Our Fate

.

Jeon Jungkook

Kim Taehyung

Kim Yugyeom

Kim Namjoon

Jung Hoseok

.

Chapter 6

.

Detik demi detik berlalu dengan suasana tegang. Jungkook hanya berkedip beberapa kali, belum juga menjawab. Ungkapan perasaan Taehyung seolah berputar-putar dikepalanya. Begitu mengejutkan, sampai-sampai suaranya tak keluar sama sekali. Perasaannya jadi kacau. Berdebar sangat keras. Dan, tiba-tiba perasaan bahagia yang belum pernah dirasakannya timbul begitu saja. Aneh, sungguh aneh!

.

Begin!

.

Hubungan baik antara Taehyung dan Jungkook di lokasi syuting sudah menjadi buah bibir di kalangan para staf. Taehyung yang dingin serta Jungkook yang tanpa emosi seperti paduan yang terasa kaku, aneh, dan mengejutkan bagi mereka. Setelah melihat interaksi keduanya, para staf jadi bisa merasakan keduanya benar-benar cocok. Tidak hanya saat berakting, di luar itu mereka juga terlihat serasi.

Taehyung menjadi lebih sering tersenyum. Ia berubah menjadi sosok yang perhatian dan hangat. Tapi, tentu saja semua itu hanya bisa dilihat saat ia berada di samping Jungkook. Sementara, Jungkook yang tanpa emosi tetap tidak berubah. Namun, berkat Taehyung, ia jadi sering menunjukkan berbagai macam ekspresi dan mulai bisa menunjukkan senyumnya pada orang lain.

"Hari ini adalah syuting terakhir kita. Terima kasih atas kerja keras kalian semua. Dan, mari kita berpesta!" seru Namjoon. Ia lalu menyalami seluruh pemain drama "Our Fate" dengan senyum merekah.

"Jungkook, kemarilah." Namjoon memanggil pemuda itu. Jungkook yang berdiri di samping Taehyung langsung mengangguk, lantas berjalan mendekati sang sutradara yang berdiri beberapa meter dari tempatnya.

Taehyung masih tak bergerak, tetapi pandangan matanya tetap mengikuti gerak-gerik Jungkook yang sedang asyik mengobrol dengan sang sutradara. Jungkook lalu tersenyum saat menerima hadiah dari Namjoon. Taehyung yang memang terfokus pada Jungkook, tidak menyadari seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya yang juga tengah menatap Jungkook.

"Jungkook memang paling manis saat tersenyum. Iya, kan, Taehyung-ah?" tukas Hoseok seraya menepuk pundak Taehyung. Hoseok merupakan pemain pendukung dalam drama "Our Fate", dan merupakan rival Taejoon dalam memperebutkan Junghyun.

Taehyung tak menanggapi ucapan Hoseok sama sekali. Sebagai gantinya, ia hanya memandang laki-laki itu dalam diam. Tajam. Menusuk.

Mau tidak mau, Hoseok spontan menjauhkan diri. "Ma..maaf." Ia merasa ketakutan dan tanpa sadar meminta maaf, meski ia sendiri juga tidak tahu di mana letak kesalahannya, sampai-sampai idola top itu memandangnya seperti penjahat yang siap dibunuh.

Taehyung tak mempedulikan ketakutan yang terlihat sangat jelas di wajah Hoseok. Ia kembali memperhatikan Jungkook dengan ekspresi dinginnya. Tapi, tidak ada satu pun yang tahu bahwa hatinya bergemuruh menahan amarah. Ia sadar, Jungkook memang sangat manis. Dalam keadaan diam saja, ia sudah terlihat manis dengan mata cokelat nya yang berkilau. Apalagi kalau tersenyum, ia menjadi jauh lebih manis. Mungkin, hanya orang-orang yang tidak memiliki mata normal yang tidak menganggap senyum Jungkook sangat indah. Karena itu pula, akhir-akhir ini, Taehyung jadi serba salah dan uring-uringan. Sekarang, banyak sekali orang-orang di sekitarnya yang mulai berani mendekati Jungkook. Ironisnya, Jungkook tidak menolah. Meski kalau boleh dibilang tidak juga memperhatikan mereka secara khusus.

