Disclaimer: I don't own Naruto. I wish I did. But I don't. Masashi Kisimoto does. I don't take any profit from this fic.

Warning: profanity, sexual content ahead :)))

Note(s): maaf karena update-nya agak lama xD

Selamat membaca xD


"Air ketubanku baru saja pecah," kata Shizune, dan ketika tiga orang medis di hadapannya seperti tiba-tiba saja lupa apa artinya air ketuban yang pecah, Shizune meraung, "BAYINYA MAU KELUAR!"

Seisi ruangan seperti baru saja disambar petir kembali.

"Ap—HAAAAAAAAAH?"

"Bukankah prediksi Kurenai mengatakan tiga minggu lagi?"

"Persetan dengan Kurenai! Dia mau keluar sekarang!"

Berlainan dengan fakta jika ia adalah yang paling terkejut di antara rekan-rekannya, Sakura menjadi orang pertama yang berhasil mengendalikan diri dan bisa berpikir jernih. "Shizune-senpai, tolong jangan panik. Mari kita ke kamarmu, oke? Kau pikir kau bisa jalan?"

Shizune mengangguk. "Kontraksi pertamanya sudah lewat. Tetapi aku tetap butuh bantuan." Ia menatap Genma, mencoba tersenyum di sela ringisan. "Genma, dear, aku membutuhkanmu saat ini."

Kakashi menepuk punggung sahabatnya, membangunkan sang radiolog dari keterkejutan yang membuat mobilitasnya lumpuh untuk sesaat. "Ayo, Genma. Kau harus menyokong Shizune."

Genma terlihat berusaha untuk membajakan dirinya, kemudian berdiri dan berjalan menyongsong Shizune untuk menariknya ke dalam pelukan. "Tidak apa-apa, Shizune. Aku di sini bersamamu." Seringai dan senyuman malasnya hilang sudah, ia terlihat hampir seperti orang lain. "Kau akan baik-baik saja."

"Aku minta maaf." Shizune terisak di bahu Genma.

Sakura tahu apa arti di balik permintaan maaf itu. Shizune sudah tidak lagi muda untuk mengandung. Bayinya memutuskan untuk lahir lebih awal. Fakta jika mereka terjebak di sini tanpa ditunjang peralatan medis yang bisa diandalkan. Tidak ada satu pun dari mereka yang berpikir semua hal yang terjadi ke depannya akan berlangsung mudah.

"Jangan berpikir apa pun untuk sekarang," kata Kakashi ketika ia mendekati pasangan itu dan mengambil lengan Shizune untuk meremasnya lembut. Sakura ingat Kakashi juga pernah melakukan hal yang sama terhadapnya. "Ikuti Genma ke kamar, aku akan mempersiapkan yang diperlukan. Jangan takut Shizune, kami akan berada di sampingmu untuk melalui segalanya."

Shizune tersenyum kepadanya. "Terima kasih, itu sangat berarti untukku, Kakashi."

"Ayo, aku akan memberimu pijatan ketika sudah berbaring," bisik Genma. "Kau akan merasa lebih baik, aku berjanji."

Setelah pasangan itu meninggalkan mereka, Kakashi menatap Sakura dan bertanya, "Kau pernah menangani persalinan, Sakura-chan?"

Sakura menggeleng dan dadanya terasa sangat dingin. "Belum. Aku tahu konsep dasarnya, tetapi aku belum pernah menangani kasus persalinan selama masa praktik atau residensi."

"Sayang sekali aku juga belum pernah. Tetapi walaupun begitu kita tidak punya pilihan lain," sambung Kakashi. "Kita yang harus menangani persalinan Shizune. Aku sangsi jika proses dilasinya akan bertahan hingga pohon yang menghalangi jalannya disingkirkan besok. Dan kalaupun proses dilasinya bertahan, rasa sakit di tiap kontraksinya tidak akan sanggup untuk Shizune tanggung. Aku punya firasat jika Shizune akan siap mendorong ketika fajar besok, atau lebih cepat karena air ketubannya sudah pecah. Kita harus siap kapan pun itu terjadi. Tidak ada waktu untuk ragu sedikit pun, Sakura-chan."

Sakura mengangguk meskipun keraguan dan rasa takut yang dialaminya masih mencekam. "Aku akan berusaha sebaik yang kubisa, Senpai."

Kakashi tersenyum kepadanya, senyuman tulusnya yang pertama hari ini. "Aku percaya kepadamu, Sakura-chan. Kau tahu apa yang harus kaulakukan. Kau selalu tahu."

Sakura membalas dengan senyuman lemah. "Terima kasih, Senpai."

"Tolong temui Genma dan Shizune dan jelaskan situasinya kepada mereka. Aku yang akan menyiapkan semua keperluannya."

Sakura mengangguk sekali lagi sebelum mereka mengambil arah yang terpisah.


Sakura beruntung karena tanpa harus dijelaskan pun Shizune dan Genma tahu apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Mereka tidak terlihat keberatan sama sekali ketika Sakura berkata jika dirinya dan Kakashilah yang akan menangani persalinan ini. Shizune dan Genma memercayai mereka. Jadi Sakura tidak memiliki alasan untuk meragukan dirinya sendiri.

Tahap pertama di setiap proses kelahiran adalah permainan menunggu. Shizune belum bisa mendorong jika ia belum dilasi penuh, dan biasanya proses ini akan berlangsung selama enam sampai dua belas jam di kelahiran yang pertama. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah menjaga Shizune tetap rileks dan menyokongnya setiap kontraksi datang, dan itu bukanlah hal yang sulit selama mereka memiliki Genma dan Kakashi. Keduanya adalah perwujudan boke dan tsukomi yang bagus. Mereka berhasil membuat Shizune tertawa bahkan ketika dirinya sedang kontraksi. Sakura mengambil peran sebagai penyedia nutrisi dan memasakkan apa pun yang Shizune ingin makan, ia akan butuh banyak tenaga ketika mendorong nanti. Sakura jugalah yang sesekali memeriksa seberapa jauh dilasi di serviks Shizune. Di saat dirinya tidak makan atau mengobrol atau kontraksi, Shizune tidur. Ketika itu Kakashi berhasil menemukan suntikan anestesi lokal di kotak obat yang ditunjukkan Genma, dan Sakura hampir menjerit karena kegirangan. Benda itu akan berguna jika sesuatunya mulai berat nanti.

Melihat seberapa mendukungnya Genma di setiap detik proses kelahiran Shizune, hati Sakura dibuat hangat sekaligus iri. Genma tidak pernah berhenti bersikap manis bahkan ketika Shizune dihantam satu kontraksi yang hebat, kemudian mengancam untuk mengebiri Genma dan tidak akan pernah mau melakukan seks lagi dengannya (Kakashi dengan senang hati menawarkan dirinya untuk mendampingi Shizune di bagian mengebiri, dan Sakura menawarkan satu set pisau bedah hadiah kelulusannya dari universitas).

Mendekati fajar, kontraksi yang dialami Shizune meningkat frekuensi dan intensitasnya. Ketika matahari terbit dan badai dari semalam berhenti, serviks Shizune sudah dilasi penuh dan ia sudah bisa mulai mendorong. Sakura memandunya dari kontraksi ke kontraksi, memuji Shizune setiap kali ia selesai mendorong, sedangkan Kakashi memonitor tanda vital Shizune (semenjak mereka tidak memiliki alat pemonitor detak jantung bayi, mereka hanya bisa berharap jika tidak ada masalah pada bayinya) dan sesekali membantu Sakura ketika ia butuh bantuan, baik ketika ia butuh handuk baru, guyuran desinfektan di tangan yang lain, atau untuk membetulkan ikatan di rambutnya yang longgar.

Ketika hampir tiga puluh menit Shizune mendorong dan tidak terlihat ada kemajuan yang berarti, hanya sedikit dari kepala bayi Shizune yang terlihat, Sakura memanggil Kakashi untuk mendekat. "Kurasa aku harus melakukan episiotomi, tolong siapkan yang diperlukan, Senpai."

Kakashi mengangguk, kemudian mulai memilih gunting yang paling tajam dan menyiramnya dengan alkohol sementara Sakura memberitahu Shizune dan Genma apa yang akan ia lakukan. Setelah dirinya memastikan jika sepasang suami-istri itu mengerti, Sakura mulai mengisi jarum suntik steril (yang juga ia temukan di kotak P3K milik Shizune) dengan anestesi lokal dan mulai menginjeksi bagian perineum.

"Selesai," katanya ketika selesai memotong. "Ada darah sedikit tetapi kau baik-baik saja, Shizune-senpai. Di kontraksi selanjutnya aku memintamu untuk mendorong sekuat dan sepanjang yang kaubisa." Shizune mengangguk, kemudian melakukan hal yang Sakura pinta ketika merasakan dorongan untuk mengejan. Ketika Shizune selesai, Sakura tersenyum. "Bagus sekali, Senpai. Sekarang sudah crowning. Sekarang istirahat sebentar dan tarik napas pendek-pendek kemudian keluarkan lewat mulut."

"Terima kasih banyak, Kami," kata Shizune, Genma mencium pelipisnya dari belakang di mana ia menjadi sandaran istrinya. "Dia benar-benar anakmu, Genma. Dia sulit."

"Itu adalah hal yang menyenangkan untuk didengar, Sayang. Bayangkan kalau dia lamban seperti Kakashi," gurau Genma, yang langsung direspons oleh sahabat karibnya dengan lemparan handuk ke wajah.

Sakura tersenyum. "Bagian kepalanya sudah keluar, Senpai. Jangan mendorong kuat-kuat, sekarang—bagus, kau sudah melewati bagian paling sulit—oh, tidak."

Kakashi mengerutkan dahi. "Ada apa, Sakura-chan?" Kakashi menghampiri Sakura dan ketika melihat masalah di hadapannya, wajahnya menjadi serius.

"Apa yang terjadi? Ada sesuatu yang salah?" Shizune bertanya panik.

"Distosia bahu," jawab Sakura. "Kepala bayimu kembali masuk dan wajahnya memerah, bahunya tidak bisa keluar. Jangan panik, Senpai. Kita akan melakukan manuver McRoberts supaya pelvismu bisa lebih lebar dan tulang lumbarmu bisa datar. Kakashi-senpai, tolong tekuk kaki Sizune ke perutnya. Kita sudah melakukan episiotomi sebelumnya jadi seharusnya ini tidak sulit."

Kakashi melakukan yang Sakura minta, kemudian memberi Shizune senyuman menenangkan. "Tenanglah, kau berada di tangan yang tepat. Percayalah kepada Sakura-chan."

