Apa kamu yakin cinta bisa bertahan selamanya?

.

.

.

GONE

declaimer: MASASHI KISHIMOTO

story by: joule-chan

Canon/Angst/Family

Naruto U. Hinata H.

.

.

Halo! Apa kabar? Setelah bertahun-tahun lamanya saya meninggalkan dunia ffn, akhirnya saya kembali, hehe. Kenal ffn ketika masih memakai seragam putih biru sekarang udah ga pake seragam lagi alias kuliah, hehe. Yang ngerasa seangkatan tolong angkat tangan! Biar ga ngerasa tua sendirian neh :(

Ga kerasa ya Naruto udah tamat gitu. Udah punya anak. Terus yang mengejutkan sih, ga nyangka bakal nikahin Hinata, hehe. Gimana pun juga Naruto terang-terangan bilang sukanya sama Sakura. semua orang juga tau. Tapi malah nikahin Hinata, syukur deh. Naruto tau banget jadi seorang lelaki sejati, mending mana ngumbar terus perasaan tapi ga diseriusin atau gak ngumbar-ngumbar tapi dilanjut ke pelaminan? Tsaaaaah

Tapi pernah kepikiran ga sih...Hinata apa bakal terus mencintai Naruto? Untuk selamanya?

.

.

.

Kalau ayahku saja bisa terus mencintai ibuku sampai umur ku sekarang. Apa itu yang di namakan cinta?. Atau ada sesuatu yang disembunyikan oleh mahluk yang bernama laki-laki agar bisa terus bertahan dengan satu perempuan? Apa yang membuatku bertahan sampai dengan hari ini?

"Ibu! Sedang masak apa?" pertanyaan Himawari membuatku sedikit kaget. Segera aku mengusap kepalanya.

"Kesukaan kalian berdua, sayang" kataku. "Naah, sudah matang. Sebentar lagi kakak mu pulang dari akademi. Tidak ingin membantu ibu membereskan meja makan, nih?"

"Mau!" jawabnya spontan. Dengan cekatan ia mengambil kain basah dan membersihkan meja.

Aku mempersiapkan makanan untuk kedua buah hatiku ini. Himawari dan Boruto. Himawari punya 60% gen milikku adapun Boruto memiliki 60% gen milik Naruto. Kau bisa melihat langsung melalui fisik mereka. Eh masak apa ya buat Naruto?.

"Terimakasih sayang" Segera aku tempatkan makanan mereka berdua di bangku mereka masing-masing.

"Ibu...punyaku lebih banyak bukan?" Himawari berbisik.

Ah, aku hanya tertawa membalasnya. Tapi masih terpikir olehku, Naruto mau makan apa ya?. Apa dia akan pulang petang ini?. Atau mungkin dia akan makan malam di ramen Ichiraku?.

"Hanya kamu dan ibu yang tahu, ok?" Kataku. Himawari senang-senang saja. Padahal porsinya sama.

Jujur, aku tidak mendapatkan pencerahan apapun. Jadi kutanya pada anak bungsuku, "Menurutmu sayang, ayahmu akan pulang petang ini ... atau tidak?"

"Hm...biasanya ibu kan selalu siapkan semuanya" jawabnya polos.

Aku tersenyum. "Baiklah, ibu akan siapkan makanan spesial untuk ayahmu!"

Himawari pun merengek, "Jadi makananku tidak spesial, bu?"

.

.

Setelah Boruto dan Himawari membersihkan sisa-sisa makanan mereka. Sup itu masih menunggu dimakan oleh pemiliknya yang tak kunjung datang.

Boruto tiba-tiba menggandeng tangan kiriku, "Ibu, aku akan tidur cepat aku-" baru saja ia bicara, Himawari memotong.

"Ibu, aku ngantuk" katanya manja. Menggaet tangan kananku. "Temani aku sampai aku tidur..".

Boruto mengeraskan suaranya. "Besok di akademi latihan-"

"-bacakan aku cerita, bu" Himawari memotong lagi.

"Satu persatu" kataku. "Himawari, biarkan kakakmu bicara dulu. Ibu juga akan mendengarkanmu".

Boruto terlihat kesal sebenarnya, tapi sebagai seorang kakak dia menjaga sekali sikapnya. "Besok di akademi kami akan berlatih disaksikan orang tua".

"Kemudian..?" pancingku.

"Aku ingin...ayah dan ibu datang melihatku" semburat merah mulai mewarnai pipi Boruto.

"Jadi aku tak boleh lihat?" sewot Himawari.

"Tentu saja boleh, Hima-chan. B-bagaimana bu? Aku yakin si tua bangka itu tidak bisa melihatku, jadi aku ingin ibu datang, aku engga akan mengecewakanmu, bu" maka semakin matanglah wajahnya.

