Pernah berpikir apa arti kata jatuh cinta? Bagi seorang Hyuuga Hinata cinta itu ibarat napas yang memberinya kehidupan dan semangat untuk maju. Ia mendambakan sosok si kuning konoha - Uzumaki Naruto. Tapi sayang, si surai pirang itu tidak akan pernah melirik ke arah Hinata sedikit pun.

Berbeda dengan sosok yang sama sekali tidak pernah Hinata sangka. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke. Mantan nuke-nin yang berhasil menyelamatkan dunia bersama sang sahabat. Pria pemilik sharingan satu-satunya itu bersikeras ingin meminang Hinata. Meminta gadis itu menjadi miliknya.

Demi Tuhan! Permintaan Sasuke saat pertama kali mereka berbincang benar-benar konyol. Hinata itu tidak mengenal Sasuke sama sekali. Berbincang pun mungkin hanya sebuah senyuman tipis di wajah saja.

"A-a-apa?" Hinata bertanya dengan gugup. Wajah gadis itu memerah sempurna saat sadar jika barusan Sasuke menciumnya. Tepat di bibir. Seorang gadis culun seperti Hinata di cium oleh nuke-nin tampan yang di gilai wanita. Hinata yakin jika Sakura melihatnya, gadis bersurai pink itu akan iri.

"Menikah denganku." Sasuke kembali berbisik tepat di depan bibirnya. Membuat jantung Hinata kembali berdetak tak tentu arah. Padahal selama ini ia hanya berdebar untuk Naruto. Tapi sekarang, jantungnya itu mengkhianati perasaan cinta suci yang ia yakini.

"S-sasuke-san.. K-kau pasti sedang mabuk." Hinata menundukkan wajah. Menyembunyikan rona merah yang menjalar sampai ke telinga. Sungguh, ia enggan menatap manik onyx sekelam malam milik Sasuke yang seolah memakannya hidup-hidup.

"Apa napasku bau dengan sake, Hyuuga?" Sasuke sengaja menerpakan napas hangatnya ke wajah Hinata. Membuat si gadis salah tingkah, dan semakin merasa malu. Sumpah. Baru pertama kali ada seseorang pria yang melakukan hal seintim ini pada Hinata.

"A-aku tidak menyukaimu." Bibir bawah di gigit dengan keras. Sebelah tangan Hinata mencoba mendorong tubuh Sasuke. Tapi nihil. Si surai raven enggan melepaskan kedua tangan yang melingkar di pinggang Hinata.

"Kau tahu, Hinata?" Tangan Sasuke bergerak mengelus pipi gadis itu dengan lembut. Membuat Hinata terdiam akibat sentuhan yang menyengat hatinya. Ini benar-benar salah. Jika Sasuke memperlakukannya seperti ini, hati Hinata akan berkhianat.

"Aku tidak menerima penolakan sedikitpun. Jadi kau harus menikah denganku." Ucapan final. Penuh dengan nada perintah yang tersirat. Hingga Hinata hanya mampu menganggukkan kepala refleks. Seolah terkena genjutsu dari Sasuke.

"Kita temui ayahmu." Lengan Sasuke beralih. Kini pemuda itu menggenggam jemari Hinata. Menarik gadis itu menuju mansion Hyuuga yang hanya berjarak beberapa meter di depan.

"S-sasuke-san, tunggu dulu!" Hinata menaikan sedikit suara beberapa oktaf. Tangannya bergerak menyentak tangan Sasuke. Hingga tautan jemari itu terlepas begitu saja.

"Kau menolakku?" Suara Sasuke terkesan dingin dan penuh dengan nada ancaman. Membuat Hinata lebih memilih menundukkan wajah karena takut.

Demi Kami-sama yang menguasai dunia! Sepertinya Sasuke benar-benar tidak waras! Bagaimana mungkin jika pria itu berniat melamar Hinata tanpa meminta persetujuaan sedikitpun darinya!