Kecemburuan yang mati-matian Taehyung tutupi agar tidak ada satu pun orang yang sadar adalah keahliannya. Ia pura-pura tenang dan berusaha bersikap professional sebagai lawan main sekaligus sunbae yang baik bagi Jungkook. Tidak mau terlihat kekanak-kanakkan mungkin adalah penyebab utama baginya untuk menahan perasaan. Apalagi, saat ini, Jungkook selalu menganggap Taehyung sebagai orang baik. Atau, kalau mau dibuat lebih mengenaskan, ia bahkan menganggap Taehyung seperti seorang ibu.

Sekarang, Taehyung sangat sulit untuk melakukan sesuatu. Rasanya, menyatakan cinta di dalam drama begitu mudah dilakukan, tapi kenyataannya ternyata tidak segampang itu. Mengikuti saran Jimin yang terkesan mudah juga tidak bisa ia lakukan. Taehyung adalah orang yang lemah dalam masalah seperti ini. itu jelas tidak bisa dihindari.

"Taehyung-ah, mengapa bengong sendirian?" Suara Namjoon mengagetkannya. "Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Tidak ada," jawab Taehyung sekenanya. Tak mungkin bila ia menceritakan masalahnya pada sutradara itu. Bisa-bisa ia malah jadi bahan tertawaan. Taehyung lalu melayangkan pandangan ke sekeliling. Namun, ia tidak menemukan sosok yang dicarinya dalam lautan orang-orang yang sedang berpesta di sana.

"Di mana Jungkook?"

"Ia tadi keluar. Kau tahu penyanyi bernama Yugyeom? Tadi laki-laki itu yang memanggilnya. Seingatku, Jungkook pernah menjadi model untuk MV-nya."

Perasaan kesal dan cemas kembali memenuhi hati Taehyung. Sayangnya, dengan posisi Taehyung sekarang, ia sama seklai tidak memiliki hak untuk melarang Jungkook. Tapi, tetap saja, perasaan cemburu itu tetap tak terelakkan. Tanpa sadar, ia mengepalkan kedua tangannya keras-keras.

"Taehyung-ah, kau mengerikan!" Namjoon menunjukkan ekspresi ketakutan yang dibuat-buat, "Wajahmu seperti siap membunuh orang saja. Hahaha."

Kim Namjoon sama sekali tak bodoh. Meski Taehyung tak mengatakan apa pun, tapi ia bisa mengetahui dengan jelas bagaimana perasaan Taehyung kepada Jungkook. Wajar karena Namjoon sudah mengenal Taehyung sejak ia memulai debutnya di dunia artis beberapa tahun silam.

"Ini adalah hari terakhir kita syuting. Mungkin setelah ini, kau akan susah untuk bertemu. Jadi, bagaimana kalau kau jujur saja dengan perasaanmu itu?" Namjoon lalu tersenyum penuh arti, "Daripada kau menyesal nantinya."

.

.

.

Saat ini, ia tak bisa berpikir apa-apa lagi. Taehyung sudah berlari keluar dari dalam studio dengan satu tujuan. Bertemu Jungkook sekarang juga. Sepertinya ini sudah benar-benar takdir bahwa Taehyung diharuskan selalu dalam keadaan berlari, panik, atau terburu-buru saat mencari Jungkook. Dia memang merepotkan! Rutuk Taehyung dalam hati.

Di lain tempat, Yugyeom terlihat menggiring Jungkook untuk mengikutinya menuju lantai lima belas. Di sana adalah tempat yang paling jarang dilewati orang karena berada di dekat gudang perlengkapan.

"Ada apa?" tanya Jungkook tanpa keantusiasan sama sekali.

