Our Fate

.

Jeon Jungkook

Kim Taehyung

Park Jimin

Min Yoongi

.

.

Mata Taehyung menulusuri jajaran pemain drama tersebut. Ia sebagai pemeran utama dan lawan mainnya bernama Jeon Jungkook.

.

Begin!

.

Di tengah lautan orang-orang yang menatapnya penuh kekaguman, pemuda itu berjalan tenang. Tak peduli pada ratusan pasang mata di sekitarnya. Berbadan tinggi, berwajah tampan, serta mata tajam berwarna abu-abu tua yang unik. Ditambah lagi, rambutnya disemir dengan warna ungu pucat yang membuatnya tambah menawan. Dilihat secara kasat mata, penampilannya tentu dapat dimasukkan dalm kategori sangat mencolok. Namun, di sisi lain, pembawaannya yang terkesan begitu dingin dan misterius sangup membuat orang-orang terus memperhatikannya tanpa sadar.

"Hari ini Taehyung datang!"

"Benarkah?"

"Aku melihatnya di depan pintu gerbang sekolah!"

"Ia semakin tampan saja!"

Suara-suara di sekolah khusus seni nomor satu di Korea itu terlihat lebih ramai dari hari-hari biasanya. Hari ini, Kim Taehyung, siswa kelas tiga sekolah tersebut dan salah satu idola muda yang paling terkenal di Korea itu kembali setelah disibukkan dengan pekerjaannya sebagai artis di luar sekolah selama beberapa bulan ini. Pemuda itu berjalan seorang diri menuju kelasnya, 3-A. Kelas superior berwarna emas yang mencolok, ditempati oleh dua puluh murid dengan ranking teratas dan diangap sebagai tempat khusus bagi orang-orang yang memiliki bakat luar biasa.

"Taehyung!" terdengar suara laki-laki dari kejauhan.

Taehyung langsung menoleh. "Ah, Jimin." Ia melambaikan tangan kepada sahabat satu-satunya itu, kemudian melayangkan pandangan pada pemuda di sebelah Jimin yang tersenyum kepadanya.

"Taehyung! Sudah lama tidak bertemu. Apa kabar?"

"Baik," balas Taehyung. Perasaan berdebar kecil tersebut muncul lagi ketika melihat senyum pemuda di depannya. Tetapi, perasaan itu sudah jauh berkurang dibanding setahun lalu. Sekarang, ia sudah bisa mengobrol biasa tanpa harus merasa gugup lagi.

Penyebab utamanya adalah pemuda bernama Min Yoongi yang berdiri disamping Jimin ini merupakan pacar Jimin sekaligus cinta pertama Taehyung dan juga orang pertama yang membuatnya patah hati. Namun, Taehyung sama sekali tak menyesali keputusannya dulu dengan menyerahkan pemuda itu pada satu-satunya sahabat yang ia miliki.

Ia begitu lega saat bertemu dengan mereka berdua hari ini. Melihat Jimin dan Yoongi, orang-orang yang paling disayanginya bersama, ternyata tidak lagi membuatnya cemburu. Perlahan tapi pasti, perasaan sukanya pada Yoongi telah berubah.

"Tumben sekali kau datang ke sekolah. Apa pekerjaanmu sudah selesai?" pertanyaan Jimin langsung membuyarkan semua lamunannya.

"Aku masih ada jadwal untuk beberapa iklan. Tapi, mendadak saja Kakek tua itu menyuruhku untuk datang ke sekolah hari ini," jawab Taehyung tanpa meutupi perasaan kesalnya. Selalu saja, bila bicara tentang kakek kandungnya, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa sebal.

"Kepala sekolah memanggilmu?" Yoongi terlihat heran, kemudian berpandangan dengan Jimin yang juga menatap pemuda itu.

"Apa ada yang salah?" Taehyung sontak menaikkan sebelah alis saat melihat gelagat keduanya. Jimin dan Yoongi hanya bergumam tidak jelas.

"Bukannya salah, sih.. ," Yoongi tanpa sadar menggaruk kepalanya. "Hanya saja, hari ini kami melihat penampilan Pak Kepala sekolah lebih hebat dari biasanya."

"Kalau maksudmu hebat adalah aneh, bukannya kakek tua itu sudah biasa memakai pakaian aneh?"

