Author : arietha13

Genre : Family, brothership, friendship, mystery

Rated : T

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum

Summary :

Cho Kyuhyun tak tahu apa yang salah dengan dirinya. Dia yang terlahir sempurna, namun penuh dengan misteri. Kesialan selalu menimpa orang-orang di sekitarnya. Hanya Kim Kibum seorang yang tahu.

CHAPTER 1

Kim Kibum melirik ke arah segerombolan anak yang tengah bercanda seru di dalam kelas ketika jam istirahat. Ck, berisik sekali mereka. Apa mereka tak bisa menurunkan volume suara mereka. Toh, tidak ada satu pun dari mereka yang menderita gangguan pendengaran.

Mereka, sekumpulan anak laki-laki yang tak punya kerjaan. Tapi itu menurut Kibum. Mereka sering membuang-buang masa dengan mengobrol dan bercanda. Menurut Kibum, daripada dihabiskan untuk melakukan hal yang tak berguna bukankah lebih baik digunakan untuk membaca atau belajar yang pastinya lebih bermanfaat.

Kim Kibum, si cerdas yang pendiam, baru tinggal selama enam bulan di Seoul. Sebelumnya ia tinggal di Jeju bersama neneknya. Ayahnya yang seorang diplomat sering berpindah tugas. Karena Kim Kibum bukan jenis orang yang mudah bergaul dan beradaptasi, makanya ia lebih suka tinggal bersama neneknya.

Sayangnya, nenek tersayang Kibum itu meninggal delapan bulan yang lalu. Dua bulan sebelum Kibum masuk senior high school. Orang tua Kibum ingin membawanya serta tinggal di New Zealand, negara tempat ayah Kibum kini bertugas. Namun Kim Kibum menolaknya dengan alasan yang sama, ia tak mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Ayahnya tinggal di suatu negara tak lebih dari dua tahun. Setelah itu, beliau akan pindah ke negara yang lain.

Kim Kibum tidak mau hidup nomaden. Ia lebih suka menetap di suatu tempat yang disukainya. Untungnya, adik perempuan ayahnya tinggal di Seoul. Bibinya itu menawarinya tinggal bersama dan melanjutkan sekolah di Seoul. Lagipula bibinya juga memiliki anak laki-laki seusia Kibum. Jadi, mereka bisa bersekolah bersama.

Sepupu Kibum itu, sangat jauh berbeda wataknya dengan Kibum. Kibum pendiam, sedangkan sepupunya itu sangat berisik. Kibum suka menyendiri, sedangkan sepupunya itu paling benci dengan kesunyian dan kesepian. Kibum terbiasa mandiri, sedangkan sepupunya luar biasa manja.

Namun di balik seribu perbedaan itu, ternyata mereka juga memiliki banyak kesamaan. Mereka sama-sama tampan, cerdas, dan gila game meskipun sepupu Kibum lebih kronis tingkat kegilaannya.

Meskipun sudah enam bulan tinggal bersama, namun bukan berarti hubungan mereka berdua sangat dekat layaknya saudara. Mungkin karena perbedaan mencolok yang membuat keduanya tak bisa dekat. Mungkin juga karena adanya kesamaan di antara mereka yang membuat salah satunya merasa tersaingi. Well, ada banyak kemungkinan memang.

Bulan-bulan pertama waktu Kibum mengeluh ia tak merasa betah tinggal di Seoul kepada bibinya, sepupunya yang berlidah tajam itu malah menyuruhnya pulang ke Jeju. Kibum sudah hampir menyeret kopernya keluar rumah saking tersinggungnya dengan ucapan sepupunya itu. Untunglah bibinya berhasil membujuk hingga Kibum akhirnya dapat bertahan sampai sekarang.

Ngomong-ngomong tentang sepupu Kibum, sebenarnya anak itu tidak jahat. Ia hanya terlalu manja saja, menurut Kibum. Setiap pagi ia pasti bangun terlambat, mengeluh tentang menu sarapan yang tak pernah sesuai dengan seleranya, atau tentang hal-hal kecil lain yang tentunya sudah bukan waktunya diributkan remaja seusianya yang sudah duduk di bangku high school.

Kibum juga seringkali harus menunggu sepupunya itu di dalam mobil paling tidak selama sepuluh menit sebelum sepupunya itu masuk ke dalam mobil dengan dasi miring, sepatu yang belum terikat sempurna, atau mulut yang sibuk mengunyah sarapannya.

Menyebalkan, memang awalnya begitu. Namun Kibum yang sudah terbiasa dengan tingkah sepupunya itu, lama-lama menganggapnya sebagai rutinitas harian. Kibum malah merasa mendapatkan hiburan tiap pagi dengan mendengar keluhan dan omelan sepupunya itu.

Meskipun manja dan berisik, namun sepupu Kibum itu pandai berteman. Ia memiliki banyak kawan akrab. Di sekolah ia tak pernah sendirian karena banyaknya companion di sekelilingnya. Di rumah juga seperti itu. Hampir tiap hari ada saja temannya yang datang.

