I'm Not Doll Princess

Chapter 1 : Namikaze Hinata

Summary : Namikaze Hinata adalah gadis dengan segala perbedaan. Karena suatu kejadian, ia memiliki gangguan mental yang orang awam menyebutnya gila. Banyak rahasia yang terkubur dibalik alasan kegilaannya. Hidup dengan selalu bersembunyi di balik bayang-bayang sang kakak yang selalu ada untuknya. Namun bagaimana jika cinta hadir di tengah mereka? Cinta yang bahkan Hinata tak tahu apa artinya.

.

.

.

Warning : Don't Like Don't Read

.

Rate : T

Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort

Pair : [Naruto N. Hinata H] Sasuke U, Haruno S

.

.

Naruto milik Masashi Kishimoto-sensei

.

.

.

Pagi hari di bulan April. Musim dingin sudah berlalu dan kini sudah memasuki musim semi. Namun sedikit sensasi dingin masih terasa. Di kota Konoha, salah satu kota metropolitan elite dari kelima kota metropolitan lain, di sebuah Mansion besar milik keluarga Namikaze, keluarga terpandang di kota yang memiliki usaha dibidang Public Relation dan beberapa bisnis lain yang tergabung dalam Namikaze Corp.

Seorang pemuda melangkah dengan langkah seribu menuju sebuah kamar. Tanpa permisi atau sekedar mengetuk, ia lebih memilih nyelonong masuk ke kamar bernuansa lavender tersebut. Ditariknya selimut tebal yang bermotif bunga lavender dengan kuat, namun seseorang dibalik selimut menahan selimutnya. Gemas, sang pemuda yang bernama Namikaze Naruto mengambil nafas dalam-dalam kemudian menarik selimut dengan sangat kuat hingga seseorang di balik selimut terbangun dan hampir terjungkal kalau tidak lengan kekar Naruto menahannya. Didekapannya, seorang gadis bersurai panjang dengan warna indigo. Untuk beberapa saat, tak ada yang bergerak diantara mereka, namun detik berikutnya, Naruto tersenyum tipis dan melepaskan gadis tersebut perlahan-lahan. Terlihatlah wajah putih tanpa noda milik sang gadis, poninya yang rata membuatnya terlihat manis meski tanpa make up.

"Hari ini hari pertama setelah libur panjang, kau tak ingin terlambat kan, Hinata" kata Naruto seraya mengelus surai Hinata dengan sayang

Hinata menggembungkan pipinya. Ia mengulurkan kedua tangannya pada sang kakak.

"Gendong" pinta Hinata

"Ya, Hime-sama" jawab Naruto sabar kemudian menggendong Hinata ala bridal style menuju kamar mandi

Bagi Naruto, sudah biasa Hinata bermanja-manja padanya karena bagaimanapun Hinata adalah adiknya. Tak ada kata tidak untuk Hinata-nya.

Di dudukkannya Hinata di toilet duduk. Naruto melepas jas almamater Konoha International High School miliknya dan menggulung lengan kemejanya. Dengan sabar Naruto membasuh wajah Hinata dan membasuh tangan serta kakinya. Hinata hanya diam tanpa banyak bicara, mata polosnya fokus mengamati sang kakak yang tampak serius. Naruto mulai membuka kancing piyama Hinata, namun langkahnya terhenti lantaran sang adik menahan tangannya. Mata keduanya bertemu, saphire Naruto mempertanyakan maksud sang adik.

"Aku sudah besar, Naruto-nii" kata Hinata mengalun merdu

"Apa masalahnya?" tanya Naruto polos

"Aku bisa mandi sendiri" jawab Hinata

"Kau tidak bisa, Hinata" tegas Naruto

"Aku bisaaaa" rengek Hinata menatap memelas pada saphire Naruto, membuat pemuda itu mengernyit tak yakin. Pasalnya sang ibulah yang biasanya memandikan Hinata. Namun karena sang ibu kesiangan dan sedang menyiapkan sarapan, ialah yang harus melakukannya.

"Onii-chan" rengek Hinata dengan puppy eyesnya

"Baiklah, kau menang Hime" kata Naruto menyetujui

"Aku tunggu dibawah, jangan lama-lama" lanjut Naruto

Kini, Naruto sudah berada di meja makan. Kepala keluarga Namikaze, Minato duduk dengan khusyuk menikmati sarapan dan kopi sambil membaca koran pagi. Kushina yang melihat Naruto turun sendiri sudah mengeluarkan tanduknya.

"Naruto, dimana adikmu! Kau tidak membangunkannya! Huh!" teriak Kushina

"Ia bisa sendiri, ibu" jawab Naruto sabar

"Bisa sendiri apanya, ia bisa terlambat!" kata Kushina panik sambil mengayunkan spatula

"Pagi, Ibu, ayah, Naruto-nii" sapa Hinata menghentikan Kushina

Naruto menatap Hinata, memastikan jika sang adik bersiap dengan benar. Rambut indigo dikucir twintail dengan karet yang mengikat bak sosis. Berponi rata, make up super tebal, eye shadow bak suzana, bulu mata anti badai, lipstik merah merona, serta jangan lupakan dua bulatan merah dipipinya, bukan blush on melainkan lipstik atau apalah yang berbentuk merah bulat. Seragamnya juga dipakai dengan baik, meski dasi yang Hinata ikatkan masih jauh dari kata sempurna. Naruto tersenyum simpul melihatnya, setidaknya Hinata memiliki sedikit kemajuan.

"Hinata-chan. Pagi, duduk-duduk, sarapanmu sudah siap" kata Kushina over perhatian

Hinata duduk di samping Naruto. Semuanya sudah siap di bangku masing-masing. Hinata sudah hampir meneteskan air liurnya. Begitu Minato selesai memimpin doa, Hinata langsung menyambar omelet buatan ibunya dengan tergesa-gesa. Ia makan dengan brutal bagaikan orang yang tidak pernah makan setahun. Bukannya marah, Minato dan Kushina hanya terkekeh geli. Naruto menghela nafas, dengan cepat ditariknya piring Hinata hingga gadis yang menyandang status sebagai adiknya itu mendelik tajam padanya.

"Naruto-nii, berikan" titah Hinata

SETT

Naruto mengelap bibir Hinata lembut dengan tissue. Hinata masih komat-kamit, memarahi dan menyumpahi sang kakak.

"Me-nyhe-bhlakhan-pi-rhang-je-yek" umpat Hinata

"Makan dengan benar, Hinata. Tak ada yang akan merebut makananmu" nasihat Naruto

Hinata hanya menggembungkan pipinya, tak mengindahkan nasihat Naruto. Ekor matanya malah melirik omelet yang masih setengah. Sadar kalau Hinata tak menghiraukannya, Naruto menjauhkan omelet tersebut namun dengan sigap Hinata menariknya.

"Hoho, mau kau kemanakan omeletku, Naruto-nii" kata Hinata

"Janji dulu kau mau makan dengan benar" kata Naruto

"Ini sudah benar" kata Hinata

"Itu tidak benar" tegas Naruto

Hinata men- death glare Naruto. Mau tak mau, Naruto harus mengalah, karena jika ia meladeninya, tak akan selesai satu atau dua jam. Diberikannya omelet itu pada Hinata yang langsung disabet dengan sangat kasar.

.

Lamborghini Aventador berwarna merah melaju dengan kencang di jalanan. Naruto mengejar waktu agar tidak terlambat. Di jok belakang, Hinata sama sekali tak peduli. Gadis indigo itu sibuk bermain dengan boneka rubah berekor sembilan hadiah dari Naruto saat acara perayaan tahun baru. Melihat sang adik tenang-tenang saja, Naruto menambah kecepatannya.

