" ibu jarinya mengelus lembut pipi Sakura "dan panggil namaku saat kita berdua"

Sakura tersenyum puas, lalu mencium bibir sasuke, hanya ciuman singkat "Baiklah Sasuke-kun"

"Bagaimana denganmu? Jadi menjenguk ayahmu?" kini Sasuke yang berbalik bertanya.

"Emmm" sakura menganguk-nganggukan kepalanya

"Cepatlah kembali, aku akan menyuruh pengawal untuk mengantarmu"

"Kau juga cepatlah kembali" tiba-tiba Sakura teringat sesuatu, di lepaskannya pelukannya pada sasuke, ia berlari kecil menuju meja yang ada di ruangan, diambilnya kain yang berisi perbekalan yang sudah ia siapkan.

"Bawa ini" Sakura menyerahkan kain yang ada di tangannya "semua keperluanmu ada di sini. Obat, makanan, air semunya ada di sini.

"Hn" diambilnya kain yang sakura berikan.

"Berikan aku satu pelukan lagi" sasuke merentangkan tangannya, kau akan meninggalkanku selama seminggu, cepatlah" perintah Sasuke.

Sakura tersenyum senang dan langsung memberikan pelukan yang sasuke inginkan.

.

.

.

"Sial berapa lama lagi berengsek itu datang, ini bukan aku yang berburu tapi aku yang di buru" tanganya di kibas-kibaskan di samping tubuhnya, "Nyamuk sialan" umpat Naruto

"Sabar Naruto-sama, sepertinya sebentar lagi" ucap Sai salah satu pengawal istana yang Naruto ajak untuk menemaninya berburu.

"Sepertinya aku akan membuat api unggun, hari sudah mulai gelap" ucap Sai lagi

"Ya buatlah, biar sekalian nyamuk-nyamuk sialan ini pergi"

Hutan perbatasan kerajaan Uchiha dan Uzumaki adalah hutan favorit untuk para pemburu butuh seharian untuk sampai kehutan perbatasan jika dari kerajaan Uzumaki begitu juga dari kerajaan Uchiha, bannyak rumor mengatakan hutan ini juga hutan yang terkenal dengan bunuh dirinya dan pembataian masal satu keluarga pada jaman kepemimpinan kerajaan sebelumnya, entah hanya rumor semata, atau nyata. Untuk para pemburu persetan dengan rumor seperti itu hutan ini tetaplah tempat yang menyenangkan untuk menangkap para binatang-binatang liar.

Beberapa menit kemudian Naruto dan Sai yang sedang duduk menghatkan diri, samar-samar mendengar suara langkah kuda yang mendekat, dan semakin lama semakin mendekat,

Sekarang kuda itu tepat berhenti tak jauh dari mereka.

"Aisshhhh" Naruto mengerang lalu melempar ranting kering kearah si penunggang "Aku hampir mati kehabisan darah menunggumu Sasuke"

Sai menahan tawa mendengar kata-kata Naruto, Betapa berlebihannya tuannya ini.

Yang di sindir tak ambil pusing, ia turun lalu mengikat kudanya di salah satu pohon di tangan kanan terdapat hewan buruan yang terkulai mati.

"Ini" di lemparnya kancil muda yang ia dapat saat perjalanan pergi tadi "Untuk makan malam kita"

Naruto yang melihat Sasuke melempar buruan yang sudah mati itu berdiri dari duduknya

"Wah…wah" jarinya menunjuk-nujuk kesal kearah Sasuke yang duduk bersandar pada salah satu pohon."Lihat dia Sai berburu duluan" Sai menoleh, bibirnya tersenyum melihat Naruto yang mengomel-ngomel seperti wanita. "Wah….keterlaluan kau Sasuke"

"…" Sasuke tak peduli malah kini ia malah melipat kedua tangannya di depan dada dan memejamkan mata. Dari pada meladeni si rambut nyentrik itu lebih baik ia tidur pikir Sasuke.

"Sudahlah Naruto-sama" Sai menepuk-nepuk kayu yang tadi di duduki Naruto "duduklah, aku akan menyiapakn malam untuk kita"

"Untung ada kau, kalau tidak habis dia Sai, olehku"

Sasuke yang terpejam menyunggingkan ujung bibirnya mendengar ucapan si penerus kerajaan uzumaki itu.