"Ya, tapi kali ini cukup berbeda. Pak Kepala sekolah terlihat sedang bahagia dan.. ," Jimin berusaha menahan tawa, sebelum melanjutkan ucapannya, "ramai."

Taehyung kontan mengerutkan dahi, "Apa maksud kalian?"

"Ya, begitulah. Hahaha," Jimin dan Yoongi kompak terbahak.

"Hah, aku tidak perlu membayangkannya. Kakek tua itu memang selalu berlebihan." Taehyung cuma menghela napas sekali. "Baiklah kalau bergitu. Aku akan bertemu kalian lagi nanti." Ia lantas bergegas pergi.

Jimin dan Yoongi langsung tersenyum sambil melambaikan tangan dengan semangat. "Sampai nanti."

Taehyung maish sempat menoleh pada mereka sekilas, lalu tersenyum penuh arti. "Tetaplah jadi pasangan bodoh yang bahagia," ujarnya.

"Bodoh?!" Jimin dan Yoongi sontak meninggikan suara, kemudian keduanya sama-sama berpandangan dalam ekspresi bingung.

"Tadi, Taehyung berkata bodoh kepadamu, kan? Bukan kepadaku."

"Apa maksudmu? Begini-begini, aku kan pemegang ranking satu di angkatan kita!" sahut Jimin.

Tatapan Yoongi menajam. Ia memukul kepala kekasihnya itu. "Maksudmu karena aku ranking dua puluh di kelas, jadi aku yang bodoh?! Jangan main-main!"

"Bukan begitu maksudku!" Jimin memegang kepalanya, "Aduh, kepalaku benjol. Kau itu sudah jadi artis tetap saja kasar!"

Taehyung masih bisa mendengar pertengkaran kecil pasangan kekasih itu dari kejauhan. Ia tak bisa lagi menahan senyumnya. Meski sekarang ia jarang bertemu dengan mereka, tapi ternyata kedua orang yang disayanginya itu tetap tak berubah.

.

.

.

Saat ini, Taehyung sudah berhenti di depan ruangan yang berada di lantai ketujuh. Ia mempersiapkan diri sebelum membuka pintu tinggi yang memiliki desain seperti pintu kerajaan tersebut. Sudah menjadi kebiasaan Taehyung untuk selalu menyiapkan hati sebelum bertemu muka dengan kepala sekolah sekaligus kakek kandungnya yang terkenal eksentrik.

"Selamat pagi, Kek."

Baru saja ia membuka pintu di depannya, Taehyung langsung membatu di tempat. Seorang kakek tua berambut kribo telah berdiri di sana. Dengan tangan terbuka di depan dada, menyambutnya disertai wajah penuh senyum.

Tidak disangka, kakek itu berhasil membuat Taehyung pusing seketika. Penampilannya yang selalu aneh ternyata tidak berubah, tapi justru semakin parah! Sekarang, Taehyung sepenuhnya paham pada perkataan Jimin dan Yoongi beberapa saat tadi.

Di depan matanya, kakek tua ini memakai mahkota diatas rambut kribonya. Mahkota itu memiliki beberapa tali dengan panjang masing-masing sekitar depalan meter, verwarna-warni dan dibiarkan menjuntai dilantai. Tidak hanya itu saja, berbagai hiasan juga di ikatkan di setiap tali warna-warni yang menjuntai tersebut. Ada cincin, boneka kertas, bola-bola, dan berbagai hiasan kecil lain yang sangat ramai. Belum lagi ia mengenakan kostum badut.

"Kim Taehyung, my lovely grandchild, apa yang kau lakukan di situ? Come here. Kakek khusus membuat pakaian ini untuk menyambutmu hari ini."

Taehyung masih terdiam. Terkadang, ia masih tak habis pikir, bagaimana bisa orang seaneh kakeknya ini bisa berhasil menjadi orang yang sangat disegani di seluruh Korea.

"Taehyung, dengan kostum ini, kakekmu ini jadi susah bergerak, jadi sebaiknya kau mendekat kesini."

"Kakek.. ," Taehyung menghela napas panjang, lalu berjalan mendekatinya. "Kalau memang repot, mengapa masih tahan memakai pakaian seperti ini?"

"Apa yang kau bilang? Ini salah satu kesenangan kakekmu ini. Apa kau tidak terharu melihatnya? Ini kostum spesial untuk menyambut kedatanganmu!"