Konoha International High School atau KIHS, sekolah yang hanya didominasi oleh kaum elite. Tak semua anak bisa masuk, hanya kalangan borjuis saja yang mampu, bahkan beasiswapun disabet oleh anak kalangan berada pula, sungguh tak memberi celah pada siapapun untuk sekedar menjamahkan kakinya disana. Kecuali seseorang yang mampu membeli semua itu. Seperti keluarga Namikaze yang mampu memasukkan seorang Namikaze Hinata kesana.

Mobil Naruto masuk ke halaman sekolah yang luas, para siswi yang baru datang mulai histeris, pasalnya salah satu pengeran mereka baru datang. Teriakan demi teriakan dilancarkan.

"Kyaak, Naruto-kun datang"

Naruto memarkirkan mobilnya diantara ratusan mobil-mobil lain. Ia keluar, menyibakkan poninya, membuatnya tampak berantakan. Namun hal itu malah menambah kesan tampan pada dirinya.

"Kyaaak, kerennya"

Pemuda yang diteriaki menulikan pendengarannya, ia memutar, membuka jok belakang dan kini terlihatlah sosok gadis boneka yang sanggup membungkam teriakan fangirling para fansnya, digantikan cibiran demi cibiran.

"Sebal. Kenapa sih harus ada Namikaze yang seperti itu!"

"Gadis gila!"

"SLB"

"Merusak imej Naruto-kun saja"

SETTT

Naruto menatap tajam gerombolan siswi yang mencibir adiknya itu. Sekali tatap, tubuh mereka serasa ditenggelamkan di dasar samudra pasifik hidup-hidup. Manik Saphire itu sangat mengerikan, merekapun berangsur-angsur menjauh dan membungkam mulut mereka. Siapa yang berani mencari gara-gara dengan seorang Namikaze Naruto? Putra Namikaze Minato yang kini menjadi ketua OSIS?

Naruto mengulurkan tangannya pada Hinata, namun gadis itu tak bergeming.

"Turunlah, mereka sudah pergi" bujuk Naruto lembut

Hinata malah menekuk lututnya, mendekap boneka rubah berekor sembilan dengan erat. Naruto mencoba menariknya, namun Hinata malah semakin beringsut ke belakang.

"Kalau Hinata mau keluar, nanti pulang sekolah Naruto-nii belikan kue" bujuk Naruto

"Tidak mau" jawab Hinata

"Bagaimana kalau dua?" bujuk Naruto

"Lima" pinta Hinata

"Hinata, kau akan gendut kalau makan terlalu banyak" komen Naruto

"Ya sudah kalau tidak mau, Naruto-nii pergi saja, aku akan tetap disini sampai pulang sekolah" rajuk Hinata

"Baiklah, lima" Naruto mengalah

"Oke?" Hinata mengacungkan kelingkingnya

"Oke" jawab Naruto menautkan jari kelingkingnya, menarik Hinata keluar

Gadis itu keluar, dan Naruto baru sadar kalau tadi ia lupa merapikan dasi Hinata. Dengan telaten diraihnya dasi biru bergaris hitam tersebut, menyimpulkannya dengan benar. Saphirenya juga tak luput memastikan kalau tak ada yang kurang dari Hinata. Ia tersenyum kemudian menepuk kepala Hinata dengan sayang.

Ia-pun mengambil tangan mungil Hinata, menggandengnya menuju gedung sekolah. Sepanjang jalan, banyak pasang mata memperhatikan mereka. Pemandangan biasa yang terjadi di KIHS, seorang pangeran dan putri boneka. Seorang kakak dan adik yang akan selalu bersama dimanapun dan kapanpun.

Hinata menatap punggung lebar Naruto dengan tatapan polosnya. Sepanjang koridor, Hinata bisa mendengar bisikan demi bisikan namun ia tidak menghiraukannya karena ia memang tidak mengerti. Orang-orang itu menyebutnya ini itu tapi ia sendiri tak tahu apa artinya jadi ia lebih memilih diam dan mengikuti sang kakak.

Setelah membaca dimana kelasnya tahun ajaran ini, Naruto mengajak Hinata ke kelas. Entah kebetulan atau perbuatan orang tuanya ia bisa sekelas dengan Hinata.

Kelas 2-1. Naruto membaca susunan tempat duduk, dan ia tersenyum tipis tak kala susunannya masih mirip dengan tahun lalu. Iapun membawa Hinata menuju deretan bangku yang berada dipojok kiri kelas, dekat jendela. Disana, seorang pemuda berambut raven sedang memejamkan mata seraya memakai headset. Entah apa yang sedang didengarkannya.

Naruto meletakkan tasnya di bangku depan pemuda tersebut. Sedangkan Hinata, ia meletakkan tasnya tepat disamping sang pemuda. Ia duduk dengan perasaan was-was. Pasalnya teman atau sahabat sang kakak itu memiliki aura yang Hinata rasa mengancam nyawanya. Yang sialnya satu kelas lagi dengannya dan yang paling buruk sebangku dengannya.

"Pagi, Sasuke" sapa Naruto

"Hn" sahut Sasuke datar

"Pa-pagi, Sa-sa-suke-kun" sapa Hinata terbata

"Pagi juga" jawab Sasuke datar

Tak lama kemudian, seorang pemuda berambut nanas datang. Matanya setengah sadar dan ia masih menguap. Ciri khas seorang Nara Shikamaru, penyandang gelar pemuda termalas se-KIHS. Namun jangan ragukan otaknya yang sanggup menembus olimpiade sains tahun lalu dan tangan kanan Naruto di organisasi OSIS.

"Pagi" sapa Shikamaru ogah-ogahan

Shikamaru duduk, namun ia langsung kembali tidur dengan tas sebagai bantalnya. Melihat itu, Hinata langsung meletakkan tasnya dimeja dan mengikuti jejak Shikamaru. Dan itu mengundang perempatan siku-siku Naruto. Dengan kasar ia menarik rambut Shikamaru hingga pemuda itu terduduk dengan mata melotot sempurna.

"Jangan contohkan yang tidak-tidak" kata Naruto tajam dan dingin, sanggup membuat rasa kantuk seorang Shikamaru melayang

Naruto melepaskan Shimakaru. Berpuluh pasang mata yang melihatpun membuang muka, tak ingin melihat pangeran sekolah yang telah bertransformasi menjadi rubah di pagi hari. Kalau menyangkut Hinata, Naruto yang bertutur sopan dan ramah akan menjadi orang lain. Dan itulah yang membuat Hinata tambah dibenci oleh kaum hawa di sekolah. Apalagi jika mereka tahu kalau Hinata duduk dengan pangeran lain, Uchiha Sasuke?

Shikamaru mengelus kepalanya yang sakit. Naruto memang jago menghilangkan kantuknya. Bahkan ia tak yakin kalau nanti malam bisa tidur karena semua kantuknya sudah lari entah kemana.

"Merepotkan" keluh Shikamaru

"Hinata" kata Naruto membangunkan sang adik lembut

"Nggh" lenguh Hinata

"Kelas akan dimulai sebentar lagi" bisik Naruto

Hinata malah semakin pulas, ia bahkan menepis tangan Naruto yang menyentuhnya.

"Hinata, bangunlah" bisik Naruto lagi

"Sasuke, lakukan sesuatu" pinta Naruto sedikit frustasi

Sasuke melepaskan headsetnya, membuka kedua matanya dan kini Onyx hitamnya melirik malas gadis yang tidur dengan pulasnya di meja. Kalau bukan karena Naruto adalah sahabatnya, ia pasti sudah menendang gadis gila itu dari sana. Ia berdecih pelan sebelum mencondongkan tubuhnya pada Hinata dan memposisikan bibirnya tepat di telinga Hinata.