.

.

.

Suara kicau burung memenuhi hutan matahari belum benar-benar muncul, pagi-pagi sekali Sasuke sudah sibuk dengan panahannya, Sai terlihat sibuk dengan belatinya dan Naruto masih nyenyak dalam tidurnya

"Aku akan membangunkannya" ucap Sai

"Hn"

.

.

.

Naruto masih menguap beberapa kali "Apa yang akan kita buru hari ini?

"Bagaimana dengan rusa?" Sai menawarkan.

"Aku setuju" ucap Naruto

"…"

Bagaimana denganmu sasuke?

"Apa saja yang layak dimakan buru saja, lalu kita bagikan di desa-desa dekat perbatasan, aku dengar mereka sedang kesulitan makanan"

Naruto dan Sai kagum mendengar apa yang baru saja Sasuke katakan, Naruto menepuk-nepuk punggung Sasuke "Ternyata kau punya sisi baik juga Sasuke"

Sasuke memberikan detglarenya, melihat Naruto yang seenak jidatnya menepuk-nepuk bahunya, matanya seakan mengatakan jauhkan tanganmu atau ku potong.

Naruto menelan ludah, di jauhkannya tangannya dari bahu Sasuke

"A-ayo kita berburu!" diangkat tangannya tinggi-tinggi pura-pura semangat, matanya melirik sedikit kearah Sasuke.

Naruto merinding "lebih baik kita duluan Sai" Naruto melangkah cepat.

Jika kalian berpikir para bangsawan berburu hanya Sebagai kesenangan saja, sepertinya tanggapan itu tidak sepenuhnya benar, tidak semua para bangsawan yang berburu seperti itu, Sasuke buktinya, baginya kesenangan yang bisa bermanfaat untuk orang lain itu lebih menyenangkan.

Musim dingin kali ini membuat beberapa perekonomian di desa-desa mengalami penurunan yang sangat signifikan banyak desa-desa yang kesulitan. Kerajaan sudah membantu menyuplai makanan tapi tetap saja kurang karena banyaknya desa-desa yang mengalami kesulitan.

.

.

.

Bruk

suara buruan yang di kumpulkan.

"Aku dapat delapan buruan" ucap Naruto "satu kabur gara-gara suara ranting yang aku injak.

"Aku tujuh" ucap Sai

"Kau?" Naruto bertanya pada Sasuke.

"Sembilan, ada satu lagi kalian tunggu disini"

Sasuke bersembunyi di balik pohon di arahkan anak panahnya pada rusa yang sedang minum itu, belum sempat ia melepas anak panahnya, tiba-tiba kakinya terasa nyeri saat di lihatnya seekor ular mematuknya. Salahkan dirinya yang ceroboh tidak menggunakan sepatu berburunya.

"Akhhh" teriak Sasuke kesakitan

Sai dan Naruto yang mendengar suara teriakan Sasuke segera berlari menghampiri.

Di lihatnya Sasuke yang terduduk di rumput memegangi kakinya.

"Dia di patuk Ular" kata sai, dicari-carinya benda kecil yang biasa ia bawa saat berburu diambilnya botol kecil berisi cairan itu lalu di suruhnya Sasuke untuk menegak isinya.

"Apa itu penawarnya?" Tanya Naruto.

"Benar Naruto-sama"

Naruto bernafas lega mendengarnya.

Setelah menegak penawar itu Sasuke sempat tertidur beberapa jam, langit mulai tampak gelap setelah ia bangun, hampir setengah harian ia tertidur.

Sasuke melihat Sai sedang membuat api unggun dan Naruto sibuk dengan alat buruannya.

"Lebih baik kita langsung membagi buruan ini kedesa dekata perbatasan" ucap Sasuke

"Anda, sudah bangun Sasuke-sama"

"Kau sedang sakit, istirahatlah dulu" Naruto coba membujuk sasuke

"Dagingnya akan bau, jika kita mengulur-ngulur waktu, butuh satu hari untuk bisa kesana"

"Begini saja" Sai menimpali "Saya takut bisanya menyebar, kita sudah kehabisan penawar, bagaimana biar saya dan Naruto-sama saja yang membagikannya? Sasuke-sama bisa kembali lebih awal?" tawar Sai

"Itu benar Sasuke, kami akan menyusul setelah selesai membagikan buruan ini"

Sasuke mempertimbangkan ucapan kedua rekannya, sepertinya kali ini ia harus mengalah, lagi pula dia belum mau mati konyo gara-gara gigitan ular.