"Kita akan tetap membutuhkan tindakan medis lanjutan setelah ini. Tolong telepon paramedis, Genma-senpai. Setelah bayinya lahir, dia dan Shizune-senpai harus segera dibawa ke rumah sakit untuk memastikan dan menanggulangi jika ada kerusakan syaraf di bahu bayinya. Aku akan berusaha semampuku, tetapi aku tidak bisa menjamin jika Shizune-senpai tidak akan mengalami pendarahan nanti. Seharusnya perbaikan jalannya sudah dimulai sekarang, kita tidak bisa membuang waktu sedikit pun." Sakura menyeka keringat di pelipisnya. "Shizune-senpai, aku ingin kau mendorong sekali lagi. Aku akan membantu menarik bayimu ketika sudah memungkinkan. Akan terasa sakit, tapi tolong tahanlah. Sekarang, dorong."


Mereka tidak sempat mendapatkan momen lembut dan manis ketika Dan akhirnya lahir, karena tepat setelah Kakashi memotong tali arinya, paramedis datang. Satu-satunya yang mereka pikirkan saat itu adalah memastikan jika kondisi Shizune dan Dan baik-baik saja, dan mereka baru bisa mengetahuinya jika mereka sudah berada di rumah sakit. Plasenta Shizune saja bahkan belum keluar. Kakashi memandikan Dan seperlunya, kemudian menyelimutinya dengan kain flanel hangat. Sakura tidak melewatkan tatapan khawatir seniornya kepada bayi laki-laki itu, walau hanya ia tunjukkan sekilas. Ia memperhatikan dengan nelangsa ketika Genma seolah tidak ingin melepaskan Shizune dari pelukannya, bahkan ketika Shizune membujuknya dan berkata berulang-ulang jika ia akan baik-baik saja.

Karena itu ketika Shizune dan Dan sudah berada di dalam ambulans, Sakura merasa terkejut ketika Genma meminta agar dirinyalah yang mendampingi Shizune di sana hingga mereka sampai ke rumah sakit nanti. Ia dan Kakashi akan menyusul dengan mengendarai mobil milik Genma, Kakashi yang menyetir karena tidak ada seorang pun yang percaya jika kondisi mental Genma fit untuk tugas itu.

Ketika akhirnya pengaruh adrenalinnya habis, kenyataan menimpa Sakura dengan hebat. Dirinya baru saja menangani kasus komplikasi persalinan yang cukup serius dengan hanya mengandalkan insting, dengan kemungkinan jika Shizune dan Dan belum lepas dari bahaya masihlah besar. Seluruh tubuhnya gemetar dan ia tidak berhenti berdo'a, entah kepada siapa. Dan jauh dalam dirinya, Sakura menganggap semua ini adalah kesalahannya.

"Maafkan aku, Senpai. Seharusnya kemarin aku tidak mengajakmu pergi belanja."

Shizune menjawabnya dengan sebuah senyuman walaupun terlihat lemah dan lelah. "Omong kosong, Sakura-chan. Dan adalah putra Genma. Jika dia ingin keluar, dia akan keluar walaupun aku sedang berendam. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di situasi kemarin jika kau tidak ada, Sakura-chan."

"Tapi—" Sakura tercekat. "Tapi aku—"

"Hush, Sakura-chan. Aku akan baik-baik saja." Shizune memeluknya dan mengusap kepala Sakura dalam kondisi berbaring. "Kau ini lebih buruk daripada Genma, aku bersumpah." Ia tertawa kecil. "Seharusnya kau khawatirkan dirimu sendiri. Lihat dirimu, kau terlihat seperti baru saja berkelahi dengan perempuan lain. Itu masalah besar, kau harus tetap terlihat cantik di hadapan Kakashi."

Sakura merona. "Senpai, jangan bercanda. Lagipula jika Kakashi hanya menyukaiku ketika aku terlihat cantik, maka dia tidak pantas untuk kupertahankan."

"Itu tepat sekali, Sakura-chan. Pemikiranmu sudah benar."

Paramedis menghentikan ambulans tepat di depan pintu masuk Instalasi Gawat Darurat yang sudah terlampau Sakura kenal. Yang terjadi setelahnya adalah serangkaian peristiwa-peristiwa yang berjalan cepat dan buram. Perawat-perawat yang bertugas dengan sigap menyambut mereka, beberapa terkesiap karena mengenali Shizune dan Sakura. Salah satu dari mereka mengambil Dan dari pangkuan seorang paramedis dan langsung membawanya ke bangsal yang terpisah dengan Shizune. Tidak lama kemudian, Tsunade muncul.

"Apa yang sedang terjadi di sini—Sakura? Shizune?"

"Sensei!" Sakura tidak pernah selega ini ketika melihat pengawasnya, kemudian lanjut meracau tanpa berhenti untuk mengambil napas, "Shizune-senpai melahirkan kemarin—bayinya lahir tadi pagi, dan karena satu-satunya jalan menuju rumah sakit putus karena tertimpa pohon yang tumbang hasil badai kemarin, kami—aku dan Kakashi—tidak punya pilihan lain selain melakukan persalinan di rumah— "

"Kau yang menangani persalinan Shizune?" Tsunade mengerutkan dahi. "Dan Kakashi? Di mana dia sekarang?"

"Dia dan Genma-senpai menyusul di belakang, seharusnya mereka sudah di sini—ah, itu mereka!"

Kakashi dan Genma berjalan dengan tergesa ke arah mereka. Sakura bisa melihat perubahan dalam sikap Genma, sekarang ia terlihat lebih tenang dan fokus, mungkin di perjalanan Kakashi sudah berhasil mengajaknya berbicara dan mengembalikan akalnya.

"Lanjutkan penjelasanmu, Sakura," perintah Tsunade kemudian, sementara satu perawat datang untuk memeriksa tanda vital Shizune.

Sakura menarik napas panjang. "Terjadi komplikasi di tengah proses persalinan, Sensei. Bahu bayi Shizune-senpai sulit untuk dikeluarkan sehingga aku harus melakukan manuver McRoberts dan Jacquemier, dan ditengah prosesnya mungkin aku melakukan kerusakan. Sekarang Shizune-senpai mungkin stabil, tetapi aku tidak bisa menjamin jika dia tidak akan mengalami pendarahan post partum, dan Dan harus diperiksa jika dia mengalami kerusakan di syaraf brachial plexus atas."

"Distosia bahu," gumam Tsunade, kemudian menarik satu perawat terdekat dan berkata lantang kepadanya, "Panggilkan Dr. Kurenai dari bagian ginekologi, katakan ini urgen." Perawat itu mengangguk dan langsung mengambil langkah menuju pintu keluar.

"Aku harus melakukan apa, Sensei? Aku bisa—"

"Yang harus kaulakukan saat ini adalah rileks, Sakura. You look like Hell." Tsunade memandangnya dari atas ke bawah, di saat itu Sakura sadar jika ada noda darah di switer yang baru ia pakai sekali. "Kau sudah melakukan hal yang benar, selanjutnya serahkan kepada Kurenai. Cari sesuatu untuk menenangkan dirimu, kau gemetaran. Aku hanya akan mengizinkan Genma yang berada di sini selama Shizune diperiksa."

Sakura sudah membuka mulut untuk membantah, tetapi Kakashi menghentikannya dengan memegang bahunya dan berkata, "Sakura-chan, Shizune sudah berada di tangan yang tepat sekarang. Ayo keluar dan beli minuman hangat, kau sangat membutuhkannya, percayalah kepadaku."

Sakura masih berada dalam mode defensif, tetapi suara Kakashi begitu menenangkan dan persuasif sehingga membuatnya menurut tanpa diinginkan.

"Jaga dia, Kakashi. Dia terlihat bisa pingsan kapan saja." Sakura sempat mendengar Tsunade berkata sebelum ia dituntun Kakashi keluar dari IGD.


Beberapa puluh menit kemudian Kakashi menerima pesan teks dari Genma yang mengatakan jika Kurenai telah melihat Shizune dan memutuskan untuk memeriksanya lebih lanjut di ruang bersalin. Kakashi menunggu hingga Sakura benar-benar terlihat tenang sebelum menyampaikan pesan itu.

Ini adalah pengalaman kedua Kakashi melihat Sakura panik dengan begitu hebat, dan ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Ia ingin bertanya apakah Sakura mengidap panic disorder, tetapi Kakashi merasa jika sekarang waktunya tidak tepat. Mereka masih belum mendengar kabar Shizune dan bayinya, dan hanya bisa menunggu dalam diam di luar ruang bersalin. Tiap detik yang mereka lewati terasa seperti setahun. Hanya bisa menunggu tanpa bisa melakukan apa pun rasanya sangat menyiksa.

Dua puluh menit kemudian, Kurenai membuka pintu ruang bersalin. Keduanya tanpa sadar menahan napas, menunggu Kurenai berkata sesuatu.

Ginekologis cantik berambut gelap dan bergelombang itu tersenyum. "Kondisi Shizune dan bayinya stabil."

Rasanya seolah beban berat baru saja diturunkan dari bahu Kakashi, dan di sebelahnya ia melihat Sakura menghembuskan napas lega, matanya berkaca-kaca.

"Kalian berdua yang membantu persalinan Shizune. Apa aku benar?"

"Aku hanya mendampingi," jawab Kakashi. "Pekerjaan yang berat-berat dilakukan oleh Sakura-chan."

"Sakura?" Kurenai mengalihkan perhatiannya kepada dokter muda di hadapannya. "Sakura Haruno, dokter residen di bawah pengawasan Tsunade, bukan? Yang melakukan manuver McRoberts dan Jacquemier untuk menangani distosia bahu di persalinan kemarin?" Sakura mengangguk, Kakashi bisa melihat dahinya berkerut, terlihat takut dan was-was. "Aku tidak bisa mengekspresikan rasa terima kasihku untuk itu dengan lebih baik, apa yang sudah kaulakukan telah menyelamatkan Shizune dan bayinya. Di usia Shizune yang sekarang, melahirkan dengan resiko distosia bahu kemungkinannya sangat besar. Aku sendiri sudah mempersiapkan prosedur C-section seandainya Shizune melahirkan tiga minggu lagi, di sini, tetapi sepertinya bukan itu yang terjadi. Aku kagum kau bisa memutuskan penanganan seperti apa yang tepat untuk situasi macam kemarin, padahal yang kudengar kau baru pertama kali menolong proses persalinan."