"Jungkook, kita kan sudah lama tidak bertemu. Apa kau tidak bisa menunjukkan ekspresi yang lebih bahagia?" Yugyeom memamerkan senyum mematikannya. "Aku jauh-jauh datang ke studio tempatmu syuting hanya untuk bertemu denganmu."

"Terima kasih." Jungkook berkata singkat.

Jelas bahwa senyuman dan rayuan Yugyeom itu tidak mempan terhadapnya.

Yugyeom masih bisa tersenyum kecil. "Oh, ya, Jungkook, kudengar kau dekat dengan Kim Taehyung, ya?"

"Lalu mengapa?" tanya Jungkook.

"Ya, aku heran saja. Bagaimana bisa pemuda manis sepertimu bergaul dengan pemuda sadis dan dingin sepertinya. Ia sama sekali tidak cocok buatmu."

Jungkook terdiam sejenak, kemudian memandang Yugyeom tanpa eksresi. "Kau pasti salah orang. Itu pasti Kim Taehyung yang lain."

"Hah?" Yugyeom memasang ekspresi bingung. "Apa maksudmu?"

"Taehyung hyung yang kukenal bukan orang seperti itu. Taehyung hyung yang kukenal adalah orang baik."

"Taehyung hyung? Jadi, kau sudah sedekat itu dengannya?" Yugyeom mendengus penuh ejekan. "Kau itu polos atau bodoh, sih? Ia pasti cuma pura-pura saja di depanmu."

Setelah ucapan itu, tiba-tiba Jungkook melempar sekotak Pocky yang ia pegang tepat ke wajah Yugyeom. Sama sekali tanpa rasa bersalah.

Yugyeom langsung shock. Ia benar-benar kaget. Selang berapa lama, ekspresi wajahnya berubah bengis. "Apa-apaan kau?!" Dengan kasar, tiba-tiba ia mencekal kedua tangan Jungkook dan mendorongnya ke tembok yang berada di belakang pemuda itu. "Aku sudah berusaha baik padamu, tapi apa yang sudah kau lakukan?! Ini penghinaan!"

Yugyeom mencengkeram kedua tangan Jungkook lebih keras sampai ia tak bisa bergerak sama sekali. "Hah, ternyata kau lemah sekali."

"Le...lepaskan." suara Jungkook bergetar.

"Tidak akan." Yugyeom lalu menyeringai lebar, terlihat menikmati ketakutan Jungkook. "Semakin kau berontak, aku jadi semakin semangat."

Perlahan-lahan, Yugyeom menekan tubuhnya sampai Jungkook merasa terjepit. Wajah Yugyeom yang begitu dekat membuat Jungkook menutup kedua matanya rapat-rapat. Ia benar-benar ketakutan. "To...tolong," gumamnya lirih.

Brak! Bersamaan dengan suara itu, tiba-tiba Jungkook merasakan sebuah tangan besar merangkul pundaknya.

Saat Jungkook membuka mata, ia langsung tertegun. Taehyung sudah berada di sebelahnya. Memeluknya begitu erat. Tanpa Jungkook sadari, ketakutannya perlahan-lahan mulai berkurang. Ia begitu lega saat melihat Taehyung di sana.

"Aduh..." Yugyeom merintih kesakitan. Ia terjerembab keras saat Taehyung mendorongnya sekuat tenaga. Ia pun langsung bangkit berdiri dengan wajah memerah, antara malu dan marah.

"Kim Taehyung!" ia menggeram penuh kebencian. Pribadi Yugyeom yang santai dan narsis pun secara mengejutkan berubah. "Jangan ikut campur urusanku!"

"Urusanmu?" Taehyung mendengus, "Aku sama sekali tak berminat dengan urusanmu. Tapi...," Tatapannya seketika berubah mematikan. Melihat ekspresi wajah Taehyung, siapa pun pasti tahu ia tidak sedang main-main. "Jika sekali lagi kau berani mengganggu Jungkook, kau akan tamat saat itu juga, penyanyi nomor dua."