"Hn"

-Rumit-

Setelah hampi seharian, disini dia sekarang berada gerbang masuk kerajaan Uchiha, Sasuke mempercepat lari kudanya, ia harus bertemu dengan Kabuto sekarang untuk mengobatinya.

"Sial" umpat Sasuke, karena ular sialan itu ia harus merasakan nyeri di kakinya

"Yang Mulia Sasuke kembali, buka gerbangnya" Teriak pelayan yang bertugas menjaga gerbang masuk kerajaan.

Gerbang berlambang simbol kerajaan Uchiha itu terbuka memperlihatkan keindahan dalamnnya, Sasuke turun dari kudanya, beberapa pelayan menunggu untuk memberikan pelayanan, Sasuke mengibas-ngibaskan tangannya saat salah satu pelayan mendekat berniat menutupi tubuhnya dengan jubah, Pelannya itu mengerti lalu memundurkan kembali langkahnya saat melihat sasuke menolak untuk di pakaikan jubah.

Sasuke jalan terhuyung, beberapa kali ia harus berpegangan pada pilar-pilar yang terdapat di lorong istana. Sepertinya efek penawarnya mulai berkurang kini pandangan Sasuke kabur, Sasuke merasakan kepalanya seperti ingin pecah, entah kenapa Sasuke merasa sulit sekali berjalan dengan keadaan yang pusing seperti sekarang, seharusnya ia bisa lebih cepat sampai ketempat kabuto jika saja matanya tidak kabur.

Di ujung lorong Sasuke bisa melihat seseorang berjalan, ia tidak bisa melihat dengan jelas karena, Pandanggannya yang kabur, ia terus berjalan mendekat Sasuke bisa melihat orang itu berhenti dan membungkuk memberi hormat padanya, Sasuke tak bisa melihat wajahnya, karena orang itu terus menunduk, tapi sasuke merasa tak asing dengan orang yang berjarak beberapa meter di depannya.

"Kau, uhuk,uhuk ,uhuk, uhuk, ban- uhuk uhuk" batuknya semakin kuat dan intens

Orang itu mengangkat kepalanya saat melihat Sasuke terbatuk-batuk, betapa terkejutnya wanita bermanik lavender, itu di bekapnya mulutnya tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat, mulut Sasuke penuh dengan darah.

BRUK

Sasuke terjatuh

"Yang Mulia" wanita itu lari mendekap tubuh Sasuke yang terjatuh "a-anda berdarah" Hinata panik "Siapa pun TOLONG" teriak Hinata "Kumohon, dia sekarat" di usapnya darah yang mengalir membasahi pipi Sasuek iya tidak peduli dengan darah yang mengotori baju dan rambutnya.

"Ka-kabuto" sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya Sasuke menyebut nama tabib kerajaan itu.

"Yang Mulia bertahanlah" Hinata menangis. "Hiks…seseorang hiks tolong kumohon"

Hinata menolehkan kepalanya kekanan dan kiri, tak ada seorangpun yang lewat tangisnya semakin menjadi

"Hiks, hiks Yang Mulia" diusap-usapnya pipi Sasuke memastikan kalau Sasuke belum sepenunya kehilangan kesadarannya.

"Yang Mulia" teriak seseorang dari tempat lain.

Hinata segera menolehkan kepalanya melihat orang yang memanggil Sasuke.

"Hiks Ka, hiks Kabuto-san, tolong, dia sekarat kumohon hiks"

Jika bukan karena vitamin yang ia lupa berikan pada selir Sasuke, kabuto mungkin tidak berada di sini sekarang. Bisa saja ia masih berada dikediamnnya membaca buku-buku tentang obat-obatan, beruntunglah kau Sasuke.