"— "

Hinata mengerjap, ia langsung bangun dengan badan tegak nyaris mematung. Matanya mengedar dan disamping kirinya sudah ada Sasuke yang memasang wajah datarnya. Alis Hinata mengernyit tak suka, namun belum sempat satu kalimat keluar dari mulutnya, sang kakak sudah memotongnya.

"Syukurlah kau sudah bangun, Hinata" kata Naruto

"Terimakasih, Sasuke" lanjut Naruto kemudian

"Onii-chan" kata Hinata memegang lengan Naruto

"Dia menakutkan" adu Hinata

"Sasuke tidak akan menyakitimu" kata Naruto

"Dia memang tidak menyakitiku. Tapi auranya mencekikku. Aku serasa mau mati. Dia menyeramkan. Dia seperti sadako" adu Hinata lagi tak suka dengan Sasuke yang tampak cuek setelah mengganggu tidurnya

"Tenanglah, mana ada Sadako dengan rambut seperti itu, Hinata" kekeh Naruto

"Ada, ini buktinya. Pokoknya aku mau duduk dengan Naruto-nii" rengek Hinata

"Berisik" gumam Sasuke membungkam Hinata

Dengan gerakan patah-patah, Hinata kembali menatap Sasuke. Ketika Onyx hitam itu bertemu dengan amethyst Hinata, Hinata meneguk ludahnya. Dan ketika Onyx hitam itu perlahan menyipit, Hinata-pun histeris.

"KYYAAAAKKK!" teriak Hinata

Hinata terjungkal dari tempat duduknya. Teriakannya mengundang berpuluh pasang mata yang sempat berpaling. Dengan sigap Naruto berusaha menenangkan Hinata, namun yang ia dapat malah pukulan demi pukulan. Semakin Naruto berusaha menenangkan dan memeluknya, Hinata makin histeris dan gencar melancarkan serangan. Ia juga tak segan-segan menendang sang kakak hingga terlempar satu meter darinya. Dan ketika melihat sang kakak merintih memegangi perutnya, Hinata diam. Amethystnya berair, di detik berikutnya ia sudah menangis.

"Naruto-nii, maaf. Maafkan aku" isak Hinata

"Hinata, tak apa. Tenanglah, ini bukan salahmu" kata Naruto mendekati sang adik kemudian memeluknya

.

Bel berbunyi. Para siswa berbondong-bondong pergi ke aula guna upacara penyambutan. Di acara itu, Naruto memastikan Hinata berada didekat Sasuke, meski gadis itu lagi-lagi menolak. Perlu waktu bagi Naruto membujuknya hingga Hinata mengalah. Sedangkan dirinya dan Shikamaru harus pergi. Ya sebagai ketua Osis, Naruto lumayan sering terlambat dalam kegiatan dikarenakan sang adik. Tak ada yang berani menegurnya, siapa juga yang mau melihat rubah bangun dari tidurnya?

Naruto bergabung dengan anggota Osis lain. Disana sudah ada Temari, Utakata, Sai, dan Shino. Naruto datang dengan cengirannya. Shikamaru yang mengekor di belakangnya lagi-lagi mengeluarkan kalimat andalannya.

"Merepotkan" kata Shikamaru

Di tempatnya, sosok Hinata yang berada disamping Sasuke menuai cibiran. Banyak yang mencibir kenapa sang ningrat seperti Sasuke mau menjaga Hinata. Mereka tidak tahu saja kalau sang Uchiha...

"Tch! Aku juga tidak mau. Tapi mau bagaimana lagi?" kata Sasuke dalam hati

"Kalau bukan karena Naruto-nii, aku tidak mau" kata Hinata

"Eh?"

"Tidakkah itu terbalik? Nona?" tanya Sasuke dalam hati

"Hn. Terserah" kata Sasuke kemudian

Upacara dimulai. Setelah menyanyikan lagu kebangsaan dan sambutan dari kepala sekolah, Naruto maju ke podium. Baru saja ia buka suara teriakan dari para gadis tak terelakkan. Jauh disana Sasuke memutar mata bosan, sedangkan Hinata tampak antusias meski tak ikut berteriak.

Diakhir sambutan, Naruto membungkuk seraya tersenyum. Senyuman yang membuat siapapun bakal meleleh.

Belakang panggung.

"Kau selalu menjadi pusat perhatian" kata Sai

"Begitukah?" tanya Naruto

"Ya, apalagi a–" kata Sai yang langsung dibekap Utakata

"Apa? Kau bilang apa tadi? Aku tak mendengarnya dengan jelas" tanya Naruto

"Dia ingin tanya bersama siapa adikmu sekarang" kata Utakata disertai senyum canggung

"Oh, dia bersama Sasuke" jawab Naruto

"Oh ya, aku harus kembali" lanjut Naruto

.

Pelajaran dimulai. Meski tadi Hinata ngotot ingin duduk dengan Naruto, setelah kejadian tadi ia dengan suka rela tetap duduk ditempatnya. Sepanjang pelajaran Matematika oleh Kurenai-sensei, Hinata duduk disangat pinggir. Sesekali melirik Sasuke yang duduk tenang. Bahkan Hinata menulis dengan tangan gemetar, membuat angka-angka jyang tercetak dibukunya menjadi tak karuan karena tulisannya memang pada dasarnya jelek.

Jam istirahat. Para murid melepas penat dengan menyandarkan punggung mereka ke sandaran kursi. Kebanyakan dari mereka-pun mulai keluar kelas, menuju kantin berkelas bintang lima di gedung bagian barat. Shikamaru dan Sasuke sudah beranjak dan mengajak Naruto untuk segera pergi. Namun pemuda itu lagi-lagi masih disibukkan dengan membujuk sang adik untuk ikut makan. Hinata menolak, ia beralasan belum menyelesaikan catatannya, meski menurut Sasuke yang Hinata lakukan hanyalah mencoret-coret bukunya dengan abjad. Ya, Hinata menulis menggunakan alfabet, bukan kanji, hiragana atau katakana.

"Hinata, ayolah" bujuk Naruto

"Aku menyusul. Tenang saja, akan kuselesaikan sepecat kilat" kata Hinata mantab

"Kau yakin?" tanya Naruto perhatian

"YUP" jawab Hinata mengangguk-anggukkan kepalanya

Ahirnya rela tak rela Naruto-pun pergi karena kedua sahabatnya sudah berkicau, terutama sang Uchiha yang menampakkan wajah kesalnya.

Kini, Hinata sendirian di kelas. Ia menyelesaikan catatannya seperti yang ia katakan. Tak lama kemudian, ia-pun selesai. Dengan semangat ia keluar kelas, melewati koridor demi koridor, namun berhubung akan sangat jauh lewat dalam, ia memutuskan untuk lewat luar gedung. Sepanjang jalan, banyak orang yang lagi-lagi mencibirnya, Hinata tak mendengarnya, karena dalam otaknya, sudah terngiang . . .

MAKAN

Hingga ketika ia berada tepat di depan gedung yang merupakan kantin sekolah, tiba-tiba saja air jatuh dari atas dan mengguyur seluruh badannya. Spontan saja ia berhenti, ia menengadah dan mengernyit karena langit sangat cerah.

"Hujan?" tanya Hinata

"Apakah hujan?" tanya Hinata lagi

"Hei, hujan, hujan" Hinata kegirangan

"Lagi, lagi airnya" lanjut Hinata berjingkrak-jingkrak memohon diguyur air lagi

Sementara diatas sana, seorang gadis berdecih dan meninggalkan tempatnya.

