Love At The First Sight (Mingyu Ver)

T

One Shot

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

Romance, Drama

Warning! YAOI! Typo's, OOC, tidak sesuai KBBI. Gaje. Absurd

Bagi Mingyu, cinta hanya sebatas afeksi pada saudara. Bukan pada seseorang yang mampu menjungkir balikan dunia. Baginya cinta itu akan menghilang seiring waktu berjalan. Tapi saat bertemu dengan Wonwoo, presepsinya berubah.

A/n: hanya sepenggal curahan imaji. Ini gaje. Kalau ga suka, silahkan menyingkir.

.

oOo

.

Cinta? Bagi Kim Mingyu sendiri, cinta hanya sebuah perasaan kasih sayang. Seperti rasa sayang pada ayah, ibu dan adik. Bukan perasaan yang mampu membuat jantung berdebar beberapa kali lipat, atau menjungkir balikan dunianya yang monoton. Bukan seperti itu. Ia hanya mempercayai presepsi cinta adalah kasih sayang semata. Dan cinta juga mampu menghilang seiring dengan berjalannya waktu.

Selama ia hidup, Mingyu tidak pernah merasa tertarik pada seseorang. Seperti yang semua temannya lakukan. Ia tidak tertarik pada seorang wanita atau pria sekalipun. Bahkan Mingyu sempat di katai aseksual oleh Seungcheol. Tapi ia tidak peduli. Lagi pula, jika Mingyu merasakan cinta, ia akan menjadi repot. Seperti teman-temannya yang di hiasi kegalauan karena cinta. Karena ia, bukanlah tipe orang yang dapat mengumbar afeksi serta perhatian.

Sejak dulu, pribadi Mingyu itu adalah pendiam. Ia tidak terlalu suka bersosialisasi dan terbuka pada seseorang. Jika pun ia mempunyai teman, itu hanya beberapa. Contoh saja Seungcheol. Pria itu tetap ingin berteman dengannya, sekalipun Mingyu adalah seorang pendiam yang membosankan. Tapi tolong catat. Mingyu tidak peduli dengan semua pandangan orang. Ini adalah dirinya.

Kembali pada cinta yang di ungkit lagi oleh Seungcheol. Menurut Mingyu, cinta itu tidak akan pernah ada. Coba pikir, mana mungkin ada orang yang mampu melakukan apapun, dan menjadi orang yang berbeda hanya karena cinta? Tidak mungkin kan? Tapi -

Oke. Mungkin sekarang bagi Mingyu sendiri adalah mungkin. Saat ini, di depannya berdiri sesosok pemuda bersurai coklat bername tag Jeon Wonwoo. Pemuda itu diam tergugu. Menatap ke arahnya, dan Mingyu seolah terhipnotis oleh tatapan itu. Ia ikut terdiam, untuk menikmati geleyar hangat dan degupan keras di dada. Bagaikan melodi pengalun atas kejadian saling tatap ini. Mingyu tidak tahu kenapa jantungnya bisa berdebar keras dan darahnya berdesir hanya karena bertatapan dengan si surai coklat. Ini aneh. Tapi ia menyukainya.

Kejadian itu hanya beberapa detik, dan saat si surai coklat mulai mengerjapkan mata, Mingyu memutuskan kontak. Ia menunduk dengan ekspresi datar. Berjalan melewati Wonwoo yang masih tergugu di tempatnya untuk mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.

'Apa itu?'

.

Mingyu

.

Setelah kejadian dimana Mingyu bertemu dengan si surai coklat bernama Wonwoo, ia sering mendapati sosok pemuda itu lagi. Ternyata kelas mereka hanya terpaut dua kelas saja. Dan Mingyu sering melihat Wonwoo sengaja lewat di depan kelas, dengan mata yang selalu menilik mencari sesuatu. Kemudian ketika tatapan mereka saling bertemu, Wonwoo hanya bisa menundukan kepala. Lalu berlari memasuki kelas setelah kontak mata mereka terputus begitu saja.

Di mata Mingyu, kelakuan Wonwoo benar-benar menggemaskan. Saat mata mereka saling berpandangan, ia merasa geleyar aneh menghantam jantung. Dan Mingyu menyukai hal itu. Ia tidak pernah memutuskan kontak mata ketika berpandangan dengan Wonwoo. Selalu pemuda itu yang memutuskan kontak mata terlebih dulu. Sungguh. Walaupun ia tidak tahu apa yang sedang di alaminya sekarang, tapi Mingyu menyukai semuanya ekspresi yang selalu Wonwoo tunjukan. Seperti sekarang.