"Kalau begitu Shizune-senpai dan Dan baik-baik saja?" tanya Sakura, lebih mengkhawatirkan keadaan mereka daripada merespons pujian yang dilontarkan Kurenai. Dan hal itu membuat Kakashi ingin menciumnya saat itu juga.

"Aku bisa jamin kalau mereka baik-baik saja," Kurenai tersenyum. "Shizune mengalami pendarahan minor, tetapi itu wajar dan bukan sesuatu yang tidak bisa kami tangani. Plasentanya baru bisa keluar ketika kami memberinya suntikan perangsang, tetapi selain itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bayinya juga sehat dan sangat responsif. Dia memang lahir tiga minggu lebih awal tetapi beratnya ideal dan semua organnya telah berkembang dengan sempurna. Walaupun begitu mereka baru bisa pulang setidaknya setelah tiga hari."

"Terima kasih, Kami," Sakura tercekat, tetapi ia tidak berhenti tersenyum. "Terima kasih, Kurenai-senpai."

"Tidak, Sakura-chan. Kaulah yang lebih pantas mendapatkan ucapan terima kasih itu. Jadi, terima kasih."

Kurenai pamit setelah itu, berkata jika ia harus menghadiri rapat yang dihelat bagian ginekologi dan ia sudah terlambat. Tidak ada dari Kakashi maupun Sakura yang bergerak setelahnya, keduanya terlalu terpesona dengan apa yang baru saja terjadi.

"Kau dengar itu, Kakashi-senpai?" bisik Sakura, terlihat masih belum memercayai situasinya. "Aku tidak mengacau dan Shizune-senpai dan bayinya tidak apa-apa." Setelah itu Sakura menangis, tetapi tidak ada apa pun yang terlihat di wajahnya selain rasa syukur dan kelegaan. Napas Kakashi tercuri ketika Sakura mencoba tersenyum di sela isakannya, dan Kakashi tidak bisa menahan dirinya lagi.

"Kau luar biasa."

Mata Sakura melebar ketika Kakashi mengambil dua langkah maju untuk menghapus jarak di antara mereka, kemudian terkesiap ketika tanpa peringatan pria itu menundukkan kepalanya, dan mengecup Sakura tepat di bibir.

Ciumannya sangat tiba-tiba dan singkat hingga tidak bisa disebut sebagai sebuah ciuman, tetapi karena itulah Sakura tidak sempat menutup matanya dan bisa menyaksikan semuanya dengan kejelasan yang mutlak. Kakashi mengecupnya. Dan sekeras apa pun Sakura berusaha untuk menganggap semua ini adalah mimpi, pada akhirnya ia tidak bisa menyangkal jika ini adalah kenyataan.

Kakashi menciumnya. Dan itu berarti banyak hal.

"Oh, Kami—Sakura—" Sekarang giliran Kakashi yang matanya melebar, wajahnya sangat merona ketika menyadari apa yang baru saja ia lakukan. "Maafkan aku, aku tidak tahu apa yang telah merasukiku hingga—aku tidak bermaksud untuk tidak menghormatimu, hanya saja kau terlihat sangat menawan dan—"

"Kakashi-senpai."

"Ya?"

"Just shut up, okay?" kata Sakura, kemudian menarik kerah jaket Kakashi untuk mencium bibirnya balik, sekali, dua kali, tiga kali hingga Kakashi mendapatkan kembali kemampuannya untuk merespons.

"Sakura-chan?" kata Kakashi, terlihat takjub. "Apakah itu artinya …."

"Ya!" bisik Sakura, tersenyum lebar. "Itu artinya iya, Senpai. Sekarang berhentilah terkejut seperti orang bodoh dan cium aku lagi. Kau tidak tahu sudah berapa lama aku menantikan ini. Terlalu lama, Senpai …."

"Bagus." Cengiran Kakashi yang memperlihatkan gigi taringnya sangat menular, membuat Sakura ingin nyengir juga. "Kita berada di pihak yang sama, kalau begitu."

Dan Kakashi meraihnya, bukan hanya untuk menciumnya, tetapi juga untuk merengkuh keseluruhan diri Sakura. Di dalam benaknya, dunia meledak menjadi pancaran-pancaran kembang api warna-warni, dan ia merasa ringan layaknya kapas. Hatinya serasa dipenuhi gelembung sabun yang meletup-letup, dan Sakura tidak bisa berhenti tersenyum ketika Kakashi menciumnya lebih dalam, lebih lembut. Lengan-lengan Kakashi di punggungnya terasa kokoh, dan ketika Sakura mengalungkan tangannya ke leher pria itu, dirinya seolah mendapat pijakan yang baru. Dicium dan balik mencium Kakashi rasanya sangat tepat, Sakura merasa heran mengapa dirinya tidak melakukan ini sedari dulu. Di suatu saat Sakura ingin tertawa, di saat yang lain ia ingin menangis, tetapi di kebanyakan waktu dirinya tidak tahu ingin melakukan apa, kecuali terus dicium oleh Kakashi hingga dirinya mati.

Tetapi anatomi manusia itu merepotkan. Jika ciuman Kakashi tidak bisa membuatnya mati, maka kehabisan napas tentunya mampu melakukannya. Mereka memisahkan diri untuk membiarkan paru-paru mereka menghirup udara dan seketika itu juga Sakura menyesali terputusnya kontak fisik mereka. Tetapi Kakashi menggantinya dengan menaruh kedua telapak tangannya di masing-masing pipi Sakura, menatapnya dengan kelembutan dan kekaguman yang membuat Sakura ingin menangis.

"Sekali lagi?" pinta Kakashi. Dan Sakura mengangguk. Tetapi seseorang berdeham tepat sebelum mereka mengulang kegiatan sebelum ini.

"Sepertinya aku kalah taruhan. Lagi." Tsunade menyeringai di belakang mereka. "Kalian memang harus melakukannya di lorong ruang bersalin dan mematahkan hati dari setengah jumlah staf rumah sakit, eh?"

"Se-Sensei!" Sakura terkesiap, matanya melebar ngeri. "Berapa lama kau melihat kami? Aku bisa jelaskan—"

Penuturan Sakura terpotong oleh pintu kaca ganda ruang bersalin yang mendadak terbuka, dan Genma jatuh ke lantai sambil terbahak. Shizune berteriak, "Genma, kau bodoh!" dari dalam ruangan sambil tersenyum lebar, Dan aman di pangkuannya.

Kakashi mengerang.

"Genma-senpai! Kau mengintip?" Itu bukan pertanyaan. Itu adalah tuduhan.

"Tidak, aku hanya berada di waktu dan tempat yang tepat. Kalian sudah mulai menghisap wajah masing-masing ketika aku membuka pintu untuk mengundang kalian masuk. Setelahnya, bukan salahku jika aku mendapatkan tontonan gratis yang menarik." Ia menyeringai. "Shizune juga melihat kalian."

"Oh, Kami!" Sakura menyembunyikan wajahnya di dada Kakashi. "Ini memalukan sekali."

Kakashi tertawa halus, suaranya terdengar lebih dalam ketika Sakura mendengarnya langsung dari tempat paru-parunya berada. "Walaupun begitu aku tidak akan mengeluh."

"Kalian berdua mau masuk?" tanya Tsunade, seringainya masih belum hilang. "Atau masih ingin di sana dan melanjutkan yang tadi? Yang mana pun tidak apa-apa. Anggap saja kami ini cuma lalat."

Sakura merintih, kemudian menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke dada Kakashi.


Genma langsung memeluk Sakura dari belakang dan memutarnya di udara begitu ia melangkah masuk ke ruang bersalin. Sakura yang tidak siap mendapatkan serangan seperti itu hanya bisa terkesiap dan tertawa. Genma kemudian menurunkannya dan mencium pipi Sakura, mengungkapkan rasa terima kasihnya karena telah menyelamatkan Shizune dan Dan dengan begitu komikal hingga semua orang di ruangan itu tertawa. Shizune mengulurkan tangannya yang tidak sedang menggendong Dan untuk Sakura sambut ketika ia menghampirinya. Ucapan terima kasih dari Shizune lebih tenang dan Sakura tidak tahan ketika perawat senior itu meneteskan air mata, membuat Sakura menangis juga, sembari mengeluh akan fakta jika ia terus menangis hari ini. Mereka berpelukan singkat sebelum membiarkan Kakashi dan Tsunade memberikan ucapan selamat kepada ketiga Shiranui.

"Shizune-senpai, boleh aku menggendong Dan?" tanya Sakura, ketika Kakashi sibuk diajak bicara oleh Genma dan Tsunade.

"Tentu, Sakura-chan. Ini." Shizune menyodorkan Dan dengan hati-hati dan Sakura mengambilnya dengan tidak kalah hati-hati juga.

Ketika melihat Dan di pangkuannya, Sakura terkesiap, "Dia kecil sekali, Senpai!"

Shizune tersenyum. "Dia akan bertambah besar dalam waktu singkat, Sakura-chan. Pastikan kau tidak berkedip."

Sakura menyaksikan Dan menguap dan ia tidak bisa menahan dirinya untuk ber-ooh panjang. "Kami. Dia lucu sekali," komentarnya ketika kini ia bisa memperhatikan Dan lebih baik setelah tadi pagi ia hanya bisa memedulikan kapan paramedis akan tiba. "Aku akan menculiknya, Senpai."

"Oi, Pink. Langkahi mayatku dulu. Buat bayimu sendiri, oke?"

Sakura tidak sadar jika ia tengah diperhatikan ketika memangku Dan. Dan ia merona ketika melihat tatapan Kakashi dan senyuman yang ia tujukan kepadanya. Seketika itu juga Sakura membayangkan jika bayi yang ia pangku tidak berambut cokelat, melainkan putih-perak. Dan ketika ia membuka matanya Sakura bisa melihat sepasang pupil berwarna hijau zamrud ….

Dan rona merah di wajahnya menjadi beberapa tingkat lebih gelap.

Sakura mengembalikan Dan kepada Shizune sebelum ia menjatuhkannya karena salah tingkah, tahu betapa cerobohnya ia jika sedang gugup. "Ini, Senpai. Dia terlihat tidak nyaman ketika kupangku."

"Benarkah? Sepenglihatanku dia baik-baik saja," timpal Shizune ketika ia menerima Dan kembali. "Lihat, dia masih tertidur pulas."

"A-apa kau yakin? Dia sempat mengerutkan dahi tadi."

Shizune mengangkat sebelah alis kepadanya. "Baiklah, Sakura-chan."

Sakura membalasnya dengan senyuman lebar. "Sekali lagi selamat, Shizune-senpai. Aku merasa bahagia untuk kalian."

