Staats Ritter

Disclaimer : Naruto dan Highschool DxD bukan punya saya!

Rating : M

Genre : Adventure, Fantasy, Friendship.

Warning! : Alternative Universe, Alternative Reality, alur yang sangat sangat lambat, AT, AH, OC, OOC, SmartNaru! Typo, Miss Typo, DLDR!, dan yang paling penting… Isekai!

Berkolaborasi dengan Author "Bocah Sekolah" di beberapa arc.


Semua teori tentang dimensi di fic ini murni karangan author. Jika ada kesamaan teori dengan fic lain, kemungkinan itu semua hanya sebuah ketidak sengajaan.

.

Mohon untuk membaca dengan lebih teliti karena istilah asing dan saat berpikir(membatin) akan saya tulis menggunakan Italic.

.

Sebelum reader sekalian membaca, tolong. Tolong untuk membaca lebih teliti karena terkadang jawaban dari pertanyaan yang akan anda tanyakan sudah terjawab. Bahkan mungkin hanya dengan satu kata sepele bisa menjawab pertanyaan atau pernyataan anda. Terima kasih.


Chapter 6 : Pasak

.

.

.

Naruto memacu kudanya dengan kecepatan penuh menuju ke dalam hutan belantara yang membentang sepanjang lereng Gunung Ditrus yang berada di selatan Desa Frieden tempat Naruto dkk tinggal. Dia sudah tidak memikirkan apapun lagi selain Vali. Dia bahkan tidak memikirkan rencana untuk datang ke sana dengan matang.

"Naruto! Tunggu dulu!" seru Kaguya.

Naruto sama sekali tidak menghiraukannya dan tetap maju. Michael dan Kaguya yang dibelakangnya menghela nafas panjang.

"Kaguya, tolong kau bawa kuda itu. Kuda sangat penting di saat – saat seperti ini. Kita tidak boleh meninggalkannya begitu saja."

"Oke Michael-san!"

.

Kembali lagi ke Naruto, sekarang terlihat Naruto membungkukkan tubuhnya ke depan dan memacu kudanya. Di hutan ini satu – satunya cahaya yang menjadi penerangan Naruto adalah cahaya bulan purnama. Tidak ada yang lain. Dia menjatuhkan obornya tadi saat memacu kudanya.

'Sial! Baru sekarang rasa sesalku muncul. Tidak berguna sekali. Yang penting sekarang Vali harus kutemukan terlebih dahulu…'

"Hiyah!"

Ctass!

Kuda Naruto berlari sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Sekarang dia menelusuri hutan ini dengan cepat. Mata Naruto melirik kesana kemari karena ada dia mencari seseorang yang menurutnya cukup penting untuk hidupnya di sini. Naruto terus memperhatikan sekelilingnya sampai dia menemukan sesuatu yang dirasa cukup janggal. Dia menarik tali yang berfungsi untuk menyetir kudanya. Kuda Naruto mendadak memperlambat langkah kakinya sampai benar – benar berhenti.

Jrak…

Naruto turun dari kudanya dan berjalan menuju salah satu pohon yang menarik atensinya. Cahaya bulan tampak menyinari pohon yang menjadi alasannya turun dari kudanya. Pohon itu tampak memiliki tinggi yang sama dengan pohon – pohon yang lainnya. Hanya saja saat dilihat lebih teliti, tampaklah perbedaannya. Secara samar pohon itu terlihat mengeluarkan sebuah aura yang kelam dari dalam batangnya. Aura itu keluar dari salah satu lubang yang ada di batangnya.

"Apa itu? Memangnya pohon jenis apa itu?" gumam Naruto.

Naruto mendekatinya dan menyadari bahwa…

Dia tidak sendirian.

"Heyah!"

Ctrangg…

Sebuah sabetan pedang yang mengarah ke tubuhnya dengan sigap. Naruto memukul kepala seseorang yang berniat menebasnya tadi.

Jdaakk…

Naruto menatap tajam ke arah seseorang berjubah putih dengan tudung yang menutupi kepalanya itu. Naruto membuat sebuah kuda – kuda bertarung dan diam untuk menunggu.

Jdasshh…

Musuh Naruto sudah berada di depannya tapi Naruto tidak menyadarinya. Sosok itu menendang dada Naruto dengan salah satu kakinya.

Jdaakk…

Naruto terlempar jauh ke belakang dan melepaskan pegangannya di pedangnya untuk memegang dadanya yang sejenak terasa seperti telah dijatuhi gada. Naruto kembali berdiri dengan tertatih – tatih dan kembali menyabar pedangnya. Sepertinya dia merencanakan sesuatu untuk membalas perlakuan tidak menyenangkan yang ditujukan kepadanya itu.

Naruto membuat kuda – kuda yang sama seperti saat melawan salah satu bangsawan negara ini yaitu Raiser Phenex. Naruto mengabaikan rasa sakitnya dan berlari sekencang mungkin ke arah musuhnya. Di bibirnya terkembang sebuah seringai yang… tidak bisa dijelaskan.

"Hoo… Rupanya kau tangguh juga ya Blonde. Kembali menyerang setelah 30 detik kutendang tadi. Mungkin aku harus menaikkan temponya," ucap musuh Naruto.