Tak butuh waktu lama untuk Hinata menjadi pusat perhatian. Gadis gila itu benar-benar sanggup menghipnotis semua pasang mata untuk melihatnya meski dalam tanda kutip bukan hal yang baik. Tapi ia tidak peduli, ritual memanggil hujan belum selesai. Ia masih berteriak meminta hujan. Membuat puluhan orang kembali mencibir.

"Hei apa Hinata lagi?"

"Lihatlah betapa memalukannya dia, benar-benar gila"

"Heran, bagaimana mungkin ada Namikaze yang cacat"

"Hahaha, dia tidak waras"

"Siang bolong berharap hujan? Apakah si gila itu kesurupan?"

"Hantu mana yang mau merasukinya? Hahahaha"

Sedangkan Hinata, ia tidak peduli atau memang tidak mengerti kenapa orang-orang membicarakannya. Sudah setahun sejak ia masuk sekolah dan ia masih mempertanyakan kenapa orang-orang memandangnya aneh dan selalu berbisik padanya. Namun urung bertanya. Sejauh yang ia pahami hanyalah mereka tidak menyukainya.

Di kantin, Naruto yang sedang menikmati ramennya mengernyit tak kala mendengar suara gaduh-gaduh diluar. Sasuke yang sudah bisa menebak apa yang diributkan memutar matanya bosan.

"Kau dengar sesuatu, Sasuke?" tanya Naruto

"Mungkin adikmu" jawab Sasuke datar

BRAKH

Naruto meletakkan sumpitnya dengan cara menggebrak meja. Bahkan saking kencangnya gebrakan itu, semangkuk ramen yang awalnya tersaji manis di meja sampai terpental dan jatuh dilantai. Begitupula dengan nasib makanan sang Uchiha dan Nara.

"Merepotkan" keluh Shikamaru

SETT

Sasuke ikut menyusul Naruto. Nafsu makannya mengudara.

Diluar, Hinata jadi tontonan dan dikerumuni banyak orang. Naruto segera masuk ke dalam kerumunan dan ketika ia sudah berada disana, saphirenya membulat melihat Hinata. Bukan karena apa yang dilakukan gadis itu, melainkan rambut dan seragamnya yang basah kuyup.

"Hujan hujan datanglah" kata Hinata memanggil hujan, ia berjingkrak-jingkrak layaknya seorang cenayang memanggil hujan. Namun aktivitasnya harus berhenti lantaran sebuah tangan kekar menariknya dengan sangat kasar.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto marah

"Eh? Naruto-nii?" kata Hinata senang

"Tadi ada hujan, lihat airnya segar sekali" cerita Hinata

Mata Naruto menyipit, mengedar guna mencari biang keladi yang berani membully sang adik namun semua tampak mencurigakan dimatanya. Tatapan mereka tidak ada yang bersahabat. Semua yang berada disana meneguk ludah. Mereka melupakan fakta kalau Naruto akan selalu ada dimana Hinata berada. Dan berangsur-angsur bubar daripada terkena cipratan api amarahnya.

Sedangkan Naruto, ia naik pitam, diseretnya Hinata namun gadis itu tak mau beranjak.

"Naruto-nii, aku mau tunggu hujan" rengek Hinata

"Jangan banyak bicara dan ikuti aku" titah Naruto

"Tapi aku mau hujan" rengek Hinata lagi

"Hinata, kau tahu? Air itu bukan hujan. Jadi kumohon mengertilah" kata Naruto sesabar mungkin, meski nada bicaranya sudah terkesan sangar

"Aku tidak mengerti. Bukankah kakak bilang hujan itu air yang turun dari langit? Lalu kalau bukan hujan ini apa?" tanya Hinata polos

Naruto menggertakkan giginya kuat-kuat. Sejauh ini, Hinata tidak tahu kalau dirinya dibully. Gadis polos itu juga tidak tahu kalau dia tidak diinginkan oleh kebanyakan orang di sekolah ini. Tangannya yang menggenggam Hinata-pun tanpa terasa mengerat, namun Hinata tidak merintih, ia hanya menatap polos mata sang kakak. Meminta jawaban.

Dari jauh, Sasuke yang melihat adegan adik dan kakak itu hanya menatap dengan datar. Meski tak dapat dipungkiri tatapannya berfokus pada pergelangan tangan Hinata yang tampak memerah akibat cengekraman Naruto. Tapi ia hanya diam, tak berusaha melerai karena ia tak mau dan takkan pernah mau.

"Hinata" panggil Naruto melembut

Namun Hinata tak menyahut panggilan itu. Ditatapnya saphire sang kakak. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya memintanya untuk pergi. Ia juga tidak mengerti kenapa wajah sang kakak tampak marah, padahal ia hanya minta tinggal.

"Hinata" panggil Naruto lagi

Akhirnya Hinata mengalah. Ia mengangguk dan tertunduk. Sedikit merasa bersalah karena telah membelot dari sang kakak yang senantiasa menyayanginya.

.

Setelah berganti seragam dan merapikan kembali dandanannya, Hinata kembali ke kelas. Naruto izin untuk pergi sejenak setelah memastikan Hinata tiba dikelas dengan keadaan baik-baik saja.

Baru saja duduk di bangkunya, sapaan khas seorang Uchiha Sasuke menggema ditelinganya. Sang Uchiha bungsu itu menatapnya tajam dan mengeluarkan segala aura satannya. Badan Hinata bergetar karenanya, mencoba berteriak atau meminta tolong-pun percuma, karena Sasuke sudah menahan pergelangan tangan Hinata yang memerah dan matanya mengisaratkan akan menguburnya hidup-hidup jika berani melawan.

"Haruskah kau seperti ini?" tanya Sasuke ambigu

"Se-se-perti apa ma-maksud-mu Sa-su-suke-kun?" tanya Hinata balik dengan terbata

"Haruskah aku mengatakannya dengan jelas?" tanya Sasuke lagi

"Ak-aku ti-tidak mengerti" jawab Hinata

"Kau tidak akan pernah mengerti" kata Sasuke ketus dan menghempaskan tangan Hinata kasar

Sementara itu, Naruto memasukkan sebuah flashdish ke sakunya seraya melangkah pergi ke kelas 1-8 yang berada satu lantai di bawah kelasnya. Salah satu teman semasa Junior High School-nya Kiba, Lee dan Chouji menghentikan aktivitas panco mereka. Ketiga orang itu terdiam melihat Naruto tiba-tiba masuk dan berdiri di depan kelas dengan segala aura iblisnya. Dan kelas yang awalnya ramai itupun jadi hening.

"Katakan, siapa yang sudah menyiram adikku dengan air?" tanya Naruto datar

"Etto, Naruto. Tidak bisakah kau sedikit halus. Ini kelas orang" bisik Kiba seraya mendekat

"Halus? Aku sedang tak mengenal kata itu" jawab Naruto sarkastik membuat langkah Kiba berhenti ditengah jalan. Ia meneguh ludahnya dengan susah payah.

"Mengakulah, karena aku akan mengampuninya. Tapi jika kalian tidak mengaku, aku tidak segan-segan bermain seperti yang kalian inginkan" lanjut Naruto tajam

Tiba-tiba seorang gadis bersurai musim semi masuk kelas lewat pintu belakang. Ia adalah Haruno Sakura, Ketua kelas sekaligus ketua klub Voli di KIHS. Ia terbebong melihat seorang Namikaze Naruto berada di kelasnya.

