I'm Not The Doll Princess

Chapter 12 : Surrender

Balasan Review

Terimakasih pada semua reader yang setia menunggu. Nao tidak bisa balas satu persatu seperti biasanya. Bagi yang penasaran ceritanya harap di baca saja dan dinanti feedbacknya. Selamat membaca.

.

.

.

Warning : Don't Like Don't Read

.

Rate : T

Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort

Pair : [Naruto N. Hinata H] Sasuke U, Haruno S

.

.

Naruto milik Masashi Kishimoto-sensei

.

.

.

Naruto berdiri mematung di anak tangga. Percakapan Hinata dan sang Ibu menamparnya secara keras.

"Bibi bahkan tega membuatku gila."

Sappire itu pun membola. Ia butuh penjelasan. Namun, baru lima anak tangga ia tapaki, seseorang asing masuk tanpa diundang.

Hyuuga Hiashi masuk dengan mata melebar sempurna. Ia mendengar semuanya. Termasuk kalimat Hinata yang mengatakan bahwa ia dibuat gila.

Rumah itu lengang. Keempatnya mematung ditempat.

"Hi-Hiashi?" Kushina tergagap.

"Ayah?"

"Kushina, katakan, kalau yang aku dengar ini adalah kesalahan."

...

"Ayah, ba ... bagaimana bisa?" Hinata tergagap.

"Apa yang—"

"Diam, Hinata!"

"Kushina, kau mendengarku? Katakan, apa yang aku dengar ini kesalahan?"

Hiashi mendekat.

Merasa terancam, Kushina tidak sadar melangkah mundur. Tetapi, secara tiba-tiba punggungnya menabrak sebuah dada bidang. Kedua matanya membola, tatkala Sapphire Naruto menatapnya sendu. Tidak ada tempat untuk kabur.

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.

Merapatkan cengkeraman pada rok yang ia kenakan, ia membuang nafas. Butuh beberapa detik untuk menyembunyikan segala kepanikannya.

"Aku menyayangi Naruto. Aku hanya ingin melindungi senyumannya. Tetapi, itu hanya bisa dilakukan olehmu. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya orang tua lakukan dengan mencoba mempertahankanmu disisinya. Hanya itu."

Jelas Kushina tanpa memandang ke arah kedua Hyuuga.

"Sungguh, aku tidak ada niat untuk membuat Hinata seperti itu. Tetapi, melihat Naruto menyakiti dirinya, hatiku sakit. Dia bisa mati kapan saja. Dan aku tidak ingin hal itu sampai terjadi. Aku sudah kehilangan satu putriku. Tidak bisakah kau memahami ini, Hiashi?"

"Kalau memang seperti itu, tidak bisakah kau mengambil jalan bijak dengan cukup membuat Hinata jadi adiknya?"

"Kalau aku bisa, maka sudah aku lakukan!"

Kushina berteriak.

Naruto terdiam.

Sadar akan apa yang baru saja dikatakan, Kushina membekap mulutnya.

"Naruto," panggil Kushina.

"Begitu ya ..."

"Jadi selama ini ibu membohongiku? Tidak, kalian menipuku?"

Naruto menatap Hinata, meminta penjelasan.

"Naruto, tidak seperti itu, nak," Kushina mengiba.

"Heh, selama ini aku berjuang untuk menjadi sosok kakak yang baik, karena aku merasa Hinata memang membutuhkan sosok itu. Tetapi, aku terlalu bodoh untuk menyadari bahwa itu hanyalah tipuan yang sengaja kalian ciptakan untukku. Apa kalian pikir, aku gila?"

"Naruto-nii?"

Hinata mencoba mendekat, namun perkataan Naruto menahannya.

"Diam! Aku tidak ingin mendengar apapun!"

Naruto pergi meninggalkan rumah, melewati Hinata yang mematung ditempat.

Semua berada diluar perkiraan, ini bukan lagi kendalinya.

Menyadari semua itu, matanya berubah sayu. Tidak ada tempat lagi disini. Ia benar-benar sudah tidak dibutuhkan. Ia memang ditakdirkan untuk menyerah.

.

Dentuman suara musik menggema. Orang-orang menari, melenggak-lenggokkan tubuhnya tanpa ampun. Semakin malam waktu, semakin gencar sang DJ memutar musik.

Diantara keramaian, Naruto termenung. Ini sudah botol ketiga sejak ia duduk. Kepalanya serasa mau meledak. Otaknya dipenuhi semua memori akan Hinata. Berputar secara cepat dan acak.

Ia tidak pernah menyangka, bahwa ini semua adalah kebohongan. Hinata membohonginya. Mereka menipunya, memperlakukannya layaknya pasien.

BRAKH

"Berikan aku satu botol lagi."

.

Kamar bernuansa lavender itu berantakan. Hiashi mengobrak-abrik semua isinya. Wajahnya merah padam, kedua tangannya memasukkan apa yang bisa ia raih kedalam koper besar. Tidak peduli jika sang putri semata wayang memberontak, mencegah. Yang ia tahu, ia harus membawa Hinata pergi sekarang juga.

"Ayah, hentikan!"

"Singkirkan tanganmu, Hinata!"

"Kumohon ayah, aku tidak gila!"

"Tidak ada orang gila yang mengakui dirinya gila!"

"Ayah!"

"Cukup!"

Hiashi mencengkeram kedua pundak sang putri. Dipandanginya Amethys itu secara lekat nan lembut. Hinata sudah cukup terluka.

"Hinata, dengar. Kau sudah cukup berjuang, maafkan ayah karena lama menjemputmu. Namun sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Kita bisa pergi bersama."

"Kau harus menjalani rehabilitasi dan memulai semuanya kembali."

"Ayah, aku tidak—"

"Cukup. Ayah tidak mau dengar alasan apapun."

Hinata menahan nafas. Lagi, ini kembali terjadi. Sang ayah selalu seperti ini, tidak di masa lalu maupun sekarang. Semuanya dimulai saat sang ayah membawanya kesini.

"Ayah pikir, ayah berhak membawaku pergi?"

Tanya Hinata dengan nada dingin.

Terkejut akan nada yang digunakan sang anak, Hiashi menoleh. Matanya membeku melihat sorot tajam yang Hinata layangkan.

"Tidakkah ayah berpikir kalau semua ini salah ayah?"

"Hinata,"

"Jika ayah tidak pernah membawaku kesini, aku tidak akan seperti ini. Aku tidak akan menjadi gila seperti ini."

Ayah tahu apa yang membuatku memilih jalan ini?"

Karena aku ... mencintai Naruto."

Mata Hiashi berubah sayu. Bukanlah hal yang mengejutkan jika sang putri semata wayang mencintai Naruto. Ia mengerti cinta akan tumbuh karena terbiasa. Sepuluh tahun waktu yang cukup lama untuk membuat cinta itu tumbuh berkembang.

Tiba-tiba, perdebatan Hinata dan Kushina terngiang kembali di telinga. Tentang Hinata yang berseru bahwa ia dibuat gila.

Tangan Hiashi gemetar, ada hal janggal dalam kalimat Hinata.

"Jadi, karena kau mencintainya, kau rela dibuat gila? Tidak, kau sepenuhnya sadar kalau kau sengaja dibuat gila."

Hinata menegang.

"Kau memilih menjadi gila hanya untuk berada disisinya. Apa ayah salah?"

Hening. Satu menit lengang. Hinata tidak bisa berkata-kata.

"Itu bukan cinta. Perasaanmu itu hanyalah sebuah obsesi semata."

.

Suara ketikan keyboard berdenting, menjadi satu-satunya pengiring setia jam lemburnya. Dengan cahaya redup dan ditemani segelas kopi, Uchiha Fugaku sangat serius dengan pekerjaannya.

Satu tangannya sibuk mengetik, sedangkan tangan satunya mengambil sebuah map berwarna coklat yang berada disisi kiri meja. Termenung sesaat, ia sangat hafal apa isi map itu.

Baru saja meletakkan map, tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan matanya. Ketika ia sadar, sosok tinggi berambut hitam panjang sudah berada di depan meja. Itachi membawa sebuah map biru yang entah apa isinya.

"Jelaskan apa maksud semua ini, ayah."

Itachi meletakkan map biru dengan sangat hati-hati.

Tanpa pikir panjang, Fugaku menuruti apa yang si sulung katakan. Ia tahu Itachi tidak akan datang padanya malam-malam dengan alasan tidak penting.

SETT

Fugaku menegang.

Ia belum membua semua dokumen itu, tetapi melihat nama pasien yang tertera disana, ia mengerti apa maksud Itachi.

Dengan santai, Fugaku meletakkan kembali map tersebut sambil menghela nafas.

"Kau sudah mengetahuinya?"

"Kenapa ayah melakukan ini? Apa ayah haus akan uang?"

"Kau tahu bukan itu alasan ayah."

"Lalu? Bisa ayah jelaskan apa alasan ayah? Otakku tidak sanggup menerka apa yang ayah pikirkan."

"Ayah hanya melakukan terapi penyembuhan, tidak ada maksud lain."

"Tidak ada? Ayah menghipnotis Hinata, memberikan ia obat penenang dosis tinggi, dan ayah mengatakan tidak ada maksud lain?"

"Itu pilihannya."

"Ap ... apa?"

"Hinata, ia gadis yang hebat. Ayah tidak bisa menghipnotis sepenuhnya. Otaknya memang menerima doktrin yang ayah berikan. Tapi tidak dengan hati kecilnya."

Kau tahu, jauh sebelum itu, ia sudah mendoktrin otaknya. Membuat benteng untuk memenjarakan diri sendiri. Dan itu ia lakukan demi melindungi seseorang."

"Hinata melakukannya?"

"Ya, dan dia melakukan semua itu diusia sangat belia."

Dia bahkan rela meminum obat yang ayah berikan demi mempertahankan doktrin yang tertanam diotaknya, meski hati nurani menentangnya. Itulah alasan kenapa mood dan perubahan sikapnya sangat tidak terkendali."

"Kalau ayah tahu, kenapa ayah tidak menghipnotis Naruto? Sesungguhnya ia akar dari semua ini."

"Alam bawah sadar Naruto menolak hipnotis."

.

Kedua bola mata Ametyhs itu mematung. Dari balik kaca spion, Hiashi memandang. Wajah Hinata datar, sulit dibaca. Keheningan menghiasi perjalanan mereka. Sang supir taxi yang merasakan suasana tidak nyaman, memilih diam. Dibalik kemudi, bola matanya sesekali melirik kedua sosok dibelakang yang saling mengacuhkan.

Hinata tidak pernah menyangka kalau semuanya akan seperti ini. Kehadiran sang ayah tidak termasuk dalam perhitungannya. Benar kalau ia ingin memberontak, tapi tidak dengan menyakiti Naruto seperti ini.

Jujur, ketika Naruto mengatakan ia sengaja membohonginya, ia merasa sakit. Tidak pernah sedikitpun ia berpikir untuk melakukan semua itu, namun pada kenyataannya, ia sudah melakukannya. Dan ketika ia sadar, semuanya sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Pilihannya saat itu menciptakan luka lain dihati Naruto. Luka yang memang belum bisa metutup, kini menganga lebar.

Harusnya ia mengucap maaf saat itu juga, namun lidahnya kelu. Kata maaf terlalu sulit terucap setelah apa yang sudah terjadi. Sekali ini saja, biarkan ia menjadi seorang egois.

Sejak dulu, yang ia tahu, jika ia seperti itu maka Naruto akan bahagia. Dan jika ia tidak seperti itu, Naruto akan bersedih dan menyakiti dirinya. Jadi ini tidak bisa dikatakan sepenuhnya salahnya. Salahkan Naruto karena sudah membuat dirinya iba, salahkan bibi Kushina karena membuatnya gila, dan salahkan hati kecilnya yang menganggap rasa iba itu adalah cinta.

.

Kediaman sederhana keluarga Haruno. Sakura berbaring menyamping. Sejak semalam, ia hanya tidur beberapa jam. Bahkan kini matanya masih sulit terpejam. Ia tidak tahu sejak kapan ia terlibat dalam kubangan cinta Namikaze bersaudara hingga ia merasa menjadi korban.

Namikaze Hinata mencintai Namikaze Naruto. Sebuah kenyataan pahit yang masih belum bisa ia cerna. Bukan karena ia benar-benar jatuh cinta pada Naruto, melainkan gara-gara cinta Hinata pada Naruto, Sasuke menyeretnya dan ia dengan suka rela bersedia. Konyol, namun ini semua sudah terjadi.

Sasuke, pemuda itu terlalu takut Hinata tersakiti hingga rela mengorbankan perasaannya. Sesungguhnya, ia merasa iri. Hinata begitu dicintai. Namikaze Naruto mungkin masuk kedalam salah satunya.

Belum lama mengenal Naruto, ia hafal betul apa yang paling mudah merubah mood pemuda tersebut. Hinata. Dunia Namikaze Naruto hanya berpusat pada Hinata. Amarah, senyum, canda dan tawanya hanya bisa dipancing oleh Hinata. Bahkan, karena Hinata ia hampir tidak bisa mengenali sosoknya.

Sakura pun tersenyum kecut. Selama ini ia menjadi satu-satunya orang bodoh. Mengira bahwa Naruto benar-benar jatuh cinta padanya dan berani mengambil kesempatan. Ia malu, ia marah, ia kecewa pada diri sendiri. Ingin sekali ia memaki, namun ia tidak memiliki harga diri lagi untuk dimaki. Uchiha Sasuke sukses memporak-porandakan harga dirinya.

"Aku terlalu bodoh. Bahkan saat seperti ini pun aku masih tidak bisa membencimu, Sasuke."

.

Kamar itu lengang. Sasuke memainkan ponsel, memutarnya ke arah kanan beberapa kali kemudian menangkapnya. Onyx hitamnya menajam, ia menggenggam ponselnya erat.

Flashback

Sasuke menggerutu. Pasalnya Itachi meletakkan barang-barang dikamarnya. Mulutnya komat-kamit menyumpahi sang kakak, namun disaat melewati ruang kerja sang ayah, telinganya tidak sengaja mencuri dengar sesuatu.

"Tidak ada? Ayah menghipnotis Hinata, memberikan ia obat penenang dosis tinggi, dan ayah mengatakan tidak ada maksud lain?"

DEGH

Mata Sasuke membola, ia pun semakin mendekat.

"Itu pilihannya."

"Ap ... apa?"

"Hinata, ia gadis yang hebat. Ayah tidak bisa menghipnotis sepenuhnya. Otaknya memang menerima doktrin yang ayah berikan. Tapi tidak dengan hati kecilnya."

Kau tahu, jauh sebelum itu, ia sudah mendoktrin otaknya. Membuat benteng untuk memenjarakan diri sendiri. Dan itu ia lakukan demi melindungi seseorang."

Mengerti siapa yang dimaksud, wajah Sasuke berubah dingin.

"Hinata melakukannya?"

"Ya, dan dia melakukan semua itu diusia sangat belia."

Dia bahkan rela meminum obat yang ayah berikan demi mempertahankan doktrin yang tertanam diotaknya, meski hati nurani menentangnya. Itulah alasan kenapa mood dan perubahan sikapnya sangat tidak terkendali."

Diluar ruangan, Sasuke tersenyum kecut.

"Jadi itu alasannya?" gumam Sasuke.

"Kalau ayah tahu, kenapa ayah tidak menghipnotis Naruto? Sesungguhnya ia akar dari semua ini."

"Alam bawah sadar Naruto menolak hipnotis."