Kabuto segera memeriksa pergelangan tangan Sasuke 'nadinya masih berdenyut' batin Kabuto

"Bantu saya, memindahkan Yang Mulia Sasuke, kepunggung saya yang mulia!" Kabuto berlutut bertumpu pada satu kaki dan memasang punggung.

Hinata segera membantu meletakkan tubuh Sasuke keatas punggung Kabuto dengan tangisnya yang pecah.

.

.

.

"Huh" Kabuto bernafas lega.

"Ba-bagaimana Kabuto-san?"

"Sudah tidak apa-apa, yang mulia hanya butuh istirahat sekarang"

"Ta-tapi yang mulia berdarah hiks" Hinata menangis lagi.

"Itu efek penawarnya, karena yang mulia terkena bisa ular, jangan khawatir Yang Mulia akan pulih dalam tiga hari kedepan"

Hinata bisa bernafas lega sekarang " terimakasih, kabuto-san"

"jangan sungkan yang mulia, kalau begitu saya ijin untuk kembali"

Hinata mengangguk sebagai jawaban.

Setelah kepergian Kabuto, disinilah Hinata sekarang ia duduk di samping ranjang Sasuke, menghampiri sasuke yang tertidur. Sebenarnya ia lancang karena berada di ruangan ini tanpa ijin dari sang empu kamar, Hinata hanya merasa tidak tega jika harus meninggalkan Sasuke sendiri, bagaimana jika Sasuke membutuhkan sesuatau tapi tidak ada seseorang yang bisa membantunya, seorang pangeran tidak bisa di layani oleh sembarang orang, kata Kakashi penasehat kerajaan. kakashi juga mengatakan tugasnya diluar misis melahirkan anak untuk kerajaan, adalah melayani keperluan pangeran, dalam artian membantu tugas sang calon Ratu seperti sekarang karena, Hinata tau sang calon Ratu sedang tidak berada di kerajaan Uchiha, yang ia dengar dari Tenten bahwa wanita bersurai pink itu sedang menjenguk ayahnya selama seminggu di kekediamannya di daerah Kirikagure, disanalah kerajaan Haruno berdiri.

Lagi pula Hinata ingat dengan salah satu ucapan sakura untuknya paling tidak bergunalah entah Hinata yang terlalu polos atau tidak mengerti arti dari ucapan Sakura, bukan kah ia harus bisa di andalkan saat seperti ini, menurut Hinata ucapan itu semakin memperkuat kata-kata yang Kakashi jelaskan tentang bagaimana tugas seorang selir.

Diambilnya segera mangkuk berisi air dan kain, di perasnya kain yang ia ambil dari dalam mangkuk lalu di bersihkannya wajah Sasuke mulai dari area dagu, Hinata memuji ketampanan calon Raja ini, dagunnya, sepertinya dagu terindah yang pernah hinata lihat, 'rahang yang tegas' ucap Hinata dalam hati. kini tangannya berpindah membersihkan area mulut Sasuke ada sisa darah mengering disana, sasuke memiliki bibir yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis, ada kumis tipis yang tercukur rapi di dekat bibir atasnya, hidung mancung, mata yang tajam, hampir sempurna pikir hinata jika saja sikapnya sebagus rupanya.

Diletakkan kembali mangkuk yang ia ambil, Hinata merenggangkan tubuhnya lalu ia sandarkan tubuhnya di salah satu dinding yang ada di ruangan itu, hari ini cukup melelahkan untuk Hinata, ia mencoba memejamkan matanya untuk menghilangkan lelah sebentar, tak lama ia tertidur dalam posisi yang masih duduk meringkuk.

.

.

.

Duk

Hinata terjatuh kepalanya terbentur lantai,

"Ahkk" pekik Hinata kecil, di pegangi kepalanya yang terbentur, ia lihat sekelilingnya. 'jadi aku ketiduran ya? Tanyanya sendiri dalam hati.

Hinata mencoba berdiri lalu membuka jendela yang ada di ruangan tersebut, ia ingin memastikan apakah hari masih malam atau telah pagi. Samar-samar Hinata bisa melihat sinar matahari yang masih malu-malu menampakan cahayanya.