"Kim Mingyu-ssii!" Suara memekakan telinga terdengar memenuhi koridor. Di ikuti dengan tarikan tas milik Mingyu, hingga mau tidak mau membuat si jangkung menoleh ke arah sumber suara. Obsidiannya menyipit penuh selidik saat melihat sosok pemuda bersurai hitam pendek tersenyum ke arahnya, lalu matanya berpaling pada sosok pemuda bersurai coklat itu. Pemuda bername tag Jeon Wonwoo yang selalu ia lihat melewati kelas, dan mencuri segala fokus serta perhatian Kim Mingyu.

Sebuah senyum tipis tersungging di wajah tampan Mingyu, saat melihat wajah Wonwoo yang menunduk. Rona merah bahkan terlihat menjalar sampai ke telinga. Sungguh menggemaskan.

"Ehmm..." Si surai hitam pendek bername tag Yoon Jeonghan berdehem kecil. Ia menggerakan lengan Wonwoo, dan menarik bahu si surai coklat. Agar sosok Wonwoo dapat terlihat oleh Mingyu.

"Ada perlu denganku?" Kali ini Mingyu mencoba bertanya. Tak lupa, senyum tipis masih tersungging di wajah tampannya saat melihat Wonwoo menggigit bibir bawah untuk menahan rasa gugup. Jujur. Ini adalah kali pertama mereka berinteraksi. Selama ini, Mingyu ingin sekali berbicara dengan pemuda itu. Tapi sayang, Mingyu bukan tipe orang yang dapat melakukan komunikasi dengan baik.

"Bolehkah kami berkenalan?" Jeonghan tersenyum manis. Sambil mengulurkan tangan ke arah Mingyu.

"Yoon Jeonghan. Dari kelas 2-A." Mingyu membalas uluran tangan Jeonghan.

"Kim Mingyu. Kelas 2-4." Mingyu melepaskan uluran tangannya dengan Jeonghan. Kemudian obsidiannya memicing ke arah Wonwoo. Pemuda itu masih asik mencuri pandang ke arahnya. Lalu menundukan lagi kepala. Enggan menatap ke arah Mingyu.

"Wonu!" Jeonghan mendesis kesal, saat Wonwoo hanya terdiam. Kemudian si surai coklat kembali menunduk malu, dan mengulurkan tangan ke arah Mingyu.

"J-jeon W-wonwoo..." Si surai coklat mengulurkan tangan dengan gemetar. Membuat Mingyu tersenyum kecil saat membalas uluran tangan itu. Ketika kedua tangan bersentuhan, entah kenapa Mingyu bisa merasakan geleyar listrik statis menyengat telapak tangan. Sentuhan kecil yang mampu membuat jantung kembali berdebar tak tentu arah.

"Kim Mingyu." Mingyu tersenyum kecil ke arah Wonwoo. Tanpa sadar, ia semakin mengeratkan tautan tangan pada si surai coklat. Jika boleh jujur, Mingyu menyukai sensasi sentuhan kecil ini.

"Mingyu-ssi.." Suara Jeonghan membuat keduanya menoleh. Mingyu melepas tautan tangannya dengan Wonwoo.

"Ya?"

"Sebenarnya kami ingin mengatakan sesuatu."

"Tentang apa?"

"Wonwoo menyukaimu, Kim Mingyu-ssi." Mingyu terdiam mendengar pernyataan yang di ucapkan Jeonghan. Suka ya? Wonwoo menyukainya? Sungguh. Entah kenapa ia senang saat mendengar hal kecil seperti itu. Walau Mingyu sendiri tidak yakin jika dirinya memang tertarik pada Wonwoo.

"Fuck, apa maksudmu? Kita pulang." Mingyu bisa mendengar si surai coklat mendesis kesal. Kemudian Wonwoo membalikan badan dengan kepala tertunduk malu. Ia menarik lengan Jeonghan agar ikut berbalik. Tapi sayang, Jeonghan menahan lengan Wonwoo agar tetap berdiri di sampingnya.

"Jadi Mingyu-ssi, bolehkan aku meminta ID Line atau nomer ponselmu?" Jeonghan tersenyum penuh harap, dan Mingyu tidak tega untuk menolak permintaan mereka.

"Ya." Mingyu mengeluarkan ponselnya. Di ikuti dengan Jeonghan yang terkikik bahagia, saat Mingyu membagikan barcode ID.

"Ah.. Gomawo, Mingyu-ssi." Jeonghan tersenyum senang. Sementara Wonwoo mencoba menarik lagi lengan Jeonghan agar segera menjauh. Kali ini, Mingyu tidak bisa menahan senyum saat melihat ekspresi malu yang Wonwoo tunjukan.

"Lalu, di kawasan mana rumahmu, Mingyu-ssi?" Jeonghan kembali bertanyaan, dan hal itu sukses membuat Mingyu kembali tersenyum. Tapi ia tetap diam. Tidak menjawab.