Flashback End

Sasuke masih diam, kalau tidak ponselnya tiba-tiba saja berdering. Nama Naruto tertera jelas di layar. Sasuke manatap datar nama itu, ada perasaan enggan untuk sekedar mengangkat telfon dari sang sahabat. Ia membiarkannya beberapa saat, ponsel itu mati dan berdering kembali. Ini kali ketiga. Akhirnya, dengan sangat terpaksa ia mengangkatnya.

"Hn?" Sapanya dingin.

"Maaf, apa ini Uchiha Sasuke-san?"

Suara asing terdengar dari seberang sana.

Sasuke mengernyit. Ia menjauhkan si ponsel dan memastikan kalau memang benar Naruto yang menelfon.

"Halo?"

Suara asing kembali memanggil.

"Hn, ini aku. Siapa? Dimana Naruto?"

"Maaf, seseorang yang anda panggil Naruto sedang tidak sadarkan diri."

"Apa?"

Sasuke berdiri. Sang penelfon memberikan alamat kemudian menutup telfon.

Dengan tergesa, Sasuke menyambar jaket, dompet dan kunci mobilnya. Ia menginjak gas dan melesat keluar rumah tanpa pamit.

.

The Queen Rose Bar. Sasuke menghentikan mobil. Alisnya mengernyit, tidak seharusnya ia disini, pikirnya. Jujur saja, ia sedang tidak ingin bertemu Naruto. Emosinya sedang tidak stabil, bertemu dengannya saat ini hanya memperburuk keadaan. Bisa saja ia lepas kendali dan menghajarnya. Mulut Naruto terlalu berbisa, ia tidak yakin bisa mengontrol diri.

Menghela nafas panjang, ia pun turun. Masalah hajar menghajar urusan nanti.

Ini kali pertama Sasuke masuk ke tempat seperti itu. Hidungnya mencium bau tidak higenis dari berbagai tempat. Rokok, alkohol, dan jangan lupakan parfum para wanita.

Diantara sekian banyak orang, ia memicing. Butuh mata yang tajam untuk bisa menemukan sosok Naruto.

Sasuke mengernyit tatkala melihat berapa banyak alkohol yang sudah dihabiskan sahabat karibnya itu. Naruto tidak pernah minum alkohol sebelumnya.

"Hei, kau baik-baik saja?"

Tanya Sasuke sambil menggoyangkan tubuh Naruto.

"Hng," Naruto merasa terusik, tetapi ia tidak bangun.

"Kau masih hidup rupanya."

Kata Sasuke sarkatis.

.

Naruto tergeletak di dalam mobil Sasuke. Seorang petugas Bar berhasil membawanya kesini dengan susah payah, mengingat postur tubuh Naruto yang terbilang tinggi besar.

"Ini untukmu."

Sasuke memberikan beberapa lembar uang.

Ia masuk kedalam mobil. Matanya memutar bosan. Ia jengah dengan sikap Naruto. Bukankah jelas-jelas ia pelaku dan akar semua masalah ini? Tapi sikapnya seolah-olah ia adalah korban.

Sasuke diam sejenak. Ada satu hal ia lewatkan. Ditatapnya wajah Naruto dengan penuh keingintahuan. Sebenarnya, ada apa dengan Naruto? Apa yang sudah dilakukan Naruto hingga seorang Hinata kecil berani mengambil pilihan ektrim itu?

.

Setelah membeli obat anti mabuk, Sasuke kembali melajukan mobil menuju jembatan kota. Di pinggir sungai, ia menepi. Ia pun keluar, membiarkan pintu mobil terbuka begitu saja.

Onyxnya memandang desiran halus air sungai. Udara begitu dingin, ia mengeratkan jaketnya. Menghela nafas panjang, udara mengepul dari bibirnya.

Hawa dingin menyeruak. Mengusik seorang Naruto yang sedari tadi terpejam. Ketika pertama kali membuka mata, cahaya berkelap-keliplah yang menyapanya. Ia berada di tempat asing. Mencoba bangkit, kepalanya pun berdenyut. Dengan langkah gontai, ia keluar dari mobil. Menghampiri sosok berambut raven yang berdiri tidak jauh darinya.

Baru saja mendekat, tiba-tiba sebuah botol kecil dilempar ke arahnya.

"Minumlah," Ujarnya dingin.

Naruto ragu sesaat, ingin sekali ia bertanya bagaimana ia bisa berakhir disini, namun raut Sasuke menegaskan untuk menuruti perintahnya. Ia benci ini tetapi kepalanya tidak bisa diajak kompromi. Mau tidak mau ia pun meminum obat itu dalam sekali teguk.

"Kalau kau ingin mati setidaknya jangan bawa ponsel, dan matilah sendirian."

Sasuke memulai pembicaraan. Nadanya pun terdengar ketus.

"Maaf."

"Kau pikir kata maafmu berguna?"

"Maaf."

"Tch! Hanya itukah yang bisa kau katakan?"

"Kau mau aku berkata apa?"

Naruto mulai menantang, tanda bahwa mabuknya berangsur-angsur menghilang.

Satu menit lengang. Sasuke terdiam. Bungu Uchiha itu bingung harus berkata apa atau bertanya mulai dari mana.

"Kenapa kau seperti ini? Tidakkah kau puas sudah melakukan itu pada Hinata?"

"Kau tidak mengerti apapun."

Sasuke menoleh. Onyx hitamnya memicing.

"Benar, aku tidak mengerti apapun. Jadi, beri tahu aku agar aku mengerti. Tidakkah kau berpikir ini menyiksa? Maksudku Hinata."

Sasuke berusaha mengendalikan diri.

"Kau pikir hanya dia yang tersiksa? Kau tidak tahu sebetapa aku lebih tersiksa darinya. Kau bisa bicara seperti itu karena kau hanya membayangkan posisi Hinata. Kau tidak pernah membayangkan bagaimana berada di posisiku. Jika kau mengerti, maka kau pasti akan melakukan hal yang serupa."

"Kau gila, Naruto."

"Kau benar, aku gila. Dan karena orang gila inilah Hinata seperti itu. Jadi, apa kau puas?"

Sasuke tercengang.

"Aku selalu merasa takut. Setiap kali Hinata berada jauh dariku, aku merasa takut. Aku merasa Hinata akan pergi sewaktu-waktu jika aku lengah. Padahal kenyataannya, ia tidak seperti itu."

Yang aku tahu, Hinata akan aman jika aku membuatnya seperti itu. Dengan begitu ia akan terus berada disampingku dan tidak akan lari."

Tetapi, aku tetap saja merasa ketakutan. Ada perasaan lain disini. Setiap menyebut namanya, rasa tidak menyenangkan itu datang. Melihat wajahnya, perasaan itu menjadi-jadi. Dan ketika didekatnya, ini sangat menyiksa. Aku ingin sekali lari, namun aku tidak ingin kehilangannya."

Sasuke tidak bisa berkata-kata. Ia tidak menyangka semuanya sekompleks itu.

Angin pun berhembus. Keduanya diam untuk waktu yang cukup lama.

"Jadi, karena alasan inilah kau mendekati Sakura?"

"Entahlah, aku tidak tahu pasti apa yang sebenarnya sudah aku lakukan. Karena ketika aku sadar, Hinata sudah terluka. Aku menyakitinya."

"Kalau kau sadar, kenapa kau tidak mengejarnya kemarin? Bahkan setelahnya, kau tidak mencarinya."

"Kalau aku bisa pasti sudah aku lakukan."

Sapphire Naruto berubah sendu.

Tidak memahami jalan pikiran Naruto, Sasuke mengusap wajahnya kasar. Benar, Naruto gila, jadi apapun yang sedang dipikirkan ia tidak akan pernah mengerti dan tidak mau mengerti.

.

Hari berikutnya. Konoha International High School heboh. Pasalnya berita tentang Hinata mencium Naruto di pesta penutupan menyebar begitu cepat. Apalagi Naruto menampar Hinata setelahnya. Sungguh menghebohkan. Naruto, ia selalu memperlakukan Hinata bagaikan permata yang tidak boleh disentuh dan harus dijaga baik-baik, tetapi kenyataannya dengan tangannya sendiri ia berani menampar sang adik. Sontak nama Haruno Sakura menjadi buah bibir perusak hubungan Namikaze bersaudara.

Tak hanya itu, berita tentang Sasuke ditolak oleh Sakura juga ikut meramaikan. Semua geram dengan Sakura. Setelah menjadi perusak hubungan, ia bahkan berani menolak salah satu pangeran mereka.

Gerbang sekolah. Sakura baru saja tiba. Semua tatapan mata mengarah padanya. Ia masih tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi, kalau tidak Ino datang dan menyeretnya ke tempat sepi.

"Hei, kenapa kau masuk sekolah? Bukankah aku sudah mengirim pesan untuk tidak datang ke sekolah hari ini?"

"Pesan? Aku tidak tahu. Aku tidak mengecek ponsel sejak kemarin dan hari ini aku tidak membawanya. Pesan apa yang kau kirim?"

"Hei, Haruno! Kau ini ... benar-benar!"

Ino tidak bisa berkata-kata.

"Dengar, semua orang sedang membicarakanmu. Menuduhmu sebagai perusak hubungan Naruto dan Hinata."

SETT

Sakura tiba-tiba saja pergi. Meninggalkan Ino yang ternganga di tempat. Pasalnya ia belum selesai bicara.

.

Langkah kakinya menggema di sepanjang koridor. Ia butuh membersihkan nama baiknya. Dan satu-satunya orang yang dapat melakukannya hanyalah Uchiha Sasuke. Pemuda itulah yang mengawalinya, menyeretnya hingga terlibat sampai seperti ini.

Sasuke tengah menelungkupkan wajahnya di meja diantara kedua lipatan tangan. Sejak tadi malam, ia tidak bisa memejamkan mata. Kepalanya pening memikirkan fakta yang Naruto ungkap. Setelah ia pikirkan baik-baik, apa yang dilakukan Naruto tidak sepenuhnya salah dan apa yang menjadi pilihan Hinata juga tidak sepenuhnya benar. Sungguh, rasanya kepalanya mau pecah. Baik Naruto dan Hinata hanya menyakiti diri sendiri dengan alasan masing-masing. Dan ia merasa menjadi orang jahat disini.

Ia hendak memejamkan mata, namun tiba-tiba mejanya dipukul secara keras.

BRAKH

"Uchiha Sasuke, kita harus bicara."

Tak ingin menyedot perhatian, Sasuke pun mengikuti Sakura tanpa banyak bicara. Ia harus menyelesaikan masalahnya dengan gadis itu, pikirnya.

.

"Aku tidak tahu kalau kau ternyata cukup licik, Uchiha."

"Lalu?" Jawab Sasuke santai.

"Kau sengaja memancingku, bukan? Kau sengaja memanfaatkanku untuk cinta bertepuk sebelah tanganmu. Kau bahkan menciumku dan mempermalukanku di depan umum hanya karenanya. Kau sungguh tidak punya perasaan."

"Kalau kau bicara tentang perasaan, tidakkah kau juga tidak punya perasaan, nona? Kau mendekati Naruto untuk membalasku. Tapi gara-gara ulahmu, satu-satunya orang yang aku cintai harus terluka. Jika kau berada di posisiku, apa kau akan diam saja?"

Jadi katakan, apa aku salah disini?"

Sakura menahan nafas hingga kedua matanya berkaca-kaca.

"Kalau jadinya seperti ini, tidakkah sedari awal lebih baik kau mengatakannya? Aku merasa menjadi satu-satunya orang bodoh disini."

"Bukan hanya kau satu-satunya orang bodoh. Mereka sukses membodohi semua orang."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, aku akan bertanggung jawab. Kau ingin membersihkan nama baikmu, bukan? Aku akan melakukannya."

"Heh?"

"Aku akan menjadi kekasihmu. Tapi ..."

Kata Sasuke tertahan.

"Jangan mengharapkan apapun dariku. Bahkan sebutir debu sekalipun. Karena aku tidak akan pernah memberikannya meski kau menangis darah sekalipun."

Angin musim dingin pun berhembus, mengiringi kepergian seorang Uchiha Sasuke. Dingin dan membekukan. Hati Sakura terasa sakit. Bukan seperti ini yang ia inginkan. Ia ingin bebas. Namun Sasuke malah menjeratnya dalam duri-duri penuh kepalsuan.

Menangis sendirian, Sakura terperosok ke bawah. Ia menangkupkan kedua tangan, menutupi wajahnya yang terlihat sangat kacau.

.

Ruangan megah bercat coklat muda itu membisu. Sofa merah maroon seakan menjadi saksi atas kebisuan kudua sosok manusia. Hanya suara detik jam yang menjadi pengiring, menjadi satu-satunya orkestra yang meramaikan aula tengah kediaman Namikaze.

Minato sudah pulang dari dinas luar. Masih mengenakan setelah rapi, ia duduk terdiam di sofa. Koper, barang bawaan serta hadiah untuk Hinata tergeletak begitu saja di lantai samping kanannya. Raut wajah yang biasanya tenang, kini sulit dibaca. Setetes peluh berhasil menuruni pelipis, menetes hingga membasahi sofa.

Sedangkan disisi kiri, Kushina tak henti-hentinya meremas kedua tangan. Antara cemas akan apa yang terjadi pada Naruto atau takut akan kemarahan sang suami. Selama ini, Minato selalu diam atas apa yang dilakukannya. Tapi detik ini, ia benar-benar ketakutan. Ini kali pertama ia melihat wajah sang suami seperti itu.

Keadaan begitu tegang. Tak ada satupun kata yang terucap dari bibir Minato. Kepala keluarga itu berpikir keras, menahan segala amarah yang sudah mencapai tenggorokan.

Minato menghela nafas.

"Ini memang sudah saatnya."

Hiashi datang disaat yang tepat."

"Tetapi, Naru—."

"Cukup, Kushina. Dia harus menerima kenyataan. Dia sudah cukup dewasa untuk bisa menerima dan melepaskan semua beban itu!"

Tegas Minato

"Kau ingin membunuh anak kita?"

"Dia yang harus memilih. Membunuh atau dibunuh."

Mata Minato menajam. Mengaitkan kedua tangan, ia menyembunyikan rasa takutnya meskipun itu percuma.

"Hinata, bukan putri boneka. Dia manusia dan selamanya akan seperti itu. Bagaimanapun kau berusaha mengubahnya, perasaan itu tetap akan tumbuh."

Dia mencintai Naruto, maka dari itu ia rela menjalani hidup seperti yang kau tunjukkan. Tetapi, ini sudah cukup. Hinata sudah cukup terluka."

Aku sudah tidak ingin lagi menjadi pendosa. Jadi mari hentikan semua ini, Kushina."

Minato memandang sang istri dengan tatapan memohon. Sapphire serupa dengan milik Naruto itu kini berkaca-kaca. Pria paruh baya itu menangis. Menyesali segala perbuatan yang telah ia lakukan pada kedua anak kecil yang sangat ia sayangi. Naruto dan Hinata, sama-sama terluka. Dan itu adalah kesalahan mereka.

Kushina turun dari sofa, ia berjongkok di hadapan sang suami dan memeluknya. Merangkup kepala Minato kedalam pundaknya.

Keduanya menangis. Saling memeluk dan berebut mengaku salah.

Tanpa mereka sadari, Naruto menyaksikan semuanya. Pemuda itu berlalu dari tangga, menuju ke kamar.

.

