Love At The First Sight

T

One Shot

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

Romance, Drama

Warning! YAOI! Typo's, OOC, tidak sesuai KBBI. Gaje. Absurd

Bagi Wonwoo, cinta itu hanya sebuah omong kosong belaka. Afeksi mustahil. Tidak mungkin ada. Tapi ketika bertemu dengan sosok Kim Mingyu, semua presepsinya tentang cinta tiba-tiba berubah 180 derajat.

A/n: hanya sepenggal curahan imaji. Ini gaje. Kalau ga suka, silahkan menyingkir.

.

oOo

.

Cinta? Menurut kalian, apa definisi kata cinta itu sendiri? Menurut beberapa buku, atau research yang ada di intenet, cinta adalah sebuah perasaan ingin memiliki. Kasih sayang pada seseorang. Afeksi nyata yang bisa membuat seseorang berdebar tak tentu arah. Bisa membuat pelaku jatuh cinta itu sendiri menjadi seorang idiot.

Cinta juga dengan kata lain adalah sebuah campuran perasaan antara senyum, sukacita, pengorbanan, air mata, nafsu, dan komitmen. Itu artinya, jika kita saling mencintai, harus rela berbagi semua hal pada pasangan.

Menurut beberapa postulat, cinta juga di bagi menjadi sebuah piramida segitiga cinta. Bahkan bukan hanya matematika dan ilmu alam yang mempunyai postulat. Ternyata cinta juga punya. Konyol bukan?

Bagi Jeon Wonwoo ia hanya setuju satu hal dari semua definisi cinta. Cinta itu konyol. Menurut Wonwoo, cinta itu hanya omong kosong belaka.

Wonwoo tidak meyakini cinta seperti orang kebanyakan. Presepsi yang di yakini, jika cinta akan membuat kehidupan semakin berwarna. Tapi semenjak ia lahir, sampai berumur enam belas tahun sekalipun, Wonwoo tidak pernah merasakan semua eksistensi nyata bernama cinta itu.

Wonwoo tidak pernah berdebar sekali pun pada seseorang. Jika di tanya; "Hey Wonwoo-ya, siapa orang yang kau suka?" Wonwoo hanya menjawab dengan sebuah senyum tipis di wajah, dan asal menunjuk seorang gadis atau bahkan pria yang tidak ia kenal.

Tapi kali ini berbeda. Wonwoo merasa dunia berhenti berputar detik ini juga. Semua definisi cinta yang ia dengar, terasa nyata saat tubuhnya membatu. Diam di tempat. Tergugu. Manik foxynya terfokus pada sosok pemuda; yang sama-sama terpaku. Diam menatapnya. Obsidian dan foxy itu saling menyelami satu sama lain. Seakan bertelepati.

Pemuda bersurai pirang itu memakai seragam olahraga. Bulir-bulir keringat terlihat membasahi pelipis. Manik obsidian menatap lekat-lekat foxynya yang sejak tadi tidak bisa melepaskan fokus. Membuat jantung Wonwoo berdebar empat kali lipat dari biasanya, karena di tatap seperti itu. Darahnya berdesir. Lidahnya terasa kelu hanya untuk mengucapkan sepatah kata untuk pemuda yang berdiri di hadapannya.

Sampai akhirnya, waktu kembali mengambil alih. Dunia kembali berputar mengikuti rotasi. Pemuda bersurai pirang itu berjalan melewati Wonwoo yang masih tergugu di tempat. Mencoba menetralkan jantungnya yang semakin berdetak tak tentu arah, ketika sosok si surai pirang hilang dari pandangan.

"Ya Tuhan, apa yang barusan terjadi padaku ?"

.

.
Meanie

.

.

Ketika pertama kali bertemu pemuda bersurai pirang itu, Wonwoo percaya bahwa cinta benar-benar datang menghampirinya. Sejak bertemu pemuda itu pertama kali di koridor, Wonwoo menjadi orang gila. Bukan seperti dirinya yang biasa. Ia bertanya ke semua teman yang ia kenal tentang pemuda itu. Hanya untuk mengetahui namanya saja. Konyol bukan? Tapi Wonwoo tidak peduli.

