Happy Birthday Wonwoo-ya!

Well, FF ini untuk merayakan ultah Wonwoo yang ke 22 umur korea ya. Haha. Ya ampun oppa gue sudah gede. Wkwk. Selamat ulang tahun Wonnie chagih. Semoga bahagia dan langgeng selalu dengan si item :*

a/n : Dan Well, FF ini adalah True story dari kisah saya sebelumya. Wkwk. Karena kemarin gue ultah, dan kisah ultah gue berkesan banget akibat Mingyu versi real life gue/? Jadi gue buat versi FF-nya kisah ultah gue kemarin dalam versi MEANIE. Kalau kalian bingung, ini masih nyambung dengan chapter sebelumnya. Mingyu di sini adalah orang yang sama. ^^

ps : pesan dari Wonwoo di italic dan bold

sedangkan Mingyu di italic aja.

Happy Reading

enJOY!

.

oOO

.

Wonwoo tidak tahu jika pertemuannya dengan Kim Mingyu bisa mengantarkan kebahagian tiada tara. Rasanya ia akan menjadi idiot setiap harinya jika terus mengingat kehadiran Kim Mingyu. Jeon Wonwoo tidak berhenti untuk menyunggingkan sebuah senyuman seperti orang idiot hanya karena mengingat sang pencuri hati seperti sekarang.

Walau Wonwoo sudah mengucapkan semua perasaannya ketika pertemuan terakhir mereka, dan Mingyu tidak mengatakan apapun, ia tidak peduli. Yang jelas cinta Wonwoo untuk Mingyu sudah terucap. Si surai coklat tidak lagi memendam rasa seperti empat tahun lalu.

Setelah kejadian itu, Wonwoo belum berani untuk menghubungi lagi Mingyu. Padahal sang pujangga hati sama sekali tidak mengganti id line sedikitpun. Wonwooo masih malu dan terlalu canggung hanya karena ingin menanyakan kabar saja.

Sungguh, ada perasaan takut untuk menghubungi Mingyu lagi. Wonwoo takut tertolak. Dan ia belum siap menerima penolakan. Karena bagaimanapun juga, Mingyu adalah cinta pertamanya. Pria itu adalah satu-satunya orang yang mampu membuat Wonwoo berdebar dan salah tingkah seperti orang kehilangan akal sehat.

Hanya pada Mingyu saja Wonwoo dapat merasakan debaran menggila. Ia bahagia walau hanya dengan memikirkan pria itu. Terkadang Wonwoo merasa seperti orang bodoh karena menjadi gila akibat seorang Kim Mingyu yang pendiam, dan introvert itu.

Padahal jika Wonwoo mau, ia bisa memilih pria yang lebih menjanjikan dari pada Mingyu. Contoh saja Jun, pria itu masih mengejar dirinya sekalipun sudah di putuskan. Atau Soonyoung. Pria yang menjadi sahabat serta mantan kekasihnya, masih berharap kembali pada Wonwoo. Tapi sayang, si surai coklat hanya bisa menautkan hati pada Mingyu saja. Bukan pria lain.

"Ck," Suara decakan kembali terlontar dari mulut pria bersurai hitam pendek. "kembali memikirkan Kim Mingyu lagi, Jeon? Gila! Sampai kapan kau tidak akan move on dari pria itu?"

Wonwoo memutar bola mata kesal mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jeonghan. Ck. Jeonghan hanya tidak tahu saja jika rasa cinta Wonwoo pada Mingyu sebesar dan seluas samudera. Tidak akan hilang begitu saja, sekalipun di terjang oleh waktu.

"Hem. Aku masih belum melupakannya. Kau tahu? Dia cinta pertamaku."

"Kalau begitu coba hubungi dia lagi. Serius, aku bosan melihat wajah memelasmu saat merindukan Mingyu, dan hanya mengintai akun line miliknya. Please, Jeon. Akun line Mingyu sampai kapanpun hanya akan meng-update foto profile dan juga up game get rich atau game bodoh lainnya!"