Wajah Yugyeom langsung berkerut. Harga dirinya terinjak-injak. Sebutan penyanyi nomor dua adalah alasan utama ia begitu membenci laki-laki dingin bernama Kim Taehyung tersebut. Bagaimanapun kerasnya ia berusaha, Yugyeom tidak pernah bisa mengalahkannya. Karena itu, ia sangat dendam terhadap Taehyung. "Jangan sebut aku dengan nama itu! Suatu hari aku pasti akan mengalahkanmu, Kim Taehyung!"

"Coba saja." Taehyung menatap Yugyeom tajam. "Karena kau sudah berani membuatku marah besar, aku jamin...," ia lalu memamerkan senyum tipisnya yang khas. Dingin, menusuk, dan mengintimidasi. "Kau tidak akan pernah mendapatkan posisiku, penyanyi nomor dua." Taehyung menutup kata-kata akhirnya dengan sebuah tekanan keras.

Jungkook yang berdiri di belakangnya hanya bisa ternganga. Ia sama sekali tak pernah melihat Taehyung semarah ini sebelumnya. Tapi, Jungkook juga tidak bisa mengelakkan perasaan berdebar saat melihat Taehyung yang melindunginya. Yugyeom yang walau ketakutan, masih berusaha untuk berani. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Jungkook, lantas tersenyum licik. "Jungkook, kau bisa lihat, kan? Laki-laki yang kau anggap baik ini sebenarnya adalah laki-laki yang dingin dan kejam. Ia sama sekali tidak sebaik yang kau pikir!"

Taehyung sontak membelalakkan mata. Laki-laki itu baru sadar bahwa ia benar-benar lepas kendali. Jungkook yang selalu menganggapnya baik, baru saja melihat sisi dirinya yang lain. Taehyung tersentak saat merasakan tangan Jungkook yang memegang lengannya bergetar. Jungkook takut kepadanya.

Taehyung tak bisa membalas kata-kata Yugyeom. Meski ia tetap bergeming, tapi kesedihan dalam hatinya tetap tak bisa disembunyikan. Sungguh ironis, sebelum Taehyung bisa mengungkapkan perasaan, ia bahkan sudah merasa ditolak lebih dulu.

Plak! Suara tamparan terdengar keras. Di saat Taehyung berpikir, ia sama sekali tak menyadari bahwa Jungkook sudah berdiri di depannya. Jungkook tanpa ragu menampar wajah Yugyeom. Taehyung sampai terkesima, ia tidak menyangka bahwa Jungkook sangup melakukan hal seberani itu pada laki-laki yang baru saja mau berniat melecehkannya.

"Tarik ucapanmu." Jungkook berkata dengan intonasi datar. Meski ia bisa berkata tanpa emosi, tapi ekspresi kesal tetap terlihat di wajah Jungkook. "Jangan pernah mengejek Taehyung hyung di hadapanku. Ia jauh lebih baik darimu beribu-ribu kali lipat."

Yugyeom tak bisa membalas perkataannya. Ia hanya bisa memasang wajah berang, tapi tak bisa melakukan apa-apa karena Taehyung berada di belakang Jungkook. Meski tak mau mengakui, namun keberadaan Taehyung sanggup menjatuhkan lawan dalam hitungan detik. Dan, hal itu terbukti saat ini juga.

"Awas kalian berdua!" Meski mengeluarkan ancaman, tapi Yugyeom mengatakannya sambil berlari kencang dengan sisa tenaga yang masih ia punya.

Setelah kepergian Yugyeom yang tunggang langgang, suasana langsung sunyi senyap. Jungkook yang memang tidak pernah mengalami kejadian seperti itu hanya bisa termenung. Ia lalu terduduk di lantai karena tiba-tiba saja kakinya terasa begitu lemas, berusaha untuk mengatur napasnya yang sedikit tersengal.

"Jungkook-ah...," Dengan ekspresi cemas, Taehyung berjongkok di depannya, bertumpu pada salah satu lutut, "kau tidak apa-apa?"