Sepupu Kibum juga termasuk salah satu idola di sekolah. Siapa juga yang tak tertarik dengan wajah tampan, senyum menawan, otak cerdas, suara merdu, kulit bersih, dan tubuh tinggi seperti sepupunya itu.

Kalau Kibum perempuan, mungkin ia juga bisa terpesona dengan sepupunya itu (Okay, abaikan, Kibum sudah mulai melantur!). Kibum masih normal. Ia masih suka gadis-gadis manis yang banyak bertebaran hampir di setiap sudut sekolahnya. Jadi, tak mungkin ia melawan arus dan berpaling pada sepupunya itu. Sangat-sangat mustahil.

Selama enam bulan Kibum di Seoul, ada satu pemandangan menarik yang tak pernah dilewatkannya sehari pun tentang sepupunya itu. Setiap hari ada saja bunga, cokelat, surat kaleng berisi ucapan kekaguman, atau boneka-boneka lucu yang berukuran kecil terdampar di meja sepupunya itu.

Kibum memang duduk sebangku dengan sepupunya itu. Jadi, ia tahu benda-benda apa saja yang teronggok tak berdaya di sana. Sepupu Kibum itu biasanya sudah menyiapkan paper bag besar untuk menyimpan hadiah-hadiah itu. Tapi, Kibum tak pernah tahu di mana hadiah-hadiah itu berakhir karena setahunya sepupunya itu tak pernah membawanya pulang ke rumah.

Bel berbunyi nyaring. Gerombolan siswa berisik yang membuat seluruh kelas tercemar polusi suara itu pun membubarkan diri dan kembali ke tempat duduknya. Tak terkeculi sepupu Kibum yang ada bersama gerombolan itu. Ia kembali ke tempat duduknya di samping Kim Kibum.

Ia duduk sambil menggembungkan pipinya lalu meniup poninya yang menjuntai hingga di bawah alisnya. Kibum ingin tertawa dengan tingkah sepupunya yang satu ini, namun Kibum harus bisa menahan tawanya kalau tidak ingin sepupunya itu mengamuk.

Setelah istirahat ada pelajaran Kimia. Mereka sekeas sekarang berada di laboratorium. Guru Kimia mereka telah membagi kelompok untuk melakukan praktikum hari ini. Kibum sekelompok dengan sepupunya itu. Kibum sih tak masalah sekelompok dengan siapa saja, namun sepupunya itu mengeluh karena menurutnya sekelompok dengan Kibum sama juga sekelompok dengan patung.

Orang lain pasti sudah menguncir bibir sepupunya itu kalau mendengar apa yang dikatakannya, namun Kibum tak ambil peduli. Ia sudah sangat terbiasa mendengar mulut berbisa sepupunya itu. Itu tak ada apa-apanya dengan yang biasa sepupunya katakan di rumah.

Selain mereka berdua ada lagi dua murid perempuan dalam kelompok mereka. Im Su Hyun yang tomboi dan Han Yu Ra, anak cantik berambut panjang. Han Yu Ra sampai terpekik senang karena sekelompok dengan Kibum. Well, bukannya ia senang ada Kibum, namun seluruh murid di kelas ini juga tahu kalau Han Yu Ra menaruh hati pada sepupu Kibum.

Seringkali Kibum memergoki Han Yu Ra meletakkan surat atau barang-barang mungil di laci meja atau loker sepupu Kibum itu. Tak jarang gadis itu tersenyum kikuk saat Kibum memergokinya.

Kibum tak memberi tahu sepupunya itu kalau Han Yu Ra menyukainya. Itu bukan hal penting bagi Kibum. Kibum tak mau merepotkan diri untuk mau tahu urusan orang lain. Selain itu, sepupu Kibum juga sudah punya belahan hati lain yang tiap saat digaulinya.

Belahan hati sepupu Kibum itu adalah dunia miliknya sendiri yang belum ada tandingannya. Sepupu Kibum itu tak akan peduli dengan sekelilingnya jika sudah bergaul dengan belahan jiwanya itu. Jadi, tak ada manfaatnya juga Kibum memberi tahu sepupunya itu siapa saja gadis yang terpesona padanya.

Kim Kibum tetaplah Kim Kibum. Ia tak suka mencampuri urusan orang lain. Apa yang dilihat dan didengarnya jangan harap bisa bocor pada orang lain. Apalagi yang berhubungan dengan setan manja yang serumah dengannya itu. Kibum tak mau.

Mereka duduk saling berhadapan di meja-meja yang sudah diatur berkelompok di laboratorium Kimia. Mereka praktikum tentang larutan elektrolit dan non elektrolit. Cairan-cairan yang mereka amati diletakkan dalam tabung-tabung khusus berukuran sedang. Ada juga kabel-kabel kecil berwarna merah dan hitam yang panjangnya kira-kira 1,5 m, baterai, dan lampu kecil yang semuanya ditata berhubungan.