"Mengaku atau aku bisa saja melakukan hal yang tak pernah kalian bayangkan" kata Naruto dengan wajah iblisnya

"Eh? Mengaku? Apa-apaan ini?" tanya Sakura dalam hati

"Naruto! Tidakkah tuduhanmu itu perlu bukti? Dan beginikah sikap seorang ketua Osis?" tanya Karin yang merupakan sepupu Naruto

"Aku tak butuh ceramahmu, Karin" jawab Naruto sinis

"Tunggu, tunggu. Apa-apaan ini?" tanya Sakura melangkah maju

"Apa kau ketua kelasnya?" tanya Naruto datar

"Hmm" jawab Sakura

"Katakan pada temanmu. Aku tak suka diganggu, terutama adikku. Dia hanya berbeda, jadi jangan menghakiminya seenak kalian" kata Naruto

"Apa kau punya bukti?" tanya Sakura

"Kau fikir?" tanya Naruto balik, membuat Sakura meradang

"Tidakkah anda terlalu sopan, Namikaze-san?" sindir Sakura

"Ini peringatan pertama. Jika sampai aku menemukan kejadian yang kedua. Temanmu itu, tidak. Maksudku meski salah satu teman kalian yang melakukannya, kalian sekelas akan kena akibatnya" kecam Naruto tepat di depan wajah Sakura kemudian ia pergi begitu saja tanpa salam atau apapun

Sepeninggalan Naruto, Sakura menggenggam erat kedua tangannya. Amarahnya sudah diujung tanduk. Dan begitu Kiba baru mau mendekatinya, sang gadis musim semi itu sudah memukul meja dengan kuat hingga menggetarkan seisi ruang. Matanya berkobar penuh amarah. Namun ketika amarah tengah menggelayutinya, seorang gadis tanpa dosa nyelonong masuk dan melewatinya begitu saja. Entah feeling dari mana, Sakura menatap tajam Miku Shion. Gadis itu malah dengan anggun mengotak-atik ponsel pintarnya.

"Kau! Itu kau kan!" tuding Sakura

"Aku, kenapa?" tanya Shion innocent

"Kalau kau membuat masalah, jangan libatkan kami" kata Sakura menahan diri agar tidak menonjok wajah innocent Shion

"Aku membuat masalah apa?" tanya Shion

"Namikaze-san mengancam kami dan itu semua pasti ulahmu. Tidak bisakah kau tidak kekanakan, Shion? Jika kau memang ingin memperjuangkan perasaanmu, jangan lakukan hal-hal yang merugikan orang lain" kata Sakura panjang lebar

"Apa aku merugikanmu secara finansial?" tanya Shion datar

"KAU!" tuding Sakura yang langsung ditahan Ino dan Tenten

"Sabar, Sakura" kata keduanya

"Bukankah aku lebih baik darimu, Sakura? Setidaknya aku berjuang menyingkirkan satu-satunya pengganggu. Daripada kau yang hanya diam" kata Shion sukses menohok ulu hati Sakura

"KAU! MAU MATI HUH!" ronta Sakura hingga Kiba dan Lee harus ikutan menahannya karena Ino dan Tenten kewalahan

.

Sepulang sekolah. Sesuai janji, Naruto membelikan Hinata kue di salah satu toko roti ternama di Konoha, Cakesomnia. Gadis bermata amethyst itu terlihat sangat bahagia tak kala tiga buah Crinamon Roll (Begini bukan tulisannya?) terhidang di hadapannya. Mulutnya komat-kamit tak sabar ingin menyantap kue itu. Naruto memotongnya kue itu menjadi kecil-kecil agar Hinata mudah memakannya. Semakin antusias Hinata, semakin lama pula Naruto memotongnya. Diam-diam ia menahan untuk tidak tersenyum. Menjahili Hinata sesekali tak apa, fikirnya.

Mata Hinata mengikuti tiap gerakan pisau tersebut. Ia menutup mulutnya agar air liurnya tidak menetes. Tapi ia rasa ada yang aneh, kakaknya lama sekali memotongnya. Namun urung untuk bertanya. Melihat wajah Hinata yang memelas dan mencoba bersabar, Naruto menahan tawanya. Akibatnya wajahnya memerah. Para pengunjung yang melihat mereka mulai berkicau bak burung kelaparan.

"Kalian lihat itu? bisa-bisanya pemuda setampan itu mau dengan gadis gila sepertinya"

"Hust! Nanti dia dengar"

"Hei, tapi apa benar dia pacarnya? Apa mungkin pemuda itu iba saja?"

Hinata mendengarnya, ia menoleh mau tahu apa yang tengah dibicarakan namun langkahnya terhenti tak kala Naruto sudah menahan wajahnya kemudian menyuapinya dengan sepotong Crinamon Roll. Dan itu sukses mengalihkan atensi Hinata.

"Makanlah pelan-pelan" kata Naruto memberikan garpu disertai senyum tulusnya

Sementara Hinata tengah makan dengan khusyuk, Naruto permisi sebentar. Ia tersenyum pada para pelayan toko. Langkah demi langkah ia disertai dengan senyum. Ketika ia tiba di segerombolan ibu-ibu yang menggunjing adiknya, ia menunduk dan tersenyum ramah.

"Selamat sore. Apakah bibi sedang menikmati kue?" tanya Naruto

"Uhm" mereka salah tingkah melihat senyum lima jari Naruto

"Saya harap kalian bisa menikmatinya karena hari ini cocok sekali untuk makan kue. Bukan begitu?" tanya Naruto masih disertai senyum

"Tapi akan lebih baik jika kalian mencoba menikmati kue ditempat yang lebih bagus. Aku punya beberapa kupon gratis. Ini silahkan" kata Naruto memberikan tiga buah kupon pada tiga ibu-ibu itu kemudian meninggalkan mereka begitu saja

"Amaterasu, 16 April 2017. PR, Namikaze Corp" baca salah satu

"Ya ampun!" ketiganya shock ditempat

Pemuda barusan adalah putra Namikaze Minato, pria yang memiliki ciri khas rambut pirang dengan mata saphire adalah seorang Namikaze dan gadis indigo gila itu tak lain tak bukan pastilah gadis yang digadang-gadang putri keluarga mereka. Ketiganya menoleh, namun tak ada dua orang Namikaze disana. Karena Naruto memaksa Hinata untuk segera pergi dari sana sebelum adiknya mendengar gunjingan tersebut. Ia bahkan tak sadar sudah mendorong Hinata untuk masuk Aventadornya. Hinata tak mempermasalahkannya, karena enam buah Crinamon Roll sudah berada digenggamannya.

.

Malamnya, Setelah makan malam dan menghabiskan kuenya, Hinata masuk ke kamar. Ia langsung merebahkan dirinya di kasur ukuran Queen size-nya. Niatnya mau tidur, namun tangannya ditarik oleh seseorang hingga ia terduduk. Siapa lagi kalau bukan sang kakak. Naruto menyeretnya ke meja belajar.