"Terima kasih, Sakura-chan," respons Shizune, sebelum tersenyum jahil dan berkata, "Tetapi sepertinya bukan hanya aku dan Genma di sini yang harus diberi ucapan selamat juga."

"Ah, siapa lagi, kalau begitu?" Kakashi bergabung ke percakapan. "Tsunade-senpai? Karena lagi-lagi bertambah tua namun berhasil mengalahkan kerutan?"

Tsunade menyeringai. "Not so smooth, Kakashi. Tetapi percobaan mengelak yang bagus."

Genma merangkul bahu sahabat karibnya. "Bagi seseorang yang kemarin berkata jika dia mampu menunggu, kau sungguh-sungguh bisa bergerak cepat, Kakashi."

Kakashi berusaha menimpalinya dengan sedatar mungkin, dan ini membuat Sakura mati-matian menahan senyuman. "Aku tidak mengerti apa maksudmu."

Genma meninju pinggul Kakashi main-main. "Tidak ada gunanya kau berbohong di sini, kami sudah melihat apa yang kalian lakukan di balik pintu itu. Jadi, kalian ofisial sekarang?"

Kakashi melirik Sakura, kemudian nyengir lebar kepadanya. Jantung Sakura sepersekian detik berdetak lebih kencang. "Bagaimana menurutmu, Sakura-chan?"

Sakura berdeham. "Menurutku Genma-senpai lebih penasaran daripada ibu-ibu tukang gosip yang tinggal di sekitar apartemenku."

Genma memalsukan ekspresi terluka dengan dramatis. "Kakashi, Bro, Sakura-chan menghindari pertanyaanku seperti seorang pro. Apakah itu artinya kau dicampakkan di hari pertama jadian?"

"Benarkah begitu?" Kakashi memutuskan untuk ikut bermain. "Sakura-chan, teganya."

Sakura menggeleng tetapi tidak berhenti tersenyum, setelahnya ia menguap tanpa diminta. Sakura menutup mulutnya dengan tangan ketika menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

"Sepertinya ada yang mengantuk selain Dan," komentar Genma. "Kau butuh istirahat, Pink. Pulanglah dan tidur. Besok aku akan membelikan apa pun yang kau mau, sebagai tanda terima kasih."

Sakura tersenyum lebar. "Termasuk sepatu terbaru keluaran M.I.S.A.K.I?"

Genma memutar bola mata. "Termasuk sepatu terbaru keluaran M.I.S.A.K.I."

Sakura berteriak, "Yay!" sementara Kakashi protes, "Hey, tidak adil. Aku juga mau sepatu. Aku juga ikut membantu, kau lupa?"

"Tentu," Genma menyeringai. "Aku akan membelikanmu sepatu yang sama persis dengan milik Sakura-chan."

Kakashi menjawabnya santai. "Bagus. Kakiku akan terlihat indah dengan itu."

Sakura tidak bisa lagi menahan tawanya, juga rasa kantuknya.

"Oi, Kakashi. Antar tuan putri kita pulang, oke? Sepertinya dia bisa tidur kapan saja. Pakai mobilku. Aku tidak akan pulang sampai sore," kata Genma. "Kuncinya masih ada padamu, 'kan?"

Kakashi mengangguk. "Aku akan segera kembali. Ayo, Sakura-chan. Mari antarkan dirimu pulang."

Genma mendengus. "Oh, kau tidak perlu buru-buru, Kakashi."

Alih-alih membalas Genma, Kakashi lebih memilih untuk menutup telinga Sakura supaya bisa melindunginya dari kata-kata penuh sugesti berbahaya yang dilontarkan Genma dan menuntunnya untuk keluar dari ruangan bersalin.


"… kepada Sakura. Bumi kepada Sakura."

Dalam benaknya, Sakura membayangkan berbagai skenario pembunuhan bagi siapa pun pemilik suara yang berani mengganggu tidurnya. Tetapi setelah berjibaku selama beberapa saat akhirnya ia bisa mengenali suara siapa itu, kemudian peristiwa selama dua puluh empat jam terakhir, juga tiga minggu sebelumnya. Ia tersenyum.

Ia pasti sedang bermimpi.

"Hei, Kakashi-senpai," sapa Sakura, masih mengantuk dan kesulitan untuk membuka mata. "Selamat pagi."

"Pagi." Kakashi balas tersenyum, kemudian tangannya yang tidak memegang setir naik ke dashboard untuk mematikan perangkat GPS. "Maaf harus membangunkanmu, tetapi aku harus memastikan jika aku menghentikan mobil di depan bangunan yang benar. Apa itu benar apartemenmu?"

"Ah," ucap Sakura, mengarahkan tatapannya ke sekeliling dengan sedikit linglung. "Kurasa yang itu adalah apartemenku." Ia menunjuk bangunan tiga tingkat di sebelah tiang listrik. "Iya, kurasa yang itu."

"Apa kau yakin?"

"Ya." Sakura mengerjapkan mata. "Ya, aku yakin."

"Oke. Aku akan memarkir mobil di halaman. Apa itu boleh?"

"Tetangga-tetanggaku tidak mempunyai mobil. Jadi kurasa tidak masalah. Tidak akan mengganggu."

Saat itu pintu gerbang ganda di halaman apartemen Sakura terbuka, jadi Kakashi bisa langsung memarkir sedan kecil itu di bawah pohon aprikot yang bunganya mulai habis.

Sakura mengembuskan napas lega ketika melihat tangga yang akan membawanya ke lantai tempat unit apartemennya berada. Tidak seperti Kakashi, kompleks apartemennya tidaklah elit. Mereka bahkan tidak mempunyai lift dan harus menggunakan tangga yang terletak di luar untuk naik dari lantai ke lantainya. Setidaknya tempatnya bersih dan terawat, dan tetangga-tetangganya juga jarang menimbulkan masalah. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa dan pasangan suami-istri baru. Seperti Sakura, mereka hanya akan tinggal di sini hingga mereka bisa mendapatkan hunian yang lebih baik.

Kakashi tidak pernah melepaskan tangannya selama mereka naik ke lantai tiga.

"Maaf karena harus membuatmu berjalan jauh, Senpai," kata Sakura, dan itu benar, mereka harus memutari seluruh lantai karena tangga-tangganya berada di samping gedung secara saling-silang.

"Tidak apa-apa, ini bisa digunakan untuk latihan fisik yang bagus." Kakashi tersenyum. "Tempatnya cukup nyaman, Sakura-chan."

Sakura mengangguk. "Walaupun begitu aku tidak mau tinggal di sini selamanya. Mungkin hanya hingga masa internku habis."

"Ah, kau pernah berkata jika kau tidak mau bekerja di rumah sakit."

Sakura mengangguk. "Dan aku masih belum berubah pikiran."

Jika Kakashi mempunyai sesuatu yang harus ia komentari mengenai itu, ia tidak menyuarakannya. Mereka terus berjalan dalam keheningan yang terasa nyaman hingga mereka sampai ke depan pintu apartemen milik Sakura.

"Ini dia," kata Sakura setelah merogoh tasnya dan membuka kunci. "Home sweet home. Mari mampir dulu, Senpai, aku akan membuatkan teh." Sakura bersyukur karena kemarin ia sempat bersih-bersih dahulu sebelum menemui Shizune di Shibuya. Bagian dalam apartemennya tidak sebesar apartemen milik Kakashi, Sakura hanya memiliki satu kamar tidur dan ruang tamu, kemudian dapur yang bersisian dengan kamar mandi. Masing-masing ukurannya pun tidak terlalu luas. Perabotan di ruang tamunya juga sedikit, hanya ada sofa tua namun layak dan meja, juga nakas untuk menaruh telepon. Sakura juga tidak terlalu menyukai lukisan sehingga tidak banyak ornamen yang menghiasi dinding-dindingnya, hanya ada jam dinding yang modelnya seperti jam matahari dan satu bingkai potret orang tuanya. Ada satu pot tanaman hias di sudut, itu pun terpaksa ia terima karena tidak bisa menolak pemberian Hinata, salah satu temannya.

"Hm, tidak buruk. Aku setengah berharap jika yang aku temukan adalah sesuatu yang mirip kapal pecah."

Sakura memalsukan ekspresi terluka ketika ia menutup pintu. "Sesedikit itu kah kau menaruh kepercayaan kepadaku, Senpai? Sedihnya."

Kakashi tertawa kecil. "Tidak, aku selalu percaya kepadamu, Sakura-chan."

Mungkin ini diakibatkan oleh fakta jika hanya ada mereka di ruangan itu, tetapi Sakura menjadi lebih awas akan keberadaan Kakashi di sekitarnya, mengingatkannya kembali akan betapa kokoh dan konstannya sosok Kakashi. Kehangatan menjalar ke diri Sakura ketika ia melangkah untuk melingkarkan tangannya ke pinggang Kakashi.

"Apa kau buru-buru?" tanyanya.

"Tidak," jawab Kakashi dalam bisikan rendah.

"Kalau begitu tinggallah sebentar."

Sakura berjinjit dan mendongak, kemudian menyapukan bibirnya ke bibir Kakashi. Niat awalnya memang seperti itu; sebuah sapuan, sebuah kecupan polos yang pelan dan ringan, kemudian Kakashi memiringkan wajahnya dan tiba-tiba saja mereka semua menjadi kesiap dan sentuhan-sentuhan mendesak. Dan kini ketika ia sepenuhnya bangun dan tahu jika ini adalah kenyataan, Sakura tiba-tiba saja sadar jika ia sangat merindukan ini. Perasaan ketika disentuh, ketika jantungnya memalu seakan tengah mencoba untuk menghancurkan tulang rusuknya untuk keluar. Kemudian Kakashi menyebut namanya, dan mereka berhenti.

Seketika itu juga Sakura tahu apa yang ia inginkan.

Ia mengambil satu langkah mundur, memastikan jika dirinya tidak berkedip selama Kakashi mengawasinya. Dengan satu gerakan mulus Sakura melepas switer bernoda darahnya ke lantai, dan ketika dirinya tidak melihat Kakashi mempunyai masalah dengan apa yang tengah ia lakukan, Sakura melepas kamisol hitamnya dengan gestur yang lebih berani. Sekarang ia nyaris telanjang dada, hanya menyisakan bra hitam berenda untuk menutupi kesederhanaannya.

Sekarang ia menunduk. Ia menunggu, kemudian mulai ragu.