Aku tersenyum. Ah kedua anak-anakku. Tubuhku letih dengan semua pekerjaan rumah ini. Tapi kehadiran mereka mampu menjadi obat yang menyenangkan. Maksudku kedua anak-anakku dan Naruto. Hm..Naruto pulang jam berapa ya sekarang?.

.

.

Maka sekarang aku terdiam di meja makan. Menunggu. Boruto dan Himawari sudah berpindah dimensi. Kapan Naruto pulang?. Hari sudah larut.

"Aku pulang!" suaranya memecahkan keheningan.

Segera aku berdiri dan menyambutnya, "S-Selamat datang, Naruto-kun!" jawabku sumringah. Kupeluk dia. "Sudah makan? Aku sudah menyiapkan makanan".

"Eh...em...aku..sudah makan di ramen Ichiraku, ehe. Maafkan aku Hinata" dia gelagapan. Aku tersenyum. Aku tahu, ini bukan kali pertama.

"Naruto-kun mau mandi?".

.

.

Jadi disinilah aku, seorang istri Hokage. Aku tidak pernah membayangkannya. Aku hanya membayangkan akan hidup bahagia dengan laki-laki yang kugagumi sejak lama. Tunggu dulu, jangan-jangan aku hanya mengaguminya saja!.

"Kenapa melamun, Hinata-chan?" Naruto menggosok rambutnya dengan handuk.

Bola mataku berputar tertuju pada badannya yang kekar. "E-eh! Naruto-kun, bagaimana hari ini? Apa menyenangkan?". Kucoba untuk mengalihkan pembicaraan. Syukur kalau berhasil. Kalau tidak juga tidak apa-apa.

"Kau tau, ternyata menjadi hokage itu tidak menyenangkan kelihatannya!. Setiap hari ada saja kerjaannya. Aku bisa membayangkan kalau bla bla bla"

Syukur kalau berhasil. Aku jadi cukup menyimak dia bicara, tersenyum dan tertawa. Sudah cukupkah aku menjadi istri yang paling berbakti padanya?. Selagi dia bercerita, pikiranku juga bercerita. Apa ini yang kuinginkan?. Apa aku sudah bahagia hidup dengannya?.

"Hinata-chan, ada apa?. Tatapanmu kosong".

Jujur aku kaget, dan aku selalu refleks mengatakan "Naruto-kun...". Kutelan ludahku sepersekian detik sambil mencari obrolan apa yang harus kusampaikan sekarang. "Boruto ingin kita berdua datang ke akademi besok".

"Begitu ya?" Dia sudah memakai pajama dan siap untuk tidur. "Aku bisa saja menggunakan bunshin-"

"Dia bilang, kau pasti tak kan datang"

"Aku akan datang, -ttebayo!" tatapannya meyakinkan. "Lihat saja besok! Nah, sekarang mari kita tidur. Aku capek sekali. Oyasuminasai Hinata-chan". Diciumlah keningku dan ia langsung berselimut.

"Oyasumi, Naruto-kun". Ujarku berselimut juga.

Jadi disinilah aku. Memandangi punggung seorang pria. Naruto. Suamiku. Bukankah dulu aku menggilainya?. Tidak bisa menahan rasa berdebar ketika sedang berada di dekatnya. Selalu ingin berjalan beriringan bersama dengannya. Tapi apa ini?. Apa yang kurasakan kini?. Aku tak merasakan apa-apa lagi. Bahkan ia ada di hadapanku sekarang. Ia tidur seranjang denganku sekarang. Tapi aku tak merasakan hal ini istimewa.

Besok aku tinggal mempersiapkan sarapan, membawa bekal untuk mereka. Bangun pagi, membersihkan rumah. Aku tinggal melakukan rutinitas yang biasa. Rutinitas yang membosankan.

Apa ini yang aku inginkan?. Apa aku sudah bahagia?. Tak terasa aku juga ikut terlelap.

.

Part I –Prolog- End.

.

.

.

Sumpah ya, saya sulit mendeskripsikan ini. Tapi saya berusaha yang tervaik agar kalian juga bisa ngebayanginnya gimana. Agak berat gitu tema ceritanya. Hehe.

Terinspirasi dari novel-film yang sama, berjudul "The Hours" . Tapi engga sama kayak gini da. Sumpah.

Jadi sahavat super sekalian. Untuk mengenang kembali rasa-rasa bahagia tak terkira kalau suatu cerita yang saya buat di review oleh kalian rasanya tuh melebihi kelezatan manapun, uuuh seneng banget. Anyway saya juga bakalan tau bahwa ffn belom sepi kan? Belom terlambat saya menyalurkan imajinasi saya yang liar, kan? Iya kan?