Tok…tok…tok…

Suara ketukan membuat Hinata menoleh

"Maaf yang muliah Kami mengantar sarapan" terdengar suara dari balik pintu

Segera Hinata buka pintu itu, para pelayan yang melihatnya langsung membungkuk memberi salam dengan nampan yang ada di tangan mereka.

"Kalian bisa meletakkanya" Hinata menggeser badannya memberi para pelayan itu jalan untuk masuk.

Satu persatu pelayan itu meletakan bermacam hidangan, setelah semua pelayan selesai dengan tugasnya mereka ijin untuk kembali ke dapur.

Hinata mendekati meja yang telah penuh dengan bermacam-macam makanan itu, dari mulai Okayu, telur, Sashimi, Umeboshi, Negi, daun bawang dan daun seledri yang telah di cacah halus, dipiring yang lain terdapat, buah-buahan , Yatsuhashi, dan Uiro,untuk minumannya terdapat air putih, teh dan Hachimitsu-daikon.

Hinata terkagum-kagum dengan apa yang ada di depannya sekarang, apa setiap para keluarga Raja yang sakit hidangannya seperti ini, hinata tak habis pikir bagaimana jika sedang tidak sakit mungkin yang di hidangkan lebih banyak dari ini.

"Akhhh" Sasuke mengerang kesakitan.

Hinata yang terkejut mendengar erangan Sasuke, langsung menghampiri Sasuke yang berusaha untuk duduk.

"Yang Mulia" Hinata dengan sigap membantu memegang punggung Sasuke membantunya untuk duduk.

Sasuke memegang dadanya yang terasa sakit, ia menoleh melihat wajah wanita yang berusaha keras untuk membantunya duduk.

"K-kau!" Sasuke memincingkan pengelihatannya memastikan orang yang sekarang bersamanya "Akhhh" Sasuke memegang dadanya lagi yang berdenyut-denyut sakit .

"Pe-pelan-pelan saja Yang Mulia" Hinata sedikit panik saat mendengar suara erangan Sasuke lagi, Hinata berusaha lebih keras lagi, karena tubuh Sasuke jauh lebih besar dan tinggi darinya jadi, Hinata merasa membutuhkan usaha yang lebih besar agar Sasuke bisa duduk dengan nyaman. wajah Hinata kini hanya berjarak beberapa centi saja di depan Sasuke, Sasuke bisa melihat dengan jelas sekarang wajah kesusahan Hinata. Matanya yang tidak terlalu besar, hidungnya yang mungil, pipi gembil yang berwarnah kemerah-merahan dan kini tatapan Sauke jatuh pada bibir, bibirnya kecil tapi bentuknya bagus, Batin Sasuke

Hinata menggigit bibir bawahnya mencoba meredam suara keberatan saat menopang punggung Sasuke.

'Apa-apaan wanita ini, apa dia sedang menggoda? Tanya Sasuke dalam hati.

hah…hah…hah hianta terengah-engah, ia tersenyum saat berhasil melakukan tugasnya nafasnya masih memburu.

Sasuke diam masih memperhatikan

Entah sejak kapan Okayu sudah berada di tangannya, Hinata berniat menyendok Okayu itu tapi suara Sasuke mengehentikan niatnya.

"Apa yang kau lakukan disini? Jalang!"

"…" Hinata diam ia sedang memikirkan kenapa dia ada di sini sekarang.

"Katakan"

"Sa-saya…ingin mem-memberikan ini" Hinata menyodorkan Okayu yang ada didalam genggamannya.

"Apa aku memeberi perintah?"

Tubuh hinata kaku, ucapnnya seperti sekakmat dalam permainan catur, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, digelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Kau ingin mati?"

Hinata menangis "Hiks, hiks, Ya-Yang Mulia hiks ma-maaf hiks, ku-kumohon ma-mafkan saya hiks yang la-lancang ini hiks hiks." Mangkuk yang ia pegang bergetar seiring dengan tangisnya.

"…"

"Kemarin hiks, Ya-Yang Mulia Berdarah hiks hiks, a-aku hanya hiks ingin membantu hiks Yang Mulia jatuh, dan a-aku takut, hiks… hiks"

"Kau mengasihaniku?"

Hinata menggeleng "Hiks, bu-bukan begitu, hiks" tangisnya semakin pecah pipinya sudah benar-benar basah.