Manik foxy itu membulat tak percaya. Heh. Apa Jeonghan lupa jika Wonwoo akan menjadi seorang pemalu tingkat dewa ketika berada di hadapan Mingyu? Saat mengucapkan perasaannya saja Wonwoo benar-benar tidak tahu kenapa ia bisa seberani itu. Walaupun Mingyu tidak mengucapkan apapun. Jadi wajar, jika Wonwoo masih berada di tahap menjadi seorang stalker kelas atas hanya untuk Mingyu, tanpa berniat melakukan interaksi lebih jauh.

"Tidak! Dia tidak mungkin membalasnya. Saat aku mengirimnya pesan saja dia selalu menjawabnya sesingkat mungkin. Aku tidak mau!" Wonwoo menggelengkan kepala dengan keras. Sumpah. Ia tidak akan mau menurunkan ego miliknya lagi hanya untuk Mingyu.

"Coba saja. Aku yakin Mingyu akan membalas. Tidak ada salahnya bukan?" Jeonghan kembali memutar bola mata malas. Ini yang ia tidak suka. Wonwoo selalu kehilangan kepercayaan diri jika berhadapan dengan Mingyu.

"Oke. Aku coba. Tapi aku belum siap jika dia hanya membaca pesanku seperti tempo lalu." Wonwoo mengerucutkan bibir ketika ingat kejadian saat Mingyu hanya membaca pesannya tanpa memberi balasan. Itu adalah kejadian yang sangat menyebalkan untuk di ingat.

"Coba dulu. Kita tidak tahu jika belum mencoba."

Wonwoo mengangguk mengiyakan. Mungkin ada benarnya juga. Lagi pula ia memang merindukan Mingyu. Wonwoo ingin bertanya kabar pria itu setelah enam bulan mereka tidak bertegur sapa lagi. Setiap hari, ia selalu memikirkan Mingyu. Sampai rasanya, Wonwoo merasa gila sendiri karena tidak pernah fokus dengan apa yang ia kerjakan.

Dengan tangan gemetar, Wonwoo meraih ponsel yang berada nakas. Jantungnya mulai berdebar tak karuan ketika jemari mencoba menekan layar ponsel yang akan mengantarkannya pada layar conversation bersama Mingyu.

Hai, Mingyu-ya, apa kabar?

Sent 11:40

"Sudah. Lihat aku mengirimnya pesan!" Wonwoo mulai menggerutu sambil mengerucutkan bibir. Jujur saja, ia tidak siap jika Mingyu hanya membaca pesannya saja. Wonwoo takut. Karena itu sama saja berarti jika Mingyu menolaknya secara tidak langsung.

"Tunggu saja kalau begitu." Jeonghan tersenyum penuh kemenangan. Ia kembali mengecek ponsel miliknya dan mengabaikan sang sahabat yang di landa harap-harap cemas akibat Kim Mingyu.

Hai. Aku baik.

Mingyu 11: 50 read

"Dia membacanya!" Wonwoo berseru keras. Si surai coklat tersenyum dengan rasa bahagia yang memuncak, ketika sebuah pesan dari Mingyu masuk ke dalam notifikasi Line miliknya.

Ah. Wonwoo merasa jika ia bermimpi saat ini. Kim Mingyu membalas pesannya. Ya Tuhan, apa Wonwoo boleh berharap jika Mingyu mempunyai perasaan yang sama untuknya?

"Apa yang harus aku tanya?" Wonwoo berseru panik ke arah Jeonghan. Sementara sang sahabat mulai memutar bola malas. Mungkin Jeonghan berpikir jika Wonwoo terlalu kaku karena tidak dapat membuat obrolan yang bagus. Ah. Sekarang Jeonghan baru ingat jika Wonwoo memang tidak pandai berbasa-basi.

"Tanya saja dimana dia kuliah. Terakhir kali bertemu, kau tidak sempat bertanya dan langsung pergi begitu saja kan?"

"Ah. Tumben kau pintar." Wonwoo terkekeh ketika melihat Jeonghan mendengus kesal, dan memilih untuk memejamkan mata di antara bantal. Meninggalkan Wonwoo yang mulai menggila soal percakapannya dengan Mingyu.

Dengan sigap Wonwoo kembali mengetukkan jari di layar ponsel. Mengirim pesan untuk Mingyu.

Kau kuliah dimana Mingyu-ah?