Bagaimana jika ini adalah sebuah kesalahan? Bagaimana jika Kakashi tidak menginginkannya juga? Bagamana jika ia terpengaruh oleh ucapan Kabuto—

"Sakura, tidak." Ia kembali ke kenyataan ketika Kakashi mengambil tangannya, yang tanpa Sakura sadari kini menyilang, mencoba menutup dadanya. "Jangan lakukan itu. Aku bukan Kabuto. Aku ingin melihatmu." Ia sepertinya merasakan kesangsian Sakura dan mencoba meyakinkannya dengan membawa telapak tangannya ke tempat di mana jantungnya berada. "Kau bisa merasakan itu? Bisakah kau melihat reaksi apa yang kautimbulkan sekarang terhadapku?" bisiknya parau. "Aku menginginkamu juga, Sakura. Kami tahu sudah berapa lama aku membayangkan dirimu seperti ini di hadapanku. Kakimu," katanya sambil menelan ludah, terdengar begitu mendamba hingga rasanya menyakitkan. "Kakimu membuatku gila. Sudah lama sejak terakhir kali aku merasa sebegini kotor, dan itu karenamu."

Perlahan, Sakura mengangkat tatapannya dan membajakan dirinya sendiri agar bisa memandang Kakashi tepat di mata. Apa yang ia lihat di sana menghentikan napasnya.

Sakura bisa melihat pupil Kakashi melebar penuh, apa yang ada di sana membuat hati Sakura terasa diremas dengan menyakitkan. Ia bisa melihat hasrat, puja, ingin—dan bisakah ia mengatakannya, cinta? Tetapi Sakura tidak punya waktu untuk memikirkannya, karena hasrat dalam dirinya sendiri pun kini mulai menyeruak kembali ketika tahu jika Kakashi juga menginginkannya.

Ia mengangkat tangannya dari dada Kakashi dan melingkarkan keduanya di lehernya, mendekatkan tubuh mereka selekat mungkin. "Cium aku, Senpai," bisiknya. "Cium aku sehingga aku tahu ini bukan mimpi."

"As you wish." Kakashi merengkuh Sakura, kemudian menunduk untuk memberi Sakura ciuman yang membuat lututnya goyah. Ciumannya terasa seperti ciuman pertama, ragu dan hati-hati namun mengagumkan, seolah berkata 'Apa segini boleh?' 'Apa aku melakukan kesalahan?' 'Apa kau ingin lebih?'

Sakura menjawabnya dengan menggigit bibir bawah Kakashi, membuatnya dihadiahi erangan dalam dari tenggorokan pria itu. Hanya dengan mendengarnya saja membuat hasrat Sakura menjadi berlipat ganda dan ikatan ketat mulai terbentuk di perut bagian bawahnya.

Kakashi memperdalam ciuman mereka, dan Sakura membiarkan dirinya dimanjakan oleh lidah Kakashi di dalam mulutnya. Sakura dibuat melayang dan tanpa ia sadari kini punggungnya telah bersandar ke pintu dan kedua kakinya melingkar di pinggul Kakashi, tangan-tangan kokohnya melakukan hal-hal mengagumkan di punggung dan paha Sakura. Sakura mulai berani dan berhenti pasif dengan mulai mencium balik, jemarinya menyugar rambut-rambut keperakan di kepala Kakashi yang membuat pria itu mendesah dengan apresiasi. Ketika keduanya melepaskan pagutan untuk menarik napas, Sakura bisa melihat benang-benang saliva menghubungkan mulut keduanya sebelum putus. Keduanya terengah dan merah masak, apa yang baru mereka lakukan terasa begitu kotor tetapi Sakura menyukainya. Ia membutuhkannya.

"Itu adalah ciuman yang fantastik, Senpai," Sakura berkata tanpa berpikir. "Wow."

Kakashi menyeringai, kini setelah masalah perbedaan tinggi badan mereka teratasi ia tidak perlu lagi menunduk untuk menatap Sakura. "Well, thank you. Aku cukup berpengalaman dalam hal ini, Sakura-chan."

"Hm, aku berada di tangan yang tepat, kalau begitu?" tantang Sakura, dan ia bisa melihat hasrat kembali dalam diri Kakashi.

"Dengan senang hati, aku bisa menunjukkannya kepadamu."

Kakashi menciumnya lagi, masih terasa mengagumkan seperti yang sebelumnya tetapi kali ini tidak lama. Mulut Kakashi kini ia fokuskan untuk memberi kecupan-kecupan basah ke dagu, rahang, leher dan berhenti di pangkal payudara Sakura. Sakura tidak bisa menahannya lagi.

"Kamar." Napas Sakura tercekat di tenggorokkannya.

Sakura bisa merasakan Kakashi menyeringai di belahan dadanya. "Di mana?"

"Pintu itu." Sakura menjentikkan jempolnya ke arah kamarnya. "Cium aku lagi, Senpai."

Entah bagaimana, Kakashi berhasil membawa Sakura ke depan pintu kamarnya sambil terus mencumbunya tanpa sekali pun tersandung perabotan. Kemudian ia berhenti.

"Ada masalah apa?"

"Pintunya terkunci."

Sakura secara mental menepuk dahinya sendiri. Ia melepaskan dirinya dari Kakashi dengan tidak ikhlas. "Kuncinya ada dalam tas, biarkan aku mengambilnya dulu."

"Kau mengunci kamar tidurmu juga, Sakura-chan?"

Sakura tersenyum ketika menemukan benda yang ia cari. "Penjagaan ekstra, Senpai. Aku punya teman yang sering meminjam sepatu tanpa izin. Aku bisa memercayainya dengan memberinya kunci cadangan apartemenku, tapi kamar tidur terlarang."

Terutama untuk kasus seperti ini, lanjut Sakura dalam hati. Aku tidak ingin Ino masuk dan melihatku merintih dan mendesah ketika sedang melakukan sex. Ugh, skandal.

Dan kenyataan datang memalunya dengan hebat. Ini dia, pikir Sakura. Aku akan melakukan seks—ugh, bercinta, dengan Kakashi, bukan?"

"Ada yang salah, Sakura-chan?" curiga atas kediaman Sakura, Kakashi bertanya.

Sakura menggeleng, kemudian menelan ludah. "Ini benar-benar terjadi, 'kan, Senpai? Kau dan aku?"

"Ya," jawab Kakashi, tersenyum, matanya hangat dan menawarkan rasa aman. "Kau masih ingin melanjutkannya?"

Alih-alih menjawabnya, Sakura membuka kunci kemudian berdiri di ambang pintu untuk menghadapi Kakashi.

Sakura menjatuhkan bra-nya ke lantai, menyeringai.


Gadis ini benar-benar bisa membuatku mati, pikir Kakashi, napasnya tercekat dan ia bisa merasakan darahnya mengalir dengan mendesak ke bawah sana ketika bra Sakura tergeletak di lantai. Kakashi tidak memedulikan bra-nya, sungguh, ia bahkan tidak bisa memalingkan pandangannya dari dada polos Sakura.

Seorang pria hanya bisa menahan apa yang ia bisa, batinnya lagi, dan batasanku sudah dijebol beberapa waktu yang lalu.

"Kakashi-senpai." Sakura tersenyum, dan segala kontrol yang berusaha dikendalikan Kakashi sedari tadi lepas sudah. Gadis ini adalah Siren, dan aku binasa.

Kakashi tidak pernah menyangka jika mereka akan sampai pada tahap ini, setidaknya tidak untuk sekarang. Tetapi ia juga tidak pernah menyangka akan mencium Sakura tadi pagi. Jadi bagaimana pun caranya Kakashi tetap mengacau.

Tapi apakah ia benar-benar bisa disalahkan? Di hadapan wanita secantik dan sepintar Sakura, salahkah dirinya jika tidak bisa menahan diri? Apalagi Sakura sama-sama menginginkan ini, dan Sakura juga yang pertama kali menginisiasi.

Kakashi bisa saja menolak tadi, tetapi ia ingat jika salah satu akar dari rasa tidak percaya dirinya adalah perasaan tidak diinginkan. Akan menjadi blunder besar baginya jika menolak Sakura saat ini. Sakura sudah lama merasa jika dirinya tidak berharga, dan hal terakhir yang diinginkan Kakashi adalah melakukan hal yang sama dengan orang-orang yang membuatnya merasa demikian. Kakashi ingin membuat Sakura merasa cantik. Kakashi ingin membuat Sakura merasa dihargai sehingga ia bisa menghargai dirinya sendiri.

Setidaknya itu rencana awalnya, namun nyatanya sekarang Kakashilah yang berada sepenuhnya dalam belas kasih Sakura.

Apa yang Kakashi rencanakan berbalik memakannya sendiri, tetapi ia tidak bisa berkata jika ia keberatan.

Kakashi tidak terlalu ingat bagaimana persisnya, tetapi kini mereka berdua telah sama-sama berbaring di tempat tidur milik Sakura. Kakashi menindihnya, melarikan kecupan dan hisapan dan gigitan di leher Sakura seperti pria yang tengah dirasuki. Suara-suara kecil yang diberikan Sakura tidak melakukan apa pun selain memperbesar api hasrat di dalam dirinya. Ia begitu fokus dengan tugasnya sehingga tidak menyadari jika Sakura telah menyingkirkan jaketnya dan jemarinya kini tengah berusaha untuk membuka kancing-kancing dari kemeja Kakashi dengan tangan-tangan bergetar.

"Aku ingin merasakanmu, Senpai," kesiap Sakura di telinga Kakashi. "Lepaskan kemejamu, kumohon."

Kakashi menghentikan kegiatannya di leher Sakura dan memberinya senyuman, mengecup bibir Sakura secara polos kemudian bangkit, tanpa kesulitan melepas kancing terakhir dan melempar kemeja serta kaus dalam spandex hitamnya ke lantai.

Kini mereka sama-sama telanjang dada.

Tatapan yang diberikan Sakura kepadanya mencuri napas Kakashi saat itu juga. "Kau sangat indah, Senpai."

Kakashi ingin sekali tertawa jika saja ia tidak terlalu dalam dimakan hasrat saat ini. Seharusnya itu adalah kalimatnya.

"Kemari," Kakashi berkata serak, menarik Sakura untuk bangun dan duduk di pangkuan Kakashi. Sensasi ketika dada mereka bersentuhan terlalu intens untuk keduanya tanggung, dan keduanya mendesah. Sakura terasa sangat lembut di kulitnya, dan Kakashi tidak bisa berhenti untuk menghujani kulit di daerah tulang selangkanya dengan kecupan-kecupan basah. Tangan-tangannya sudah lama mengembara. Kakashi mengusap pinggulnya, punggungnya, kini naik ke bawah ketiak Sakura di mana pangkal payudaranya berada. Ketika Kakashi mencoba-coba memberikan pijatan pelan di sana, Sakura mendesah panjang.