Terlihat tidak mungkin memang, bagi seorang Jeon Wonwoo yang terkesan apatis; Tidak peduli apapun.

Wonwoo itu selalu berkoar jika datang ke sekolah hanya untuk menuntut ilmu saja. Bukan mengejar cinta, seperti yang teman remajanya lakukan. Tapi sejak bertemu pemuda itu, semuanya berubah. Wonwoo merasa bukan seperti dirinya lagi.

Dan ketika satu bulan berlalu, akhirnya Wonwoo tahu nama pemuda itu. Nama pemuda si surai pirang adalah Kim Mingyu. Satu angkatan dengannya.

Tapi kenapa Wonwoo sampai tidak tahu sosok Mingyu selama ini? Dan baru tahu sekarang, saat pemuda itu muncul di festival sekolah? Alasannya hanya satu. Gedung kelas mereka berbeda, dan Mingyu tidak pernah keluar dari kelas saat jam istirahat.

Menurut research yang Wonwoo dapat, Kim Mingyu adalah sosok misterius. Pendiam. Jarang berkomunikasi. Hanya mempunyai sedikit teman di kelasnya. Bahkan menurut teman sekelas Mingyu- Choi Seungcheol, pemuda itu sama sekali tidak punya kontak telepon semua teman sekelas di ponselnya. Line milik Mingyu saja, hanya memiliki enam kontak user. Ayah, Ibu, Minseo, Seungcheol, Seungkwan, dan Jun. Sns pun, Mingyu tidak punya. Kuno bukan? Bagaimana mungkin ia tidak punya akun media sosial lainnya di zaman secanggih ini?

Mungkin saja pemuda itu adalah tipe laki-laki introvert? Wonwoo tidak tahu. Yang jelas, sosok Mingyu itu sangat misterius.

Sejak mengetahui semua itu, Wonwoo semakin penasaran. Ia ingin berkenalan dengan Mingyu. Tapi Wonwoo tidak berani. Ia malu. Ah, bukan malu lebih tepatnya. Masa iya, seorang Jeon Wonwoo tiba-tiba mengajak seseorang berkenalan?

"Kau benar-benar ingin berkenalan dengan Mingyu kan? Aku bisa membantumu." Suara Yoon Jeonghan menggema cukup keras. Membuat lamunan Wonwoo buyar dalam sekejap. Manik foxy itu membulat, karena suara Jeonghan menarik perhatian beberapa orang.

"Ya! Pelankan suaramu!" Wonwoo mendesis kesal, saat melihat Jeonghan terkikik kecil.

"Maaf. Jadi bagaimana? Kau mau aku bantu agar bisa berkenalan dengannya?" Wonwoo terdiam mendengar penawaran yang di lontarkan Jeonghan. Jujur saja, ia tertarik. Wonwoo benar-benar ingin mengenal Mingyu.

"Apa yang kau inginkan sebagai imbalan?" Jeonghan terkikik geli mendengar pertanyaan si surai coklat. Seperti biasa, Wonwoo selalu tahu keinginanya.

"Coklat dan juga traktir aku di restoran italia yang selalu kau datangi. Bagaimana?" Wonwoo memutar bola mata mendengar permintaan Jeonghan. Setelahnya, ia mengangguk setuju. Lagi pula, Wonwoo memang penasaran.

"Jadi apa rencana mu?"

"Kau ikuti perintahku saja setelah pulang sekolah. Mengerti?" Wonwoo kembali mengangguk setuju. Sebelum fokus mereka kembali ke depan, saat Park Seongsaeng-nim masuk ke dalam kelas.

.
Meanie
.

Wonwoo berdiri dengan gelisah. Ia gigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tangannya meremas jemari Jeonghan. Kepalanya menunduk, dengan raut wajah yang ia yakin sudah memerah sempurna. Sial! Kenapa di depan pemuda itu Wonwoo menjadi seorang pemalu yang terlihat bodoh?

"Kim Mingyu-ssi?" Jeonghan berseru keras. Tangan Jeonghan menarik tas yang di gunakan Mingyu. Hingga membuat si surai pirang menoleh menatap mereka. Alisnya bertaut heran. Obsidian itu menilik. Mengamati, sebelum akhirnya tersenyum kecil.