Pintu jati itu terkunci. Naruto berdiri terpaku dibalik pintu. Ia meremas baju depan dadanya, rasanya terlilit seolah ingin membunuhnya. Ia merintih kesakitan hingga tubuhnya ikut merosot.

"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku, Hinata?"

Flashback

Naruto pulang dini hari. Setelah perbincangannya dengan Sasuke, ia memutuskan untuk pulang naik taxi. Ia cukup tahu diri untuk tidak merepotkan sang teman lagi.

Baru saja membuka pintu, ia mendapati sang ibu terduduk dilantai.

"Hinata sudah pergi."

Kata Kushina saat Naruto melewatinya.

Pemuda itu berhenti sejenak, satu pukulan keras menghantamnya.

"Lalu?" Naruto berujar dingin.

"Kau akan ..."

"Cukup. Dia pergi atau tidak pergi itu adalah keputusannya."

"Tapi Hinata—"

"Dia bukan adikku. Jadi berhenti menyebut namanya dihadapanku!"

Flashback End

"Kau sungguh kejam. Setelah membuatku menjadi satu-satunya orang bodoh, kau pergi begitu saja tanpa sepatah katapun."

Kau memperlakukanku layaknya pasien, tetapi kau meninggalkan pasien ini dalam keadaan terburuk. Tidakkah kau terlalu kejam?"

Jika kau memang mencintaiku, tidak bisakah kau bertahan disisiku? Apa bertahan terlalu sulit bagimu?"

Aku sakit. Aku membutuhkanmu, Hinata ..."

Isaknya pilu.

Malam itu, Naruto kembali menangis. Memanggil nama Hinata berulang kali seolah sosok itu akan datang jika namanya dipanggil. Layaknya seorang peri yang akan selalu datang disaat Pinochio memanggil. Namun peri itu tidaklah nyata. Semua hanyalah dongeng belaka. Seperti kisahnya bersama Hinata, itu semua kebohongan. Sebuah cerita yang sengaja diciptakan dan diadakan hanya untuknya. Memperangkapnya kedalam kesenangan fana. Dimana ia merasa baik-baik saja dan paling baik-baik saja. Dimana ia merasa harus menjaga Hinata, padahal kenyataannya malah sebaliknya.

Jadi, jika peri memanglah ada, Hinata adalah peri terkejam. Yang selalu menjeratnya ke dalam dunia fana lagi dan lagi. Membuat jantungnya berdenting tak nyaman dan menyiksa. Kemudian menghempaskannya ke tanah begitu saja.

Namun, ia juga bukanlah Pinochio yang baik. Ia menyakiti peri dan selalu membuat perinya menangis akan ulahnya. Bahkan memperlakukanya layaknya boneka mainan.

Jadi, siapa yang sebenarnya Pinochio disini?

Semuanya begitu rumit. Hingga tanpa sadar ia pun tertidur. Menyisakan jejak-jejak air mata di kedua belah pipi Tannya.

.

Esok harinya.

10:00 AM

Seseorang turun dari taxi. Mantel hitam mengkilap ia eratkan. Memandang sejenak bangunan megah di depannya kemudian mulai melangkah.

Sepatu pantofel itu menggema di sepanjang lobi. Langkahnya ringan terkendali. Mengendalikan segala emosi yang ada, ia menghampiri bagian resepsionis.

"Apa Dr. Fugaku ada?"

"Apa anda sudah membuat janji?"

"Aku kerabat. Katakan padanya kalau Hyuuga ingin bertemu."

Resepsionis yang diketahui bernama Matsuri itu memandang pria paruh baya di depannya dengan pandangan menilai. Sekilas penampilannya tidak aneh, seperti pria paruh baya kebanyakan. Hanya saja, rambut panjangnya yang diikat itu sedikit mencurigakan.

Hiashi memandang datar. Sedikit tidak suka melihat seorang anak kecil berani menilainya.

Mengerti akan pandangan seseorang yang mengaku bernama Hyuuga, dengan sangat enggan ia menghubungi kantor sang Presdir. Belum sempat tersambung, tiba-tiba saja ...

"Hyuuga-san?"

Tanya Itachi yang baru masuk dari luar. Sebelah tangannya menggenggam es krim coklat tiga tumpuk.

"Uhm, Kau ... Itachi kah?"

Hiashi mengingat-ingat.

"Anda mengingat saya?"

Flashback

Hari itu adalah hari sabtu. Itachi yang berusia 18 tahun sedang mengerjakan tugas kuliah dikamarnya. Sesekali ia memainkan pensil di hidung, memutar-mutar kursi sambil berpikir.

Sebuah ketukan menghentikan aktivitasnya. Sang ibu masuk membawa beberapa dokumen penting.

"Tolong antarkan ini ke ayahmu, sekarang."

Tanpa pikir panjang, Itachi langsung melesat. Karena saat itu ia belum memiliki izin mengemudi, akhirnya ia memilih naik bus. Butuh waktu sekurang-kurangnya 15 menit untuk sampai ke rumah sakit.

Ia sampai di depan ruang sang ayah. Mengetuk pintu sekali, Fugaku mempersilakannya masuk.

Baru saja menginjakkan kaki di dalam, entah kenapa ia merasakan atmosfer berat. Seorang pria seumuran dengan sang ayah, bermata amethys dan berambut coklat berdiri dengan raut wajah sulit terbaca disamping paman Minato dan istrinya.

"Terimakasih, Itachi."

Sang ayah menerima map disertai senyuman. Matanya mengisyaratkan untuknya segera meninggalkan ruangan.

"Hyuuga-san, silakan duduk kembali."

Fugaku mempersilakan Hiashi.

Mengerti kode itu, Itachi membungkuk kemudian berlalu. Menutup pintu sepelan mungkin. Diluar, ia tidak segera pergi. Kepalanya dimiringkan, ia belum pernah melihat seseorang yang dipanggil Hyuuga oleh sang ayah sebelumnya. Tak ambil pusing, ia pun beranjak.

.

Ruang kerja Fugaku gelap. Hanya secercah cahaya temaram yang menemani sesosok pria berambut sebahu dikucir. Tangannya menyisir, mengobrak-abrik laci dan rak-rak yang berada disana. Membuka dokumen-dokumen yang ada dan menyisir secara universal. Sesekali ekor matanya melirik pada pintu, takut seseorang datang.

Tidak menemukan apa yang dicari, ia membuka komputer. Sedikit frustasi karena sang ayah selalu mengganti password secara acak tiap harinya. Dicarinya sebuah kartu yang dapat membantu, dan kartu itu terselip begitu saja dibawah keyborad. Ada banyak kombinasi angka disana. Tentu otak cerdas Itachi mampu menerjemahkannya. Ia mengetikkan kombinasi angka yang menurutnya benar, dan voila! Dia berhasil log in.

Matanya bergerak cepat. Entah apa yang ia baca hingga tiba-tiba saja Onyx itu membola. Tangan kanannya yang menggerakkan mouse wireless, gemetar.

CTIK

CTIK

Suara printer memecah keheningan. Beberapa lembar kertas hasil cetakan keluar. Itachi masih terdiam.

Setelah mematikan komputer, ia berdiri. Mengambil lembaran-lembaran kertas itu sambil membacanya dengan sorot tajam. Ia tidak habis pikir. Semua alasan kegilaan Hinata ternyata tersimpan rapi di dalam komputer sang ayah. Pun termasuk jati diri gadis itu. Ayahnya menyembunyikan segalanya dengan alasan yang tidak ia ketahui.

"Hyuuga, Namikaze dan Uchiha. Konyol sekali."

Gumamnya dengan senyuman dingin.

Flashback End

"Kau tumbuh terlalu cepat hingga aku tidak mengenalimu, Itachi."

"Ya, begitulah. Saya sudah tua."

Canda Itachi. Hiashi yang mendengar itu hanya tertawa garing.

"Ada keperluan apa Anda kesini? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Itachi ramah.

"Aku ada keperluan dengan Fugaku."

"Bagaimana kalau saya mengantar Anda?"

"Kalau itu tidak merepotkan."

"Sama sekali tidak. Mari, silakan."

Itachi mempersilakan Hiashi, meninggalkan sang resepsionis yang menatap bingung. Telfon masih tersambung, sekretaris sang Presdir mengernyit di ujung sana.

"Halo, Matsuri?"

"Ah, ya, maaf."

Matsuri menutup telfon.

.

Hiashi dibawa ke sebuah ruangan bernuansa putih. Terdapat sofa berwarna coklat tua dan meja hitam di depan sebuah meja kerja. Di atas meja kerja tersebut, terdapat sebuah papan nama yang terbuat dari kaca. Tertulis Uchiha Itachi, Spesialis kejiwaan.

"Duduklah dimanapun Anda suka, saya akan buatkan teh."

Ujarnya menuju pantry sederhana yang terletak di sisi meja kerja. Hiashi mengamati, dilihatnya foto keluarga terpajang apik di tembok depan yang berhadapan dengan meja kerja.

"Itu diambil satu tahun lalu."

Jelas Itachi seolah mengerti apa yang Hiashi pikirkan.

"Keluarga yang bahagia, bukan?" Lanjutnya.

Lagi-lagi Itachi membaca pikiran Hiashi. Pria paruh baya itu tersenyum dan bergerak tidak nyaman di tempat duduknya.

"Semua tidak seperti yang terlihat."

Kata Itachi sambil meletakkan dua cangkir teh. Entah sejak kapan ia datang, Hiashi benar-benar tidak menyadarinya.

"Kebahagiaan tidak terukur dari banyaknya seseorang bersama dengan seseorang yang dicinta. Melainkan dari seberapa banyak seseorang itu mampu menghargai perasaan seseorang yang dicinta. Itu baru namanya kebahagiaan."

Hashi terdiam. Ia curiga kemana arah pembicaraan Itachi.

Satu menit lengang. Itachi menyeruput tehnya dengan tenang. Sesekali memutar-mutar cangkirnya sambil menatap penuh selidik pada sosok Hyuuga di depannya.

"Ayah sedang sibuk. Jadi mohon tunggu sebentar, saya sudah mengiriminya pesan."

"Apa yang sedang kau rencanakan?"

Hiashi to the point.

"Menurut Anda?"

"Katakan langsung. Aku tidak punya banyak waktu."

"Baiklah kalau itu memang mau Anda."

Itachi meletakkan cangkir teh ke meja dengan pelan. Otaknya berputar, mengulik kembali serpihan demi serpihan kejadian yang beberapa waktu ini menyita perhatiannya.

"Ini sedikit mengganggu saya, tapi Anda terlihat mirip dengan seseorang yang saya kenal."

"Siapa maksudmu?"

"Namikaze Hinata."

"Hyuuga Hinata."

Hiashi membenarkan dengan tegas.

"Begitu ya ... pantas saja saya merasa tidak asing setiap melihat wajahnya."

"Lantas, bagaimana mungkin Anda meninggalkan putri Anda dan membiarkannya menyandang marga Namikaze?"

"Tidakkah kau seperti sedang mengintrogasiku?"

"Maaf jika Anda merasa demikian. Tetapi saya harus mengetahuinya agar saya bisa membantu anda."

"Membantu? Apa maksudmu?"

"Tujuan Anda datang kesini."

Itachi tersenyum ramah penuh makna. Sementara Hiashi sedikit menahan nafas. Itachi terlihat sedikit menakutkan dimatanya mengingat kali pertama ia bertemu, Itachi masih bocah berusia 18 tahun.

.

Langit menggelap. Gumpalan awan berkumpul membentuk kawanan. Sesosok gadis berambut indigo memandang tanpa minat rintikan hujan yang mulai turun. Sejak tadi, ia hanya duduk dipinggir jendela hotel. Pandangannya kosong.

Ia tidak bisa terus berada disamping Naruto. Pemuda itu sudah tidak membutuhkannya. Pemuda itu sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi dan ia yakin kini Naruto pasti sangat membencinya. Naruto paling benci dibohongi, dan ia melakukannya selama 10 tahun.

"Aku menyerah, Naruto-kun."

Diambilnya sebuah pena dan secarik kertas.

.

.

.

.

.

.

02.00 PM

Bandara International Konoha. Seorang gadis mengenakan kemeja putih dan rok coklat selutut tengah duduk dengan gelisah di kursi tunggu. Rambut indigo panjangnya tergerai, menutupi Amethysnya yang bergetar. Dua puluh menit lagi sebelum pesawat lepas landas. Sosok itu tak kunjung datang.

.

Beberapa mobil box terparkir di depan halaman kediaman Namikaze. Mengangkut semua barang-barang yang sudah dikemas dalam kardus. Kushina menandatangani sebuah form yang diajukan pihak kurir.

Ia menoleh, memandang rumahnya dengan tatapan sendu. Kenangan buruk itu harus ditinggalkan, disimpan dan dikunci rapat-rapat. Biarlah rumah itu menjadi satu-satunya saksi bisu.

Sebuah motor tiba-tiba datang. Memberi salam pada Kushina dan menyerahkan sepucuk surat yang tidak diketahui nama pengirimnya. Hanya nama penerima, Naruto yang tertera disana.

.

Naruto duduk dipinggir ranjang. Kedua tangannya memegang sebuah bingkai foto. Potret dirinya dan Hinata kecil. Semua begitu indah kala itu. Hinata kecil menunduk, ia tersenyum ceria. Begitu cantik dan memancarkan sejuta pesona. Disamping kanannya, Naruto kecil menggenggam kedua tangan mungil itu. Meski wajahnya datar, namun ia merasa bahagia.

Sebuah ketukan menyita atensinya. Foto itu ia sembunyikan disisi kanan. Sang ibu masuk. Meletakkan sepucuk surat di pinggir ranjang dan meninggalkan Naruto begitu saja. Ia mengerti Naruto butuh waktu untuk menerima keadaan.

Ia kembali meraih foto tersebut. Sepucuk surat ia biarkan tanpa ada niat untuk menyentuh. Senyum Hinata kecil begitu sayang untuk dilewatkan.

.

"Kita harus bergegas, Hinata. Tidak ada yang ketinggalan, bukan?"

Hiashi bertanya sambil meraih koper dan barang bawaan Hinata.

Anak gadis itu mengangguk. Mengikuti langkah sang ayah untuk segera memasuki pesawat.

Sementara itu, di depan bandara Naruto turun dari taxi. Sepucuk surat ia genggam erat.

Ia berlari. Sesekali terseok, menabrak para calon penumpang maskapai. Rambut pirangnya lusuh. Sapphirenya mengedar, mencari sosok berambut indigo mencolok diantara sekian banyak orang.

Bayangan itu lewat. Indigo itu melambai seolah memanggilnya. Naruto mengejar sosok tersebut. Sedikit kesulitan karena terlalu padat orang.

Tinggal satu meter lagi.

"Hinata!"

SETT

DEGH

"Eh? Apa Anda memanggilku?"

Naruto mematung. Gadis itu bukanlah Hinata.

"Maaf."

Ini tidak seharusnya terjadi. Hinata tidak boleh pergi seperti ini. Jujur, ia memang bodoh, membiarkan surat itu tergeletak bermenit-menit tanpa mau menyentuhnya.

Pesawat yang Hinata tumpangi lepas landas. Naruto hanya bisa menatap kepergian Hinata melalui jendela besar. Hinata tidak mungkin bisa melihatnya. Ia terlalu kecil untuk bisa dilihat dari jarak sejauh ini.