Apanya yang bisa membuat selimut membeku? Pikir Kakashi ditengah benaknya yang berkabut. Kau tidak tahu apa yang telah kau lewatkan, Kabuto. Tetapi aku bersyukur karena kau melewatkannya, sungguh.

Kakashi mendorongnya kembali ke tempat tidur, kali ini kecupannya ia larikan ke belakang telinga Sakura sementara tangan-tangannya menggantikan apa yang ia lakukan dengan mulutnya sebelumnya di dada Sakura, dan seperti apa yang diharapkan Kakashi, seluruh tubuh Sakura menggigil karena gairah.

"Kami," engah Kakashi. "Aku tidak akan pernah merasa cukup untuk menyentuhmu, Sakura-chan."

"Kalau begitu jangan berhenti."

Kakashi menciumnya lagi, kemudian turun ke leher, ke dada, ke perut sebelum berhenti di pinggul Sakura yang masih terhalang celana jinsnya, penghalang yang menentukan akan ke mana mereka setelah ini.

"Kau ingin melepas ini?" tanya Kakashi memastikan, dan Sakura mengangguk. "Oke. Cobalah untuk kembali santai," katanya sembari menarik risleting celana Sakura turun, tidak lama kemudian benda itu sudah bergabung dengan potongan pakaian lain di lantai.

Sakura memakai celana dalam katun hitam. Imut, pikir Kakashi. Dan ia pun dengan segera menyingkirkannya.

Sekarang Sakura sudah sepenuhnya polos di hadapannya. Kakashi sekali lagi tersadar akan betapa cantiknya gadis ini.

"Aku akan menyentuhmu di sini." Kakashi mengecup paha dalamnya, perlahan naik dan naik. "Katakan jika kau menginginkannya, Sakura."

Karena Kakashi tidak akan melakukan apa pun yang tidak Sakura inginkan.

Tetapi jawaban Sakura adalah "Ya!" yang tercekat dan terdengar lebih seperti desisan, jadi Kakashi tidak mempunyai pilihan selain patuh.

Kakashi mulai melarikan mulut dan lidahnya di kewanitaan Sakura, dan Sakura merintih dan mengejang dan mengetat hingga dirinya selesai dan kembali dari puncak, tersenyum kepada Kakashi setelahnya.

Kakashi mengecup kedua kelopak mata Sakura, sudah akan menarik selimut untuk membiarkan Sakura beristirahat ketika tangan gadis itu mencegahnya.

"Senpai, kau belum selesai."

Kakashi tersenyum. "Tidak apa-apa, Sakura-chan. Aku bisa menyelasaikannya sendiri." Ia meringis. "Cukup izinkan aku untuk menggunakan kamar mandimu."

Sakura menggeleng. "Tidak. Aku ingin kau selesai di dalam tubuhku, Senpai."

Kakashi juga menginginkannya, sangat, tetapi mereka tidak bisa melakukannya sekarang.

"Tidak bisa, Sakura-chan. Aku tidak membawa persiapan. Kita tidak bisa melakukannya tanpa terlindungi apa pun." Kakashi menarik napas panjang, berharap dengan begitu rasa sakit di tubuhnya akan sedikit berkurang. "Sekarang, di mana kamar mandimu?"

Sakura tidak membeli kata-katanya. Ia melingkarkan tangannya ke leher Kakashi dan menarik pria itu mendekat. "Senpai, kau pikir aku ini amatiran, ya?" Ketika Kakashi mengerutkan dahi, Sakura tertawa, kemudian berbisik di telinganya. "Ada kondom di laci di samping tempat tidur, Senpai."

Sakura tersenyum, dan Kakashi mengutuk.

Ia binasa, benar-benar binasa.


Sakura bermimpi tentang padang ilalang dan langit musim panas, juga ikan-ikan kecil yang berenang di dalam ember, juga cahaya matahari yang begitu silau sehingga ia harus terpejam. Ketika ia membuka matanya lagi, ia mendapatkan kesadarannya kembali, langsung berhadapan dengan dinding bercat krem tua polos.

Ia terbangun di kamar apartemennya, terbaring menyamping di sisi tempat tidur, dengan helaan napas hangat menyapu lehernya. Sepasang tangan kokoh memeluk perutnya dari belakang, dan ia merasakan dada Kakashi yang solid menempel dari kulit ke kulit dengan punggungnya. Sakura merasakan Kakashi bernapas, dadanya naik dan turun, sesekali detak jantungnya terasa. Sakura tersenyum kepada dirinya sendiri ketika mengingat kegiatan mereka sebelum ini.

"Apa yang kaupikirkan?" bisik Kakashi di telinganya. Jadi ia juga sudah bangun.

"Aku sedang berpikir jika aku butuh tempat tidur yang lebih besar."

"Aku tidak keberatan dengan tempat tidurmu yang ini."

Sakura menutup tawanya dengan punggung tangan. "Tempat tidurku terlalu kecil untuk berdua." Dan itu benar, kasur Sakura hanya diperuntukkan untuk satu orang dewasa. Ia sendiri takjub karena tidak ada satu pun dari mereka yang jatuh selama melakukan kegiatan sebelum ini.

"Itu intinya. Dengan begitu aku bisa terus menempel padamu tanpa harus mencari-cari alasan." Kakashi mempererat pelukannya sambil sesekali mengecup ujung tulang bahu Sakura.

Sakura memutar tubuhnya untuk menghadapi Kakashi, langsung dihadiahi senyuman setengah oleh pria itu dan hatinya dibuat menggelepar karenanya. "Aku tidak bermimpi, bukan?"

"Apa yang membuatmu berpikir ini adalah mimpi?" Kakashi menyelipkan sejumput rambut Sakura ke telinganya.

"Karena aku pernah membayangkan saat-saat seperti ini, bersamamu, tetapi ketika terbangun sisi tempat tidurku yang lain ternyata kosong?"

"Kau pernah memimpikanku?" Kakashi mengerutkan dahi, dan tatapan yang ia berikan setelahnya lebih terlihat seperti sebuah kelegaan alih-alih merasa aneh. Setelah itu ia terkekeh. "Yah, kalau begitu kita sepadan." Ia mengecup dahi Sakura. "Apakah sekarang aku terasa nyata? Atau tidak?"

"Kau terasa seperti keduanya," jawab Sakura, matanya terpejam, wajahnya ia tenggelamkan lebih dalam ke perpotongan antara leher dan bahu Kakashi. "Tetapi yang pasti kau lebih ahli dari dirimu yang dari dalam mimpi."

Di sini Kakashi mau tak mau tertawa. "Terima kasih, Sakura. Aku tersanjung."

Sakura mendorong kepalanya ke belakang untuk mendongak, menatap Kakashi lekat. "Kau memanggilku Sakura, hanya Sakura, tanpa –chan."

Kakashi mengangkat sebelah alisnya. "Kau keberatan?"

Sakura menggeleng, tersenyum tulus. "Aku menyukainya. Jujur saja, aku agak tidak suka mendengarnya darimu. Rasanya seperti dianggap anak kecil, atau bukan seseorang yang setara."

"Maafkan aku, tetapi kau tahu itu peraturan rumah sakit." Kakashi menjawil pangkal hidung Sakura pelan.

"Aku tidak bermaksud membuatnya terdengar seperti aku menyalahkanmu." Sakura tersenyum. "Aku menyukai bagaimana namaku terdengar jika kau yang mengucapkannya, Senpai."

"Aku akan terus memanggilmu seperti itu, hanya bila kau juga berhenti memanggilku Senpai."

Sakura mengangguk. "Hanya jika kita berada di luar rumah sakit."

Kakashi setuju. "Hanya jika kita berada di luar rumah sakit."

Hal itu membuat Sakura menyadari sebuah hal yang penting. "Jadi ini benar, kalau begitu? Maksudku, kita benar-benar bersama sekarang?"

Kakashi mengambil lengan Sakura untuk mengecup jari-jarinya. "Hanya jika kau menginginkannya." Setelah itu Kakashi menaruh kedua tangan mereka ke dadanya di mana jantungnya tertanam. "Apa kau ingin bersama denganku, Sakura? Aku ingin."

Pengakuan itu membuat belakang mata Sakura memanas. "Sungguh? Kau sungguh-sungguh ingin bersamaku?"

"Memangnya ada alasan yang membuatku tidak sungguh-sungguh ingin bersamamu?"

Sakura mengangguk. "Aku cengeng." Dan Sakura menangis ketika mengatakannya. "Lihat."

Kakashi tersenyum sambil mengusap air mata Sakura dari pipinya. "Itu artinya kau tidak pernah melarikan diri dari apa pun yang kaurasakan. Kau menghadapi mereka langsung, kemudian menerimanya. Karena itulah kau menangis, seperti manusia biasa lainnya. Itu adalah kekuatan, Sakura. Bukan kelemahan."

Sakura mengambil napas panjang. "Aku juga tidak tahu malu. Aku memaksakan diriku kepadamu tadi untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku tidak seperti perempuan lain yang manis dan penyabar."

Kakashi menyeringai. "Kau tahu aku tidak mengeluh. Aku sama-sama menikmatinya denganmu." Setelah itu ekspresinya melembut ketika melanjutkan, "Aku tidak punya masalah dengan perempuan yang pasif dan menyerahkan sepenuhnya kontrol kepada partnernya jika sudah menyangkut seks, tetapi aku lebih menyukai perempuan yang bisa mengambil inisiatif dan tahu apa yang dia inginkan. Aku ingin merasakan partnerku hidup—aku butuh merasakan partnerku hidup dan sama antusiasnya denganku, karena itu artinya aku bercinta dengan manusia yang sama-sama bernapas, sama-sama berhasrat, sama-sama menginginkan apa yang aku inginkan, bukan boneka yang bisa seenaknya kugunakan." Kakashi menangkup pipi Sakura dengan kedua tangannya, memaku tatapan mereka lekat-lekat. "Dengar, Sakura. Seks bukanlah perbuatan dosa. Seks adalah salah satu cara manusia untuk menyampaikan emosi semenjak mereka diciptakan, seks adalah salah satu dari sekian banyak cara untuk menyampaikan cinta. Seks adalah kebutuhan jasmani—dan di beberapa kesempatan, rohani—laki-laki dan perempuan sama-sama berhak menginginkannya. Tidak ada yang memalukan jika perempuan yang pertama kali menginisiasi seks, bila ada yang berkata sebaliknya kau boleh mengebiri mereka."