"Coba saja jika memang sempat!" seru Naruto.

Genggaman pada pedangnya semakin erat. Cahaya Bulan juga menyinari pedang Naruto. Mata pedang Naruto bersinar sama seperti saat di luar hutan tadi. Naruto merasa bahwa bahwa ada perasaan yang menekannya untuk membantai sesuatu. Tapi Naruto masih belum mengerti perasaan apa itu. Naruto mengeluarkan sebuah teknik pamungkas yang sudah dipelajarinya sebelumnya. Sebuah teknik yang berguna untuk mengakhiri nyawa seseorang.

"Uzumaki Style : Splitter!"

Jdakk Jdakk Jdakk…

Braakk…

Naruto menebaskan pedangnya tubuh bagian kiri dari musuhnya dengan sangat cepat. Naruto kemudian mengganti titik serangnya ke lutut kanan musuhnya lalu memutar tubuhnya untuk berakrobat 360° berkebalikan dengan arah jarum jam. Di putaran itu, Naruto juga memanfaatkan momentumnya untuk kembali menebaskan pedangnya ke daerah paha kiri musuhnya. Setelah itu Naruto mengakhirinya dengan menusukkan pedangnya ke dada bagian kanan musuhnya karena tadi akurasi tusukannya sedikit jelek. Tusukan yang terakhir itu membuat musuh Naruto terlempar beberapa meter ke belakang.

Naruto melakukannya dalam waktu kurang dari 3 detik. Semua serangannya sangat cepat dan akurat kecuali tusukan yang terakhir. Entah apa yang membuat Naruto menurunkan akurasinya. Padahal dia juga sudah biasa membunuh orang lain.

Tapi, di serangan teknik kali ini ada yang aneh dengan tubuh korban. Darah sama sekali tidak keluar dari semua titik yang terkena serangan dari Naruto. Seharusnya ada darah yang keluar dari bagian tubuh yang terkena serangan Naruto tadi karena bagaimanapun juga serangan Naruto itu tergolong teknik tingkat B. Teknik itu sudah sangat cukup untuk membuat korban merasakan sesuatu yang dinamakan rasa sakit atau bahkan menyapa Shinigami.

Naruto membalik tubuhnya sejenak dan memunggungi korban serangannya tadi. Naruto menundukkan badannya dan bertumpu ke kedua lututnya. Setelah beberapa saat, Naruto membalikkan tubuhnya. Naruto bisa melihat kubangan darah di bawah tubuh korbannya. Ternyata efek teknik Naruto lebih lambat dari sebelumnya…

"Kheh! Padahal aku belum sempat mengintrogasinya. Dia main mati saja. Dasar payah!" ucap Naruto.

Naruto kembali berjalan menuju ke pohon yang berhasil membuatnya menghentikan kebut – kebutan kudanya tadi. Naruto melihat aura kelam yang tadi keluar ternyata tidak berhenti.

Naruto memegang batangnya dan merasakan aura samar tadi berhenti keluar. Naruto menjauhkan tangannya dan melihat bahwa aura samar itu kembali keluar. Dia akhirnya menyimpulkan bahwa aura itu akan berhenti keluar jika dia menyentuh pohonnya.

'Ah, bagaimana jika aku mencari intinya? Siapa tahu akan berguna kedepannya.'

Naruto menggunakan pedangnya untuk menusuk batang pohon itu dan membukanya.

Jrakk…

Jrakk…

Naruto terus menerus menusukkan pedangnya di titik yang dirasa paling dekat dengan sumber aura tersebut. Baru 45 detik dia melakukan itu, dia kembali teringat sesuatu. Tujuan utamanya kemari adalah untuk menolong Vali! Kenapa bisa teralihkan menjadi mengambil sesuatu yang masih belum jelas?!

"Ck! Sialan!"

Naruto memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya dan melompat naik ke kudanya.

Ctass!

"Hyaahh!"

Kuda Naruto kembali berlari kencang saat Naruto memecutkan talinya. Naruto membelokkan kudanya dengan lihai saat akan menabrak pohon. Sekarang mungkin dia sudah cukup jauh di dalam hutan. Naruto kembali mendengar teriakan yang berasal dari depannya. Jika diperkirakan mungkin kurang lebih berjarak sekitar 2 – 4 kilometer di depannya.

Naruto terus menerus memecutkan talinya saat merasakan kudanya melambat. Dia berusaha untuk menjaga kecepatannya dan cepat sampai di tujuannya.

Setelah beberapa menit, Naruto melihat ada sebuah lahan terbuka berbentuk lingkaran sempurna yang memiliki diameter sekitar 20 meter. Jadi luasnya kira – kira sekitar 314 m2. Naruto melihat ada sosok yang memiliki tinggi mungkin sekitar 2,5 meter berwarna hitam dengan bagian tangan berlumuran darah. Dia juga melihat ada seonggok bocah berambut perak terbaring di depannya. Bagian tubuh depannya terlihat tercabik – cabik tapi sepertinya dia masih hidup.

'Sialan! Ini gara – gara aku tadi berhenti!'

