Pairing: Miura Hiroki x Tamura Shougo (Adorable 3rd Season)

Disclaimer: Nope, nope, not mine. They belong to each other. Tapi masih mau banget nyulik Chan.

Note: Timelinenya pas sekitar awal Januari 2017 ya, pas lagi pentas di Oosaka buat Seigaku vs. Rokkaku. Pokoknya sebelum Valentine's Day lha hahahaha

Note 2: TOLONG CULIKKAN CHAN UNTUK SAYAAAAAAAAA.

xxxxxxxxxxxxxxx

Hiroki sedang berusaha menikmati komik yang dibacanya sambil menunggu jam makan malam tiba. Pertunjukkan hari itu sudah selesai, dan dia sudah membersihkan dirinya. Suara air yang pelan terdengar dari kamar mandi tiba-tiba berhenti, menunjukkan teman sekamarnya sudah selesai juga membersihkan diri. Dia menghela nafas dan kembali berusaha memusatkan perhatian pada komiknya.

Pintu terbuka dan udara hangat mengalir masuk ke kamar. Tamura Shougo keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya yang masih basah.

"Kau membaca apa, Hiroki?" tanyanya, mendekat ke arah Hiroki. Kehangatan badan dan harumnya sabun yang menguar dari tubuh Tamura selalu sukses membuyarkan konsentrasi Hiroki. Dan belakangan, hal itulah yang membuatnya uring-uringan.

Bayangkan saja, kau sekamar dengan pacarmu tanpa bisa melakukan apa-apa terhadapnya karena kau sedang bekerja dan kau harus mempertahankan profesionalisme-mu. Sementara pacarmu yang bebal dan polos itu malah terus menggodamu. Sengaja mendekat saat dia tampak basah dan menggiurkan. Atau mendesah pelan dalam tidurnya, sementara Hiroki yang susah tidur dari mendengar hembusan nafas Tamura harus mengutuk dirinya sendiri yang terlalu kepikiran. Kadang dia ingin melempar bantal ke arah Tamura yang tak merasa bersalah telah menggodanya sedemikian rupa. Hanya kendali diri yang super kuat saja yang bisa mencegah Hiroki berbuat macam-macam. Itupun Hiroki tidak yakin dia bisa menahannya lebih lama lagi. Sengaja atau tidak, Tamura harus menghentikan godaan-godaannya.

Dan itulah yang belakangan memenuhi pikiran Hiroki. Bagaimana cara menyampaikannya pada Tamura? Tamura itu, sering salah paham terhadapnya, dan tidak percaya diri bahwa Hiroki menyukainya. Hiroki tidak menyangkal, gayanya yang sok cuek demi menutupi perasaannya adalah salah satu penyebab kesalahpahaman Tamura. Tapi bagaimana lagi, hubungan mereka tidak boleh sampai bocor keluar. Walau sepertinya Ikumi dan Satsuki sudah tahu, setidaknya, jangan sampai jumlah orang-orang yang tahu makin bertambah.

"Hiroki?" Tamura memanggilnya lagi. Kali ini menggoyang-goyangkan tanggannya di depan Hiroki dan memaksa Hiroki mengalihkan pandangan dari komiknya. "Seru sekali ya ceritanya?"

"Ya...dan aku perlu memahami karakter ini untuk audisi."

"Kalo Hiroki sih, aku yakin pasti bisa," Tamura mengepalkan kedua tangannya sebagai tanda semangat. Lalu tanpa menunggu respon Hiroki, Tamura berbalik, menjemur handuknya lalu duduk di ranjangnya yang terpisahkan oleh sebuah meja kecil dari ranjang Hiroki. Dia duduk bersila menghadap Hiroki.

"Hiroki hebat ya. Padahal masih harus latihan untuk tenimyu, tapi juga sudah mulai audisi untuk peran lain juga."

Hiroki tersenyum kecil walau dalam hati dia sangat senang mendapat pujian dari Tamura. Tamura melanjutkan bercerita macam-macam hal. Dia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Hiroki, ingin lebih mengenal Hiroki. Hiroki mendengarkan dengan penuh perhatian, tapi hanya merespon pendek-pendek. Tamura, merasakan hal itu, akhirnya berhenti bercerita, dan mulai menunduk, memperhatikan entah apa di ranjangnya.

"Kenapa tiba-tiba diam?" Hiroki memandang Tamura heran.