Taehyung menyerah. Ia tak mau berdebat lagi. "Jadi, ada apa Kakek tiba-tiba memanggilku ke sini?"

"Oh, benar!" kakek nya langsung menjentikkan jari, lalu susah payah mengambil kertas di dalam salah satu kantong kostum badutnya. "Ada pekerjaan baru untukmu. Drama untuk musim semi ini, judulnya Our Fate."

Taehyung langsung membuka selembar kertas yang sudah berada ditangannya. "Kim Namjoon yang menjadi sutradara," gumamanya. Ia otomatis menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.

Kim Namjoon adalah salah satu sutradara terkenal yang memiliki reputasi bagus dalam mengerjakan berbagai proyek drama, dan hampir dipastikan selalu berhasil masuk jajaran top. Jimin dan Yoongi yang pernah bekerja sama di dalam drama yang berjudul "Lie" pun sukses meraih rating tertinggi selama satu musim ditahun lalu. Tidak hanya itu, Kim Namjoon juga memiliki cara yang unik dalam mengarahkan para artisnya. Sampai-sampai, ia dijuluki sebagai sutradara bintang abad dua puluh satu.

Mata Taehyung menulusuri jajaran pemain drama tersebut. Ia sebagai pemeran utama dan lawan mainnya bernama Jeon Jungkook.

"Jeon Jungkook?" Taehyung menautkan kedua alisnya. Ia tidak pernah mengenal nama itu sebelumnya. Sepengetahuan Taehyung, Kim Namjoon tidak pernah main-main dalam menentukan cast dalam drama besutannya.

"Ini adalah drama pertama Joen Jungkook sebagai peran utama. Ia terpilih di antara seribu orang yang mengikuti audisi," ucap kakeknya seolah-olah mengerti apa yang dipikirkan Taehyung. "Sebelumnya, ia lebih sering mengisi majalah sebagai seorang model. Kakek tahu ia juga pernah bermain dalam beberapa drama, tetapi belum pernah bermain sebagai pemeran utama."

Taehyung hanya mengangguk sekali mendengar penjelasan kakeknya. Tidak peduli siapa pun yang berakting sebagai lawan mainnya, hal itu tidak terlalu penting. Yang perlu ia lakukan hanyalah membangun hubungan baik dengan mereka sebagai rekan kerja guna memperlancar semua pekerjaannya.

"Oh ya, Jeon Jungkook adalah siswa disekolah ini juga."

Ekspresi Taehyung sedikit berubah, "Oh, ya?"

"Ini adalah tahun pertama Jungkook disini. Jadi, kau yang sudah kelas tiga dan jarang ke sekolah juga pasti tidak pernah bertemu dengannya."

Taehyung menganggukan kepalanya sekali lagi, merasa maklum sekaligus tidak seberapa peduli. "Keperluanku ke sini Cuma ini saja, kan?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Ya," jawab kakeknya itu, "Kau sudah boleh pergi."

Tanpa perlu berlama-lama, Taehyung segera bergegas. Namun, tepat sebelum ia benar-benar membuka pintu di depannya, langkah kakinya mendadak terhenti oleh panggilan sang Kakek. "Taehyung-ah, kakek punya saran untukmu."

Taehyung tak bereaksi, tapi ia tetap menoleh kepada kakeknya. Menunggu.

Kakeknya itu tersenyum misterius sebelum berkata, "Karena pandangan kita terbatas, biasanya kita cuma melihat apa yang ada di depan kita. Tapi, jangan pernah berhenti untuk melihat."

Taehyung hanya terdiam. Ia sama sekali tidak memahami apa makna dari ucapan itu, namun ia tak ada niat untuk bertanya apa pun. Seperti biasa, kakek yang dianggapnya sok misterius ini pasti juga tidak akan mau menjelaskan lebih lanjut. Jadi, tanpa harus menunggu lebih lama, Taehyung memutuskan untuk sesegera mungkin keluar dari sana.

.

To Be Continued!

.

.

Hai! Hello! Annyeong!

Ini post-an fanfict kedua ku dengan remake dari novel yang berjudul 'Bokutachi no Unmei'.

Terima kasih yang sudah membaca dan mereview 'KOI', untuk sekuel nya di pikir-pikir dulu ya hehehe.

Menerima kritik dan saran dengan senang hati!

See you!