Naruto menghunuskan pedangnya dan berdiri di atas punggung kudanya. Meskipun berdiri di atas kuda, Naruto terlihat tetap seimbang dan bersiap melakukan serangan. Naruto mengangkat tangan kirinya dan mengarahkannya ke sosok berwarna hitam legam itu.

"Earth Magic : Soil Spear!" seru Naruto.

Naruto berniat meng-cast sebuah sihir tapi sepertinya dia melupakan sesuatu. Dia tidak memakai sarung tangan yang sudah digambari lingkaran sihir. Itu membuatnya tidak bisa menggunakan sihir elemen karena tingkat kontrol sihirnya masih cukup rendah.

'Walah… Aku tadi lupa menggunakan sarung tangan yang sudah kugambari lingkaran sihir…'

Sosok hitam yang berada di tengah lahan terbuka itu menolehkan kepalanya ke arah Naruto. Sedangkan Naruto sendiri masih memacu kudanya memutari lahan terbuka itu tapi masih di balik gugusan pohon di sisi terluar lahan itu. Sosok itu menurunkan tubuhnya sampai terlihat seperti seekor hewan. Giginya terlihat sangat rapi dan tajam. Naruto menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang seharusnya dihindarinya karena yang akan dihadapinya… adalah seekor Werewolf.

"Aaauuuu!"

Werewolf itu kemudian berlari ke arah Naruto dengan kecepatan tinggi. Mata merahnya tampak menatap tajam Naruto. Tidak butuh waktu lama sampai monster itu mendekat ke arah Naruto. Werewolf itu menebaskan cakarnya ke arah Naruto dengan arah diagonal. Sebelum sampai ke Naruto, Naruto melompat dengan menggunakan punggung kudanya sebagai pijakannya. Naruto melompat ke arah lahan terbuka yang cukup terang karena cahaya dari rembulan sepenuhnya menyinari lahan ini.

Naruto melihat ke angkasa dan melihat bahwa tidak ada tanda – tanda awan di sana. Jadi dia mau tidak mau harus bertahan di sini sampai Michael dan Kaguya datang karena dia tidak akan mungkin bisa lari dari Werewolf itu tanpa kudanya. Berbicara tentang kuda, Kuda Naruto tubuhnya terbelah menjadi 2 karena telah tertebas oleh cakar Werewolf tadi.

Naruto menyiapkan pedangnya di depan tubuhnya dan mengawasi setiap gerakan yang akan dilakukan oleh Werewolf yang menghadangnya itu.

Cahaya bulan yang terang tampak menyinari pedang Naruto sehingga pedangnya kembali menyala. Warnanya sama seperti sebelumnya. Sekarang Naruto merasakan kekuatan besar yang bersemayam di pedang itu seperti memberontak ingin keluar dan ingin menghancurkan sesuatu, tapi sepertinya dia tidak merasakannya. Malah…

"Sebenarnya pedang ini dibuat oleh siapa dan dibuat di mana sih?! Kenapa suka nyala – nyala?!" seru Naruto gaje.

Naruto sibuk berteriak – teriak kepada pedangnya dan tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk yang datang kepadanya. Naruto merasa janggal dan mengalihkan pandangannya dari pedangnya ke depan dan melihat ada blur tangan yang mengarah ke kepalanya diagonal.

'Shimatta!'

Naruto menarik kepalanya sekuat tenaganya ke belakang untuk menghindari serangan itu karena menahannya dengan pedangnya pasti tidak akan sempat.

Sraatt…

Pipi Naruto tergores cukup panjang. Naruto melompat ke belakang dan kembali menatap tajam ke arah Werewolf. Tampak Naruto cukup menyesal karena tadi dia kehilangan fokusnya dan malah melihat ke arah pedangnya. Bukan musuhnya. Hal itu adalah hal yang harus dihindari jika memang berada di pertarungan yang sebenarnya.

Werewolf yang sekarang berada di depan Naruto tampak mengangkat tubuhnya dan berdiri. Tubuhnya benar – benar tinggi! Naruto terlihat menelan sedikit ludahnya dan mencari sebuah cara untuk mengalahkannya.

'Tunggu! Jika pedangku memperlihatkan sebuah gejala aneh, mungkinkah efek gejala itu kumanfaatkan? Tapi aku masih belum mencari efek samping dari gejala aneh pedangku yang menyala – nyala seperti lampu LED di Elemental Nations dulu.'

Naruto berfikir sembari mengawasi pergerakan manusia serigala itu.

'Ah, mungkin harus kucoba dulu!'

Naruto berlari mendekati Werewolf itu dan melompat ke samping kanan secepat mungkin setelah berada di jarak sekitar 0,5 meter. Naruto menebaskan pedangnya sekuat tenaganya ke arah lengan Werewolf itu.

Sraatt…

Darah mengucur dari lengan kanan Werewolf setelah Naruto berhasil menebaskan pedangnya ke lengan Werewolf itu. Naruto kemudian menendang tubuh Werewolf saat posisi tubuh Naruto masih di udara dengan kaki kanannya. Bukannya Werewolf yang terlempar, Narutolah yang terlempar ke belakang. Naruto berguling sebentar lalu melihat hasil serangannya tadi dan sedikit menganalisa apa yang hebat dari serangan tadi. Secara perlahan, kedua matanya membulat sempurna. Dia menyadarinya.