"Ehmm..." Jeonghan berdehem. Ia menggerakan lengan Wonwoo, dan menarik bahu si surai coklat. Agar sosok Wonwoo dapat terlihat oleh Mingyu.

"Ada perlu denganku?" Suara bariton mengalun. Membuat Wonwoo mengigit bibir bawah dengan keras, agar tidak berteriak senang. Ini adalah kali pertama Mingyu berbicara padanya.

"Bolehkah kami berkenalan?" Jeonghan tersenyum manis. Sambil mengulurkan tangan ke arah Mingyu.

"Yoon Jeonghan. Dari kelas 2-A." Mingyu menerima uluran tangan Jeonghan.

"Kim Mingyu. Kelas 2-4." Mingyu melepaskan uluran tangannya dengan Jeonghan. Kemudian obsidiannya memicing ke arah Wonwoo.

"Wonu!" Jeonghan mendesis kesal, saat Wonwoo hanya terdiam. Kemudian si surai coklat kembali menunduk malu, dan mengulurkan tangan ke arah Mingyu.

"J-jeon W-wonwoo..." Dan uluran tangannya di sambut oleh Mingyu. Ia bisa merasakan sengatan listrik statis saat Mingyu meremas tangannya. Jantungnya kembali berdetak tak terkendali. Rasanya, Wonwoo bisa mati kena serangan jantung, jika Mingyu menggenggam tangannya seperti ini.

"Kim Mingyu." Mingyu tersenyum ke arah Wonwoo. Dan senyuman itu seakan membuat tubuh Wonwoo meleleh dalam sekejap. Astaga! Mingyu memang menawan!

"Mingyu-ssi.." Suara Jeonghan membuat keduanya menoleh. Mingyu melepas tautan tangannya dengan Wonwoo.

"Ya?"

"Sebenarnya kami ingin mengatakan sesuatu."

"Tentang apa?"

"Wonwoo menyukaimu, Kim Mingyu-ssi." Wonwoo terdiam. Membatu mendengar pernyataan yang di lontarkan seenaknya oleh Jeonghan. Sial! Ini di luar rencana! Bagaimana mungkin Jeonghan melakukan hal ini padanya? Ah, rasanya Wonwoo ingin masuk ke dasar jurang saja. Ia malu. Sungguh. Wonwoo juga tidak ingin mendengar jawaban dari Mingyu.

"Fuck, apa maksudmu? Kita pulang." Wonwoo membalikan badan dengan kepala tertunduk malu. Ia menarik lengan Jeonghan agar ikut berbalik. Tapi sayang, Jeonghan menahan lengan Wonwoo agar tetap berdiri di sampingnya.

"Jadi Mingyu-ssi, bolehkan aku meminta ID Line atau nomer ponselmu?" Jeonghan tersenyum penuh harap saat melihat Mingyu tersenyum kecil ke arah mereka. Kemudian menganguk.

"Ya." Mingyu mengeluarkan ponselnya. Di ikuti dengan Jeonghan yang terkikik bahagia, saat Mingyu membagikan barcode ID.

"Ah.. Gomawo, Mingyu-ssi." Jeoghan tersenyum senang. Sementara Wonwoo mencoba menarik lagi lengan Jeonghan agar segera menjauh. Demi apapun, ia tidak mau menatap Mingyu!

"Lalu, di kawasan mana rumahmu, Mingyu-ssi?" Sial! Pertanyaan Jeonghan membuat Wonwoo semakin merasa malu. Andai saja ia mendengar dulu apa rencana temannya itu. Wonwoo pasti menyiapkan mental jantungnya dulu. Keadaan Wonwoo sekarang bagaikan tidak mempunyai senjata tempur untuk berperang,

Wonwoo menarik napas pelan. Kemudian ia kembali membalikan badan. Manik foxynya masih bisa melihat Mingyu yang tersenyum penuh arti padanya. Dan senyuman itu selalu bisa membuat Wonwoo salah tingkah.