Sent 12.30

Jika di pikir lagi, Wonwoo memang tidak menanyakan soal universitas yang sang pujangga hati pilih. Saat itu, ia terlalu malu. Wonwoo lebih memilih untuk segera pergi dan menghilang selayaknya di telan bumi setelah acara mengatakan perasaan untuk Mingyu selesai.

Aku kuliah di Seoul National University. Jurusan Teknik Industri.

Picture received

Mingyu 12.40 read

"Hwahhh,, Dia masuk Jurusan Teknik ! Padahal aku pikir dia masuk Jurusan Bisnis. Lihat dia mengirim fotonya padaku. Ya Tuhan, Mingyu tampan sekali di antara teman-temannya yang lain." Wonwoo memekik kegirangan sambil menggoyangkan tubuh Jeonghan. Hingga membuat sang sahabat berdecak kesal akibat acara bersantai miliknya terganggu.

"Ah.. Kau seperti orang gila saja. Ya sudah chat saja bersamanya. Aku akan pulang dari pada harus di ganggu olehmu ketika tidur." Jeonghan beranjak dari ranjang. Ia segera berdiri ketika melihat Wonwoo yang mengerucutkan bibir karena sang sahabat tidak ingin di ajak berbagi keluh kesah.

"Kau tega meninggalkanku?"

"Tentu saja, dan ah. Sebentar lagi kau ulang tahun, dan aku harap kau mentraktirku makan bersama Jihoon. Eh. Tunggu, Jihoon harus tahu soal kau dan Mingyu. Bukannya dia teman Mingyu saat kelas satu dulu di SMA kan?"

"Ah. Kau benar. Baiklah. Sana pulang. Aku harus konsentrasi membalas pesan Mingyu." Tangan si surai coklat bergerak. Mengisyaratkan Jeonghan untuk segera pulang dan menutup pintu kamar.

"Aishh.. Kau menyebalkan sekali. Ya sudah aku pulang."

Wonwoo hanya mengangguk, dan kembali mengetik sebuah pesan balasan bagi Mingyu. Ia bahkan tidak mengubris lagi Jeonghan yang sudah keluar dari kamar, dan meninggalkannya sendiri yang masih tersenyum seperti orang gila.

Wah keren sekali. Apa jurusan Teknik susah? Dulu aku ingin sekali masuk ke sana. Tapi terlalu takut untuk mencoba. Haha.

Sent 12.50

Awalnya mungkin sulit. Tapi tidak setelah dua tahun menekuninya. Malah sekarang menjadi sangat mudah.

Mingyu 12.53 read

Mungkin seharusnya aku dulu mencoba masuk teknik ya. Haha

Sent 12.56

Ya..

Mingyu 13.00 read

"Ah.. Apa lagi yang harus aku tanyakan ? Gila! Kenapa Mingyu hanya menjawab ya saja sih? Menyebalkan sekali pria itu." Wonwoo menggerutu kesal. Ia mulai mengerutkan dahi sambil berpikir topik apa yang pantas untuk di perbincangkan.

"Ah.. aku tahu." Sebuah senyum mulai tercetak lagi di wajah manis Wonwoo. Kemudian ia kembali mengetikkan topik yang baru di pikirkan.

Apa di kampusmu sudah selesai ujian akhir?

Sent 13.15

Sudah. Tapi aku harus masuk semester pendek untuk mengambil mata kuliah atas bulan depan.

Mingyu 13.20 read

Kalau begitu semangat, Mingyu-ah ! ^^9

Sent 13.23

Thanks. Kalau boleh tahu, kau siapa? Aku sama sekali tidak mengenalmu.

Mingyu 13.25 read

"Fuck! Apa dia bilang? Tidak mengenalku? Gila! Apa dia sudah lupa? Padahal aku sudah memakai foto profil dan namaku secara jelas agar dia tahu jika ini adalah aku!" Wonwoo kembali menggerutu kesal. Kali ini, ia lebih memilih melampiaskan rasa kesal pada guling dan mengigit setiap ujungnya.

Rasanya menyebalkan sekali. Bagaimana mungkin Mingyu tidak mengingatnya, sedangkan dia mengirim foto miliknya pada Wonwoo tanpa di minta. Pria itu tidak akan mungkin mengirim foto miliknya pada orang asing bukan?