Saat mata pedangnya menyala, serangan yang dihasilkan oleh pedangnya akan meningkat pesat. Dengan kata lain… pedangnya bertambah menjadi kuat beberapa kali lipat.

"Hoho! Ternyata seperti itu ya! Beruntungnya diriku. Ah, tidak ada waktu untuk itu. Tahan dan tunggu sampai Michael-nii dan Kaguya datang untuk membantu dan mengamankan Vali."

Naruto kembali melesat ke Werewolf yang ada di depannya lalu menebaskan pedangnya 2 kali. Semuanya berhasil tersarangkan dengan sempurna. Setelah itu Naruto kembali melompat ke belakang.

Sraatt Sraatt…

"Auuuu!"

Werewolf itu kembali meraung keras saat Naruto menebasnya dengan keras. Naruto semakin menyeringai saat melihat hasil dari serangannya tadi.

Naruto kembali berlari dengan kencang ke arah Werewolf itu. Naruto melompat tinggi dan akan melakukan salah satu teknik penghakimnya yang kemungkinan targetnya(manusia) mati adalah 85%.

"Uzumaki Style : Heaven's Blow!"

Naruto menebaskan pedangnya tepat ke bawah. Targetnya jika ditebaskan ke bawah adalah kepala dari Werewolf.

Jraakk…

Pedang Naruto menancap di tangan kanan Werewolf yang mencoba untuk menahan pedang Naruto. Ternyata memang benar – benar berhasil. Naruto mendecih pelan lalu mencoba melepaskan pedangnya dari tangan besar Werewolf itu. Tapi sepertinya sama sekali tidak berhasil. Jangankan terlepas, tergerak pun tidak! Pedang Naruto menancap terlalu dalam di tangan Werewolf itu.

Naruto mau tidak mau harus melepaskan pegangannya dari gagang pedang itu karena jika dia tidak melepaskannya pasti akan bahaya. Tapi jika tidak menggungunakan senjata saat melawan seekor monster itu juga bukanlah hal yang bijak. Apalagi jika musuhnya adalah seekor monster tingkat B.

'Sialan! Kalau begini aku tidak akan bisa melakukan apapun. Menggambar lingkaran sihir pun juga tidak akan sempat. Jika aku memaksa menggambar lingkaran sihir, sebelum lingkarannya berhasil dibuat paling juga tubuhku sudah terbelah menjadi 2!' pikir Naruto.

Naruto kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu. Dia tidak bisa menemukan apapun yang cukup kuat untuk digunakan sebagai senjata. Tapi… Naruto melihat ada sebuah batu yang tertancap di tanah. Batu itu cukup tinggi. Mungkin jika didaki akan cukup untuk melihat apakah ada sesuatu yang cukup berguna melawan monster yang satu itu. Jika belum dihancurkan sih.

Naruto berkedip lalu mengembalikan pandangannya ke Werewolf. Dia sudah tidak melihatnya. Naruto berusaha mencari petunjuk yang lain.

'Ah, tadi tangannya hampir kupotong. Pasti darah akan mengalir layaknya air terjun. Kemanapun dia pergi pasti akan ada jejak darahnya.'

Naruto kemudian melihat ke arah bawah. Memang benar ada jejak darah. Tapi, ada hal yang aneh di sana. Jejak darah itu terakhir terjatuh tepat di depan Naruto. Berjarak sekitar 2 meter darinya.

Naruto melihat ke belakangnya dan melihat ada sesosok berwarna hitam legam dengan 2 mata berwarna merah darah hanya berjarak sekitar 8 kaki darinya. Salah satu tangan panjangnya sudah terjulur ke arah Naruto. Mata Naruto membulat dengan sempurna. Seharusnya hipotesisnya benar! Kenapa jejak darah terhenti setelah berjarak 2 meter darinya?!

'Sia-'

Jduumm…

Naruto melihat tangan panjang yang tadi hampir menggapainya sudah terpaku di tanah. Tepat pada sikunya, tertancap sebuah pedang besar dan panjang. Pedang itu mengeluarkan aura suci yang cukup kuat. Naruto sontak berdiri dari duduknya dan melompat ke belakang. Naruto melihat di atas gagang pedang besar itu terlihat Michael sedang berdiri. Dia menggunakan ujung gagangnya sebagai pijakan. Michael kembali menciptakan lingkaran sihir. Dia menarik satu lagi pedang besar dan melompat tinggi. Michael menancapkan pedangnya sangat dalam di siku Werewolf yang berotot itu. Bahkan sampai hampir memutuskan tangannya.

"Kau baik – baik saja Naruto?"

"A-Ah, kurasa aku baik – baik saja. Bagaimana kau menemukanku? Aku tidak meninggalkan jejak bukan?" tanya Naruto.

"Ya, kau memang tidak meninggalkan jejak. Tapi kau pikir aku tidak mendengarkan lolongan Werewolf tadi? Aku menggunakannya sebagai acuan arah."