Diremasnya surat itu. Bukan karena ia marah, melainkan kecewa. Bahkan disaat seperti ini, setelah Hinata pergi pun ia tidak bisa mengucapkannya. Bibirnya terlalu angkuh untuk sekedar mengucap cinta. Semuanya begitu menyakitkan. Dadanya serasa ditusuk dengan ribuan duri-duri kecil berukuran nano. Hingga ia tidak bisa menafsirkan lagi apakah ini rasa sakit atau mati rasa.

Semua karena Hinata. Perasaan yang menggerayanginya hadir semenjak bertemu dengan Hinata. Gadis itu tidak menyembuhkan. Melainkan menanam duri lain dalam dirinya. Membelenggunya kedalam rasa sakit untuk yang kali kedua. Ia tidak pernah bisa mengelak, namun juga belum bisa menerima.

"Benar. Kelak kita akan bertemu kembali, Hinata. Setelah kau dan aku baik-baik saja. Disaat itu, akan aku pastikan ini cinta."

Kata Naruto dalam hati.

"Dan setelah itu, aku akan menyerah. Bukan karena aku benar-benar menyerah, tetapi aku ingin kita bahagia. Rasa sakit ini aku akan menyudahinya."

Terimakasih karena sudah memberikan hadiah ini padaku. Meski ini rasa sakit, aku akan menghargainya. Setidaknya itu bukti kalau kau pernah berada disisiku,"

"Hinata."

.

"Mereka sudah pergi, ayah."

Kata Itachi yang duduk diatas sofa.

"Terima kasih sudah membantu ayah."

Jawab Fugaku yang berada di sisi kiri.

"Aku melakukan ini bukan untuk menyelamatkan ayah."

"Ayah tahu, maaf."

Fugaku tersenyum sendu.

"Jangan katakan maaf. Cukup jangan pernah katakan atau membahas masalah ini, terutama pada Sasuke, maka aku akan memaafkan ayah."

Itachi berdiri, meninggalkan ruangan.

Fugaku menyandarkan punggungnya. Dihelanya nafas beberapa kali. Semua begitu melelahkan. Akhirnya beban selama sepuluh tahun sudah terangkat. Dosa yang ia lakukan pada kedua anak itu akan segera ia bayar. Perlahan tapi pasti. Ia pastikan kedua anak itu akan baik-baik saja.

Sementara diluar, Sasuke berpaling. Menyembunyikan wajahnya dari sang kakak yang baru saja keluar dari ruang kerja sang ayah. Mata Onyx itu menyipit. Ia meremas baju bagian depan dada. Amarah menggelayutinya.

"Maafkan aku ..."

"Hinata."

.

Di bangku belakang sekolah, ia termenung. Sudah beberapa hari sejak kejadian itu, lagi-lagi ia masih disini. Meski menyakitkan, nyatanya ia masih bertahan. Uchiha Sasuke benar-benar sudah membuatnya gila. Jadi ia mengerti sekarang. Perasaan Sasuke pada Hinata, ia mengerti.

Sakura menengadahkan wajah. Pipi putihnya memerah. Udara semakin dingin. Tidak sebaiknya ia berlama-lama di tempat seperti ini. Tetapi, biarkan untuk hari ini saja ia melakukannya. Kali ini, yang terakhir. Ia tidak akan merenung lagi. Ia akan menjalani dan berjuang meski akan berakhir sia-sia.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ketika sebuah benang terpaut

Ia akan terus tertarik hingga ujungnya terlepas

Meski sulit,

Pada akhirnya pasti akan ada akhirnya

Hanya saja ...

Manusia tidak bisa menerka

Bagaimana akhir dari ujung benang yang sudah ia tarik

Luka, duka atau cinta

.

Hawa dingin ini begitu menusuk

Mengingatkanku pada senyum dan tangis terakhirmu

Sepucuk surat cukup menyadarkanku

Kalau aku hanyalah seorang pengecut

Yang tidak tahu apa itu cinta

Karena yang kutahu hanyalah luka

Luka karena tidak bisa merengkuhmu

Disaat aku menginginkannya

.

Jurang itu melolong

Gadis itu sudah berteriak untuk yang kesekian kali

Meminta tolong untuk lari dari perasaan gilanya

Tangan yang ia inginkan,

Nyatanya tidak pernah terulur

Dan pada akhirnya ia harus menyerah

Terperosok ke dalam jurang keputusasaan

Dimana hanya ada luka dan duka

.

Harus bagaimana ia berjuang?

Egoisme, logika sudah ia perangi

Namun ia bahkan tidak mendapatkan bagian manapun dari sisi itu

Ia hanya seseorang yang berdiri diluar garis

Menjadi penonton atas drama menyedihkan yang mereka suguhkan

.

Sekali lagi untaian benang itu tak dapat diterka

Bagaimana ia melilit dan menjerat setiap manusia

Bahkan meski kau menua

Semua itu tetaplah menjadi tanda tanya

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

... 8 tahun kemudian ...

.

.

.

Seorang dokter tengah melakukan operasi. Tangannya yang lentik dengan cekatan menjahit bagian yang tadi ia potong. Hanya perlu waktu dua jam untuk melakukan operasi yang biasanya dilakukan dalam tiga jam. Ia adalah primadona. Dokter bedah terbaik.

Selesai dengan operasi tersebut, ia membuka masker dan penutup rambut. Melemparkannya ke tempat sampah yang jaraknya lumayan jauh. Ponselnya berdering. Nama orang itu lagi-lagi tertera di layar.

Dokter berambut merah muda itu menempelkan smartphone miliknya ke telinga. Hanya selang dua detik, panggilan tersebut dimatikan.

"Orang ini, tahu sekali cara membuat moodku menjadi buruk."

.

Itachi tengah berada diruangannya. Ruangan itu sama sekali tidak berubah sejak 8 tahun yang lalu. Pemuda yang sudah tidak lagi muda tersebut duduk di sofa sambil memilah-milah sebuah majalah wedding organizer.

Pintu terbuka, tanpa permisi sang dokter merah muda duduk tanpa dipersilakan.

"Aku tahu kau pengangguran nomor satu, Itachi. Tapi kau memanggilku disaat yang tidak tepat. Apa maumu?" Sakura bertanya.

Itachi tidak menjawab. Pemuda itu mengkodekan telunjuknya kearah rambut, membuat sang lawan bicara mengernyit.

Lima detik lengang.

Sakura terbelalak. Ia segera merapikan rambutnya.

"Pilihlah salah satu. Aku akan mengatakan pada ibu."

"Kau menertawakanku?"

"Tidak. Aku hanya mempersiapkan saja. Sasuke terlalu sibuk, bukan?"

Sakura menunduk. Ia mengerti arah pembicaraan Itachi. Ini mungkin teguran yang kesekian kali. Itachi menyampaikannya dengan cara yang unik, hingga ia bahkan tidak bisa marah atau menamparnya.

"Sampai kapan kau akan terus mengharapkannya?"

Itachi bertanya lembut.

"Jangan menggantungkan harapanmu pada sesuatu yang sia-sia. Aku tahu kau perempuan baik. Banyak laki-laki yang mau menjadi pendampingmu, jika kau melepaskan Sasuke."

Sakura terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata. Logikanya mengatakan untuk mengikuti perkataan Itachi. Tetapi, egonya terlalu tinggi. Ia tidak siap melepaskan Sasuke. Hubungannya selama delapan tahun ini baik-baik saja, menurutnya. Setidaknya Sasuke tidak pernah memintanya menjauh meski tidak memberi ruang untuk menjadi lebih dekat.

Itachi memandang datar. Perkara lama belum sepenuhnya selesai, namun kini muncul perkara baru.

Sejak kepergian Hinata, Sasuke berubah. Pemuda yang patuh itu menjadi pembangkang. Memilih kuliah di luar negeri. Setelah lulus pun hidup mandiri bermodalkan menjual mobil kesayangannya. Hidup di kamar sewa hingga sekarang sudah menjadi seorang Presdir Real Estate.

.

Di sebuah gedung tingkat 3, beberapa orang menjabat tangan seorang Presdir muda. Presdir itu tersenyum ramah, mengantar kliennya hingga masuk kedalam mobil. Tetapi, ketika mobil itu menjauh, senyum di wajahnya pun luntur.

"Presdir, ada dua rumah yang harus anda kunjungi hari ini. Mau berangkat jam berapa?" Sang sekretaris, Jugo bertanya.

"Satu jam lagi."

Jawabnya dingin.

"Oh, anda mendapat telfon dari ibu anda kemarin. Beliau meminta anda untuk berkunjung dengan Sakura-san, malam ini."

Sasuke berlalu begitu saja.

.

Ia duduk di atas kursi, menyandarkan punggungnya yang lelah. Banyak hal yang menjadi bebannya selama 8 tahun terakhir. Rasa bersalah menggelayutinya. Bahkan, setiap kali ia memejamkan mata, drama percintaan Hinata dan Naruto lah yang ia impikan. Membuatnya tersiksa lagi dan lagi. Jika ia mengetahuinya sejak awal, ia akan mendorong gadis itu pada Naruto, bukan menariknya. Kesalahan yang ia lakukan saat itu, membuat banyak hati terluka. Naruto, Hinata, ia dan Sakura.

Ia harus segera mengakhiri semua, sebelum ia mencapai batasnya.

...

Di belahan bumi yang lain, tepatnya di negara China, Naruto tengah memimpin sebuah rapat. Pemuda itu tumbuh menjadi pria dewasa yang cerdas dan tampan. Kepribadiannya pun berubah. Ia menjadi ramah, membuatnya disukai banyak relasi. Tidak pernah ada yang tahu bagaimana sifat aslinya dan masa-masa kelamnya. Naruto menyembunyikan semuanya secara rapat.

Naruto kembali keruangannya. Mengendurkan dasi, ia berdiri memandang kepadatan ibukota.

Sekian tahun sudah berlalu. Dan ia berhasil untuk baik-baik saja. Masa-masa sulit itu, ia sudah melaluinya. Ia berhasil menerima kalu sang adik, Renata pergi bukan karenanya. Itu murni kecelakaan. Ia juga berhasil menerima kalau Hinata pergi bukan karena membencinya. Gadis itu pergi untuk masa depan mereka. Kebahagiaan masing-masing dari mereka. Tidurnya pun juga sudah nyenyak. Mimpi buruk itu sudah sirna. Hanya saja, akhir-akhir ini ia akan terbangun secara tiba-tiba di tengah malam. Dan tidak akan tidur sampai esoknya lagi. Padahal, Fugaku mengatakan, ia sudah sembuh. Naruto juga yakin tidak memimpikan apapun. Hanya saja, ia merasa gelisah tanpa sebab.

"Cobalah untuk mengambil cuti dan liburan, siapa tahu kau buruh hiburan."

Begitulah isi nasihat Fugaku lewat telepon.

Naruto menyetujuinya. Hari ini adalah hari terakhir sebelum ia cuti panjang. Ia akan berlibur ke kota Paris.

...

"Bagaimana dengan yang ini? Apa Anda suka?"

"Uhm, aku suka. Aku ingin ditambahkan beberapa dekorasi disini, apa kau bisa?"

"Tentu, apapun yang kau inginkan."

"Bagaimana dengan gaunnya? Apa sudah menentukan? Terakhir kali saya memberikan beberapa rekomendasi untuk Anda."

"Aku lupa, maaf. Aku terlalu sibuk. Bisakah kau pilihkan yang menurutmu cocok? Aku tahu kau ahli disini."

"Maksud Anda?"

"Bisakah kau mencobanya dan mengirimkan fotonya padaku? Kalau kau cocok, pasti aku akan memilihnya, apapun itu."

Pasangan calon pengantin itu pergi dari kantornya.

Hinata menghela nafas. Kali ini, ia harus bekerja ekstra.

Pintu diketuk. Sang sekretaris masuk. Gadis berambut pirang itu masuk dengan raut wajah masam. Memberikan beberapa dokumen tanda terima yang harus Hinata tanda tangani.

"Cobalah untuk tersenyum. Kalau aku rugi, kau orang pertama yang aku tendang dari sini, Shion."

Kata Hinata pelan dan tegas.

"Harusnya kau tidak menerimanya, dan memilih klien lain. Kenapa kau memilihnya?"

"Karena aku ingin?"

Shion berdecak, kemudian mengambil dokumen yang sudah sang presdir tanda tangani secara kasar. Hinata sungguh sulit untuk ditebak.

Barus saja menutup pintu, tiba-tiba kepala Shion menyembul.

"Aku akan buat janji. Konfirmasi jam berapa Presdir mau pergi."

Hinata tersenyum, ia mengemas dokumen-dokumennya. Hingga sebuah dering menyita perhatian.

"Oh, masih ada pekerjaan setelah ini."

"Begitukah? Baiklah kalau begitu."

.

Jalanan lumayan lengang. Jam kerja memang demikian, tidak banyak orang yang berlalu lalang. Masih terlalu dini pula untuk para penyaji seni jalanan unjuk gigi. Seseorang itu berdiri sambil mengayunkan kakinya santai di depan sebuah butik. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku dengan sesekali melirik jarum jam di dalam butik yang memiliki kaca transparan.

Sebuah mobil BMW berwarna Silver berhenti di depannya. Pemiliknya keluar, berdecak akan ulah pria yang sudah tidak lagi muda itu.

"Kenapa tidak tunggu di dalam?"

"Menantimu, mungkin."

Hinata melengang begitu saja diikuti sosok pria berambut hitam cepak di belakang.

"Selamat datang."

Seorang pelayan menyambut mereka.

"Kau kelihatan bahagia, eh?" Pria itu mencibir. Membuat Hinata yang sedang memilih gaun pengantin menghentikan gerakan.

"Kau berharap aku terus meratap dan datang padamu? Ayolah, jangan bercanda di saat matahari masih terik diatas."

"Kau berubah banyak, Hinata."

"Kecewa, eh?"

Hinata mendapatkan gaun yang ia inginkan. Gadis itu memberikan pilihannya dan bersiap mencoba.

"Kalau ada yang ingin kau katakan, kau memilih waktu yang tidak tepat."

Hinata memasuki ruang ganti, menutup tirai.

SREKKK

Pria itu membuka paksa tirai tersebut. Kedua bola mata Hinata mendelik tidak suka.

"Kapan kau akan memberinya jawaban? Aku sudah tidak sabar menggendong keponakan."

SREKKK

SETT

Hinata tidak bisa menarik tirainya. Pria itu tersenyum miring, menanti jawaban dari sang gadis.

"Lepaskan tanganmu, Shishui!"

SREKKK

"Temperamennya buruk," gumam Shihui

"Aku mendengarmu!"

Pria yang seusia dengan Itachi itu mengerucutkan bibir.

.

Jarum jam terus berputar. Sudah sekitar lima belas menit berlalu, namun Hinata belum keluar dari dalam sana. Shishui melihat jarum jam yang melingkar di lengan kanannya. Ia masih ada janji bertemu pasien lain setelah ini. Baru saja ia berdiri, tiba-tiba tirai itu terbuka.

"Bagaimana?"

"..."

"Shishui?"

"..."

"Uchiha Shishui-san?"

"Eh!"

Hinata memutar mata bosan. Ia tidak mengundang Shishui datang hanya untuk melihatnya terpana. Ia butuh pendapat dan orang yang memiliki kemampuan itu adalah dia. Karena jika Shion yang ikut, pemilihan gaun tidak akan pernah selesai dalam waktu satu hari.

"Kau terlihat bagus dengan apapun yang kau kenakan, Hinata."

"Anda calon pengantin pria?"

Sang pelayan bertanya.