"Tidak kenapa-kenapa," Tamura mengangkat kepalanya, lalu menunduk lagi, menggambar bentuk-bentuk tidak jelas di ranjang dengan jarinya. "Habis sepertinya aku mengganggu Hiroki ya..."

Hiroki menarik nafas dalam, "Tuh kan..." katanya dalam hati.

"Aku sudah biasa," ujar Hiroki, bermaksud menghilangkan rasa tidak enak yang dirasakan Tamura. Tapi Tamura malah memandangnya dengan tatapan sedih, yang membuat dada Hiroki langsung terasa nyeri.

"Maaf ya Hiroki... Aku keluar saja deh...," Tamura beranjak dari ranjangnya, tapi Hiroki dengan sigap mendekat dan menarik satu tangannya, menahannya tetap di ranjang.

"Kenapa kau tiba-tiba jadi sedih begitu? Pasti kau salah paham lagi," rasa frustasi jelas-jelas ada dalam nada bicara Hiroki.

"Aku tidak salah paham kok. Aku juga sebetulnya merasa Hiroki pasti tidak senang dengan pengaturan kamar ini. Aku tidak apa-apa kok tukar kamar dengan Akiyoshi-kun, daripada Hiroki harus terus merasa tidak enak."

Genggaman Hiroki di pergelangan tangan Tamura makin kencang, membuat Tamura mengernyit kesakitan. "Kenapa aku harus sekamar dengan Akiyoshi?" ujarnya dengan suara dan wajah dingin.

"Bukannya Hiroki suka dengan Akiyoshi?"

"Definisikan suka."

"..." Tamura kehabisan kata-kata. "Hiroki tidak suka sekamar denganku kan?"

"Kenapa aku harus tidak suka sekamar dengan pacarku?"

Tamura menatap Hiroki dengan mata lebar penuh rasa terkejut. Mulutnya terbuka tanpa suara. Tangannya yang bebas menunjuk dirinya sendiri.

"Pacar? Pa...," wajah Tamura sontak memerah. "Aku dan Hiroki berpacaran? Heeee, sejak kapan? Aku tidak tahu..."

Rasanya Hiroki ingin sekali mencekik Tamura yang masih menatapnya dengan wajah bingung campur malu. Dilepaskannya tangannya yang menggenggam tangan Tamura, dilipatnya kedua tangannya didepan dada, dan memasang wajah galak. Bebalnya Tamura memang keterlaluan.

"Bukannya kita sudah pergi kencan?"

"Bukannya itu untuk permintaan maaf saja?"

"Kita sudah menyatakan suka."

"Hiroki tidak mengatakan suka padaku...," Tamura memiringkan kepalanya, mengingat-ingat dengan jelas apa yang terjadi pada kencan mereka. Wajahnya langsung memerah sempurna. Dia tidak berani menyebutnya kencan, dia tidak berani terlalu berharap.

"Aku tidak menolak pernyataan sukamu kan?" Hiroki masih tidak terima dijadikan sumber kesalahpahaman Tamura.

"Tapi...bukannya Hiroki suka pada Akiyoshi?"

"Makanya, kenapa harus ada Akiyoshi di obrolan ini?" tukas Hiroki keras, membuat Tamura berjengit kaget. "Kenapa aku harus suka pada Akiyoshi sih? Dia itu kan Akiyoshi."

Tamura tidak berani mengatakan kalau kalimat Hiroki barusan terdengar aneh.

"Habisnya... Hiroki jangan marah ya... Aku melihat video backstage kita... Seigaku vs. Hyoutei... Hiroki sepertinya tidak nyaman di dekatku... Hiroki sengaja menjauh waktu kudekati. Sementara dengan Akiyoshi terlihat sangat senang..." Hiroki melotot makin lebar dengan wajah garang, membuat Tamura makin meringkuk ketakutan.

"Aku kan sudah bilang jangan marah...," nada Tamura yang memelas membuat wajah Hiroki melembut sedikit. Diambilnya nafas panjang dan dalam sebelum menatap Tamura lagi dengan pandangan tidak percaya. "Yah, sudah nasibku punya pacar bebal," katanya, membuat wajah Tamura yang sudah merah semakin panas.

"Dengar ya, aku ini cowo lho..."