Wonwoo menarik napas pelan. Kemudian ia kembali membalikan badan. Obsidiannya kembali menjerat manik foxy si surai coklat. Hingga membuat mereka kembali bertatapan. Sebelum Wonwoo kembali memutuskan kontak mata.

"M-maaf. Temanku telah lancang bertanya." Wonwoo membungkukan tubuh. Tanda menyesali perbuatan Jeonghan. Kemudian ia segera berbalik dan menarik tubuh Jeonghan. Kali ini, temannya itu menurut.

"Terimakasih Mingyu-ssi! Akan ku pastikan Wonwoo mengirimmu sebuah pesan!" Jeonghan berteriak, sambil melambaikan tangan ke arah Mingyu. Menjauh dari Mingyu, sampai ia tidak dapat melihat mereka lagi.

.
Meanie
.

Kim Mingyu tersenyum kecil saat mengingat kejadian di koridor tadi. Jeon Wonwoo. Ya. Pemuda itu memang menarik perhatian selama ini. Mingyu benar-benar menyukai tingkah laku pemuda itu. Tapi sayang, ia memang tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengenal Wonwoo lebih jauh. Mereka tidak satu kelas, dan Mingyu benar-benar bukan tipe orang yang mudah melakukan interaksi lebih jauh.

Drttt

Ponsel miliknya bergetar kecil. Dengan malas, ia mulai membuka posel itu. Ternyata ada satu notifikasi pesan Line di sana. Nama yang tertulis adalah Wonwoo. Dan tanpa sadar, Mingyu menyunggingkan senyum tipis sambil membuka pesan itu.

Hai, Mingyu-ssi.. - Wonwoo

Pesan itu benar-benar singkat. Hanya sebuah kalimat sapaan. Tapi mampu membuat jantung Mingyu tiba-tiba berdebar dua kali lipat dari biasanya. Kali ini, Mingyu bagaikan orang bodoh. Ia bingung untuk menjawab sebuah pesan itu. Sudah jelas ini adalah Wonwoo. Pemuda yang tadi mengajaknya berkenalan, dan ia tidak mungkin menanyakan lagi siapa.

Hanya karena memikirkan jawaban, sudah hampir empat jam lebih Mingyu mengetik lalu menghapus pesan lagi. Begitu seterusnya. Sampai ia sendiri juga kesal, kenapa bisa menjadi orang tidak waras hanya karena sebuah pesan seperti itu?

Ya. Kau siapa? - Mingyu

Ah, sudahlah. Mingyu tidak tahu lagi. Ia hanya mampu mengetikan itu setelah empat jam. Tolol bukan? Ya. Tak apa ia dikatakan bodoh atau tolol sekali pun. Karena memang pada dasarnya Mingyu menjadi seperti ini karena seorang Jeon Wonwoo.

Aku Wonwoo. - Wonwoo

Pesan balasan itu datang secepat kilat, dan Mingyu hanya bisa membacanya saja. Ia tidak tahu harus membalas apa lagi untuk Wonwoo. Bukankah ia sudah mengatakan jika memang tidak pintar melakukan komunikasi? Dan salah satu contohnya adalah hal ini. Mingyu bingung. Sampai memutuskan untuk tidak membalas pesan itu. Tanpa tahu jika itu adalah awal dari sebuah kesalahan.

FIN

Epilog

Sudah dua tahun Mingyu tidak bertemu dengan Wonwoo lagi. Pemuda yang selalu menghantuinya sejak ia masih di sekolah menengah. Hingga Mingyu menjadi seorang mahasiswa di universitas yang sama sekali tidak di ketahui seluruh teman SMA. Termasuk Wonwoo. Karena itu, ia tidak pernah bertemu dengan Wonwoo. Tapi tolong catat. Mingyu masih sering melakukan stalking di Line pemuda itu. Dan ia tidak tahan untuk menyapa Wonwoo. Karena pemuda itu sudah berubah. Wonwoo menjadi pemuda yang begitu memesona. Sampai Mingyu sendiri tidak yakin jika pemuda itu masih tetap menyimpan perasaan untuknya selama hampir empat tahun ini.

Terakhir kali mereka bertukar kabar itu satu tahun lalu. Yah Mingyu benar-benar ingat hal konyol itu. Saat itu, ia sedang berlibur di Bali. Tapi pikirannya malah melayang ke Wonwoo. Dan ketika ia saling bertukar kabar dengan Seungcheol, Mingyu malah salah mengetikan sebuah pesan untuk si surai coklat.

Kau dimana? Aku sedang di Kuta.- Mingyu

Sungguh. Ia benar-benar terkejut karena gerak reflek jemarinya. Mingyu takut jika Wonwoo berpikiran yang aneh-aneh. Tapi sedetik kemudian, sebuah balasan muncul.