"Aku harap seperti itu, tapi sebelum aku ingin dia sudah pasti—"

Shisui mengarahkan jempolnya ke leher, memberi sebuah isyarat membunuh.

.

"Kudengar malam ini kalian akan makan malam bersama."

Shishui berdiri di samping mobil Hinata.

"Begitulah."

"Aku harap kau tidak mengecewakan. Ingat apa yang sering aku katakan padamu."

"Aku tahu, aku tahu."

Hinata menghidupkan mobil.

"Oh ya, sudah dengar kabar—"

"Apa?"

"Eh? Tidak jadi."

Hinata pun pergi begitu saja. Meninggalkan Shishui yang kembali menelan kalimatnya. Sungguh, ia datang menemui Hinata hanya untuk menyampaikannya. Bukan bicara tidak jelas seperti tadi. Pria itu pun merutuki bibirnya.

.

Bandara International Paris, Charles de Gaulle. Naruto mendorong kopernya sendirian. Mengenakan kemeja berwarna biru muda yang digulung, celana hitam sedikit cantung, dan kacamata Hitam. Cuaca bulan Maret di Paris cukup bersahabat. Naruto tersenyum memikirkan sederet kegiatan dan tempat yang ingin ia kunjungi.

Pria itu memberhentikan taxi. Meminta sang supir untuk mengantarnya ke hotel yang sudah ia pesan.

Ia menurunkan jendela, menikmati suasana kota. Banyak tempat-tempat unik. Benar yang dikatakan orang, Paris adalah tempat yang indah.

Lampu merah menyala. Taxi yang ia tumpangi berhenti di barisan paling depan tepat di samping sebuah mobil BMW berwarna Silver.

Gadis bermata Ametyhs itu melirik, masih butuh 45 detik lagi sebelum lampu hijau menyala. Dan ketika lampu hijau sudah menyala, taxi dan mobil tersebut berbelok ke arah yang berbeda.

.

Naruto tengah menghimpit ponsel diantara telinga dan pundak, satu tangannya merapikan beberapa pakaian ke lemari. Suara sang ibu berdenging, terlalu khawatir sampai menelfonnya lebih dari 100 kali hanya dalam waktu sekian jam. Ia hanya ke Paris selama satu minggu. Bukan untuk menetap di sana, tapi sang ibu bertingkah seolah-olah anaknya akan melakukan aksi bunuh diri.

"Iya, bu."

Percakapan itu ia sudahi sepihak. Pembicaraan itu memang harus ia akhiri atau waktunya akan terbuang percuma.

Merasa lapar, ia segera berganti pakaian. Malam ini ia akan melakukan kuliner. Menghabiskan beberapa lembar uang dan kalau tidak lupa ia akan membeli beberapa untuk di bawa ke hotel.

.

Di depan sebuah cermin besar, Hinata berputar. Memastikan bahwa penampilannya malam ini adalah yang terbaik. Tinggal satu polesan di bibir maka akan sempurna. Jari jemari lentiknya menyisir meja rias, memilah warna apa yang sesuai dengan gaun yang ia kenakan. Pilihannya ada pada lipstik berwana Pastel, namun langkahnya terhenti begitu saja tatkala melihat lipstik bewarna Merah yang bersanding di samping warna Pastel.

Bibirnya tersenyum. Sungguh ia sangat merindukan saat itu. Saat dimana Naruto berada disampingnya dan hanya menatapnya. Jika boleh jujur, ia begitu merindu. Atas alasan inilah ia belum bisa memberikan jawaban padanya. Padahal ia tahu kalau Naruto belum tentu mencintainya. Harapan semu belaka.

"Naruto-kun, jika diberi kesempatan, sekali saja aku ingin mengutarakan semua ini dan mengakhirinya. Maka jika kelak kita bertemu lagi, kita bisa berdiri dan memandang dengan saling baik-baik saja."

.

"Sudah lama menunggu?" Sapa Hinata pada seorang pria berambut merah.

"Tidak, aku baru saja datang."

Jawab sang pria.

"Mau langsung pesan sesuatu?" tanya sang pria dan Hinata hanya mengangguk.

Keheningan menyita. Tidak ada lagi yang bicara. Keduanya begitu canggung. Hinata tidak tahu harus berkata apa sedangkan pria di depannya memang tidak banyak bicara.

"Hinata/Gaara,"

Kata keduanya bersamaan.

Keduanya saling menatap, mengkodekan sang lawan untuk memulai pembicaraan terlebih dulu. Mereka terus seperti itu hingga sebuah senyum mengembang di kedua belah bibir keduanya. Mereka terawa renyah.

Sementara di restoran yang sama, Naruto tengah menikmati makanannya di balkon. Sebenarnya bukan kali pertama ia memakan masakan Perancis, namun menikmatinya di situasi seperti inilah yang baru kali pertama. Menyesap winenya, ia menghela napas. Akan sangat menyenangkan jika duduk disini bersama Hinata. Gadis itu, sudah lama ia tidak mengikuti kabarnya. Ia penasaran bagaimana keadaannya sekarang.

"Aku permisi ke toilet."

Kata Hinata.

Naruto hendak keluar dari sana, bertepatan saat Gaara berdiri. Pemuda yang memiliki iris berbeda itu saling menatap. Mata Gaara terbelalak.

"Naruto!"

"Sudah lama tidak melihatmu sejak upacara kelulusan di Harvard. Bagaimana kabarmu?" Gaara menepuk pundaknya.

"Aku baik."

"Kau sedang berlibur? Kenapa tidak memberi kabar? Aku tinggal di Paris."

"Ini mendadak. Perusahaan memaksaku cuti."

"Sendirian?"

"Seperti yang kau lihat ..."

Naruto menengadahkan kedua tangan sambil mengangkat kedua bahu dan satu alis. Membuat senyum datar tercetak di wajah Gaara. Ia mengenal betul Naruto. Mereka dekat di waktu yang cukup lama.

"Gaara, maaf. Aku harus pergi."

"Kita baru saja bertemu."

"Kurasa kau sedang tidak sendirian. Akan sangat aneh kalau aku tiba-tiba datang dan merusak suasana."

"Benar. Aku akan mengundangmu secara pribadi lain kali. Akan kuperkenalkan kau pada seseorang."

Sambung Gaara disertai senyum datarnya.

Keduanya bertukar nomor. Saling menepuk bahu menyemangati.

Dan tepat saat Naruto sudah benar-benar keluar Restoran, Hinata datang dengan langkah sedikit tergesa. Gadis itu menggerutu karena gaunnya terkena cipratan air.

.

Konoha 08:00 AM

Musik santai mengalun merdu di cafe yang baru buka. Dua cangkir kopi dan satu Sandwich sudah tandas. Sosok yang ia tunggu belum datang. Ia mengerti kalau perempuan itu marah karena mengabaikan pesan dan telfonnya semalam. Apalagi undangan sang ibu, hanya perempuan itu yang hadir.

Pintu terbuka, suara lonceng berbunyi. Sakura duduk di depan Sasuke. Ekpresinya datar sulit dibaca.

"Alasan apa lagi kali ini, Sasuke?"

"Tidak perlu ada alasan, kau tahu aku tidak memiliki alasan untuk aku katakan lagi padamu."

Sakura menahan napas sejenak. Delapan tahun mendengar penuturannya ia masih belum terbiasa.

"Ibu ingin kita mempercepat pertunangan."

Jelas Sakura tiba-tiba. Sasuke terbelalak.

"Jangan bercanda denganku."

"Kau yang bercanda denganku."

Hening. Lima menit lengang.

"Sakura ..."

Panggilnya lembut. Sakura hampir saja terbuai dengan panggilan itu kalau tidak—

"Kita sudahi hubungan kita."

DEGH

"Kenapa?"

"Kenapa kau seperti ini?" tanya Sakura kali kedua.

"Aku minta maaf. Dan kurasa tidak ada lagi yang bisa aku jelaskan padamu, kau pasti sudah tahu tanpa perlu aku jelaskan, bukan begitu?"

Mata Sakura berkaca-kaca. Gadis itu hampir menangis. Ia menoleh, menggibaskan tangan dan tertawa. Ia tahu hal seperti akan terjadi, hanya saja ia tidak menyangka kalau hari ini adalah harinya.

"Hei, kau pikir aku akan menangis? Uchiha, aku sudah tahu kau pasti akan melakukannya."

"Aku sungguh minta maaf. Harusnya aku melakukan ini sejak lama."

"Tidak perlu—"

"Sakura ..."

"Aku harus pergi. Masih ada janji setelah ini. Kuharap kau tetap mengaktifkan ponselmu. Aku akan datang jika kau ingin meminjam bahuku untuk menangis. Maafkan aku."

Sasuke pun melenggang pergi, karena ia tahu Sakura pasti sangat terluka. Delapan tahun adalah waktu yang cukup untuk memahami kepribadian perempuan itu. Dan disaat seperti ini ia yakin Sakura pasti ingin sendirian. Dan yang bisa ia lakukan setelahnya adalah menawarkan sandaran. Setidaknya itu adalah kalimat dan tindakan tulusnya pada Sakura untuk kali pertama dan terakhir.

Sakura meneteskan air mata. Dokter muda itu menangis. Sasuke begitu egois, pikirnya. Harusnya pria itu tidak mengulurkan tangan jika pada akhirnya akan dilepaskan. Padahal ia sudah berjuang, namun di hati Sasuke hanya ada satu Primadona yaitu Hinata. Ia tidak pernah bisa menggeser posisinya atau bahkan menggantikan posisinya.

Masalahnya dan Sakura selesai. Pagi itu juga, Sasuke bertolak ke Paris. Ia tahu Hinata ada disana. Jadi ia akan mengakhirinya. Meminta maaf dan melepaskan semua bebannya.

.

Esoknya, pagi-pagi buta Naruto sudah bangun atau lebih tepatnya ia tidak bisa tidur. Matanya otomatis terbuka dini hari pukul dua. Masih terlalu dini untuk lari pagi. Selama waktu tunggu itu, ia menghidupkan televisi. Menonton berita pagi dan beberapa Drama yang disiarkan ulang. Hingga fajar pun menjelang.

Ia bersiap. Mengenakan kaos oblong bewarna Putih, celana training sedengkul dan jaket adidas bewarna Navy serta sepatu Energy Cloud 2.0 bewarna Hitam. Tidak lupa membawa dompet dan earphone yang ia sambungkan ke dalam ponsel.

.

Pagi itu, Hinata melakukan rutinitasnya. Bersepeda di jalanan kota menuju menara Eiffel adalah hal menyenangkan selama ia tinggal disini. Butuh waktu lima belas menit dengan kecepatan sedang dan dua puluh lima menit dengan kecepatan lambat.

Di depan menara, Naruto melakukan pendinginan. Peluh menetes membanjiri wajah dan sekujur tubuhnya. Membuat rambutnya basah dan berantakan. Jarinya menyisir asal. Sekiranya cukup, ia menghampiri sebuah minimarket yang terletak tidak jauh dari sana. Duduk di kursi panjang sebelah kiri minimarket yang menghadap keluar sambil menikmati mie dan kopi instan.

Hinata memarkir sepedanya di area kanan minimarket yang sama. Gadis itu masuk, melangkah melewati belakang Naruto untuk mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin.

"Hari ini lebih pagi."

Sapa sang penjaga minimarket.

"Aku mengayuhnya lebih cepat."

Hinata meneguk airnya sebelum dibayar.

"Tidak makan sesuatu?"

Hinata mengeluarkan beberapa koin.

"Belum berselera. Perutku sedikit bermasalah akhir-akhir ini."

"Sesekali ambillah hari libur."

"Inginnya begitu."

Hinata mengambil struk kemudian berlalu tepat saat Naruto berdiri dari tempat duduknya.

.

Ia memandang ke luar jendela. Taxi yang ditumpangi berjalan lambat karena jalanan mulai macet. Banyak orang berangkat kerja. Naruto menopang dagu. Matanya menerawang ke luar sana. Hingga secara kebetulan netranya melihat sebuah bayangan yang sangat ia rindukan. Indigo itu melambai saat berbelok di tikungan. Naruto keluar taxi. Mobil-mobil mengklakson, Naruto kalang kabut. Menghiraukan sang supir taxi yang berteriak.

"Hinata," rapalnya dalam hati.

Sosok itu mengayuh sepeda dengan cepat. Naruto berlari sekuat tenaga.

"Hinata!"

Teriaknya menyita perhatian.

BEEP BEEP BEEP

Ponselnya berdering. Naruto masih mengejar sosok itu.

BEEP BEEP BEEP

Ponselnya semakin bergetar. Langkah Naruto gontai, ia berhenti mengejar sosok itu. Napasnya tidak beraturan. Di gesernya tombol hijau di layar ponselnya.

"APA?" teriak Naruto

"..."

"Jangan bercanda denganku."

"..."

"Kau tuli?"

Panggilan ia putuskan. Matanya kembali memandang ke depan, mencari sosok gadis yang telah lama ia rindukan. Menyadari sesuatu, ia mengusap wajahnya gusar. Semua hanya halusinasi, pikirnya. Hinata tidak mungkin berada di Paris karena selama ini yang ia tahu keluarga Hyuuga menetap di Belanda, meski ia tidak pernah memastikan apakah kabar itu benar atau tidak.

.

Hinata menghentikan laju sepedanya. Telinganya tidak tuli untuk tidak mendengar teriakan itu. Suara baritone nan berat itu adalah miliknya. Hanya dia yang memanggil namanya dengan nada seperti itu. Penuh kerinduan sarat akan luka. Hinata menoleh ke belakang. Sebagian hatinya ingin kembali, memastikan apakah itu benar adalah Naruto. Namun separuhnya menolak. Ada kekhawatiran sendiri yang tidak bisa ia terjemahkan. Ia masih belum siap bertemu dengannya. Lebih tepatnya belum siap mengkahiri semua meskipun ingin.

"Naruto-kun."

.

Gaara memandang ponselnya bingung. Ia yakin betul kalau yang barusan ia hubungi adalah Naruto. Tetapi mendengar bentakan barusan ia jadi bertanya-tanya. Naruto yang ia tahu tidak seperti itu.

.

Ranjang bergoyang. Tubuh atletis itu ambruk begitu saja. Satu lengannya menutupi tangan. Menyembunyikan netranya yang berkaca-kaca.

"Bagaimana mungkin ini terjadi padaku? Harusnya aku sudah baik-baik saja. Kenapa ini masih terasa sakit? Kenapa, Hinata?" gumamnya sendu.

Naruto pun meringkuk, memejamkan mata dan menekan semua perasaan yang hampir saja meluap.

Pintu hotel diketuk. Naruto membuka matanya. Ia mengusap wajahnya asal dan membuka pintu. Sebuah surat ia terima, tertanda Sabaku Gaara. Sebuah undangan pesta.

Sedangkan di tempat lain, Hinata tidak fokus bekerja. Beberapa kali ia melakukan kesalahan. Mata Shion memicing, menyelidik apa yang sebenarnya terjadi pada sang Presdir.

"Aku mau keluar sebentar."

Hinata permisi dengan membawa kunci mobil. Ia butuh udara segar. Memacu mobilnya keluar kantor, ia tiba di sebuah kedai kecil. Kedai Rameen yang sangat terkenal di kalangan masyarakat kalangan bawah. Gadis itu memesan Rameen ekstra pedas. Memakannya lahap hingga tetesan demi tetesan liquid menetes dari Amethys-nya.

"Bibi, ini uangnya."

Tepat saat ia keluar kedai, tubuhnya ditabrak oleh seseorang. Hinata berojigi.