Naruto berjalan mendekati lengan kanan Werewolf yang di sana pedangnya menancap. Naruto menariknya dengan menggunakan kedua tangannya. Setelah itu dia memutar – mutarkannya. Darah dari Werewolf yang menempel di pedang itu terlempar kesana – kemari.

"Sembuhkan dulu Vali, Michael-nii. Dia harus di sembuhkan sebelum dia kehilangan nyawanya. Kulihat dia tadi dicabik – cabik oleh makhluk jahanam tadi."

Michael tanpa menjawab ucapan Naruto langsung berjalan menuju ke Vali. Dia sudah mengcast sebuah sihir dan menahannya. Setelah sampai di samping Vali, Michael merendahkan badannya seperti sikap seorang ksatria kepada seorang raja. Tangan kanannya yang tadi digunakan untuk mengcast sebuah sihir diarahkan ke dada Vali.

"Golden Recovery…"

Secara perlahan luka di tubuh Vali yang jumlahnya perlampau banyak untuk luka di tubuh manusia tertutup. Mungkin akan membutuhkan waktu sekitar 10 – 12 menit sampai selesai. Dalam waktu normal.

Naruto memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya dan berjalan santai mendekat ke Werewolf yang tadi hampir membunuhnya 2 kali. Naruto mendekat sampai ke jarak yang paling dekat tapi masih aman.

"Mana tadi lolonganmu yang memekakan telinga itu? Kau tidak mau melolong lagi seperti saat kusayat – sayat tadi?"

Naruto terus melihat ke arah Werewolf yang sebenarnya masih belum mati tapi terdiam. Terlihat Werewolf itu sedikit menggerakkan tubuhnya.

"Hmm?"

"Aauuuuu!"

Naruto langsung menutup telinganya karena Werewolf itu mendadak melolong keras. Wajah Naruto terlihat sangat kesal. Dia menghunuskan pedangnya dan menancapkannya ke kepala Werewolf itu dengan sekuat tenaga. Pedang itu dengan mudah menembus tengkorak tebal Werewolf.

"Sialan! Semoga telingaku tidak berlubang(?)" Telingamu memang berlubang Narto. Jika tidak berlubang kau tidak akan bisa mendengar -_-

Syuushh…

Angin bertiup begitu kencang tapi juga menenangkan di saat yang sama. Hal yang membuat semua orang yang masih sadar diam dan berhenti dari aktivitasnya sejenak. Kaguya tampak mendekat ke Naruto yang jaraknya paling dekat dengannya.

"Kaguya? Kenapa kau?" tanya Naruto kepada Kaguya.

"Aku merasakan firasat yang tidak enak. Kau tahu, intuisiku jarang salah," jawab Kaguya dengan wajah gelisah.

Sreekk…

Naruto mencabut pedangnya yang baru saja ditancapkannya di kepala Werewolf tadi. Naruto menarik tangan Kaguya menggunakan tangan yang masih bebas.

"Eh? Naruto?"

"Jika ucapanmu benar, kita harus segera pergi dari sini. Jujur saja, aku juga merasa tidak enak. Entah kenapa. Michael-nii! Rawat saja Vali di perjalanan," ucap Naruto memerintah.

Michael menautkan alisnya bingung.

"Kau ini memikirkan apa sih? Jika di perjalanan pasti aku hanya bisa melakukan 1 pekerjaan. Itu berkuda. Sedangkan di sisi lain Vali harus dirawat secepat mungkin untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan," jelas Michael.

"Ck!"

Naruto akhirnya mengalah. Naruto melepaskan tangan Kaguya dan berjalan menuju batu besar yang tadi akan dia gunakan untuk mencari senjata untuk mengalahkan Werewolf. Batu yang cukup tinggi itu juga bisa digunakan untuk hal yang lain. Seperti yang akan dilakukan oleh Naruto.

Melihat keadaan sekitar.

Naruto sudah menaiki batu itu dan mulai melihat sekitarnya secara urut dan teliti. Sesekali dia juga mengenghentikan pandangannya jika merasa ada yang ane dengan sesuatu di arah pandangannya. Saat dia melihat ke satu arah, dia mematung. Naruto tanpa basa – basi lagi melompat dari batu yang memiliki tinggi sekitar 3,8 meter itu.

Jrakk…

Naruto mendarat dengan sempurna. Dia kemudian menghunuskan pedangnya. Lagi – lagi pedangnya menyala layaknya LED di Elemental Nations.

"Minna! Aku melihat beberapa pohon bergoyang tidak normal di arah Barat!" seru Naruto memperingatkan.

Michael tersentak. Dia kemudian melihat ke arah barat.

Di arah barat, beberapa pohon tinggi tampak bergoyang – goyang dengan tidak normal.

"Kau terlalu paranoid Naruto. Mungkin itu hanya karena angin kencang," ucap Michael menenangkan.

"Hmm… Mungkin…" ucap Naruto dengan ragu.

Naruto berniat memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya yang ada di punggungnya. Tapi mata pedangnya mulai menyala lagi. Kali ini sedikit lebih terang dari sebelumnya.