Sasuke tersenyum miring "Masukkan"

Hinata yang tidak mengerti memandang Sasuke sambil sesenggukan.

"Bukankah kau ingin menyuapiku?"

Hinata mengangguk

Tangan Hinata gemetar,ia masih menangis, air mata masih mengalir di pipinya, ia mencoba mengarahkan sendok itu kemulut Sasuke, tapi karena tangan Hinata yang gemetar membuatnya susah mengarahkan kemulut Sasuke, sasuke yang melihat memegang pergelangan tangan Hinata, di lahapnya Okayu yang terdapat di sendok tersebut.

"Diamlah, kau bisa menumpahkaan Okayunya"

Hinata mengangguk lagi, ia gigit bibir bawahnya meredam isakannya, yang terdengar hanya sesenggukan kecil.

Sasuke tak memindahkan tatapannya dari wajah Hinata, menghibur pikir Sasuke, ia menangis hanya karena kata-kata 'kau ingin mati' dasar manusia cengeng batin sasuke, mahluk bodoh dari mana dia ini, ia bahkan tidak memukul, dan menyakitinya tapi lihat sekarang, Ia benar-benar berantakan.

1

2

3

4

5

6

7

Sendokan, Bubur itu habis sasuke lahap.

"Hiks A-apa yang mulia ingin mi-minum hiks" tawar Hinata.

"Hn"

Buru-buru ia ambil air yang terdapat di meja sekalian ramuan Hachimitsu-daikon yang Kabuto buatkan.

Di bantunya di dekatkan pinggiran cangkir itu ke bibir Sasuke, Karena gemetaran Hinata menumpahkan sedikit air di dagu dan baju Sasuke

"Ma-maafkan saya ya-yang mulia" buru-buru ia lap dagu dan baju Sasuke yang terkena air.

Sasuke bisa melihat wajah Hinata yang panik dan air mata yang sudah menggenang di matanya betap ceroboh dan lemahnya wanita ini pikir Sasuke.

"Berikan, Hachimitsu-daikon itu" Sasuke sengaja meminta ramuan itu, jika tidak ia bisa saja mendengar tangisan wanita ceroboh ini lagi. Dalam sekali tegukan ramuan itu habis olehnya, di berikannya bangkuk berisi cairan yang telah tandas itu pada hinata, hinata dengan sigap menyambutnya.

.

.

.

BRUK

Suara pintu yang di terjang kuat.

"SASUKE" Naruto berlari dengan panik.

Sasuke memutar matanya, si berisisk ini Batin sasuke

Hah…hah… Naruto terengah-engah "Aku dengar kau tidak sadarkan diri, jadi aku buru-buru kesini"

"Hn"

"Apa sekarang kau baik-baik saja?" Tanya Naruto khawatir.

"Hn"

"Aaaishhhhh, aku tidak mengerti kenapa kau suka sekali dengan dua konsonan 'Hn' itu" ada penekanan saat kata Hn ia ucapkan "Apa otakmu kekurangan kosa kata?" tanya Naruto kesal.

"Kau tau betapa khawa…" ucapannya terhenti tatkala matanya menangkap sosok lain di kamar itu, matanya memincing memastikan wanita yang berdiri mematung dengan mangkuk keramik ditangannya. Naruto mendekat di condongkan tubuhnya memastikan wanita yang ada di depannya sekarang.

"Kau! Wahh" Naruto tersenyum senang, tak percaya dengan apa yg sekarang ia lihat. "Kau Hinata kan?" makin di condongkan lagi tubuhnya kini wajah mereka hanya berjarak beberapa centi meter, Hinata bisa merasakan hangatnya nafas Naruto yang menerpa wajahnya. Hinata otomatis menjauhkan wajahnya lalu menunduk"

"Apa yang… kau lakukan disini?" Tanya Naruto antusias.

"Sa-sa-saya sedang merawat Yang Mulia" Jawab Hinata gugup.

"Merawat?" Senyumnya memudar, Naruto sekarang bingung, bukankah itu tugas sakura pikir Naruto, sejak kapan seorang pelayan boleh merawat seorang Pangeran. Itu melanggar aturan pikir Naruto, di tatapnya Sauke dan Hinata bergantian meminta penjelasan.