Jahat sekali kau tidak mengenalku. Ini aku Jeon Wonwoo. Kita satu SMA :'(

Sent 13.35

Maaf. Yang aku tahu adalah Woojin yang selalu bersama dengan Jihoon.

Mingyu 13.55 read

Mingyu-ya. Itu bukan Woojin. Tapi Wonwoo. Jihoon adalah temanku. Aku yang selalu bersama Jihoon.

Sent 14.10

Maaf. Aku tidak sadar. Bagaimana kabarmu? Kuliah dimana?

Mingyu 14.20 read

Ah. Aku masuk kampus biasa. tidak bagus sepertimu. Aku terlalu putus asa hingga masuk ke Chung- Ang University , Jurusan Management

Sent 14.35

Kau tidak boleh seperti itu. seharusnya kau bersyukur. Sekalipun masuk di kampus itu, kau tetap ada yang mendukung. Berbeda denganku yang sama sekali tidak mempunyai teman. Duniamu berbeda denganku. Kau selalu di dukung oleh keluarga dan sahabat. Sedangkan aku tidak sama sekali. Teman pun tidak ada. Jadi bersemangatlah Wonwoo-ya.

Mingyu 17. 10 read

Kalau begitu apa kau mau menjadi temanku Mingyu-ya?

Sent 20. 10

Tentu. Kalau begitu kau adalah teman pertamaku.

Mingyu 21. 15 read

Wah terimakasih aku senang sekali.

Sent 21.20

Sama-sama. Semoga kau tidak seperti temanku yang dulu.

Mingyu 21.25 read

Tidak akan. Aku akan selalu menjadi temanmu.

Sent 21.35 read

"Yah. Mingyu hanya membacanya saja. Apa mungkin dia sudah tidur? Ya sudah aku juga akan tidur." Wonwoo tersenyum senang. Sungguh. Ia bahagia sekali hari ini. Karena bagaimanapun juga, Mingyu membalas pesannya. Dan saat ini status Wonwoo di mata pria itu meningkat.

Jeon Wonwoo sudah menjadi teman pertama dari Kim Mingyu. Sungguh. Menjadi teman saja Wonwoo sudah sebahagia ini. Apalagi jika menjadi teman hidup selamanya sang pencuri hati? Mungkin jika itu terjadi, ia akan menjadi makluk paling beruntung di muka bumi.

.

oOo

.

Sudah satu hari lebih Mingyu sama sekali tidak membalas pesan terakhir dari Wonwoo. Bagaimana ini? Apa Mingyu sudah bosan untuk membalas pesannya? Apa Wonwoo adalah makluk membosankan hingga pria itu hanya mampu membaca pesannya saja?

Di saat Wonwoo sudah di lambungkan dengan tinggi oleh Mingyu, pria itu mampu menjatuhkan harapannya lagi dengan mudah. Sungguh. Wonwoo benar-benar berharap jika Mingyu mempunyai perasaan yang sama untuknya.

Jika kalian tahu, selama tiga hari terakhir, Mingyu selalu membalas pesannya. Ia bahkan bercerita tentang semua kejadian pahit yang di alaminya pada Wonwoo dengan mudah. Seolah Wonwoo adalah satu-satunya orang yang dapat ia pegang dan di percaya.

Apa berharap pada Mingyu itu adalah sebuah dosa besar? Jika memang dosa, maka Wonwoo akan memilih dosa itu. Ia hanya ingin berharap jika Mingyu mempunyai perasaaan yang sama untuknya. Hanya itu. Tidak lebih.

Kemarin malam, Mingyu hanya memberi like pada status terakhir Wonwoo di Line, tanpa membalas pesannya. Dan hari ini, tepat ketika ia ulang tahun, Mingyu kembali menghilang. Padahal ia berharap jika Mingyu akan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Tapi itu tidak mungkin. Karena Mingyu tidak akan mungkin tahu kapan Wonwoo ulang tahun. Si surai coklat sama sekali tidak memberi tahu tanggal ulang tahunnya pada sang pencuri hati.

Drrtt

Dengan malas, Wonwoo membuka slide ponsel untuk mengecek kembali Line. Mungkin ia akan kembali medapatkan ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya lagi.