"M-maaf. Temanku telah lancang bertanya." Wonwoo membungkukan tubuh. Tanda menyesali perbuatan Jeonghan. Kemudian ia segera berbalik dan menarik tubuh Jeonghan. Kali ini, temannya itu menurut.

"Terimakasih Mingyu-ssi! Akan ku pastikan Wonwoo mengirimmu sebuah pesan!" Jeonghan berteriak, sambil melambaikan tangan ke arah Mingyu. Menjauh dari pemuda itu, sampai Mingyu tidak dapat melihat mereka lagi.

.
Meanie
.

Wonwoo menggigit bibir bawah dengan keras. Tanda ia gelisah akut. Beberapa menit yang lalu, ia sudah menambahkan kontak Mingyu di ponselnya. User Mingyu tidak ada photo profile. Kosong. Membuat Wonwoo ragu. Haruskah ia mengirim pemuda itu pesan? Tapi apa yang harus Wonwoo tulis? Wonwoo bingung. Jemarinya sejak tadi mengetik beberapa kalimat. Kemudian ia menghapusnya lagi. Arghtt. Wonwoo menyesal tidak meminta pendapat Jeonghan dahulu, sebelum memarahi temannya itu.

Hai, Mingyu-ssi.. - Wonwoo

Send

Pesan itu terkirim. Dan jantung Wonwoo masih saja berdebar tak tentu arah. Wajahnya masih memerah sempurna. Apalagi jika ia ingat senyuman Mingyu untuknya tadi. Bolehkah Wonwoo berharap jika Mingyu juga menyukainya?

Masih belum ada jawaban setelahnya. Tapi Wonwoo rela menunggu dengan cara mengecek ponselnya setiap lima menit sekali. Siapa tahu, Mingyu sudah membalas pesannya. Walaupun sekarang Wonwoo terlihat seperti orang pengidap penyakit stress, karena sejak tadi ia terus menggulingkan tubuh di ranjang. Tapi Wonwoo tidak peduli. Ia hanya berharap. Berharap sesuatu hal tidaklah berdosa.

Dan setelah empat jam lebih Wonwoo menunggu sebuah balasan. Akhirnya ponsel itu bergetar.

Drtt

Dengan cekatan, Wonwoo meraih ponsel pintarnya itu. Manik foxy membulat saat membaca sebuah notifikasi pesan di sana.

Ya. Kau siapa? - Mingyu

Jantung Wonwoo kembali berdebar tak karuan, hanya karena sebuah pesan seperti itu. Ia merasa kupu-kupu sedang menari-nari di perutnya. Sensasi menggelitik yang membuat Wonwoo ingin tertawa bahagia. Ini kah sensasi jatuh cinta yang di rasakan setiap orang itu? Jika memang benar, maka Wonwoo menyukainya.

Aku Wonwoo. - Wonwoo

Send

Wonwoo mengirim pesan itu. Singkat. Karena ia memang tidak suka bertele-tele. Sebenarnya alasannya hanya satu. Ia bingung. Tidak tahu harus menjawab apa. Mengetik sebuah pesan seperti itu saja, jemarinya sudah bergetar hebat. Apalagi jika mengetik sebuah kalimat panjang?

Wonwoo kembali menunggu sebuah balasan. Selama tiga jam, balasan pesan itu tak kunjung datang. Ia terus mengecek isi pesan itu. Membacanya beberapa kali. Dan hatinya mencelos begitu saja, saat sadar sebuah kenyataan yang sejak tadi ia lewatkan.

Aku Wonwoo.- read 21:15

.
Meanie
.

Kim Mingyu tidak lagi membalas pesannya. Sudah hampir sebulan lebih. Dan Wonwoo tidak berani mengirim lagi sebuah pesan untuk pemuda itu. Jika bertemu di koridor saja, Wonwoo selalu malu. Ia lebih memilih memutar arah, dari pada berpapasan dengan Mingyu. Meski begitu, jantungnya hanya berdetak keras untuk Mingyu.

Sekali pun cintanya bertepuk sebelah tangan, Wonwoo tidak masalah. Asalkan ia masih bisa menatap sosok Mingyu dari kejauhan saja itu sudah cukup. Wonwoo bahagia, meski pemuda bersurai pirang itu hanya tersenyum kecil padanya ketika ia salah tingkah, saat mencoba berlari menjauh.