"Naruto-nii, mau main kartu bridge?" tawar Hinata

"Nanti setelah kau belajar" kata Naruto

"Main dulu ya" rengek Hinata

"Kau harus meningkatkan nilaimu, Hime. Kau tak mau kan tahun ini tinggal kelas? Kemarin kau nyaris tak naik kelas bukan?" tanya Naruto

"Masih banyak waktu untuk belajar" elak Hinata

"Masih banyak waktu pula untuk bermain" balas Naruto

"Tidak, tidak, itu tidak benar. Bermain itu terbatas, jadi ayo kita main kartu bridge" ajak Hinata

"Mana ada yang seperti itu?" tanya Naruto heran

"Tentu ada, ayo ayo, aku janji akan belajar kalau kakak bisa mengalahkanku" kata Hinata

"Jangan menyesal jika kau harus belajar selama seminggu" kata Naruto menyetujui

Akhirnya mereka bermain kartu bridge. Duduk di karpet bermotif bunga matahari yang sudah tersedia meja pendek. Naruto memasang wajah seriusnya, berbeda dengan Hinata yang biasa-biasa saja. Mereka terus bermain, sesekali Hinata tersenyum miring padanya, mengundang decakan kesal sang kakak. Kalau sampai ia kalah, maka Hinata akan terbebas dari belajar selama seminggu penuh dan kalau sang ibu tahu, nyawanya bisa terancam. Tapi mundurpun percuma, Hinata pasti akan selalu menyeretnya kedalam dunianya.

"Yatta!" Hinata berjingkrak girang, Naruto kalah telak

Lelah, pemuda pirang itu merebahkan punggungnya ke karpet. Memandang langit-langit kamar hinata yang dihiasi awan-awan dan gambar peri. Matanya menerawang, entah apa yang ia fikirkan.

Bermenit-menitpun berlalu, ia masih diam. Hinata yang mendapati sang kakak hanya diam setelah kekalahannya-pun mendekat. Ia duduk bersimpuh disamping sang kakak dan mendekatkan wajahnya, menghalangi saphire Naruto untuk menatap langit-langit. Namun mata itu hanya menatap wajah Doll Princess Hinata dengan tatapan datar. Meski begitu jika diperhatikan betul-betul ada arti berbeda dari pandangan itu, seperti perasaan bersyukur atau mungkin lebih dari itu. Perlahan-lahan diraihnya wajah mungil itu dengan kedua telapak tangannya. Mengusapnya lembut dan penuh kasih sayang. Dapat ia rasakan betapa tebalnya make up Hinata, dan dapat ia rasakan betapa polosnya mata sang adik. Hatinya berdesir, ada perasaan takut disana hingga tiba-tiba ia menghentikan usapannya.

"Naruto-nii? Kau baik-baik saja?" tanya Hinata khawatir

"Aku sangat baik, Hinata" dusta Naruto

Hinata meletakkan tangannya di dahi Naruto, namun dengan sigap Naruto meraihnya dan menariknya kedalam pelukannya. Tak mengerti apa maksud Naruto, Hinata hanya diam. Yang ada difikiran ceteknya adalah Naruto sedih karena kalah bermain kartu. Namun bukan itu masalahnya. Ada perasaan yang tidak bisa Naruto katakan, tapi yang jelas itu bukan cinta.

Dalam hati, Naruto merasa takut. Seolah Hinata akan pergi meninggalkannya yang pastinya tidak mungkin karena bagaimanapun Hinata adalah adiknya. Adik yang akan selalu ia sayangi disetiap helaan nafas dan denyut nadinya. Tak akan ia serahkan Hinata pada siapapun kecuali jika orang itu benar-benar menyayangi Hinata melebihi ia menyayanginya. Apalagi gunjingan serta pumbullyan yang sering diterima Hinata karena gadis itu berbeda. Baginya Hinata tidak gila, ia hanya berbeda. Proses pendewasaannya terlambat dan ia memang sangat sensitif, tapi entahlah karena ibunya memang sering membawa Hinata keluar untuk berobat yang ia tidak tahu apa. Yang jelas itu demi kebaikan Hinata.

"Naruto-nii" panggil Hinata lembut

Narutu mempererat pelukannya, ia memejamkan mata sebelum menjawab.

"Tetap seperti ini Hinata" pinta Naruto

"Onii-chan" gumam Hinata

"Apa . . . Kau suka sekolah?" tanya Naruto tiba-tiba

"Uhm. Sangat suka" jawab Hinata

"Hinata, dengarkan aku. Dimanapun kau berada, jangan pernah dengarkan perkataan orang lain. Apa yang mereka katakan belum tentu benar. Kau anak baik bukan?" kata Naruto lembut

"Uhm" angguk Hinata

"Jangan pernah menyakiti orang lain pula. Kau tak ingin sekolah di rumah lagi kan?" lanjut Naruto yang dibalas anggukan Hinata

"Hinata" panggil Naruto

"Ya?" sahut Hinata

"Dan jangan membelot lagi. Kau tahu, aku tak ingin menyakitimu seperti tadi" kata Naruto kemudian

"Onii-chan tidak menyakitiku" elak Hinata

SETT

Naruto meraih pergelangan tangan Hinata dan menyibakkan lengan panjangnya. Terlihatlah rona yang kini sudah membiru. Mata Naruto berubah menjadi sayu. Ia menyesal sudah memperlakukan kasar sang adik hanya karena Hinata yang keras kepala.

"Maafkan aku" kata Naruto seraya mengecup memar di lengan Hinata

.

Dilantai bawah, Kushina yang tengah menonton berita malam tiba-tiba mendapat sebuah telfon. Ada jeda sebelum ia menjawab pertanyaan dari sang penelfon. Raut sumringahnya tiba-tiba berubah menjadi sayu. Ia tersenyum tipis mendengar suara di ujung sana. Dan diakhir pembicaraannya yang lebih ke seperti mendengarkan, ia mengangguk.

"Ya, dia baik-baik saja" jawab Kushina sebelum sambungan telfon terputus

Tangan Kushina mendadak lunglai, namun gagang telfon itu masih setia berada digenggamannya. Dan genggaman itu-pun mengerat. Matanya mengkilat, bukan amarah tapi seperti kesedihan yang tak terbendung dan siap meluap dan membanjiri lembahnya kapan saja.

Kushina naik ke kamar Hinata dengan membawa segelas air. Ia juga harus memastikan kalau putri kesayanganya belajar dengan benar. Ia masuk begitu saja dan mendapati Naruto tengah menyelimutinya. Kushina tersenyum tipis karenanya. Ia senang mempunyai anak yang saling menyayangi meski Hinata memiliki perbedaan diantara mereka dan kebanyakan orang normal. Ditatapnya Naruto sebentar menagih apakah sang kakak mengajari adiknya dengan benar. Dan Naruto hanya mengangguk penuh kebohongan. Ia pergi meninggalkan sang ibu bersama sang adik.

Sepeninggalan Naruto, Kushina duduk di samping ranjang Hinata. Diusapnya rambut Hinata yang masih dikucir twintail. Dengan lembut ia melepas kuciran itu satu persatu, dan mulai membersihkan wajahnya dengan pembersih dan kapas yang berada diatas nakas. Ia terus membersihkannya hingga tak terasa wajah Hinata sudah seperti sedia kala. Cantik bak boneka. Ia menatap Hinata dengan pandangan terluka. Diguncangnya tubuh mungil itu perlahan.

"Hinata, minum dulu obatmu sayang" kata Kushina lembut

"Nggh" lenguh Hinata

Hinata bangun dengan mengucek kedua matanya, ia benar-benar mengantuk. Namun suara ibunya yang menyuruhnya meminum obat masih ia dengar. Hampir saja lupa. Ia tidak boleh tidak minum obat itu. Kushina mengulurkan segelas air pada Hinata. Gadis itu membuka laci di nakas samping tempat tidurnya dan mengambil dua buah pil kemudian menelannya bersamaan dengan air. Kushina mengelus surai Hinata sayang hingga tak terasa Hinatapun kembali terlelap.

"Sampai kapan kau harus menjalani pengobatan seperti ini? ...?" gumam Kushina

.