"Keluarlah, ada yang ingin aku bicarakan dengan Naruto"

Hinata membungkuk memberi hormat "Ba-baik Yang Mulia"

.

.

.

Hening tak ada percaakapan diantara mereka

"Jangan katakan, selir itu dia" Naruto membuka percakapan.

Naruto memang pernah menerima pesan undangan dari salah satu pengawal kerajaan, yang mengundangnya untuk hadir dalam pernikahan Sasuke, ia cukup kaget saat mendengarnya, tapi saat itu ia kira pesan undangan itu hanya gurauan semata, untuk mengejeknya karena sampai sekarang diumurnya yang sudah ke dua puluh tujuh tahun masih melajang, ia tau betul siapa Sasuke dia tidak akan meduakan Sakura seperti ini bukankah itu janjinya.

"Jelaskan Sasuke" pinta Naruto

-Rumit-

"Hah" Naruto tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, dengan semua yang Sasuke jelaskan.

Ia tidak bisa mengatakan apa-apa, ia berbalik melangkah cepat membungka pintu, ia bisa melihat Hinata yang berdiri tidak jauh disana, kepalanya tertunduk memandangi lantai, ia berjalan mendekat dengan mata memerah, Hinata yang merasa Naruto mendekat membungkukan tubuhnya memeberi hormat.

"Kau..." Naruto menghentikan ucapannya rahangnya mengeras.

Hinata yang mendengar Naruto mengucapkan sesuatu, mengangkat kepalanya menatap Naruto.

"Aku kira kau berbeda Hinata" dirinya tersenyum pahit

Hinata menatap Naruto dengan bingung

"Tapi, ternyata kau sama saja," Naruto terkekeh "Menjual tubuhmu! demi harta"

Deg…deg…deg…

Hinata merasakan tiba-tiba dunia di sekelilingnya hening, kakinya terasa lemas.

"Kau menyedihkan HI-NA-TA"

Setelah mengucapakn itu Naruto berlalu pergi begitu saja, meninggalkan kata-kata menyakitkan dan wanita yang berdiri mematung dengan cairan bening yang lolos dari matanya.

Di langkahkan kakinya pelan menuju kamar Sasuke, pintunya masih terbuka, kakinya terus melangkah air mata terus mengalir di pipinya, dia diambang pintu sekarang Hinata bisa melihat Sasuke yang tertidur dengan tenang, di tutupnya pintu itu tubuhnya bersender pada pintu, pelan-pelan tubuhnya beringsut jatuh ke lantai dibekap mulutnya menggunakan tangannya, takut suara tangisnya bisa mengganggu tidur Sasuke, air matanya semakin deras mengalir, kata-kata maaf keluar berkali-kali dari mulutnya pelan entah untuk siapa kata maaf itu.

.

.

.

Sasuke terbangun rasa haus melanda tenggorokannya pelan-pelan ia duduk bersandar pada kepala ranjang, matanya mencari-cari dimana wanita itu meletakkan air minumnya, bukan air yang ia lihat tapi tubuh kecil yang duduk meringkuk di dekat pintu, di turunkan nya kakinya pelan-pelan, ia mencoba berdiri dirasa bisa Sasuke melangkah pelan mendekati wanita yang sedang tertidur itu, Sasuke ikut berjongkok menyamakan tingginya dengan Hinata, di tatapnya wajah wanita bersurai bersurai indigo yang tertidur lelap itu, Sasuke bisa melihat hidung Hinata yang memerah dan mata yang sembab, Kenapa wanita ini pikir Sasuke, apa hanya menangis yang bisa wanita ini andalkan. Ia berniat membangunkan, untuk menyuruhnya kembali kekediamannya, tapi di urungkan niatnya saat ia melihat bibir hinata yang bergerak dalam tidurnya, di tatapnya bibir itu di jauhkan beberapa helai rambut yang menempel di pipi dan bibirnya.

'Apa ini salah satu bentuk godaan mu jalang?' Tanya Sasuke dalam hati, wanita ini benar-benar polos apa pura polos pikir Sasuke.