"Hinata?"

"Eh?"

Amethys-nya membola. Uchiha Sasuke berdiri dengan mata yang sama membolanya. Napas Hinata tercengat. Lidahnya kelu tidak tahu harus berkata apa.

"Hei ..."

"Ah, sudah lama tidak bertemu, Hinata."

"Begitukah?"

Hinata tersenyum kikuk. Mata Sasuke berubah pancaran. Rasa lega menyelubungi hatinya. Hinata sudah baik-baik saja, pikirnya.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Hinata.

"Aku? Baik. Sangat baik." dustanya.

"Datang untuk berlibur?"

"Uhm, ya. Berlibur. Aku memang sedang berlibur."

"Begitu rupanya."

Jawab Hinata

"Mau pulang?" tanya Sasuke

"Aku harus kembali ke kantor. Senang bertemu denganmu, Sasuke."

Hinata pamit namun Sasuke mencekal pergelangan tangannya.

"Boleh aku minta kontakmu? Ada yang harus aku bicarakan."

.

Hinata memijit pelipisnya. Pertama Gaara, kedua Naruto dan ketiga Sasuke.

Dulu, saat ia pertama kali merintis karir ia berkenalan dengan Gaara lewat Shishui, Dokter yang menanganinya. Ia tidak menyangka kalau Temari memiliki adik kecil yang tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya. Gaara hidup bersama kakek dan neneknya di Perancis. Kuliah di Amerika dan setelah lulus kembali ke Perancis.

Pemuda itu juga penyokong dana Wedding Organizer miliknya saat itu. Mereka sering bertemu untuk membahas pekerjaan dan semakin hari lebih sering bertemu. Gaara tidak banyak bicara namun humoris. Di dekatnya ia bisa melupakan sejenak beban masa lalunya. Pria itu bagaikan setetes air di padang yang tandus. Namun ia tidak pernah berpikir menjadikannya kekasih. Baginya Gaara adalah sosok teman, seperti Shishui. Tidak lebih.

Namun seminggu yang lalu pemuda itu mengutarakan suka padanya. Hal itulah yang membuat dirinya sedikit canggung. Terlebih, perasaannya tidak bisa dipaksakan. Meski ia ingin sekali mengakhiri, nyatanya cintanya pada Naruto tidak pernah luntur. Pemuda Namikaze itu berhasil mendirikan kastil di hatinya. Jadi ketika ia mendengar suara Naruto, ia ingin sekali berbalik, menerjang dan menciumnya. Meski hanya satu menit, ia ingin melakukannya. Karena setelahnya ia tidak akan pernah memimpikan hal itu lagi.

Dan untuk Sasuke, ia merasa bersalah padanya. Dulu ia selalu bersandar pada pemuda itu. Lari ke pelukannya saat Naruto mulai menyakiti. Pria itu ada disaat terburuknya, memerhatikannya dengan cara yang berbeda dari Naruto. Bahkan ia pergi tanpa berucap maaf dan terimakasih. Ia sungguh egois.

Kepala Hinata semakin pening. Hari ini ia putuskan untuk pulang lebih cepat.

.

"Kudengar kau sakit. Apa kau baik-baik saja? perlu aku antar ke dokter?"

Gaara mengekorinya dari tempat parkir. Entah sejak kapan pria itu ada disana. Ia yakin Shion pasti memberitahunya.

"Aku perlu istirahat."

"Baiklah. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu. Kau harus sehat untuk bisa datang ke pestaku."

Kata Gaara sebelum beranjak.

Benar, pesta ulang tahun Gaara. Hinata hampir melupakannya.

.

Sasuke cek in di hotel yang sama dengan Naruto. Pemuda itu memasuki lift sebelah kanan bertepatan saat Naruto keluar dari lift sebelah kiri.

Naruto keluar hotel. Pria itu butuh udara segar untuk menjernihkan pikirannya yang tiba-tiba saja teringat akan Hinata. Ia berlibur bukan untuk merenung atau bernostalgia, melainkan menghilangkan penat.

Seharian itu Naruto habiskan dengan berjalan-jalan. Mengambil beberapa potret yang menurutnya bagus. Hingga malam pun menjelang. Ia mulai beranjak dari tempat duduknya untuk berjalan kembali ke Hotel.

Di sebuah Apotek, seorang gadis mengenakan masker dan penutup kepala membeli beberapa obat. Bisa saja ia menghubungi Shisui atau Gaara, tetapi ia tidak ingin membuat mereka khawatir lantas mencurigainya.

Beberapa lembar uang ia berikan.

Sepanjang perjalanan, Naruto memandangi hasil jepretan yang ia ambil. Menghapus beberapa dan menyisakan yang bagus saja. Ia kembali mengarahkan lensa kamera ke depan. Lampu-lampu mulai menyala. Begitu indah bagaikan magis.

Ckrek ...

Degh ...

"Hinata?" gumamnya.

Sapphire itu mengedar, kakinya mulai mengejar sosok berambut indigo itu. Hinata yang memang sedang berkutat dengan batinnya, tidak menyadari Naruto mengerjar kalau tidak secara tiba-tiba sebuah tangan menariknya.

Topinya terlepas.

Indigo itu melambai.

Degh ...

"Hinata?" panggilnya merdu.

Sett ...

Hinata menarik tangannya namun Naruto mencengkeramnya kuat.

"Kau Hinata, bukan?"

Hinata masih berusaha menarik tangannya namun secara kasar Naruto menarik maskernya. Gadis itu pun terpana. Perlakukan laki-laki itu tidak pernah berubah sedikitpun. Begitu posesif dan kasar.

"Kenapa kau ada disini? Bukankah mereka bilang kau berada di Belanda?" tanya Naruto.

"Aku memang berada disini. Apa itu masalah untukmu?" jawab Hinata sinis.

"Hinata ..."

"Lepas!" ia menarik tangannya. Di sentuhnya lengannya yang memerah akibat ulah Naruto.

"Itu ... maafkan aku. Aku tidak sengaja, sungguh."

"Kau tidak pernah berubah."

Hinata menatap nanar mata Naruto, sarat akan kecewa dan merindu.

"Hinata, ini tidak seperti yang kau—"

"Cukup. Aku harus pergi."

Kata Hinata namun pergelangan tangannya lagi-lagi dicekal.

"Kita harus bicara."

Tegas Naruto.

.

Di sebuah Cafe kecil, keduanya saling berhadapan. Teh hangat masih mengepul namun tidak ada satupun yang menyentuhnya. Keduanya terlalu sibuk menyelami netra masing-masing. Mengulik perasaan apa sebenarnya yang berada di mata mereka.

Tangannya mengepal, Hinata berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis dan menerjang ke dalam pelukan laki-laki itu.

Setelah sekian lama, akhirnya mereka bertemu. Hinata tidak pernah menyangka pertemuan mereka akan terjadi seperti itu. Naruto berubah banyak. Laki-laki itu memangkas rambutnya, memperlihatkan garis tegas rahangnya. Nada bicaranya pun berbeda, seperti sedang menahan luapan yang ia tidak tahu apa itu. Sementara mata Sapphire-nya masih sememesona dulu. Begitu jernih dan menggoda.

"Hinata ..."

Panggilnya merdu.

Kedua tangan Hinata yang di sembunyikan di bawah meja pun bergetar. Panggilan itu, panggilan dengan suara berat dan penuh akan racun memuja itu, ia merindukannya.

"Bagaimana kabarmu?"

"..."

Hinata diam. Rasanya ia semakin ingin menangis.

"Apa kau baik-baik saja?"

Bagaimana hidupmu dan apa pekerjaanmu sekarang?"

Hinata menggigit bibir dalamnya. Menelan rasa getir untuk kembali masuk dalam kerongkongan.

"Aku ... baik. Hidupku baik, bahkan sangat baik. Aku juga sudah bekerja sekarang."

"Syukurlah," Naruto tersenyum sendu.

"Bagaimana denganmu?" tanya Hinata.

"Menurutmu?" tanya Naruto tersenyum sumbang.

"Kau terlihat bahagia."

"Begitukah? Aku harap juga begitu."

Hening. Dua menit lengang. Tidak ada lagi yang bicara.

"Naruto ..."

"Ya?"

"Apa kau membenciku?"

"Aku tidak punya alasan untuk itu."

"Tapi saat itu aku ..."

"Ah, apa kau mau pesan sesuatu? Aku lapar."

Naruto mengalihkan pembicaraan. Membuat Hinata menelan kembali segala perkataannya. Padahal laki-laki itu yang ingin bicara, tetapi kini malah ia yang digiring untuk bicara padanya. Ia tidak tahu sejak kapan Naruto memperlajari hal itu, tetapi kalau boleh jujur ia menyukainya. Perubahan kecil ini ia begitu menyukainya.

Selama makan malam itu, Naruto banyak bicara. Sesekali Hinata terkikik geli dan menanggapi. Keduanya tertawa bersama. Tidak ada yang membahas masa lalu. Untuk sejenak, biarkan kedua insan itu berinteraksi tanpa terbayang-bayang akan masa lal.

"Terimakasih atas makanannya."

Hinata berojigi.

"Aku tidak menginginkan kata terimakasih, Hinata."

"Eh?"

"Oh, lihat itu ..."

Naruto terbelalak sambil menunjuk ke depan, Hinata pun berbalik.

Cuph

Sebuah kecupan manis mendarat di pipi kanan Hinata. Gadis itu terbelalak. Naruto baru saja menciumnya.

"Begitu caranya berterimakasih, Hinata."

Tanpa pamit, laki-laki itu pergi. Meninggalkan Hinata yang terpaku di tempat. Gadis itu tidak berani menoleh. Ia masih dalam keadaan linglung dan shock. Hingga ketika kesadarannya terkumpul, Naruto sudah tidak berada disana.

"Bagaimana ia pergi begitu saja?"

Beep beep

Ponselnya bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal baru saja mengirimkan sebuah pesan.

Naruto : mencariku, eh?

Wajah Hinata memerah. Ia meremas ponselnya kuat. Menaikkan jaket hodienya dan lari berlalu dari sana. Sungguh memalukan.

Sementara di balik sebuah gang, Naruto tersenyum. Laki-laki itu memutar ponselnya seraya mengamati Hinata yang berlari bagaikan anak ayam.

"Dia melupakan obat sakit kepalanya."

Gumam Naruto mengamati kantung kecil di tangan kirinya.

.

Gadis itu meloncat ke dalam ranjang Queen size miliknya. Menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Kejadian di depan Cafe tadi cukup memalukan. Padahal ia sudah menahan segalanya, namun Naruto malah menarik pelatuk. Membuat dirinya hampir saja meledak. Hatinya membuncah. Perasaan bahagia itu kembali menggerayanginya.

Beep beep

Satu pesan masuk. Hinata membukanya. Sasuke meminta bertemu. Ia yang awalnya rebahan menyamping, tengkurap. Dengan cekatan ia membalas pesan Sasuke menyetujui pertemuan itu.

.

"Maafkan aku," kata Sasuke sambil menunduk. Sebelumnya mereka berjanji bertemu disini, disebuah Cafe kecil yang berada di pinggir kota. Suasana yang memang sudah hening, menjadi kian membisu lantaran tidak ada kata yang terucap dari mulut sang gadis.

Ia meremas roknya pelan. Kalimat itu bukanlah kalimat yang ia inginkan setelah sekian lama mereka tidak bertemu.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, kau tidak salah disini." Hinata menanggapi dengan kepala dingin.

"Harusnya saat itu aku mendorongmu, bukan menarikmu untuk jauh darinya. Aku begitu bodoh, maafkan aku."

Pandangan Hinata menyendu, ia mengerti apa maksud pria itu.

"Aku tidak akan berada disini jika dulu kau tidak pernah menarikku."

Tanpa kau, aku pasti masih disana. Memendam semua perasaanku dalam kebisuan. Jadi jangan meminta maaf karena akulah yang seharusnya meminta maaf. Karena keegoisanku, kau terluka. Karena perasaanku padanya, kau harus menderita."

"Hinata ..."

"Aku tahu, Sasuke. Aku tahu. Perasaanmu, aku tahu."

Pemuda itu terlonjak. Matanya membulat tidak percaya akan pengakuan Hinata.

"Karena aku tahu, maka dari itu aku memilih pergi."

"Tanpa pamit?"

"Aku tidak ingin meninggalkan apapun. Aku sudah terlalu banyak melukaimu."

"Keu .. egois, Hinata ..." kata Sasuke dengan penuh luka. Ia tidak tahu kalau Hinata mengerti selama ini. Jadi ketika bibir itu berucap, "Aku tahu." ia benar-benar terdiam. Hinata tidak pernah memberi kesempatan padanya. Bukan, melainkan tidak mau.

Sasuke tertawa sumbang. Benar, tujuannya kesini bukan untuk meraihnya melainkan mengakhirinya.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Tidak ada. Aku hanya heran bagaimana mungkin aku jatuh hati pada gadis sepertimu dulu." Dustanya.

"Jadi kau ingin mengatakan kalau aku tidak pantas dicintai?"

"Tentu aku tidak bermasud begitu, nona ..." Sasuke mengusap matanya yang mengeluarkan air mata. Sementara gadis di depannya merajuk. Bibirnya mengerucut sebal. Oh, Sasuke tidak ingin melewatkan satu detik pun. Untuk hari ini, biarkan seperti ini. Hanya ada dia dan Hinata seorang. Setelahnya, ia akan bangun dan bersumpah tidak akan memimpikan atau mengharapkan gadis itu lagi.

.

Setumpuk dokumen terabaikan. Tangan yang biasa menandatangani dokumen penting itu memilih menekan-nekan layar touch di ponsel. Di sebelah kiri, belum ada sepuluh dokumen yang ia selesaikan.

Bibirnya tersenyum. Entah apa yang ia baca di sana.

Dering telepon menyadarkannya. Sebuah suara berat penuh canda menyapanya, mengingatkan akan janji penting mereka malam ini.

Satu notifikasi pesan muncul. Tanpa banyak basa-basi, ia menyambar mantel. Melenggang keluar kantor meninggalkan dokumen bernilai ribuan Dollar.

Di depan, pria itu sudah berdiri. Sebuah senyum tersungging di bibir manisnya.

"Aku tahu tempat paling menarik di sini." Sombongnya ketika mereka berada dalam perjalanan.

Entah apa yang Hinata pikirkan, ia tidak berpikir dua kali kerika pria itu mengajaknya keluar. Bahkan ia tidak bertanya akan diajak kemana ketika dirinya sudah berada di peron.

"Cepat, cepat," ajaknya tidak sabaran.

Sudah berjam-jam mereka di sana, duduk berdua di dalam sebuah kereta yang tujuannya entah kemana. Hinata duduk tegang, sementara Naruto terus memandang keluar. Tidak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya. Sapphire-nya begitu kelam, kontras dengan segala perubahan sikapnya. Yang ia tahu, Naruto bukan tipe periang. Bukan juga tipe romantis yang mengumbar kata manis seperti yang dilakukannya akhir-akhir ini.

"Apa yang kau lihat?" tanyanya saat sadar diperhatikan.

"Tidak ada."

Benar. Ia tidak seharusnya tahu apa yang Naruto pikirkan. Hanya perlu jalani dan mengakhiri. Seperti apa yang Sasuke ajarkan padanya tempo hari lalu.

"Wuah ... bagaimana kau menemukan tempat ini?" Hinata takjub melihat pemandangan di depannya.