Selamat ulang tahun Wonwoo-ya. Semoga kau bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya dan mendapat apapun yang kau inginkan.

Mingyu 07.30 read

"WOWW... Daebak!" Wonwoo mulai berseru senang. Sumpah. Ia bahagia. Wonwoo tidak pernah merasakan kebahagian seperti ini sebelumnya. Kim Mingyu yang ia cintai memberinya sebuah ucapan selamat ulang tahun di umurnya yang genap 22. Ya Tuhan, apa Wonwoo sedang bermimpi? Jika iya, tolong jangan bangunkan Wonwoo dalam mimpi indah ini.

Demi apapun yang ia miliki, Wonwoo bahagia. Sangat bahagia. Hanya dengan ucapan selamat dari Mingyu, ia bisa sebahagia ini. Wonwoo rasa kupu-kupu imajiner kembali menggelitik perut, hingga membuatnya tidak dapat menghentikan tawa bahagia. Ini gila! Tapi Wonwoo suka.

Wonwoo pikir, umurnya bisa bertambah 100 tahun setiap kali Mingyu mengatakan selamat dan mendoakan kebaikan untuk Wonwoo. Hanya dengan ucapan kalimat dari sang pencuri hati, mungkin Wonwoo benar-benar bisa hidup selamanya hanya dengan membaca kalimat itu berulang-ulang.

Tanpa menunggu lebih lama, Wonwoo mulai mengetikkan sebuah balasan untuk Mingyu. Dengan mengetik balasan seperti ini saja, jemari Wonwoo sudah bergetar hebat.

Terimakasih Mingyu-ya. Aku tidak menyangka jika kau akan mengucapkan hal ini padaku. Aku benar-benar senang.

Sent 07.45

Ya Tuhan Wonwoo pikir, ini adalah hadiah terindah yang pernah Tuhan berikan sepanjang ia hidup di dunia. Ini indah sungguh. Dan Wonwoo harap, ia bisa bahagia seperti ini setiap hari.

Hahaha. Ya Sama-sama. Mungkin kalau aku tahu di mana dirimu, aku akan datang dan memberi sebuah kejutan secara langsung hari ini.

Mingyu 07.55 read

Ah. Bolehkah sekali ini ia berharap? Ia ingin Mingyu hadir di perayaan ulang tahun miliknya. Wonwoo merindukan Mingyu. Ia ingin melihat pria itu yang akan tersenyum ketika melihat Wonwoo salah tingkah karena berdekatan dengannya.

Benarkah kau akan datang? Hari ini aku akan merayakan ulang tahun di apartemenku yang berada di jalan Dongjak-gu nomor 76. Tenang saja, hanya akan ada Jeonghan dan Jihoon saja di sini.

Sent 08.15

Ya. Aku akan datang ke sana. Kau bisa menungguku bukan?

Mingyu 08.30 read

Ya. Tentu. Aku akan menunggumu. Terimakasih Mingyu-ya.

Sent 08.35 read

Ya Tuhan. Jika Mingyu benar-benar datang hari ini. Maka ini adalah hadiah yang paling terindah. Kim Mingyu itu pria yang selalu mampu membuat Wonwoo bahagia hanya dengan sebuah tindakan sederhana. Sungguh. Tidak sia-sia Wonwoo terus menyimpan rasa ini pada Mingyu hampir lima tahun lamanya.

Jeon Wonwoo akan selamanya mencintai Kim Mingyu sampai kapanpun. Selamanya, pria itu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Dan Wonwoo harap, Kim Mingyu juga mencintai dirinya selama ini.

FIN

Yeay tamat. Dan sekali lagi, Happy Birthday Jeon Wonwoo ^^

Ini hanya asupan sederhana, karena serius, bulan Juli ini saya sibuk mau nyiapin uas. Jadi ini pendek. Haha. Tapi gapapa lah yah. Yang penting saya nulis untuk Wonwoo.

Dan gue harap sih, doi bisa baca ini juga. Siapa tau peka. Wkwk. Ya sudahlah. Tolong doakan gue juga supaya gue dan doi bisa goals on relationship. Wkwk

Ya sudah. Mind To Review?

Morichan