"Aku menolak." Dengan lugas Hinata menolak dan menatap tajam ke arah onyx yang memandangnya penuh intimidasi. Demi harga diri dan cintanya pada Naruto, Hinata harus berani melawan Sasuke- si pria terkuat di dunia setelah sang pujaan hati.

"Kenapa?" Tatapan tajam semakin mengarah untuk Hinata. Membuat si surai indigo menelan saliva takut. Ia benar-benar bukan tipe orang yang lihai dalam sebuah penolakan.

"A-aku tidak mencintaimu." Alasan klise namun berisi fakta Hinata berikan. Hingga membuat Sasuke mendengus.

"Kau tidak perlu mencintaiku. Cukup aku saja yang mencintaimu, Hyuuga." Sasuke berujar dengan tatapan mata serius. Membuat Hinata mengerjapkan mata beberapa kali mendengar pernyataan sepihak seperti itu.

"Tidak Sasuke-san. Aku tidak bisa."

"Percuma menolakku, Hyuuga. Karena Naruto tidak akan pernah melirik ke arahmu." Ucapan sarkastik namun berisi kenyataan pahit menohok kembali hati Hinata. Jujur saja, ia memang tahu jika Naruto tidak akan mungkin melirik dirinya. Sekalipun Hinata mencoba menjadi gadis modis dan mengganti pakaian kebesaran miliknya.

Hinata hanya mampu terdiam. Ia tidak bisa menggerakan tubuhnya karena Sasuke kembali membawa tubuh mungilnya ke dalam dekapan hangat. Aroma mint menenangkan yang menguar dari tubuh Sasuke membuat Hinata merasakan kenyamanan.

"Hinata, aku tidak pandai dalam berkata-kata. Tapi menikahlah denganku." Sasuke berbisik tepat di telinga gadis itu. Hingga Hinata tanpa sadar mengangguk kecil mengiyakan ucapan dari Sasuke. Ia sadar, Naruto memang tidak akan mungkin membalas perasaan miliknya.

"Beri aku waktu. Kau tahu? Kita sama sekali tidak saling mengenal. Lagi pula, Sasuke-san sudah tidak tinggal di desa." Hinata bergumam lirih. Sekarang, ia bak gadis yang ikut terpesona dengan Sasuke.

"Baik. Tapi biarkan aku bertemu ayahmu." Hinata kembali mengangguk kecil. Sekalipun ia menolak Sasuke dengan kata-kata, pemuda itu tidak akan mudah melepaskannya begitu saja. Semua nakama pernah bilang jika Sasuke adalah orang keras kepala, dan sekarang Hinata harus meyakini pernyataan itu.

"T-tapi Sasuke-san, a-aku menyukai N-naruto-kun." Suara Hinata bergetar saat mengatakannya. Ia tidak mungkin berbohong soal perasaan terpendamnnya pada Naruto bertahun-tahun. Rasa cinta itu tidak akan mudah menghilang begitu saja.

"Hm.." Sasuke berdehem kecil. Tangan pemuda itu mengangkat dagu Hinata. Hingga gadis itu mengadah ke arahnya. Wajah Hinata benar-benar merah seperti tomat, dan itu terlihat manis di mata Sasuke. Sungguh, sosok Hinata mampu membuat Sasuke menjadi orang yang berbeda dan menjadi seorang yang puitis.

"Akan ku buat kau mencintaiku, Hinata." Ucapan itu di akhiri dengan sebuah senyuman di wajah Sasuke. Senyuman yang mampu membuat jantung Hinata kembali berdebar tak tentu arah. Sekarang, Hinata takut jika hatinya akan berlabuh pada sang mantan nuke-nin.

Saya ga tau ini lanjut atau ngga. Sejujurnya ga pede buat canon. Haha. Tapi kalo menurut kalian ini menarik, mungkin saya jg bakal tertarik buat lanjutin. Wkwk

Karena sejujurnya, saya sedang dalam kondisi mood yang bagus buat ngetik SasuHina. Wkwk

Review?

Morichan