Jungkook hanya menganggukkan kepala sekali.

"Kau benar-benar bodoh!" Tiba-tiba saja Taehyung membentaknya. "Aku sudah bilang kan, kalau kau ada masalah cepat hubungi aku!"

"Ma..maaf." Jungkook menundukkan kepalanya. Tanpa bisa ditahan, satu persatu air mata keluar dari pelupuk matanya. Menunjukkan berbagai macam perasaan. Takut, bersalah, dan juga lega. "Terima kasih karena kau sudah datang, hyung," ucap Jungkook diantara isak tangisnya.

Taehyung masih sempat tertegun. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Jungkook benar-benar menunjukkan semua emosinya. Melihat Jungkook menangis, perasaan kesal Taehyung langsung hilang begitu saja, digantikan oleh sebuah senyuman yang sarat akan kelegaan. Tanpa berkata apa-apa, ia memeluk tubuh Jungkook yang masih bergetar. Sama sekali tak mau melepaskannya sampai ia benar-benar tenang.

"Aku minta maaf." Jungkook lebih dulu melepaskan diri dari pelukan Taehyung, ia merasa canggung karena debaran yang kembali menyerangnya.

"Baiklah. Sekarang ceritakan padaku mengapa ia sampai memperlakukanmu sekasar itu?" Taehyung langsung menuntut penjelasaan Jungkook. Saat melihat adegan tadi, Taehyung jadi gelap mata. Ia sangat marah. Mungkin kalau tidak memikirkan sedang berada di gedung stasiun TV, Taehyung bisa saja menghajar Yugyeom sampai babak belur.

"Aku melempar wajahnya dengan kotak Pocky." Jungkook berkata lirih, namun tidak sedikit pun tersirat rasa bersalah dalam nada bicaranya.

"Hah?" Taehyung tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, "Mengapa kau melakukan itu?" Sekarang ia merasa sedikit kasihan juga pada nasib Yugyeom. Meski tergolong pengecut, tapi harga diri laki-laki itu cukup tinggi, jadi tidak salah juga kalau Yugyeom sampai begitu marah pada Jungkook.

"Karena ia mengejek Taehyung hyung," sahut Jungkook pelan.

"Apa?" Taehyung tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Jadi, penyebab semua itu ada dirinya.

"Ia sama sekali tak mengenalmu, tapi bisa-bisanya ia berkata buruk seperti itu. Ia membuatku kesal." Jungkook berkata tanpa mau menatap Taehyung karena laki-laki itu sama sekali tak melepaskan pandangannya dari Jungkook, dan itu membuat Jungkook merasa tak nyaman. Ia jadi gampang deg-degan, wajahnya juga jadi gampang memerah. Jungkook sunguh merasa aneh pada dirinya sendiri.

Taehyung tak bisa lagi menyembunyikan perasaan bahagianya. Apa yang dilakukan Jungkook untuknya begitu berarti. Kali ini, ia tak akan mundur lagi. Taehyung tidak ingin menyesal.

"Jungkook, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."

"Apa?"

"Aku hanya akan mengatakannya sekali, jadi dengarkan aku baik-baik."

Jungkook menganggukkan kepalanya, walaupun tidak begitu mengerti. Ia tak bisa berpikir jernih karena tatapan Taehyung yang memandangnya dengan wajah serius membuatnya kembali berdebar-debar tanpa bisa ditahan.

"Aku menyukaimu, Jungkook," Taehyung berkata tegas. Namun, suaranya sedikit bergetar. Ini adalah pertama kali ia bisa jujur mengungkapkan perasaan cinta kepada seseorang yang benar-benar disukainya, dan itu ternyata membuat perasaannya jadi tak karuan.