Syuutt…

Ctrangg…

Naruto menepis sebuah anak panah yang dilesatkan entah oleh siapa ke tubuh Kaguya. Raut wajah Naruto sama sekali tidak bisa dijelaskan. Perpaduan antara kesal, terkejut, dan juga… antusias? Kesal karena tidak segera pergi, terkejut karena tiba – tiba ada serangan yang datang, dan juga antusias karena mungkin bisa bertarung lagi.

Naruto melihat ke arah anak panah yang baru saja dia tepis. Matanya membulat sejenak.

"Michael-nii angkat Vali dan menjauh secepat mungkin!" seru Naruto panik.

Anak panah yang baru saja Naruto tepis tadi tertancap di tanah. Anak panahnya menyala – nyala dengar warnanya yang semakin lama warnanya berubah menjadi semakin merah seiring dengan kedipan cahaya anak panah itu. Naruto menarik tangan Kaguya yang berada di dekatnya lalu melompat secepat dan sejauh mungkin.

Blaarrr…

Naruto dan semua yang terlihat di sana berhasil menghindari ledakan yang berasal dari anak panah yang entah tadi dilesatkan oleh siapapun itu.

"Sekarang apa lagi yang lebih buruk?"

Jgrasshh…

Dari balik barisan pohon di sebelah barat keluar beberapa lusin Ghoul yang berlari secara bersamaan ke arah Naruto dkk.

Naruto mematung.

'Sepertinya ucapanku memang perlu dijaga…'

Naruto menoleh ke arah Michael. Michael masih terlihat mengobati Vali. Bedanya cahaya sihir penyembuhnya bercahaya semakin terang meskipun secara perlahan. Bahkan saat ini cahayanya sudah 2 kali lebih terang dari yang pertama.

"Naruto, Kaguya! Tolong lindungi aku terlebih dahulu. Dengan yang sekarang, Vali akan selesai kuobati dalam 3 menit. Tolong lindungi aku dulu selama kurang lebih 3 menit!" seru Michael memberi komando.

"Baik!"

Naruto berlari maju menuju ke gerombolan Ghoul yang semakin mendekat itu. Naruto bukannya takut dengan apa yang dihadapinya tapi malah menyeringai senang. Dia melompat tinggi dan jauh. Jika diperkirakan, posisi mendaratnya adalah tepat di tengah gerombolan Ghoul itu.

"Heyaahh!"

Jgraakk…

Duummm…


.

Staats Ritter

.


Coflus, Paz

Coflus. Sebuah kota yang cukup besar dan indah. Salah satu kota teramai dan juga kota teraman di Negara Paz. Coflus adalah salah satu dari 8 kota pilar yang ada di Negara Paz. Sebelum membahas tentang Coflus, akan ada penjelasan tentang kota pilar.

Kota pilar adalah kota besar yang berada di ujung Negara dan juga berdiri di salah satu dari 8 mata angin yang ada di bumi ini. Kota Coflus sendiri berada di bagian Selatan. Coflus adalah kota yang menjadi pusat dari para penambang karena posisi Coflus dekat dengan Pegunungan Ditrus yang dikatakan memiliki bahan tambang yang bagus.

Coflus sendiri memiliki sangat banyak bangunan megah dengan arsitektur yang khas. Banyak bangunan megah di Ibukota Negara yang mengadaptasi arsitektur dari Kota Coflus. Sebagai salah satu contoh adalah bangunan Guild juga memiliki arsitektur yang sama dengan bangunan yang pada umumnya ada di kota ini.

Sekarang, sama sekali tidak tampak keindahan, ketentraman, dan juga kedamaian di Coflus. Sejauh mata memandang hanya api yang membumbung tinggi, asap yang mengepul, dan tembakan sihir yang terlihat. Kota ini baru saja diserang oleh sekelompok orang gabungan dari para radikalis dan juga pemberontak. Dengan sekian ratus atau bahkan sekian ribu orang yang tergabung dengan kelompok itu, kemampuan bertarung mereka cukup impresif dan juga destruktif. Coflus berkemungkinan besar akan jatuh.

Jika pada dasarnya para tentara di setiap kota yang tersebar di seluruh penjuru negara yang gaya bertarungnya bertujuan mengunci dan menangkap, kelompok pemberontak ini memiliki gaya bertarung yang memang difokuskan untuk membunuh dan menghancurkan.

Sekarang hanya tinggal sekitar 170 adventurer yang tersebar dan tersisa untuk mempertahankan kota pilar ini. Sekitar 140 adventurer yang tersisa hanya bertingkat C – B. 30 sisanya adalah tingkat A. Meskipun kekuatan para adventurer tingkat A cukup hebat, tapi mereka juga akan kewalahan jika harus melawan sekian ratus orang yang menyerang secara bersamaan. Mereka hampir tidak memiliki kekuatan untuk menyerang balik. Hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka akhirnya terbunuh dan akhirnya kota ini akan jatuh ke tangan para pemberontak.

.

Bagian Timur Coflus

Duaarr…

Duaarr…

Duaarr…

Tiga buah ledakan beruntun terjadi di sebelah dinding tanah sihir buatan seseorang. Di balik dinding itu terlihat 4 orang adventurer yang berada di satu party yang sama sedang berlindung dan juga merundingkan strategi berikutnya.