Pedesaan yang dihangati sinar matahari menyempurnakan pemandangan klasik yang diwarnai sapi ternak, kebun anggur, bahkan gunung berapi; Auvergne. Hinata tidak pernah tahu kalau tempat seperti ini benar-benar ada di Perancis.

Menaiki sebuah mobil kuno, keduanya menelusuri Auvergne. Melewati menara tua dari abad pertengahan. Perjalanan keduanya disempurnakan saat menyantap makan siang di bukit desa.

"Kau menyukainya?" tanya Naruto menopang dagu, memerhatikan Hinata yang menikmati makan siangnya sambil mangangguk, "Uhm."

"Setelah ini kita pulang." Pria itu beranjak namun sebuah tangan menariknya, mata bulat itu memohon. Membuatnya tidak tega untuk berkata tidak.

Gadis itu menyeretnya. Memaksanya melihat proses pembuatan keju dari susu sapi. Hari sudah lewat siang, jika tidak segera beranjak maka mereka harus menunggu besok pagi untuk bisa mendapatkan kereta.

"Hinata ..." panggilnya mencoba memeringati.

"Tiga puluh menit lagi, aku mau kejunya, Naruto."

"Kau bisa membelinya."

"Tapi aku mau yang itu."

Pria itu menghela napas lantas tersenyum. Sikap Hinata yang satu ini tidak berubah. Sikap manjanya, ia masih menyukainya. Gadis itu selalu mendebatnya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Kekanakan, padahal mereka sudah dewasa.

"Naruto ..." panggil gadis itu ketika mereka menunggu kereta di Peron.

"Hn."

"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Hinata. Naruto memandang datar, memberikannya izin untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan.

"Apa kau masih menyimpan suratku?"

Degh ...

Hening. Pandangan Naruto berubah. Sapphire itu berpaling, sementara kedua tangannya mengerat di dalam saku. Jangan membahas hal itu— teriaknya dalam hati. Namun kaki mungil itu malah mendekat. Naruto terus merapalkan kalimat yang sama hingga ia tidak sadar kalau Hinata sudah berdiri tepat dihadapannya. Gadis itu menyentuh wajahnya, memaksa untuk melihat langsung ke dalam mata Amethys-nya.

"Naruto ..."

Sejak kapan—

"Ini memang luka. Semua yang bersarang di hatiku adalah luka. Namun itu adalah pilihanku. Melihat senyummu, aku bahagia. Jadi luka ini tidaklah seberapa daripada apa yang kau rasakan," katanya lembut.

Kalimat itu—

"Aku bukanlah obat penyembuh dan aku bukanlah peri yang bisa mengabulkan segala keinginanmu."

Meski Pinocchio menangis, meski aku ingin merengkuhnya, nyatanya kau tidak terengkuh. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa merengkuhmu atau menggenggammu seperti yang aku ingin."

Jadi ketika kesempatan datang padaku, izinkan aku melakukannya. Sekali saja untukku pergi. Berpikir dan memikirkan apa yang sebenarnya aku dan kau rasakan."

Tap ...

Naruto menjauhkan tangan Hinata namun gadis itu berbalik mencengkeram tangannya. Kedua mata mutiaranya bergetar. Naruto berusaha keras menghempaskan tangan mungil itu.

"Jadi setelah kita baik-baik saja, mari kita bertemu lagi dan memastikan—"

"CUKUP!" teriak Naruto.

"Jangan katakan apapun, aku mohon. Biarkan seperti ini untuk sebentar lagi saja. Jangan akhiri semua ini terlalu cepat, aku mohon padamu ..." suaranya serak, mengiba.

"Hinata ..."

Tess ...

Hinata menangis. Kedua tangannya pun terkulai lemas. Benar, ia belum ingin mengakhiri mimpi ini karena semuanya terlampau indah. Tetapi bagaimanapun ia harus tetap melakukannya. Ia ingin bebas dan membebaskan Naruto dari belenggu masa lalu. Dari cinta menyakitkan mereka.

Ia menangis, pikirnya. Tubuh Naruto bergetar hebat. Ingin sekali ia merengkuh dan memeluk tubuh itu, mengusap punggungnya sambil mengatakan semua akan baik-baik saja. Namun ia tidak sanggup. Karena jika ia melakukannya, maka ia tidak ingin dan tidak akan pernah ingin mengakhiri semua ini.

Keheningan kian menyayat. Tidak ada yang bicara setelah itu. Keduanya duduk berlainan tempat di dalam kereta yang membawa mereka kembali ke Paris.

.

Gaara termenung di depan taman Apartemen Hinata. Sudah tiga jam lebih ia menunggu namun gadis itu tidak kunjung datang. Pesannya tidak dibalas. Tidak ingin berpikir negatif, ia percaya Hinata pasti hanya kehabisan batterai.

Namun semua itu luntur ketika seseorang yang ia kenal tertangkap di netranya. Sosok itu memang tidak turun dari mobil, tetapi ia masih bisa mengenalinya.

Hinata berjalan dengan lunglai. Batin dan logikanya bertentangan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada Naruto.

"Darimana saja kau?" sebuah suara bertanya. Hinata mendongak, begitu terkejut akan kedatangan sosok di depannya.

"Ga- Gaara?"

"Aku tidak tahu kalau kau memiliki hubungan dengannya."

"Ini tidak seperti yang kau—"

"Dia orangnya?" tebak Gaara.

"Gaara ..."

"Shisui bilang kau mengalami kondisi tertentu. Seseorang membuatmu melakukannya hingga kau rela terjebak dalam waktu yang cukup lama. Menyakiti dirimu sendiri secara jiwa dan raga."

"Gaara ..."

"Tidak bisakah kau hentikan semua ini? Luka itu ... tidak bisakah kau menyudahinya?"

"Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin bebas begitupula dia namun tidak ada yang mau menyudahinya lebih dulu. Jadi katakan ... bagaimana aku menyudahinya?"

"Kau ... mencintainya?"

Hinata menunduk, cukup menjadi kata 'ya' dalam persepsi Gaara.

"Jadi karena itu kau tidak bisa menjawab lamaranku?"

"Haruskah aku menjawab lamaranmu?" kedua mata Hinata berkaca-kaca.

.

Pesta ulang tahun Gaara.

Malam itu adalah malam sebelum kepulangannya. Naruto datang dengan memakai setelan jas hitam, kemeja merah Maroon dan dasi senada dengan jasnya.

Seperti pesta pada umumnya, suasana begitu meriah dengan segala nuansa yang disajikan. Beberapa orang menyapanya hormat yang ia balas dengan senyuman rendah. Ia harus mencari Gaara secepatnya.

"Mencariku, eh?" Naruto menoleh, ia sudah bersiap untuk tersenyum namun tubuhnya mematung tatkala melihat sosok yang berdiri di belakang Gaara. Perempuan itu menunduk, berusaha untuk tidak melihatnya. Bahkan ia tidak sadar kalau dirinya sudah mengabaikan tangan Gaara yang terulur sejak tadi.

"—to, Naruto?" panggilnya kesekian kali.

"Eh?"

"Kau melamun?" Gaara melambaikan tangannya di depan mata teman lamanya.

"Perkenalkan, dia Hinata. Hyuuga Hinata."

Hinata ... ini Naruto. Namikaze Naruto"

Hening. Tidak ada yang mau mengulurkan tangan lebih dulu. Sapphire itu begitu terpaku, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dipandangnya kedua mata Amethys Hinata dengan pandangan terluka. Beginikah akhirnya?—tatapan matanya berbicara.

"Ah, aku harus ke sana. Nanti kita sambung lagi, Naruto."

Hinata ... tunggu sebentar ya ..." Gaara meninggalkan mereka. Pemuda itu menjauh dengan perasaan campur aduk. Sulit baginya tersenyum di depan Naruto setelah mengetahui apa yang terjadi.

"Beginikah caramu?" tanya Naruto dengan suara rendah namun yang ditanya justru berpaling. Cukup untuk membuat hati kecil Naruto kecewa. Padahal ia berharap setidaknya mereka memiliki waktu sedikit lebih lama.

"Haruskah aku mengulanginya?"

Isi surat itu, bukankah sudah jelas? Kita sudah cukup baik-baik saja, Naruto." Suaranya mengecil di ujung kalimat.

Sapphire itu berkaca-kaca. Rahangnya mengeras pun dengan kedua tangannya yang mengerat. Telinganya mendadak tuli. Hanya untaian kalimat Hinata saja yang terngiang. Kalimat yang membisikinya bagaikan bisa. Begitu menghasut penuh luka.

"Aku ... mencintaimu." Ucap bibir mungil nan manis itu.

Degh ...

Tap

Naruto mendekat.

"Eh?" gadis itu terkejut. Baru satu detik lalu Naruto masih berada dua meter darinya tetapi kini di hadapannya sosok itu berdiri menjulang dengan segala aura mengintimidasi. Tubuh Hinata bergetar. Ia bisa memprediksi apa yang akan terjadi.

"Curang. Kau seharusnya tidak melakukan ini padaku, Hinata ..." Naruto menunduk, membuat gadis di hadapannya condong ke belakang sambil memejamkan kedua matanya. Hinata benar-benar takut.

Kau tahu bagaimana sulitnya aku mengendalikan diri selama delapan tahun ini? Aku hampir saja berhasil dan mengakhiri ini secara baik-baik saja. Namun ..."

Kau menghancurkan segalanya. Melihatmu, aku begitu bahagia. Berada di dekatmu, aku terlena. Dan aku ... mulai menginginkanmu. Aku begitu serakah berharap kau akan kembali ke sisiku dan hidup menua bersamaku."

Jadi mari kita akhiri semuanya. Segala perasaanmu dan perasaanku. Karena aku sudah memastikan bahwa aku ..."

Mencintaimu."

Jreng ...

"Dengan ini, aku ingin mengatakan ... maukah kau menjadi istriku?"

Degh

Tepuk tangan bergemuruh. Hinata meneteskan air mata. Gadis itu terpaku di tempat. Menghiraukan sorotan mata yang memandangnya takjub. Mereka berpikir ia gadis beruntung yang menjadi pilihan seorang Sabaku Gaara. Bahkan ia tetap seperti itu saat Gaara sudah berlutut di hadapannya sambil menggenggam sebelah tangannya, berharap menerima pinangannya.

"Hinata ... maukah kau menjadi istriku?" tanyanya untuk yang kedua kali. Pria itu membuka sebuah kotak, mengambil cincin berhias batu permata merah. Diraihnya jemari Hinata lembut. Gadis itu tidak bisa menolak. Dan ketika cincin itu berhasil terpasang, hatinya benar-benar serasa hancur. Ia sudah tidak bisa kembali.

Sebegitunya kah kau mencintainya?—pikir Gaara. Pria itu menggigit bibir dalamnya. Menahan rasa getir yang menjalar ke ujung sanubarinya.

Dari jauh, Naruto meremas pakaian depan dadanya. Ia harus berpikir logis dan bijak. Keputusan Hinata, ia harus menerimanya. Jika Gaara yang menjadi pilihannya, ia yakin itulah yang terbaik.

Selama ini, ia terus memberi luka tanpa pernah mengobati. Hinata terus terluka lagi dan lagi. Gadis itu juga sudah banyak berkorban tanpa meminta balasan. Sudah sepantasnya ia bahagia tidak bersama dirinya.

"Ini tidak seharusnya terjadi. Bagaimana mungkin kau melakukan ini padaku, Naruto-kun ..." tanyanya dalam hati.

"Kau bilang ingin mengakhiri semuanya. Tetapi kenapa aku merasa seperti ini? kenapa aku merasa sangat takut?" hatinya terus bertanya.

"Haruskah kita berakhir seperti ini, Naruto-kun?" hatinya bertanya untuk yang kesekian kali.

Percuma. Naruto tidak bisa mendengar rintihan hatinya. Pria itu sudah pergi. Meninggalkannya dengan segala penyesalannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hei ... sampai kapan kau seperti ini?" tanya Sasuke. Hari ini ia jauh-jauh datang dari Konoha ke China hanya untuk berkunjung ke apartemen Naruto. Bibi Kushina begitu khawatir karena putra semata wayangnya tidak masuk kerja selama lebih dari satu minggu. Anehnya semua pekerjaan selesai tepat waktu. Naruto pasti memporsir diri di meja kerjanya, di rumah, sendirian.

Sasuke menghela napas. Tangannya berusaha menekan bel secepat yang ia bisa. Sedikit gemas dengan sikap sang sahabat yang tidak pernah berubah.

Srek ...

Tangannya membuka kode pass. Ditekannya beberapa kombinasi angka.

Ctek

"Terbuka. Cih! Kalau tahu begini seharusnya sejak tadi."

Gelap.

Klik

Lampu ia hidupkan. Dahinya mengernyit. Apartemen Naruto sangat bersih. Tidak ada sampah bekas makanan atau botol alkohol yang berceceran seperti perkiraannya.

"—to, Naruto?" panggilnya sambil membuka satu persatu ruangan.

"Oh, Sasuke. Kapan datang?" tanyanya datar tanpa mengalihkan perhatian.

"Apa itu penting?"

"Kau mau makan? Aku pesankan sesuatu."

Tangannya kurus, kantung matanya tebal, bajunya kotor dan rambutnya berantakan. Itulah gambaran Naruto di mata Sasuke sekarang. Ia itu tidak yakin Naruto sudah makan. Lebih tepatnya ia tidak yakin kapan terakhir kali pria itu makan.

"Oi, kapan kau makan?"

"Aku? Sepertinya empat hari lalu kalau tidak salah ingat." jawabnya kalem.

Brakh

Sasuke mencengkeram kerah Naruto.

"Kau mau mati?" desisnya tajam.

"Kalau aku mau mati, untuk apa aku menyelesaikan semua pekerjaan ini, Sasuke?"

"Kau—" Sasuke menghempaskan tubuh Naruto hingga pria itu terpental lagi ke kursinya.

Keduanya duduk di lantai depan meja. Belum ada yang bicara sejak tadi. Naruto hanya menyantap pizzanya dalam diam dengan sesekali menengguk air putih. Pria itu memang tidak berniat mati. Sasuke mendengus. Naruto tahu bagaimana untuk tidak merusak diri dengan meminum alkohol setelah lama tidak menyerap asupan makanan.

"Kudengar kau bertemu dengannya di Paris." Sasuke melirik Naruto yang menghentikan laju minumnya.

"Dan kudengar kau sempat berkencan dengannya." Cibir Naruto sinis.

"Aku hanya bicara, tidak lebih." Tegas Sasuke.

"Mau menciumnya atau apa juga boleh. Lagipula dia bukan milikku." Jawabnya kalem.

Sasuke menahan napas. Naruto memang minta dihajar. Namun sedetik kemudian, ia tertawa geli.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Kau kembali, Naruto?"

"Maksudmu?"

"Selama delapan tahun kau memakai topeng baik-baik saja-mu itu. Tersenyum dan bersikap lembut seolah bukan dirimu."

"Jadi maksudmu aku ini orang yang jarang tersenyum dan kasar, begitu?"

"Heh!" Naruto mendengus lantas tersenyum geli. Ia tahu benar apa maksud sahabatnya.

Sett ..

"Apa ini?" Naruto mengambil sebuah tiket penerbangan ke Paris dan sebuah undangan.

Degh

"Dia akan menikah lusa. Kuharap kau melakukan sesuatu atau kau akan menyesal seumur hidup."

"Aku tidak akan datang."

Tegasnya.