Esoknya. Aktivitas pagi dikeluarga Namikaze masih sama. Hinata sudah siap dengan segala keperluannya. Mulai dari seragam dan tak lupa make up yang masih sama dan rambut yang dikucir twintail dengan banyak ikatan bak sosis. Setelah sarapan, Naruto dan Hinata-pun kembali berangkat ke sekolah.

Konoha International High School. Naruto membukakan pintu untuk Hinata, kali ini gadis itu menurut. Bagaimanapun ia sudah berjanji. Tapi yah, kalau ia tidak lupa. Dari jauh seorang gadis bernama Shion mengamati penuh benci. Sejak ada Hinata, Naruto berubah. Pemuda itu tak seramah dulu ketika Junior High School. Ia selalu mengabaikan fans dan sekitarnya. Seolah dunianya hanya berpusat pada Hinata.

Baru saja keduanya hendak beranjak, sebuah Lamborghini Huracan berwarna Dark Blue terparkir disamping mobil Naruto. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke. Pemuda itu keluar dari mobil dengan jas yang disampirkan dipundak. Ia melihat sang sahabat berdiri didekatnya, dan tak lupa dimana ada Naruto disitulah ada . . .

Hinata

"Yo, Sasuke" sapa Naruto disertai senyum lima jarinya

"Hn" jawab Sasuke singkat

"Kau lebih awal, dobe" lanjut Sasuke seraya berlalu

"Sepertinya kau tidak senang melihatku" sahut Naruto menyamai langkah Sasuke tentu dengan menggandeng Hinata

"Kudengar kemarin kau . . ." tanya Sasuke tertahan, pasalnya senyum lima jari Naruto luntur seketika

"Lupakan" kata Sasuke

"Oh ya, bulan depan ada pertandingan basket. Jadi mulai hari ini kita akan lebih sibuk" kata Sasuke mengalihkan pembicaraan

"Secepat itukah?" tanya Naruto

"Hn" jawab Sasuke

"Kau ketua Osisnya, harusnya kau lebih mengerti" lanjut Sasuke

"Aku belum mengecek lagi, teme" sahut Naruto

"Naruto-nii mau bertanding lagi?" tanya Hinata antusias

"Begitulah" jawab Naruto

"Aku mau nonton" kata Hinata senang

"Tidak boleh" sahut Sasuke

"Eh? Kenapa?" tanya Hinata polos

"Tiketnya sudah habis" sahut Sasuke

"HEHHH?" Hinata tak percaya

"Teme, jangan menggodanya" kata Naruto

"Aku tidak menggodanya. Aku tidak tertarik dengannya, Naruto" jawab Sasuke

"Dia bercanda, jangan dengarkan" kata Naruto pada Hinata

"Hmm. Makanya aku benci dengannya" kata Hinata sukses menghentikan langkah Sasuke

"Hinata, jangan pancing amarah Sasuke" kata Naruto menasihati

Sasuke acuh tak acuh. Ia malah melenggang pergi dengan seenaknya, meninggalkan Hinata dengan kekesalannya. Melihat itu, Naruto hanya menghela nafas. Ia tidak mengerti kenapa Sasuke sangat tidak bersahabat dengan Hinata. Setiap keduanya bertemu, Hinata akan ketakutan atau kadang mendelik tak suka. Entah apa yang doktrin yang sudah masuk ke otak sang adik hingga membenci dan takut dengan sosok Sasuke. Makanya jika Hinata tertidur dikelas cara terbaik membangunkannya adalah . . .

Suara Sasuke

Di perjalanan menuju kelas, Sasuke uring-uringan. Paginya kacau oleh celotehan tidak penting Hinata. Ia hanya ingin ketenangan, namun sejak menjajaki SMA, hidupnya tak tenang. Naruto, sahabatnya menjadikannya orang kepercayaan untuk menjaga Hinata jika tengah sibuk dengan kegiatan OSIS-nya. Meski ia sudah mengenal Hinata sejak kecil, ia tidak suka ketika harus berada didekatnya. Hinata itu aneh, gila. Namun tentu ia tak berani mengatakannya. Entah karena Naruto yang merupakan sahabatnya atau alasan lain yang hanya ia dan tuhan yang tahu.

Masih dalam lamunannya, tiba-tiba di tikungan tangga ia ditabrak seorang gadis yang membawa setumpuk buku. Gadis itu jatuh terduduk dilantai dengan buku yang berhamburan.

"Kau kemanakan matamu? Huh?" tanya Sasuke sarkastik

Mendengar suara itu, Sakura mendongak. Betapa terkejutnya ia melihat sosok jangkung dihadapannya. Uchiha Sasuke. Buru-buru ia bangun dan membungkuk minta maaf. Tak luput ia segera memunguti semua buku-bukunya dan berlalu dari sana.

"Tch, menyebalkan" umpat Sasuke

.

Pulang sekolah. Naruto ada rapat Osis sebelum latihan basket. Pemuda itu lagi-lagi meminta Sasuke untuk menjaga adiknya. Dan mau tidak mau pemuda raven itu menurutinya. Sasuke dan Hinata kini berjalan menuju lapangan indoor. Sepanjang perjalanan itu keduanya diam. Hinata yang sibuk memikirkan bagaimana caranya kabur dari Sasuke dan Sasuke yang tak memikirkan apapun. Gadis itu tak tahu saja, sebenarnya langsung kabur-pun Sasuke juga tidak apa. Malah ia bersyukur.

Saking membisunya keduanya, suara angin yang sedari tadi berhembus pun mulai terdengar. Membisikkan nyanyiannya dan menggoda sang bunga musim semi untuk berdendang. Lihatlah diluar sana, buktinya sang bunga tak bisa mengelak. Ia ikut bergoyang ketika angin itu berhembus melewatinya. Hinata-pun menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan mengamati bunga-bunga tersebut. Tatapan polosnya seakan bertanya bagaimana caranya sang angin bisa membujuk sang bunga. Dan semua itu tak luput dari Onyx hitam Sasuke. Pemuda itu menatap datar Hinata. Cukup lama ia menatap hingga ketika angin kembali berhembus meniup poni hinata, ia sadar. Bodohnya ia, apa yang sedang ia lakukan?

Tiba-tiba...

"Hujan" gumam Hinata sangat lirih

"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Sasuke

"Sebentar lagi akan turun hujan" jawab Hinata

"Jangan menghayal. Ramalan cuaca hari ini cerah. Lagipula kau bukan cenayang yang bisa meramalkan kapan turun hujan" jawab atau lebih tepatnya cibir Sasuke

"Aku tidak akan meninggalkan Naruto-nii" kata Hinata tiba-tiba

"Lebih tepatnya Naruto yang tidak akan meninggalkanmu" ralat Sasuke

Hinata menoleh pada Sasuke, tatapan polos itu melembut dan gadis itu tersenyum. Tepat saat itu angin berhembus kencang, menerbangkan bunga musim semi hingga berterbangan memasuki koridor dan sekitar Hinata. Sasuke pun membisu. Nafasnya memberat. Aneh. Bahkan ingin bicara pun rasanya urung. Dan sang Uchiha hanya mampu diam, mematung.

Ruang Osis. Mereka mengadakan rapat tentang pekan olahraga yang akan diadakan di sekolah. Naruto memulai presentasinya. Tentang olahraga apa saja yang akan dipertandingkan. Ia melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya. Setiap kalimat yang ia ucapkan sangat mudah diterima dan cara penyampaiannya sangat menarik jadi tidak akan ada yang mengantuk, bahkan seorang Shikamaru. Naruto memiliki pesona sebagai seorang Leader. Kata demi kata ia lontarkan dan seiring itu pula tiba-tiba awan mulai berkelabu. Dan seketika hujanpun turun dengan derasnya.