Bagi Wonwoo, bukan masalah jika perasaannya bertolak. Tidak apa-apa. Asalkan Wonwoo masih bisa merasakan sensasi berdebar yang menggelitik saat ia menjadi seorang idiot bagi Kim Mingyu. Baginya, Mingyu dapat merubah semua poros hidup yang tidak mungkin menjadi mungkin. Cinta Wonwoo untuk Mingyu adalah sebuah afeksi nyata. Bukan hanya sekedar suka selintas. Tapi benar-benar cinta, sampai ia rela menunggu agar Mingyu yang misterius itu bisa melirik ke arahnya.

Fin

Epilog

Sudah dua tahun lamanya, Wonwoo tidak bertemu dengan Kim Mingyu lagi. Terakhir mereka bertemu adalah saat hari kelulusan. Mereka hanya saling tatap. Tanpa berbicara sedikitpun. Tapi sebuah senyum tipis mewakili semua perasaan keduanya.

Akan tetapi, untuk Wonwoo sendiri, ia menyesali semuanya. Kenapa Wonwoo tidak mengatakan perasaannya saja pada Mingyu saat itu? Sekali pun ia di tolak, Wonwoo hanya akan sakit hati saja. Ia hanya perlu melupakan, karena tidak akan bertemu dengan Mingyu lagi. Tapi sayang, Wonwoo terlalu pengecut karena tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Sungguh, Wonwoo menyesal. Perpisahan saat itu memang di tuliskan menjadi pertemuan terakhir untuknya dan Mingyu.

Kenapa ia sangat yakin, jika tidak akan bertemu Mingyu lagi? Tentu saja Wonwoo yakin. Ketika semua siswa menyiapkan rencana masuk keperguruan tinggi ternama, hanya nama Kim Mingyu saja yang tidak tercatat sebagai pendaftar ujian.

Saat itu, ia di landa bimbang. Wonwoo ingin masuk kampus yang sama dengan pemuda itu. Tapi ia tahu pilihan yang Mingyu ambil. Bahkan Wonwoo rela menyogok Park Seongsaeng hanya untuk mengetahui perguruaan tinggi mana yang akan Mingyu pilih. Atau paling tidak pekerjaan apa yang akan Mingyu lakukan setelah lulus. Tapi nihil. Wonwoo tidak dapat apapun. Park Seongsaeng juga tidak tahu tentang itu. Karena Kim Mingyu sama sekali tidak menulis tujuan hidupnya di dalam angket yang sudah di sebar.

Ketika di panggil oleh Park Seongsaeng saja, Mingyu hanya terdiam dan berkata ; 'Aku akan mengisinya nanti.' Dan sampai kelulusan pun, ia tidak menuliskan apapun dalam angketnya.

Menyesal? Tentu saja, ia menyesal karena tidak mengakui semuanya pada Mingyu. Bagi Wonwoo, pemuda bersurai pirang itu selalu muncul di dalam mimpi. Tanpa di undang, Mingyu akan selalu hadir dalam mimpi, saat Wonwoo mencoba menggantikan posisi Mingyu di hatinya dengan laki-laki lain.

Mingyu itu jahat bukan? Karena Mingyu, Wonwoo tidak dapat merasakan apa itu cinta lagi. Hati dan jantungnya seakan khusus di rancang untuk Mingyu saja. Hanya berdebar ketika nama itu di sebutkan, atau ketika ia melihat foto pemuda itu saja.

Pernah suatu kali, ah tidak. Beberapa kali, Wonwoo mencoba berpacaran dengan orang lain. Jantungnya sama sekali tidak berdebar dua kali lipat. Wajahnya sama sekali tidak merona, saat pasangannya itu memuji Wonwoo. Darahnya sama sekali tidak berdesir, di iringi listrik statis saat kulit mereka bersentuhan..