"Jadi kau ingin mengatakan kalau kau rela Hinata menjadi ibu dari anak manusia merah itu?"

"Gaara namanya."

"Kau membelanya, sungguh teman yang baik." cibir Sasuke.

"Ah! Kurasa aku harus segera pergi. Aku harus kembali ke Konoha sore ini juga."

"Kau sepertinya sangat sibuk."

"Ya. Aku bukan orang sepertimu yang duduk saja sudah bisa menghasilkan pundi-pundi uang ratusan Dollar."

.

Sementara di Paris, Hinata tengah melakukan fitting baju pengantin ditemani Shion. Sekretaris yang juga merupakan musuhnya dulu ini sudah berkali-kali memintanya berganti gaun.

"Tidak bisakah kau mengubah raut wajahmu, Presdir?" Shion menegaskan kata terakhir.

Ayolah ... kau mau menikah tapi raut wajahmu seperti bulan akan jatuh esok hari." Lanjunya sinis. Shion memang pandai mengubah moodnya menjadi berantakan.

"Kalau kau tahu akan begini, kenapa kau tidak menolaknya? Sesungguhnya kau menyakiti dirimu, dia dan dirinya."

Shion menegaskan.

"Kau tidak tahu, Shion. Jika aku bisa aku juga tidak ingin seperti ini."

"Masa lalu lagi? Apa kau menjanjikan sesuatu?" selidik Shion tepat sasaran.

"Fiuh, aku bingung dengan kalian. Hinata ... saat kita di bangku menengah atas aku memang membencimu. Sangat membencimu. Kau menempel dan mengekori Naruto kemanapun, dimanapun. Kau dipuja dan disanjung olehnya. Membuatku tidak ada celah untuk sekedar mendekat padanya. Dulu, aku tidak tahu dan sekarang setelah aku tahu pun aku tetap tidak mengerti. Kalian saling menyakiti. Bahkan ketika kalian sudah menyatakan saling mencintai, kalian tetap seperti itu. Sesungguhnya apa kau tidak lelah?"

Kau selalu berbohong, Hinata. Kau membohongi dirimu sendiri begitupula sebaliknya. Pernahkah kau berpikir sekali saja untuk berdamai dengan dirimu? Pernahkah kalian sekali saja untuk saling jujur dan mengatakan apa yang kalian inginkan?"

Hinata membisu. Kalimat Shion benar-benar menusuknya hingga sudut yang terdalam.

Benar, ia tidak pernah melakukan semua itu. Ia selalu disibukkan dengan pikirannya tanpa pernah menanyakannya pada Naruto. Ia tidak pernah jujur atau terbuka padanya. Selalu berprasangka dan mengambil keputusan secara sepihak. Namun nasi sudah menjadi bubur. Ia tidak mungkin mengacaukan pernikahan yang sudah di depan mata.

.

Barriere le Fouquet's Hotel. Para tamu undangan sudah berdatangan. Mereka duduk di kursi masing-masing. Menanti sang mempelai wanita.

Diantara para tamu, Shisui, Itachi dan Shion duduk dengan gelisah. Beberapa kali Itachi mengumpat. Namun yang ditunggu tidak kunjung datang. Ponsel Sasuke tidak aktif.

Mimbar pelaminan.

Gaara berdiri dengan gelisah. Sudah kesekian kali ia melepas sarung tangan dan mengusap tangannya. Wajahnya memucat pun dengan peluh yang kian lama kian menetes membanjiri wajah. Ia takut. Bukan karena ia yang sebentar lagi menyandang gelar suami, melainkan ia takut apakah keputusannya adalah benar.

Ia sudah banyak mendengar kisah Hinata dan Naruto dari Shisui. Saat itu, ia merasa dunianya runtuh. Cintanya tidak sebanding dengan cinta Naruto pada Hinata. Ia juga tidak pernah membayangkan Naruto yang sangat ceria mempuanyai masa lalu kelam seperti itu. bertahun-tahun tinggal berdekatan dengannya di Amerika tidak membuatnya mengetahui semua tentangnya. Naruto cukup tertutup. Pria itu juga bukan tipe yang ingin tahu. Dan beginilah jadinya.

Gaara menautkan kedua tangannya, mengerat.

Sementara diluar, Hyuuga Hiashi menatap putrinya khawatir. Shion menceritakan semuanya. Meski awalnya marah, Hiashi tidak punya hak untuk mengatur dengan siapa hati sang putri berlabuh. Naruto adalah kesalahannya. Dan apapun yang dilakukan Hinata ia tetap akan mendukungnya. Setidaknya itu yang ia yakini sampai melihat raga tanpa jiwa Hinata. Putrinya benar-benar tidak memiliki semangat hidup. Pernikahannya seolah adalah petaka yang menelah seluruh cahaya miliknya.

"Kau yakin? Setelah ini kau tidak bisa kembali lagi. Apa kau sungguh akan melakukannya?" tanya Hiashi.

"Aku yakin dengan keputusanku, ayah."

"Meski kau berbohong?"

Degh

"Ayah tahu kau mencintainya. Sangat mencintainya. Dulu ayah melakukan kesalahan dengan membuatmu bersamanya dan memisahkan kalian. Ayah pikir setelah kalian baik-baik saja kalian bisa meluruskan segala kesalahpahaman itu. Tetapi ayah tidak menyangka kau akan mengambil jalan ini. Kau membuat dirimu terperosok lagi, sayang. Dan jika kau melakukannya ayah sudah tidak bisa menolongmu lagi."

Hinata menggigit pipi dalamnya. Menahan diri untuk tidak menangis.

"Apa kau bersedia menerimanya? Disaat suka atau duka, senang atau sedih, kaya atau miskin dan bersama hingga ajal memisahkan?"

Gaara terdiam.

"Pengantin pria, saya ulangi. Apa kau bersedia menerimanya? Disaat suka atau duka, senang atau sedih, kaya atau miskin dan bersama hingga ajal memisahkan?" sang Pastur melirik mempelai pria yang tertunduk.

"Aku ..."

.

Naruto berlari. Napasnya putus-putus. Dasinya sudah hilang entah kemana sementara beberapa kancing kemejanya sudah terlepas. Ia benar-benar kalap. Jalanan tidak bersahabat di tengah gawatnya situasi.

"Aku mohon jangan ... tunggu aku, Hinata ..." rapalnya dalam hati.

Pastur menghela napas. Ia mengulangi kalimatnya untuk kali ketiga.

Hinata memandang Gaara dengan pandangan bertanya. Ia tidak mengerti apa sedang pria itu pikirkan. Hingga secara tiba-tiba pintu di dobrak. Amethys-nya membola melihat Naruto mendekat dengan langkah tergesa dan napas tersengal-sengal. Pria itu menarik tangannya, memisahkan dirinya dengan Gaara.

"Kau ... hampir saja membunuhku."

Naruto memandang sayu.

"Bagaimana bisa?"

"Tentu bisa. Untukmu, tidak ada yang tidak bisa aku lakukan. Termasuk ini—"

"Hmmpt!"

"Wooaahh!"

Gaara mendengus. Pastur dan para hadirin dibuat terkejut. Kamera yang disiarkan secara langsung langsung menyorot, memperbesar gambar.

Bibir itu mengecup, melumat lembuh penuh tuntutan. Hinata tidak bisa melawan. Naruto begitu posesif. Pria itu tidak memberi celah sedikitpun hingga dadanya serasa sesak. Ia butuh bernapas.

"Hah ... hah ..." ciuman keduanya terlepas. Naruto menyentuhkan keningnya pada sang juwita.

"Kenapa kau seperti ini?" tanya Hinata setelah napasnya teratur.

"Karena aku mencintaimu."

"Bukankah semuanya sudah berakhir?"

"Aku bahkan baru mau memulainya."

"Naruto ..."

"Hinata ... dengarkan aku. Aku pernah melakukan kesalahan dengan tidak menyadari perasaanmu. Bahkan disaat aku menyadarinya pun aku tetap melakukan kesalahan dengan mencoba melepasmu. Tetapi, aku sadar sekarang. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa melepasmu."

Tanpamu, aku hampa. Tanpamu, aku hancur. Aku gila karenamu, Hinata ... lukaku, dukaku, tangisku, senyumku, dan bahagiaku hanya karenamu. Tidakkah ini cukup untukmu? Tidak bisakah kau memberiku kesempatan sekali saja?"

"Naruto ..."

"Hinata ... aku mohon padamu. Izinkan aku mengutarakan apa yang ingin aku utarakan. Sekali ini saja izinkan aku jujur pada diriku sendiri. Aku ... mencintaimu. Maukah kau bersanding denganku? Melengkapi tulang rusukku dan hidup menua bersamaku?"

Hati Hinata membuncah. Ia tidak pernah menyangka hal seperti ini benar-benar terjadi.

"Aku ... bersedia."

Suara sorak bergemuruh. Shisui bersiul penuh kegembiraan. Sementara Hiashi, ia terenyuh dengan perjuangan Naruto. Pria itu tidak seperti yang ia pikirkan. Naruto tumbuh dewasa dengan baik. Membuktikan dirinya pantas untuk bersanding dengan Hinata, putrinya.

Bunga-bunga bertaburan, suara musik mengalun merdu memeriahkan prosesi lamaran tersebut.

Dan hari itu adalah saksi bisu atas terjalinnya kembali cinta kasih kedua insan yang saling menyakiti. Memperbaiki hubungan dan mengurai benang-benang takdir yang sebelumnya terpaut tidak beraturan.

Cinta bisa berawal dari kesalahan. Bisa juga berawal dari rasa empati atau simpati bahkan sebuah obsesi. Termasuk Naruto. Obsesinya pada Hinata membawanya pada sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan. Dulu, Hinata menyandang marga Namikaze sebagai adik tetapi tidak untuk sekarang. Karena mulai detik dan saat ini Hinata akan menyandang marga Namikaze sebagai tulang rusuknya, ratunya, dan istrinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Daun-daun berguguran. Udara semakin dingin menusuk. Sebentar lagi memasuki musim dingin.

Di sebuah makam, seseorang membersihkan sebuah nisan. Meletakkan satu buket bunga krisan. Tangannya terpaut dan matanya terpejam penuh khidmat.

Di sisi kanannya, seseorang berambut pirang melakukan hal serupa. Sementara di sisi kirinya, seorang anak berambut serupa dengan seseorang di sisi kanan, mengintip. Mata Sapphire mungilnya memandang nisan bertuliskan 'Namikaze Renata'. Tangannya menggaruk tangannya yang sedari tadi gatal di gigit serangga. Bibirnya mengerucut karena prosesi doa kali ini lebih lama dari biasanya.

Anak kecil itu berdiri bersamaan dengan kedua orang disampingnya.

"Akh!"

"Ibu baik-baik saja?" tanyanya memegangi lengan sang ibu.

"Ibu bai-baik saja, Boruto ..."

"Sepertinya sudah saatnya," gumam pria disampingnya.

"Ini baru memasuki bulan ke-delapan."

"Apa adik bayi akan lahir, ayah?" mata Sapphire mungil itu menatap Sapphire sang ayah.

"Mungkin sebentar lagi."

"Kenapa tidak sekarang? Boru ingin cepat lihat adik bayi."

"Begitukah? Ayah juga. Pasti menyenangkan punya satu jagoan lagi." gumamnya membuat sang putra mengerucutkan bibir.

"Kenapa Boru cemberut?" tanya sang ibu.

"Boru inginnya adik perempuan, ibu." Sang anak mendekat. Membuat Hinata tertawa akan ulahnya. Anak itu minta pembelaan, sementara Naruto ikut mengerucut sebal. Boruto tahu cara mengalahkannya.

"Bukankah adik laki-laki keren, Boru?" goda Naruto.

"Tidak! aku suka adik perempuan."

"Kenapa Boru ingin adik perempuan?" tanya Hinata.

"Karena kalau adik perempuan, Boru bisa mendandaninya seperti boneka yang ada di televisi."

Ucapnya girang.

Hinata dan Naruto saling memandang. Keduanya mengerti kemana arah pembicaraan Boruto. Anak mereka pasti ingin menirukan acara yang sering ditontonnya di televisi akhir-akhir ini.

Hinata menyikut perut Naruto. Sebuah peringatan keras. Pria itu merintih. Setelah menikah Hinata memiliki kebiasaan yang tidak diduga. Suka sekali menyikut atau mencubitnya. Terkadang menimbulkan ruam kebiruan hingga sering di pertanyakan oleh sekretarisnya.

Ketiganya menjauhi pemakaman. Naruto memadang sejenak nisan sang adik. Segaris tipis senyuman tercetak di wajah.

"Terimakasih, Renata ..." gumamnya.

Ia melenggang pergi. Melangkah pelan sambil memerhatikan sang istri yang kesulitan mengimbangi kelincahan putra mereka yang baru berusia empat tahun.

.

.

.

Dulu, aku tidak bisa mengucap sepata katapun

Jika kau melakukan apapun

Aku tidak bisa untuk tidak menahan napasku

.

Kau ...

Adalah cintaku

Menjadi dunia serta napas bagiku

.

Kini aku tidak akan melakukan apapun

Aku akan selalu berada disisimu

Dan hidup bersamamu seperti ini

.

Mimpi-mimpi buruk di masa lalu

Menghilang ...

Kenangan masa lalu, tertalan tidak tersisa

.

Kau adalah cahaya bagiku

Tempatku untuk berpulang

Punggung tempat bersandar dan melepas lelah

.

Wahai istriku ... Hinataku

Aku mencintamu

.

.

.

.

.

Tamat

Yosh! Mina-san ...

Akhirnya selesai juga. Setelah sekian lama aku mager nulis. Eh, bukan ... aku nyicil sedikit demi sedikit akhirnya selesai. Chapter yang cukup panjang. 14K! Aku benar-benar tepar.

Oh ... lupakan yang diatas. Bagaimana menurut kalian? Semoga tidak mengecewakan. Ideku naik turun. Maaf kalau tidak sesuai ekspektasi. Jujur saja, aku dirundung gamang sekian lama tentang ending mereka. Dan alhasil seperti inilah ... maaf jika ada typos atau kesalahan ejaan. Nao tidak sempa revisi karena mengejar waktu. Besok kerja! Tidak boleh tidur terlalu malam.

Terima kasih untuk pembaca setia Nao. Yang sudah mantengin berkali-kali tapi belum update-update. Terimakasih juga yang sudah neror Nao dengan review dan komentar di facebook atau wattpad. Nao sungguh terimakasih atas dukungannya.

Sebenarnya Nao tidak hiatus, hiks. Hanya saja Nao sedang belajar di sebelah. Di Wattpad. Bulan Februari-Maret ini Nao ikut event 'Drowning to the Mythologi' memperingati ulang tahun Uzumaki Family Indonesia yang ke-3. Meski tidak menang, Nao senang karena bisa kolab dengan Author ternama di wattpad. Bagi yang penasaran ceritanya silakan cek di wp Nao : Nao_Vermillion. Judul ceritanya 'UNMEI'

Disana, Naruto jadi Thanatos. Dewa Kematian. Baca ya ...

Setelah ini, jangan bersedih. Ada Gomen ne, Arigatou yang menggantikan. Nao juga sedang menggarap ff SasuHina bergenre Suspense (gini bukan?) berjudul Incurable Disease. Ada juga project remake ff punya Jaeha Ryokuryuu.

Sekali lagi terimakasih sudah mau membaca dan menanti setiap minggu bahkan bulan.

Sampai bertemu di cerita selanjutnya~

Best Regards

Nao Vermillion