Mereka harus bisa menetukan mana cairan yang temasuk penghantar listrik yang baik dan mana yang bukan. Mereka harus memisahkan cairan elektrolit dan nonelektrolit itu dan memberi nama berdasarkan jenisnya.

Kibum mengambil salah satu tabung yang terletak paling dekat dengannya. Bau yang amat menyengat tercium. Ia menjauhkan hidungnya dari cairan itu. Kibum memasukkan kedua ujung kabel pada cairan itu. Gelembung-gelembung air nampak saat kabel itu menyentuh permukaannya. Lampu yang terdapat di ujung baterai pun juga menyala terang.

"Alkohol. Elektrolit kuat, " kata Kibum singkat.

Kibum mengambil lembaran yang harus mereka isi. Ia menuliskan hasilnya di kolom nomor satu. Ia juga mengambil kertas stiker dan melabelinya dengan nama larutan dan jenisnya.

"Giliranmu!" ucap Kibum singkat pada saudara sepupunya.

Saudara sepupu Kibum mengambil tabung dengan cairan tanpa warna yang mirip dengn alkohol. Ia mengamati sebentar kemudian mendekatkan tabung itu ke arahnya yang sedetik kemudian ia menjauhkannya dan memasang tampang ingin muntah.

"Nam Hoon Saem gila. Cairan menjijikkan seperti ini pun ia siapkan juga," gerutunya kesal bercampur jijik.

Meskipun jijik, sepupu Kibum itu melakukan apa yang sebelumnya Kibum lakukan. Namun hasilnya berbeda. Gelembung-gelembung nampak pada cairan itu, namun lampu tidak menyala.

"Cuka. Elektrolit lemah," kata sepupu Kibum itu.

Mereka pun kembali menuliskan hasilnya di lembaran mereka. Sekarang giliran Han Yu Ra. Gadis cantik itu mengambil cairan ketiga yang tak berwarna. Ia mendekatkan cairan itu ke arahnya untuk diamati. Ia juga mengambil kabel yang diulurkan Kibum padanya.

"Arrrrggghhhhhh!" Han Yu Ra menjerit kesakitan.

Entah mengapa, sebelum Han Yura memasukkan ujung kabel ke dalam tabung cairan yang akan diamatinya, tabung itu terguling begitu saja. Isinya tumpah dan mengenai perut hingga kakinya.

Seluruh kelas yang terkejut dengan jeritan Han Yu Ra pun menoleh ke arah mejanya. Han Yu Ra masih berteriak kesakitan sambil mengibas-kibaskan seragamnya. Dengan cekatan Kibum menjauhkan mejanya dari Han Yu Ra yang tengah panik dan tak terkendali. Ia tak mau ada korban berikutnya.

Anggota kelompok Han Yu Ra pun mulai panik. Mereka memegangi gadis yang masih berteriak dan menangis kesakitan itu. Nam Joon Seonsaengnim yang tak kalah panik pun mulai meneriakkan instruksi pada siswa yang lain. Ia menyuruh Kibum dan sepupunya membawa Han Yu Ra ke ruang kesehatan.

Sebelum mengikuti siswanya ke ruang kesehatan Nam Joon Seonsaengnim menyuruh banjang kelas membereskan semua peralatan dan memasukkannya ke dalam rak. Semua siswa juga diharuskan kembali ke kelas untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Anak-anak pun patuh melaksanakan perintah gurunya. Mereka kembali ke kelas sambil berbisik dan berbicara satu sama lain. Membahas insiden yang dialami Han Yu Ra hari ini.

"Kalian lihat, kakinya sampai melepuh begitu," ujar seorang murid yang berbisik pada teman yang ada di sebelahnya.

"Itu tadi bukan air keras kan?" tanya yang lain.

"Kalau melihat kakinya yang sampai melepuh, itu pasti air keras."

"Mengapa yang lain tidak mencegahnya mengambil air keras? Bukankah di kelompoknya ada laki-laki? Seharusnya yang laki-laki mengambil cairan yang lebih berbahaya."

"Mengerikan sekali."

"Kasihan Han Yu Ra, kakinya pasti akan cacat."

"Kau benar! Kasihan sekali dia."

Banyak lagi komentar-komentar yang terdengar. Ada yang merasa kasihan, bersimpati, bahkan ada juga yang membodoh-bodohkan Han Yura yang tidak berhati-hati. Insiden hari ini memang mengejutkan siapa saja yang melihat. Bisa dipastikan insiden ini tak akan berakhir di sini. Harus ada yang bertanggung jawab pada kejadian yang tak terduga ini.

TBC

Untouchable udah hampir tamat, makanya aku buat ff baru lagi. Kali ini Kyuhyun sama Kibum. Ff ini memang sengaja aku posting pas Kyuhyun pergi wamil. Semoga suka, jangan review, ne. Gomawo.