Diusapnya lembut bibir Hinata menggunakan ibu jarinya matanya menatap wajah Hinata dengan Teliti dia tidak cantik tapi ada daya tarik tersendiri itulah yang sekarang dapat Sasuke simpulkan, entah sadar atau tidak Sasuke semakin mencondongkan tubuhnya, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa centi meter.

Mata hinata membuka pelan samar-samar ia bisa melihat wajah seseorang yang ada di depannya.

Sontak ia membuka mata dan memundurkan kepalanya.

DUK

suara kepala hinata yang terbentur pintu di belakangnya.

Betapa cerobohnya wanita ini sasuke membatin.

"Ya-yang Mulia" ucap Hinata pelan.

"Kembalilah" Sasuke masih dalam posisinya

"eh" Hinata bingung

"Kembalilah, disini bukan tempatmu"

"Ta-tapi"

"…"

"Ba-ba-badan Yang Mulia panas" Hinata mengatakan itu bukan tanpa alasan karena, wajah mereka yang begitu dekat, nafas sasuke terasa panas menerpa wajahnya, ia angkat tangannya bermaksud meletakkan punggung tangannya di dahi Sasuke.

Grep.

Dicengkramnnya pergelangan tangan Hinata yang hendak menyentuhnya diletakannya lengan itu disamping kepala hinata yang bersandar di pintu.

"Kembalilah, sebelum aku berubah pikiran" ucapnya rahang sasuke mengeras.

"ta…" belum selesai ia mengatakan ucapannya,bibirnya telah di bungkam oleh bibir sasuke, Hinata melebarkan matanya tak percaya, dengan apa yang Sasuke lakukan.

Satu tangan Sasuke merangkum wajah Hinata.

Sasuke melepaskan pelan ciumannya di tatapnya wajah Hinata nafasnya memburu.

"Jangan Hentikan" ucap Sasuke parau.

-Rumit-

To Be Continue

Hallo apa kabar, Ona balik lagi, maaf baru bisa update sekarang, ona tau betapa kesalnya kalian dengan ona karena sangat lama menelantarkan cerita ini

Ona perlu menonton beberapa drama kerajaan untuk bisa membangkitkan mood ona untuk menulis, karena coment kalian lah ona masih menulis dan rasanya sayang kalau ona harus meninggalkan begitu saja cerita ini

Terimaksih yang selalu member ona semangat untuk terus melanjutkan cerita ini.

O iya ona cukup syok saat ada yg menebak cerita ona dan tebakannya benar

hahahah

Seperti biasa, Karena sudah sangat lama meninggalkan dunia tulis menulis, jika penulisan, alur, plot, latarnya yang membingungkan dan sebagainya tolong bantu ona memperbaikinya ya comentlah dengan bijak.

Bantu saya menemukan typo juga ya biar ceritanya lebih enak di baca

ona tidak menjanjikan akan update cepat.

Untuk yang follow, like, memberi bintang, dan komentar untuk cerita ona terimakasih banyak tetap setia ya

See You terimakasih yang sudah membaca Selir

(salam hangat dari ona)

Q&A

(FF dan WP)

Knpa sasuke jahat banget sama hinata? (ona Tanya sasuke dulu ya knp.)

Kapan lanjutnya? ( ini udah ya)

Sasuke bakalan ngelupain sakura ya? (emmmm kita liat aja tapi ada salah satu yang mati, kasih bocoran dikit ahhh)

Kenapa semua orang benci sama hinata sih ? (masa?)

Kakashi suka sama hinata ya? (hahaha)

Rasanya ada sejarah hinata ya (akan ada di setiap chap membahas tentang siapa hinata)

Ini di remake ya? (ini murni ide ona, cerita selir baru pertama kali ona buat dan ona belum pernah meremake cerita ini)

NEXT

"Aku hamil" ucapnya, "Aku hamil" ucapnya lagi

Dadanya bergemuruh betapa bahagianya ia sekarang.

...

"Masukan ini kedalam minumannya" di sodorkannya botol kecil itu pada pelayan yang menatap takut padanya.

"Pastikan ia keguguran" bibirnya tersenyum miring

"baik _"

"Jangan sebut namaku"

Pelayan itu mengangguk lalu mundur melangkah pergi.