"Hei, kita tidak bisa terus berdiam diri di sini. Cepat atau lambat dinding yang melindungi kita pasti akan hancur. Aku tidak mau mati karena tertimpa dinding besar dan kokoh ini," ucap salah satu adventurer di sana.

"Lalu apa lagi yang bisa kita lakukan? Kita tidak akan bisa pergi dari tempat ini dengan utuh. Jika ingin pergi, salah satu dari kita harus menjadi umpannya!" jawab adventurer yang lain.

"Kalau begitu, kita akan menjadi umpan. Biarkan Ross yang pergi. Hanya dia yang bisa pergi ke Ibukota atau paling tidak ke tempat terdekat untuk mencari pertolongan," usul salah satu adventurer.

"A-Apa?! Aku tidak mau meninggalkan kalian! Tidak ada jaminan bahwa kalian masih hidup setelah aku mendapat pertolongan dan kembali lagi ke sini," bantah orang yang dipanggil Ross itu.

"Sudahlah Ross. Kami ikhlas jika hanya kau yang selamat. Karena memang pada awalnya kau adalah prioritas kami."

2 orang yang lain juga tersenyum dan juga menganggukkan kepalanya.

Gadis yang dipanggil Ross atau lebih lengkapnya Rossweisse itu mulai mengeluarkan air mata. Dia kemudian memeluk satu per satu 3 adventurer itu. Setelah selesai, mereka mempersiapkan senjata masing – masing.

"Akan kubuka dalam 5 detik. Bersiaplah."

Tangan salah satu adventurer itu terangkat dan di telapak tangannya keluar sebuah rune yang menyala abu – abu.

"Wind Magic : Hammer Shock"

Sebuah martil besar yang terbuat dari angin melesat menuju ke dinding sihir yang dibuat rekannya tadi. Martil itu langsung menghancurkan dinding dan akhirnya membuka jalan untuk para adventurer yang dengan sengaja memerangkapkan diri dibalik dinding itu.

"Ross, segera lakukan sihirmu! Di depan kita ada puluhan musuh. Kami pasti tidak akan bisa menahan mereka lama – lama."

Rossweisse dengan berat hati merapal sihirnya dan menentukan tujuannya. Setelah 1 menit, sihirnya siap digunakan.

"Kawan – kawan, aku akan pergi. Tetaplah hidup dan tunggulah aku!" seru Ross.

"Tentu saja, Ross!"

"Spell of Sky : Hyper Speed!" seru Rossweisse.

Dia terangkat ke udara dan langsung melesat ke arah tempat tujuannya.

Kembali lagi ke Naruto, sekarang dia sudah berhasil menghabisi tiga per empat Ghoul yang tiba – tiba datang dan menambah beban yang didapatkan oleh Naruto dkk.

"Memang tidak ada habisnya. Sialan!" seru Naruto.

Naruto melompat ke belakang lalu setelah kakinya sudah sepenuhnya menginjak tanah dia langsung melesat ke depan dengan kecepatan tinggi. Dia menebaskan pedanganya secara horizontal setelah dia mengalirkan mananya. Hal itu mengakibatkan munculnya sebuah gelombang kejut yang cukup luas. Gelombang kejut itu membuat beberapa Ghoul di depannya terlempar jauh dan mati seketika.

Naruto masih terus menerus menebaskan pedangnya membabi buta. Dia tidak memikirkan apapun selain menghabisi para Ghoul yang berada di depannya saat ini. Wajahnya tampak seperti orang yang kerasukan.

Michael dan Kaguya melihatnya dengan prihatin. Meskipun seperti itu, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat mendinginkannya.

"Naruto…" ucap Kaguya pelan.

Naruto yang tidak mendengarnya masih tetap membabi buta. Serangannya terlihat sangat berbahaya. Tebasan demi tebasan dia layangkan. Sampai pada akhirnya dia mulai kehabisan tenaga. Tebasannya tidak secepat dan segencar sebelumnya.

Perlahan tapi pasti, Naruto berhenti menyerang. Dia menjatuhkan pedangnya. Kepalanya terangkat dan dia melihat ke depan.

Seluruh Ghoul yang menyerbu mereka telah dihabisi olehnya seorang diri. Dia baru menyadarinya. Hanya dia yang bergerak dan mengayunkan pedangnya. Bahkan Michael yang biasanya juga ikut antusias juga hanya diam saja.

Naruto secara sangat perlahan menolehkan kepalanya ke kiri. Tepat dimana Michael, Kaguya, dan Vali berada. Michael dan Kaguya tampak sedikit melebarkan mata mereka saat melihat Naruto. Lebih tepatnya melihat pelipis kanan Naruto.

Terlihat ada sesuatu yang mirip dengan tato berbentuk mahkota membingkai sekeliling mata kanan Naruto. Anehnya, tato itu berwarna merah darah.

"Naruto, kau…" ucap Michael menggantung.

Naruto tampak tersentak. Tato mahkota memudar dengan sangat cepat dan sama sekali tidak meninggalkan bekas di tempat dimana ia memunculkan dirinya.