Wonwoo tidak dapat merasakan sensasi itu lagi saat dengan orang lain. Ia hanya bisa mendapatnya dari Mingyu saja. Dan Wonwoo merindukan pemuda yang selalu hadir dalam mimpinya itu. Wonwoo berjanji, jika ia bertemu dengan Mingyu lagi, Wonwoo tidak akan segan untuk mengatakan bahwa ia menyukai Mingyu.

"Bolehkah aku duduk di sini?" Suara bariton terdengar mengalun. Lamunan Wonwoo tiba-tiba saja buyar karena suara derit kursi yang di tarik. Membuat Wonwoo mengangguk kecil tanpa menoleh pada sosok siapapun yang sudah duduk di samping kirinya. Siapapun bebas untuk duduk di kursi yang ada di seminar ini. Asalkan mereka sudah punya tiket masuk, duduk di mana pun tidak masalah.

"Hah.." Wonwoo menghela napas keras. Sejak tadi ia duduk di kursi dan memperhatikan moderator di depan, Wonwoo sama sekali tidak fokus. Pikirannya malah melayang memikirkan satu nama. Kim Mingyu.

"Apa seminar ini begitu membosankan, Wonwoo-ssi?" Suara bariton penuh kerinduaan itu kembali mengalun. Dan saat Wonwoo mendengar untuk kedua kalinya lagi, jantung yang selama ini tidak berdebar, kini berdebar dan berdetak lebih dari biasanya.

Wonwoo merasa kenal dengan suara itu. Ia tidak pernah lupa. Itu adalah suara yang sangat ia rindukan selama dua tahun terakhir. Jantungnya kembali bertalu tak menentu. Darahnya berdesir saat bahu pemuda yang duduk di sampingnya itu bergesekan dengan bahunya.

Dengan gerakan pelan, kepalanya menoleh ke samping. Tepat pada sosok yang sudah duduk dengan senyuman yang tidak pernah hilang dalam benak Wonwoo. Senyum yang akan selalu membuat Wonwoo meleleh, sekaligus jatuh cinta beberapa kali.

Manik foxy Wonwoo membulat. Retinanya menangkap sosok pemuda bersurai pirang yang mengenakan setelan jas formal. Rambutnya di biarkan menjuntai acak-acakan. Tidak terlihat rapi memang, tapi mampu membuat Wonwoo merasakan sensasi itu lagi saat melihat sosok itu.

"K-kim Mingyu..." Dan sosok Mingyu tersenyum ke arahnya. Mengulurkan tangan. Sedetik kemudian uluran tangan itu di balas.

"A-ada yang ingin ku katakan sekarang." Wonwoo bisa melihat alis Mingyu terangkat heran. Bukannya menanyakan kabar, pemuda itu malah ingin to the point hal penting di tengah-tengah acara seminar.

"Di sini?"

"Ya. Aku hanya tidak ingin menyesal lagi, Mingyu-ssi." Wonwoo berujar mantap. Ia menurunkan semua egonya. Wonwoo tidak peduli. Ia sudah berjanji akan mengatakan perasaan yang selama empat tahun ini terpendam dalam hati.

"Aku menyukaimu Mingyu-ssi. Selama ini, aku menyukai mu." Wonwoo berujar dengan raut wajah merona malu. Ia tidak peduli dengan beberapa pandangan orang yang duduk di jajarannya menatap Wonwoo heran. Ia mengabaikan semua orang yang ada di aula ruangan ini. Bagi Wonwoo, di sini hanya ada dirinya dan Mingyu saja.

"Kau tidak berubah." Mingyu terkekeh. Tidak menjawab. Tapi tangannya terulur mengacak surai coklat Wonwoo dengan lembut. Sentuhan yang selalu pemuda itu rindukan selama ini. Wonwoo tidak butuh sebuah jawaban. Sekali pun cinta ini akan bertepuk sebelah tangan selamanya, Wonwoo tidak peduli. Asalkan Mingyu sudah mendengar pernyataan cinta darinya secara langsung, itu saja sudah cukup.

.

.

.

Wkwkwk. Gaje yah? Sebenernya ini based on the real life. Mehhh -_- err.. ya sudahlah. Terkadang hidup memang penuh drama. Wkwk

Mind To Review?

Astia morichan