JDEARR

Jauh darinya Hinata menunduk dihadapan Sasuke yang menatapnya penuh makna. Gadis itu... Menangis.

"Hinata?" gumam Naruto

"Ada sesuatu? Naruto?" tanya Utakata

"Tidak, kita lanjutkan rapatnya" jawab Naruto mulai fokus lagi

Setelah selesai rapat, Naruto segera melesat keluar. Ia mengganti seragamnya dengan kostum team basket. Dan pergi ke lapangan indoor. Ketika ia disana, sebelah alisnya terangkat.

"Dimana Hinata?" tanya Naruto

"Tadi disana" tunjuk Sasuke diikuti tolehan Naruto

"Mungkin ke toilet" lanjut Sasuke tak membuat Naruto curiga

Mereka mulai latihan, dan Naruto sama sekali tak konsen, ekor matanya mencari Hinata. Berkali-kali Sasuke dapat merebut bolanya. Kesal karena Naruto tak serius, Sasuke menghentikan permainan.

"Ada apa denganmu?" tanya Sasuke

"Maafkan aku" jawab Naruto merasa bersalah

"Apa karena Hinata?" tanya Sasuke

"Dia belum kembali sejak tadi" kata Naruto

"Tidakkah kau terlalu memanjakannya? Lagipula dia sudah besar" kata Sasuke

"Hinata berbeda, Sasuke" sangkal Naruto

"Bagaimanapun dia sudah kelas dua" kata Sasuke

"Sasuke" kata Naruto

"Aku tahu kau bukan sister kompleks, Naruto" kata Sasuke

SETTT

Sasuke melempar bola ke Naruto yang langsung ditangkap sigap.

"Kita lanjutkan" kata Sasuke

"Aku harus pergi" kata Naruto melempar kembali bola ke Sasuke dan pergi begitu saja

Anggota team basket yang lain hanya menghela nafas. Kiba dan Lee mendekati Sasuke, menenangkan sang Uchiha muda tersebut yang sudah menahan kesal. Dan semua itu tak lain tak bukan berakar dari seorang Namikaze Hinata. Sasuke pun menghela nafas kasar.

Naruto menuju toilet perempuan tapi tak ada siapapun disana. Ia mengernyit. Dan dengan langkah seribu ia menuju kelasnya dan hasilnya sama. Hujan semakin deras dan langit begitu gelap. Namun Hinata tak ada. Nafas Naruto mulai memburu. Lagi, perasaan takut menggelayutinya. Ia segera menggeledah setiap ruang yang mungkin didatangi Hinata. Mulai dari ruang musik, perpustakaan, namun nihil. Ditariknya surai pirangnya kasar.

Sementara itu, yang dicari tengah berada di depan lobi. Ia berjongkok dan menatap tulisan ditanah yang terkikis oleh hujan. Matanya menatap sendu bekas tulisan itu dan iapun mulai menatap hujan. Tangannya terulur, merasakan betapa dinginnya air itu dan ia coba menggenggamnya. Namun percuma, air tak bisa digenggam. Mustahil.

"Tidak kemarin atau hari ini, tanganku tak bisa menggenggam" kata Hinata dalam hati

"Aku hanya bisa bersembunyi, dan dilindungi tanpa bisa melindungi"

"Benar katanya, aku hanya menambah beban Naruto-nii saja"

Tiba-tiba kepala Hinata mendadak sakit. Ia merintih dan memegangi kepalanya, nafasnya mulai memburu. Dengan tangan gemetar, dirogohnya sebuah botol obat dari sakunya. Sebutir, dua butir, dan ia menenggaknya tanpa air. Segera dimasukkannya obat itu ke saku dan menetralisir deru nafasnya. Masih belum bisa menstabilkannya, sebuah suara pun menginterupsi.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto disertai deru nafas yang memburu

"Naruto-nii?" jawab Hinata seraya mendongak

"Kenapa ada disini? Bagaimana rapatnya?" tanya Hinata lagi

Naruto maju dua langkah. Ia menstabilkan nafasnya sebelum kembali berucap.

"Sudah selesai. Dan bukankah sudah kubilang untuk menunggu?" tanya Naruto

"Maaf" ucap Hinata seraya menunduk

Naruto pun menghela nafas. Diulurkannya tangan kanannya pada Hinata, mengkodekan sang adik untuk berdiri namun Hinata hanya menatap tangan itu tanpa mau meraihnya. Perlahan-lahan diarahkannya amethystnya ke saphire sang kakak. Mengajaknya untuk beradu.

Tak ada tuntutan dari Naruto. Ia membisu melihat bola mata Hinata. Pasalnya pandangan Hinata begitu berbeda dari biasanya. Pasti sesuatu telah terjadi. Dan Hinata menyembunyikannya.

Dari jauh, Sasuke ikut berlari mencari Hinata. Perasaan tidak enak hati pada sang sahabat yang menuntunnya. Bukan Hinata bukan. Nafasnya sudah memburu. Dan begitu dari posisinya ia melihat sepasang anak manusia tengah diam di depan lobi, ia berhenti. Matanya menyipit melihatnya.

"Bodoh, apa yang aku lakukan?" gumam Sasuke

Sementara itu...

Naruto menarik kembali tangannya. Kedua tangannya melemas. Matanya menatap Hinata dengan pandangan sulit diartikan. Namun bukannya bertanya apakah sang kakak baik, Hinata hanya diam.

Sore itu hujan menjadi pengiring kebisuan keduanya. Bahkan ketika dinginnya udara menusukpun, Hinata tetap tak bergeming. Perasaan bersalah yang tiba-tiba menyerangnya menggerogoti perasaannya. Ditambah denyut tanpa henti dikepalanya membuatnya tak bisa berfikir. Perkataan Sasuke tadi begitu menohoknya. Dan itu sangat sakit. Kepalanya pun serasa berputar. Jadi diam adalah option satu-satunya yang ia punya.

"Kenapa harus sekarang? Kenapa harus saat Naruto-nii ada?" kata Hinata dalam hati

.

.

.

Siang dan malam

Orang-orang terus bicara

Mereka boleh berkata semau mereka

Tapi yang kutahu semuanya akan baik saja

Hingga hari ini

Aku tidak tahu jelas

Tapi sejauh yang kupahami

Aku hanyalah seorang yang tak diinginkan

Namikaze Hinata

.

.

.

To be Continue

Hai semua. Perkenalkan namaku Nao Vermillion biasa dipanggil Nao. Nao adalah author baru di fandom ini. Dan ini adalah cerita ketiga setelah menamatkan dua fic di fandom Fairy Tail.

Jika kalian merasa pusing bacanya atau merasa aneh lantaran ceritanya nggak nyambung, feel kurang, typhos atau lain-lain. Mohon dimaafkan karena Nao juga tahap belajar. Dan harap di maklumi kalau wordnya banyak. Maaf jika ada kesamaan ide dsb. Maaf juga bagi fans Hinata karena Nao telah menistakan karakter. Yang jelas semua demi kepentingan cerita.

Jujur saja Nao sedikit kesulitan membuat karakter Naruto disini. Karena Nao jarang buat karakter utama baik. Tapi semoga kalian menyukainya.

Banyak sekali hal-hal janggal di chapter ini dan membuat sebagian bertanya-tanya. Dan disinilah misterinya. Yang jelas semua akan Nao kupas satu demi satu dan perlahan-lahan.

Ditunggu feedback dari kalian semua. Kritik dan saran, tapi maaf Nao tidak menerima flame.

Baca juga A voice to you dan Good morning, vampire. Bagi pecinta Hurt/Comfort.

See you next chapter.

Best Regards

Nao Vermillion