"Michael-nii, apa aku yang membunuh semua Ghoul tadi?" tanya Naruto sedikit terbata.

"Ya. Kau benar."

Sebuah jawaban cepat, terlontar dari Michael. Sebuah jawaban singkat, padat, tapi berdampak besar pada kepribadian Naruto.

Naruto perlahan tersenyum saat mendengarkan jawaban Michael.

"Ah, ngomong – ngomong. Bagaimana keadaan Vali?" tanya Naruto.

"Vali baik – baik saja. Menurutku dia akan siuman paling cepat besok atau paling lama 2 hari lagi. Kau tahu sendiri bukan betapa parahnya lukanya tadi?" ucap Michael.

Naruto mengangguk paham.

"Baiklah! Sekarang mari kita pulang dan segera beristirahat. Besok adalah hari yang panjang untuk kita," ucap Michael dengan nada ceria.

"Memang besok ada apa?" tanya Kaguya.

"Besok? Besok kita akan memanen sawah kita! Yeah!" seru Michael senang.

Naruto dan Kaguya mendadak sweatdrop.

'Kupikir apa…' batin Naruto dan Kaguya.

.

.

.

Coflus, Paz

Di atas salah satu bangunan yang cukup tinggi, terlihat Kuroinu sedang berdiri tegap. Jubahnya terlihat masih bersih yang menandakan bahwa dia belum bertarung saat menjatuhkan Coflus.

"Hahaha… Hahahahaha!"

Suara tawa Kuroinu terdengar sangat keras. Bahkan sampai terdengar hampir ke seluruh Coflus. Dia berjalan secara perlahan menuju ke pinggiran atap bangunan yang dia pijaki.

"Dengan kejatuhan Coflus, kekkai yang ada di Vandrea pasti sedikit melemah. Tinggal menghancurkan 7 pasak lagi sampai kekkainya benar – benar hancur dan dapat membuka jalan untuk masuk ke dalam kota penuh dengan kebusukan sejati, Vandrea," ucap Kuroinu. Saat mengatakannya, terlihat bahwa matanya berkilat.

Saat ini Kuroinu sedang melihat dengan mata kepalanya sendiri, sebuah pasak berwarna merah membara berukuran sebesar rumah bertingkat 2 sedang terangkat di langit, tepat di atas Coflus. Saat itu juga, pasak raksasa itu mendapatkan banyak serangan dengan berbagai ukuran dan elemen.

Tinggal menghitung waktu sampai pada akhirnya pasak itu akan hancur…

… dan kehancuran Paz akan datang tidak lama lagi.

.

[To be continued]


Hi guys! Gimana kabarnya? Kuharap semuanya sehat – sehat saja ya. Ngomong – ngomong, ada yang merindukanku?! Oke, pasti nggak ada. Yah, nggak masalah.

Aku meminta maaf karena ketidak konsistenanku dalam mengupdate fic milikku ini. Karena sebenarnya ada sebuah alasan kenapa aku sangat susah untuk meneruskan menulis fic ini. Sebenarnya aku mengikuti sebuah ekstrakurikuler utama yang ada di sekolahku dan entah kenapa aku sangat sering dipilih untuk mengikuti acara. Yah, aku suka dengan hal itu. Tapi ya nggak enaknya ya gini. Waktu menulis jadi berkurang. Tapi tetep kuusahaain buat nulis dan akhirnya update meskipun butuh waktu yang lama. Aku tetep bersyukur semisal aku bisa mengupdate ficku meskipun lama.

Oke, sekarang kita membahas tentang fic. Kupikir saat ini kalian mendapat banyak hal yang cukup aneh. Contohnya adalah perkembangan Naruto yang nggak normal, alasan utama Kuroinu menghancurkan Coflus, dan banyak hal yang lainnya. Jika kalian bertanya tentang perkembangan Naruto, ada hal yang mendasari itu dan nggak bakal kubocori sekarang. Begitu juga dengan kasus si Kuroinu. Tapi jika masalah Kuroinu, kupikir kalian bisa menebak sendiri kenapa berdasarkan akhir chapter ini.

Balasan review :

Yoooouuuuuu : Let's see :)

Tenshin FAI : Yah, semacam itu.

Bocah Sekolah : Hoo? Masa' gitu? :v

Guest : Yah, bukannya kayak nggak pernah dapet flame. Tapi ya setiap kali dapet flame rasanya tetep sama. Pengen ketawa. Tapi, makasih.

Fahzi Luchifer : Nggak juga sih. Aku belum ngasih pair ke siapapun.

Annur Azure Fang : Kita lihat nantinya :)

Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi, tapi yang jelas, aku sangat berterima kasih dengan siapapun yang telah membaca dan memberikan feedback berupa apapun itu. Aku sangat bersyukur karena masih ada yang care dengan ficku. Mungkin cukup sekian di chapter ini.

Terima kasih sudah membaca.

Silahkan follow jika ingin tau perkembangan fic ini…

Favorite jika suka…

Dan yang pasti Review jika ada yang ditanyakan atau mau ngomongin apapun. Saran, kritik, dan kata-kata penyemangat pasti bakal kuterima.

REVIEW PLEASE !

[Sign : Sylvathein]