Tawa Sakura terdengar pecah karena di saat yang bersamaan ia juga terisak. "Di kehidupan sebelumnya aku pastilah orang suci karena sekarang aku dianugerahi pria semengagumkan dirimu." Sakura menyentuh pelipis Kakashi, kemudian turun ke bekas luka yang melintang dari mata ke pipinya. Kakashi menahannya untuk tetap di sana dengan tangannya sendiri.

"Aku tidak perlu bertemu dengan dirimu di kehidupan sebelumnya untuk melihat seperti apa dirimu yang sebenarnya." Kakashi menatapnya seolah ia benar-benar memujanya, dan hati sakura berdenyut sakit karena haru. "Kau adalah perempuan paling luar biasa yang pernah kutemui. Kau sangat tulus dan peduli, aku melihatnya ketika kau memperlakukan pasien-pasienmu. Kau mempunyai hati yang besar dan empati, aku melihatnya setiap kali kau menatap Naruto. Kau selalu mementingkan orang lain dari pada dirimu sendiri, terbukti ketika kau lebih mengkhawatirkan keadaan Shizune daripada sibuk tersanjung karena telah dipuji Kurenai tadi pagi."

Sakura berkedip. "Aku dipuji Kurenai-senpai?"

Kakashi mengecup pipi Sakura besar-besar. "Lihat? Kau bahkan tidak sadar jika kau telah dipuji. Aku tidak tahu apakah itu hal baik atau buruk."

Sakura tertawa geli ketika Kakashi menyapukan bibirnya ke kulit lehernya dan meniup ciuman bluberi di sana, seperti kepada anak kecil. "Aku sungguh-sungguh tidak sadar, satu-satunya yang kupikirkan saat itu hanyalah keselamatan Shizune-senpai dan bayinya. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu kepada mereka."

"Tetapi mereka baik-baik saja. Dan kau berada di sini, dalam rangkulanku. Jadi aku tidak bisa meminta yang lebih dari ini."

Kali ini Sakura yang mencium Kakashi, dan tidak perlu waktu lama bagi tubuh mereka untuk mendapatkan percikan gairah itu kembali.

Tidak ada perbincangan atau momen-momen lembut setelahnya, karena hari hampir sore dan Kakashi mempunyai kehidupan lain selain Sakura. Ia mencemaskan Naruto. Kakashi bergegas menggunakan kamar mandi Sakura dan berniat untuk pulang setelahnya. Ketika Kakashi membersihkan diri di sana, Sakura duduk sendirian di pinggir tempat tidur, polos tanpa pakaian. Menghiraukan suara kecil dan gelap dalam dirinya, Sakura membiarkan dirinya merasa bahagia setelah sekian lama ia lupa bagaimana rasanya.

Sama seperti apa yang telah dikatakan Kakashi, ia tidak bisa meminta lebih dari ini.


Aku harap Sakura ada di rumah, hari ini adalah jatah liburnya, pikir Ino, ketika dirinya dan Hinata keluar dari statsiun dan mulai berjalan menuju kompleks apartemen Sakura. Tidak, Sakura pasti ada di rumah, dia tidak mempunyai pacar dan malas jalan keluar sendirian. Aku harap kali ini ia tidak mengurung diri di kamar dan tidur seharian seperti orang depresi.

Terkadang Ino tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap Sakura, sahabatnya seolah bersikeras jika hidupnya ditakdirkan menyedihkan dan menyerah untuk mencari kebahagiaan semenjak ia putus dengan pacar terakhirnya sembilan bulan yang lalu. Ino tidak pernah menyukai Kabuto semenjak pertama kali Sakura mengenalkan mereka, katakanlah karena instingnya menyuruhnya untuk demikian, dan insting Ino selalu benar. Ketika mereka putus, Ino tidak menyangkal jika ia merasa senang.

Tetapi Ino tidak menyangka jika setelahnya Sakura akan mengganti program residensinya secara tiba-tiba. Ino mengerutkan dahi ketika melihat formulir pengajuan masa intern dari rumah sakit yang diperuntukkan untuknya, melihat pilihan Emergency Room di sana, padahal sebelumnya Sakura sudah yakin jika ia akan mengajukan diri sebagai pengaplikan di bagian kardiologi. Walaupun tidak satu jurusan, tetapi mereka satu universitas ketika kuliah di Miyazaki dulu dan menjadi teman dekat di sana. Waktu yang mereka lewati bersama cukup untuk membuat Ino mengenal kepribadian Sakura dengan sangat baik.

Ino benar-benar dibuat kaget ketika beberapa hari setelah ia diputuskan Kabuto, Sakura datang kepadanya dan berkata jika ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh cinta lagi. Bahwa ia sudah menyerah untuk mencari pasangan hidup, memutuskan untuk melajang hingga mati dan mendedikasikan seluruh hidupnya kepada karirnya. Ino hanya tertawa ketika mendengarnya, menganggap Sakura hanya membual. Tetapi kini ketika sembilan bulan telah berlalu dan Sakura mulai terlihat serius dengan sumpahnya dan menjadi seorang workaholic sejati, mau tidak mau Ino menjadi khawatir.

Mungkin perempuan lain bisa mengambil keputusan sebesar itu dan masih bisa merasa bahagia setelahnya, tetapi Sakura tidak.

Sakura adalah perempuan yang tidak pernah menyembunyikan emosi dan perasaannya. Ia terlahir sebagai seorang pencinta. Ia bisa mencintai hal yang paling sepele. Ia bisa bertahan tanpa dicintai, tetapi tidak bisa hidup tanpa mencintai. Sakura terlahir sebagai seseorang yang penuh welas asih. Ia akan jatuh cinta lagi dan lagi, dan itu membuatnya menyedihkan seperti saat ini. Sakura tidak akan bisa menekan perasaan dan emosinya, dan Ino tidak tahu apakah itu adalah kelebihan atau justru kelemahannya. Yang jelas Sakura akan menjadi semakin menyedihkan jika hidup sendiri, dan satu-satunya harapan untuknya adalah menemukan orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.

Tetapi sepertinya di masa lalu Sakura pernah dikutuk, karena ia tidak pernah menemukan orang yang tepat.

Ino akan menertawakannya jika saja keadaannya tidak seserius ini.

Pada akhirnya Ino tidak tahu apa yang harus ia lakukan kepada Sakura. Hidup melajang tidak cocok untuknya, berkali-kali jatuh ke pelukan lelaki berengsek juga bukan pilihan yang lebih baik.

Mungkin Sakura benar, sahabatnya terlahir menyedihkan.

"Ino-chan, apa tidak sebaiknya kita mengabari Sakura-chan dulu kalau kita akan berkunjung? Siapa tahu dia tidak ada di rumah."

Ino menggeleng kepada Hinata. "Dia pasti ada di rumah, tenang saja, Hinata-chan. Dia tidak punya pacar, dan satu-satunya temannya adalah kita. Dan kau tahu sendiri jika dia tidak suka keluar sendirian."

Hinata tersenyum. "Aku harap begitu, aku tidak mau keik yang kita beli menjadi sia-sia nanti."

Ino mengangguk, hari ini mereka membawa camilan serba cokelat untuk Sakura mengingat sahabat mereka sangat terobsesi dengan rasa itu.

"Aku harap Sakura-chan baik-baik saja, aku belum mendengar kabar darinya sejak seminggu terakhir. Semoga dia tidak terlalu memaksakan dirinya di rumah sakit."

Mengetahui tabiat buruk sahabatnya, Ino tidak akan menaruh harapannya tinggi-tinggi.

Terkhir kali Ino berbincang lama dengan Sakura adalah tiga minggu yang lalu, dan itu pun lewat telepon. Saat itu Sakura terdengar sangat bersemangat ketika menceritakan tentang Senpai baru yang bergabung dengan timnya untuk mengganti perawat yang sedang cuti. Ino tidak terlalu memperhatikannya karena dirinya terlalu terdistraksi oleh apa yang dilakukan mulut Sai terhadap tubuhnya. Sakura meneriakinya dan menutup telepon dengan paksa ketika sadar jika Ino berbicara dengannya sambil melakukan seks, memanggil Ino pengkhianat.

Ia masih ingin tertawa jika mengingatnya.

Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di depan pintu apartemen Sakura. Ino memiliki kunci cadangannya sehingga ia tidak perlu memencet bel dan langsung masuk ke ruang tamu.

Apa yang dilihatnya di sana tidak membuatnya terkesan.

Ino melihat kamisol dan switer merah muda yang dibeli Sakura bersamanya dan Hinata tercecer di lantai, pikiran pertama yang melintas adalah sisi pemalas Sakura kambuh dan ia melewatkan jadwal untuk mencuci baju. Ia mendesah lelah dan mulai memungut potongan-potongan pakaian itu satu per satu. Namun pergerakannya terhenti ketika ia mengangkat switer rajut yang sudah Sakura klaim sebagai pakaian kesayangannya.

Di bagian yang seharusnya menutupi perut, Ino bisa melihat bercak darah yang cukup besar, dan benaknya lari ke kemungkinan terburuk.

Ada yang melukai Sakura. Sakura melukai dirinya sendiri.

"Ino-chan!" Di sebelahnya Hinata terkesiap ketika melihat switer itu juga, wajahnya memucat. "Tidak, Sakura-chan—tidak mungkin."

Ino segera berdiri dan melesat menyebrangi ruang tamu untuk menyasar pintu kamar Sakura. Jantungnya berpacu kencang karena rasa takut. Tetapi di tengah jalan kakinya tersangkut sesuatu dan Ino mengutuk sebelum mengangkat benda sialan yang hampir membuatnya jatuh. Ino tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika ia mengangkat sebuah bra hitam berenda.

Bra, pikirnya, apa yang dilakukan sebuah bra di sini?

Jauh di dalam benaknya Ino tahu alasan mengapa sebuah bra bisa terdampar di sini, tetapi noda darah di switer Sakura membuatnya terlalu panik untuk bisa menyimpulkan sesuatu dengan benar. Ia sudah akan membuka pintu kamar Sakura (mendobraknya, jika perlu) dan sudah menyiapkan dirinya untuk melihat pemandangan terburuk tetapi pintu kamar mandi Sakura terlebih dahulu terbuka, dan seseorang yang hanya bisa digambarkan oleh benaknya yang kacau sebagai dewa seks yang habis mandi melangkah keluar.