Detik demi detik berlalu dengan suasana tegang. Jungkook hanya berkedip beberapa kali, belum juga menjawab. Ungkapan perasaan Taehyung seolah berputar-putar dikepalanya. Begitu mengejutkan, sampai-sampai suaranya tak keluar sama sekali. Perasaannya jadi kacau. Berdebar sangat keras. Dan, tiba-tiba perasaan bahagia yang belum pernah dirasakannya timbul begitu saja. Aneh, sungguh aneh!

Setelah beberapa menit dalam keheningan, Taehyung tak bisa menahan diri. "Mengapa kau diam saja?" Taehyung menutup sebagian wajahnya dengan salah satu tangan, merasa sangat malu dan frustasi. "Aku kan sudah mengungkapkan isi hatiku padamu!"

Suara Taehyung membuat Jungkook seolah bangun dari tidur panjangnya. Ia kelihatan linglung. "Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi perasaanku jadi berdebar-debar," ucapnya. Jungkook tanpa sengaja menatap mata Taehyung, dan sontak keduanya menunjukkan ekspresi muka yang serupa. Memerah, tersipu malu.

"Jadi, kau juga berdebar-debar?" Taehyung sedikit merasa lega setelah mendengar ucapan Jungkook yang begitu jujur. "Apa itu artinya kau juga menyukaiku?"

"Mu..mungkin," Jungkook menjawab ragu-ragu.

"Mungkin?" Taehyung langsung tertawa, dan suara tawanya yang renyah itu kembali membuat Jungkook jadi deg-degan. "Jawaban macam apa itu? Aku hanya memberimu dua pilihan. Ya atau tidak?"

Jungkook tak bisa menahan senyum mendengar candaan Taehyung. Ia menatap Taehyung selama beberapa saat, mencoba untuk memahami perasaannnya sendiri. Jungkook masih tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Suaranya justru semakin tercekat saat menatap kedua mata Taehyung. Ia menelan ludah sambil menundukkan kepalanya. Berpikir cukup lama, hingga akhirnya ia memandang Taehyung lagi. Jungkook tiba-tiba bangkit dan memeluk Taehyung dengan sangat erat. Taehyung yeng mendapat pelukan mendadak tidak bisa menahan keseimbangan dan akhirnya terjatuh di lantai dengan posisi Jungkook yang berada di atas tubuhnya.

"Jadi, bahkan sampai akhir pun, aku tetap tidak memperoleh jawabanmu." Taehyung membalas pelukan Jungkook. Namun, senyum bahagia tetap tersungging di wajahnya. Ia merasakan debaran jantung Jungkook di dalam pelukannya. Taehyung sama sekali tak memerlukan jawaban apa pun lagi.

Ketika Taehyung dan Jungkook bertatapan mata, mereka sama-sama tersenyum. Menunjukkan ekspresi bahagia yang bahkan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

"Kita membuat takdir kita sendiri," Jungkook tiba-tiba berkata dengan senyum merekah.

Taehyung berpikir sesaat, dan begitu mengerti maksudnya, ia langsung mengangukkan kepala, lalu mengusap kepala Jungkook penuh sayang. "Ini adalah permulaan dari takdir kita."

.

End!

.

.

Hai! Hello! Annyeong!

Fanfic ini end dengan tidak elitnya. Huahaha i'm sorry.

Terima kasih yang udah baca fanfic tidak seberapa ini apalagi yang komen. Love youuuu! Saranghae!

Thanks To :

Kyuraapark | dianaindriani | SparkyuELF137 | Park RinHyun-Uchiha | ParkHara1997 | Zizisvt | bgirl | kookiesnuna | Ly379 | Hannie | DZxJJK | ohmtoey812 | 1st Maknae | aliceus | princeRathena | han il ma | vkookaddict | sobangchat | Merli Kim | Taehyunghyung | febbipuspa | bxjkv | MaBlankTae | kkamjong10 | MeikiToka | Hxrumxn | callystachoi | juliakie | Kiraraaaaan | ByunBaekh614 | SherryMC | vkooknokookv | kikikuki | Miya Vische

Terima kasih atas comment kalian, bener-bener buat aku semangat huehehehe.

See you manteman!