Eh?- Wonwoo

Saat itu, Mingyu benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Kepalanya kembali kosong dan seakan menjadi seorang idiot. Sungguh. Mingyu tidak tahu harus menjawab apa. Ia ingin menanyakan kabar pemuda itu. Tapi akan sangat tidak tahu malu dirinya jika bertanya seperti itu secara tiba-tiba.

Maaf. Aku salah kirim.- Mingyu

Hanya itu yang bisa Mingyu ketikan untuk sebuah balasan. Ia bingung. Sekaligus senang karena Wonwoo masih rela membalas pesannya secepat itu. Jika memang waktu akan mempertemukan mereka kembali. Mingyu tidak akan menjadi seorang pengecut seperti ini lagi.

Ya. Tidak apa-apa ^^- Wonwoo

Dan Kim Mingyu kembali menyesal karena tidak mampu membalas pesan singkat itu lagi. Walaupun dirinya benar-benar ingin menyerukan kata hati. Seperti kata rindu ingin bertemu. Tapi nihil. Ia tetap tidak bisa melakukan hal itu.

Jika keadaan satu, bahkan empat tahun lalu sekali pun adalah sebuah penyesalan, maka saat ini, detik ini juga, Mingyu tidak ingin menyesal untuk kali ketiga. Di depannya, sedang duduk sesosok pria bersurai coklat. Pria itu nampak menundukan kepala, sekaligus menghela napas kecewa. Terlihat tidak menikmati acara seminar yang sedang di adakan di kampusnya.

"Bolehkah aku duduk di sini?" Suara bariton Mingyu mengalun. Membuat si surai coklat tersentak kaget karena suara derit kursi yang di tarik. Dan Wonwoo mengangguk kecil tanpa menoleh pada sosok siapapun yang sudah duduk di samping kirinya. Siapapun bebas untuk duduk di kursi yang ada di seminar ini. Asalkan mereka sudah punya tiket masuk, duduk di mana pun tidak masalah.

"Hah.." Wonwoo menghela napas keras. Membuat Mingyu menyunggingkan sebuah senyum tipis saat memperhatikan wajah pemuda itu. Wonwoo memang tidak berubah sama sekali.

"Apa seminar ini begitu membosankan, Wonwoo-ssi?" Suara bariton penuh kerinduaan itu kembali mengalun. Dan hal itu membuat tubuh si surai coklat menegang tiba-tiba.

Dengan gerakan pelan, kepalanya menoleh ke samping. Tepat pada sosok Mingyu yang sudah duduk dengan senyuman tulus di wajah.

Manik foxy Wonwoo membulat. Retinanya menangkap sosok pemuda bersurai pirang yang mengenakan setelan jas formal. Rambutnya di biarkan menjuntai acak-acakan. Tidak terlihat rapi memang, tapi mampu membuat Wonwoo kembali terpesona dalam sekejap.

"K-kim Mingyu..." Mingyu tersenyum saat suara merdu Wonwoo memanggil namanya begitu mesra. Ia mengulurkan tangan. Sedetik kemudian uluran tangan itu di balas oleh si surai coklat.

"A-ada yang ingin ku katakan sekarang." Mingyu mengerutkan alis saat mendengar ucapan kedua yang Wonwoo ucapkan.

"Di sini?"

"Ya. Aku hanya tidak ingin menyesal lagi, Mingyu-ssi." Wonwoo berujar mantap, dan hal itu membuat Mingyu mengangguk kecil. Ternyata benar. Wonwoo memang tidak berubah saat berdekatan dengannya. Pemuda itu masih saja merona. Betul-betul menggemaskan.

"Aku menyukaimu Mingyu-ssi. Selama ini, aku menyukai mu." Wonwoo berujar dengan raut wajah merona malu. Ia seakan tidak peduli dengan beberapa pandangan orang yang duduk di jajarannya menatap Wonwoo heran. Ia mengabaikan semua orang yang ada di aula ruangan ini.

"Kau tidak berubah." Mingyu terkekeh. Tidak menjawab. Tapi tangannya terulur mengacak surai coklat Wonwoo dengan lembut. Menyentuhnya dengan penuh kerinduan yang tersirat. Mata mereka kembali berpandangan. Obsidian yang mampu menghipnotis foxy agar selalu berfokus padanya. Hanya tatapan mata yang mampu membalaskan segala perasaan rindu dan cinta di antara keduanya.

END

Gaje? Memang. Toh ini hanya project iseng. Sungguh. Kalo gabut dengan apa yang gue kerjain. Haha

Saya itu lagi hiatus guys. Lagi hiatus dan kena writer block. Entah lah ga ada semangat banget gue nulis. Heran gue juga. Wkwk. Mana tugas juga emang lagi numpuk. Nugas ini. nugas itu. mana event dimana-mana. Dan yang terpenting dan utama itu karena gue males ngedit. Bukan males ngetik. Wkwk

Udah ah. Bye. Mwahh..

Review?

Morichan