"Sakura, apa kau punya sesuatu yang bisa kugunakan untuk mencukur? Silet pun tidak apa-apa—" kemudian dirinya dan pria yang bertelanjang dada (dan dadanya bagus, pikir Ino, kekar dan berotot seperti ukiran patung Dyonisus) bertatapan. Ino bersyukur karena setidaknya pria ini mengenakan celana, walaupun sebagian besar kulit di pinggulnya masih bisa terlihat (Holy titties! Ino yang di dalam meliur. Mimpi apa aku semalam sehingga bisa melihat barang bagus?) "Uh," katanya, terlihat sama terkejutnya dengan Ino. "Halo?"

"Tunggu sebentar, Kakashi, aku ke sana—INO?!"

Ino dengan susah payah berhenti menganga dan melirik Sakura di sampingnya, gadis itu hanya mengenakan T-shirt yang hampir tidak menutupi pangkal pahanya. Perlahan pemahaman datang kepadanya, tetapi ia tetap tidak mampu mengeluarkan kata-kata yang koheren.

Ino melirik Hinata, gadis malang itu terlihat tidak bisa bernapas di hadapan pria seksi berambut keperakan ini.

"Oh, hai, Sakura. Kupikir seseorang sudah menusukmu dan kau terbaring dan berdarah di suatu tempat," kata Ino setelah pikirannya kembali utuh, kemudian menyeringai. "Tetapi sepertinya kau memang sudah ditusuk, hanya saja caranya lain."

"Hah?" Wajah Sakura merah menyala. "Apa maksudmu, Ino-babi?"

"Kami pikir seseorang telah melukaimu, Sakura-chan! Atau kau melukai dirimu sendiri." Hinata mengambil switer berdarah itu dari tangan Ino dan menunjukkannya kepada Sakura, setelah itu ia kembali melihat pria itu dan merona hebat. "Syu-syukurlah bukan itu yang terjadi."

"Itu bukan darahku, Hinata-chan. Tenanglah."

Kemudian pria itu tertawa, tawanya dalam dan terdengar menyenangkan. "Kupikir kita harus lebih rapi setelah ini, Sakura. Tidak boleh melepas pakaian di luar kamar."

Dan Sakura dibuat merona hebat olehnya.

Ino memutuskan jika ia menyukai pria ini.

"Maafkan kelancangan kami." Ino berkata, tidak berhenti menyeringai. "Sepertinya kami datang di waktu yang tidak tepat dan menginterupsi sesuatu yang penting. Kami akan segera pulang."

"Ah, tidak perlu. Sesuatu yang pentingnya sudah selesai dan aku sedang bersiap untuk kembali ke rumah sakit. Teman-teman Sakura, kutebak?"

Ino mengangguk. "Ino Yamanaka, dan ini Hinata Hyuuga. Tadinya kami ingin memberi Sakura-chan kami yang tersayang kejutan, namun sepertinya malah kami yang dibuat terkejut."

"Ah, aku minta maaf untuk itu." Pria itu terkekeh. "Kakashi Hatake. Senang berjumpa dengan kalian, Nona-Nona."

"Apa kau adalah pacarnya Sakura, Hatake-san?"

Sakura memekik, "INO!" yang dengan mulus ia hiraukan.

"Pertanyaan itu biar Sakura saja yang menjawab." Kakashi tersenyum, kemudian menatap Sakura dengan mata yang berkilat jahil. "Sakura, cintaku, the apple of my eyes, apa kau membawa pencukur yang kuminta?"

Ah, Ino benar-benar menyukai pria ini.

"Kakashi, tolong jangan lagi menyemangati Ino." Sakura memutar bola mata, namun Ino tahu sahabatnya mati-matian menahan senyuman. "Ini." Ia menyerahkan pencukurnya kepada Kakashi.

"Terima kasih." Kakashi mengecup pipi Sakura, dan Ino ingin memekik kegirangan saat itu juga. "Yamanaka-san, Hyuuga-san, jika kalian tidak keberatan aku harus bercukur dulu."

"Ambil waktu sesukamu, Hatake-san."

Ketika Kakashi menghilang lagi, Ino mengambil lengan Sakura dan menggiringnya ke sofa. "Kau berhutang penjelasan kepadaku, Jidat."

"Penjelasan apa?"

"Oh, banyak," jawab Ino. "Pertama-tama, jelaskan bagaimana rasanya seks dengan pria itu."

Ino menyeringai ketika Sakura mengerang.

Kakashi Hatake tidak tinggal lama dengan mereka. Ia langsung keluar dari apartemen begitu selesai berpakaian. Ino melihat Sakura mengantarnya ke pintu depan, keduanya berbagi sebuah ciuman dalam dan berkata akan saling menghubungi nanti malam sebelum Kakashi pergi. Ino menyaksikan mereka sambil tersenyum. Sakura terlihat begitu bahagia, itu yang paling penting. Kakashi pun terlihat sudah tersihir sepenuhnya oleh Sakura. Mereka saling mencintai, Ino bisa melihatnya dengan jelas.

Mereka pasangan yang cocok, dan Ino merasa bahagia untuk keduanya. Ia bisa berhenti mengkhawatirkan Sakura untuk sejenak.

Ia hanya bisa berharap jika Sakura tidak akan mengacau kali ini.


End notes:

AAAAAAAAAAA ingin mengelinding huhuhu, ini pertama kalinya saya bikin smut yang seperti ini. Nulis smut itu sulit, dan ini alasan kenapa update-nya ngaret lol

Semoga smut-nya nggak awkward bin aneh. Duh, salut sama author yang bisa lancar bikin smut, ya, I'm such a prudish O(-

Dan semoga yang seperti ini tidak melanggar guideline rating FFn, saya nggak terlalu ngeh smut yang tidak eksplisit itu seperti apa. Tapi kalaupun melanggar fanfiksi ini juga saya crosspost ke AO3 (username-nya sama: clarione) jadi nanti kalau akhirnya harus diedit teman-teman bisa membaca yang non-edit di sana.

Saatnya untuk balas review di chapter kemarin. \o/

Icce99: Terima kasih buat reviewnya, ini sudah lanjut.

Eirien Fu: aku the udah bales review di messenger kan ya? Tapi gapapa kubales lagi di sini teehee because baca review dari Fu bikin aku semangat dan akhirnya bisa nyelesain chapter ini despite my struggle with writing smut lolololol. Semoga Chapter ini juga menghibur ya, dan smutnya ga terlalu awkward lololololol

Kenma Plisetsky: hehe, perasaan mereka sudah terungkap ya dan langsung nganu/oy. Terima kasih untuk reviewnya.

song hye kyo dan sylvaa: sudah apdet, terima kasih untuk reviewnya.

AmmaAyden: terima kasih untuk suntikan selamatnya, ini mereka udah jadian heheheh kalau nikah kita lihat aja nanti :3

pbalqisf: aaaaaa terima kasih buat compliment-nya, duh aku jadi mesem-mesem sendiri bacanya hehe. Soal kalimat yang susah di mengerti, bisa tunjukkin yang mana?

xandraxu: halo, ketemu lagi. Terima kasih sudah review ya. Oh, ya, soal kata sama ejaan yang salah, bisa ditunjukkan yang mana?

Wowwohgeegee: aih, aku juga mau lah dinikahin cowok macam kakashi (kalau ada). Terima kasih untuk reviewnya.

Shawdonia Hawkweed: yep, ada heheh. Terima kasih banyak untuk reviewnya. Kamu mahasiswa kedokteran kah? Atau sudah dokter? Aku baca review dan saran kamu soal ekstremitas sakit di chapter 2 kemarin, dan sekarang sedang diedit. Makasih banyak, lho. Boleh minta komentarnya soal scene persalinan di chap ini? Aku jujur nggak terlalu dalam risetnya soal ini lolol/nangis. Ah, The Window. Aku juga baca fanfic itu dan memang sedikit terinspirasi dari sana. Semoga nggak bikin masalah ya, heheheh.

Guest: thank you so muuuuuch, ah andai kamu login.

chacha: chacha darling, andai kamu login hiks asdfghjkl jujur pas baca review kamu aku terharu sampai nangis huhu, bikin semangat tauk :') chapter ini kudedikasikan buat kamu, semoga suka ya. Btw lagi di Poland? Sekolah, ya? Terima kasih banyaaaaaaaak untuk review-reviewnya x'D

CEKBIOAURORAN: hai, terima kasih untuk reviewnya. Chapter ini bikin meleleh gak? :3

KanonAiko: aaaah, susah juga sih ya kalau memang rumit. Tapi jalan ceritanya sudah saya tentukan sampai tamat dan cara menulis saya nggak bisa begitu aja diubah, jadi mungkin akan agak susah kalau harus 'dibikin' ringan? Maaf sekali ceritanya nggak bisa bikin kamu menikmati, tapi ya itu kalau harus mengubah juga rasanya sulit. Tetapi makasih sudah mau baca dan review xD

Ana: sudah apdet ya, terima kasih sudah mereview.

Pippipoppo: aaaaaaa thank you, reviewnya bikin aku blushing hehe. Sudah apdet, semoga suka ya xD

aumu07aida: thank you!

Nurulita as Lita-san: itu Kabuto :3 hayo ngarepnya siapa?

Last Melodya: hai hid, seperti biasa review dari kamu bikin aku senyum-senyum gaje lololololol aku ndak bisa bikin naruto jadi orang ketiga, ndak tega :'( btw soal koreksiannya juga makasih ya heheh yang lainnya sudah kuedit kecuali yang napas, aku tanya ke beta-ku katanya napas juga bener, sih, jadi ya semoga gak keberatan aku buat sementara (sampai fix dapat yang benar) pakai napas alih-alih nafas ya. Thank you, love you. Kemarin teh sempet denger hidya sakit? Sudah sembuh?

Mau ngaku, kayaknya fanfik ini akan lebih dari 5 chapter heheheheheh tapi akan saya usahakan selesai hingga tamat. Do'akan semoga saya dikasih waktu sama kesehatan supaya bisa menamatkan fanfik ininya nggak lama-lama amat, ya, lol

Terima kasih banyak sudah mengikuti sampai sini. Kesan, pesan, kritik, dan sarannya saya tunggu, lho. Dan please jangan nanya kapan apdet atau nyuruh apdet kilat, ya, soalnya saya juga punya kegiatan lain di luar menulis fanfiksi (saya sudah kerja xD), jadi waktu untuk nulisnya juga terbatas.

Salam,

clarione


Distosia Bahu [Shoulder Dystocia]: komplikasi dalam proses melahirkan ketika bahu bayi tidak bisa lewat kanal melahirkan karena kanal melahirkannya terlalu kecil

Episiotomi: prosedur memotong sedikit daerah labia untuk mempermudah keluarnya bayi.