"Aku juga cowo," Tamura memotong ucapan Hiroki. Hiroki mendengus mendengarnya dan segera melemparkan bantal ke wajah Tamura yang tidak sempat menghindar. Mulut Tamura mengerucut sebal, memegangi bantal yang baru saja menghantam wajahnya.

"Kamu itu bocah. Yang namanya cowo, kalau dekat-dekat pacarnya pasti pikirannya sudah macam-macam. Coba pikirkan posisiku sedikit. Kita sedang direkam kamera. Kalau aku lepas kendali, kau bisa bayangkan seberapa gawat akibatnya?"

Tamura menggeleng pelan, "Aku kalau dekat dengan Hiroki juga jantungku rasanya mau pecah."

Lagi-lagi Hiroki mendengus. Diraihnya kedua tangan Tamura, "Ini lebih gawat dari sekedar jantung pecah," katanya, dan tanpa peringatan menarik Tamura ke arahnya. Memekik kecil karena kaget, tiba-tiba saja Tamura sudah duduk di pangkuan Hiroki, tangannya di dada Hiroki, sementara tangan Hiroki memeluknya dan memainkan rambutnya. Tamura tak bergeming, tak berani bergerak.

Hiroki menarik nafas dalam, menikmati wangi Tamura. Mereka memakai sabun yang sama, tapi entah kenapa, di tubuh Tamura, sabun itu memberikan wangi yang berbeda, yang lebih manis. Tangan Hiroki mulai mengusap punggung Tamura, membuatnya mengerang pelan. Dirasakannya tangan Hiroki yang satu bergerak ke lehernya, dan menyusup masuk ke balik kaosnya yang memang berkerah agak lebar. Ibu jari Hiroki mengusap lehernya pelan, membuatnya menggeliat kecil. Kulit Tamura selalu lembut dan halus, salah satu penyebab Hiroki selalu ingin menyentuhnya, namun tentu saja harus menahan keinginan tersebut mati-matian. Sebersit senyum mulai muncul diwajah Hiroki. Senyuman yang sebaiknya tidak pernah dilihat Tamura.

Hiroki berbisik di telinganya, "Yang namanya cowo, kalau dekat-dekat orang yang disukainya, kendali dirinya pasti melemah." Detik berikutnya, Tamura merasakan bibir Hiroki di lehernya. Awalnya hanya berupa jilatan, yang lalu berubah menjadi isapan, yang makin lama makin kuat. Reflek, Tamura mencengkeram kaos Hiroki. Rasanya dia seperti dihempaskan ke roller coaster dan nyaris jatuh. Jantungnya bergemuruh, rasanya seperti mau melompat keluar dari dadanya.

Hiroki berhenti mengisap leher Tamura, dan kembali mengusap pelan bagian yang tadi diisapnya, yang mulai memunculkan bekas seperti memar. Nafas Tamura masih tersengal, yang membuat Hiroki tersenyum puas. Dia senang dia bisa memberikan efek semacam itu pada Tamura. "Yang seperti ini, jelas tidak boleh terekam dimanapun kan?" bisiknya. Tamura mengangguk, masih mencengkeram bagian depan baju Hiroki.

Beberapa saat kemudian, nafas Tamura berangsur normal, cengkraman dibaju Hiroki pun mulai mengendur. Tamura menyandarkan kepalanya ke dada Hiroki.

"Hiroki...jadi...eh...Hiroki suka padaku? Kita... pacaran?" suara Tamura terbenam di kaos Hiroki, tapi masih terdengar jelas di telinga Hiroki. Untuk beberapa saat Hiroki diam tak menjawab, dan Tamura mulai khawatir dia telah lagi-lagi membuat Hiroki marah.

"ITAI!" serunya tiba-tiba dengan badan tersentak saat Hiroki tiba-tiba menggigit bahunya.

"Kenapa?!" tanyanya, mata berair menahan sakit, pipi menggembung menahan marah.

"Hukuman untuk pacar bebal yang tidak tahu diri," jawab Hiroki sambil menarik Tamura lebih mendekat padanya.

Tamura hendak protes mendengar kata 'hukuman' dan 'tidak tahu diri', tapi segala protesnya menguap saat otaknya memproses kata 'pacar' yang diucapkan Hiroki. Dia balas memeluk Hiroki dan membenamkan kepalanya makin dalam ke dada Hiroki.

Saat kemudian terdengar ketukan dari pintu kamar mereka sebagai ajakan makan malam, tak satupun dari mereka yang beranjak.

END.